A+ A A-

Marga ZŌU [COU]邹 (鄒)

  • Published in Marga

邹 (鄒)

ZŌU [COU]

 

Mandarin: Zōu; Hokkian: Cou;

Tiociu: Cou; Hakka: Ceo; Konghu: Cau

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Tjouw

Pusat leluhur: Fanyang 范阳

(Sekarang propinsi Hebei 河北)

Nomor urut pada Tabel Utama: 270

Nomor urut pada Baijiaxing: 35

 

Read more...

Marga Fan ( Huan ) 范

  • Published in Marga

FÀN [HUAN]

Mandarin: Fàn; Hokkian: Huan;

Tiociu: Huang; Hakka: Fam; Konghu: Fan

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Hoan, Hwan

Pusat leluhur: Gaoping 高平

(Sekarang propinsi Shandong 山东)

Nomor urut pada Tabel Utama: 31

Nomor urut pada Baijiaxing: 46

Read more...

MARGA DĪNG [TING]

  • Published in Marga

DĪNG [TING]

Mandarin: Dīng; Hokkian: Ting;

Tiociu: Teng; Hakka: Ten; Konghu: Ting.

Ejaan lama di Indonesia: Ting, Teng.

Tempat leluhur: Jiyang 济阳 sekarang propinsi Shandong 山东

Nomor urut pada Tabel Utama: 26

Nomor urut pada Baijiaxing: 177

 

Ada beberapa jalur turunan sne Ding [Ting] 丁, yang pertama ketika Zhou Wuwang [Ciu Bu Ong] 周武王 menghancurkan Shang Zhouwang [Siang Tiu Ong] 商纣王 yang lalim dan mendirikan dinasti Zhou [Ciu] 周, sudah ada raja muda di Ding [Ting] 丁, yang kemudian turunannya menggunakan sne Ding [Ting] 丁. Di sini tidak jelas dari mana asal usul leluhur sne Ding ini.

Jalur kedua adalah, anak Jiang Taigong [Khiang Thaikong] 姜太公 bernama Dinggong [Ting Kong Kip] Ji 丁公伋, turunannya menggunakan Ding [Ting] sebagai sne. Jadi Ding [Ting] 丁 berasal dari sne Jiang 姜 [Khiang]. Pusat dari jalur keturunan ini di Jiyang [Ce Yang] 济阳, propinsi Shandong 山东 [Snua Tang].

Read more...

PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 4 )

Apa itu kematian ? Bagaimana menyikapi mati ?Ingat akan perkataan Kong Zi (551-479 BCE ) saat ditanya apakah alam kematian, Kong Zi menjawab,”Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati” 未知生焉知死.Ini adalah jawaban yang baik karena banyak manusia yang tidak memaknai hidupnya bahkan banyak manusia yang takut hidup tapi tidak takut mati, misalnya saja banyak orang yang bunuh diri bahkan bunuh diri dengan membawa mati anak-anaknya karena kesulitan ekonomi dan menggunakan mati sebagai jalan untuk melarikan diri dari kenyataan.Tentunya ini adalah mereka yang takut hidup berbeda dengan mereka yang bunuh diri dengan tujuan yang berbeda dan bagaimana pelaku bunuh diri itu memaknai bunuh diri itu yang membedakan, misalnya bhiksu Thic Quang Duc yang membakar diri sebagai bentuk protes atas perang Vietnam atau Macan Tamil yang mempelopori aksi bom bunuh diri, jendral Kobayashi yang melakukan seppuku dan banyak contoh lainnya.

Read more...

PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP ( bagian 3 )

  1. Tidak tahu hidup bagaimana tahu mati ?(未知生焉知死 weizhisheng yuanzhi si ). Pandangan ini berasal dari dialog antara Kongzi dengan Zilu ( 542-480 BCE )[1]. Dialog lengkapnya adalah sebagai berikut :  Zi Lu bertanya mengenai cara mengurus para roh. Kongzi  menjawab,”Belum bisa mengurus  manusia, bagaimana bisa mengurusi para roh”. Zilu  bertanya lagi, “ Kuberanikan bertanya tentang kematian’’. Kongzi menjawab,” Tidak tahu tentang hidup, bagaimana tahu tentang  mati”.( 子曰:“未能事人,焉能事鬼?”曰:“敢问死。”曰:“未知生,焉知死?). Pernyataan Kongzi yang terakhir ini sering dikutip oleh banyak orang yang berpendapat bahwa Kongzi tidak membahas alam kematian. Pandangan ini sebagian ada benarnya tapi perlu diketahui bahwa Kongzi mengikuti jejak kepercayaan dan tata cara ritual orang Tiongkok pra Kongzi. Alam kematian pra Kongzi akan dibahas di bawah tulisan ini. Pernyataan “ Tidak tahu tentang hidup, bagaimana tahu tentang mati’, mempengaruhi pemikiran orang Tionghoa selama ribuan tahun. Ini menyebabkan pemikiran orang Tionghoa lebih menekankan kehidupan bukan terpaku pada alam kematian. Penjelajahan filosofis kaum Ruist akhirnya lebih pada mengutamakan konsep apa itu hidup dan bagaimana menata kehidupan itu sendiri. Dengan kata lain, mereka lebih mengutamakan hal-hal yang lebih berguna bagi masyarakat daripada berkutat pada alam kematian yang bersifat spekulatif dan bersikap realisitis bahwa kematian adalah hal yang tidak terelakkan.
Read more...

Marga Zhuo / Toq ( 卓 )

  • Published in Marga

ZHUŌ [TOQ]

Mandarin: Zhuō; Hokkian: Toq;

Tiociu: Toq; Hakka: Cok; Konghu: Cheuk.

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Toh, Tok, To.

Tempat pusat leluhur: Xihe 西河, sekarang propinsi Shanxi 山西

Nomor urut pada Tabel Utama: 269

Nomor urut pada Baijiaxing: 277

 

 

Read more...

Marga Cheng ( 程 )

  • Published in Marga

Mandarin: Chéng; Hokkian: Thnia;

Tiociu: Thnia; Hakka: Chang; Konghu: Ching.

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Thia.

Pusat leluhur: Guangping 广平 sekarang propinsi Hebei 河北

Nomor urut pada Tabel Utama: 17

Nomor urut pada Baijiaxing: 193

Read more...

Marga Chen ( 陳 )

  • Published in Marga

CHÉN [TAN]

陈 (陳)

Mandarin: Chén ; Hokkian : Tan;

Tiociu: Tang; Hakka: Chvn; Kanton: Chvn

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Tan;

Ejaan Hakka lama di Indonesia: Tjhin

Pusat leluhur: Yingchuan 颖川

(Sekarang propinsi Henan 河南)

Nomor urut pada Tabel Utama: 16

Nomor urut pada Baijiaxing: 10

 

Read more...

Marga Zhan ( Ciam )

  • Published in Marga

ZHĀN [CIAM]

Mandarin: Zhān; Hokkian: Ciam;

Tiociu: Ciam; Hakka: Cam; Konghu: Cim

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Tjiam

Pusat leluhur: Hejian 河间

(Sekarang propinsi Shanxi 山西)

Nomor urut pada Tabel Utama: 256

Nomor urut pada Baijiaxing: 254

 

Read more...

Marga ZĒNG [CAN]

  • Published in Marga
ZĒNG [CAN]

Mandarin: Zēng; Hokkian: Can;

Tiociu: Cang; Hakka: Cen; Konghu: Cvng

Ejaan Hokkian lama di Indonesia: Tjan

Pusat leluhur: Luguo 鲁国

(Sekarang propinsi Shandong 山东)

Nomor urut pada Tabel Utama: 254

Nomor urut pada Baijiaxing: 385

 

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto