A+ A A-

Empat Nasehat Liao Fan [18] - Introspeksi Diri Daripada Berkeluh Kesah Menyalahi Orang Lain

  • Written by  Hengki Suryadi
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Cerita nyata lain adalah keluarga Lin di Fukien. Diantara leluhurnya ada seorang ibu tua yang sangat suka berdana. Setiap hari dia membuat onde beras untuk diberikan kepada fakir miskin dan selalu memberi berapapun yang diminta.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Ada seorang Bhiksu Tao setiap hari dan berturut-turut selama tiga tahun setiap kali meminta 6 atau 7 buah onde. Ibu tersebut selalu memenuhi permintaannya dan tidak pernah menunjukkan ketidaksenangan. Bhiksu Tao tersebut, sebenarnya adalah jelmaan seorang Dewa untuk menguji ketulusan dan kebaikan ibu tersebut, menyadari bahwa ibu tersebut benar-benar tulus dan baik lalu berkata : "Saya telah makan onde buatan ibu selama 3 tahun dan saya tidak dapat membalas kebaikan ibu. Mungkin saya dapat membantu anda dengan cara ini " Tanah di belakang rumah ibu, adalah tempat yang sangat baik untuk membangun kuburan leluhur. Bila anda dimakamkan di sana kelak, maka jumlah keturunan anda yang bergelar di pemerintah adalah sebanyak 1 pon biji wijen".

Ketika ibu tua tersebut meninggal, keluarga Lin mengikuti nasehat Bhiksu Tao
tersebut dengan menguburkannya di tempat yang ditunjuk. Generasi pertama ibu tersebut, 9 orang lulus ujian negera dan berlanjut terus sampai generasi berikutnya.

Contoh nyata lain adalah ayah dari seorang sejarahwan pemerintah yang
bernama Chi Feng. Suatu hari di musim dingin, ayah Chi Feng dalam perjalanan menuju sekolah, ia menjumpai seorang yang telah membeku kedinginan tetapi masih bernafas, dia segera membuka mantelnya dan membalut badan orang tersebut lalu membawanya pulang dan menyelamatkannya. Malam itu dia bermimpi bahwa seorang Dewa berkata kepadanya :"Anda telah menolong seorang yang hampir meninggal dengan ketulusan yang dalam, ini adalah sebuah kebajikan yang sangat besar. Saya akan mengutus Jenderal Han Chi yang terkenal dari kerajaan Sung untuk dilahirkan sebagai anak anda". Anak tersebut lahir dan diberi nama Chi.

Contoh nyata lain adalah Ta Jo Ying, seorang sekretaris pemerintah yang
tinggal di Taichou. Ketika dia masih muda, dia selalu tinggal di sebuah gunung yang jauh. Malam hari, dia selalu mampu mendengar dan mengerti suara-suara hantu dan makhluk halus tetapi dia tidak pernah merasa takut. Suatu hari dia mendengar satu hantu berkata dengan gembiranya kepada hantu yang lain : "Ha, ha, ha,..., ada seorang wanita kampung yang suaminya telah lama meninggalkan rumah dan tidak kembali. Mertuanya berpikir anak mereka telah meninggal dan memaksanya untuk menikah lagi. Besok malam, dia akan membunuh diri dan akan menggantikan saya, lalu saya dapat reinkarnasi/lahir kembali, ha, ha, ha,..."

Roh dari orang yang membunuh diri harus menunggu orang yang juga membunuh
diri di tempat yang sama, agar dapat meninggalkan alam hantu tersebut dan dapat lahir kembali ke alam yang lebih baik/tinggi.

Tuan Ying mendengar ini, segera pulang menjual tanah dan rumahnya, mendapat
4 lian uang perak, dia menulis sepucuk surat atas nama suami wanita kampung tersebut dan dikirim beserta 4 lian uang perak ke rumah wanita tersebut. Mertua wanita itu mendapati bahwa surat itu bukan tulisan anaknya dan menyelidiki uang perak lalu berkata : "Surat mungkin palsu, tetapi perak ini adalah benar. Siapa yang akan mengirim begitu banyak uang? Mungkin anak kita masih hidup, kita tidak boleh memaksa menantu kita menikah lagi".

Karena itu, wanita tersebut tidak jadi membunuh diri dan pada akhirnya
suaminya kembali ke rumah. Tuan Ying mendengar hantu berbicara lagi "Hah! Sebenarnya saya dapat reinkarnasi lagi, tetapi Tuan Ying telah menghancurkan kesempatan saya!" Hantu yang kedua berkata : "Mengapa tidak anda celakai dia saja?" Hantu pertama menjawab : "Tidak, saya tidak boleh. Karena Yang Kuasa mengetahui kebajikannya dan telah menunjuknya menjabat posisi penting di alam kita kelak, bagaimana saya berani mencelakainya"

Setelah Tuan Ying mendengar ini, dia menjadi lebih rajin mempraktekkan
kebaikan dan mengumpulkan kebajikan. Suatu saat terjadi kelaparan, dia membeli makanan untuk yang miskin dan yang memerlukan, selalu bersemangat membantu orang yang mengalami kesulitan darurat. Bila sesuatu berjalan tidak lancar, dia selalu introspeksi diri daripada berkeluh kesah menyalahi orang lain, bahkan sampai hari ini, keturunannya masih tetap makmur

Hengki Suryadi

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1173-empat-nasehat-liao-fan-18-introspeksi-diri-daripada-berkeluh-kesah-menyalahi-orang-lain

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto