Logo
Print this page

Taishang Ganying Pian 太上感應篇

Tai Shang Lao Jun (Laozi) bersabda :

I
Kemalangan dan keberuntungan tiada pintunya, manusia sendiri yang membuatnya; pembalasan dari perbuatan baik dan jahat, mengikuti manusia seperti bayangan. Karena itu, di atas sana ada Dewa yang mengawasi perbuatan manusia, kesalahan manusia akan diperhitungkan berat ringannya. Barang siapa yang berbuat jahat, kebahagiaannya dikurangi, perbuatan jahatnya banyak, maka kerisauan dan kesusahan pun akan banyak pula.


II

Sebagai manusia, bila memang sesuai dengan TAO (aturan, kebenaran), majulah, bila tidak, mundurlah (kata-kata ini sangat populer sampai kini). Jangan menempuh jalan sesat, jangan berbuat jahat disaat orang tidak tahu. Tingkatkanlah budi pekerti, pupuklah jasa baik, berhati pengasih. Jujur, bakti, rukun dan damai, berusaha menjadi orang baik, juga ajaklah orang lain supaya menjadi orang baik pula.

Peduli terhadap mereka yang yatim piatu dan hidup tanpa sanak famili. Menghormati orang yang lebih tua, mengasihi orang yang lebih muda.

Mahluk hidup jangan dilukai, tumbuh-tumbuhan jangan dirusak. Turut prihatin atas mereka yang dirundung malang; turut merasa gembira dan bahagia atas kegembiraan dan kebahagiaan orang lain. Bantulah orang yang sedang terjepit, tolonglah orang yang berada dalam keadaan bahaya.

Keberuntungan orang lain, kita rasakan seperti keberuntungan kita; kemalangan orang lain, kita rasakan seperti kemalangan kita.

Tidak membeberkan kekurangan atau keburukan orang lain; tidak membanggakan kelebihan atau kebolehan diri sendiri.

Yang buruk ditutupi, yang baik kita puji. Di bidang sandang pangan tahu batas kepuasan. Berusaha tidak melakukan kesalahan dalam perbuatan dan ucapan. Menanam budi tidak mengharapkan balasan, menyumbang tidak mengharapkan jasa. Ini yang disebut perilaku orang baik.

III

Hal-hal dibawah ini jangan dilakukan :

Kelakuan yang tidak adil dan merusak keharmonisan; kelakuan yang bertentangan dengan kebenaran. Berperilaku ganas dan jahat, dengan tegar menganiaya orang atau mahluk lain. Diam-diam memfitnah atasan, orang tua dan sanak famili, mengkhianati karir mereka; menipu orang yang tidak mengerti masalahnya, menyebar isu, memfitnah, berbuat culas. Keras hati tiada rasa kasih, menindas bawahan demi merebut jasa, menjilat atasan.

Mengabaikan hukum dan peraturan, menerima suap, demi memupuk kekayaan menyengsarakan rakyat. Mengacau tata negara. Menghukum orang yang tidak bersalah, membunuh orang yang sudah menyerah dan bergabung, merendahkan orang yang jujur serta menyingkirkan mereka yang bijak. Membunuh demi harta; merebut keududukan orang. Menganiaya anak yatim piatu, memaksa wanita yang menjanda.

Menjilat orang kaya, memandang rendah orang miskin. Tahu hal yang baik, tetapi tidak mau melakukannya, tahu salah, tetapi tidak mau mengubahnya. Budi orang dilupakan, kritikan orang disimpan di hati berkepanjangan. Dosa dirinya dilemparkan kepada orang lain. Memfitnah orang suci dan orang-orang arif.

Mengharapkan kegagalan orang, memfitnah sukses orang lain. Mencelakakan orang demi keselamatan dirinya, membahayakan, bahkan membinasakan orang demi kepentingan dirinya. Demi kepentingan pribadi merugikan orang lain.

Merampas jasa orang, menutupi kebaikan orang. Mempublikasikan keburukan orang, menceritakan urusan pribadi orang. Memboroskan uang dan harta orang, merusak rumah tangga orang. Menghancurkan perkawinan orang. Merusak tatanan dengan tujuan merusak jasa dan sukses orang.

Memeras tenaga orang. Iri dan dengki pada orang yang sedang jaya, berupaya mencelakakannya sampai dia dihukum dan berantakan. Melihat yang kaya, hatinya dengki, dan mengharapkan dia hancur. Melihat yang cantik, hatinya culas ingin memilikinya. Punya hutang, mengharapkan yang menghutangi cepat mati. Minta sesuatu tidak dapat, timbul benci, mulut mencerca.

Melihat orang lain kehilangan kesempatan, dikatakan dia salah. Mentertawakan cacat tubuh orang lain. Melihat orang berbakat tinggi lalu berusaha menekannya agar tidak dapat berkembang.
Jasa diterima, tetapi kesalahan dilemparkan kepada orang lain. Mencelakakan orang lain, dan menyuap orang untuk menutupi kejahatan. Memburu ketenaran, menutupi keculasan.

Mendiskreditkan kelebihan orang, menutupi kekurangan diri sendiri. Keluar pelit (kikir), masuk mau banyak. Lain di hati lain di mulut. Sering menyombongkan dir, hati dengki. Dengan kata-kata keji memfitnah orang, tapi merasa dirinya benar. Berani bersumpah untuk menutupi keburukan dan kejahatannya. Menyimbang diiringi rasa menyesal; meminjam tidak mau mengembalikannya lagi.


Wajah seperti Dewa, tapi berhati busuk bagaikan ular. Dengan ajaran sesat memikat orang banyak. Tidak berbakti pada orang tua. Menganiaya bawahan. Menuruti ucapan istri yang tidak benar sehingga hubungan sesama saudara menjadi berantakan.

Sebagai suami tidak setia dan tidak berkelakuan baik, sebagai istri tidak lemah lembut, tidak berusaha membina keluarga, tidak hormat kepada suami. Tidak melakukan kewajiban sebagai istri, tidak hormat kepada sanak famili.

Memandang rendah arwah leluhur, mengingkari pesan leluhur yang baik. Sentimen kepada orang lain, memperlakukan anak orang dengan buruk. Gemar paras cantik, dan mengumbar nafsu. Perbuatan penuh rahasia, membunuh bayi, menggugurkan kandungan. Ketagihan alkohol, membuat onar. Foya-foya. Berpakaian berlebihan dan membuat masakan berlebihan.

Membuang-buang beras dan makanan, memeras tenaga hewan. Menembaki burung, mengusik mahluk hidup, merusak habitat mereka, menghancurkan sarang unggas, mengambil janin hewan dan memecahkan telur unggas yg telah terbenihi.

Semua kejahatan yang dituturkan di atas itu, diperhitungakan oleh para Dewa, sesuai dengan berat ringannya, hukuman dijatuhkan dengan mengurangi kebahagiaan dan kemakmuran orang yang bersangkutan. Bila hukuman belum habis yang bersangkutan keburu mati, anak cucunya akan kena getahnya.

IV

Barang siapa yang merampas harta benda orang, perhitungan dosanya sampai ke anak istrinya dan berlanjut sampai ke kematian. Pembalasan dosa itu bisa berupa musibah banjir, kebakaran, kemalingan, dirampok, kehilangan harta benda, terserang penyakit atau cekcok dan sebagainya.

Orang yang mendapatkan kekayaan dengan tidak halal, seperti orang makan racun untuk mengisi perut yang lapar, atau seperti dengan alkohol menghilangkan dahaga, bukan saja tidak dapat mengatasi kelaparan dan dahaga, malah mendatangkan petaka yang lebih dari sengsara dari maut.

Maka itu, kekayaan yang tidak halal, tidak dapat dinikmati, karena didapat dengan cara tidak halal, akan mudah habis. Mungkin habis dipakai foya-foya, dipakai ketagihan alkohol, dihabiskan anak yang tidak benar, atau habis dipakai hobi yang tidak benar.

Pembalasan berlanjut sampai kekayaan yang tidak halal itu habis, bahkan kekayaan miliknya semula juga habis, rumah tangga berantakan, itulah disebut bukan saja tidak dapat mengatasi lapar dan dahaga, malah akan mendatangkan nestapa yang melebihi maut.

Barang siapa membunuh orang, bukan saja tidak lolos dari hukum negara, roh yang penasaran juga akan memburunya, akhirnya akan binasa dibunuh atau tewas oleh senjata.

Barang siapa yang berbuat tidak susila terhadap anak istri orang lain, memang kadang hukum negara dapat dibohongi, tapi tidak akan lolos dari mata Tianzun. Tengoklah anak istrimu sendiri, kemungkinan juga akan diperlakukan tidak senonoh pula. Ini semua seperti menanam timun akan panen timun, menanam kacang panen kacang, tidak akan meleset. Di saat menanam tidak terasa, setelah 10 tahun apa yang ditanam telah tumbuh dan berbuah, buahnya timun atau kacang, sesuaidengan yang semula ditanam.

-- 0 --

Barang siapa yang melanggar ke empat hal yang dituturkan di atas itu, cepatlah bertobat dan memperbaiki diri, semua hal yang buruk jangan dilakukan lagi, tetapi lakukanlah semua hal yang baik. Lama- lama pasti akan mendapat berkah, itulah yang disebut merubah malapetaka menjadi keberuntungan.

Oleh karena itu, orang baik, ucapannya baik, pandangannya baik, perbuatannya baik, sehari ada tida baik ini, tiga tahun kemudian
berkah akan datang untuknya.

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/59952

Sebaliknya, orang jahat, ucapannya jahat, pandangannya jahat, perbuatannya jahat, sehari ada tiga jahat ini, tiga tahun kemudian, malapetaka atau musibah akan menimpa dirinya.

Oleh karena itu, renungkanlah dalam-dalam.

Naskah suci ini beredar dengan aneka ragam versi, di antaranya banyak yang sudah ditambahi dan dibumbui semaunya, bahkan diberi lampiran yang palsu, sehingga menimbulkan angan-angan yang tidak benar bagi mereka yang membacanya. Perbuatan ini merupakan dosa besar. Naskah yang disajikan ini adalah dari asalnya yang semula hanya terdiri dari I sampai II. Tapi penjelasan selanjutnya adalah uraian agar pembaca lebih jelas lagi. Semoga bagi mereka yang ingin memperbanyak, dapat mengikuti versi ini.

-- o --

Di belakan gini terlampir lampiran dari pesan Taishang Laojun sendiri sebagi berikut:

Taishang menurunkan wejangan ini, berupa ajaran interaktif rohani. Bila dibaca sekali tiap hari, akan mengurangi dosa. Membaca selama sebulan, kebahagiaan dan keselamatan akan bertambah. Dibaca setahun, usia akan bertambah panjang. Diyakini selama 7 tahun, arwah leluhur akan terangkat ke atas. Bila dibaca untuk selamanya, nama orang yang membacanya akan tercatat di dalam daftar nama-nama Xian (Immortals).

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua 5992| ICCSG | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onSunday, 11 November 2012 16:26
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1114-taishang-ganying-pian-%E5%A4%AA%E4%B8%8A%E6%84%9F%E6%87%89%E7%AF%87?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .