A+ A A-

Dasar China : Catatan Perjalanan Ke Dong Wang

  • Written by  Handoko Widagdo via Baltyra
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Dasar China! Itu bukan kalimat umpatan. Itu hanyalah ungkapan ketidak mengertian dan kadang-kadang kekaguman saya terhadap Bangsa China yang aku dapat dalam perjalanan kali ini.

Ini adalah perjalanan kedua ke Shangrila. Jika pada perjalanan pertama saya menyusuri hulu sungai Yantse, sekarang saya menuju kearah timur menuju sungai Dongwang. Seperti pada perjalanan pertama, perjalanan ini juga bertujuan untuk mempelajari sistim pertanian masyarakat Tibet. Namun supaya ceritanya bisa urut, baiklah akan saya awali dengan upaya mencari makan di Geylang.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Menikmati Geylang

Hujan menghalangiku untuk langsung menikmati Geylang. Baru jam 7 saya bisa keluar hotel. Tujuan utama adalah untuk mencari makan malam. Sebab perut sudah tak bisa diajak kompromi. Saya menuju ke sudut jalan Lorong 16. Meja dan bangku kecil berjajar rapi di depan konter-konter makanan. Pengunjung belum lagi ramai karena hujan baru saja reda. Seorang kakek tua masih sibuk mengelap bangku dan dan meja. Sekali-sekali sapu yang dibawanya menyingkirkan kotoran yang berada di bawah meja. Kadang dia mengguyur lantai dengan air yang diambilnya dengan ember platik berwarna biru. Wajah si kakek pembersih kelihatan bahagia dalam bekerja. Dasar China!

Aku memesan mie sup nomor 5. Penjaga kedai, pria berusia kira-kira 40 tahun, menyilahkanku untuk duduk. Istrinya mengantarkan semangkuk mie yang berisi udang, irisan daging babi, iga, kikil dan usus kepadaku. Aku bayar 5$. Segera saja aku nikmati sup mie yang masih panas. Aku memesan kopi untuk minum. Aku membutuhkan kopi untuk menambah semangat sore ini. Secangkir kopi susu aku tebus 1$.

Setelah sejenak mengamati para pengunjung kedai, aku bangkit dan menyusuri Geylang Road. Tak banyak yang menarik, karena hampir semua sudut dipenuhi kedai makanan. Memang jenis makanan bervariasi, ada Chinese food, Thai, dan Indian. Berbagai jenis beer juga tersaji. Selain kedai makan, disepanjang jalan Geylang dijajakan hp di konter-konter kecil. Setelah sampai ujung jalan saya memutuskan untuk balik ke hotel. Tak ada yang istimewa di Geylang.

Changi Airport

Paginya saya bangun jam 5.30 waktu Singapore dan berangkat ke Changi jam 6 pagi. Ternyata sangat mudah untuk mencari taksi di pagi hari. Awalnya saya ragu apakah bisa mendapat taksi saat hari masih sangat pagi. Penjaga hotel memberitahuku bahwa taksi tersedia di Jalan Geylang. Hanya harus menambah 2,5$ karena masih dihitung tarif malam hari. “Kalau pesan lewat hotel mahal” dia menasihatiku. Akupun meluncur ke Terminal II Changi airport ditemani lampu-lampu jalan yang kelihatan mengantuk.

Changi airport adalah salah satu airport yang aku suka. Selain dipenuhi gerai-gerai, Changi juga memberikan nuansa alam. Di dalam airport ada kolam koi dengan tanaman paku-pakuan mengitarinya. Pohon-pohon paku besar menyembul di tepi kolam. Saya duduk santai menunggu ruang keberangkatan ke Kunming dibuka.

Kunming Airport dan Shangrila

Dasar China, pikirku. Bus sudah uyel-uyelan tapi tetap saja masih menunggu semua penumpang masuk. Bayangkan Airbus 320 hampir penuh, semua penumpangnya dimuat hanya dalam dua bus. Kami dempet-dempetan seperti gerombolan yang antri sembako gratis – saling dorong hanya supaya mendapat sejengkal ruang. Baru saja penumpang terakhir melewati pintu bus, bus segera saja berangkat. Jadilah semua kami tersentak.

Dasar China pikirku. Ketika sampai di Shangrila, taksi kami tak bisa melanjutkan perjalanan karena ada dua mobil di depan yang berhenti menutup jalan. Mobil terdepan membunyikan klakson tanpa henti ada lebih dari 10 menit. Mobilnya terhalang motor gerobag yang diparkir di tikungan. Bayangkanlah di pusat tempat wisata, jam 10 malam membunyikan klakson tanpa henti. Herannya tak juga ada yang peduli. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari taksi dan  jalan menuju hotel. Memang tidak jauh, hanya kira-kira 300 meter saja.

Malam saya sudah bisa tidur, meski masih beberapa kali terbangun. Namun sesak napas tidak lagi aku alami. Jadi aku tak memerlukan bantuan oksigen seperti kunjungan sebelumnya. Waktu bangun pagi kepala sedikit pening, artinya saya belum sepenuhnya bisa berdaptasi dengan ketinggian Shangrila.

Menyentuh salju

Perjalanan dari Shangrila ke Dongwang awalnya adalah menuruni bukit. Jalanan lumayan mulus, pemandangan membosankan. Di bagian atas bukit diisi pohon-pohon, di lembah kadang-kadang kami bertemu peternakan yak. Begitu terus sepanjang 1 jam perjalanan. Ternyata perjalanan tidak terus turun. Sebab kini mobil kami mulai menanjak.

Jalanan mulai bergelombang. Setelah 1 jam perjalanan kami menemukan salju. Di kiri kanan kami lerengnya masih bersalju. Di latar dekat, kulihat bukit batu menjulang yang masih diselimuti salju. Temanku bilang bahwa kita pada ketinggian sekitar 4.200 m dpl. Tapi sopir kami bilang ketinggian hanya 3.700. Mana yang benar? Saya yakin bahwa saya berada di ketinggian yang lebih tinggi dari Shangrila karena sakit kepala di bagian belakang muncul lagi, yang artinya saya terserang altitude sickness.

Kami sempat berhenti dan membuat beberapa foto di dekat lereng bersalju. Selanjutnya kami menuruni bukit lagi sekitar 4 jam. Saya beberapa kali terlelap meski tak bisa lama. Akhirnya sampailah kami di Dongwang.

Rupanya dalam perjalanan ke Dongwang saya tertidur. Ketika perjalanan balik baru aku sadari bahwa kami melewati titik tertinggi pada ketinggian 4.400 dpl.

Kota Dongwang

Dongwang adalah kota kecamatan dengan penduduk sekitar 300 jiwa saja. Kota ini baru dibangun pada tahun 1957. Penduduknya adalah suku Tibet. Hampir di setiap rumah mereka membuka toko. Ada juga sebuah bengkel. Selain dari kantor kecamatan, ada sebuah bangunan SD dan kantor polisi. Kota Dongwang terletak persis di tepi Sungai Dongwang. Hanya sederet saja menghadap jalan raya. Panjang kota tak lebih dari 500 meter saja. Di kedua sisi sungai adalah bukit menjulang tanpa da vegetasinya. Kering kerontang.

Kami menginap di penginapan terbaik di Kota Dongwang. Penginapan milik pemerintah kecamatan. Bangunannya bagus dua lantai dan sedang ditambah satu lantai lagi di atasnya. Kamarnya cukup luas dengan dua bed, TV, lamp control desk dan kamar mandi dengan peralatan yang modern, termasuk bathtub.

Tapi sayang, tidak ada air, sehingga kamar mandi terlihat sangat jorok dan bau. Teman saya tiba-tiba datang ke kamar dan bilang: “tidak ada air, jadi kita harus menggunakan public toilet”. Setelah membereskan barang-barang di dalam kamar, saya dan Ren Jian (teman yang tadi memberi informasi tentang public toilet) keluar untuk memeriksa public toilet yang dimaksud. Kami jalan menuju arah sungai. Setelah melewati bangunan sekolah sementara, kami sampai ke public toitet.

Ren Jian segera saja memasukinya, sepertinya dia punya masalah dengan pencernaannya. Namun segera saja dia keluar dan bilang, tidak ada air dan jorok sekali. Akhirnya kami naik kembali ke jalan dan mengunjungi desa di seberang sungai. Saat pulang ke kamar, di depan kamar saya terletak seember air. Syukurlah, artinya saya bisa memberesi urusan biologis dengan seember air. Dasar China.

Saat berjalan-jalan sore, saya bertemu dengan segerombolan anak-anak sekolah yang digiring oleh tiga gurunya (seorang pria dan dua perempuan) untuk mengambili sampah di jalanan kota. Di mana-mana guru adalah inovator. Saya yakin bahwa pendidikan model begini akan mengubah perilaku anak-anak ke depan untuk lebih menghargai kebersihan.

Ketika mengunjungi desa di seberang sungai, saya melihat banyak sekali tumpukan kayu. Sebenarnya, satu jam setelah meninggalkan salju, tumpukan kayu di sepanjang jalan sudah mulai kami saksikan. Daerah ini memang merupakan sumber kayu bangunan. Selain itu perubahan cara membuat rumah orang Tibet juga membuat kebutuhan akan kayu menjadi semakin besar. Dahulu, Nyima Adack, temanku yang berasal dari Lhasa, menjelaskan bahwa orang Tibet memuat bangunan rumah menggunakan lumpur.

Untuk membedakan kaya miskinnya adalah dengan melihat berapa besar rumah dari lumpur yang bisa dibuatnya. Sekarang, rumah kayu dianggap lebih kaya dariapada rumah lumpur. Dan ukuran kekayaan tidak lagi dilihat dari luas bangunan rumah saja, melainkan juga dilihat dari apakah punya mobil, punya TV dengan parabola dan tentu saja apakah hp-nya dari produk terbaru.

Malamnya kami diundang oleh pemerintah kecamatan untuk makan malam. Kami duduk di seputar meja dengan berbagai jenis makanan disajikan. Tidak ketinggalan beer disajikan di samping mangkuk kami. Dua menit setelah acara makan bersama dimulai, si wakil camat mengajakku untuk toats.

Dia berdiri dan mengakat gelas yang berisni beer. Saya duduk saja dan kemudian kami membenturkan gelas kami dan menenggaknya sampai habis. Setelah itu si wakil camat juga melakukannya dengan Ren Jian dan kemudian dengan Nyima Adack. Bedanya Ren Jian dan Nyima berdiri untuk menyambut wakil camat tersebut. Saya bertanya kepada Nyima yang berada di samping saya, apakah dalam acara toast seperti itu kita harus berdiri?

Dia menjawab, berdiri berarti memberi respek kepada lawan kita. Selanjutnya, setiap orang yang mengajak saya untuk toast selalu saya sambut dengan cara berdiri. Saya bukan jago minum. Kemampuan saya hanyalah satu botol beer kecil saja. Untuk mengakali supaya saya tidak minum banyak, saya sengaja membuat gelas saya kosong. Hanya ketika ada yang mengajak toast saya isi gelas tersebut. Setelah botol beer saya kosong, datang lagi botol yang lain. Bahkan di beberapa orang disajikan botol alcohol yang berwarna coklat. Untunglah Ren Jian menyelamatkan saya dengan mengajak toast bersama seluruh meja dan kemudian meinggalkan meja dengan alasan sudah mabok.

Hari terakhir kami makan malam bersama Pak Camat. Beberapa aparat hadir bersama Pak Camat. Jangan membayangkan bahwa suasananya formal. Tidak sama sekali. Kami duduk dalam dua meja. Kali ini bukan hanya beer yang menyertai, tetapi arak beras. Belum semua menyentuh makanan, acara toast sudah mulai. Saya menjadi orang yang paling sering diajak toast karena dianggap tamu yang layak dihormati.

Karena saya bukan peminum, saya minta beer saja. Itupun setiap angkat gelas saya hanya kecap saja, kecuali pejabat penting yang mengajak saya untuk toast. Suasana semakin tidak terkendali karena semua sudah mulai mabuk. Mereka mulai menyanyi dan saling angkat gelas. Saat Camat mengajak saya untuk mengangkat gelas, sekaligus saya pakai untuk berpamitan. Setelah segelas kecil beer saya tenggak habis, untuk menghormati Pak Camat, saya segera saja meninggalkan meja. Sementara teman-teman masih saja bersama mereka dengan muka yang merah padam karena mabuk.

Alam

Mengunjungi desa-desa tradisional orang Tibet di gunung-gunung adalah suatu keasyikan sekaligus tantangan.  Desa-desa tersebut menyebar dari ketinggian 2.700 mdpl sampai dengan 3.400 mdpl. Perjalanan kami lakukan dengan PRADO. Sopir kami sungguh sangat berpengalaman, sebab tergelincir sedikit saja maka habislah kami. Jurang yang berada di samping kami bisa berkedalaman 7 meter saja, tetapi suatu saat bisa lebih dari 500 meter! Tak jarang saya harus tutup mata karena ngeri. Dasar China…bagaimana bisa mereka membuat jalur di tepi gunung dengan kemiringan lereng sekitar 70-80 derajad!


Saat mengunjungi desa-desa di bawah 3000 mdpl, saya tidak mengalami masalah. Namun ketika tiba di desa yang di atas 3000 mulailah saya sulit bernafas dan kepala bagian belakang berdenyut. Namun semangat dan perasaan ingin tahu mengalahkan rasa sakit yang mendera kepala dan dada saya.

Pemandangan di desa-desa yang berada di ketinggian lebih dari 3000 mdpl sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan puncak bukit bersalju hanya dari jarak kira-kira 300 meter saja. Belum lagi memandang desa-desa yang berada di bawah, di celah sempit aliran sungai.

Adat dan Pembangunan

Salah satu kesibukan yang saya lihat di semua desa-desa tradisonal yang saya kunjungi adalah membuat rumah. Jangan anda bayangkan bahwa rumah yang mereka buat berukuran 21 meter persegi seperti yang sekarang dibangun di negeri kita.

Mereka membangun rumah dengan ukuran 40 X 50 meter persegi dengan tiga lantai! “Apakah ini rumah komunal?”, saya bertanya kepada Nyima yang adalah orang Tibet. Bukan. Ini rumah untuk satu keluarga saja. Biasanya suami, istri dengan dua anak, dia menjawab. Mengapa memerlukan rumah sebesar ini jika hanya berempat?

Pada suatu kesempatan saya diajak masuk ke rumah salah satu pimpinan desa. Ternyata bangunan 40 x 50 itu terdiri atas halaman, seluas kira-kira 10 X 40 meter, bangunan utama tiga lantai. Lantai pertama dipakai untuk gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, pupuk, benih dan lainnya. Lantai dua untuk tempat tinggal yang berupa tempat tidur, dapur yang sekaligus tempat berkumpul keluarga dan untuk menerima tamu. Lantai tiga dipakai untuk menyimpan barley, wheat dan jagung serta hasil panen lainnya. Dasar China!

Sudah saya singgung di atas bahwa jalan-jalan yang membuka akses dari satu desa tradisional ke desa tradisional lainnya telah dibuka. Ini suatu pembangunan skala besar yang masif. Sebuah upaya yang luar biasa untuk menaklukkan alam. Namun, meski pembukaan akses dilakukan dengan sangat cepat – mobil dan hp bisa menjangkau semua desa tradisional, upaya pelestarian budaya tidak dilupakan. Kami sempat terhenti selama setengah jam karena sedang ada upacara di depan sebuah pagoda. Upacara menari ini adalah merupakan upacara ucapan Syukur.

Kami juga menemukan upaya pelestarian pembuatan karpet di salah satu desa yang kami kunjungi. Modernitas, pembangunan masif digabung dengan pelestarian budaya? Dasar China!

Anak dan Perempuan

Ada yang berbeda menyaksikan anak-anak orang Tibet dengan anak-anak China di perkotaan. Anak-anak Tibet seperti kurang mendapat perhatian. Hal ini mungkin disebabkan karena kebijakan satu keluarga satu anak tidak berlaku bagi suku Tibet. Mereka rata-rata memiliki dua atau tiga anak.

Kurangnya perhatian terhadap anak-anak mungkin juga disebabkan banyaknya kesibukan desa-desa kecil tersebut. Dengan rata-rata penduduk 20-25 keluarga, maka semua tenaga harus dikerahkan untuk menghasilkan pangan yang cukup, tempat tinggal yang layak yang bisa melindungi mereka dari dinginnya hawa pegunungan dan sengatan teriknya matahari di siang hari.

Di desa-desa tradisional yang dekat dengan desa induk, biasanya ada Sd sampai kelas tiga dengan tiga guru yang tinggal di sekolah. Sementara untuk desa-desa yang jauh hanya terdapat satu guru, meski SD-nya juga sampai kelas tiga. Untuk melanjutkan sekolah mereka harus ke desa induk. Sementara untuk SMP dan SMA mereka harus masuk ke boarding school yang terdapat di kabupaten.

Perempuan Tibet sangat sibuk. Mereka terlibat dalam semua urusan. Perempuan bertanggungjawab atas ketersediaan pangan. Lelaki membantu dalam pengolahan tanah, menanam dan memanen tanaman pangan. Selebihnya pekerjaan pertanian adalah pekerjaan perempuan. Ternak adalah tanggung jawab perempuan.

Urusan rumah tangga adalah tanggung jawab perempuan. Bahkan dalam membangun rumah, perempuan dilibatkan dalam mengangkut pasir dan menyediakan makanan. Beryukurlah kepada Allah yang mengaruniakan payudara yang tidak berat kepada perempuan Tibet. Sebab mereka harus mengangkut banyak barang. Bersyukurlah kepada Allah untuk kerelaan para lelaki Tibet yang tidak terobsesi menikmati payudara besar.

Makanan

Menurutku tidak ada sistim pangan yang lebih efisien daripada yang ada disini. Siklus energi berputar sangat pendek. Semua bahan pangan tersedia secara lokal. Barley dan wheat serta kentang ditambah dengan daging babi dan sayuran adalah makanan mereka sehari-hari. Semua bahan tersebut tersedia disekitar pemukiman mereka. Babi diberi makan jagung yang ditanam di sekitar desa. Semua sisa makanan juga diserahkan kepada babi. Kotoran manusia dijadikan pupuk atau dimakan babi. Energi berputar dengan cepat dan sangat efisien dalam sistim ini. Hari ini masih sampah, mungkin besok sudah tersaji di meja makan. Dasar China!

Dasar China, semuanya serba luar biasa, meski tidak semua bisa dimengerti.

Bangsa yang berperan

Bagian ini saya tulis di Bandara Kunming, dalam perjalanan pulang. Pesawat Boing 737 seri 700 China Eastern (CES) melesat dan dengan cepat mencapai ketinggian jelajah, membawaku dari Shangri-La ke Kunming. Tentu saja cepat, karena ketinggian Shangri-La adalah 3000 mdpl.

Sebenarnya saya agak mengantuk karena malamnya beberapa kali terbangun. (Meski sudah sering bepergian, malam terakhir biasanya saya susah tidur karena sudah rindu rumah.) Namun pemandangan yang tersaji dari jendela pesawat membuat mata saya segar kembali.

Puncak-puncak bersalju arah barat-laut dan utara membuatku terpana. Saya yakin puncak-puncak bersalju tersebut adalah rentetan Himalaya. Puncak-puncak bersalju itu menyembul diatas awan. Sayang sekali kamera saya berada di dalam tas ransel dan dibagasi atas. Akibatnya saya tak bisa mengambil gambar yang luar biasa tersebut.

Dalam pesawat saya membalik-balik majalah CES. Di kata sambutan dijelaskan bahwa CES membantu evakuasi pekerja China dari Libia. Meski tidak berpengalaman menerbangi rutenya, CES berhasil membawa kembali 7000 warga China yang keluar dari Libia.

(Foto repro dari Majalan CES)

Paragraf terakhir sungguh sangat menggugah saya. Kalimat tersebut adalah sebagai berikut: “Among the evacuees was a baby of only 20 days. He and his parents did not miss the CES flight to come home. Perhaps he would not remember this experience when he grows up, but he will be told when he was born, a “home” was and countless “members of the home” were protecting him. The home is called CHINA.” Rumah itu adalah China!

Sungguh menyentuh hati. Setelah saya buka lebih lanjut majalah tersebut, ternyata si bayi adalah anak seorang minoritas. Anak seorang perempuan China yang berjilbab! Tanpa terasa pipi saya panas karena airmata meleleh dari mata saya. Tuhan terima kasih, Engkau mengajariku bagaimana seharusnya sebuah Bangsa bertindak untuk rakyatnya. Dasar China.

Karena kesibukan yang tiada tara, saya jarang membuka Baltyra. Namun pagi tadi, sambil sarapan saya sempat membuka Baltyra dan tertarik dengan tulisan JC tentang sinophobia. JC menggambarkan betapa pembangunan infrastruktur China berjalan sangat cepat.

Artikel tersebut membuat saya tertarik untuk membagi foto-foto yang saya dapat dalam perjalanan ini, tentang pembangunan yang dimaksud oleh JC. Lihatlah bandara baru Kunming yang sedang dalam pengerjaan dan jalan-jalan di atas gunung berikut ini. Dasar China!

Bukan hanya infrastruktur, China juga begitu giat memanfaatkan matahari sebagai sumber energi dengan memberikan gratis peralatan kepada rakyatnya.

Dasar China, semuanya serba luar biasa, meski tidak semua bisa dimengerti.

Gallery foto selengkapnya ada di :http://web.budaya-tionghoa.net/gallery-photoblog/1061-dokumentasi-foto-perjalanan-ke-dong-wang

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

SUMBER :

  1. http://baltyra.com/2011/04/20/dasar-china-1-catatan-perjalanan-ke-dongwang/
  2. http://baltyra.com/2011/04/25/dasar-china-2-catatan-perjalanan-ke-dongwang/
  3. http://baltyra.com/2011/05/04/dasar-china-3-catatan-perjalanan-ke-dongwang/
  4. http://baltyra.com/2011/05/12/dasar-china-4-habis-catatan-perjalanan-ke-dongwang/
  5. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/59328

 

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1060-dasar-china--catatan-perjalanan-ke-dong-wang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto