A+ A A-

Tata Cara Sebelum Dan Sesudah Pernikahan

  • Written by  Julie Lau
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Berhubung kemaren baru ke "kondangan" [red pesta pernikahan] , jadi hendak bercerita mengenai tata cara perkawinan adat Tionghua. Ya sebenarnya tidak adat-adat amat sih, soalnya disini sana banyak "penyesuaian" dan "mix n match" memakai budaya barat, dan dicampur lagi sama budaya Jawa [setahu saya]. Jadi terpikir bahwa budaya Tionghua di Indonesia sebetulnya adalah "budaya gado gado". Di Singapura yang gado gado disebut "Peranakan" atau "Nonya", satu istilah yang akrab di telinga, sebab Oma saya suka menyebut diri sebagai "Cina Peranakan" maksudnya adalah Keturunan yang lahir atau tumbuh dewasa di Indonesia, sudah tidak akrab dengan bahasa Mandarin, dan ciri khas satu lagi adalah koleksi kebayanya itu loh. Yang disebut "kebaya encim" itu barangkali yah. Tapi belakangan koleksi kebaya si Oma udah tinggal jadi koleksi doang sebab Oma lebih suka pakai blus dan celana panjang yang lebih praktis. Balik lagi ke tata cara perkawinan.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

COMBLANG


Alkisah, jaman dahulu kala, jaman  Siti nur buaya, dimana pria dan wanita yang mau menikah masih  dijodohkan oleh orangtua, peran "comblang" berpengaruh banget. [Buat yang nonton MULAN versi Disney, pasti tahu khan yah]. Jaman sekarang comblang masih ada , saya pernah dilirik ama comblang mau dijodohkan, hiiiiiii, untuuuuung tidak jadi.
Jaman dahulu kalau ada anak gadis yang sekiranya layak jadi menantu, pihak cowok langsung kirim comblang ke pihak ceweknya sambil kirim kirim bingkisan gitu. Nah kalo bingkisannya dari si nyonya X diterima dengan baik dan benar berarti pihak cewek setuju, kalau dikembalikan berarti tidak setuju. Bagusnya cara begini, dua dua pihak ngga ada yang kehilangan muka merasa ditolak.Jaman sekarang dimana anak udah bisa cari pacar sendiri, sudah tidak memakai comblang comblangan lagi . Anak sama anak tinggal omong-omongan, begitu anak sama anak sudah setuju mau pernikahan tinggal berbicara sama orang tua. Kalau orang tua tidak keberatan tinggal menentukan tanggal . Ceritanya "diminta" secara resmi sebelum acara lamaran.

SHIO, JAM, DAN TANGGAL LAHIR

Jaman dahulu, dimana orang masih piara abu leluhur, begitu para orangtua sudah setuju, comblang meminta jam dan tanggal lahir si wanita, otomatis diketahui shionya dan elemennya. Apa kayu, api, air, logam, atau tanah? Tanggal ini terus ditaruh di meja sembahyang selama tiga hari.

Dalam jangka waktu tiga hari ini kalau ada tanda tanda jelek, misalnya orangtua sama orangtua cekcok, atau mendadak ada yang sakit-sakitan, lantas dicurigai tanggalnya "ciong" atau tidak cocok. Langsung  dibawa tanggal ke tukang "kuamia" minta tolong dilihat antara si cowok dan si cewek ada jodoh atau tidak. Kalau tukang kuamia bilang boleh, baru calon besan ketemuan. kalau tukang kuamia bilang jangan, batal deh acara pernikahan.

Jaman sekarang biasanya anak sama anak bilang mau menikah dulu,lantas orangtua datang ke "tukang ngitung" hari itu, biasanya menggunakan buku "Tong su" dan meminta untuk dicarikan tanggal yang bagus buat dua belah pihak. Tidak ada acara bilang "jangan" pokoknya mau menikah si A sama si B meminta tanggal yang paling bagus. Nah masalahnya si tanggal ini suka suka susah keluarnya. Yaaa kalau yang susah seperti itu diambil yang paling baik saja, sama seperti kita pilih capres kali ya, yang mana yang dianggep mendingan aja deeeh.

Oh iya masalah tanggal ini, biasanya dikasih pilihan, tanggal ini hari minggu, lumayan bagus atau tanggal ini paling bagus, tapi jatuhnya hari kamis, atau tanggal itu... nah jadi dua keluarga bisa pilih pilih dan atur atur tanggal mana mau mengadakan pesta pernikahan.

LAMARAN/PINANGAN

Yang ini sepertinya diadaptasi dari budaya Jawa, sebab yang saya tahu di Tiongkok tidak ada acara lamaran langsung acara kirim tanda meminang, termasuk di dalamnya baju pengantin yang warna merah itu berikut tutup kepalanya yang beratnya lima kilo itu. Hanya di Indonesia ini orang Tionghua ada acara lamaran, pihak cewek diberitahu lebih dahulu , hari apa, jam berapa, pihak pria mau datang supaya bisa mempersiapkan, dimana pihak pria datang bersama kerabat yang biasanya pintar diplomasi, bicara dengan kata kata kiasan mengutip puisi atau kalimat kalimat indah penuh arti.
Wali pihak perempuan juga harus punya keahlian yang sama jadi di acara lamaran ini ada seperti berbalas pantun .Selama acara berpantun pantun ini si wanita disembunyikan di kamar tidak  boleh keluar. Setelah acara berpantun ria selesai,  si wanita dipanggil, dikasih tahu ini lhoh calon mertuamu, sekarang harus panggilnya Mama sama Papa, begitu. Dimana pihak cewek biasanya dikasih seperangkat perhiasan.

Biasanya orangtua pihak pria memasangkan perhiasan tersebut pada calon mantunya, istilahnya pengikat begitulah. Sebagai tanda bahwa si wanita ini sudah menjadi milik si pria, dengan kata lain tidak boleh melirik lirik pria yang lebih ganteng [:-)]. Dan pria lain juga tidak boleh mengganggu ini anak gadis yang sudah jadi  milik orang. Saya jadi ingat kalung "dogi" yang menandakan "dogi" ini ada yang punya bukan "dogi" liar, harap dikembalikan pada yang punya.


ACARA TUKAR BAKI/SANGJIT

Sesudah lamaran, berikutnya pada hari bertuah, jam tertentu pihak pria datang lagi ke rumah pihak wanita. Kali ini orang tua pria tidak ikut,hanya mengirim perwakilan keluarga yang dituakan, ditambah segerombolan gadis gadis yang belum nikah. Tiap gadis bawa satu baki, jumlah baki plus pembawanya tergantung kemampuan si pria, tapi yang penting disitu ada seperangkat pakaian wanita maksudnya kebutuhan sandang si wanita akan ditanggung oleh pihak pria, jangan kuatir.  Manisan dan permen supaya sepanjang perkawinannya manis terus, buah buahan supaya cepet berbuah kali,  arak, teh, apalagi ya, seingat saya ada 8 atau 12 macam itu tapi apa saja saya lupa.


Pihak wanita harus mempersiapkan "penerima baki" jadi sebelum datang udah ketahuan terlebih dahulu berapa baki yang dibawa. Kalau pihak wanita memasrahkan anak perempuannya ke keluarga pria, dilepas tidak akan ikut campur lagi, isi baki diambil semua. Tapi kalau orang tua wanita masih mau campur tangan atas keluarga mempelai ini, isi baki dibagi dua separoh dikembalikan ke pihak cowok plus seperangkat baju pria sebagai ganti baju wanita.


Saya tidak tahu adaptasi darimana, tapi di acara sangjit ini biasanya pihak pria  memberikan "angpau" pada ibu dari wanita, katanya uang susu, ASI kali maksudnya. Pihak wanita mengembalikan dengan sepasang "angpau" pada pihak pria. Oh ya, sampai hari ini saya dan kerabat ada memperdebatkan, yang bawa baki harusnya gadis yang belum menikah atau justeru yang sudah menikah, belum ada kesepakatan, kalau ada yang tahu tolong jelaskan sama saya berikut latar belakang dan alasannya, trims.


ACARA KIRIM KOPER DAN PASANG SPREI

Pokoknya pada hari yang bersangkutan pihak wanita mengirim wakil, biasanya perempuan yang sudah menikah, mapan dan punya anak laki laki untuk mendandani kamar pengantin. Otomatis pihak pria sudah menyediakan si kamar pengantin berikut tanjangnya . Wakil dari pihak perempuan yang pasang spreinya, maksudnya biar anak perempuan itu ketularan cepat punya anak laki laki , seperti yang kita tahu anak laki laki buat keluarga Tionghua  penting untuk melanjutkan marga. Plus pihak wanita mengirimkan koper, tanda bahwa si anak gadis sudah "masuk" ke rumah itu atau ke keluarga pria.


Acara koper koper cukup unik. Mula mula kopernya dialasi uang, uangnya semakin besar semakin bagus, supaya si anak gadis ini masuk ke keluarga pria dengan bermodal dan supaya jangan dipandang rendah oleh keluarga mertuanya kelak. Si uang ini bisa ditebarkan , bisa juga disusun susun berbentuk kipas, jumlahnya harus genap dan komplit mulai dari pecahan terbesar (di Indonesia seratus ribuan) sampai pecahan terkecil. Kemudian di dalam koper ditebarkan "angco" atau red dates bersama biji teratai. katanya si biji teratai itu bunyinya serupa sama tahun( lian = nian), biji serupa sama  anak (ci =tze), dan red dates itu bunyinya serupa sama apa ya, pokoknya sebangsa buru buru atau cepet cepet atau pagi pagi . Maksudnya biar cepat punya anak gitu.
Isi koper biasanya baju baru, berapa banyak terserah, makin banyak makin mentereng. Tapi bawa kopernya harus 2 biji, sepasang, besarnya terserah. Kemudian didalamnya lengkap mulai dari pakaian dalam , sikat gigi, sabun, minyak wangi, alat make up, perhiasan, pokoknya segala keperluan wanita harus lengkap supaya si wanita pindah nantinya tidak usah meminta apa yang tidak ada sama mertuanya.

Kemudian,  isi koper ini oleh perwakilan keluarga wanita dibongkar dan  disaksikan sama kerabat pihak pria, dipindahkan kedalam lemari. Semakin lengkap isi kopernya makin "dipandang" si menantu di keluarga suaminya. Di acara pasang sprei dan kirim koper ini si calon pengantin tidak boleh ikut. Pokoknya isi kamar pengantin bakalan jadi surprise.

Acara selanjutnya hari pernikahan. Bisa dilihat di http://web.budaya-tionghoa.net/budaya-tionghoa/adat-istiadat/867-adat-istiadat-pernikahan-dalam-budaya-tionghoa

SEHARI SEBELUM PERNIKAHAN

CUKUR KUMIS

 

Jaman sekarang sih sepertinya sudah tidak ada acara ini. Tapi jaman orangtua saya dulu masih ada. Yang mencukur kumis bukan pengantin laki laki, tapi pengantin perempuan lhoh. Bukan kumis aja sih sebetulnya tapi bulu bulu kasar yang ada di muka, biar mukanya  kelihatan mulus dan bersih begitu. Yang cukur waktu jaman mami saya sih sebangsa Encim-encim gitu. Alatnya hanya dua utas benang. Hebatnya lagi mami saya bilang enggak berasa apa apa waktu dicukur itu.

 

Saya pernah lihat sekali di film, dan terkagum kagum sama skill nya. Dua utas benang direntang, dibelit ke jari tangan, terus didekatkan ke muka calon pengantin, terus dua tangan bekerja, benangnya seperti ditarik tarik begitu, mengingatkan sama mainan kitiran waktu jaman saya masih kecil (kalau ada yang seangkatan kali kebayang) Terus tahu tahu sret sret, semua bulu bulu yang nggak perlu di muka tersapu bersih.

 

Habis nonton itu film saja uji coba, tapi enggak di muka sih, cuman di kaki. Eh bener lhoh, sampe ke bulu bulu halus bisa tercabut. Cuman kalo yang belon ahli sih siap siap aja meringis. Pedih pedih tuh. Cuman masih mendingan daripada pake pinset atau wax, heheh.

 

SISIR RAMBUT

 

Jaman dulu sehari atau pagi hari sebelum pengantin perempuan didandani, dia disisirin dulu sama kerabatnya atau ibunya. Ada yang bilang sebagai perlambang anak gadis itu masuk ke kehidupan dewasa, ada yang bilang terakhir kali diurusi sama ibunya, mana aja yang bagus deh. Yang menyisiri biasanya adalah perempuan yang punya suami, punya anak banyak, pernikahannya langgeng. Sisirnya juga ngga banyak banyak, cuman perlambang aja. Yang menyisiri biasanya mengucapkan kata kata "bagus" setiap sisiran.  Nyisirinnya juga ngga boleh macet di tengah jalan, jadi sebelum acara disisiri rambutnya sudah duluan disisir licin dulu. Nyisirnya berapa kali ya, empat apa lima.

 

Sisiran pertama biasanya sambil nyebut pernikahan yang langgeng dari awal sampai akhir, yang kedua bilang supaya bersama sama tetep harmonis sampai tua, yang ketiga nyebut bahagia sampai ke anak dan cucu, yang ke empat panjang rejeki seterusnya lupa.

 

(Lihat film Sam Pek Eng Tay nya Nicky Wu? yang si Eng Tay nya nangis darah itu pas waktu disisirin itu khan.)

 

Jaman sekarang,  berhubung acara dandan pindah sibuk ke salon subuh subuh acara sisir menyisir ini seringkali dilewat.  Atau barangkali anak sekarang nikahnya memang setelah dewasa jadi tidak perlu lagi pake upacara penyambutan masuk masa dewasa.

Jaman dulu setelah pengantin wanita didandani biasanya dipasangi cadar berupa kain merah atau untaian mutiara menutupi muka (kadang dua duanya) jadi si pengantin perempuan sepanjang hari cuman bisa lihat kaki orang tidak bisa lihat mukanya. Jaman sekarang berhubung baju pengantin kebanyakan ala barat, pakai bajunya juga di salon, orangtua cuman bantuin tutupi muka pakai seluir / sleyer/ veil/ cadar ala barat tuh. Katanya cadar ini sebagai perlambang keperawanan pengantin perempuan. Tapi jaman dulu katanya cadar ini untuk menutupi wajah si pengantin supaya tidak ada laki laki lain yang tertarik terus berniat ganggu ganggu rumahtangga orang. Candaan sebagian orang, berhubung banyak pengantin samasekali belum pernah lihat wajah pasangannya, supaya tidak pingsan atau kabur kalau ternyata wajah pasangannya kurang bagus. Makanya jaman dulu cadar baru boleh dibuka di kamar pengantin.

 
PAKAI BAJU

Kalau di pihak perempuan penyambutan masa dewasanya disisiri, kalau dipihak laki laki dengan cara dipakein baju. jaman sekarang rata rata pengantin laki laki khan pakai jas, biasanya orang tua mulai membantu berpakaian ini untuk pasang sabuk, pakai jas, pakai sarungtangan. Kalau liat video kawinan orang tionghua biasanya acara di pihak perempuan dilewat, yang dipentingin acara berpakaian di rumah pengantin pria nih.

 
JEMPUT PENGANTIN

Setelah rapi berpakaian Pengantin pria jemput pengantin perempuannya. Disini orangtua tidak ikut. Pengantin pria boleh diantar kerabat laki laki atau temannya.

Jaman sekarang khan jemputnya pakai mobil, ada aturan adik laki laki (boleh adik kandung boleh adik sepupu) dari pengantin wanita yang harus bukain pintu mobil untuk pengantin pria, setelah dibukain pintu mobil pengantin pria terus kasih angpau sama sang adik ipar.

Kalau di singapur sini gayanya agak lain. Waktu pengantin laki laki tiba di tempat pengantin perempuan, si pengantin perempuan diumpetin di kamar, terus si pengantin pria ngga dibukain pintu (kadang kadang yang dibilang pintu cuman tali merah direntang sebagai penghalang. Nah biasanya kerabat perempuan terus 'ngerjain' si pengantin pria nih, suruh merayu rayu apa pegimana. Terus biasanya kalo udah cape diledekin si pengantin pria terus keluarin angpau, langsung deh pintunya dibukain (nyogok neh, heheh)

Setelah acara buka  pintu si pengantin pria disambut sama orangtua mempelai perempuan, diajak masuk ke kamar, dimana sipengantin nunggu dengan cadar tertutup.(di singapur pengantin pria berdiri di ruang tamu, lalu orangtua "menggiring" pengantin perempuan dari kamar sampai ke depan pengantin pria) Lalu si pengantin pria buka cadar si pengantin perempuan, setelah itu pengantin perempuan pasang korsase/bunga di kelepak jas pengantin pria sebagai tanda melayani suami.

Di Taiwan setelah si pengantin perempuan keluar dari pintu rumah, orang rumahnya (kakak atau adik yang masih serumah) buang air sebaskom, maksudnya anak perempuan yang sudah nikah sama seperti air yang dibuang ga bakalan balik lagi ke dalam baskom. Maksudnya supaya si anak perempuan hidup langgeng bersama suami, jangan sampai kembali ke rumah orantuanya yang berarti cerai atau jadi janda.

TEH PAY/ UPACARA MINUM TEH

Salah satu acara paling penting di hari pernikahan adalah upacara minum teh ini. Jaman dulu katanya upacara ini hanya dilakukan di keluarga laki laki sebagai perlambang menerima pengantin perempuan sebagai bagian keluarga dan sebagai tanda bahwa pengantin perempuan sekarang harus melayani mertuanya sebagai orangtua. Pihak keluarga perempuan boleh melakukan upacara ini sebelum mempelai pria datang menjemput sebagai tanda terimakasih kepada orangtua yang telah merawat selama ini.

Jaman sekarang upacara ini dilakukan di kedua keluarga biasanya dilakukan setelah pengantin pria datang, kemudian dilanjutkan sembahyang di altar leluhur keluarga wanita sebagai tanda pamit, baru kemudian upacara minum teh dilakukan selain sebagai tanda terimakasih juga sebagai acara "pamitan" kepada orangtua wanita.

 
Untuk upacara ini biasanya diatur supaya wanita berada di sebelah kiri pria baik untuk pengantin maupun untuk tetua yang dilayani. Semua  kerabat dekat dapat giliran dilayani minum teh mulai dari orangtua, kerabat yang paling dituakan (biasanya pihak ayah duluan) misalnya kakek-nenek dari pihak ayah, dilanjutkan kakek nenek pihak ibu, lalu kakak tertua dari ayah lalu kakak tertua dari ibu sampai yang paling muda (kakak). Kedua pengantin kepada orangtua biasanya berlutut, kecuali kalau orangtua menganggap tidak perlu ya boleh berdiri saja. Sementara yang dilayani biasanya duduk, kecuali untuk kakak, biasanya sama sama berdiri. Di samping pengantin berdiri yang membantu (menuang teh dan ganti cangkir, bisa adik bisa kakak, bisa famili pokoknya perempuan). Nanti laki laki memegang nampan sementara perempuan menyuguhkan teh dengan kedua belah tangan.

Setelah minum teh, orangtua atau famili yang dilayani memberikan angpau atau perhiasan. Sementara adik pengantin pria tidak diberi teh hanya merangkap tangan depan dada untuk menyambut ipar perempuan, sementara sebagai kakak ipar pengantin perempuan yang memberikan angpau.

Di beberapa pernikahan saya pernah melihat teh diganti dengan anggur merah. Saya tidak tahu aturan yang sebetulnya bagaimana, hanya teringat dengan istilah "mencicip arak kebahagiaan" di pesta pernikahan, barangkali tadinya yang disuguhkan adalah arak, hanya saja karena tidak semua orang bisa minum arak maka diganti dengan teh. Lagian teh lebih murah, hehehe.

 

tambahan adat taiwan :
"Oh ya, mobil pengantin di bagian pintu depan dipasang bambu panjang yg digantelin kantong plastik berisi daging babi. Maksudnya penolak bala. Warna mobil pengantin yg sering terlihat adalah hitam, dgn para penumpangnya yg berjas jadi mirip mafia. Iring2an mobil pengantin berjalan bersamaan dgn dinyalakannya petasan cina, itu lho yg bunyinya kenceng banget, yg dulu sering kita liat di film2 huang fei hong. Sepanjang perjalanan itu petasan terus dinyalakan sampe di tujuan. "
Wah, kalau di jakarta sepanjang jalan nyalain petasan, bisa disangkain kerusuhan ya. Interupsi selesai.

 

PESTA PERNIKAHAN

 

Jaman sekarang kita yang tinggal di Jakarta terbiasa dengan "standing party" atau prasmanan, namun di beberapa tempat pesta seperti ini dianggap kurang menghormati tamu sehingga pesta pernikahan biasanya dilakukan di rumah atau restoran, pesta ini sering disebut "cia ciu" = makan dan minum.  Tamu tamu dipersilahkan duduk mengelilingi beja bundar, satu meja bisa 5 sampai sepuluh orang. Setelah upacara makanan dihidangkan satu persatu mulai dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup, untuk meninggalkan meja sebelum hidangan penutup dihidangkan adalah tidak sopan, maka untuk menghadiri acara beginian harus meluangkan waktu khusus minimal 2 jam.

 

Pengantin biasanya duduk satu meja dengan orangtua, berarti sudah 6 orang tuh, kerabat yang duduk satu meja dengan pengantin adalah saudara laki laki tertua dari pihak ibu dari pengantin pria. Heheheh apa tuh sebutannya?

 

Sehabis pesta pihak keluarga pria biasanya beriring iringan mengantar pengantin baru ke rumahnya, disana bisa dilanjut acara ledek ledekan sambil menggiring dua pengantin ke dalam kamar. Lewat tengah malam pada pulang , kalau tidak acara malam pengantinan bisa batal donk.

 

MALAM PENGANTIN

 

Katanya jaman dulu orangtua pihak cowok bakalan pasang kain putih di ranjang pengantin baru. Saya pernah dengan salah satu suku di Indonesia juga ada yang memakai cara begini, tapi lupa suku apa. Pasti tahu khan kain putih buat apa? Ya itu lah buat membuktikan keperawanan si cewek. Besok harinya ,  ibu mertua yang ambil itu kain, disimpan baik baik, nanti dipamer sama sesama ibu ibu yang termasuk kerabat dekat, barangkali untuk menangkal gossip beredar. Huah sekarang sih sudah tidak ada deh hal seperti ini, apalagi pamer pamer sama keluarga. Tabu kali ya. Malu maluin aja, barang begitu dipamer pamer. Apalagi kalau yang seperti di Taiwan itu, perawan enggak perawan bukan masalah.

 

Jaman sekarang mana orangtua ngurusin malam pengantinan. Itu sih urusan dua mempelai aja, tidak bakalan ditanya tanya lah, malu!

 

Nenek saya pernah mengomentari seorang famili, katanya sehabis pesta nikah itu malam pertama sebisa mungkin tidak boleh ditunda besok atau lusa. Maksudnya supaya semua urusan nikah nikahan selesai hari itu, jalan kedepan bakalan langgeng tanpa halangan, begitu pesan oma.

 

HARI PERTAMA SETELAH NIKAH

 

Penganten baru harus bangun pagi pagi sebelum matahari terbit , tidak perduli habis "berjuang" semalam. Maksudnya biar nanti kedepan segalanya dateng pagi/cepet. Ya cepet dapet rejeki, cepet dapet anak begitu. Terus begitu matahari terbit acara sembayang di depan altar leluhur, keluarga juga ada yang dateng. Disitu pengantin cewek dikenalin, ini siapa itu siapa, kesini manggil apa kesitu manggil apa. Tapi acara kenal kenalan jaman sekarang sih suka dilewat saja, khan udah kemarinnya waktu upacara menyuguh teh, paling yang masih dilakukan ya sembayang di depan altar leluhur itu.

 

HARI KEDUA

 

Ini termasuk hari tenang. Pengantin boleh santai santai di rumah, tapi tidak boleh keluar rumah! Maksudnya kuatir jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk sama pengantin baru makanya dipingit dulu.

 

HARI KETIGA

 

Biasanya pada hari ketiga ini pengantin perempuan bersama suaminya datang berkunjung ke rumah orangtuanya. Sebetulnya ada aturan deh musti bawa bingkisan apaaa gitu. Buah buahan kalau tidak salah. Jaman dulu barangkali kesempatan berkunjung ke orangtua sendiri susah, jauh,tidak  ada kendaraan. Apalagi mah yang dijodohin, diri sendiri belum pernah lihat wajah suami ya barangkali orangtua kepingin lihat juga wajah menantu. Kesempatan pengantin pria kenalan sama mertua begitu.

 

Jaman sekarang ya untuk menghormati pihak keluarga perempuan lah ya, untuk mengingatkan pengantin cowoknya sekarang punya dua pasang orangtua. Rajin rajin perhatian, rajin rajin nengok. Masa waktu pacaran rajin dateng, begitu udah dikawin nengok pun kaga?

 

Hmm, kayaknya segitu deh tata cara perkawinan. Kalau ada yang kelewat harap nambahin, kalau ada yang keliru harap dikoreksi, kalau ada yang komentar atau cerita pengalam pribadi boleh lah, nambah nambah kekayaan wawasan dan budaya neh.

 

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan link aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.

 


Last modified onTuesday, 27 November 2012 11:25
Rate this item
(16 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1319-tata-cara-sebelum-dan-sesudah-pernikahan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto