A+ A A-

Song Zuying 宋祖英 : Nyanyian Seorang Prajurit

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 

 

Budaya-Tionghoa.Net| Song Zuying 宋祖英 lahir di tahun 1966 di sebuah keluarga petani miskin di desa Yantouzhai , Provinsi Hunan . Keluarganya merupakan bagian dari masyarakat Miao , sebuah grup etnis di Tiongkok.

Ayahnya sering terbujur sakit di atas ranjang sehingga ibunya menanggung beban berat keluarga bahkan untuk sekedar membayar uang sekolah bagi Song kecil. Seorang dermawan baik hati meminjamkan 5 Yuan , sehingga Song dapat melanjutkan sekolah. Ibunya mengembalikan uang tersebut dengan memotong dan menjual kayu bakar.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Kerabat dan teman keluarga Song membujuk ibunya untuk tidak menyekolahkan Song agar dapat membantu keluarganya mencari uang. Song sendiri anak tertua , dan memiliki dua adik ,  adik lelakinya yang tuna rungu dan satu lagi adik perempuan. Tetapi ibunya bersikeras mempertahankan Song untuk tetap sekolah dan percaya bahwa sekolah adalah satu-satunya kesempatan bagi anaknya untuk masa depan yang lebih cerah.

Song tidak hanya mewarisi suara indah dari ibunya , dia juga mempelajari nyanyian gunung dari ibunya. Ibu Song mendorong anaknya sehingga pada usia 15 tahun , Song masuk kedalam kelompok pertunjukan di Kabupaten Guzhang dimana dia beraksi selama tiga tahun.

Pada saat menempuh pendidikan menengah atas , Song Zuying harus mendaki sebuah bukit untuk mencapai sekolahnya di desa Yantouzhai , Provinsi Hunan . Setiap pagi , saat mencapai puncak bukit , Song akan menyanyi dengan suara nyaring. Song menyukai gema yang terpantul dari lembah yang sunyi. Terkadang Song menangis , dan satu suara menjawabnya dari seberang bukit. Song menyanyi dan suara diseberang bukit pun mengikutinya.

 

Dengan suara dan nyanyiannya , Song dapat berkomunikasi dengan orang yang tidak pernah dia jumpai. Dari desa terpencil dan masyarakat pinggiran ini Song mulai melangkah menemukan dunia yang luas. Dimulai dengan sebuah kelompok lokal di Hunan untuk meraih pencapaian dunia dan prestise dari Vienna hingga Opera Sydney

 

 

[Foto Ilustrasi : Song Zuying di usia muda]

Di usia 17 tahun , Song lulus audisi untuk masuk ke  sebuah kelompok musik dan tari di Xiangzi Miao Autonomous Prefecture , Provinsi Hunan. Dua tahun kemudian , Song masuk Departemen Musik dan Tari dari Central University of Nationalities di Beijing. Song menjadi gadis pertama dari desanya untuk berada di Beijing. Setelah lulus ditahun 1987 , pada usia 23 tahun , Song kembali ke kelompok Lagu dan Tari sebagai solois. Song memperhatikan bahwa penonton lokal tidak terlalu berminat pada lagu rakyat karena wabah lagu pop yang mulai mendapat tempat di Tiongkok. Sehingga Song memutuskan untuk kembali ke Beijing dan mendaftar ke sebuah ajang menyanyi nasional dimana Song mengalami kegagalan.

Titik balik karirnya sebagai penyanyi terjadi pada tahun 1998 ketika dia berpartisipasi dalam sebuah kontes televisi bagi penyanyi muda di Provinsi Hunan. Kali ini Song berhasil memenangkan kontes dan juga bertemu Luo Hao yang akan menjadi suaminya. Luo Hao adalah seorang composer dan produser kontes tersebut . Luo terkesan dengan suara Song dan bakat menyanyinya. Dan kemudian memperkenalkan Song kepada Jin Tielin , presiden China Conservatory of Music yang juga menjadi juri dalam kompetisi tersebut. Jin juga mengagumi bakat Song dan kemudian mengajak Song untuk menempuh program master-nya.

Song mulai tampil kedepan saat menyanyikan “The Little Pannier” di sebuah variety show di CCTV pada tahun 1990. Direktur Huang Yihe kemudian menempatkan Song untuk pertunjukan Spring Festival Eve. Sejak saat itu karir Song berkembang pesat dan menjadi soprano paling populer di Tiongkok. Lagu “trade mark”-nya antara lain “Happy Life” , “A Song Flying Out of Miao Mountain” , “Spicy Girl” dan “Love My China”.

Di tahun 1996 , Song mengadakan tour ke Australia. Terbersit keinginan untuk menyanyikan lagu rakyat di tempat-tempat terkenal dunia. Song merasa terpanggil untuk mempromosikan lagu-lagu Tionghua keseluruh dunia sebagai bagian pengabdiannya kepada negara dan rakyat.

Song mulai mendapat pengakuan internasional. Album CD “The Diva Goes To The Movies : A Centennial Celebration of Chinese Film Song “ menerima nominasi Grammy untuk album klasik terbaik.

Song menjadi satu-satunya soprano Tionghua yang tampil di Sydney Opera yang bergengsi pada tahun 2002 , Vienna Musikverein Golden Concert Hall ditahun  2003 dan John F Kennedy Center di tahun 2006. Ditempat pertunjukan bergengsi ini Song berkolaborasi dengan orkestra asing.

Dibulan Mei 2007 , Song berkontribusi dalam pertukaran budaya antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Dalam event ini , audiens Amerika menikmati performance memukau. Michael M Kaiser berkomentar bahwa suara Song membuatnya menjadi duta internasional teratas bagi musik rakyat Tionghua.

Selain menjadi penyanyi kelas dunia , Song juga seorang prajurit PLA-Navy dimana dia bergabung dalam kelompok Musik dan Tari dalam PLA-Navy ditahun 1991. Dibulan Mei , Song dipercaya komandannya untuk dipromosikan menjadi wakil presiden kelompok tersebut.

Kesuksesan yang dicapainya tidak memudarkan ingatan Song akan kehidupan sulitnya dikampung halaman. Song juga teringat bagaimana seorang dermawan baik hati dan lima yuan yang merubah hidupnya. Sebuah bantuan “kecil” yang jika tanpanya , Song mungkin akan tetap menjadi wanita biasa di desa. Karena itu sejak tahun 1995 , Song mendonasikan buku , komputer , televise , piano dan fasilitas belajar di Sekolah Dasar Yantouzhai. Ditahun 2004 , Song membidani Song Zuying Education Fund dan telah menggelontorkan dana pendidikan sejumlah 1.7 juta yuan di provinsi Hunan.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

 

Referensi :

 

 Chen Jie , “ A Song For Our Soldiers” , China Daily , 1 Agustus 2007

 

Last modified onWednesday, 14 November 2012 03:45
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1186-song-zuying-%E5%AE%8B%E7%A5%96%E8%8B%B1--nyanyian-seorang-prajurit

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto