"Bungker Budaya" yang Makin Terkuak

Written by Stevanus Subagijo on . Posted in Writing - Esai & Opini

<

Budaya-Tionghoa.Net | Tahun baru imlek sudah berlalu beberapa bulan lalu.  Itulah dimulainya rengkuhan waktu dan juga dipercaya sebagai lembaran "nasib" baru bagi kalangan Tionghoa, terutama yang merayakan dan siapa pun yang memercayai hajatan besar ini. Tahun Baru Imlek di Indonesia sudah diakui pemerintah dan menjadi hari libur nasional.

Jelas pengakuan ini bukan semata memberikan legitimasi ulang atas sebuah eksistensi kultural kaum Tionghoa di Indonesia. Lebih dari itu, merupakan transformasi budaya nasional Indonesia terhadap subkultur Tionghoa yang selama ini sebagai bangsa telah keliru dalam menyikapinya. Fobia kultural Tionghoa oleh rezim terdahulu sangat ditekankan karena dikhawatirkan jika kultur Tionghoa eksis bakal menjadi kultur yang setara dengan kultur lokal. Ia bisa menjadi pemicu ketidakamanan, padahal hal itu menjadi prasyarat mutlak pembangunan ekonomi dan status quo rezim politik.

ARTIKEL TERKAIT :

 

FOBIA KULTURAL


Begitulah jika kita memutar ingatan hingga ke beberapa waktu lampau. Sejumlah pemimpin pemerintahan daerah misalnya menjelang Tahun Baru Imlek selalu mengingatkan masyarakat Tionghoa untuk tidak merayakan
secara mencolok dan cukup merayakannya di dalam rumah, di antara keluarga dan kerabat belaka. Ada strategi budaya yang "banci", bagaimana mungkin sebuah kultur yang dipercaya dan menghidupi masyarakatnya khususnya Tionghoa diperlakukan secara represif yang tanggung.

Kaum Tionghoa tidak mungkin menafikkan keberadaan kulturnya, walau dalam strategi kebudayaan politik Orde Baru dianggap SARA. Padahal, justru kultur itulah bagi banyak kalangan Tionghoa yang bisa mengantarkan mereka dan keturunannya merengkuh kehidupan. Bahkan, membuat mereka terpandang dalam segi ekonomi dan kewirausahaan. Mereka sulit menolak kultur yang membesarkannya meski mereka tidak anti terhadap kultur mayoritas yang melingkupinya. Oleh karena itu, pendekatan politik atas kultur yang sudah ribuan tahun itu justru antiproduktif terhadap pembangunan kebudayaan nasional.

Padahal, sebuah kultur adalah dinamika mereka yang merasa dihidupi dan menghidupinya. Beruntung Orde Reformasi mengambil jalan yang lebih memihak pada hak asasi manusia sehingga asimilasi budaya mendapat tandingan dengan integrasi budaya yang dulu sempat ditinggalkan. Ketionghoaan dalam aspek kultural, ekonomi, politik, sosial menjadi subbudaya nasional yang setara dengan budaya lokal lain, bersinggung, berakulturasi alamiah bukan politis dan berintegrasi harmonis dengan tetap eksis mengembangkan jati dirinya.

Imlek dengan demikian seharusnya disikapi positif menjadi upaya membongkar "bungker budaya" ketionghoaan yang selama ini terkubur dan dimumikan oleh rezim budaya. Para "arkeolog Tionghoa muda" kini mencoba mengorek satu demi satu pernik dan kronik kulturnya.

Tak heran dalam menyambut Imlek kita sudah terbiasa dengan ekspresi liong dan barongsai keluar dari sarangnya dan meliuk di jalan-jalan atau mal. Berbagai ekspresi budaya menjadi demikian marak, dari amplop angpao, lampion sampai wayang potehi menggeliat keluar untuk menampilkan wajah budaya utuhnya yang selama ini bopeng tak keruan.

Namun, apakah Imlek hanya akan menjadi euforia tahunan kalangan Tionghoa dan siapa pun mereka yang sibuk terlibat di dalamnya? Tentu tidak. Sama halnya ketika kita tidak ingin Lebaran hanya menjadi euforia tahunan
makan enak setelah puasa yang seharusnya mengembalikan fitrah manusia. Natal adalah pesta kemewahan dan sinterklas, yang seharusnya cermin untuk mensyukuri diri atas keselamatan dari dosa yang berujung maut dan merefleksikan itu kepada Allah dan sesama secara setara.

Begitu juga Imlek adalah akses, gerbang dari serpihan masa lalu yang akan menjadi gambar besar yang dirangkai kembali menjadi wajah kultur yang mengayomi pemeluknya dan siapa pun mereka yang berada dalam wilayah
budaya itu dengan berbagai manfaat yang ditimbulkannya. Itulah yang seharusnya kita kejar dari Imlek ke Imlek. Bukan semata perpindahan waktu lama ke waktu baru, atau mengupas fenomena shio, itu boleh menjadi pelengkap, tetapi bagaimana Imlek sebagai gerbang masuk ke wilayah kultural ketionghoaan bisa mengayomi siapa saja yang langsung atau tidak langsung terpengaruh olehnya.

ANGPAO SOSIAL

Ini berarti Imlek membawa misi untuk memberi wadah dan kesempatan sebesar-besarnya bagi kultur ketionghoaan yang tidak hanya terfokus di Imlek untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat baik yang merayakan atau tidak. Sebuah kultur pasti akan memberikan manfaatnya karena kultur itu sendiri ingin eksis dan dilestarikan. Memang komersialisasi Imlek persis sama yang terjadi pada Lebaran dan Natal. Namun, diharapkan prosesi budaya seperti wayang potehi, pemberian angpao, sembahyangan di altar leluhur tidak berhenti di situ saja. Wayang potehi misalnya, yang memang sudah jarang tetapi masih mungkin dikembangkan, dimodernkan dengan teknologi informasi.

Begitu pula dengan angpao sebagai pemberian bisa menjadi gerakan kesetiakawanan sosial yang tidak berbau politis seperti yang sudah-sudah. Angpao bisa menjadi gerakan komunitas Tionghoa paling tidak seperti pemberian zakat di Islam, yakni gerakan angpao bisa memberdayakan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, Tionghoa lebih lugas berlindung dalam rumah budayanya sendiri yang berkembang atas dasar kebutuhan mereka yang berada di dalamnya dan bersinggungan dengan kultur yang melingkupinya. Selama ini ketionghoaan berlindung dalam kedok kesetiakawanan sosial "prasetya mulya" atau gerakan konglomerat ke Tapos dengan Pak Harto dulu yang menjadi tampak dipaksakan secara kultural.

Jika saja Imlek sudah dirayakan dengan ekspresi budaya yang lugas sejak negara kita berdiri dan tidak mengalamai penciutan budaya, mungkin Imlek menjadi "Festival Budaya" yang meski hanya pada waktu tertentu akan menjadi point of cultural. Makin besar noktah budaya, makin besar kultur dan masyarakat sekitarnya yang terimbas pengaruh-memengaruhi. Imlek diharapkan bisa menjadikan pelaku budaya nasional yakni kita semua bertumbuh dalam budaya lokalnya masing-masing, entah itu Jawa, Sunda, Batak, dst. tetapi tidak menjadikan itu semua menjadi satu-satunya harga mati dalam cultural expression and performance-nya.

Setiap pengaktualan budaya akan mendorong tumbuhnya multikulralisme pada masyarakat dan lebih jauh membiasakan dan membuat masyarakat tersebut betah dan merasakan manfaatnya dari setiap subkultur dengan mana ia langsung atau tidak melestarikannya dan bukan antipati terhadapnya. Imlek yang menjadi gerbang keberuntungan kaum Tionghoa harus disikapi dengan menarik internalisasi budaya ketionghoaan untuk "keluar" bak liong atau barongsai. Jika kedua tontonan ini dilihat banyak orang siapa pun dia dan semua senang, mungkinkah bahwa ketionghoaan ekonomi, kemasyarakatan seperti kekerabatan marga Tionghoa, ekspresi budaya membagikan angpao dan sebagainya bisa ditarik keluar dan menjadi "hoki" (untung) bagi masyarakat siapa pun dia.

KETIONGHOAAN BARU ?


Imlek dengan begitu menjadi kesempatan untuk membentuk stereotype baru tentang Tionghoa dan kulturnya. Tidak seperti dulu kita berkutat pada bentuk-bentuk prasangka negatif yang tunggal dan kekal seperti pelit dan rendahnya nasionalisme. Padahal, keberanekaragaman ketionghoaan, sama halnya dengan keberanekaragaman kejawanaan, kesundaan dst. Semua ini untuk memberikan penilaian yang lebih seimbang sehingga ekspresi budaya yang positif bisa ditampung dan yang buruk bisa diketahui lebih dini untuk kemudian dibuang.

Pendidikan multikultural melalui efektivitas perayaan hari besar yang berbasis budaya yang berbeda akan mudah diserap karena itu terjadi dalam tataran sosial. Apalagi justru dalam tataran sosial, setiap ekspresi budaya apalagi yang minoritas harus memberikan minimal tontonan atau hiburan, kalau bukan manfaat ekonomi (angpao sosial komunitas Tionghoa untuk panti asuhan, masyarakat miskin, dst.).

Apalagi, jika ekspresi budaya itu seperti angpao sosial pasti akan terekam dalam integrasi budaya dan memperkokoh kecenderungan ke arah mana kebudayaan nasional hendak dikembangkan. Multikultural yang tak seimbang atau dominasi budaya dengan banyak subordinan budaya-subordinan budaya tertentu tampaknya menjadi pelengkap atau sekadar objek penderita. Jika ini yang terjadi, benar saja konflik laten mungkin terjadi karena tidak ada pro-kontra atas kultur tersebut. Multikultural dianggap sebagai kompetisi budaya yang harus dimenangkan oleh satu budaya mayoritas/lokal dan yang lain, seperti ketionghoaan harus dikalahkan. Selamat Imlek 2555.***

Penulis peneliti pada Center for National Urgency Studies Jakarta. Anggota Kekerabatan Tionghoa Marga "Bhe"

Budaya-Tionghoa.Net |

TAUTAN INTERNAL :

  1. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/790

Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan link aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


 




Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
 

blog comments powered by Disqus

Kalender

Prev Next

2012.05.08 Seminar Nasional : "Pera…

Rekan2 Yth, Mohon kehadiran Anda yg berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Kehadiran Anda semua akan sangat berarti bagi kami. Terimakasih dan salam budayaDidi ...

Didi Kwartanada - avatar Didi Kwartanada 07 May 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

21-22 April 2012 | Acara Kirab Ritu…

Forward : Informasi dari Wajah Kota Lasem di Facebook Page Budaya Tionghoa ** ACARA KIRAB RITUAL BUDAYA dan  H.U.T MAKCHO THIAN SIANG BO di Tiongkok Kecil (LA...

Wajah Kota Lasem  - avatar Wajah Kota Lasem 18 Apr 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

Tradisi

Prev Next

Bhutan , Diantara Tiongkok dan Indi…

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Bhutan dikenal juga sebagai Bhote , Bhotia , Bhutia , etc yang tinggal di negara Bhutan. Negara kecil ini seluas 47 ribu kilom...

Huang Dada - avatar Huang Dada 19 May 2012 Dialek

Read more

Kwee Pang [2] - Anggapan Tahayul

Budaya-Tionghoa.Net | Jika point 1 sampai 4 yang menjadi penyebab umum terjadinya kweepang dan lebih kearah hubungan horizontal antar manusia. Maka point...

Ardian Cangianto - avatar Ardian Cangianto 19 May 2012 Adat Istiadat

Read more

Sejarah

Prev Next

Perjanjian Nanking (1842) Antara Qi…

Budaya-Tionghoa.Net | Perjanjian Nanking mengakhiri Perang Candu [1839-1842] dan Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris , membuka sejumlah pelabuhan untuk pe...

Huang Dada - avatar Huang Dada 15 May 2012 Dinasti QIng

Read more

Tuduhan Dr. Geoffrey Wade Bahwa Zhe…

Budaya-Tionghoa.Net | Dr. Geoffrey Wade sebenarnya adalah sebuah nama misterius yang belum dikenal (nobody) dan baru muncul diantara para peneliti dan penulis s...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Tiongkok & Indonesia

Read more

Filsafat

Prev Next

Menyusun Altar Menurut Tradisi Tion…

Budaya-Tionghoa.Net | Jika menyusun altar menurut tradisi Tionghoa, sebenarnya mereka sedang menyusun alam semesta kecil di altar. Filsafat Tionghoa terka...

Xuan Tong & Ardian Cangianto - avatar Xuan Tong & Ardian Cangianto 12 May 2012 Filsafat Lain

Read more

Kitab Taiping jing 太平经

Budaya-Tionghoa.Net | Taiping jing太平经 adalah suatu kitab penting bagi Taoism yang isinya antara lain adalah masalah Taiping atau kedamaian yang agung. Kita perl...

Xuan Tong - avatar Xuan Tong 16 Apr 2012 Tao

Read more

Sains

Prev Next

Ketika Sistem Pengobatan Barat Dan …

Budaya-Tionghoa.Net | Sistem pengobatan Tionghua sering dianggap kuno dan ditinggalkan oleh sebagian orang Tionghua sendiri yang beralih ke dokter dengan ...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Pengobatan

Read more

Varian Rudal Panggul Darat Ke Udara…

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak yang bilang Tiongkok adalah tukang meniru , ada benarnya juga seh. Tetapi apa salah meniru yang baik, dan akhirnya dapat me...

Heri Tanta - avatar Heri Tanta 17 May 2012 Militer

Read more

Tionghoa

Prev Next

Riwayat Liem Koen Hian (IV)

Budaya-Tionghoa.Net |  Toean Liem Pegang Sin Tit Po (2 September 1929 sampe – 19 Desember 1932) 3 taon sadja ia pegang Sin Tit Po atawa satoe taon lebih s...

Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) - avatar Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) 18 May 2012 Sejarah Tionghoa

Read more

Benny Mok Sau Chung : Profil

Budaya-Tionghoa.Net | Max Mok Sau Chung dilahirkan di Hong Kong pada tahun 1960. Dia juga dikenal sebagai  Benny Mok Sau Chung  . Mok adalah  seorang arti...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Sosialita

Read more

Data

Prev Next

Nasehat Pernikahan Jaman Dulu : Bag…

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini nasehat pernikahan jaman dulu , dimuat di Liberty pada bulan November 1931 , dalam bahasa masa itu. Tentunya nasehat ini belum...

Tjiong Djie Nio (via Tjendela)  - avatar Tjiong Djie Nio (via Tjendela) 12 Apr 2012 Arsip || Dokumen | Artikel

Read more

Tabel Variasi Linguistik

Budaya-Tionghoa.Net | Variasi linguistik dikalangan Han-Chinese merujuk pada istilah fangyang 方言 , yang umum diterjemahkan sebagai "dialek" atau "topolect". D...

 - avatar 14 Jan 2012 Tabel

Read more

Seni

Prev Next

Wu Rujun Sang Pangeran Jinghu

Budaya-Tionghoa.Net |  Wu Rujun (吳汝俊) , tidak banyak orang yang mengenal musikus ini. Ia dilahirkan di Nanjing pada tahun 1963, ayahnya juga seorang mus...

Chendra Ling Ling - avatar Chendra Ling Ling 12 May 2012 Seni Musik

Read more

Kajian Film : “Curse Of The Golden …

Budaya-Tionghoa.Net | Curse Of The Golden Flower adalah film epik kolosal yang disutradai Zhang Yimou.  Skenario film ini diadaptasi dari sebuah drama tra...

 - avatar 11 May 2012 Sinematografi

Read more

Buku

Prev Next

Review Buku : "Mao The Unknown Stor…

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang kawan (SML) meminjami saya buku Jung Chang yang ditulisnya bersama suaminya Jon Halliday, (seorang sejarawan), terjemahan bahasa B...

Ibrahim Isa  - avatar Ibrahim Isa 16 May 2012 Buku

Read more

Polemik Dan Perdebatan Seputar Buku…

Budaya-Tionghoa.Net | Buku Gavin Menzies yang terbit pertama kalinya ditahun 2002 ini, telah menimbulkan polemik dan perdebatan yang yang sengit antara pihak-pi...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Buku

Read more