A+ A A-

Faktor "Fabi" Dalam Sino-Japanese War II & Perang Saudara

  • Written by  Huang Dada
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net|Di tahun 1935 , Pemerintahan Guomindang [GMD] melancarkan reformasi mata uang. Bulan November , "fabi", mata uang kertas  diluncurkan oleh bank pemerintah untuk menggantikan koin silver. Usaha untuk membujuk rakyat untuk beralih dari koin logam ke mata uang kertas bukanlah hal yang mudah.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Walau demikian reformasi itu cukup sukses . Supply uang terjaga dan deflasi masih dalam kontrol disusul panen berlimpah di tahun 1936 dimana output pertanian Tiongkok pada saat itu melonjak 45% dan output industri meningkat 11%.

Disisi lain , reformasi juga merupakan langkah beresiko. Jepang yang gagal untuk meraih keuntungan dari mata uang baru yang diluncurkan GMD , menentang reformasi dan melancarkan perang mata uang dengan membeli fabi dan menukarnya dengan mata uang asing. Jepang berusaha untuk membuat lelah pemerintah GMD. Rencana Jepang ini akan berhasil jika Inggris dan Amerika Serikat tidak memberi pinjaman masif untuk menstabilkan mata uang fabi.

Beberapa sejarahwan mengkaitkan pecahnya perang Sino-Japanese War II dengan reformasi tersebut. Faksi "hawkish" di Jepang menggunakan dalih ancaman ABC [Amerika Serikat , British dan China] untuk mengambil kebijakan agresif. Jepang memandang bahwa Tiongkok harus dihantam sebelum makin bertambah kuat dan meletuslah perang antara Jepang dan Tiongkok.

Pada saat Jepang menyerah di tahun 1945 , disetiap kawasan di Tiongkok dilanda oleh kejatuhan ekonomi. Aktivitas perdagangan berhenti , pabrik-pabrik tutup , bisnis asing di Tiongkok berhenti berfungsi dan hanya beberapa perusahaan Jerman , Italia dan Perancis yang terus beroperasi.

Tiongkok adalah  negara yang menderita kerugian paling besar dalam Perang Dunia II , bahkan dibandingkan dengan Uni Soviet yang sempat porak poranda menghadapi serangan Jerman sebelum berhasil melakukan serangan balik dan mengakhiri perang. Sino-Japanese War II lebih awal dua tahun dari serangan Jerman ke Polandia yang menandai awal Perang Dunia II.

Berakhirnya perang ditandai hiper-inflasi di setiap kota di Tiongkok ,  yang disebabkan pencetakan uang yang berlebihan baik dari pihak GMD maupun pemerintah pendudukan Jepang sebelumnya . Konflik baru antara dua kontestan , GMD dan GCD , siap menanti dan rakyat Tiongkok sudah teramat lelah dan putus asa.

Tahun
Indeks jumlah FABI dalam sirkulasi
Daya Purchasing Per 1 FABI
1937
1
1
1940
4.2
0.197
1941
7.5
0.078
1942
14.3
0.025
1943
32.1
0.007
1944
72.3
0.002

 Di awal Perang Saudara meletus , GMD lebih unggul dengan kekuatan 4.3 juta personil dibanding GCD dengan kekuatan 1.2 juta personil. Ketidakdisiplinan ditambah bobroknya pemerintahan GMD berimbas pada ambruknya perekonomian. Jendral Marshall mengingatkan Chiang bahwa kejatuhan ekonomi akan membuat GCD meraih kemenangan. Di bulan Oktober 1946 ,  Jendral Marshall juga mengingatkan Jiang untuk menghentikan perang atau dia akan meninggalkan Tiongkok. Harga-harga di Shanghai meningkat lima kali di bulan Februari 1946, 11 kali di bulan Mei , 30 kali di bulan Februari 1947. Perang terus berkecamuk

Di bulan Juli 1948 , Chiang Kai-sek bertemu dengan TV Soong dan para penasihat seniornya untuk mendiskusikan permasalahan ini. Keputusan yang diambil adalah mengganti mata uang baru dan meninggalkan mata uang fabi yuan yang lama dengan konversi 3 juta fabi yuan terhadap 1 yuan baru. Beberapa penasehat GMD memperingatkan bahwa  mata uang baru akan menghadapi kegagalan kecuali pemerintah GMD secara drastis mereduksi pengeluaran yang sebagian besar merupakan pengeluaran militer.

Penilaian Marshall benar adanya , dalam perkembangan perang , GCD terus bertambah kuat dan GMD sebaliknya. Di akhir perang , kekuatan GCD berjumlah 4 juta personil dibandingkan GMD yang berjumlah 1.49 juta personil. Bukan maksud tulisan yang singkat ini untuk mengupas jalannya perang yang kompleks. Komunis menang dan Republik Rakyat Tiongkok berdiri pada tahun 1949 , sementara Nasionalis mengungsi ke Taiwan sebagai satu akhir kisah yang tragis jika melihat kekuatan mereka di awal perang.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

REFERENSI :

Diana Lary , "China's Republic" , University of British Columbia , Cambridge University Press , 2006

[Tabel] Wu Chi-yuen , "Currency , Exchange and Prices in Wartime China" , Chongqing : China Institute of Pasific Relations , 1945

Sanderson Beck , " China At War 1937-1949" , 2007

PHOTO CREDIT :
1 yuan dan 10 yuan fabi note , http://www.chinadaily.com.cn

 

 


Last modified onFriday, 16 November 2012 05:21
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1207-faktor-fabi-dalam-sino-japanese-war-ii--perang-saudara

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto