A+ A A-

Kisah : Telur Naga Dan Pipa Tanah Liat

  • Written by  Jamal Senjaya
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang petani pergi kekota untuk melihat kehidupan kota. Setelah cukup lama melihat-lihat ia merasa lapar. Ia masuk ke sebuah restoran dan membaca menu makanan. Ada sebuah menu istimewa “Telur Naga”, dan ia berpikir:  “Saya tidak pernah melihat seekor naga. Bagaimana mungkin mereka bisa memiliki telur naga?” Dan ia ingin mencicipi makanan istimewa itu.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Bagaimana mungkin ia tahu trik kehidupan kota, yang menyebut tales sebagai “Telur Naga” dan menjualnya dengan harga yang mahal? Saat makanan itu disajikan, petani itu mengenali makanan itu segera, itu adalah Tales (ingg : Betel taro). Tales ini dibuat dengan banyak tepung dan wangi; karenanya juga disebut tales wangi. Petani ini berpikir: “Ini makanan yang sering kami makan. Mungkin harganya sangat murah. Jadi saya akan memesanya beberapa potong.” Maka ia makan 4 – 5 potong.

Bagaimana mungkin ia tau bahwa di kota itu makanan itu adalah makanan kelas mewah, dimana hanya sedikit orang kaya, bos besar, saat mereka mengadakan pesta, biasanya memesan makanan itu. (Catatan : Tales dan kentang adalah makanan orang miskin. Dikota itu, menjadi makanan mahal) Orang biasa tidak berani memesannya. Saat orang di restoran itu melihatnya memesan begitu banyak mereka mengira ia orang yang sangat kaya dan mereka melayaninya dengan penuh perhatian.

Selesai makan, bon makanannya adalah 15 keping perak, dan petani itu kaget dan berkeringat dingin. 15 keping perak cukup untuk kehidupannya selama tiga bulan. Petani itu sangat ketakutan dan tidak mau menunjukan kalau ia tidak membawa uang sebanyak itu. Walaupun ia melepaskan semua bajunya dan memberikannya sebagai ganti, jumlahnya masih tidak cukup. Jadi apa yang harus dilakukan? Ia berpikir dan berpikir tanpa hasil, jadi ia memutuskan untuk mencari trik dan merokok dengan pipa rokoknya. Pada saat itu orang menggunakan pipa tanah liat, karena sangat murah dan tidak mudah terbakar. Orang yang membajak tanah tidak dapat menggunakan barang-barang istimewa. Jadi inilah cara yang praktis bagi mereka dan rasanya juga baik. Jadi petani itu mengeluarkan pipa rokoknya , dengan ujungnya yang berbentuk seperti mangkuk. Dimana telah ia gunakan cukup lama, ia gunakan dan merokok sambil berpikir.

Setelah berpikir lama sekitar satu setengah jam, akhirnya ia menemukan cara. Ia pergi ke kasir dan berbicara dengan boss, saat ia merokok, setelah beberapa hisapan, ia menumpahkan debu rokoknya ke lantai. Lalu ia mengambil tembakau kuningnya lagi, mengisi pipanya dengan penuh, mengangkatnya dengan kedua tangannya dan berkata pada boss restoran itu: “Bos, silakan merokok sedikit.” “Terima kasih, terima kasih.” Bos itu menggambilnya, karena it tidak mau memolak permintaan pelanggan besarnya. Ia berpikir: “Pipa seperti itu hanya digunakan orang-orang desa,” Tetapi karena ia tidak tau lagi apa yang harus dilakukan, ia mengambil pipa itu dan mengisapnya. Tetapi tembakaunya terlalu tebal. Ia mengetukkan pipa itu, tetapi masih tidak bisa dihisap. Ia mengetuk lagi lebih kuat, dan pipa itu pecah. Saat bos restoran itu melihat pipa itu pecah, ia melihat petani itu dan berkata: “Maafkan saya memecahkan pipa tembakaumu.” “Oh pipa ini adalah hadiah dari Kaisar Ch’ien-lung, warisan keluarga kami beberapa generasi. Orang memawar pipa itu seratus keping perak dan saya tidak mau menjualnya. Sekarang telah pecah, apa yang harus dilakukan? ”

Bos restoran itu terkejut setelah mendengarkan ini, dan ia berpikir: “Seluruh benda di restoran ini tidak seberharga pipa itu,” Lalu ia berkata dengan suara keras: “Jangan bercanda, pipa seperti itu tidak mungkin bernilai seratus keping perak.” Tetapi petani itu berkata: “Anda yang bercanda, pipa itu diberikan kepadaku oleh kaisar. Bagaimana itu bisa dibandingkan dengan makanan biasa yang kau sebut sebagai “Telur Naga” itu? Itu adalah makanan biasa yang sering kami makan sebagai petani, tales. Bukankah kamu menipu dengan menghargai 15 keping perak untuk semua itu?”

Mereka bertengkar untuk beberapa lama sampai akhirnya petani itu tidak membayar telur naga itu dan boss restoran tidak membayar untuk pipa yang rusak itu. Dan jika ia tidak menerima 15 keping perak, bos itu masih menyimpan 85 keping perak sisanya.

Jamal Senjaya

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 8404


Last modified onSaturday, 08 December 2012 13:08
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1385-kisah--telur-naga-dan-pipa-tanah-liat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto