Memahami Kocoa 糊紙 Dari Sudut Estetika

Written by Ardian Zhang on . Posted in Writing - Esai & Opini

<

Budaya-Tionghoa.Net |  I.Pendahuluan . Penulis beberapa kali membahas tentang kocoa 糊紙[1] terutama untuk kalangan Tridharma[2], terakhir dilakukan pada tanggal 9 April 2011 di Adiraja shop, Muara Karang, Jakarta. Pada pembicaraan yang penulis bawakan sebelumnya tidak pernah memasukkan unsur estetika, apa yang dibawakan oleh penulis seringnya membahas dari sudut sejarah dan nilai-nilai spiritual.  Apa yang dibabarkan pada Estetika membuka wawasan dan memperkaya khazanah penulis tentang kocoa sebagai suatu bagian dari seni yang merepresentasikan lubuk terdalam keluarga yang ditinggalkan terhadap mereka yang pergi ke alam baka dan suatu sikap penghormatan terhadap para mahluk suci. Tentunya kocoa sebagai sarana ritual juga memiliki nilai-nilai filosofis serta sejarah perkembangannya. Dimana yang akan penulis paparkan dalam karya tulis ini lebih kearah perkembangan sejarahnya, terutama terkait dengan kertas yang pembuatannya disempurnakan oleh Cai Lun pada masa dinasti Han sekitar 2000 tahun yang lalu dan akan disinggung sedikit nilai-nilai spiritualnya.

Artikel Terkait:

Kocoa adalah bagian dari paper art tapi dalam tulisan ini akan dibatasi kocoa dalam penggunaannya sebagai sarana ritual orang Tionghoa saja dan penulis menyadari bahwa dengan mata kuliah Estetika membuat penulis lebih memahami liturgi dan ritual orang Tionghoa dari kacamata seni yang selama ini penulis tidak menyadarinya, tapi seperti yang ditulis diatas, sekali lagi karya tulis ini dibatasi hanya membahas masalah kocoa saja seperti yang pernah penulis bawakan beberapa saat yang lalu.
Dan dalam perjalanannya, kocoa seringkali tidak dipahami oleh masyarakat pada umumnya dan masyarakat Tionghoa pada khususnya. Adapun kritik serta cibiran terhadap mereka yang membakar kocoa menerpa mereka hingga hari ini. Semoga dengan Estetika, penulis berharap pembaca  bisa memandang dari sudut yang berbeda dan menghargai kocoa sebagai seni murni.

Terimakasih saya ucapkan kepada prof.Bambang Sugiharto yang mengajarkan mata kuliah Estetika sehingga saya bisa lebih memahami kocoa dari sudut yang berbeda dan memperkaya khazanah wawasan saya,  sehingga bisa menuliskan karya tulis yang bersumber pada pengalaman dan menjadi sumber inferensi yang berdasarkan sintesis dan analistis.

Bandung, 08 Mei 2011

Ardian Cangianto

II PERMBAHASAN


2.1 Apa yang dimaksud kocoa

Kocoa adalah suatu barang yang terbuat dari kertas dan bambu, menggunakan lem sebagai perekat. Pada umumnya digunakan sebagai sarana atau penunjang hidup bagi mereka yang pergi ke alam baka. Bisa berupa rumah, mobil, pelayan, koper, pakaian, jam tangan dan banyak lagi benda-benda lainnya. Hal ini merupakan suatu tradisi masyarakat Tionghoa dalam menunjukkan baktinya kepada mereka yang telah meninggal dunia dan berfungsi sebagai tali asih antara dua dunia yang terpisah . Kocoa sendiri tidak terbatas hanya untuk benda-benda yang meninggal, karena kocoa adalah suatu seni kerajinan, seperti misalnya lampion-lampion yang sering kali kita lihat pada saat Imlek termasuk kocoa.
Secara etimoligi kocoa yang merupakan dialek Hokian atau hu zhi dalam dialek bahasa mandarin sekarang ini terdiri dari dua suku kata yaitu hu 糊 dan zhi 紙. Hu artinya adalah menempelkan dengan lem dan zhi artinya adalah kertas, jadi dapat dikatakan arti kocoa adalah kertas yang di lem. Dalam bahasa jaman sekarang ini kocoa adalah bagian dari paper art,  contoh lain yang termasuk paper art adalah origami, paper cut 剪紙[3] . 
Sekarang ini pengrajin kocoa di Indonesia semakin sedikit, di Bandung yang sempat penulis temui adalah bapak Ayun di gg.Kamsui ( gg.ibu Aisah ), Cibadak, tepat di sebelah vihara Dharma Ramsi.


2.2 Sejarah perkembangan kocoa


Menurut mitos, murid Cai Lun yang bernama You kebingungan menjual kertas hasil kreasi gurunya, kemudian istrinya menyuruhnya berpura-pura mati dan sang istri membakar kertas, beberapa hari kemudian You bangkit dan mengatakan bahwa kertas yang dibakar itu menjadi uang di alam baka. Inilah mitos yang mengkaitkan cikal bakal membakar kertas sebagai pengganti uang dalam tradisi membakar uang alam baka yang sering terlihat dalam tradisi kematian Tionghoa. 
Sebelum diketemukan kertas, dalam banyak upacara penguburan bangsawan dan raja di Tiongkok dahulu seringkali benda-benda dikuburkan sebagai sarana yang digunakan di alam baka, bahkan tidak jarang para pelayan ikut dikubur hidup-hidup. Sejak diketemukannya kertas, maka benda-benda itu berangsur-angsur digantikan dengan kertas yang kemudian berkembang menjadi seni atau dapat disamakan dengan paper art jaman sekarang ini. Kertas awal di Tiongkok adalah mazhi 麻紙 atau jute paper yang  kemudian proses pembuatannya diperbaiki oleh Cai Lun[4]. Penemuan kertas ini mengubah banyak cara budaya orang Tionghoa, termasuk pula pada banyak ritual mereka, misalnya surat laporan kepada Yang Maha Kuasa yang dituliskan oleh para pejabat dan kaisar sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka dalam memerintah dituliskan diatas kertas dan dibakar, dimana membakar itu dianggap sebagai suatu cara mengirimkan laporan, hal ini sudah berjalan sejak dinasti Tang dan meluas hingga pada masa dinasti Qing[5].  Sekarang ini model kocoa sudah beragam bentuknya, bahkan ada model motor balap, bentuk villa, meninggalkan model-model tradisional yang pada umumnya kita lihat.

2.3 Makna kocoa dari sudut spiritual


Tradisi membakar benda-benda yang melambangkan tali asih tidak lahir begitu saja, tapi berasal dari kepercayaan orang Tionghoa jaman dahulu akan alam kematian, dimana mereka percaya bahwa alam kematian itu adalah berpindah alam dan alam di sana itu sama seperti kehidupan manusia. Untuk itu mereka menguburkan benda-benda yang bisa digunakan di alam lainnya dengan benda-benda yang asli, seperti perlengkapan makanan, pakaian, perhiasan dan banyak lagi barang-barang keperluan hidup. Andreas Susanto mengatakan bahwa tradisi yang dilakukan ketika membakar kocoa untuk almarhumah ibunya adalah demi ketenangan hatinya dan rasa percaya bahwa benda-benda itu berguna bagi ibunya juga merupakan wujud tanda bakti.[6] Andreas Susanto meminta caima[7] untuk melakukan ritual bagi almarhumah ibunya berkali-kali dan setiap ritual tidak luput adanya pembakaran kocoa. Dan bagi bapak Ayun, seorang pengrajin kocoa di Bandung, kocoa adalah suatu warisan tradisi. Yang menarik adalah penuturan Andreas Susanto ketika meminta bapak Ayun membuat kocoa berbentuk mesin jahit, ternyata bapak Ayun bisa membuat kocoa mesin jahit yang benar-benar bisa digunakan untuk menjahit.[8] Dari penuturan mereka itu, penulis bisa memahami bahwa kocoa tidak sekedar paper art belaka tapi mengandung nilai-nilai spiritual dan pewarisan seni.


Prof.Xiao Dengfu蕭登福教授mengatakan :”Tradisi kocoa adalah wujud sikap bakti yang diwarisi selama berabad-abad dan merupakan suatu warisan budaya yang selayaknya dihargai dan disikapi secara netral, tidak berat sebelah.”  Memang inilah yang sering dibicarakan dan tidak luput juga hal yang sama disampaikan oleh Huang Xincheng daozhang[9] 黃信誠 道長 tapi dengan menambahkan nilai-nilai filosofi dan mengkaitkan dengan konsepsi alam kematian menurut versi Taoism. Bagi Huang daozhang, itu membicarakan masalah hati yang tidak bisa dijabarkan melalui logika semata, sayangnya Huang daozhang tidak menjabarkan lebih lanjut tentang masalah hati dan logika dalam kaitannya dengan kocoa. Dalam pandangan budaya Tionghoa, kelahiran, pernikahan dan kematian adalah tiga hal yang harus dijalankan dengan baik sesuai norma dan etika, dimana


2.4 Kocoa dari sudut estetika


Dalam pandangan budaya Tionghoa, kelahiran, pernikahan dan kematian adalah tiga hal yang harus dijalankan dengan baik sesuai norma dan etika, dimana seperti yang diutarakan oleh Huang bahwa harus ada rasa yang bermain dan disinilah estetika bisa berperan.
Sebelumnya, apa itu estetika ? Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni[10].


Sekelumit keterangan tentang estetika ditambah dengan pelajaran yang didapat, akan membuat kita memahami bahwa kocoa bisa dipandang dari sudut estetika, dimana ada suatu bahasa yang diluar dari bahasa verbal, dimana bahasa tersebut adalah bahasa “rasa”. Disini seni murni memiliki pengertian tidak hanya bicara masalah keindahan tapi berbicara menyampaikan suatu “kebenaran” eksistensi yangmenyampaikan sisi-sisi tertentu yang sering tersembunyi dari pengalaman hidup dan memainkan logika rasa.

Saran dan Kesimpulan


Dengan estetika penulis bisa melihat suatu dimensi baru tentang kocoa dimana banyak orang yang beranggapan bahwa kocoa memiliki nilai spiritual saja, tapi sebenarnya memiliki nilai seni dan kita bisa melihat banyak keindahan-keindahan lain dari ritual, liturgi maupun tradisi-tradisi yang ada disekitar kita tapi sering ditertawakan oleh orang yang berpandangan “modern” atau menggunakan logika. Bahwasanya hal-hal seperti kocoa tidak dapat digunakan secara logika dan tidak selalu harus dikaitkan dengan nilai-nilai religius atau spiritual saja.


[1] Kocoa adalah sebutan umum untuk kertas yang dibentuk seperti benda aslinya yang dibakar ketika ritual orang Tionghoa, pada umumnya digunakan ketika penguburan. Tapi koca tidak terbatas hanya alat ritual saja.

[2] Tridharma adalah sebutan untuk 3 agama yaitu Taoism, Confuciusm dan Buddhism yang pada umumnya dianut oleh orang Tionghoa.

[3] Paper cut adalah seni menggunting kertas menjadi bentuk-bentuk yang indah

[4] Wu Zhaoji 吳兆基, Sejarah 5000 tahun Tiongkok Sekilas 中華上下五千, ( Beijing: Jinghua Publiser 京華出版社, 2001), jilid 1, hal.324

[5]

[6] Wawancara pribadi dengan Andreas Susanto pada tanggal 15Desember 2011 dalam rangka penulis mempersiapkan materi “Tradisi Membakar Kertas, Tali Asih Yang Tiada Terputus”.

[7] Caima adalah pendoa yang khas pada subetnis Khe dan Andreas Susanto adalah orang Khe

[8] Penuturan Andreas Susanto pada penulis ketika menceritakan bahwa ia memesan kocoa mesin jahit untuk almarhumah ibunya

[9] Daozhang adalah sebutan untuk pendeta senior dalam Taoism

[10] http://id.wikipedia.org/wiki/E​stetika diakses pada tanggal 8 Mei 2011 jam 10:15

 


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.





Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
 

blog comments powered by Disqus

Kalender

Prev Next

2012.05.08 Seminar Nasional : "Pera…

Rekan2 Yth, Mohon kehadiran Anda yg berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Kehadiran Anda semua akan sangat berarti bagi kami. Terimakasih dan salam budayaDidi ...

Didi Kwartanada - avatar Didi Kwartanada 07 May 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

21-22 April 2012 | Acara Kirab Ritu…

Forward : Informasi dari Wajah Kota Lasem di Facebook Page Budaya Tionghoa ** ACARA KIRAB RITUAL BUDAYA dan  H.U.T MAKCHO THIAN SIANG BO di Tiongkok Kecil (LA...

Wajah Kota Lasem  - avatar Wajah Kota Lasem 18 Apr 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

Tradisi

Prev Next

Bhutan , Diantara Tiongkok dan Indi…

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Bhutan dikenal juga sebagai Bhote , Bhotia , Bhutia , etc yang tinggal di negara Bhutan. Negara kecil ini seluas 47 ribu kilom...

Huang Dada - avatar Huang Dada 19 May 2012 Dialek

Read more

Kwee Pang [2] - Anggapan Tahayul

Budaya-Tionghoa.Net | Jika point 1 sampai 4 yang menjadi penyebab umum terjadinya kweepang dan lebih kearah hubungan horizontal antar manusia. Maka point...

Ardian Cangianto - avatar Ardian Cangianto 19 May 2012 Adat Istiadat

Read more

Sejarah

Prev Next

Perjanjian Nanking (1842) Antara Qi…

Budaya-Tionghoa.Net | Perjanjian Nanking mengakhiri Perang Candu [1839-1842] dan Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris , membuka sejumlah pelabuhan untuk pe...

Huang Dada - avatar Huang Dada 15 May 2012 Dinasti QIng

Read more

Tuduhan Dr. Geoffrey Wade Bahwa Zhe…

Budaya-Tionghoa.Net | Dr. Geoffrey Wade sebenarnya adalah sebuah nama misterius yang belum dikenal (nobody) dan baru muncul diantara para peneliti dan penulis s...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Tiongkok & Indonesia

Read more

Filsafat

Prev Next

Menyusun Altar Menurut Tradisi Tion…

Budaya-Tionghoa.Net | Jika menyusun altar menurut tradisi Tionghoa, sebenarnya mereka sedang menyusun alam semesta kecil di altar. Filsafat Tionghoa terka...

Xuan Tong & Ardian Cangianto - avatar Xuan Tong & Ardian Cangianto 12 May 2012 Filsafat Lain

Read more

Kitab Taiping jing 太平经

Budaya-Tionghoa.Net | Taiping jing太平经 adalah suatu kitab penting bagi Taoism yang isinya antara lain adalah masalah Taiping atau kedamaian yang agung. Kita perl...

Xuan Tong - avatar Xuan Tong 16 Apr 2012 Tao

Read more

Sains

Prev Next

Ketika Sistem Pengobatan Barat Dan …

Budaya-Tionghoa.Net | Sistem pengobatan Tionghua sering dianggap kuno dan ditinggalkan oleh sebagian orang Tionghua sendiri yang beralih ke dokter dengan ...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Pengobatan

Read more

Varian Rudal Panggul Darat Ke Udara…

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak yang bilang Tiongkok adalah tukang meniru , ada benarnya juga seh. Tetapi apa salah meniru yang baik, dan akhirnya dapat me...

Heri Tanta - avatar Heri Tanta 17 May 2012 Militer

Read more

Tionghoa

Prev Next

Riwayat Liem Koen Hian (IV)

Budaya-Tionghoa.Net |  Toean Liem Pegang Sin Tit Po (2 September 1929 sampe – 19 Desember 1932) 3 taon sadja ia pegang Sin Tit Po atawa satoe taon lebih s...

Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) - avatar Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) 18 May 2012 Sejarah Tionghoa

Read more

Benny Mok Sau Chung : Profil

Budaya-Tionghoa.Net | Max Mok Sau Chung dilahirkan di Hong Kong pada tahun 1960. Dia juga dikenal sebagai  Benny Mok Sau Chung  . Mok adalah  seorang arti...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Sosialita

Read more

Data

Prev Next

Nasehat Pernikahan Jaman Dulu : Bag…

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini nasehat pernikahan jaman dulu , dimuat di Liberty pada bulan November 1931 , dalam bahasa masa itu. Tentunya nasehat ini belum...

Tjiong Djie Nio (via Tjendela)  - avatar Tjiong Djie Nio (via Tjendela) 12 Apr 2012 Arsip || Dokumen | Artikel

Read more

Tabel Variasi Linguistik

Budaya-Tionghoa.Net | Variasi linguistik dikalangan Han-Chinese merujuk pada istilah fangyang 方言 , yang umum diterjemahkan sebagai "dialek" atau "topolect". D...

 - avatar 14 Jan 2012 Tabel

Read more

Seni

Prev Next

Wu Rujun Sang Pangeran Jinghu

Budaya-Tionghoa.Net |  Wu Rujun (吳汝俊) , tidak banyak orang yang mengenal musikus ini. Ia dilahirkan di Nanjing pada tahun 1963, ayahnya juga seorang mus...

Chendra Ling Ling - avatar Chendra Ling Ling 12 May 2012 Seni Musik

Read more

Kajian Film : “Curse Of The Golden …

Budaya-Tionghoa.Net | Curse Of The Golden Flower adalah film epik kolosal yang disutradai Zhang Yimou.  Skenario film ini diadaptasi dari sebuah drama tra...

 - avatar 11 May 2012 Sinematografi

Read more

Buku

Prev Next

Review Buku : "Mao The Unknown Stor…

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang kawan (SML) meminjami saya buku Jung Chang yang ditulisnya bersama suaminya Jon Halliday, (seorang sejarawan), terjemahan bahasa B...

Ibrahim Isa  - avatar Ibrahim Isa 16 May 2012 Buku

Read more

Polemik Dan Perdebatan Seputar Buku…

Budaya-Tionghoa.Net | Buku Gavin Menzies yang terbit pertama kalinya ditahun 2002 ini, telah menimbulkan polemik dan perdebatan yang yang sengit antara pihak-pi...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Buku

Read more