A+ A A-

Kisah Tempe Bacem : Antara Gengsi dan Hidup Hemat

  • Written by  N/A - Via Mailing-List
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

If you have more money, do not change your life ! You will be rich!

VIA : MAILING LIST BUDAYA TIONGHOA

Budaya-Tionghoa.Net | Sejak naik gaji, Susi menikmati kenaikan gajinya dengan mengubah gaya hidupnya. Dulu, dia selalu membawa makanan dari rumahnya. Kadang-kadang nasi dengan telor dadar, atau nasi dengan sisa lauk kemarin yang sudah
dihangatkan. Susi paling suka tempe bacem, yang warnanya sampai gelap & rasanya semakin enak. Nasi & tempe bacem memang makanan favoritnya.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Sudah dua bulan ini dia naik gaji karena jabatannya lebih tinggi. Tentu saja tugas & tanggung jawabnya semakin tinggi. Sekarang dia merasa malu kalau membawa makanan dari rumah. Kini setiap siang dia makan di luar. Dulu, banyak teman yang sering titip uang supaya dibawakan tempe bacem kesukaannya yang ternyata disukai juga oleh mereka. Sekarang mereka sering mengeluh
karena Susi tidak mau lagi membawakan tempe bacem kesukaan mereka. "Ah, malas bawa makanan dari rumah lagi," katanya setiap kali mereka menanyakan tempe bacemnya.

Susi menikmati gaya hidupnya yang berubah. Sekarang dia bisa makan ayam goreng keremes lengkap dengan es campur hampir tiap hari. Kadang-kadang nasi rames lengkap dengan sambal goreng ati, perkedel & daging rendang serta telor dadar pedas serta jus buah. Enak juga sih. Rasanya mewah. Kini Susi tidak pernah lagi makan bersama teman-temanya di ruang makan. Dia selalu memilih makan siang di luar. Kalau sedang sangat sibuk, baru dia minta dibelikan makanan & akan makan di ruangannya sendiri.

Tanpa disangka tiga hari yang lalu terjadi sesuatu yang membuat Susi terheran-heran. Pak Jono, siden direktur, memanggil Susi untuk meminta laporan mingguan yang belum diterima. Kebetulan waktu itu sudah hampir jam makan siang. Susi datang ke ruangan beliau sambil membawa laporan yang diminta. Susi juga menjelaskan bahwa dia sudah menyerahkan laporan tersebut
ke pak Jono. Pak Jono juga mengakui hal itu, tapi laporan itu terselip entah di mana, jadi pak Jono minta lagi.

Setelah berdiskusi sebentar, Pak Jono mengeluarkan kotak plastic berisi makanan. Beliau bertanya:"Susi sudah makan." "Belum, pak," jawab Susi. "Ya sudah, Susi makan dulu saja. Saya juga sudah lapar nih. Nanti kita lanjutkan lagi setelah makan siang." Susi kemudian minta diri untuk keluar makan siang. Sambil mempersilahkan Susi keluar, pak Jono membuka kotak makan
siangnya. Tanpa sengaja, Susi melihat isi kotak itu. Isinya nasi, orak-arik telor campur buncis & tempe bacem. Hanya itu.

Tanpa sadar Susi bertanya:"Pak, kok Bapak bawa makanan dari rumah sih?" "Memangnya kenapa," tanya pak Jono. "Ya... malu kan Pak? Masa siden direktur bawa makanan dari rumah," begitu jawab Susi.

Pak Jono hanya tersenyum ramah & menjawab:"Mengapa harus malu? Makanan ini penuh gizi, harga lebih murah, yang masak isteri saya, dan saya tidak perlu repot cari makanan lagi. Lagipula ini makanan kesukaan saya. Mau coba." Sambil tersenyum malu, Susi mengucapkan terima kasih.

Kejadian itu membuat Susi terheran. Kok Pak Jono tidak malu membawa makanan dari rumah ya? Tapi, memang setelah dipikir, mengapa harus malu? Kan banyak keuntungannya? Lebih murah, rasanya lebih sesuai selera sendiri, tidak perlu berpanas-panas keluar kantor mencari makanan, dan bisa memilih makanan kesukaan. Tiba-tiba, dia kangen lagi dengan tempe bacem buatan
ibunya. Tempe bacem kesukaannya. Tempe bacem yang juga disukai teman-temannya.

Dua hari yang lalu, Susi membawa lagi makanan dari rumah. Dia membawa banyak tempe bacem & membagikannya pada teman-temannya di ruang makan. Semua temannya sangat senang bisa makan tempe bacem lagi. Rasanya sudah bertahun-tahun mereka tidak makan tempe bacem. Padahal baru dua bulan. Susi terharu melihatnya.

Kini dia baru bisa mensyukuri keadaannya. Tidak perlu malu membawa makanan dari rumah. Pak Jono saja setiap hari selalu membawa makanan dari rumah. Padahal gaji & kedudukan beliau kan lebih tinggi dari Susi? Untuk apa memboroskan uang gaji untuk makan mewah setiap hari? Sepertinya dia mengorbankan uangnya untuk membeli makanan yang lebih mahal hanya untuk kenikmatan sesaat & untuk menuruti perasaan sombong akibat naik gaji & naik jabatan.

Hari ini Susi membawa tempe bacem lagi karena kemarin banyak yang titip minta dibawakan. Malah mereka ingin membayar tempe bacem yang dibawanya. Susi tersenyum saja. Dia telah menemukan kenikmatan makan siangnya kembali.

Tadi siang ketika rapat, Pak Jono bertanya pada Susi:"Makan di mana tadi." Sambil tersenyum malu Susi menjawab:"Di ruang makan pak. Saya bawa dari rumah kok." Pak Jono berhenti sebentar memandangnya lalu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Senyum Pak Jono mengandung banyak arti. Sepertinya beliau tahu mengapa Susi berubah. Tapi Susi senang. Dia ingat: If you have more money, do not change your life ! You will be rich!

Budaya-Tionghoa.Net | MAILING LIST BUDAYA TIONGHOA Juni 2008


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1014-kisah-tempe-bacem--antara-gengsi-dan-hidup-hemat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto