A+ A A-

Arsitektur Tiongkok [1950-1978]

  • Written by  Dada & Zhou Fuyuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Perang saudara antara Nasionalis versus Komunis di Tiongkok berakhir dengan kemenangan Komunis dan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Sebagai negara yang baru saja menyelesaikan seratus tahun lebih pergolakan berdarah , perang saudara , imperialisme dan perang saudara lagi. 

Artikel Terkait :

{module [201]}

Tiongkok membutuhkan infrastruktur yang baru untuk membangun reruntuhan disekujur negri. Selain itu ada batasan ideologi, ekonomi dan sistem sosial bagi terciptanya karya arsitektur yang baru bagi negara yang sangat luas dengan populasi yang besar dan membutuhkan infrastruktur baru untuk kemaslahatan masyarakat. Mao Zedong dalam hal ini menaruh perhatian pada arsitektur sosialis.

Dalam konferensi arsitek di Warsawa 1953 yang dihadiri oleh arsitek dari seluruh negara sosialis , partisipannya setuju untuk menentang strukturalisme yang dipandang sebagai ekspresi kapitalisme. Sebaliknya mereka menganjurkan konten sosialis.

Konferensi ini turut mempengaruhi arsitektur Tiongkok pada masa kepemimpinan Mao Zedong. Realitas ekonomi pula yang membuat pemerintah Tiongkok mengeluarkan satu prinsip panduan dalam rancangan arsitektural. Bahwa nilai fungsional dan ekonomis harus dipenuhi.

Untuk kebutuhan ini , aliran Beaux Art yang diperkenalkan sejak tahun 1920 mengabdi pada proyek-proyek politik yang baru. Sejak berdirinya RRT ide-ide Beaux Art dengan dorongan Uni Soviet sampai Sino-Soviet Split.  Sebelumnya Di tahun 1956 , Mao Zedong mendorong ide baru pada sosial-budaya , seni dan sains dengan proklamasi 百花齐放.百家争鸣 bǎihuā qífàng, bǎijiā zhēngmíng". Biarkan seratus bunga bermekaran dan seratus aliran pemikiran tumbuh dengan subur.

Membahas perkembangan arsitektur Tiongkok pasca berdirinya Republik Rakyat Tiongkok , adalah persoalan yang sangat pelik. Seperti halnya dunia seni yang lain, arsitektur Tiongkok modern juga tidak lepas dari pengaruh angin modern yg bertiup dari dunia Barat.

Tapi pada awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok , semua bidang seni mereka kaji dengan kaca mata ideologis sehingga lahirlah istilah seni sosialis dan seni kapitalis.

Dalam hal ini mereka lebih senang belajar dari Uni Soviet yang komunis dibanding dari Eropa-Amerika yang kapitalis. Maka lahirlah seni realis sosialisme dibidang sastra maupun seni lukis. Di bidang Arsitektur, wujud arsitekturnya adalah formalisme monumental, seolah olah ingin menonjolkan keagungan revolusi sosialis.

Mereka bahkan panas berdiskusi mencari bagaimana membedakan arsitektur sosialis dan kapitalis, ada yang sempat berteori bahwa arsitektur sosialis menonjolkan vertikalisme, berlawanan dengan kapitalis yang suka garis-garis horisontal.

Diluar itu, ada juga yang ingin mendorong lahirnya arsitektur modern berciri budaya Tiongkok, wujudnya adalah lahirnya atap-atap besar meniru bangunan kuil-kuil kuno. Ini semua tentu bukan perkembangan yang sehat. Yang terjadi bukannya arsitektur sosialis yang seharusnya lebih ramah dan merakyat, malah arsitektur angkuh formal yang neo feodal!

Pasca Mao Zedong

Kemandekan kreatif ini baru berhasil didobrak setelah keterbukaan di era Deng Xiaoping. Saat mereka membuka diri di awal 80an, dunia arsitektur diluar tengah berjangkit angin post modern, maka dalam saat yang bersamaan, mereka harus menyerap dua hal sekaligus: di satu pihak mengejar ilmu arsitektur modern yang sempat tertinggal, di lain pihak harus cepat merespon aliran pasca modern yang sedang mewabah.

Namun pengaruh pasca modern ternyata hanya sesaat, merekapun cepat mengikuti perkembangan arsitektur mutakhir di luar, yakni mengembangkan arsitektur late modern(purna modern) dan new modern(termasuk ars dekonstruksi) sekaligus.

Meski terlambat mengikuti arus modernisasi di dunia barat, terlambat start jika dibanding Indonesia, tapi sekarang hasil karya arsitektur mereka sudah jauh meninggalkan kita di sini! Hasil ini didapat berkat usaha pintu terbuka, dimana mereka rajin mendatangkan arsitek-arsitek kelas dunia untuk berkaya di bumi mereka. Mereka juga rajin mengirim anak-anak muda belajar di sekolah-sekolah top di luar negeri. Sembari terus meningkatkan mutu pendidikan di universitasnya sendiri dengan menyerap metode pendidikan di luar yang maju.


Berita terakhir, sebuah biro arsitek di Tiongkok telah berhasil memenangkan tender perencanaan sebuah proyek prestise di Inggris! Arsitek Tiongkok seperti Wang Shu juga meraih penghargaan bergengsi arsitekur Pritzker Prize. Dunia arsitekturpun gempar.  Apakah ini sebagai tanda awal serbuan ekspor produk jasa dari Tiongkok? Mengikuti serbuan ekspor produk barang ke dunia Barat?

Photo : Kampus Xiangshan , Pritzker Architecture Prize 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

Last modified onTuesday, 11 December 2012 18:01
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1062-arsitektur-tiongkok-1950-1978

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto