A+ A A-

Li Bai dan Du Fu

  • Written by  Zhou Fuyuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net|  Banyak orang yang mengungkap persahabatan mendalam antara Li Bai dan Du Fu, mereka terutama memaparkan bukti persahabatan  ini melalui puisi2 yang banyak dihasilkan oleh Du Fu, yang ditujukan kepada Li Bai, seperti puisi terkenal dibawah ini:

Artikel Terkait :

{module [201]}

MEMIMPIKAN  LI  BAI
Du Fu ( 712-770 ; Tang)

Awan mengambang jalan sepanjang hari,

sang kelana tak kunjung menapakkan kaki.
Tiga malam beruntun kau di dalam mimpi,
sungguh kau perlihatkan kehangatan hati.

Betapa bergesa engkau berpamit pulang,

jalanan sengsara datang pun tak gampang.
Sungai telaga dipenuhi badai gelombang,
jangan sampai terjatuh dari atas sampan.

Keluar dari pintu menggaruk uban kepala,

seperti mengingkari semangat nan semula.
Mahkota jabatan telah memenuhi ibu kota
hanyalah kau seorang yang begitu terlunta.

Siapa yang bilang sang langit maha adil?

malah terus mendera tubuh yang menua!
Ribuan tahun nama mu senantiasa abadi,
semua terjadi sesudah kematian nan sepi.


Tapi, orang sering lupa, pernahkah membaca puisi balasan dari Li Bai yang di tujukan kepada Du Fu? hanya ada satu dua, isinya juga tidaklah memadai !!! sangat jauh dibandingkan puisi Li Bai kepada sahabatnya yang lain, seperi Meng Haoran dan Wang Changling. Rupanya,  persahabatan antara dua orang ini hanyalah sepihak, Du Fu bertepuk sebelah tangan! Mungkin Li Bai yang lebih tua menganggap enteng anak muda!


Memang, nasib kedua orang ini sangat bertolak belakang. Li Bai sudah sangat terkenal pada masa dia hidup; sedangkan Du Fu yang lebih muda, tidak mendapat penghargaan yang pantas selagi dia hidup. Buku kumpulan puisi yang terbit pada masa itu sedikit yang memasukkan karyanya. Sebagai penyair yang sangat produktif, Du pasti sangat mengharapkan penghargaan dari sesama penyair, terutama dari Li Bai yang sangat dia hormati, tapi.... dalam puisinya Li Bai banyak melontarkan pujian kpd penyair lain, tidak satu pun yang ditujukan kepadanya. Sungguh malang nasibnya Du Fu, dia bagaikan pelukis Van Gogh, yang baru dihargai setelah dia meninggal, itu pun lama setelah zaman memasuki dinasti Song. Ada yang berpendapat, terpinggirnya Du Fu mungkin karena kedudukan sosialnya yang rendah, sehingga dipandang sebelah mata dalam pergaulan sesama penyair. Memang, penyair ini tak pernah lepas dari penderitaan, matinyapun dalam kemiskinan.


Pengaruh kepenyairan Li Bai dan Du Fu kepada generasi penyair sesudahnya sangat berbeda. Memang, semua orang hormat dan kagum kepada kehebatan Li Bai, empu aliran Romantik yang juga disebut Dewa Penyair ini. Tapi, tak ada yang sanggup meniru atau belajar dari teknik berpuisinya, karena semua karyanya seperti tak memiliki pola, semuanya nampak sepontan tak terikat aturan. Sangat beralinan dengan Du Fu, empu aliran Realisme Sosial yang sering disebut Nabi Penyair. Puisinya sanggup menjadi teladan bagi generasi penerus, menjadi contoh yang dapat dipelajari pola2nya, sekaligus tekniknya. Dilihat dari segi ini, sesungguhnya pengaruh Du Fu lebih nyata dan luas bagi dunia puisi klasik dibandingkan Li Bai.


Jika Li Bai banyak mengolah Sanjak Bentuk Lama yang strukturnya lebih bebas, Du Fu lebih menekuni Sanjak Bentuk Baru yang strukturnya lebih ketat. dari tiga puisi di bawah ini, kita dapat membandingkan warna dua penyair ini, yang satu me-layang2 layang di langit, yang satu mengakar kuat di bumi.



SULITNYA  JALANAN  BUMI  SHU

Li Bai ( 701-762 ; Tang )


Oh astaga, alangkah bahaya sungguh menjulang!

Sulitnya jalanan Bumi Shu, sesulit mendaki langit biru!

Raja Yufu Raja Cancong,

mendirikan negeri yang susah dijamah!
Setelah lewat empat puluh delapan ribu tahun,
dengan perbatasan Negeri Qin baru terhubung.

Di barat di Bukit Ki Putih ada jalanan burung,
melintang membelah berakhir di Puncak Emei.
Bumi rubuh bukit runtuh satria perkasa gugur,
tangga langit setapak batu baru mungkin bersambung.

Enam naga Dewa Surya di atas berbalik menemui ketinggian,

ombak di bawah menerjang patah membentur memutar aliran.
Bangau kuning tak sanggup terbang melintas,
lutung dan kera hendak lewat susah memanjat.
Betapa berlikunya Bukit Tanah Hijau,
dalam seratus langkah sembilan kali berbelok mengitari puncak.
Menggapai bintang menyentuh galaxy tengadah menahan nafas,
tapak tangan mengurut dada mengeluh panjang terduduk lemas.

Bilakah anda mengakhiri perjalanan ke barat?

jalanan terjal tebing curam tak dapat dipanjat!
Sempat melihat burung nan duka memekik pada pohon rentan,
yang jantan mengikuti si betina berputar-putar di tengah hutan.
Kembali menangkap burung kukuk melolong,
rembulan malam meratapi gunung yang kosong.
Sulitnya jalanan di Bumi Shu, sesulit mendaki langit biru!
yang mendengar pun wajah segar berubah kuyu.

Rangkaian bukit tak lebih sejengkal berjarak ke langit,

di ujung tebing pinus lapuk terbalik bergantung mengkait.
Air terjun mengucur deras melayang berisik berebut ribut,
jurang nan beku menggulung batu ribuan tebing gemuruh.
Betapa mengerikan segala ini,
oh yang jauh berjalan untuk apa engkau datang berkunjung?

Bukit Pedang megah perkasa menjulang,

satu manusia berjaga di gerbang,
ribuan orang tak dapat menerjang!
Bila si penjaga berpaling kepada gerombolan,
berbalik menjadi srigala dan macan kumbang.

Pagi hari hindarilah harimau garang,

senja hari hindarilah ular panjang,
yang mengasah taring siap menghisap darah,
yang memangsa insan bak melumat gelagah.
Kota Brokat meskipun menyenangkan,
lebih baik bergegaslah pulang ke rumah.

Sulitnya jalanan Bumi Shu, sesulit mendaki langit biru!

menoleh ke arah barat senantiasa mendesah!



MALAM  DI  KOTA GE

Du Fu ( 712-770 ; Tang )

Di ujung tahun sinar senja memacu waktu yang singkat,

di tepi langit salju berhenti cahaya menggigilkan malam.
Pukul lima bunyi tambur suara terompet duka menyayat,
di Tiga Ngarai bayangan sungai galaxy gerak bergoyang.


Belantara menagis ribuan rumah menangkap hara perang,

di mana-mana lagu daerah dilantunkan nelayan penebang.
Menteri bijak satria perkasa semuanya berakhir jadi tanah,
surat sahabat berita saudara semua senyap berkepanjangan


UNTUK  HUAQING

Du Fu (712-770;Tang)

Hari hari di Kota Brokat seruling dawai bertebaran,

setengah masuk ke angin setengah masuk ke awan.
Lagu ini seharusnya hanya boleh ada di khayangan,
di bumi manusia berapa kali boleh ikut mendengar?

ZHOU FUYUAN 3228

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Last modified onTuesday, 13 November 2012 09:50
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1167-li-bai-dan-du-fu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto