Terciptanya Tiong Hoa Hwee Koan
Budaya-Tionghoa.Net|Munculnya abad ke-20 bagi perkumpulan Tionghoa di Indonesia sangat penting dari sudut pergerakan Tionghoa. Pada waktu itu keadaan masyarakat Tionghoa di Jakarta belum memperlihatkan banyak cahaya terang, tetapi sebaliknya malah bukan sedikit bayangan gelap penghidupan etika dari kalangan Tionghoa. Selain di antara berbagai golongan Tionghoa tidak nampak kerukunan sebagaimana mestinya, disebabkan oleh propinsialisme yang seolah-olah menciptakan suatu jurang yang sukar diseberangi antara golongan Hokkian, Khe, Kongfu, dll, ditambah tentunya dengan adanya golongan Peranakan, di antara kalangan Peranakan sendiri sulit sekali diadakan suatu semangat kebersamaan. Malah di antara golongan ini, keadaan sudah sedemikian rupa sehingga ada yang menamakan dirinya "anak Patekoan", "anak Kongsi Besar", "anak Senen", dsb yang tidak lain merupakan semacam propinsialisme dalam ukuran kecil.
|
||||
Perkumpulan-perkumpulan yang bekerja di dalam urusan sosial tidak ada. Di masa itu orang Tionghoa cuma punya beberapa perkumpulan Kematian, di antaranya Cu Hu Tee Beng yang memiliki gedung di seberang Kali Besar, perkumpulan mana sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian ada Khu Sin Hap Kit yang didirikan tahun 1869 yang sampai sekarang masih terus berkembang. Lain dari itu, bisa dikatakan tanpa terlalu menyimpang, bahwa perkumpulan-perkumpulan Tionghoa lainnya cuma perkumpulan yang justru sering menimbulkan perselisihan satu dengan yang lainnya.
Keadaan sosial juga tidak bisa memberikan banyak kepuasan kepada orang yang ingin melihat kalangannya bertindak maju. Pesta perkawinan di waktu itu dari golongan elit Tionghoa, untuk contoh, begitu menghamburkan uang dan waktu, sama banyaknya dengan air yang mengalir deras di selokan. Kalau merayakan pernikahan, pesta sudah dimulai sepuluh hari di muka! Tentu saja tidak perlu diuraikan lagi, hari kawin yang sebenarnya akan dirayakan dengan serba mentereng dan mewah. Lalu, setelah acara pernikahan itu lewat, pesta…….berjalan terus! Pada hari ketiga sepasang pengantin keluaur lagi dengan disertai arak-arakan yang tidak kurang ramainya dan menakjubkan.
Kemudian setelah hari ketujuh, kembali rumah orang yang menikahkan jadi pusatnya kemewahan: hari tersebut diselenggarakan acara "Cia Cinkee" dan "Cia Ceem" dan selanjutnya hari untuk mengucapkan terima kasih (Cia Sia). Keadaan demikian tidak-bisa-tidak membuat orang-orang yang berpikiran luas dan sadar jadi tergerak untuk menggulung lengan baju untuk mengubah dan memperbaikinya. Apapula ketika itu pun Tiongkok sedang mengalami perubahan-perubahan besar. Mari kita tujukan pandangan kita ke Tiongkok. Kita akan melihat kejadian-kejadian di sana sama dengan keadaan di Jakarta sebelum didirikannya Tionghoa Hwee Koan. Di Tiongkok pada tahun 1875 mulai bertahta kaisar Kuang Hsu (Guangxi, red.), seorang kaisar yang telah mencoba melaksanakan perubahan-perubahan modern. Rencananya tersebut tidak mendapat persetujuan dari Ibu Suri Tzu Hsi (Cixi,red.). Pada tahun 1898, kaisar Kuang Hsu telah ditangkap atas perintah Kaisarina Tzu Hsi dan sejak itu Kaisar yang penuh ide modern tidak lagi banyak berarti,
hingga wafatnya di tahun 1908.
Page 1 of 10

