A+ A A-

Pahlawan Kota Sungai Liat

  • Written by  May Teo
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Tidak banyak yang tahu dimana letaknya kota Sungailiat. Sungailiat adalah sebuah kota kecil di pulau Bangka yang sekarang telah menjadi sebuah propinsi, dibagian ujung selatan pulau besar Sumatra.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Kedua orangtuaku dilahirkan di Sungailiat, demikian juga orangtua mereka dan orangtua mereka sebelumnya.

Pertamakali mengunjungi Sungailiat, aku baru berusia sekitar enam tahun. Pada ketika itu, aku diajak ibu melawat kesana, yang baginya berupa perjalanansentimental penuh dengan pahit getir memori, sebagaimana biasanya denganperjalanan balek kampung.

Ibu menikah ketika berusia lima belas tahun, baru naik remaja. Sebuah perkawinan yang dijodohkan oleh orangtua masing-masing. Suatu kebiasaan yang membudaya padamasanya.

Malangnya, laki laki yang dikawininya adalah seorang sadis dan pemalas. Ditambah lagi dengan kesukaannya berjudi, seringkali menagih uang dari ibu untuk membayar  hutang dan berjudi lagi. Kalau tidak diberi, ianya berlaku kasar, bahkan menjadi violent, kaki menendang, tangan menampar.

Ibuku dilahirkan dalam keluarga sederhana, dalam arti kata tidak hidup dalam kemewahan, tapi juga tidak merana kekurangan makanan. Lain halnya dengan ayahku yang berasal dari keluarga kaya, karena ayahnya seorang Kepala parit. Ayahnyaibu bekerja sebagai buruh dipertambangan timah, parit panggilan bahasa lokalnya. Sedangkan ibunya berasal dari campuran darah dari rumpun Melayu.

Seperti juga dengan ibunya ibu, yang kami panggil Apho Chen, karena dari keluarga Chen, ibuku berpakaian sarung kebaya dan rambutnya bersanggul sepanjang hidupnya, sama dengan penampilan wanita Melayu lainnya.

Ibu berpembawaan sangat rajin, disamping bekerja mengurus rumah tangga sehari- hari seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya, ia juga sangat kreatif, belajar sendiri menjahit kebaya dan bordir sulam. Karyanya sangat indah dan banyak yang menyukainya. Semua pekerjaan jahit menjahit dan menyulam dilakukan pada malam hari, terkadang sampai larut malam. Dari penjualan bahan jahitannya, sedikit
demi sedikit ibu dapat menabung, dan uang simpanannya dibelikan gelang kalung emas. Barang kemas itu berupa hasil jerih payah usahanya sendiri. Dengan rasa bangga, barang-barang itu dibalutnya dengan kain sutera, lalu disimpan dibagian bawah laci meja yang berkunci.

Pada suatu hari ibu membuka laci itu untuk menambah koleksi barang kemas yang baru dibelinya dikedai emas. Alangkah terkejutnya ia ketika didapati bungkusan sutera itu sudah tidak berisi lagi. Hilang. Seluruh usaha yang dilakukannya dengan susah payah hilang tak berbekas.

Pertengkaran pun terjadi. Ibu menuduh suaminya mengambil barang simpanannya tanpa permisi. Mencuri itu, kata ibu dengan penuh kemarahan. Sebaliknya sang suami dengan galak mencela ianya menyembunyikan harta benda yang menurutnya adalah haknya juga. Seperti biasa, pertengkaran mulut dengan lekas menjadi tumbukkan yang bertubi-tubi. Babak belur badan ibu ditonjok dan ditendang.

Kejadian tersebut diatas berupa suatu nisan pengukur jalan, dimana ibu mengambil keputusan untuk keluar dari perkawinan yang berupa rumah siksa orang tahanan.

Ibu melarikan diri ke Jakarta membawa dua orang anaknya dari perkawainan itu. Disitu ia bertemu dengan ayahku, yang juga sudah dikenalnya dari Sungailiat. Ketika itu kebetulan ayahku juga berstatus duda. Berdua mereka saling membantu dan memberi perlindungan dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya mereka
mendirikan rumah tangga bersama. Apakah pertemuan mereka di Jakarta sudah direncanakan ketika mereka masih berdiam di Sungailiat, atau memang kebetulan ketemu lagi karena diatur oleh perjalanan nasib, aku kurang tahu.

Tapi betapa pun gagah dan beraninya ibu menantang budaya masyarakat, terlebih pula pandangan picik masyarakat kota kecil seperti Sungailiat, dengan membebaskan diri dari cengkraman perkawinan yang ganas dan penuh dengan tindasan, namun dalam hati kecilnya terasa juga sesuatu ganjelan yang perlu dihadapinya. Maka setelah suaminya yang pertama meninggal, ia pun berkepentingan pulang mengunjungi Sungailiat, untuk bertemu kembali dengan sanak keluarga. Ibu kembali kekampung halamannya untuk menutup lembaran buku sejarah hidupnya di Sungailiat yang terpaksa ditinggalkannya dengan tergesa-gesa beberapa tahun yang lalu.

Aku, sebagai anak sulung dari perkawinannya yang kedua, diajak serta dalam ziarah kunjungan itu.

***



Kunjungan itu berupa sebuah pengalaman yang tak terlupakan.


Itulah pertama kalinya aku bertatap muka dengan rumpun keluargaku sendiri. Sebelumnya, karena dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta, aku belum pernah berhubungan dengan sanak keluarga jauh, selain kakak dan adik.

Di Sungailiat, ternyata seluruh warga kampung dan kota terdiri dari sanak keluargaku! Mereka semuanya terjalin hubungan keluarga dengan diriku melalui satu dan lain sisi, yang katanya berasal dari seorang buyut yang sama. Waah, ini berupa suatu kesadaran yang luar biasa menakjubkan. Tapi karena ketika itu aku masih kecil sangat, kenyataan itu belum dapat aku insyafi dalam suatu persepsi yang luas mendalam. Aku hanya dapat merasakannya sebagai sesuatu yang luar biasa, terheran-heran, bahkan sangat membingungkan. Rata-rata semua orang disekeliling tahu aku siapa, sedikitnya mereka tahu aku ini anak siapa, cucunya siapa, keponakan siapa, saudara sepupunya siapa dan seterusnya. Sedangkan aku sama sekali tidak tahu menahu mereka itu siapa. Seakan berada dalam sebuah ruangan bercermin dua hala, orang didalam tidak dapat melihat keluar, tapi yang diluar dapat melihat kedalam. Dan aku berada didalam ruang itu.

Namun aku diperlakukan dengan sangat ramah, sekalipun terkadang merasa dibuat sebagai tontonan. Perasaan itu sangat merisihkan jiwa kanak-kanakku.

Kami tinggal dirumah kakaknya ibuku. Sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang sangat luas. Dibelakang rumah ada perkebunan karet, berupa harta warisan dari kakek moyang yang dapat digarap hasilnya. Sehabis hujan, banyak sekali jamur yang bertumbuhan disekitar kaki pohon-pohon karet. Jamur itu kulat panggilan bahasa lokalnya, sangat disukai oleh masyarakat setempat, terkenal dengan lempa kulat, masakan khas Bangka. Disamping itu, ada lagi makanan khas setempat yang terkenal, wak wak panggilannya. Wak wak itu sebenarnya adalah cacing laut, panjang sekitar satu setengah meter yang setelah dikeringkan, lalu digoreng. Rasanya sedap seperti kerupuk.

Disebelah kanan rumah, berjarak sekitar seratus meter, terdapat sebuah aliran mata air. Kami anak-anak sering mandi bermain air disitu. Airnya bening sejuk, di kelilingi oleh pepohonan dikedua belah tebing. Seringkali sekumpulan ikan- ikan kecil datang berenang dipinggir tebing yang penuh dengan lumut, mungkin mencari makanan. Sebagai anak kota Jakarta yang hanya tahu kolam renang Manggarai dengan air yang berbau obat kimia dan pedih mata berenang lama disitu, adanya kolam alam disamping rumah itu terasa sangat berkesan sekali.

Suatu hari, seorang kemenakan datang mencariku, ia mengatakan ada sesuatu yang ingin ia perlihatkan. " Mari ikut aku," serunya. Aku bersama dengan beberapa anak-anak lainnya yang sebaya usia, beramai mengikutinya. Kami dibawanya kebagian belakang rumah. Disitu terdapat sebuah kolam ikan berukuran sekitar dua meter, lumut hijau tumbuh disekeliling tembok kolam itu. Airnya kumuh butek.

Disitu kemenakanku itu berhenti. Kami pun turut berhenti. Lalu ia menurunkan lengan kirinya kedalam kolam tersebut. Dengan cepat dikeluarkannya lagi lengannya. Nampak seekor ikan belut panjang serupa ular bergeliat dalam genggamannya. Melihat itu, aku terkejut tidak kepalang. Mundur setapak, aku berteriak kecil. Lalu, belum lagi hilang rasa terperanjat, dengan pesat, tangan kanannya mengacu sebuah parang tajam, lalu dipenggalnya kepala ikan yang ketika itu masih bergelipar seluruh badannya. Darah merah muncrat menyembur keluar dari bagian kepala yang sudah tidak berada disitu lagi, segera disodorkan bagian badan ikan yang tak berkepala itu kemulutnya, disedot dan ditelannya darah itu mentah-mentah.

Setelah itu, ia tersenyum lebar sambil menggosok bekas ciciran darah disekitar mulut dengan belakang tangannya. Ia berdiri bertekan pinggang, memandang kearahku dengan bangganya, menunggu kata pujian dariku. Mulut menganga, mata melotot, namun aku tidak mampu mengeluarkan kata sepatah pun. Pandangan gelap, kepala terasa berputar, tak sadar lagi apa yang terjadi disekeliling. Aku pingsan, jatuh terbaring tak ingat orang.

***



Pada masa penjajahan Belanda, pulau Bangka adalah produsen timah yang terbesar
didunia.

Sejak abad ke delapan belas, telah diketahui adanya kandungan timah di Bangka, yang kemudian ditemukan juga mineral itu di daerah kepulauan sekitarnya, seperti Belitung, Singkep, Karimun dan Kundur. Pada tahun seribu sembilan ratus dua puluh, pemerintah Belanda mulai melakukan kegiatan penambangan timah sebagai suatu operasi industri. Pada masa itu, demi menopang industry pertambangan yang demikian besar, diperlukan tunjangan tenaga kerja yang memadai. Untuk kepentingan ini, pemerintah Belanda telah mendatangkan banyak tenaga kerja kasar dari Tiongkok daratan. Permintaan untuk pekerja-pekerja kuli ini ditangani oleh sebagian kontraktor orang Tionghua yang bekerjasama dengan pertambangan timah setempat.

Para pekerja terdiri dari petani miskin yang menjadi lebih sengsara lagi hidupnya dengan adanya musim kemarau yang berkepanjangan, diselingi dengan terjadinya air bah yang melanda. Rakyat disekitar pedesaan berduyun-duyun datang kekota, dengan harapan mendapat pekerjaan ataupun sedekah. Akhirnya, tidak sedikit yang terperangkap dalam dunia kriminal. Ini terjadi pada pemerintahan kerajaan Qing Dynasty, dimana para elite yang memegang kekuasaan hanya mencurahkan perhatian demi menumpuk kekayaan pribadinya dan mengokohkan posisi dengan segala daya upaya, tidak mempedulikan nasib rakyat jelata yang terlantar. Korupsi merajarela dan kemiskinan menjalar luas. Tidak ada bekal makanan, rakyat miskin dipedesaan terpaksa makan kulit pohon kayu dan sebagian menjual anak-anak mereka kepada keluarga orang berada demi menyambung nyawa.

Dalam keadaan buruk seperti ini, para petani miskin dengan rela bersedia meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di Nan Yang, yang berarti daerah Lautan Selatan, termasuk Indonesia. Bagi mereka, Nan Yang dengan iklim cuaca lunak ramah, dan adanya pekerjaan yang tersedia, berupa satu satunya kesempatan hidup yang terbuka. Mereka bersedia bekerja berat, membanting tulang demi sesuap nasi, juga dengan harapan pada suatu hari dapat menabung, dan mengirim uang kepada sanak keluarganya dikampung. Mereka sama sekali tidak mampu membeayai ongkos perjalanan, maka para calo kontraktor buruh bersedia membayar ongkos beayanya atas perjanjian mereka harus bekerja pada majikan masing-masing untuk seumur hidup. Bayangkan, alangkah tidak manusiawinya nasib yang mereka hadapi. Demi semangkok nasi, mereka terpaksa menjual kebebasan diri sendiri untuk sepanjang hayatnya!

Di Bangka, mereka dipekerjakan sebagai kuli kasar di pertambangan timah di Sungailiat dan perkebunan lada di Mentok. Sebagai pendatang baru, secara keseluruhan, mereka disebut Sin Khe yang dalam bahasa Tionghua berarti Pendatang Baru. Ini demi membedakannya dengan komunitas Tionghua yang lahir dan sudah berdiam lama beberapa generasi ditempat, biasanya disebut Tionghua Peranakan.

Para pekerja Sin Khe ini diperlakukan sangat kejam oleh Kepala parit di pertambangan dan juga di perkebunan dimana mereka bekerja. Salah sedikit, mereka dimaki, ditendang, bisa juga diikat, ditelanjangi dan disabet dengan sambuk yang terbuat dari sabut kelapa berjarot hingga darah mengalir dari luka menganga. Teriakan meratap menjerit kesakitan dari para buruh pertambangan yang disiksa sering terdengar memecah malam kelam. Pilu hati barang siapa pun mendengarnya. Sebagai manusia yang sudah hilang kebebasan, mereka diperlakukan lebih parah daripada binatang peliharaan.

Dalam kedudukan social, masyarakat Sin Khe juga dipandang rendah oleh masyarakat Tionghua Peranakan yang sudah lama berdiam dilokasi. Jadi diantara komunitas Tionghua, sekali pun satu ras satu bangsa, juga terjadi perbedaan status. Orangtua Tionghua Peranakan misalnya, tidak akan merestukan anaknya kawin dengan anak dari keluarga Sin Khe. Maka, yang namanya diskriminasi itu tidak hanya terdapat antara ras dan agama yang berlainan, tapi juga terdapat dalam ras yang sama tapi berlainan jenjang status social dan ekonomi. Lain dengan air yang selalu mengalir kebawah, manusia selalu menjangkau keatas.

Zaman berputar, manusia pun berubah, pasang surut silang berganti, dan kedudukan ekonomi masyarakat Sin Khe berangsur baik. Adanya latar belakang pahit getir pengalaman hidup, bagaikan baja yang ditempa barak api kehidupan telah melatih mereka berkemauan keras untuk maju, Ditambah dengan kebiasaan irit dan rajin, ciri budaya yang dibawanya dari tanah leluhur. Kebiasaan yang juga berhubungan dengan hidup dialam empat musim, dimana manusia perlu senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Kepandaian dan ketekunan mereka berusaha jauh melebihi masyarakat Tionghua Peranakan pada umumnya. Dengan perubahan yang terjadi, jenjang social ekonomi mereka dengan sendirinya menjulak tinggi, pandangan sempit diskriminasi terhadap mereka juga jadi mencair. Dan kawin campur antara kedua rumpun masyarakat pun sering terjadi.

***



Pada zaman revolusi, banyak masyarakat Tionghua asal Bangka yang turut serta barisan nasional menggempur kolonial Belanda bersama putera daerah lainnya dalam mendirikan dan melindungi keutuhan Republik Indonesia. Satu antara sosok yang sangat terkenal adalah Tony Wen atau Boen Kin To nama aslinya. Ia dilahirkan dalam keluarga berada. Ayahnya seorang Kepala parit pertambangan timah di Belitung. Ia disekolahkan ke Tiongkok oleh orangtuanya. Sekembalinya ke Indonesia, mengajar sebagai guru olah raga di Sekolah Menengah Pak Hwa di Jakarta, sebuah sekolah yang didirikan atas sumbangan dana dari para pengusaha Tionghoa setempat pada ketika itu. Sekolah ini berhaluan nasionalis. Pada tahun- tahun seterusnya, dengan terjadinya perubahan besar besaran dengan terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok ( RRT ), dengan segala perubahan politiknya, Sekolah Pak Hwa yang berhaluan nasionalis cenderung mengarah ke Taiwan, sedangkan Sekolah Menengah Pah Chung, yang juga didirikan atas sumbangan para pengusaha masyarakat Tionghoa setempat, mengarah kehaluan kiri, mendukung RRT. Kedua sekolah itu berlawanan posisi dan haluan. Ada pendukung massanya masing-masing, termasuk pendukung koranya tersendiri. Sering sekali mengadakan polemik dimedia, saling mengkritik bahkan mencaci maki menurut pandangannya masing-masing.

Kembali kepada cerita Tony Wen, disamping kegemarannya dengan dunia olah raga, dimana ianya banyak mengambil peran dalam berbagai organisasi yang berhubungan, ia juga seorang pemainan sepak bola nasional yang sangat handal. Gesit dan cergas dalam pertandingan. Perawakannya gagah ganteng penampilannya rapih, tata bahasanya ramah dan teratur mencerminkan latar orang terpelajar, ditambah dengan kumis ala Errol Flynn bintang filem Hollywood tenar, dan senyum murah yang menggiurkan, Tony Wen berupa sosok nasional yang sangat digemari ramai. Ia banyak menyibukkan diri dalam menggalang masyarakat Tionghoa menunjang kegiatan revolusi dibawah bendera nasionalis bimbingan Bung Karno. Pada tahun 1952 ia diterima menjadi anggota PNI, 1954 duduk di Kabinet Interim Demokrasi dan pada tahun 1955 pernah duduk di Kabinet Ali Sastroamidjojo. Ketika ia meninggal pada tahun 1956, banyak sekali sanak saudara dan teman seperjoangan datang memberi kehormatan yang terakhir kerumahnya di Jalan Jawa, Jakarta.

Namun, disamping beberapa sosok high profile elit politik Tionghoa yang sangat terkenal pada ketika itu, masih banyak lagi putera Sungailiat yang menyatukan diri dengan perjuangan kemerdekaan, yang pengalamannya tidak banyak diketahui umum, selain sanak keluarga terdekat. Karena mereka bekerja dibawah tanah jalur rahasia clandestine, tidak terlihat oleh masyarakat ramai. Namun pengabdian mereka kepada negara tidak kurang pentingnya daripada mereka yang mendapat kesan glamour dipandangan umum. Nama-nama seperti Liong Min Loy, Yap Foeng Boei, Tjoeng Kioen Lioeng, Lie Kwet Tjin dan banyak lagi lainnya, berupa serangkaian putera asal Sungailiat dan Bangka lainnya yang pernah bekerjasama, bersatu dengan pemerintahan Republik di Yogyakarta.

Dalam menunaikan tugas, mereka sering mengadakan perjalanan ke Surabaya yang pada ketika itu juga berada dibawah kekuasaan Republik. Dimana keadaan mengizinkan, perjalanan dilakukan dengan kereta api, namun demi mengalihkan perhatian dan juga penggeledahan sepanjang jalan, sering kali perlu berhenti di kota-kota kecil, dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki atau naik sepeda, melalui desa dan sawah ladang pada malam hari, berselubung sehelai sarung menahan dingin. Sebagian dari mereka ada yang diberi pangkat kapten oleh kekuasaan militer pada waktu itu. Dan untuk melindungi diri dari serangan mata- mata Belanda yang banyak berkeliaran, mereka juga membawa senjata api berupa revolver dalam menjalankan tugasnya yang berbahaya.

Tugas pokok utama yang diemban adalah melakukan barter trade dengan Singapura, yang ketika itu masih dibawah pemerintahan Inggeris. Pengadaan logistik perang berupa misi terpenting dalam tugas yang diemban. Mereka membawa barang komoditi berupa biji timah dan merica ke Singapura, untuk dibarter dengan senjata api, juga obat obatan yang sangat diperlukan. Dan setelah itu, kembali lagi ke tanah
air menyerahkan bahan barter tersebut kepada pihak tentara Indonesia yang sangat membutuhkannya dalam operasi militer melawan musuh.

Dalam menjalankan tugas ke Singapura, mereka menggunakan perahu motor kecil dengan single propeller engine, menantang ombak laut yang ganas menyembur, melintangi Selat Malaka, menembus rintangan blokade Belanda. Sekali-kali menyerok air laut yang menyusup tergenang dilantai perahu. Mereka berlayar
dibawah tirai malam gelap gulita yang dipatroli ketat oleh pasukan musuh, siap sedia menyapunya dengan senapang mesin. Namun dengan hati teguh badan bergigil kedinginan, mereka telusuri lautan lepas, dibawah kelipan bintang dilangit, bertarung dengan nasib, bertaruh nyawa dibadan.

Dari semua kenyataan ini, tidak dapat diingkari lagi adanya komitment yang tinggi dari masyarakat Tionghoa umumnya dalam perjoangan kemerdekaan melawan jajahan Belanda. Dalam kapasitas masing-masing, mereka telah menjinjing lengan mengangkat senjata berjoang bersama dengan tentara Republik Indonesia dan putera daerah lainnya.

Dibawah porak-poranda suasana perang, banyak lagi pengalaman gagah berani dari masyarakat Tionghoa pada masa itu yang tidak tercatat dalam arsip negara. Tapi tentunya tidak menutup kenyataan adanya keterlibatan dan pengorbanan masyarakat keturunan Tionghoa dalam perjoangan merebut kemerdekaan. Keterlibatan yang menyatukan seluruh warga Indonesia dibawah panji nasional: Bhineka Tunggal Ika, dan Soempah Pemoeda: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.

Direkam tidaknya dalam arsip sejarah, pengalaman perjoangan yang tertera dalam tuturan diatas, bagiku, mereka adalah pahlawan nasional sejati sepanjang masa dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

Sungailiat kota pahlawan, dimana orangtuaku dan orangtua mereka sebelumnya dilahirkan dan mengabdi.

Pahlawan Sungailiat, jasamu tercantum diantara kelipan bintang dilangit, terpahat diantara gemuruh ombak lautan lepas, tersebar diantara sawah ladang meluas. Terkikir dikenangan lagu Indonesia Merdeka.

 

Ditulis oleh May Teo ,

Di kirimkan oleh Ambon ke Mailing-list Budaya Tionghua


Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 10047


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1452-pahlawan-kota-sungai-liat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto