A+ A A-

Arsip : Cuplikan Buku Peringatan Reuni Hoa Lien ke-57

  • Written by  Wu Guo Xin via Jamal Senjaya
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

PRAKATA

Kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, sekejab mata setengah abad telah berlalu, tinggallah kita menikmata sisa-sisa kehidupan ini. Hal yang sangat mengembirakan adalah, pemunculan sebuah negara yang bernama Tiongkok (China), penggunaan bahasa Tionghua dan perkembangan budaya Tiopnghua di dunia semakin meningkat. Animo untuk mempelajari bahasa Tionghua dan menggunakannya, baik oleh keturunan Tionghua maupun bukan keturunan Tionghua, di dalam negri Tiongkok sendiri ataupun diluar negri berkembang sangat pesat, yang mana menjadikan bahasa Tionghua sebagai bahasa komunikasi di dunia dan bahasa bisnis internasional pada abad modern ini. Saat ini semakin banyak orang berminat sekali belajar menguasai dan menggunakan bahasa Tionghua dalam kehidupan sehari-hari.

 

Artikel Terkait :

{module [201]}

Menghadapi kenyataan demikian, terkenanglah dengan sekolah Tionghua Hoa Lien yang berkembang pesat pada waktu 40 tahun yang lalu. Mengenang masa-masa yang bersejarah itu, banyak peristiwa-pristiwa yang tidak akan dilupakan. Jasa-jasa para guru, berbagai karya bakti dari para pendahulu kita, semuanya diturunkan dan diamalkan sebagai pedoman oleh generasi muda berikutnya.

Berkat gagasan dan bimbingan para sesepuh kita : Mantan kepala sekolah Liao Si Lun, mantan guru Huang Wen Jing, Zhong Qing Lien dan lain-lain, dan berkat dukungan sepenuhnya dan pengaturan yang baik oleh rekan Chen Chun Hai, diadakan kegiatan pengumpulan data-data dokumentasi tentang sejarah sekolah Tionghua di Lampung, yang mana akan diterbitkan sebuah buku tentang sejarah singkat sekolah Hoa Lien Lampung. Alumnus Hongkong-pun dengan tak kenal lelah mengumpulkan bahan-bahan, foto-foto, dokumen-dokumne sampai ke Huang Wen Jing di Hu Bei. Adapula foto-foto lama, berkas-berkas dokumentasi dari guru Xiao Su Chen dan Li Jia Wei, serta beberapa foto-foto berharga yang disumbangkan oleh Liao Si Lun.

Di Indonesia beberapa mantan guru yang masih ada, turut serta berpartisipasi mengumpulkan bahan-bahan, foto-foto, catatan-catatan sejarah dan lain-lain, dibawah terik matahari menelusuri jalan-jalan setapak, gang-gang bermandikan keringat untuk mencari bahan sejarah sekolah terbitan tahun 1952. Akhirnya, dalam waktu yang sangat singkat, terkumpul jua foto-foto lama, catatan-catatan harian yang sudah kusam dan sobek-sobek yang masih dapat dibaca dan dilihat. Melalui proses yang panjang, dan kerja keras dari beberapa mantan guru, mantan murid, buku sejarah singkat sekolah Hoa Lien, segera akan dapat anda baca.

Melihat proses penerbitan buku sejarah singkat sekolah Hoa Lien ini, kita dapat merasakan dedikasi dan semangat Hoa Lien yang tinggi, yaitu bersatu dan berani berkorban demi kepentingan almamater dan persatuan persaudaraan alumnus Hoa Lien. Bersatu, berkorban, berjiwa ksatria, sosial, berbudi pekerti, ramah, bersikap adil dan lapang dada, itulah semangat orang-orang Hoa Lien, sebagai pusaka bagi generasi penerus kita. Para tokoh masyarakat dan pendidik di Lampung begitu antusias dan bersemangat mengembalikan kejayaan kebudayaan & bahasa Tionghua, pengorbanan serta sumbangsihnya kepada negara, patut kita hargai setinggi-tingginya. Pantas pula kita dan generasi muda mengenang selamanya.

Ditulis Oleh : Wu Guo Xin

Alih Bahasa : Herman.

***

LAHIRNYA SANG NAGA

Indonesia yang terlepas dari cengkraman rejim otoriter menuju alam demokrasi namun perjalannya yang masih sangat tersendat-sendat, meskipun demikian pemerintah telah memberi kebebasan kepada masyarakat Tionghua untuk berbahasa Tiong Hua

Ex-sekolah Hoa Lien adalah sebuah sekolah setingkat SMU yang didirikan pada tahun 1946 dan memiliki siswa +-2000 orang, sayangnya pada tahun 1966 aktivitas sekolah terpaksa dihentikan oleh kebijakan pemerintahan rezim otoriter pada waktu itu, sehingga dalam waktu sekejab saja hilanglah hiruk-pikuk yang biasa terdengar dari siswa disekolah. Sementara itu para siswa kebingungan bagai walet yang terbang  dari sangkar dan tercerai berai. Seiring dengan berlalunya waktu, hari demi hari dalam menentukan perjalanan kehidupan, teman-teman sekolah masih mau menyempatkan diri mengajak para siswa adik kelas untuk sekali-kali mengadakan pertemuan dilingkungan masing-masing sehingga dapat menumbuhkan rasa solidaritas yang dalam.

Dan diperbolehkannya kembali berbahasa Tionghua oleh pemerintah sekarang, maka secara serempak dikota-kota besar di Indonesia menyelenggarakan pendidikan bahasa Tionghua, memang bahasa Tionghua adalah bahasa tertinggi dan terindah namun dengan hilangnya bahasa tersebut selama satu generasi yang diakibatkan oleh tindakan rezim otoriter pada waktu itu maka tergugahlah hati nurani para alumnus Hoa Lien yang telah lama pudar. Dengan memanfaatkan momentum iklim berdemokrasi saat ini, maka sangatlah tepat untu melaksanakan pendidikan bahasa Tiong Hua, namun untuk melaksanakannya sangat dibutuhkan sumber daya manusia yang mapan sebagai tenaga pendidik serta didukung oleh finansial yang cukup, masyaraka Tionghua Lampung ada juga yang merespon, namun masih bersifat individu. Melihat keadaan tersebut, Sdr Chen Chun Hai merasa sudah waktunya untuk menggalang seluruh kekuatan Hoa Lien untuk bisa menyongsong segala tantangan historis ini, dengan mengajak saudara Qiu Jing Zong. mereka sepakat untuk membentuk Ikatan Alumni Hoa Lien Lampung.

Untuk pertama kalinya pada tanggal 31 Maret 2000 diadakan pertemuan para alumnus Hoa Lien di rumah Sdr Chen Chun Hai dengan jumlah peserta +-70 orang, 3 orang diantaranya berasal dari Hongkong. setelah itu ditindak lanjuti dengan 5 kali pertemuan serupa yang akhirnya pada tanggal 6 Mei 2002 dideklarasikan berdirinya ikatan Alumni Hoa Lien yang sekertariatnya untuk sementara beralamat di perkumpulan sosial Budhi Dharma Jl. Ikan Kakap Teluk Betung. ikatan Alumni Hoa Lien mengemban visi dan misi yang bertujuan untuk meningkatkan tali persaudaraan antara sesama alumnus, yang pada akhirnya dapat membangkitkan dukungan atas penyelenggaraan pendidikan bahasa Tiong Hua. Dengan tersebarnya berita tersebut di kalangan alumnus Hoa Lien Lampung memberikan dukungan positif, meskipun ada beberapa alumnus yang tadinya masih ragu namun pada akhirnya  mereka mengakui juga keberadaannya. Para alumnus Hoa Lien yang berdomisili di Hong Kong pun ikut mendukung bahkan mengusulkan diadakan reuni akbar di tahun 2003. para alumnus Hoa Lien Lampung merespon atas kehendak mereka maka ditentukanlah waktu penyelenggaraanya pada tanggal 19 April 2003 yang diadakan di kota Bandar Lampung, untuk keperluan itu maka dibentuklah panitia persiapan. Alumnus Hoa Lien Hong Kong dan Lampung masing-masing mempersipkan diri untuk menyumbangkan acara, saling bahu-membahu bertekad mensukseskan acara reuni ini.

Ikatan alumni Lampung secara demokrasi telah memilih dan mengangkat kepengurusan sementara sebagai berkut:

Ketua Kehormatan : Chen Chun Hai

Ketua umum : Shen rong Tai

Sek - Jen : Qiu Jing Zong

Ketua bidang terdiri :

1. Huang Zhen Hui

2. Li Wen Hao

3. Lin Zhen Guang

4. Lin Ren Ming

5. Lin Xin Qiang

Ketua seksi terdiri dari:

1. Zhang Mei Ji

2. Zhang Jin Kang

3. Deng Bao Quan

4. Huang Yuan Cong

5. Tang Hai Qing

6. Li Si Ji

7. Guo Fang Yao

Setelah terbentuk susunan pengurus, para anggota maupun pengurus yang hadir spontanitas mengumpulkan dana sumbangan sebagai kas.

Selanjutnya sesuai dengan visi Ikatan Pengurus menyelenggarakan aktivitas antara lain: Paduan Suara, Kelompok Karoke, Senam sehat Poco poco, Senam Tai Ji, dll. Namun pengurus menyadari bahwa perjalanan masih penuh dengan rintangan, segala sesuatu masih harus kerja keras, oleh karena itu dibutuhkan semagat kebersatuan hingga terciptalah team solid dengan demikian barulah dapat mengejar tertinggalnya bahasa Tionghua di Lampung yang seyongyanya kelak dapat dinikmati oleh masyarakat Lampung sendiri.

SAMBUTAN DALAM RANGKA ULANG TAHUN KE 57 SEKOLAH HOA LIEN, LAMPUNG, INDONESIA

1. Kondisi Sekolah Hoa Lien

Pada tahun 1958, sekitar bulan April, saya dengan sdr. Lin Qi Lu memutuskan menerima tawaran dari kepala sekolah Hoa Lien Lampung, sdr. Liao Si Lun, untuk mengajar disana pada semester kedua tahun itu. Saat itu kami sangat gembira sekali mendapat kehormatan tersebut, sebab pertama : Kepala sekolah Liao adalah kawan lama lami, teman seperjuangan ketika bersama-sama di sekolah menengah di Palembang dan Lombok. Sebab kedua : Tawaran  mengajar ini mendapat perlakuan khusus, yaitu meminta saya mengajar di SMA dengan mata pelajaran : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, tata buku, hitung dagang dan lain-lainnya. Selain itu mendapat tugas sebagai sekertaris bahasa asing, khususnya korespondensi dengan pihak pemerintah.

Bulan agustus 1958 kami tiba melapor ke sekolah, kami diatur tinggal diasrama guru. Kami diberi kesempatan meninjau ruang kelas dan ruang kantor guru, laboratorium biologi dan lainnya. Gerbang sekolah, ruang kantor guru, ruang kelas, asrama guru, dsb tidaklah mewah, tetapi kesan saya cukup layak dan menyenangkan.

Beberapa hari kemudian secara bertahap kami berkenalan dengan guru-guru termasuk para guru baru seperti kami, saling tukar pikiran, bercerita pengalaman masing-masing. Setelah itu barulah kami sadar bahwa guru-guru Hoa Lien, termasuk guru SD & SMP merupakan sebuah team yang cukup besar, dan yang terpenting adalah sebuah team yang solid, dapat bekerja sama saling mengisi guna meningkatkan mutu pendidikan yang baik. Mungkin hal seperti ini tidak kita jumpai disekolah-sekolah lain.

2. Situasi lingkungan hoa lien yang baik, guru dan murid yang nasionalis, hubungan yang harmonis antar guru dan murid.

Lampung saat itu adalah kota yang tidak begitu besar, tetapi tidak juga kecil, terletak di ujung Selatan pulau Sumatra. iklim cukup sejuk, hasil perkebunan yang melimpah. Sebelah Timurnya, melalui selat Sunda adalah pelabuhan Merak di pulau Jawa. Dari Merak ke arah Timur dengan berkendaraan kira-kira 4 jam adalah ibukota Indonesia, Jakarta. Letak geografis Lampung sangat strategis, lagipula dengan pemandangan yang sangat indah keadaan sosial ekonomi pun cukup menjanjikan.

Ketika itu di Lampung hanya ada sebuah gedung bioskop, sama sekali tidak terdapat arena hiburan lain misalnya; pusat permainan dan hiburan, karoke, night club, dll. Kondisi demikian sangat baik dan mendukung bagi para pelajar, pemuda/i, sebab sepulang sekolah mereka mempunyai banyak waktu belajar dan membaca buku-buku lainnya.

Kelas-kelas yang saya ajar, sebagian besar murid-muridnya rajin, berjiwa pantang menyerah. Hal yang menonjol disekolah yaitu ; guru sayang murid dan murid menghormati guru. Hubungan antara guru - murid sangat harmonis. Sifat-sifat murid putra putri Lampung yang patut dipuji adalah ; mematuhi peraturan, kompak dan bertanggung jawab. Pekerjaan-pekerjaan rutin disekolah, tugas-tugas yang sudah terjadwal, menghapus papan tulis, menyapu dll. Pelajaran extra-kulikuler, pertandingan-pertandingan olahraga ataupun perlombaan antar kelas, semuanya direncanakan dan dilaksanakan atas inisiatif murid-murid sendiri, wali kelas hanya mengawasi dan mendukung kegiatan tersebut, dengan maksud melatih dan memupuk kemampuan murid agar berani memutuskan sesuatu dan bertanggung jawab. Bahkan kadang-kadang bila terjadi keributan-keributan kecil diselesaikan oleh murid-murid sendiri melalui wadah OSIS. Teringat suatu ketika, kelas saya ada sekelompok 3-4 orang murid, karena hal kecil terjadi keributan, salah seorang murid lebih nakal dan galak, ia mengancam setelah lepas sekolah ia akan memukul murid yang lainnya. Persoalan berkembang semakin runyam.

***

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1248-arsip--cuplikan-buku-peringatan-reuni-hoa-lien-ke-57

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto