Print
PDF

Resensi Buku : Autobiografi Yap Tjwan Bing - Salah Seorang Perintis Kemerdekaan

Written by Ivan Taniputera on .

<

Budaya-Tionghoa.Net | Yap Tjwan Bing merupakan salah seorang tokoh perintis kemerdekaan, yang patut kita hargai jasanya. Saya beruntung sekali mendapatkan buku yang langka ini. Sebelum membaca isi sebuah buku, saya biasanya menelaah terlebih dahulu kata pengantar atau bagian pendahuluannya agar dapat lebih memahami maksud penulisan sebuah buku. Di bagian pendahuluannya dapat kita baca sebagai berikut:

ARTIKEL TERKAIT :

“Penulisan otobiografi ini saya maksudkan agar pengabdian pada perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tidak hilang begitu saja. Di samping itu, riwayat yang disajikan dalam buku ini juga menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia telah dilakukan oleh semua golongan masyarakat yang mendiami wilayah kepulauan Indonesia. Saya menyadari bahwa penulisan buku ini merupakan suatu pekerjaan yang berat bagi orang seusia saya dan berada dalam keadaan lumpuh. Namun dengan pimpinan Tuhan, saya berusaha untuk menyelesaikannya sebaik mungkin. Saya berusaha sungguh-sungguh untuk mengingat kejadian-kejadian antara 30 sampai 50 tahun yang telah lalu, dan saya beruntung bahwa ingatan saya masih berada dalam keadaan yang cukup baik, ditambah dengan dokumen-dokumen tertulis dan beberapa buah buku bacaan yang ada” (halaman xv).


Judul buku : Yap Tjwan Bing:

Meretas Jalan Kemerdekaan,

Otobiografi Seorang Pejuang Kemerdekaan
Penulis : Yap Tjwan Bing
Jumlah halaman : 127
Penerbit : PT Gramedia, Jakarta 1988


Buku ini dibuka dengan memperkenalkan latar belakang keluarga Yap Tjwan Bing. Beliau dilahirkan di Slompretan, Solu, pada tanggal 31 Oktober 1910. Ayah Beliau bernama Yap Yoe Dhiam dan ibunya bernama Tan Tien Nio. Sedangkan saudara-saudara Beliau ada empat orang, yakni Yap Giok Nio, Yap Swan Nio, Yap Tjoen Sing, dan Yap Tjoen Hoei. Latar belakang keluarga Beliau adalah pedagang. Yap Tjwan Bing sempat meneruskan pendidikannya ke negeri Belanda guna memperdalam jurusan apoteker (farmasi). Sebelumnya, Beliau sempat menikah dengan di Madiun pada tahun 1932. Pernikahan ini dikaruniai dua orang anak, yang masing-masing bernama Dewi Yap Gwat Lee (wanita) dan Yap Siong Hoei (laki-laki) –halaman 1.

Semenjak masa mudanya, Yap Tjwan Bing telah mengetahui pahit getirnya kehidupan rakyat akibat penjajahan. Beliau semasa mudanya senantiasa bergaul tanpa membeda-bedakan, dan demikian pula dengan keluarga Beliau. Nenek Beliau, Nyonya Tan Djing Liong merupakan sahabat K.R.T. Dokter Radjiman Widyodiningrat dari Solo. Bahkan isterinya sangat ramah terhadap orang-orang yang bekerja di keluarga mereka:

“Istri saya sangat ramah perilakunya terhadap orang-orang yang bekerja di rumah kami sehingga pada umumnya mereka senang dan lama bekerja pada keluarga kami. Misalnya, berbeda dari kebiasaan pada umumnya, mereka boleh memakai sandal di dalam rumah. Istri saya selalu membelikan mereka kain-kain baju. Bilamana istri saya membeli buah-buahan, mereka juga mendapat bagian sehingga dapat menikmati kelezatan buah-buahan itu” (halaman 3).

Yap Tjwan Bing telah menjalin persahabatan dengan Bung Karno dan Bung Hatta, selaku proklamator kemerdekaan RI:

“Selanjutnya tentang putra kami Yap Siong Hoei. Saya mempunyai kesan bahwa Siong Hoei sejak kecil telah menaruh simpati pada perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang dipimpin Bung Karno dan Bung Hatta. Pada waktu Bung Karno dan Mr. Sartono mengunjungi rehabilitasi sentrum di Solo, Dokter Suharso membawa Siong Hoei untuk bertemu dengan mereka. Mr Sartono yang sudah mengenal Siong Hoei memperkenalkannya kepada Bung Karno dan menerangkan bahwa Siong Hoei adalah putra saya yagn menderita sakit lumpuh. Dokter Suharso menyarankan agar Siong Hoei mendapat pengobatan di Amerika Serikat supaya ia dapat berjalan kembali.
Siong Hoei berjabat tangan dengan Bung Karno serta Mr. Sartono. Bung Karno memberikan beberapa nasihat dan mengharapkan agar Siong Hoei dapat sembuh kembali.” (halaman 4).

Semasa hendak melanjutkan pendidikannya ke HBS, Yap Tjwan Bing merasakan diskriminasi penjajah terhadap masyarakat terjajah, baik itu golongan pribumi maupun Tionghua. Beliau tidak dapat melanjutkan ke HBS karena bukan berasal dari golongan ambtenaar yang berpangkat kapten atau mayor. Oleh karena itu, Beliau lantas melanjutkan pendidikannya ke AMS-B di Malang. Pada waktu itu, usaha ayah Yap Tjwan Bing mengalami kebangkrutan, sehingga tidak dapat meneruskan pembiayaan sekolahnya. Untung Beliau mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda (halaman 6).

Semenjak muda, Yap Tjwan Bing telah memiliki pandangan yang tegas terhadap penjajahan. Beliau pernah berdebat dengan seorang guru bernama Mollen yang mengajar staatskunde (ketata-negaraan). Menurut Mollen, anggota Provinciale Raad (DPR Daerah) dan Gemente Raad (DPR Kotamadya) harus diangkat oleh pemerintah kolonial dan bukannya dipilih rakyat. Yap Tjwan Bing menentang pendapat ini dan berkeras bahwa cara yang benar adalah dengan sistim pemilihan (halaman 6).

Suatu ketika para pedagang Belanda dari perusahaan Jacobson Borsumij di Semarang datang mengunjungi ayahnya. Karena merasa sebagai penguasa di negeri ini, mereka tidak membuka topi dan duduk dengan kaki diangkat ke meja. Yap Tjwan Bing muda yang kala itu berusia 14 tahun merasa tidak senang. Ia membuka topi-topi mereka dan menurunkan kaki orang-orang Belanda tersebut dari meja. Berkat tindakan ini, di kunjungan berikutnya mereka tidak lagi berlaku kurang ajar (halaman 14).

Ketika menginjak usia 18 tahun, Yap Tjwan Bing telah menaruh simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta. Semasa melanjutkan studinya ke negeri Belanda, Yap Tjwan Bing membaca sebanyak mungkin buku-buku politik dan menceburkan dalam kegiatan politik di bawah pimpinan Mr. Sartono, salah seorang tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI). Mr. Sartono bersama Mr. Iwa Kusumasumantri pernah turut membela Bung Karno di pengadilan. Kekaguman Yap terhadap Bung Karno semakin tumbuh (halaman 15).

Kiprah Yap Tjwan Bing dalam perjuangan semakin nyata dengan diangkatnya Beliau sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan KNIP. Setelah disahkannya UUD 45, Yap Tjwan Bing merasa bangga karena bangsa Indonesia telah memiliki undang-undang dasarnya sendiri (halaman 23). Meskipun demikian, Yap Tjwan Bing tidak dapat mengikuti pemilihan presiden dan wakil presiden karena harus kembali ke kota Bandung akibat situasi kota tersebut yang tidak menentu.

Yap lalu meneruskan perjuangannya melalui PNI. Demikianlah sekelumit otobiografi Yap Tjwan Bing, salah seorang tokoh yang menorehkan andilnya dalam sejarah negeri ini. Beliau berpesan agar sesama elemen masyarakat berjuang bahu membahu demi kepentingan bersama tanpa membeda-bedakan demi terciptanya kemajuan di berbagai bidang.

Ivan Taniputera
24 Januari 2012

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
 

blog comments powered by Disqus

Kalender

Prev Next

2012.05.08 Seminar Nasional : "Pera…

Rekan2 Yth, Mohon kehadiran Anda yg berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Kehadiran Anda semua akan sangat berarti bagi kami. Terimakasih dan salam budayaDidi ...

Didi Kwartanada - avatar Didi Kwartanada 07 May 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

21-22 April 2012 | Acara Kirab Ritu…

Forward : Informasi dari Wajah Kota Lasem di Facebook Page Budaya Tionghoa ** ACARA KIRAB RITUAL BUDAYA dan  H.U.T MAKCHO THIAN SIANG BO di Tiongkok Kecil (LA...

Wajah Kota Lasem  - avatar Wajah Kota Lasem 18 Apr 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

Tradisi

Prev Next

Bhutan , Diantara Tiongkok dan Indi…

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Bhutan dikenal juga sebagai Bhote , Bhotia , Bhutia , etc yang tinggal di negara Bhutan. Negara kecil ini seluas 47 ribu kilom...

Huang Dada - avatar Huang Dada 19 May 2012 Dialek

Read more

Kwee Pang [2] - Anggapan Tahayul

Budaya-Tionghoa.Net | Jika point 1 sampai 4 yang menjadi penyebab umum terjadinya kweepang dan lebih kearah hubungan horizontal antar manusia. Maka point...

Ardian Cangianto - avatar Ardian Cangianto 19 May 2012 Adat Istiadat

Read more

Sejarah

Prev Next

Perjanjian Nanking (1842) Antara Qi…

Budaya-Tionghoa.Net | Perjanjian Nanking mengakhiri Perang Candu [1839-1842] dan Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris , membuka sejumlah pelabuhan untuk pe...

Huang Dada - avatar Huang Dada 15 May 2012 Dinasti QIng

Read more

Tuduhan Dr. Geoffrey Wade Bahwa Zhe…

Budaya-Tionghoa.Net | Dr. Geoffrey Wade sebenarnya adalah sebuah nama misterius yang belum dikenal (nobody) dan baru muncul diantara para peneliti dan penulis s...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Tiongkok & Indonesia

Read more

Filsafat

Prev Next

Menyusun Altar Menurut Tradisi Tion…

Budaya-Tionghoa.Net | Jika menyusun altar menurut tradisi Tionghoa, sebenarnya mereka sedang menyusun alam semesta kecil di altar. Filsafat Tionghoa terka...

Xuan Tong & Ardian Cangianto - avatar Xuan Tong & Ardian Cangianto 12 May 2012 Filsafat Lain

Read more

Kitab Taiping jing 太平经

Budaya-Tionghoa.Net | Taiping jing太平经 adalah suatu kitab penting bagi Taoism yang isinya antara lain adalah masalah Taiping atau kedamaian yang agung. Kita perl...

Xuan Tong - avatar Xuan Tong 16 Apr 2012 Tao

Read more

Sains

Prev Next

Ketika Sistem Pengobatan Barat Dan …

Budaya-Tionghoa.Net | Sistem pengobatan Tionghua sering dianggap kuno dan ditinggalkan oleh sebagian orang Tionghua sendiri yang beralih ke dokter dengan ...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Pengobatan

Read more

Varian Rudal Panggul Darat Ke Udara…

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak yang bilang Tiongkok adalah tukang meniru , ada benarnya juga seh. Tetapi apa salah meniru yang baik, dan akhirnya dapat me...

Heri Tanta - avatar Heri Tanta 17 May 2012 Militer

Read more

Tionghoa

Prev Next

Riwayat Liem Koen Hian (IV)

Budaya-Tionghoa.Net |  Toean Liem Pegang Sin Tit Po (2 September 1929 sampe – 19 Desember 1932) 3 taon sadja ia pegang Sin Tit Po atawa satoe taon lebih s...

Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) - avatar Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) 18 May 2012 Sejarah Tionghoa

Read more

Benny Mok Sau Chung : Profil

Budaya-Tionghoa.Net | Max Mok Sau Chung dilahirkan di Hong Kong pada tahun 1960. Dia juga dikenal sebagai  Benny Mok Sau Chung  . Mok adalah  seorang arti...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Sosialita

Read more

Data

Prev Next

Nasehat Pernikahan Jaman Dulu : Bag…

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini nasehat pernikahan jaman dulu , dimuat di Liberty pada bulan November 1931 , dalam bahasa masa itu. Tentunya nasehat ini belum...

Tjiong Djie Nio (via Tjendela)  - avatar Tjiong Djie Nio (via Tjendela) 12 Apr 2012 Arsip || Dokumen | Artikel

Read more

Tabel Variasi Linguistik

Budaya-Tionghoa.Net | Variasi linguistik dikalangan Han-Chinese merujuk pada istilah fangyang 方言 , yang umum diterjemahkan sebagai "dialek" atau "topolect". D...

 - avatar 14 Jan 2012 Tabel

Read more

Seni

Prev Next

Wu Rujun Sang Pangeran Jinghu

Budaya-Tionghoa.Net |  Wu Rujun (吳汝俊) , tidak banyak orang yang mengenal musikus ini. Ia dilahirkan di Nanjing pada tahun 1963, ayahnya juga seorang mus...

Chendra Ling Ling - avatar Chendra Ling Ling 12 May 2012 Seni Musik

Read more

Kajian Film : “Curse Of The Golden …

Budaya-Tionghoa.Net | Curse Of The Golden Flower adalah film epik kolosal yang disutradai Zhang Yimou.  Skenario film ini diadaptasi dari sebuah drama tra...

 - avatar 11 May 2012 Sinematografi

Read more

Buku

Prev Next

Review Buku : "Mao The Unknown Stor…

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang kawan (SML) meminjami saya buku Jung Chang yang ditulisnya bersama suaminya Jon Halliday, (seorang sejarawan), terjemahan bahasa B...

Ibrahim Isa  - avatar Ibrahim Isa 16 May 2012 Buku

Read more

Polemik Dan Perdebatan Seputar Buku…

Budaya-Tionghoa.Net | Buku Gavin Menzies yang terbit pertama kalinya ditahun 2002 ini, telah menimbulkan polemik dan perdebatan yang yang sengit antara pihak-pi...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Buku

Read more