A+ A A-

Catatan Akhir Novel Xiao Ao Jiang Hu

  • Written by  Aris Tanone
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net|Barusan saya taruh lagi Catatan Akhir beberapa novel Jin Yong, termasuk Xiao Ao Jiang Hu di situs terjemahan saya. Bahan-bahan ini adalah hasil terjemahan saya buat sharing bersama-sama teman-teman di milis tjersil. Berikut ini saya copykan beberapa alinea dari Catatan Akhir Xiao Ao Jiang Hu ini. Kalau anda tertarik baca lanjutannya, silahkan lihat ke sini: http://home.hiwaay.net/~atanone/Terjemahan/xajh1.htm . Satu catatan, semua footnotes yang ada tidak ada di naskah asli. Semua catatan itu saya kumpulkan agar memudahkan teman-teman waktu membacanya. Oleh sebab itu kalau ada koreksi dan saran, seperti biasanya, saya akan terima dengan senang hati.   Salam,   Aris.

 

Artikel Terkait :

{module [201]}

Catatan Akhir Xiao Ao Jiang Hu.

Oleh: Jin Yong.

Cerdik cendekia dan ksatria perkasa pada umumnya adalah orang yang aktif berupaya untuk maju.

Dari tolok ukur moral mereka terbagi atas dua kategori. Bila tujuan segala upaya mereka demi kesejahteraan banyak orang mereka dianggap orang baik. Sedangkan yang hanya mengutamakan kekuasaan, nama, kedudukan, kepuasan material dan merugikan orang lain dianggap orang jahat. Orang baik atau orang jahat masih ada lagi kalibernya. Ini ditentukan dari derajat kebajikan dan kerugian serta jumlah orang yang menikmati atau menderita akibat tindakan mereka.

Di bidang politik, lebih banyak waktu di mana orang jahat yang berkuasa sehingga selalu ada saja orang yang berupaya ingin menggantikannya; ada lagi yang ingin melakukan reformasi; adalagi orang yang tidak menaruh harapan pada reformasi dan tidak ingin ikut bergabung untuk ikut rusak bersama penguasa. Tujuan mereka adalah keluar dari pusaran pertarungan dan melakukan kebajikan. Makanya selalu saja ada pihak penguasa, pihak pemberontak, pihak reformasi dan para resi (pertapa).

Pandangan tradisional Tiongkok menganjurkan orang untuk “berprestasi dalam sekolah kemudian berbakti dalam pemerintahan”, mengikuti Kongzi (Confusius) yang “sudah tahu mustahil tetapi tetap berusaha untuk menyelesaikan”. Tetapi mereka juga punya penilaian tinggi terhadap para resi, menganggap mereka bersih dan terhormat. Para resi tidak mempunyai kontribusi aktif pada masyarakat, namun tindakan mereka tentu berbeda dengan para perampas kekuasaan dan memberikan suatu teladan yang lain. Orang Tionghoa juga mempunyai tuntutan yang lebih lunak dalam bidang moral. Sejauh tidak merugikan orang lain itu sudah dianggap orang baik.

Dalam Lunyu (The Analects of Confusius) tercatat berbagai pertapa, Chenmen[1], si gila dari negeri Chu - Jieyu, Changju, Jieniao[2], Paktua pembawa galah[3], Boyi, Shuji[4], Yuzhong[5], Yiyi, Zhuzhang, Liu Xiahui, Shaolien dan sebagainya. Kongzi sangat menghormati mereka walaupun tidak menyetujui tingkah laku mereka.


[1] Nama-nama ini kebanyakan bukan nama sebenarnya. Chenmen misalnya adalah penjaga pintu kota, Jieyu berarti mendekati kereta. Nama-nama itu digunakan saat murid-murid Confusius menyusun Analects. Ada beberapa yang tidak bisa ditelusuri lagi nama asli seperti catatan 2-5.

[2] Ada yang menganggap Changju (長沮) dan Jieniao (桀溺) sekedar julukan berarti si tinggi dan si kekar dari sungai dan bukan nama asli.

[3] Di berbagai situs Internet, hanya ditulis yang berarti荷丈人(He Zhangren) atau pak tua He, tetapi dibukunya Jin Yong, Xiaoao Jianghu (3rd ed., 15th printing, Yuanliu Publ., Taipeh, Taiwan, 2002) yang saya baca, Jin Yong menulis 荷蓧丈人(Hodiao Zhangren). Rupanya huruf diao ini adalah huruf langka dalam versi elektronik.Hodiao Zhangren artinya pak tua yang memikul sesuatu disebilah galah.

[4] Boyi (伯夷)dan Shuji(叔齊) adalah dua kakak beradik yang hidup di akhir zaman dinanti Yin  (sekitar 1000 SM) atau dikenal juga sebagai Shang period (1600 – 1066 SM).

[5] Yuzhong (虞仲), putra kedua raja Zhou Taiwang (周太王). Sedangkan Yiyi (夷逸) dan Zhuzhang (朱張)sejauh yang saya tahu tidak ada catatan resmi mengenai mereka. Sedangkan satu-satunya catatan mengenai Shaolien (少連) mengacu bahwa dia adalah orang dari Dongyi. Liuxia Hui (柳下惠) adalah orang bijak dari negeri Lu di zaman perang () yang bernama Zhanqin (展禽) alias Ziqin (字禽). Karena tinggal di kota Liuxia, dan terkenal karena welasasih (惠) maka dipanggil Liuxia Hui atau si bijak dari Liuxia. Beberapa nama ini muncul dalam terjemahan Analect tanpa catatan kaki.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1415-catatan-akhir-novel-xiao-ao-jiang-hu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto