A+ A A-

Jangan Hitung Ayam-Ayam-Mu Sebelum Menetas

  • Written by  Jamal Senjaya
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis Tionghua . Ia agak miskin yang hidup dan bekerja di peternakan di luar Beijing, ibu kota Tiongkok. Peternakan gadis itu kecil dan tampak buruk tetapi ia mencoba mengurusnya dengan baik. Ia memiliki kandang ayam dengan beberapa ekor ayam. Ayam-ayamnya riang dan terlihat sehat tetapi kandang itu terlalu kecil untuk mereka. Kandang yang dicat hijau tua itu warnanya mulai memudar dan atapnya terlihat hampir runtuh. Gadis ini juga memiliki  seekor sapi yang gemuk dan ramah yang ia perah setiap hari. Cukup untuknya setiap hari. Sapi itu tinggal di kandang kecil sempit tanpa jerami dan hanya cukup untuk sapi itu dan seekor babi yang dimiliki gadis tersebut.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Babi itu berwarna kuning pucat, gemuk dan lucu jika berjalan. Hewan kesayangan gadis itu adalah babi gemuk itu walaupun ia menyadari bahwa ia harus menjualnya suatu hari untuk membayar hutangnya yang cukup banyak. Gadis itu meminjam sejumlah uang untuk membeli peternakan itu. Namun pendapatannya terus menurun. Jika ia tidak melakukan penbayaran lagi ke bank, maka ia akan kehilangan peternakannya. Namun gadis itu berusaha keras agar hal itu tidak terjadi.

Pagi itu, gadis ini pergi mengumpulkan telur-telur dari kandang ayam dan memerah sapinya. Kedua tugas ini dilakukannya setiap hari. Saat ia berjalan menuju kandang ayamnya pikirannya dipenuhi dengan harapan-harapan yang indah.

Ia bermimpi ayam-ayamnya akan bertelur banyak dan sapinya memberinya susu lebih banyak dari yang pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia akan mengumpulkan telur-telur dan melihatnya menetas menjadi anak-anak ayam. Ia akan menjaga susu itu tetap dingin dan saat ayam-ayamnya menetas ia akan berlari membawa susu dan ayam-ayamnya ke pasar. Beberapa pejabat kaya akan melihat ayam-ayamnya yang indah dan mencicipi susunya yang lezat. Ini akan memikat mereka untuk menawar panennya dengan mahal.

Ia akan berterima kasih dengan orang itu dan membawa keuntungannya ke bank. Disana, ia akan menemui sang manager dan lunasi semua hutangnya. Ia akan memiliki banyak uang dan ia akan mulai memperbaiki peternakannya.

“Wah, bertapa mimpi yang indah,” tawa Gadis itu dengan senang.

Gadis itu kembali berjalan menuju kandang ayamnya. Saat ia tiba, ayam-ayamnya bertelur banyak! Lebih dari yang diimpikan gadis itu.

“Wah, hebat sekali,” Gadis itu berteriak dengan senang

Gadis itu mengumpulkan telur-telurnya di keranjang yang dibuat dari bambu dan berjalan menuju kandang sapi. Ia meletakan telur-telurnya di atas meja dan mulai memerah sapinya. Susu itu terus menyembur keluar dari sapinya dan mengisi banyak ember. Gadis itu mulai melihat mimpinya menjadi kenyataan.

Gadis itu memikul ember-ember susu dan keranjang telurnya berjalan menuju rumah. Ia begitu bersemangat untuk segera sampai dan mempercepat langkahnya setengah berlari. Ia membayangkan semua uang yang akan ia peroleh dan bertapa menarik peternakan itu akan terlihat nantinya.

Ia begitu senang dan mulai berlari, makin cepat dan makin cepat. Tiba-tiba, kakinya terselandung ranting kecil yang menghalangi jalannya. Gadis itu terjatuh. Melihat luka pada lututnya, gadis itu menyadari susunya tertumpah ke bajunya. Ember yang diletakan di sisi kirinya hanya tersisa sedikit susu. Ia melihat ke kanan dan melihat telur-telurnya pecah semua.

Hilang sudah harapan gadis itu, sekarang ia hanya memiliki sedikit susu dan beberapa telur pecah. Ia mulai meratap, menagis dengan sedih dan kesal. Ia menyadari ia berencana terlalu jauh dan semua rencananya berantakan. Ia belajar untuk tetap tenang, sabar dan sistematis, maka ia dapat bekerja lebih efisien dan lebih baik.

Seminggu kemudian, manager bank memanggilnya ke kantor. Ia berjalan menuju bank. Saat ia tiba disana, ia sangat malu dan kecewa. Ia tau apa yang akan dikatakan manager tersebut.

“Bu, hutang-hutangmu telah jatuh tempo hari ini,” ia mengatakannya dengan halus agar tidak melukai hati gadis itu. Gadis itu menggangguk dua kali dengan pelan.

“Tetapi, saya dengar kamu berencana terlalu jauh.” Gadis itu mengangkat kepalanya, melihatnya dengan sedih.

“Baiklah, saya membiarkanmu menjaga peternakan itu jika kamu berjanji  tidak akan lagi menghitung ayam-ayammu sebelum menetas.” Gadis itu terkejut senang. Ia berterima kasih dengan manager bank itu dan meninggalkan ruang itu


Oleh Abbe

Diterjemahkan oleh Jamal Senjaya

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Last modified onTuesday, 11 December 2012 10:27
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1379-jangan-hitung-ayam-ayam-mu-sebelum-menetas

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto