A+ A A-

Upacara Perpisahan Dengan Rokh

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Saya sedikit bingung bagaimana cara menyuruh pergi bau-bauan wangi dan bau badan serta seakan-akan ada bunyi dengusan nafas sekitar saya. Perkara ini sudah saya ceritakan di milis ini. Saya cari akal dan mengingat apa daya saya buat berpisah atau menyuruh dengan halus dan sopan rokh yang ada di sekitar saya. Rasanya saya perlu bertanya dan bahkan minta bantuan anak saya, yang ketika itu masih mendalami ilmu ke-paranormal-an bersama teman seniornya, si Rik. Nit lalu mengingatkan saya ketika saya dimintanya membuat upacara syukuran karena almarhum mamanya sudah "dinaikkan" ke atas oleh mereka berdua.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Barulah saya ingat. Ketika itu saya pasang foto mamanya - istri saya - dan beberapa peninggalan yang masih ada pada saya, yang kami bawa dari Beijing -
Tiongkok. Lalu saya berlutut dan memanjatkan doa kepada Tuhan, rasa terimakasih kami sekeluraga. Saya ketika itu secara khusuk dan berkonsentrasi tinggi sangat mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketika saya ingat, mengapa semua ini bisa terjadi? Yang menjadi titikpusat "perkara" adalah antara Nit dan mamanya. Nit sangat ingin bertemu mamanya. Dan menurut jalannya rokh mereka, kehendak Nit itu diperkenankan Tuhan. Dan katanya mamanya itu masih di dunia ini. Belum bisa naik ke sorga. Saya jadi penasaran. Apa sebabnya? Saya tahu benar, bahwa mamanya tidak punya musuh. Mamanya adalah orang baik, dan sangat disayangi oleh keluarga dan teman-temannya. Lalu apa dosanya maka sampai puluhan tahun masih tetap di dunia mayapada ini. Saya cari sebab-sebanya. Tetap tidak bertemu. Lalu saya tanyakan kepada Nit, apa dosa mamanya sampai begitu serius - yang selama hidup kami sekeluarga, rasanya dia tidak ada perbuatan yang begitu berdosa.

Saya barulah teringat semua rekaman kehidupan kami sekeluarga. Dan Nit
menceritakan semua yang saya mau tahu - yang saya samasekali tidak menyangka bahwa Nit akan tahu semua itu. Katanya yang paling pokok, karena mamanya menggugurkan dulu itu. Pengguguran yang sudah sangat terlambat adalah suatu pembunuhan. Pernah mamanya mengatakan kepada saya, bagaimana kalau dia menggugurkan. Saya katakan kalau dari segi saya, tidak setuju kandungan ini digugurkan. Tetapi dia sangat berkeras karena mau mengikuti semua kegiatan kehidupan kami di pedesaan yang kami tahu kehidupan itu akan berat - bahkan bisa sangat berat. Seperti bertani - beternak - latihan fisik - belajar teori dan banyak lagi kegiatan lainnya. Dan kandungan itu akan banyak menghalangi kegiatan yang ada. Dari situlah dia ingin menggugurkan. Dan digugurkan.

Sebelum kami pindah ke pedesaan - Desa 7 Mei - Gunung Kepala Ayam di
Jiangxi, dari ibukota Beijing, banyak teman kami - teman sekerja saya yang
sudah tahu bahwa mamanya Nit dalam keadaan hamil. Dan kami pergi meninggalkan Beijing pada tahun 1966. Lalu kembali lagi ke Beijing pada tahun 1979. Ketika itu banyak teman-teman kami menanyakan mana adiknya Nit? Yang dulu masih dalam kandungan mamanya? Nit heran akan pertanyaan itu.
Kalau begitu dia merasa sebenarnya dia punya adik, dan belakangan dia-pun tahu sebenarnya adiknya itu adalah laki-laki! Karena banyak pertanyaan
teman-teman kami sama nadanya, dan mengherankan Nit, lalu saya katakan pada mamanya, agar ceritakan semuanya pada Nit. Ketika dulu peristiwa itu Nit
baru berusia dua tahun lebih sedikit. Dan mamanya menceritakan semua kejadian. Dan Nit dengan rasa sedih, menangis mengenang yang sebenarnya akan
ada adiknya ketika itu. Tapi harapan demikian pupus sudah.

Dalam mengenang semua inilah, baru timbul pikiran saya, bahwa sayapun akan
berlaku seperti upacara perpisahan dengan mamanya Nit dulu, dengan rokh
Eliane dari Wellington ini. Dan saya akan terlebih sopan - halus dan berbaik-baik agar rokh Eliane naik ke atas dan diterima Tuhan. Itulah sebabnya saya pasang foto Eliane dan dengan beberapa barang peninggalannya ketika dia tinggal bersama saya di Paris. Dan serangkaian karangan bunga.
Lalu saya berlutut - memanjatkan doa dan dengan konsentrasi tinggi mengharapkan agar Tuhan memperkenankan doa saya. Dan malam itu benar-benar bau wangi parfum magnolia - bau badan dan dengusan nafas rokh Eliane, hilang sudah. Dan sekali lagi saya sangat beterimakasih kepada Tuhan yang memperkenankan harapan saya,-

--------------------------------------------------------------------------------


Holland,- 28 mei 04,-


catatan : maafkan karena beberapa hari ini komputer-internet saya
rusak berat karena virus, lalu saya nganggur dari kerja menulis,- Semoga selanjutnya akan lancar - mulus,-

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1223-upacara-perpisahan-dengan-rokh

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto