A+ A A-

BerkeTuhanan menurut Taoisme

  • Published in Tao

BerkeTuhanan menurut Taoisme

 

          Pada umumnya masyarakat Indonesia beranggapan bahwa Taoisme adalah aliran filsafat, hal ini karena pengertian agama yang diyakini banyak masyarakat Indonesia itu berbasis pada pandangan baku tentang pengertian agama yang harus memiliki : nabi, kitab suci, Tuhan,  alam kematian.Selain hal itu juga karena Taoisme sebagai agama tidak bersifat missionaris, dan banyak yang sudah melebur dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Satu pernyataan menarik dari pastur G.Van Schie “keseluruhan mitos,ritus, dan tata hidup yang merupakan pernyataan serta pengungkapan kepercayaan manusia, dan bahwa GAYA MISTERIUS mempengaruhi semua aspek kehidupannya”. Dalam pembahasan yang dibawakan megenai berkeTuahanan ini dari pandangan dari Taoisme sebagai agama dan tetap tidak bisa dipungkiri bahwa pandangan Taoisme sebagai agama itu tetap dipengaruhi oleh filsafat Taoisme.

Dalam makalah ini, penggunaan Dao dengan d huruf besar adalah untuk menunjukkan sesuatu yang absolute, agung, mutlak dan mulia sedangkan dao dengan d huruf kecil untuk menunjukkan arti sebagai jalan, hukum atau dalil.

BerkeTuhanan dalam Taoisme itu luas dan mendalam karena menyerap berbagai elemen. Semoga paparan ini bisa memberikan satu wawasan yang bisa memperluas pandangan kita semua terutama dalam memandang semua yang ada dalam alam semesta ini dan harmonisasinya demi kebaikan semuanya.

 

SEKILAS AGAMA TAOISME

            Taoisme mendapat pengaruh dari kepercayaan shamanisme purba Tiongkok dengan para pendeta yang disebut wuxi[1], kemudian konsep keabadian sebagai xian, dipengaruhi pemikiran Huanglao. Taoisme sebagai agama memiliki dogma bahwa ada 3 tokoh yang membabarkan agama Taoisme, pertama adalah Huangdi ( kaisar Kuning )[2], kedua adalah Lao Zi[3], ketiga adalah Zhang Daoling[4]. Kitab-kitab Taoisme yang utama adalah Daode jing 道德經, kitab Zhuang Zi[5] 南華真經, kitab Taipingjing 太平經, Taishang Ganyingpian 太上感應篇, Qingjing jing 清靜經dan banyak kitab lainnya[6].

Dalam perjalanan sejarahnya, filsafat Taoisme pernah menjadi system pemerintahan pada dinasti Han dan salah satu yang diterapkan adalah : wuwei jingji 無為經濟 ( ekonomi non intervensi ), dimana ini diterapkan oleh Liu Bang 劉邦, kaisar pertama dinasti Han. Hal ini dilakukan atas saran Lu Jia 陸賈 ( 240 BCE- 170 BCE )untuk mengatasi perekonomian negara yang berantakan. Dari filsafat kemudian berkembang menjadi agama dan dalam sejarah Tiongkok,  dan ada dua clan marga yang disegani oleh kerajaan terkait dengan kepercayaan dan agama. Pertama adalah marga Kong 孔, kedua adalah marga Zhang 張. Marga Zhang yang menempati Longhushan 龍虎山 ( gunung Naga Harimau ) adalah keturunan dari Zhang Daoling, sedangkan marga Kong mayoritas di Qufu 曲阜 adalah keturunan Kong Zi. Taoisme terutama aliran Zhengyi menghormati guru langit dan hingga sekarang ini guru langit sudah generasi ke 65. Para guru langit itu harus memiliki darah keturunan langsung dari Zhang Daoling dan Longhu shan hingga kini menjadi tempat pengtasbihan pendeta Tao aliran Zheng Yi.

Lu Xun ( 1881-1936 )[7] mengatakan bahwa akar dari Tiongkok ada di Taoisme dan menurut Josep Needham ( 1900-1995 )[8], peradaban Tiongkok tanpa Taoisme bagaikan pohon tanpa akar. Pernyataan itu bukan dibuat sembarangan tapi memiliki dasar dan kenyataannya bahwa Taoisme memiliki pengaruh yang amat kuat tapi tidak terasa bahwa Taoisme dalam perkembangan sejarah Tiongkok memberikan kontribusi besar dalam pembentukan budaya, iptek, system kepercayaan dan banyak hal lainnya.Dan menjadi salah satu pilar penting dalam peradaban Tiongkok, dimana pilar lainnya adalah  Ruisme[9] yang menjadi dasar negara selama hampir 2000 tahun.

 

Dasar-dasar dalam TAOISME

            Sebelum memasuki dasar-dasar Taoisme, perlu tahu arti kata dao dan de dari sudut etimologi.

Dao adalah gabungan dari dua akar kata, yaitu chuo ( melangkah, jalan )  dan shou ( kepala/pertama). Artinya melangkah dengan kepala tegak, bisa juga diartikan langkah pertama ( utama ), langkah yang memimpin. Dan de 德gabungan dari : chi yang berarti (sedang ) berjalan,zhi yang berarti lurus, xin yang berarti kondisi batin atau hati[10].

            Seperti diungkapkan di atas bahwa Taoisme menyerap berbagai komponen diluar filsafat Tao dan kemudian menjadi dasar mereka terutama dalam memaknai apa yang menjadi adi kodrati atau Tuhan. Kita selalu bertanya-tanya, bagaimana bentuk Tuhan, apa nama Tuhan, mahlukkah, dan beragam pertanyaan yang lainnya meliputi benak manusia dalam menjelajahi dunia spiritual. Tentunya jawaban beragam dan jawaban beragam itu tidak perlu dipertentangkan mana yang benar. Karena sesuai dengan pemikiran para Taoist berdasarkan kitab Daodejing bab 1 : “Nama yang diberikan bukanlah nama yang sesungguhnya”, disini kita bisa melihat bahwa nama itu tidak ada, nama hanya persepsi manusia untuk membedakan dan membangun suatu pemikiran “pembedaan” antara satu dengan yang lain. Bahwa dengan adanya nama maka semua mahluk itu menjadi ada dan itu berada dalam konsep pemikiran manusia. Dalam pengertian bahwa penamaan itu yang membuatnya “seolah-olah” hadir dan hadirnya itu juga masih dalam persepsi si pemberi nama atau juga dalam persepsi yang meyakini “nama” itu.

Semua saat memberi pengertian atau mencoba mendeskripsikan apa yang disebut “Tuhan” dan “berkeTuhanan “ tentunya memiliki dasar-dasar, baik dari sejarah; budaya; system religi dan lainnya. Dan dibawah ini antara lain dasar-dasarnya di Taoisme.

Pertama : Jika Tuhan menjadi sumber segalanya, maka Taoisme juga mempercayai bahwa sumber segalanya adalah Dao. Daodejing bab 25 :

”Ada sesuatu “benda” bercampur baur, sudah ada sebelum langit bumi terbentuk, tak terdengar suaranya dan tak terlihat wujudnya, tak mengandalkan apapun berdiri sendiri ( absolute ), bergerak tiada mengenal henti, dapat disebut bunda langit bumi. Ku tak tahu namanya, (aku ) paksa memberi nama Dao, kupaksakan menyebutnya Da ( besar )[11].”

Kedua : Falsafah yinyang[12], seperti dalam Daodejing bab 1, “tak bernama” ( 無名 ) awal langit dan bumi, “bernama” ( 有名 ) bunda dari segala benda. Penamaan itu memiliki fungsi  pembedaan maka semua bisa menjadi berbeda dan disitulah mulai lahir kategorisasi. Misalnya mengenal cantik maka akan mengenal apa yang disebut buruk. Mengenal panjang maka akan ada lebar, maka ada ruang, dan seterusnya. Salah satu dasar dalam Yijing ( kitab perubahan ), “satu yin dan satu yang itulah yang disebut dao”. Dalam pengertiannya bahwa semua mahluk pasti memiliki unsur yin maupun yang[13]. Dan dalam pertemuan antara yin dan yang itu pasti melahirkan sesuatu yang baru tapi tanpa menegasi atau menghapuskan yang lainnya.

Ketiga : Semua benda memiliki kesadaran ( kehidupan ) atau animisme. Dalam pengembangannya, diperluas lagi oleh Zhuang Zi bahwa semua benda yang ada di alam semesta ini memiliki daya guna. Karena memiliki daya guna, maka semua benda yang ada di alam semesta ini memiliki hak untuk “ada”. Bukanlah hak manusia untuk menilai “berguna” dan “tidak berguna” suatu benda. Dan masing-masing sudut pandang dalam menilai kegunaan bisa beragam.

Keempat : Panentheisme dan pantheisme ada dalam Taoisme, Dao adalah bunda dari segalanya dan juga Dao ada di segala benda di seluruh alam semesta. Semua yang ada adalah emanasi dari Dao. Dao juga bisa berarti dalil atau hukum alam. Dalam komentar Kong Zi untuk kitab Yijing adalah ,“ Taiji ( maha kutub ) berada di segala benda, tidak ada benda yang tidak bisa dimasukinya dan tidak ada benda yang bisa menampungnya”. Dan  selain itu taiji adalah sumber dari segalanya dan juga mencakup segalanya.

Kelima : Dao adalah bentuk luaran dan de[14] adalah bentuk isian, dimana de adalah jejaring yang “tersembunyi” di dalam keseluruhan alam semesta ini yang berkesinambungan. Dao dan de bagaikan dua sisi mata uang dalam satu kesatuan. Jika dao itu adalah alam itu sendiri beserta segala isinya, maka De adalah yang mengisi “ruang-ruang antara” segala yang ada di alam semesta ini.

 

BERKETUHANAN DALAM TAOISME

            Dengan lima point di atas itu mempengaruhi agama Tao dalam membangun system kepercayaan mereka. Umumnya masyarakat melihat umat Tao adalah politheisme, penyembah bintang, bisa saja pandangan ini lahir karena umat Tao sendiri banyak yang bersifat pragmatis dalam kehidupan spiritualnya, dan dalam Taoisme hal itu wajar-wajar saja karena dalam Daodej ing bab 79  : “Jalan Langit tidak memihak ( adil ), abadi bersama  dengan orang yang melaksanakan kebajikan”[15]. Semua benda memiliki daya guna dan layak dihormati serta disembah, semua benda adalah emanasi dari Dao itu, tiada perbedaan antara satu dengan yang lain. Saat langit dan bumi terbentuk, ada kesadaran-kesadaran yang hidup di langit dan bumi, kesadaran yang bagian dari pancaran Tao itu kemudian disebut dewata dan semua memiliki fungsi dan daya guna dalam pergerakan alam semesta ini.

Sesuatu yang absolute; tak terkatakan;  tak terbentukkan, tentunya tidak bisa digambarkan tapi pada prinspinya manusia memerlukan satu “jangkar” dalam pikiran mereka untuk menjadi suatu cara sederhana untuk memahami apa yang disebut Dao. Untuk itu ada sosok yang tertinggi dalam Taoisme, yaitu Taishang laojun ( 太上老君 ). Kata ini diambil dari kitab Daodejing bab 17 “Pemimpin bajik yang teragung dan tertinggi ( 太上 )”[16].  Taishanglaojun ini adalah emanasi dari DAO itu sendiri dan Laozi salah satu inkarnasi dari Taishanglaojun. Dan bab 17 ini berkorelasi dengan Daodejing bab 42[17], sehingga bisa memahami ada sanqing atau trimurni Taoisme[18], dimana Taishanglaojun adalah salah satu dari tiga itu. Jadi konsep dewata tertingginya sendiri tidak lepas dari Daodejing. Karena itu adalah “jangkar” dalam memudahkan manusia memahami Dao, maka perlu direnungkan kata-kata Hui Neng[19] yang kurang lebih ujarnya adalah : “Jari hanya menunjuk rembulan dan dengan demikian jari bukanlah rembulan, hanya sebagai pengarah saja.”

Kata bunda dalam Taoisme disebut berkali-kali dan digambarkan sebagai bunda dari segala benda. Ini menunjukkan Dao itu lembut; keibuan, sehingga menekankan kelembutan sebagai factor penting, selain itu adalah sifat alamiah, tidak memaksa dan merebut. Dan ada dalil  hukum itu bersifat mutlak dan adil terhadap siapapun, jika seseorang terkena virus flu, dan kondisinya memungkinkan virus itu menyerang, maka siapapun dia akan terkena flu. Karena itu dikatakan dao ( virus flu ) tidak memilih hanya karena factor agama, ras, suku, etnis. Untuk tidak terkena hukum seperti itu maka kondisi ideal nan harmonis harus dijaga, diperbaiki dan diperjuangkan. Mereka yang menjaga kondisi-kondisi ideal dan harmonis itu adalah dewata dan siapapun bisa menjadi dewata karena upaya menjaga dan memperjuangkan serta memperbaiki kondisi ideal nan harmonis itu.

Dan umat Tao dalam menjalankan itu harus bisa “Menghormati Langit dan Bumi, para suciwan, leluhur dan menghargai  dan mencintai semua mahluk” (敬天地禮神明祀祖先﹐慈心于物). Hal ini karena semua adalah emanasi dari Dao, jadi semua manusia di bumi ini adalah Taoist, hanya cara mereka memaknai Dao beragam, yang utama adalah dalam memaknainya itu adakah De ? Jika ada maka mereka adalah Taoist sejati dan bisa menyatukan diri dengan Dao. Dan patokannya ada dalam Daodejing bab 67  : “  Ku memiliki tiga pusaka, genggam erat dan jalankan. Pertama adalah welas asih, kedua sederhana ( hemat rendah hati ), ketiga jangan mendahului dunia.”

 Dan Dao adalah  sesuatu yang mutlak, tak terkatakan, tak terbayangkan, jadi jika kata Dao diganti dengan kata Tuhan, tetap memiliki pengertian yang sama. Jadi semua yang ada memiliki unsur berkeTuhanan dan ironisnya manusia menggenggam erat-erat “jangkar-jangkar” itu, bagaikan orang yang memandang jari yang sedang menunjuk bulan itu adalah bulan itu sendiri tanpa mau melihat arah jari yang menunjuk bulan. Semoga dengan paparan ini, kita semakin menyadari bahwa kita semua ada dalam satu jalinan yang maha besar dari sesuatu yang maha agung, dan kita sebut adalah Tuhan.

 

 

           

         



[1] Wuxi 巫覡 adalah para pendeta perempuan ( wu ) dan pria ( xi ) yang bertugas sebagai penghubung antara manusia dengan mahluk adikodrati dan berfungsi sebagai pendoa juga.

[2] Huangdi atau kaisar Kuning ( 2697 BCE ), dipercaya sebagai tokoh purba yang membentuk peradaban Tiongkok dan menjadi bapak bangsa orang Tionghoa ( khususnya etnis Han ).

[3] Lao Zi Lao Zi alias Li Er 李耳, hidupnya diperkirakan antara 571-471 BCE , diyakini oleh umat Tao sebagai penulis kitab Daode Jing.

[4] Zhang Daoling ( 34-156 CE ) adalah pendiri Taoisme sebagai agama dan menjadi guru langit generasi pertama.

[5] Zhuang Zi ( 369-286 BCE ) dalam Taoisme disebut Nanhua manusia sejati 南華真人 dan kitabnya disebut Nanhua zhenjing 南華真經.

[6] Kitab-kitab Taoisme dikanonisasi dan disebut kanon Tao 道藏yang terdiri dari kumpulan kitab-kitab yang dianggap memiliki ajaran Taoisme.

[7] Lu Xun adalah penulis modern dari Tiongkok dan karya-karya memberi inspirasi bagi banyak masyarakat Tionghoa.

[8] Joseph Needham adalah seorang sinolog yang membuat “Science and Civilazation in China” dalam tujuh volume.

[9] Ruism atau Conficiusme.

[10] Dao dan de ditekankan diawal agar memahami bahwa itulah dasar utama dari filsafat maupun agama Taoisme yang menggunakan kitab Daodejing sebagai kitab suci utama mereka.

[11] DDJ bab 25 萬物混成,先天地生。寂兮寥兮,独立而不改,周行而不殆,可以为天地母。吾不知其名,强字之曰:道,强为之名曰:大

[12] Yin yang adalah dua sifat yang berlawanan tapi saling melengkapi, tanpa ada salah satu maka tidak mungkin sesuatu ada.

[13] DDJ bab 42 : “ Semua benda memanggul yin dan memangku yang, ada pertemuan  (benturan ) dua energy itu dan dengan begitu bisa harmonis”万物负阴而抱阳,冲气以为和. Pengertian harmonis ini adalah dengan adanya dua pertemuan itu maka akan sesuatu yang baru dan berharmonisasi.

[14] De , secara umum diartikan kebajikan. Tapi kebajikan ini berkekuatan sehingga bisa berjalan dan berkesinambungan tiada henti.

[15] 天道無情常與善人

[16] Sebenarnya mengacu pada pemimpin yang terbijak dan teragung dan menjadi pertama, keberadaannya tidak disadari rakyat, pemimpin yang menjadi urutan kedua adalah pemimpin bijak dan agung sehingga rakyat berbondong-bondong mendekati dan mengaguminya. Pemimpin kelas ketiga adalah pemimpin yang ditakuti dan pemimpin terendah adalah yang tidak mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Jadi ini adalah tipe-tipe pemimpin.

[17] “Dao melahirkan satu, satu melahirkan dua dan dua melahirkan tiga, tiga melahirkan semua benda”

[18] Yuanshi tianzun, Lingbao tianzun dan Daode tianzun ( Taishang laojun ). Untuk memahami konsep ini, perlu ditarik dari tanggal lahirnya dari Sanqing ini yang berbeda-beda tapi memiliki makna mendalam. Yuanshi lahir pada tanggal winter solistice dan Lingbao pada summer solistice sedangkan Daode lahir pada tanggal 15 bulan 2, dimana itu adalah saat musim semi.

[19] Hui Neng ( 638-713 ) adalah guru besar Zen Buddhisme.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto