A+ A A-

Legenda : Mengenai Ambisi Dan Kematerialan Manusia

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Di sini kuceritakan sebuah legenda Tiongkok mengenai ambisi dan kematerialan manusia. Karangan ini asalnya ditulis oleh Jiang Yingke dalam abad ke limabelas yang aku pernah baca dari buku Äncient Chinese Fables”.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Di kaki gunung Hefu terdapat sebuah tempel didedikasikan untuk nenek Wang Po. Orang tidak mengetahui kapan nenek Wang itu hidup, tetapi orang mengatakan bahwa beliau hidup berjualan arak yang dibuatnya sendiri. Para pedagang yang berjalan jauh mampir untuk menghilangkan capainya sambil menikmati araknya dan makan kecil.

Cerita mengatakan selanjutnya bahwa ada seorang pendeta taoist yang sering datang untuk minum araknya tanpa membayar, dan nenek Wang rupanya tidak berkeberatan sedikitpun tentang kedatangan pendeta ini.

Pada satu hari pendeta itu berkata : Bu Wang, aku sering datang kemari dan minum arakmu tanpa membayar sesenpun. Untuk bertrima kasih aku akan memggali sumur untukmu” Sambil berbicara pendeta taoist itu mengunakan kepandaiannya membuat suatu sumur dan ternyata sumur itu berisi arak yang paling enak rasanya. Pendeta itu berkata sambil soja (menyembah):”Inilah bayaranku pada ibu, banyak trima kasih atas kebaikan ibu.” Lalu pergi dengan bersenyum.

Ibu Wang tidak perlu lagi membrewed (membuat) arak lagi, beliau setiap hari mengambil sebanyak-banyaknya arak itu dari sumur itu dan tidak pernah kehabisan. Banyak orang berbondong-bondong untuk beli araknya yang terkenal enak sampai diluar daerahnya. Dalam jangka waktu tiga tahun ibu Wang menjadi kaya.

Pada suatu hari pendeta itu datang  di toko arak ibu Wang, dan beliau mengucapkan banyak trima kasih atas budi kebaikan pendeta taoist ini. Pendeta itu bertanya:” bagaimana penjualan arak ibu?” Ibu Wang menjawab dengan ketawa:”sangat baik, hanya aku kekurangan endapan arak untuk makanan babiku.”

Pendeta itu ketawa dan menulis sebuah poem didinding yang dibaca sebagai berikut:


Langit itu tinggi
Tetapi tidak setinggi keinginan manusia
Air sumur dijual sebagi arak
Tokh masih kekurangan endapan buat makanan babinya!



Pendeta itu lalu pergi dan sumur itu tidak lagi memberikan arak.



Dr. Han Hwie-Song
Breda 18-11- 2004 (Belanda)

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua 8951


 

Last modified onSunday, 06 January 2013 23:23
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1438-legenda--mengenai-ambisi-dan-kematerialan-manusia

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto