A+ A A-

Pertanyaan Mengenai Nama Generasi

  • Written by  Rinto Jiang & Liang U
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Ada pertanyaan dari salah satu member mengenai sistem penamaan dalam budaya Tionghua  . Pertanyaannya adalah , kenapa kebanyakan nama orang Tionghua terdiri dari tiga kata ? . Kenapa kata kedua dari nama tersebut harus sama apabila dilahirkan pada generasi yang sama , memiliki urutan tertentu dan bagaimana mendapatkan daftarnya ? Apakah puisi untuk nama generasi hanya untuk anak laki-laki saja ? . Demikianlah pertanyaan yang kerap muncul.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Nama Tionghoa sebenarnya tidak harus selalu dalam tiga kata. Dahulu di masa Samkok atau sekitar abad 2-3 M , menurut catatan literatur sejarah , penduduk diseluruh Tiongkok sekitar 7 juta jiwa. Nama dengan dua karakter yang terdiri dari satu marga dan satu nama adalah lazim pada masa itu. Misalkan figur Cao Cao , Liu Bei , Guan Yu , Zhou Yu , Sun Quan , Sun Ce dan seterusnya. Namun pada masa itu juga ada kebiasaan mempunyai nama keci bagi setiap orang , seperti Guan Yu yang bernama kecil Yun-chang , sehingga bisa juga dipanggil Guan Yuchang. Dimasa Dinasti Shang ribuan tahun kebelakang , nama-nama orang malah terdiri dari satu karakter , soalnya mereka belum mengenal marga.

Nama dalam tiga karakter mulai populer penggunaannya pada zaman Dinasti Tang, karena ada ledakan populasi dengan bersatunya suku2 asing di utara dan selatan ke dalam entitas Han (Chinese). Mereka mengadopsi nama2-nama Han dan oleh karenanya nama dua karakter harus dikembangkan menjadi tiga karakter. Jadi, ini semata2 karena pertambahan penduduk, kekurangan variasi nama dengan 1 karakter atau 2 karakter. Lalu juga karena sudah ada lebih banyak karakter yang dapat digunakan untuk memberikan nama. Karakter Han pada zaman Qin hanya ada 10000, namun sampai Qing (sekarang) sudah lebih dari 47000 karakter.

Mengenai kenapa kata kedua dari nama tersebut harus sama apabila dilahirkan pada generasi yang sama? Sebenarnya tidak harus demikian. Tergantung masing-masing keluarga. Lazimnya , nama dengan tiga karakter itu adalah berstruktur marga + generasi + nama. Jadi ada yang menjadikan karakter kedua (tengah) sebagai tingkatan generasi. Tingkatan generasi ini dibuat untuk memudahkan penentuan tingkat generasi dari garis keturunan yang akan melebar setelah beberapa generasi. Namun ini cuma monopoli orang-orang terpelajar biasanya, karena dulu pendidikan tidak merata di seluruh masyarakat Tionghoa.

Nama generasi ditentukan sendiri-sendiri oleh leluhur dulu. Lazimnya mereka membuat satu puisi atau sajak yang berkarakter 16 atau 24 terserah,  lalu digunakan untuk 16 atau 24 generasi. Contoh kecil saja, misalnya keluarga A mengambil puisinya Du Fu yang bait pertamanya adalah Guo Po Shan He Zai. Maka generasi 1 memakai nama tengah Guo, generasi kedua Po, generasi ketiga Shan dan seterusnya. Jadi, bila ada keluarga yang masih memegang tradisi ini, mereka dapat mencari urutan nama generasi yang dibuat leluhur mereka dan dapat mengetahui apakah mereka termasuk generasi keberapa.

Contoh kecil : Wakil walikota Taipei yang sekarang, Jin Pu-chong bernama tengah Pu, ia adalah saudara satu generasi (sepupu) dari Kaisar terakhir Dinasti Qing, Aisingiero Pu-yi yang juga bernama tengah Pu. Mereka orang Manchuria, klan Aisingiero, bermarga Jin.

Manfaat lain dari nama generasi ini adalah untuk memudahkan pemanggilan. Misalnya ada famili saya yang seumur dengan saya, namun dari nama generasi dipastikan ia lebih tua satu generasi dari saya, sehingga saya harus memanggilnya sebagai paman/bibi.

Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok menganjurkan penggunaan nama tiga suku, tapi makin lama makin banyak yang menggunakan nama dua suku yang terdiri dari satu sne atau marga dan satu nama. Yang menjadi masalah adalah banyaknya duplikasi, karena meskipun huruf Tionghoa banyak, yang favorit untuk nama adalah yang itu-itu juga, misalnya Ying 英、Hua 华、Ling 玲 dan lain lain . Tambahan lagi, sne besar tidak banyak, hanya 19 sne yang populasinya lebih dari 1% penduduk, padahal jumlah sne yang masih ada sekarang diperkirakan masih sekitar 3500 sne. Kita ambil sne besar Li dan Yang. Dengan mudah kita temukan Li Ying, Yang Ying dan seterusnya.

Di kota Shenyang saja beberapa tahun yang lalu, dikabarkan ada 6000 orang Zhang Li 张丽 dan 3000 lebih orang Wang Wei 王伟.Bila menggunakan nama tiga suku, duplikasi akan menurun sebab variasi menjadi lebih banyak, meskipun untuk nama-nama tertentu belum tentu. Misalnya di Asia Tenggara sekarang huruf Ling untuk anak wanita demikian populernya, sehingga ada keluarga yang mempunyai beberapa Ling, yaitu anaknya, dan ketiga mantu perempuannya. Nama itu bisa Ailing, Meiling, Xiuling, Zhenling etc.

Untuk sne kecil duplikasi agak kurang, tapi untuk sne besar duplikasi tetap banyak. Nama empat suku? Kecuali sne rangkap seperti Sima, Aoyang etc. Yang mau menggunakan nama tiga suku tak banyak, bahkan hampir tak ada, sebabnya karena seperti orang Jepang. Tindakan Jepang terhadap rakyat Tiongkok
masa lalu, terutama masa Perang Dunia II sangat memberi kesan ultra negatif bagi orang Tionghoa.

Apakah benar kalau generation poem hanya berlaku untuk anak laki- laki? Tidak  selalu , keluarga saya memiliki generation name untuk anak perempuan. Generasi bibi saya menggunakan Qing, generasi saya menggunakan Yun dan putri saya menggunakan Xiu.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

 

Last modified onSunday, 25 November 2012 03:28
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1296-pertanyaan-mengenai-nama-generasi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto