A+ A A-

Kisah : Perjalanan Esok Lebih Berat

  • Written by  Liauw Kok Meng
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

"Santai aja, hari masih panjang"
"Ahhh, tugas itu nanti aja dikerjain"
"Lambat asal selamat"
"Lebih baik kita ke Mal dulu"
"Dasar, sok rajin lo"

Budaya-Tionghoa.Net | Pernahkah Anda mendengar kalimat-kalimat diatas, setidaknya saya sudah pernahmendengarnya. Kata-kata diatas mencerminkan citra diri orang yang mengatakan. Terserah penafsiran Anda baik positif maupun negatif. Saya sangat menyadari bahwa kalimat-kalimat diatas begitu merefleksikan cara berpikir generasi muda dan masih membudaya sampai sekarang.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Mungkin Anda pernah mendengar lagu iklan coklat, "Mumpung kita masih muda, santai saja". Ya, kata santai , mangapa dengan santai?. Ada masalah dengan kata santai?. Teman, santai telah dijadikan komoditas untuk memalaskan diri kita. Kata santai adalah pelarian dari jiwa-jiwa yang terkungkung karena ketidakberdayaan menghadapi masalah. Santai begitu memiskinkan potensi kita sebagai pemuda.

Teman, dapatkah Anda memandang ke depan sana ? Maksud saya 20 tahun ke depan akan seperti ? Sudah pasti akan tumbuh uban, tubuh semakin reot, wajah keriput, dan berbagai penyakit mulai menyerang . Dapatkah Anda menilai kehebatan daya dan nilai kemanfaatan tubuh itu sebaik sekarang saat kita masih muda. Banyak orang tua yang menyesal karena waktu luangnya tidak diperginakan dengan baik.

Sekarang saat mereka mencari ilmu mereka dilanda halangan-halangan yang tidak mereka dapatkan semasa muda. Dari situ, apakah masih terngiang kata "Yuk, santai aja masih ada hari". Sampai kapan kata santai terus menerus menempel di otakkita sementara waktu terus berjalan dan kita tiada mendapat apa-apa yang bermanfaat.

Dapatkah anda jawab kapan kata santai itu hilang dari otak Anda? Kalau Anda tidak dapat menjawabnya maka dapat dipastikan anda menderita kecanduan santai dan memori Anda. Mungkin lebih baik menggunakan kata istirahat .
Beristirahatlah. Sebagai contoh istirahatkan otak Anda. Jangan terus-menerus diintensifkan penggunaannya. Untuk menjaga stabilitas keamanan otak bukan hanya dengan tidur tetapi dapat mengunakan musik slow, beberaapa menit kembali memfungsikan otak anda atau bisa juga diiringi.

Saya dan Anda, dan yang mengaku manusia perlu istirahat. Tentunya, antara
istirahat dan produktivitas saling menguatkan. Dan juga produktivitas akan lebih mantap bila waktu istirahat memang dirasakan berkualitas. Ada seorang rohaniwan yang tidur dalam sehari hanya 10-20 menit sehati. 10-20 menit benar-benar digunakan untuk tidur. Percaya atau tidak saya juga pernah merasakannya. Namun, ada juga yang berkata bahwa tidur minimal 6 jam, ini sebenarnya tingal bagaimana kita membiasakan dri kita. Kalau kita terbiasa bertahun-tahun tidur dari jam 10 malam dan sudah terbiasa bangun jam 10 siang, ya sulit kalau masih memakai standar tidur 6 jam terpuaskan. Sekali lagi, mengantung kebiasaan.


Sadarkah bahwa semakin hari tugas kita akan semakin menumpuk. Jangan Anda anggap
bahwa hari esok adalah hari spesial Anda. Dengan kesadaran kolektif santai maka dapat dipastikan bahwa negeri kita akan semakin tertinggal. Kita kembali akan menelan pil pahit. Menjadi budak negeri sendiri. Tak pernah kita meluangkan waktu kita merenung, berpikir untuk membuat sesuatu yang inofativ. Selalu saja kita putus asa. Bagaimana negeri ini akan bangkit bila Anda berjuan hanya melalui suara, demonstrasi di jalan-jalan, popularitas, dll? Negeri ini akan bangkit bila solidaritas yang diagung-agungkan bukan sekedar turun di jalan.

Jangan salah artikan kata solidaritas. Paradigma sempit ini justru akan memperlambat produktivitas kita. Untuk itu, bisa dikatakan bahwa semakin hari perjuangan akan memberat. Tidak ada yang spesial buat hari esok, yang ada hanya cinta, kasih saying, perjuangan, dan pengorbanan. Itulah hidup, hidup yang sejati, hidup yang penuh makna, dan hidup yang membuat kita tersenyum di hari tua


Kulukis cita-citaku dikertas putih

Sesuatu yang sederhana

Mangenai aku dan masa depan


Memang bukan sesuatu yang besar

Tetapi bermakna besar

Besar, bukan sebesar bumi ini

Besar, mengandung nilai dan makna


20 tahun kulewati hari

yang dibelakang tinggal sejarah

Yang didepan butuh rencana

Namun yang terpenting adalah yang ada didalam diri

Untuk esok yang lebih baik.



Entah berapa tahun lagi aku hidup

Aku coba buat karya sebelum maut menjelang

Karya yang membuat Yang Kuasa mengampuni dosa-dosaku

Karya yang sungguh-sungguh berarti untuk umat

Bukan sekedar materi dan popularitas


Aku tidak sendiri

Mereka yang dibawah butuh pertolongan

Aku tidak ingin egois

Karena aku diberi peluang oleh-Nya untuk membantu mereka

Selain itu, aku pernah rasakan apa yang meraka rasakan



Begitulah dinamika hidup

Aku berharap kita bisa berjuang bersama-sama

Aku tidak mungkin melakukan sendiri

Membangun solidaritas yang dilandasi

Cinta, kasih sayang, perjuangan, dan pengorbanan

Demi mewujudkan peradapan mulia


Liauw Kok Meng 2036
Cikarang, 12 april 2004

Saat aku merenung mempertanyakan kebaradaanku, 22.50

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Photo : Via sidschwab.blogspot.com


Last modified onMonday, 07 January 2013 00:28
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1436-kisah--perjalanan-esok-lebih-berat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto