A+ A A-

Taishangganyingpian (太 上 感 應 篇 ) - Suatu Panduan Moralitas Daois

  • Written by  Ivan Taniputera
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Taishangganyinpian adalah kitab yang menjadi pedoman mengenai moralitas dalam Daoisme. Secara harafiah arti judul kitab itu adalah "Ajaran Mengenai Hukum Sebab Akibat yang Berasal dari Laozi" (secara etimologis: 太 上 = gelar Laozi; 感 應 = pembalasan, sebab akitab; 篇 = sepotong tulisan atau artikel). Kitab yang terdiri dari sepuluh bab ini dibuka dengan ajaran yang berbunyi sebagai berikut:


Taishang (Laozi) berkata: "Malapetaka dan keberuntungan tiada memiliki pintu. Hanya manusialah yang mencarinya sendiri. Pembalasan baik ataupun buruk adalah laksana bayangan yang mengikuti tubuh."

Artikel Terkait :

{module [201]}

 

 

 

Dengan demikian, menurut Daoisme keberuntungan atau kemalangan yang dialami umat manusia sesungguhnya berasal dari umat manusia itu sendiri. Bila umat manusia berbuat jahat, maka kemalangan akan menimpanya; sebaliknya bila melakukan kebajikan, maka ia juga akan menuai keberuntungan. Selanjutnya disebutkan:

Karenanya, Langit dan Bumi menetapkan para dewa (神 Shen = dewa) untuk menangani kesalahan-kesalahan yang dilakukan umat manusia. Berdasarkan berat ringannya pelanggaran yang dilakukan, barulah ditetapkan perhitungannya. Jika timbangan [kebajikannya] dikurangi, maka ia akan menjadi miskin, pemboros, banyak diliputi kesedihan, dibenci banyak orang, malapetaka akan mengikuti di belakangannya, dan keberuntungan menjauhinya. Bintang-bintang kemalangan (惡星 exing; secara harafiah berarti "bintang jahat") hingga habis takaran [usianya] dan orang itu menjumpai ajalnya.

Selanjutnya disebutkan apa saja yang seharusnya dan tidak seharusnya oleh umat manusia. Makna Shen di atas, menurut hemat saya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai dewa dalam artian suatu sosok makhluk adikodrati, melainkan sebagai simbol kekuatan atau hukum alam. Jika umat manusia melakukan kejahatan, maka seolah-olah alam yang akan menjatuhkan "ganjarannya." Sebagai contoh adalah penebangan hutan yang berlebihan dan dilandasi keserakahan. Konsekuensinya adalah bencana banjir dan tanah longsor yang marak melanda tanah air kita belakangan ini. Pada bab IV diajarkan bahwa umat manusia hendaknya menjalani kebenaran dan menghindarkan diri dari kejahatan:


Jangan sekali-sekali menapaki jalan yang menyimpang
.....
Kasihanilah mereka yang dilanda kesusahan
Ikut bergembiralah bila orang lain berada dalam keadaan baik
Ulurkan bantuan pada mereka yang memerlukannya
....
Jangan menyiarkan keburukan orang lain
Jangan mengagungkan kebaikan yang telah dilakukan diri sendiri
....
Dalam memperoleh hinaan hendaknya tidak mengeluh

Dengan demikian, intisari bagian ini mengajarkan umat manusia untuk senantiasa mengembangkan cinta kasih pada semua makhluk, memiliki empati terhadap sesama, dan mengembangkan kesabaran. Selain itu diajarkan pula untuk menjaga hubungan yang baik dalam keluarga.
Bab V mengajarkan bahwa agar dapat menjadi dewa yang bertingkat tinggi, seseorang hendaknya melakukan 1.300 jenis pahala. Sedangkan bila ingin menjadi dewa tingkat rendah, maka cukup baginya untuk melakukan 300 jenis pahala.
Bab VI mengajarkan mengenai berbagai jenis kejahatan yang hendaknya tidak dilakukan umat manusia:

Tidak segan melakukan segala kekejaman
Dengan cara licik menyusahkan orang baik
....
Berkeras kepala dan dengan sewenang-wenang melakukan tindakan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan
....
Memanahi burung-burung yang sedang berterbangan serta menghalau binatang yang sedang berlari.
....
Menyumbat lubang jalannya binatang-binatang dan meruntuhkan sarang mereka.
....
Membahayakan orang lain demi kepentingan sendiri.
Menukar yang buruk dengan yang baik.
.....
Menyebarkan rahasia orang lain.
....
Dengan sesuka hati membuang-buang hasil palawija
....


Demikianlah beberapa contoh kejahatan yang hendaknya tidak dilakukan umat manusia. Intisarinya adalah kejujuran dan perikemanusiaan. Bahkan cinta kasih itu tidak hanya berlaku bagi umat manusia saja melainkan semua makhluk. Oleh karena itu, Daoisme telah mengajarkan pelestarian lingkungan hidup, karena punahnya suatu spesies makhluk hidup akan mengganggu keseimbangan ekosistem secara makro. Mengingat pentingnya kitab ini, umat Daois hendaknya senantiasa membaca dan merenungkannya. Bahkan ajarannya yang universal tidak hanya bermanfaat bagi umat Daois saja, melainkan seluruh umat manusia.

(Ivan Taniputera, 29 Januari 2008)

Budaya-Tionghoa.Net|Facebook Budaya Tionghoa

 


Last modified onTuesday, 13 November 2012 10:37
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1157-taishangganyingpian-%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD-%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD-%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD-%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD-%EF%BF%BD%EF%BF%BD%EF%BF%BD--suatu-panduan-moralitas-daois

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto