A+ A A-

Kisah Tabib Him Tio King Menolong Kaum Miskin

  • Written by  Hengki Suryadi
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Pada pertengahan tahun Ka-khing, di kota Lam-jiang, dalam propinsi Kiang-sai, hidup seorang tabib bernama Him Tio King yang bijak dan sosial. Sejak masih kecil Him Tio King sudah menunjukkan bakatnya yang luar biasa,
welas asih dan ramah tamah, selalu bersikap baik dan iba kepada sesama manusia yang hidup merana dan sengsara.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Waktu Him Tio King berusia sembilan belas tahun, ia mulai membulatkan tekad untuk mendharma baktikan kemampuan atau ilmu yang pernah dipelajarinya bagi umat manusia, terutama untuk mereka yang menderita sakit, maka ia lebih tekun memperdalam ilmu pengobatan, belasan tahun Him Tio King tekun dan rajin belajar, meski banyak menderita dan sengsara, namun ia tidak pernah patah semangat.

Beberapa tahun kemudian setelah lulus sekolah dan mulai praktek, resep
obatnya ternyata amat manjur dan selalu berhasil menyembuhkan penyakit para pasiennya. Terkabullah keinginan Him Tio King untuk membaktikan dirinya demi kaum miskin, keberhasilan itu lebih meneguhkan imannya untuk mengejar cita-cita yang lebih agung, andaikan harus berkorban jiwa dan raga
sekalipun, segala pengorbanan rela ia lakukan.

Berpijak pada sikap kerjanya yang mengutamakan memberi pertolongan kepada
fakir miskin. Him Tio King yang tidak mau menerima imbalan, bila perlu secara gratis malah ia memberi obat pada pasiennya, padahal tidak sedikit di antara obat-obatan itu adalah bahan obat yang mahal harganya. Bahwa Him Tio King berjiwa sosial bukan berarti bahwa keluarganya hidup makmur. Lalu
darimana Him Tio King memperoleh dana dan modal untuk menolong kaum miskin?

Untuk itu ternyata Him Tio King harus mengetatkan keperluan hidup keluarganya, satu sen pun tidak dihamburkan percuma, di bawah pengawasan yang keras dan penuh disiplin, keluarganya menjadi terbiasa hidup sederhana. Ternyata istri dan putra-putrinya dapat mengimbangi suami dan ayah mereka yang mendharma baktikan dirinya untuk kepentingan umum. Bila musim panas tidak berbaju sutra, musim dingin tidak berpakaian kapas tebal, hidangan yang menjadi lauk pauknya sehari-hari hanyalah sayur mayur melulu, keluar pintu jalan kaki, ongkos naik joli dihemat untuk keperluan lain yang lebih berguna. Adanya kerjasama dan pengertian seluruh keluarga, setiap bulan mereka dapat menyisihkan sebagian besar biaya hidup dan dimasukkan ke dalam
tabungan, dana dalam tabungan inilah yang digunakan untuk membeli obat atau ongkos pengobatan para pasiennya itu.

Memang Him Tio King juga memperoleh dana dari pihak lain, yaitu bila ia
diundang untuk mengobati pasien dari keluarga kaya, sebelum melakukan tugasnya dengan tegas tapi halus terlebih dulu ia menentukan tarif yang tinggi, besar kecil tarif pengobatan disesuaikan keadaan ekonomi keluarga pasien itu. Cara ini pernah mengundang antipati sementara orang kaya yang pernah ditolongnya, tidak jarang Him Tio King mengalami tekanan dan ancaman pihak-pihak tertentu, namun Him Tio King tetap membulatkan tekadnya, apalagi ia memperoleh dukungan, perlindungan dan junjungan masyarakat luas yang mengasihi, setia dan simpati kepadanya, tidak sedikit orang-orang kaya yang semula kikir dan sirik padanya, setelah sadar dan tahu duduk persoalannya, apalagi terpengaruh oleh kearifan Him Tio King, dengan haru dan ikhlas, dengan suka rela dan penuh pengertian, belakangan mereka mau merogoh kantong menyumbangkan uangnya demi kepentingan umum. Oleh Him Tio King dana yang
berjumlah cukup besar itu digunakan untuk menolong kaum miskin.

Setelah bekerja puluhan tahun, Him Tio King yang baik hati, bersih, dan suci
ini, akhirnya memperoleh anugerah. Hampir lima puluh tahun lamanya, sejak Him Tio King berpraktek dalam usia tiga puluh, ia tetap mempertahankan semangat kerja yang tinggi, dengan ilmu pengobatan menolong sesama manusia. Kehidupan manusia di dunia fana tiada yang langgeng dan kekal, demikian pula halnya yang dialami Him Tio King, selama berpraktek sebagai tabib, tidak jarang ia menghadapi kesulitan dan hambatan, namun semua kesukaran itu tidak melunturkan cita-citanya, kekayaan dan kedudukan tidak menggoyahkan tekadnya, kekerasan tidak pernah membuatnya gentar. Walau sudah berusia tujuh puluh sembilan, Him Tio King masih segar bugar dan sehat, keluarganya hidup rukun, tentram dan damai.

Tiga hari setelah ulang tahunnya yang kedelapan puluh, pagi hari itu Him Tio
King habis mandi lalu berdandan di kamar belakang baru menuju ke ruang tamu, seperti biasa sambil istirahat ia minum teh yang sudah disediakan sebentar lagi baru masuk ke kamar praktek mulai bertugas.

Sekonyong-konyong alunan musik nan merdu sayup-sayup berkumandang di
angkasa, lalu mengendap turun dan terdengar makin nyaring dalam rumah, bersama dengan itu tercium bau wewangian yang beraroma tebal di seluruh pelosok rumahnya. Waktu itu istrinya yang berada di luar merasa adanya gejala yang luar biasa dalam rumahnya, bergegas ia berlari masuk ke ruang
tamu dan mendapatkan suaminya tetap duduk di kursi dengan pandangan kosong ke atas beranda, ternyata napasnya sudah berhenti, tubuhnya juga mulai dingin. Tanpa sakit dan tiada tanda serta tanpa firasat apapun menandakan bakal datangnya musibah ini, sudah tentu tanpa siksa dan derita. Begitulah Him Tio King telah meninggal dunia dengan tenang.

Him Tio King meninggal dunia secara wajar, kematiannya justru mengundang
rejeki dan kebahagiaan yang berkepanjangan sampai beberapa generasi keturunannya. Konon beberapa generasi keturunannya hingga kini masih hidup makmur di tempat kelahirannya. Di jaman kerajaan dahulu tidak sedikit di antara keturunannya yang menjabat pangkat tinggi, turun temurun hingga
beberapa generasi terus jaya dan makmur. Di wilayah kota Lam Jiang keluarga Him amat disegani dan dihormati dijunjung tinggi sebagai keluarga arif budiman.

 

Menelusuri Etnis Lain : http://web.budaya-tionghoa.net/budaya-tionghoa/dialek-tionghoa-chinese-dialects

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

  1. Foto Ilustrasi : Daderot , Achang woman brocade dress. Clothing exhibited in the Yunnan Nationalities Museum, Kunming, Yunnan, China, 2011 , public domain



Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.



Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1307-kisah-tabib-him-tio-king-menolong-kaum-miskin

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto