A+ A A-

Surat Dari Jakarta [4]

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Ada dua kelas yang ketika itu gurunya bu Deasy. Deasy mengajar bahasa Inggris. Des sudah menyiapkan seperangkat alat-alat tulis dan gambar-foto buat diperagakan yang ditulis dalam bahasa Inggris. Bu Des menjadi tuanrumah saya selama pengenalan dan pergaulan di jalansutra dan selama di Jakarta. Orangnya lincah - gesit dan penuh semangat pengabdian kepada sekolah KARTINI ini. Persahabatannya dengan dua bunda-kembar Sri,- sangat bersesuaian dengan cita-cita pengabdiannya. Sama-sama satu tujuan, bekerja dan mengabdikan diri bagi anak-anak miskin dan anak-anak jalanan - anak-anak yang tadinya gelandangan.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Saya seperti biasa jadi penasaran! Darimana mereka mendapatkan uang dan dana buat semua itu? Saya mendapat penjelasan dari tiga pendekar-pokok itu. Dua bunda Sri adalah dari kalangan orang berduit - katakanlah orang berada. Biasanya orang berada dan orang kaya, dapat dikategorikan pelit dan sulit keluar uang - apalagi buat yang bukan bagi kepentingan dirinya sendiri. Tetapi bunda Sri ini sangat lain - dan perkecualian! Mereka berdua mengeluarkan dana dari kantongnya sendiri - dari sumbangan suaminya yang memang punya uang berkecukupan. Deasy sendiri bekerja pada Kantor PBB - Unicef di Jakarta. Pagi-pagi jam 07.00 dia sudah masuk kerja, jam 16.00 dia lepas kerja. Dan langsung mengerjakan "tugas" bersama yang mereka emban bertiga. Kegiatan mereka bertiga ini - terutama dengan Des, saya turut dari dekat mendampinginya. Des ini anak Bangka - tuturkatanya seperti orang Malaysia - Melayu, dan suaranya sangat bagus - sopan - teratur. Suatu kali pernah saya bilang kepada Des, "Desy, sebenarnya kamu ini seharusnya jadi penyiar radio dan bekerja di tivi",- dia tertawa dan saya sudah itu
menyadari,- bahwa dia itu sudah cukup tepat posisinya. Di Unicef - PBB dan di Sekolah KARTINI,- sekolah anak-anak miskin di bawah jembatan ANCOL.

Ketika saya wira-wiri mengelilingi beberapa kelas anak-anak miskin itu, nah,
ini pantat dan perut betul-betul kurangajar! Di tengah suasana begini - masaksih mau kencing mau berak! Mau kencing di mana? Di mana-mana berserakan sampah - kardus - bekas-bekas bercak lumpur. Saya bertanya kepada seseorang yang tinggal di sana. Di mana ada WC - toilette. Mas itu menjawab, "Pak, mana ada wc di sini! Atau di mana-mana juga semua wc, tempat begini mah..........sama aja ama wc.....", katanya. Dan saya mencari rumah orang-orang yang kira-kira bisa saya numpang ekspor! Ada rumah penduduk miskin, seorang ibu dengan dua anak balitanya. Yang satunya kecil sekali - kurus dan kira-kira sakitan, dan dengan wajah kurang makan. Yang satunya, mungkin abangnya, masih maiin-main di rumahnya yang dari bekas kardus - seng dan kotak-sabun. Ibu muda itu berkata kepada saya, kencing saja di situ tuh....dia tunjukkan dengan mulutnya yang dimonyongkan. Sebab dua tangannya sedang mengaduk masakan yang baunya sangat enak.

"Enak sekali baunya, bu".

"Masak ikan asin ama pete campur bekas-bekas jagung...", katanya

Dan dia perlihatkan kepada saya masakannya. Waduh, enak sekali baunya walaupun di bawah rumahnya ada air solokan menghitam dari bekas air sungai atau air laut Ancol. Saya berlalu - dan hampir saja terinjak anak kecil yang
bagaikan seonggokan daging yang dibajui. Sesudah beberapa langkah dari rumah ibu itu, saya terhenyak sebentar dan berpikir. Dan untung pikiran ini cepat dan segera muncul,- kalau tidak betapa besar dosa saya. Dua kali saya
kencing di rumah ibu dengan dua anak kecil yang kurus-kurus lapar setiap hari, tahu-tahu kini saya begitu saja lewat melenggang kangkung dengan kepongahan tak terlihat. Saya kembali ke rumah ibu itu. Dan ibu itu agak
heran, kenapa baru beberapa langkah kok kembali lagi. Saya buka dompet uang saya, dan saya serahkan uang buat belanja kehidupan mereka, dan saya katakan, buat anak-anak bu........... Saya sudah mengurangi dosa saya - dan itupun barangkali saja dan semoga. Sebab besar kecilnya dosa, hanya Tuhan yang menakarnya. Saya kembali menuju anak-saya Deasy yang sedang mengajar dengan minta agar anak-anak mengisi tulisan I am a..............boy atau girl. Uitspraak - Deasy bahasa Inggrisnya sangat bagus,- tentu saja dia pernah sekolah di Australia dan AS serta kinipun sehari-harinya berbahasa Inggris di sekitar kantornya Unicef,-
------------------------------------------------------------------------------

Jakarta,- 15 juni 04,-

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua 4223

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1261-surat-dari-jakarta-4

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Tionghoa

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto