A+ A A-

PEMAHAMAN MAKNA dan HAKEKAT “DOA” (MANTRA) DALAM KEPERCAYAAN TIONGHOA (bag.1)

PEMAHAMAN MAKNA

dan

HAKEKAT “DOA” (MANTRA) DALAM TRIDHARMA

           

 

Bahasa

 

Manusia pada awalnya menggunakan ‘bunyi’ dan ‘isyarat’ sebagai cara berkomunikasi yang kemudian disebut sebagai bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh mahluk hidup dimana bahasa yang digunakan beragam, antara lain adalah : bahasa bunyi; bahasa isyarat. Segala bunyi, lahir dari hati manusia. Perasaan bergerak di dalamnya, menjadi suara. Suara menjadi bahasa, itulah bunyi ( yang beragam) ( 凡音者, 生與人心者. 情動與中, 故形與聲. 聲成文, 謂之音). Manusia memiliki indera-indera tubuh sehingga bisa berinteraksi dan memiliki nalar untuk merefleksikan hasil interaksi itu, menggunakan bunyi yang kemudian menjadi kata dan berkembanglah bahasa sebagai alat penghubung ( alat komunikasi ) antara satu dengan yang lain. Seperti tertulis dalam kitab Liji,”sifat alami manusia adalah hening, gerak karena adanya interaksi ( dengan ) benda ( luar )” ( 人生而静天之性也感于物而動). Bahasa bagi manusia itu sifatnya primer, dapat diucapkan, dan menghasilkan bunyi, apakah ini berarti semut tidak memiliki kemampuan berkomunikasi ? Apakah hanya manusia saja yang mengenal bahasa ? Apakah kemampuan empiris manusia yang berdasarkan indra-indra manusia saja sehingga hanya manusia yang memiliki kemampuan berbahasa ? Semut juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan sesame semut melalui senyawa-senyawa kimia. Bahkan bakteri sekalipun memiliki kemampuan komunikasi melalui cairan kimiawi; sinyal listrik.  Dalam makalah ini, kata yang digunakan adalah “doa” dengan tanda kutip untuk memberikan suatu pemahaman mengenai ‘kata’ dan ‘bunyi’ ini yang merupakan bagian dari linguistik. Manusia dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain itu menggunakan “bunyi” yang disebut kata, kata ini adalah bagian dari bahasa. Ernst Cassier menuliskan bahwa “Demoskritos-lah orang yang pertama mengajukan tesis bahwa bahasa manusia berasal dari bunyi-bunyi tertentu yang semata-mata bersifat emosional”. Apa yang disebut manusia ? Manusia adalah mahluk yang berkata. “Manusia disebut manusia, adalah ( karena ) kata. Manusia tidak dapat berkata, bagaimana menjadi manusia” (人之所以为人者言也 人而不能言 何以为人). Dengan bunyilah manusia merefleksikan perasaannya yang disebabkan adanya unsur-unsur luar, seperti ditulis dalam kitab Liji “Asal dari bunyi, berasal dari hati manusia. Gerak dari hati manusia, berasal dari benda (pengaruh luar ) ( 凡音之起, 由人心生也. 人心之動, 物使然也)[3] . “Interaksi dengan benda melahirkan gerak, terbentuk dengan suara. Suara saling berinteraksi, itulah melahirkan ragam. Ragam menjadi fang( 5 nada ), itulah bunyi”( 感于物而動, 故形于聲.聲相應,故生變. 變成方,謂之音).

Read more...

MANUSIA DAN BAHASA

Budaya-Tionghoa.Net |Manusia dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain itu menggunakan “bunyi” yang disebut kata, kata ini adalah bagian dari bahasa. Ernst Cassier menuliskan bahwa “Demoskritos-lah orang yang pertama mengajukan tesis bahwa bahasa manusia berasal dari bunyi-bunyi tertentu yang semata-mata bersifat emosional”[1]. Apa yang disebut manusia ? Manusia adalah mahluk yang berkata. “Manusia disebut manusia, adalah ( karena ) kata. Manusia tidak dapat berkata, bagaimana menjadi manusia” (人之所以为人者言也 人而不能言 何以为人)[2]. Dengan bunyilah manusia merefleksikan perasaannya yang disebabkan adanya unsur-unsur luar, seperti ditulis dalam kitab Liji “Asal dari bunyi, berasal dari hati manusia. Gerak dari hati manusia, berasal dari benda (pengaruh luar ) ( 凡音之起, 由人心生也. 人心之動, 物使然也)[3] . “Interaksi dengan benda melahirkan gerak, terbentuk dengan suara. Suara saling berinteraksi, itulah melahirkan ragam. Ragam menjadi fang( 5 nada ), itulah bunyi”( 感于物而動, 故形于聲.聲相應,故生變. 變成方,謂之音)[4].

Read more...

Ekspresi Kekerasan Pada Masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam Bahasa ( bagian kedua TAMAT )

  • Published in Tionghoa

Budaya-Tionghoa.net | CATATAN ADMIN : paper yang dibawakan pada Seminar dan gathering milis Budaya Tionghoa di Bandung tanggal 22 Febuari 2014.

 

Bahasa sebagai Medan Kerja Kekerasan

 

Bahasa di satu sisi dapat dipakai mengekspresikan hasil pikiran orang, tetapi di sisi lain juga dapat mengkonstruksi pikiran orang. Bahasa menjadi sarana untuk mengungkapkan ide-ide, perasaan, dan pengalaman kita. Di samping itu, bahasa juga dapat dipakai untuk memotivasi,juga memprovokasi orang. Lewat bahasa, pikiran dan perilaku orang bisa digali dan dipahami. Namun, lewat itu juga pikiran dan perilaku orang lain bisa digoda, dicekoki, dikelola atau bahkan diobrak-abrik.

Ricoeur mengatakan bahwa bahasa dapat menjadi suara kekerasan (voice of violence).[1]Selain bisa menjadi alat pencipta kedamaian (peredam konflik), bahasa juga dipakai sebagai kendaraan untuk memobilisasi kebencian (melalui hinaan, cercaan, ejekan),Bahasa dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan solidaritas dan kohesi sosial, tetapi juga menegaskan batas-batas demarkasi eksklusif antara mana “kawan” yang “harus dibela” (ingroup) dengan “lawan” yang “jahat dan harus dibasmi” (outgroup). Kategorisasi kita tentang tuan-budak, mayoritas-minoritas, asli-pendatang, totok-peranakan, itu dimungkinkan gara-gara bahasa juga.

Read more...

Ekspresi Kekerasan Pada Masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam Bahasa ( bagian pertama )

  • Published in Tionghoa

Budaya-Tionghoa.net | 

CATATAN ADMIN : paper yang dibawakan pada Seminar dan gathering milis Budaya Tionghoa di Bandung tanggal 22 Febuari 2014.

Ekspresi Kekerasan Pada Masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam Bahasa

 

Perubahan Positif dan Tantangannya

Setelah era reformasi, ada pekembangan positif dan terbuka yang membentuk “kesadaran baru dalam berelasi“ bagi masyarakat Tionghoa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Gambaran positif itu diwakili dengan dicabutnya Instruksi Presiden no. 14 tahun 1967 tentang pelarangan ekspresi kebudayaan Cina di ruang publik oleh keputusan Presiden no 6 tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Tidak lama setelah itu, diterbitkan pula UU Kewarganegaraan Indonesia No 12 tahun 2006, yang menjamin suasana kondusif bagi kesetaraan warga Tionghoa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak hanya itu, berbagai fenomena muncul mengikuti “kesadaran baru” itu, seperti adanya kebangkitan Agama Khonghucu, banyaknya penerbitan buku dan tulisan mengenai kebudayaan Tiongkok, banyaknya penampilan barongsai dan tarian  singa/ naga di berbagai kota, keterbukaan pada peluang belajar dan penggunaan bahasa Mandarin yang semakin besar, dan sebagainya.[1]

Akan tetapi, gambaran positif itu belum sepenuhnya ideal. Kekerasan pada masyarakat Tionghoa di Indonesia masih dirasakan muncul dalam percik-percik tindakan kekerasan secara parsial. Bukti mengenai hal itu dapat diamati pada momen pemilihan kepala daerah/ presiden masih dinilai diskriminatif. Apakah gerakan ke arah positif itu belum dilakukan sepenuh hati sehingga masih menyisakan peluang akan kekerasan? Jika ya, apakah motivasi yang menggerakkannya dan bagaimana kekerasan itu bekerja?

Read more...

Menelusuri Bahasa Han : Kata "Shi" dan “Jiang” sebagai Studi Kasus

  • Published in Aksara

Budaya-Tionghoa.Net|Bahasa Tionghoa adalah bahasa ras Han yang memiliki sejarah sangat panjang, dan huruf Tionghoa merupakan karakter huruf gambar atau piktograf tertua dibandingkan huruf Hieroglyph dari Mesir dan tulisan paku dari Summeria yang sekarang sudah tidak digunakan lagi. Asal usul karakter Tionghoa dipercaya berasal dari “Legenda Cang Jie” sebagai menteri Huang Di yang menemukan huruf, namun asal usul pembentukan bahasanya sampai sekarang masih kontroversial [1].

Sepanjang sejarahnya bahasa Tionghoa tidak lepas dari pengaruh bahasa-bahasa asing. Bahkan pada masa dinasti Han (206 SM - 220 M) terjadi penyerapan besar-besaran istilah-istilah Buddhis dari bahasa Sansekerta dikarenakan kedatangan pendeta-pendeta Buddha pada awal masehi.

Read more...

Bahasa Menunjukkan Bangsa.

Orang asing yang baru sekali ke Indonesia sering kali kaget dan  jengkel. Di mana-mana ditanya "sudah menikah?" oleh orang yang baru  dikenal. Kalau dijawab "belum", disergap pertanyaan "Mengapa belum?"  Kalau dijawab sudah, segera digugat: "Di mana istri/suami kamu?" , disusul oleh pertanyaan berikutnya "Apakah sudah punya anak?"

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto