A+ A A-

Catatan Dari Holand : Teman Kami Tan Hwie Kiat

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Tadi malam saya menginap di rumah adik saya Asahan. Sudah sering Asan dan istrinya - ipar saya - menanyakan kapan menginap di rumahnya. Saya memenuhi ajakan dan undangannya. Tetapi saya katakan kepadanya besok pagi-pagi benar saya harus berangkat dari rumahnya untuk melayat meninggalnya teman kami = TAN HWIE KIAT.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Hari ini hari Sabtu. Udara Amsterdam bahkan seluruh Belanda bukan main bagusnya. Langitnya jernih - udaranya hangat(bukannya panas) - anginnya sepoi-sepoi jinak. Sangat menyenangkan. Tetapi di tengah udara yang sangat bagus itu, kami berkumpul menyatukan diri buat memberi penghormatan terakhir kepada teman kami TAN HWIE KIAT.

Bung Tan meninggal pada tanggal 22 Agustus baru-baru ini. Hari ini diberi kesempatan terakhir buat bertemu dengan jenazah Bung Tan. Yang datang melayat cukup banyak. Saya melihat dan berkesempatan buat bertemu dan bercakap-cakap dengan keluarganya - istrinya - anaknya. Keluarga Bung Tan, saya kenal sejak lama. Lebih saya kenal agak dekat pada tahun 1966 sampai meninggalnya. Dulu saya kenal nama samarannya - sebagai Iwan - Bung Iwan. Ternyata Iwan ini adalah nama anaknya yang ketika itu ada di tanahair yang dengan ibu-bapanya terpisah belasan tahun antara tanahair dan Tiongkok. Tadi itu Iwan junior mendampingi ibunya dan sekeluarganya menerima banyak orang teman-teman bapanya dulu.

Teman-teman dari Jerman yang tak kurang dari belasan orang dan datang bermobil pagi sekali - yang malam nanti kembali pulang lagi ke Jerman. Semuanya saya kenal - semuanya juga teman-teman saya. Kami saling ngobrol - saling bertanya dan saling merenung - kenapa ya kita ini kok bertemunya lebih sering dalam peristiwa yang bagini ini. Sudah berapa banyak teman-teman kita yang mendahului kita, karena tua - karena sakit - karena bermacam sebab. Teman kami Mas Sarmaji tahu benar - sudah berapa teman-teman kami pergi yang takkan kembali. Sejak tahun pertama jadi catatan Mas Wardjo- sejak tahun 1973 sampaiu kini sudah angka kepala lima jumlahnya. Ini baru di Belanda saja!

Bung Tan meninggal dalam usia 78 tahun. Dia adalah wartawan senior di Warta Bakti - yang dulu SIN PO. Dulu sekali menurut Siauw Tiong Djin, putranya Siauw Giok Tjhan, Bung Tan adalah "anak didik" Siauw Giok Tjhan. Dan pernah menjadi jurnalis utama di majalah - tabloid Sunday Courier. Juga pernah turut membidani lahirnya Harian Rakyat bersama Bung Nyoto. Bung Tan dikalangan wartawan senior sangat dikenal sebagai wartawan yang tegas dan berpikiran maju - progresive - dan dengan penuh semangat patriotik - cinta tanah-air.

Kehidupan Bung Tan sekeluarganya sangat sederhana - praktis - tidak berulah macam-macam, tetapi tegas dalam pendiriannya. Dia sangat dicintai para teman-teman dan sahabatnya. Karena dia bekerja di beberapa koran, antara dia dan saya ada kaitan kenal-mengenal dalam profesi pekerjaan,- karena saya sering memuat tulisan saya di koran dan majalah yang dia pegang. Saya lihat orang ini - jurnalis yang satu ini serius sekali tetapi tidak angker dan mudah didekati setelah saling tahu dan kenal.

Tadi itu - hari ini, begitu banyak teman-teman yang datang memberi penghormatan terakhir kepadanya. Ada beberapa teman yang baru saya kenal di rumah duka ini. Dan ada teman-teman yang baru bertemu kembali setelah belasan tahun berpisah ketika di daratan Asia dan Eropa ini. Betapa beragamnya - banyak lapisan orang yang menjadi teman Bung Tan. Rasanya bertemu dengan begitu banyak temannya - kami disatukan dalam satu perasaan - perasaan kehilangan seorang teman lagi - seorang teman kami telah pergi buat tak kembali. Kami menyatukan harapan dan doa kami agar Bung Tan diterima disisiNYA dengan baik sesuai dengan amal-uasaha-kerjanya. Semoga Tuhan memberkatinya,-

PUISI BUAT TEMAN KAMI TAN HWIE KIAT

Hari ini teman kami telah pergi

buat takkan kembali lagi
teman kami yang kesekian
satu-satu kami bertuaan
sakit dan renta
satu-satu pohon rebah bertumbangan
dari hutan yang tak terjaga.

Barangkali dalam hati

kami selalu siap menanti giliran
bila yang di ATAS memutuskan panggilan
terasa hidup sepanjang puluhan tahun ini
kaulah poros utamanya
yang membikin kami begini,-


Sobron Aidit
Holland,- 28 Agustus 04,-

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 6219

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1333-catatan-dari-holand--teman-kami-tan-hwie-kiat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto