A+ A A-

Begajul Cilik Wei Xiaobao [3 of 3]

  • Written by  Aris Tanone
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Mengutamakan ‘renqing’ dan ‘yiqi’ adalah ciri khusus masyarakat tradisional Tionghoa, terutama di tingkat rakyat jelata dan masyarakat kelas bawah.Para penguasa menuntut Yuanze (原则) atau ‘prinsip’. Zhong (忠) atau kesetiaan adalah prinsip untuk menaati dan mencintai penguasa. Xiao (孝) atau berbakti adalah prinsip yang menentukan kekuasaan orang tua. Li (礼) atau tatakrama adalah prinsip untuk mempertahankan tatanan sosial. Fa (法) atau aturan hukum adalah prinsip untuk menjalankan aturan yang ditentukan oleh penguasa. Terhadap lapisan penguasa, keempat prinsip Zhong Xiao Li Fa (忠孝礼法) ini adalah kramat dan tidak boleh dilanggar. Kaisar adalah jelmaan negara, jadi antara kata-kata Zhongjun (忠君) atau setia kepada penguasa dan aiguo (爱国) atau cinta negara bisa dikasih tanda sama dengan.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Xiao (孝) atau berbakti asal mulanya adalah sifat alamiah untuk mencintai ayah ibu, tetapi para penguasa agak terlalu menekankan dan membuatnya menjadi suatu simbol kekuasaan untuk tatanan masyarakat yang kokoh. Akibatnya di atas rasa cinta alamiah, masih ditambahkan berbagai persyaratan yang kaku. Gabungan antara xiaodao (孝道, berbakti) dan lifa(礼法 atau menerapkan tatakrama) menyebabkan perasaan segan berada jauh di atas rasa kasih sayang. Dalam sastra tradisional Tiongkok, hasil karya yang menggambarkan kasih ibu banyak sekali sedangkan kasih ayah sangat sedikit. Sebutan untuk ayah adalah Jiayan (家严) atau yang keras (dirumah), sedangkan untuk ibu Jiaci (家慈) atau yang asih (dirumah). Jadi dalam sebutan pun sudah ditentukan ayah keras ibu sayang adalah sifat yang harus ada, seakan-akan sampai sesudah Zhu Ziqing (朱自清)[1]menulis Beiying (背影atau Bayangan Punggung atau bayangan belakang), kita baru punya sebuah kisah menggugah mengenai seorang ayah. Setelah kedua huruf Zhongxiao (忠孝) ini digabung, unsur moral dari Xiao masih ditekankan lagi oleh para penguasa, dan terjadi pemangkasan beberapa unsur yang menyayangkan. Dinasti Han menggunakan dua patokan moral, xiao (孝berbakti) dan lian (廉kejujuran) untuk memilih orang berbakat. Sampai akhir dinasti Qing di awal abad lalu, Juren (舉人atau lulusan ujian provinsi) disebut Xiaolian (孝廉).


Dalam pandangan rakyat jelata, ‘wufa wutian’(无法无天atau tanpa aturan tanpa langit atau Tuhan) masih bisa diterima, bahkan walaupun ‘wufa wutian’ mengandung unsur meremehkan kekuasaan dan aturan, kadang-kadang terasa ada sedikit unsur yingxiong haohan (英雄好汉atau enghiong hoohan, orang gagah) dalam konsep itu. Tapi ‘wuqing wuyi’(无情无义 atau tanpa perasaan tanpa ke-‘satria’-an) pasti tidak ada, dan bakal dikucilkan jauh di luar masyarakat.


Bahkan orang yang ‘wulai wuchi’(无赖无耻atau bajingan tak tahu malu) pun masih bisa punya teman, asal mereka bisa memperhatikan ‘yiqi’.
‘Fa’ adalah aturan politik, ‘tian’ adalah aturan alamiah. ‘Wufa wutian’ (无法无天) berarti tidak patuh pada aturan politik dan aturan alam. ‘Wulai wuchi’ tidak patuh pada aturan masyarakat.


Tapi di dalam masyarakat Tionghoa, Qingyi(情义, rasa kasih dan kehormatan) adalah aturan masyarakat yang terpenting. Orang yang ‘wujing wuyi’ atau tanpa perasaan dan tak punya rasa satria adalah orang yang paling busuk.Orang Tionghoa tradisional tidak terlalu mementingkan prinsip, tetapi sangat mementingkan Qingyi.


6.

Mengutamakan qingyi tentu saja hal yang baik.


Bangsa Tionghoa bisa terus bertambah besar setelah berjalan selama sekian ribu tahun, bisa mempertahankan vitalitas dari awal sampai akhir dalam persaingan hidup, setelah ditindas bangsa asing berulang kali masih tetap bisa bangkit kembali, barangkali ada kaitan besar dengan pengutamaan qingyi ini.


Dari berbagai filosof dalam dan luar negeri sepanjang masa, Kongzi adalah yang paling anti dogma dan mengutamakan kenyataan. Yang dimaksud dengan ungkapan “Sheng zhi shize ye”[2] adalah orang suci yang gampang menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak terlalu formal dan berpaku pada aturan. Kongzi adalah seorang tokoh besar yang bisa cukup mengungkapkan sifat orang Tionghoa. Dasar filosofi Kongzi adalah “ren”( 仁, yang meliputi unsur kasih, bajik, amal dan prikemanusiaan) , yaitu dalam kehidupan nyata sehari-hari bersikap baik terhadap orang lain sehingga bisa tercapai suatu kerukunan bersama dan persatuan dalam berbagai organisasi besar kecil mulai dari rumah tangga, rukun kampung sampai negera. Renqing (人情) atau tenggang rasa antar manusia adalah bagian dari “ren”. Dasar filosofi Mengzi adalah ‘yi’(义keadilan, keadilan, honor dan hak). Itu adalah semua tindakan yang menggunakan ‘layak’sebagai target. Layak di sini berlaku bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Bertindak layak terhadap diri sendiri mudah, yang penting janganlah berlaku tidak layak pada orang lain, apalagi tidak layak pada teman sendiri.


Yang dimaksud “di rumah bergantung ayah bunda, keluar pintu bergantung pada teman”[3] itu begini. Ayah bunda dan teman adalah dua pilar besar dalam perjalanan hidup manusia. Makanya“teman”itu setara dengan hubungan “raja kawula, bapak anak, kakak adik, suami istri”yang merupakan satu komponen dari ‘wu lun’[4] yaitu lima hubungan pokok manusia. Di masyarakat barat, Persia dan India, tidak ada yang mengangkat hubungan ‘teman’ sampai kedudukan setinggi ini. Mereka lebih mengutamakan hubungan agama, dewa dan manusia.


Kalau sekelompok manusia bersatu dalam harmoni, bertindak penuh kasih, maka sewaktu ada perubahan di lingkungannya mereka bisa mengambil tindakan yang layak untuk menyesuaikan diri. Kelompok seperti ini, kalau bertempur dengan kelompok lain, segala urusan bakal lancar, mampu bertahan dan sering menang. Dahulu kala banyak sekali bangsa yang punya satria pemberani, organisasi ketat, berdisiplin tinggi, berjuang sekuat tenaga tetapi akhirnya satu persatu menghilang dalam sejarah dan tidak terlihat lagi jejak bayangan mereka. Persoalan utama masyarakat mereka adalah kurangan daya lenting, kurang fleksibel. Masyarakat yang tidak fleksibel menjadi masyarakat mayat kaku. Sedahsyat dan sehebat apapun mayat kakunya, akhirnya akan tumbang juga.

Aris Tanone

Tulisan ini terdiri dari tiga bagian dan ini adalah bagian terakhir.

[Bagian 1] [Bagian 2] [Bagian 3]

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

[1] Zhu Ziqing (1898 – 1945), pengarang asal Yangzhou, Zhejian.
[2] 圣之时者也. James Legge menterjemahkan julukan yang Mencius berikan kepada Confusius ini dengan “Confucius was the timeous one.” http://simple.ishwar.com/confucianism/holy_mencius/part_19.html
[3] 在家靠父母,出门靠朋友
[4] 五伦 lima hubungan pokok.

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/140-begajul-cilik-wei-xiaobao-3-of-3

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto