A+ A A-

Duel Diatas Gunung Taysan

  • Written by  Mang Ucup
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Penulis dahulu pernah belajar silat melalui kursus tertulis dari berbagai Suhu antara lain Kho Ping Hoo, Tjan Id, Gan KL, Chin Yung, Liang Ie Shen sampai Lho Khuan Chung, karena sedemikian rajinnya belajar silat sampai tidak naik kelas, ketika duduk di kelas 5 SD.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Pada masa kecilnya mang Ucup itu kecanduan baca silat. Saya baca hampir semua cerita silat yg bisa saya dapatkan dari cerita silat (bersambung) di koran harian tempo doeloe seperti Sinpo (Sinar Harapan), Kengpo (Kompas),[1] Star Weekly (Sie Jin Kui/Kim Coa Kiam) s/d roman-roman Cina populer lainnya mulai dari Sam Pek Eng Tay, Pheng Tjoan Thian Lie, Sin Tiauw Hiap Lu, Pendekar Pulau Es, Pendekar atas air, 108 Pendekar, Sun Tzu sampai Sam Kok yang sangat populer. Maklum mang Ucup itu punya hobby membaca, kalau sudah memegang buku ditangan, langsung bisa lupa se-gala2nya, mulai dari lupa istri, pekerjaan s/d lupa hutang.

Sekarang penulis telah mengundurkan dirik, menjadi hwee shio (pendeta) bukan
dalam arti harfiahnya saja melainkan fakta nyata nya juga demikian, karena kepalanya sudah menjadi botak dan gundul seperti seorang suhu. Maklumlah
karena ketika masa mudanya pernah mempelajari ilmu hitam. Sekarang penulis makannya juga, makanan cia cay (vegetarian) kalau kata orang Sunda sih lalaban terus, jadi pokoknya apa juga di lalab deh, enggak ada daun muda,
daun tua pun oce.

Penulis sekarang bermukim di tepi sungai Hwang Ho (sungai Rijn di Walanda),
sebelum ia menjadi petapa, penulis pernah berkecimpung di dalam dunia kang ouw cukup lama, karena ke ahliannya menggunakan tenaga lweekang (tenaga dlm)
maupun khikang (tenaga luar). Sebelum ia bertobat menjadi hwee shio (suhu) ia juga terkenal sebagai kongcu Rainbouw Nose baca hidung Belang (play boy = oom senang). Walaupun ia sudah tidak pernah turun gunung lagi, tetapi ia
masih sering mengirimkan berita-berita ke kalangan kang ouw melalui jalur awan biru (internet) dengan menggunakan nama Bu Beng Tayhiap (Pendekar Tanpa Nama = Mang Ucup).

[Foto Ilustrasi : Taishan , http://web.budaya-tionghoa.net/gallery-photoblog/969-fotografi-mt-tai-taishan- , Kevinschoenmakers]


Inilah hasil karyanya yang pertama:
Dengan judul “Duel diatas gunung Taysan!”

Pada saat itu diluaran sangat dingin sekali, sehingga danau2 disekitar
gunung telah menjadi es semua, walaupun demikian dibawah satu pohon yang rindang duduk bersila seorang pria berkulit hitam dgn badan dibagian atasnya terbuka, seperti juga orang lagi kepanasan.

Anehnya walaupun diluaran sangat dingin sekali, keluar asap mengebul dari
kepala orang itu, seperti asap dari kawah gunung, kalau orang tidak mengetahuinya, pasti akan menduga bahwa orang ini rambutnya sedang kebakaran, tetapi kenyataannya tidaklah demikian, karena orang itu lagi menjalankan dan mempraktekan ilmu "Api panas" dlm bhs Cina nya disebut “Hot Fai Ya”. Kalau beras mentah digengam di tangannya dlm jangka waktu 10 menit saja pasti sudah bisa jadi nasi, karena tangannya bisa berfungsi seperti rice cooker.

Puluhan th telah ia gunakan untuk mempelajari ilmu ini, dimana antara lain
tiap hari ia diharuskan minum darah ular Kobra yg panas minimum 2 liter, mirip Dracula begichu, hanya dgn satu tujuan saja ialah untuk membalas dendam terhadap suhengnya (kakak seperguruannya) sendiri, walaupun sebenarnya ia dahulu dihajar oleh suhengnya sampai babak belur, karena ia tertangkap basah ketika hendak memetik bunga desa, maklum dahulu ia mendapat julukan sebagai Jai Hwa Cat (si pemetik daun teh). Sekarang tibalah saatnya dimana ia merasa bisa balik membalas dendam.

Suhengnya sekarang telah menjadi hweshio di kelenteng - puncak Gunung
Taysan, setelah di cari ber-bulan-bulan akhirnya ketemu juga. Ia menantang Suhengnya untuk bertanding ulang. Tetapi suhengnya menolak, mengingat ia
sekarang sudah tidak mau bertanding lagi dgn menggunakan kekerasan, tetapi karena dipaksa terus akhirnya ia bersedia, tetapi hanya dgn satu persyaratan ialah aturan bertanding harus ditentukan oleh suhengnya.

Besok jam 12 siang (high noon) duel akan diadakan, diatas lapangan batu
koral (OK Coral), pertama si hitam boleh memukul sebanyak tiga kali kepada suhengnya, setelah itu suhengnya akan memukul balik sebanyak tiga kali.

Si hitam yakin bisa memukul mati suhengnya jangankan dgn tiga kali pukulan,
dengan satu kali pukulan saja ia bisa merobohkan pohon beringin besar dan membuat semua daun2nya menjadi hangus, apalagi dengan 3 pukulan.

Ia menarik nafas se-kuat2nya seperti juga fuckum cleaner dari Electrolux,
dan seluruh tenaga dikumpulkannya sehingga begetar bumi disekitarnya bahkan telah meninggalkan lubang ½ tombak dlmnya, sedemikian kuatnya itu ilmu “Hot
Fai Ya” itu. Pukulan pertama ditujukan kebagian dada dari suhengnya dgn bunyi duuuuu.uk keras, tetapi ia merasa seperti memukul kapas yg lembut dan ternyata anehnya suhengnya tidak bergoyang sedikitpun juga.

Jurus untuk pukulan kedua telah disiapkannya lagi ini kali harus lebih keras
lagi dari yg pertama, ketika ia mengumpulkan seluruh tenaganya terdengar bunyi tulang2 kerotokan, karena seluruh tenaga telah disalurkan sepenuhnya ketangan kanannya. Ini kali pukulan dikerahkan dan ditujukan kebawah perut suhengnya deee.eees rupanya pukulan ini kali cukup keras sehingga membuat suhengnya terpukul mundur sebanyak dua langkah. Walaupun demikian suhengnya tidak jatuh juga, bahkan ini kali ia merasa seperti memukul salju, selainnya lembut terasa dingin, sehingga tangan yg tadinya merah membara berubah menjadi biru kedinginan.

Ia mulai bingung karena ia sekarang harus meluncurkan pukulannya yang
terakhir, ia berkumat-kumit sambil membacakan mantera dan juga seluruh pernafasan dan tenaganya dikumpulkan, sehingga muka dan kepalanya menjadi merah dan juga mengeluarkan asap. Sedemikian panasnya tenaga yg terkumpulkan sehingga rambut2nyapun menjadi rontok kepanasan. Ia yakin sekarang ia bisa membunuh suhengnya karena inilah pukulan yg super dan mega ampuh dengan menggunakan jurus "Anjing panas" atau dlm bhs China disebut Hot Dog. Ia memukul kepala suhengnya dgn keras sekali sehingga terdengar bunyi blaaaa..aak, karena pukulan diluncurkan dari atas kebawah, kaki suhengnya menjadi amblas masuk beberapa jengkal ketanah, ternyata selain muka pucat tiada reaksi apapun juga yg kelihatan dari suhengnya.

Akhirnya ia menyadari bahwa dlm ilmu silat suhengnya ternyata masih jauh
diatasnya dan timbulah rasa takut akan balasan pukulan dari suhengnya, karena sekarang bagian suhengnya untuk memukul balik sebanyak 3 kali, tetapi
ternyata Suhengnya dgn bersoja memberikan senyuman lembut sambil berkata: "Sutee biarlah saya yg mengaku kalah!" setelah itu tanpa tambahan satu patah katapun juga Suhengnya langsung pergi berbalik meninggalkan dia.

Tetapi yang si hitam tidak mengetahuinya, ternyata Suhengnya itu telah
mendapatkan luka dalam yang sangat parah sekali, akibat ketiga pukulan2 tersebut, walaupun demikian, ia rela mengakhiri pertandingan ini dengan mengaku kalah dan
tanpa ada keinginan sedikitpun juga untuk membalas dendam. Walaupun untuk ini ia harus berkorban, tetapi ia telah bisa mengakhiri rasa permusuhan dan rasa dendam dari sutee nya si hitam.

Renungkanlah siapa yg keluar sebagai pemenang dari pertandingan pi-bu ini?


Ku Ping Cup

e-Mail: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Homepage : www.mangucup.org

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 10176

CATATAN KAKI :

  1. Sedikit koreksi  "Sin Po" tidak menjadi "Sinar Harapan", melainkan menjadi "Warta Bhakti". Sedang "Keng Po" terlebih dahulu menjadi menjadi "Pos Indonesia". Ketika di-breidel lagi, "Warta Bhakti". yang 'sayap kiri', tidak ada sambungannya. Sedang "Pos Indonesia", yang 'sayap kanan', sambungannya adalah "Sinar Harapan" untuk 'sub-sayap' Protestan-nya dan "Kompas" untuk 'sub-sayap' Katolik-nya (well... tentu tidak persis banget begitu, tetapi kira-kira begitulah). FYI, "Sinar Harapan" belakangan 'pecah' dua lagi menjadi "Sinar Harapan" dan "Suara Pembaruan". Konon yang satunya 'sub-sub-sayap' Tapanuli dan yang satunya lagi 'sub-sub'sayap' Minahasa (sekali lagi, tentu saja tidak persis begitu, Bondan Winarno misalnya, bukan Tapanuli bukan Minahasa, tetapi kira-kira begitu pengelompokkan sebagian besar para redakturnya). Kebetulan loohoe ada abonemenkan setiap dari koran-koran yang tersebut di atas ini, jadi bisa sedikit jelaskan seperti ini posting. Kalau majalah, selain "Star Weekly" (kepunyaan Keng Po), yang muat cersil adalah "Pancawarna" (kepunyaan Sin Po), lalu juga "Varia" (yang juga punyanya Keng Po) dan "Analisa". Kalau kelompok Sin Po, penerjemahnya Gan KL (Gan Kok Liang), sedangkan kelompok Keng Po memakai OKT (Oey Kim Tiang). Kalau yang muat Kho Ping Hoo, itu "Analisa". Soal feuilleton cersil ini, iya sama seperti Mang Ucup tjianpwee, loohoe juga ada ikutin itu semuanya, trada satu juga yang dikasih lolos... Wasalam. [Akhmad Bukhari Saleh]

Last modified onSaturday, 05 January 2013 09:13
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1454-duel-diatas-gunung-taysan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto