A+ A A-

Memoar Sobron Aidit : Kehidupan Selama Di Tiongkok [ 45 Halaman]

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Kami tinggal jauh di pedalaman Tiongkok. Di Tiongkok Selatan. Bagian tanah Tiongkok Selatan - akan selalu ada di selatan Sungai Yangtse. Nama provinsinya yalah : Jiangxi, dan nama ibukotanya yalah Nanchang. Tetapi kami tinggal jauh dari ibukota - masih ratusan km. Biasanya kalau kami berangkat dari desa kami menuju kota - di mana kami selalu berobat di rumahsakit militer - selalu makan-waktu selama 4 jam bermobil. Kira-kira 200 km lebih. Dan jalannya, maklumlah provinsi di mana kami tinggal, masih agak terbelakang - jalannya belum diaspal - masih jalan merah. Sepanjang perjalanan menuju ibukota - masih hutan. Melalui perkampungan penduduk.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

01. Gunung Kepala Ayam

Desa di mana kami tinggal namanya Chi Gong-san, kami namakan saja Desa Gunung Kepala Ayam - arti Chi di sini memang ayam. Tetapi penamaan itu hanya bagi kami para melayu ini saja - orang Tiongkok mana pula akan tahu dan tak bakalan ngerti. Kenapa kami namai begitu? Dari jauh - dari puluhan km, sudah tampak sebuah gunung meninggi dengan puncaknya agak melengkung seperti seekor ayam jago yang sedang melihat ke arah jauh. Dan kami pabila pulang dari ibukota - Nanchang - akan sangat merasa gembira bahwa kami sudah setengah sampai di pedesaam kami. Ke kota - ibukota provinsi - bagi kami seperti setengah piknik. Kami orang-orang desa masuk kota - ber-rekreasi - walaupun sebenarnya kami datang ke ibukota semata-mata buat berobat. Bagi yang berobat gigi - akan paling banyak bolak-balik masuk kota. Bisa satu minggu satu kali. Pada mulanya memang agak enak juga - orang desa pelesiran ke kota. Tetapi pabila keseringan - ada juga rasa bosannya dan capek naik mobil begitu lama dengan jalannya seperti daerah Banten di Jabar ketika pertengahan tahun 1950-an - di mana saya juga turut membangun jalan sekitar Malingping - Baya yang diurus oleh Kantor Petera ( Pengerahan Tenaga Rakyat ).

Ke ibukota akan selalu berurusan dengan penyakit. Tetapi disamping itu
sekalian belanja - belanja apa saja yang di pedesaan kami tidak ada barangnya. Dan teman-teman lain yang mau nitip beli sesuatu yang sifatnya agak rahasia dan agak langka - akan dititipkan kepada seseorang yang sangat dapat dipercaya - se-ideologi-lah - kira-kira begitu! Jangan dibayangkan seperti kalian naik mobil di mana saja di Pulau Jawa! Sebab sepanjang jalan yang ratusan km itu, tidak ada warung - tidak ada toko - semua kampung pedesaan dengan penduduk petani - termasuk petani miskin. Yang jarang bersepatu walaupun dalam musimdingin. Kami melihat para petani inipun - tanpa sepatu ketika musimdingin - kami sendiri merasa kedinginan!

Tetapi walaupun kami di-perkampungkan jauh di pedesaan - tak jauh dari
Gunung Kepala Ayam - perumahan kami itu samasekali baru - kami nganyari kata orang Jawa - baru kamilah penduduk yang mula-mula mendiaminya. Rumah kami samasekali baru - tetapi biar bagaimanapun - namanya saja di desa - jauh di kampung - tetap bersuasana sederhana. Pemanas dalam rumah dengan sistim perapian yang model agak kuno - pakai arang-batu. Jadi kami membakar batu-arang dan berdiang - berpemanas model lama. Model begini masih tetap bertahan sampai diibukota negara - Beijing. Ketika musimdingin, kami punya keasyikan tersendiri - kerjanya angkat batu-arang dan badan penuh asap dan hitam. Dan menyalakan tungku batu-arang itu. Menyalakan dan merawat pemanas-dapur batu-arang ini tidak mudah. Kami sendiri pada mulanya juga belajar - dan pernah gagal juga. Tetapi lama-lama jadi biasa. Dan rumah akan menjadi hangat. Tadinya tanpa batu-arang, dalam rumah bisa sampai 10 - 15 dC ( derajat Celcius ) - dingin sekali. Tetapi dengan batu arang, rumah akan hangat dan hawa jadi 22 sampai 26 dC. Lebih dari itu sudah terlalu panas. Dan kalau terlalu panas, tidak baik bagi kesehatan. Perbedaan antara dalam dan luar tidak boleh terlalu tinggi dan menyolok.

Tinggal di pedesaan kami - Desa Kepala Gunung Ayam, sebenarnya sangat enak.
Cuacanya bersih - tidak ada polusi - namanya saja desa bahkan sekelilingnya hutan dan gunung dan beberapa sungai. Dan rasa airnya sangat segar - terasa agak manis malah. Kata penduduk sekitar pedesaan kami dan juga orang-orang Tiongkok yang sangat mengenal tanahairnya - memang diakui - bahwa rasa air di pedesaan kami sangat segar - enak dan bersih. Pabila musimpanas, kami minum air dari sungai yang mengalir atau telaga yang bersih. Dan rasanya sangat segar - sedap, bagaikan minum air-es di kala panas-panasnya. Habis bekerja badan atau sehabis olahraga - kami langsung cari air ke aliran sungai atau telaga, dan minum sepuasnya. Sehabis menembak burung di hutan, badan berkeringat karena kelelahan - dan sangat haus, lalu cari air secara alamiah dan minum sepuasnya. Rasanya segar kembali dan badan jadi bersemangat lagi.

Apa lalu yang tidak enaknya - apa yang lalu jadi bebannya? Satu-satunya yang
sangat menjadi pikiran kami, tidak tahu akan nasib masa depan kami! Kami tidak tahu kapan kami bisa pulang ke tanahair. Kami tidak tahu - kapan kami bisa keluar Tiongkok - dan hidup di negara dan negeri yang normal. Maksud normal di sini, yalah seperti orang-orang lain itu - bebas dan cari makan sendiri - bekerja buat kehidupan dan tak tergantung pada siapapun. Kami kan sangat tergantung pada tuanrumah kami. Dan kami bukan orang bebas - ke mana-mana dikawal - diawasi, dan dikasi makan tanpa bekerja dalam pengertian makan-gaji. Enak? Pada mulanya barangkali ada orang atau teman yang merasa enak. Tetapi kalau lama-lama dan berumur-umuran begini, kan samasekali tidak normal! Tidak bisa mau ke mana-mana semaunya - harus minta izin - harus ada pengawalan. Tuanrumah kami harus tahu mau apa - ada keperluan apa - apa alasannya - kuat tidak alasannya.

Misalnya seseorang mau ke kota lain, karena mau jalan-jalan - mau
berpelesiran - mau lihat-lihat sebagaimana orang-orang normal - dan juga barangkali mau shopping. Ya sudah pasti no way-lah! Bahkan ada di antara teman-teman kami yang merasa kehidupan kami secara begitu itu, mereka namakan sama saja dengan di penjara! Syukurlah, saya belum pernah berpendapat demikian. Tetapi perasaan tidak bebas sebagaimana manusia normal - itu ada! Sudah pasti ada!


02. Sekolah Tujuh Mei

Nama pedesaan atau perkampungan kami - atau lebih jelasnya kompleks kediaman kami, adalah Wu Chi Gan Siao - nama di-Indonesia-kannya adalah Sekolah Tujuh Mei = Wu adalah 5, Chi adalah 7, dan Gan Siao - adalah Sekolah Kader - Gan dari ganbu = kader. Arti lengkapnya Sekolah Kader Tujuh Mei. Maksud semula di Sekolah inilah buat menggembleng kader-kader. Nama gerakan sekolah kami yalah buat Gerakan Pembetulan Fikiran = GPF atau juga Gerakan Pembetulan Langgam = GPL. Tadinya sebenarnya berasal dari Yenan - sebuah tempat atau pusat daerah basis ketika sedang sengit-sengitnya perang-dalam-negeri antara KMT versus PKT = antara penguasa Kuo Min Tang lawan Kun Chan Tang = PKT dengan pasukan pembebasannya.

Tentu saja karena yang dididik ini adalah kami orang-orang Indonesia yang bermaksud pulang ke tanahair, maka pendidikan disesuaikan dengan syarat-syarat kongkrit yang sesuai dengan apa adanya kami. Tetapi pada pokoknya samasekali tidak terlepas dari kerja-produksi. Ada dua matapelajaran yang pokok - teori dan praktek. Teori yang dimaksud adalah segala pelajaran teori - sejarah Indonesia - Gerakan Buruh Indonesia - pelajaran guru-guru filsafat seperti Karl Marx - Frederich Engels - sedikit tentang Fouerbach - Nietszhe - Lenin dan Mao Tse-dong sendiri. Pelajaran buku-buku klasik tentang gerakan sosialis dan komunisme. Dan beberapa guru filsafat lainnya. Ini dari segi teorinya yang dihubungkan dengan gerakan Rakyat Indonesia sendiri sejak adanya perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme.

Lalu tentang pelajaran berproduksinya - kami punya ladang pertanian sendiri - punya peternakan kambing - peternakan babi dan barisan pekerja bangunan - buat bertukang - seperti memperbaiki semua alat-alat produksi - membuat cangkul - pengki - memperbaiki kursi - meja dan sebagainya. Tanah pertanian - ladangnya - kami buka sendiri - mencangkul - membuat lajur tanaman. Yang kami tanam yalah wortel - kentang - sayuran sawi - ketela-rambat - kacangpanjang - melon - terong - semangka - cabe - serai - jahe dan banyak lagi. Kami juga turut membantu para petani sekitar kampung kami buat bertanam padi - bersawah. Tetapi kami hanya membantu, kami sendiri tidak punya sawah. Yang kami kerjakan adalah tanah perkebunan - bukan bersawah.

Jadi pengaturan waktunya seperti ini : pagi-pagi sekira jam 08.00 sampai jam 12.00 belajar teori - dari buku-buku klasik seperti Das Kapital itu dan banyak buku-buku lainnya termasuk karya Mao Tse-dong. Lalu jam 12.00 istirahat makan. Lalu pada jam 14.30 mulai bekerja buat berproduksi - pertanian dan peternakan. Sampai sore menjelang makan-malam jam 18.00. Semua teman bekerja di bagian masing-masing bidang. Ada yang bertani - berladang - cangkul-mencangkul - cabut rumput - menyiangi ladang - menyiram dengan mengangkuti pukuk - termasuk dengan pupuk-tinja manusia. Kami mengangkuti - memikul pupuk-tinja dari wc kami sendiri. Dengan pupuk inilah kami menyuburkan tanaman kami.

Yang bagian peternakan - mengangon kambing - menggembalakannya di bukit-bukit sekitar perkampungan kami. Di sekitar perkampungan kami banyak terdapat bukit-bukit - padang rumput yang bagus dan tebal sekali. Peternakan kambing kami pernah sampai 150 ekor kambing. Dan kalau sudah banyak begini, biasnya kami potong buat makanan. Kami sate - kami gulai dan banyak jenis makanan lainnya. Dan tukang potong - jagalnya, kebetulam saya sendiri. Sekali potong sampai 6 ekor, paling sedikit 4 ekor, dan kami pesta makan kambing. Rasanya sudah pernah saya tuliskan - selama kami hidup di pedesaan itu, antara tahun 1970 sampai 1977, saya sudah memotong 127 kambing, yang selalu ditemani anak saya Nita yang ketika itu baru berumur 6 tahun. Pagi-pagi jam 05.00 kami sudah harus berada di pejagalan - tak jauh dari dapur umum kami.

Bagian peternakan babi - markas-besar peternakana babinya - ada kandang luas yang harus selalu dibersihkan. Peternak babi - atau pemelihara babi ini ada timnya tersendiri - salah sorang anggota timnya adalah wanita. Dan wanita itu berasal dari Aceh dan adalah istri saya (almarhum). Bayangkan - wanita Aceh - sudah dulunya Islam - lalu pemelihara babi! Peternakan babi milik barisan kami - sampai 40 ekor. Biasanya kalau sudah banyak - lalu dijual oleh Markas Barisan kami - tuanrumah kami. Tentu saja orang Tiongkok yang mengurus dan menjaga - mengawal kami. Biasanya penjualan begini - kami samasekali tidak campurtangan. Tetapi tuanrumah kami selalu minta izin dan minta persetujuan kami sebagai pemeliharanya. Barisan produksi kami - selalu dapat pujian - karena babi yang kami pelihara sangat baik - gemuk dan sehat. Tentu saja ampas-umpan-makanannya adalah kebanyakan dari sisa makanan kami sendiri. Bayangkanlah walaupun sisa - kami ini orang asing - tamu asing yang sangat dihormati tuanrumah - makanannya terpilih - yang bagus kualitasnya dan cukup banyak kuantitasnya.

Lalu tanaman wortel yang dari perkebunan - perladangan kami - sangat bagus - besar-besar dan sehat pertumbuhannya. Banyak hasil perladangan - hasil perkebunan kami yang dijual - dikepasarkan. Semua ini urusan tuanrumah - tetapi kami semua ikut dengan perkembangannya - sama-sama mengerjakannya - mencatatnya dan menghitungnya. Semua keuangannya - masuk Markas Barisan Sekolah Tujuh Mei dan masuk perlengkapam dapur. Semua keuangan keluar-masuk dari hasil ladang dan perkebunan kami diurus oleh Markad Barisan - tuanrumah kami sendiri - dan dengan sistim administrasi terbuka - demokratis dan transparan. Oleh kerja produksi secara langsung begini sangat menggembirakan dua belah pihak - pihak tamu, kami sendiri dan pihak tuanrumah kami. Ketika suasana panen - apalagi ketika panen raya - kami semua sangat merasa gembira - rasanya kami ini benar-benar adalah para petani yang berhasil. Padahal kalau dibandingkan dengan para petani aslinya - penduduk sekitar perkampungan kami - akh kami ini belum apa-apanya - baru merupakan petani-intelektuil yang baru mengenal tanah dan air - baru mengenal pupuk-tinja-manusia - baru merasakan kerja berproduksi secara langsung. Tak usahlah kami merasa begitu ge-er!

Ada kalanya saya mau sedirian jalan merambahi hutan dan pegunungan. Dan memisahkan diri dari rombongan, dan teman-teman menyetujuinya asal selalu harus berhati-hati -, demikian katanya. Sebenarnya saya ingin sekali mempelajari gerak-gerik burung yang namanya beranjangan. Beranjangan ini seperti burung puyuh - sama bulunya - berbelang burik agak kecoklatan. Beranjangan terbang tinggi lurus ke atas, dan lalu berhenti di udara sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Dan melihat ke arah bawah - akan ke mana dia turun dan hinggap. Sama dengan burung puyuh - beranjangan tidak pernah hinggap di pohon - cabang pohon atau ranting. Beranjangan sama dengan puyuh, hanya hinggap di atas tanah lalu berjalan. Bedanya dengan puyuh - beranjangan bisa terbang begitu tinggi dan lurus ke atas, tetapi puyuh tidak pernah terbang tinggi. Hanya terbang rendah dan tidak jauh lalu hinggap lagi di tanah dan lalu jalan.


 

03. Kegiatan Sehari-hari di Pedesaan Kami

Kegiatan siang sampai sore menjelang makan malam, kami belajar - belajar teori - dari buku-buku klasik. Biasanya ada diskusi membicarakan hasil belajar masing-masing. Di tempat diskusi ini sudah tentu timbul perdebatan - perbedaan pendapat. Dan terkadang diskusi itu begitu panas dan tegang, bikin merah kuping dan pabila bicara dengan berapi-api - menggelora - biasanya akan disertai sedikit hujan liur yang memancar dari mulut seseorang. Tetapi biasanya sesudah itu - sudah agak tenang dan amper-nya menurun, lalu biasa-biasa saja - teguran - bergurau lagi dan merasa lucu, kenapa kok bisa begitu panas dan hangat. Dulu - beberapa tahun sebelum ini - sebelum GPF dan GPL ( Gerakan Pembetulan Fikiran atau Gerakan Pembetulan Langgam )
perdebatan dan perbedaan pendapat itu bisa menajam sampai bisa saling tuding dan bisa meningkat menjadi perkelahian. Tiap orang - setiap teman yang terlibat perdebatan dan perbedaan pendapat tentang Sejarah Gerakan Indonesia - tentang teori revolusi, merasa dirinya paling benar - paling tepat. Bisa menganggap dirinya paling Marxis-Leninis sejati yang 100%. Paling murni kadar karatnya, ibarat emas 24 karat murni.

Sejak adanya GPF atau GPL ini, rasa yang serba benar dan serba tepat itu
sudah pelan-pelan kami tinggalkan. Belajar mendengarkan pendapat orang lain - belajar menerima perbedaan pendapat dengan diri kita, ternyata bukanlah mudah! Perlu proses belajar lagi - mengendapkannya dengan tenang dan sabar. Oleh adanya diskusi-diskusi yang hangat begini - rasanya kami sangat merindukan kapan hari Minggu datangnya. Sebab hanya hari Minggu kami liburan dari semua kegiatan belajar teori dan diskusi serta berproduksi. Sebab otak kami terkadang sudah capek - lelah karena belajar dan berdebat yang tak ada ujungnya - berhenti karena ....sama-sama lelahnya. Ketika rasa lelah serta sedikit bosan dan jemu lalu jenuh - kami sangat membutuhkan hiburan -
rekreasi. Dan rekreasi ini hanya hari Minggu yang banyak waktunya. Pabila malam - sebelum tidur, ada juga beberapa teman yang menggunakan waktunya buat rekreasi.

Ada yang bermain gitar - bermusik - main kartu, yang kami gelari orang-orang
golkar - golongan kartu. Ada yang membuat grup musik. Ada yang membuat grup mencari obat-obatan di hutan dan gunung yang ada di sekitar pedesaan Gunung Kepala Ayam. Ada grup mancing. Ada grup tembur = tembak burung ( termasuk
saya ) dan ada grup saling belajar tusuk-jarum = akupungtur ( juga saya di grup ini ). Ada grup cerita - cerita tentang buku klasik Tiongkok, seperti Tepi Air = Water Margin dan San Kuo dan beberapa lagi. Yang tukang ceritanya adalah teman kami yang bahasa Tionghoa-nya sudah bagus dan menguasai. Kini dia di Hongkong - sebagai guru piano. Saya juga di grup ini - grup cerita. Semua ini kami lakukan pada hari Minggu - karena waktunya cukup banyak. Tetapi tidak jarang pada hari Minggu - rata-rata kami "pesta nyuci pakaian dan benah-benah serta membersihkan rumah", jadi rasanya biarpun ada waktu rekreasinya, masih tetap merasa tidak cukup! Ada grup nyanyi - bikin koor. Ini ada dua. Koor yang biasa - yang gurunya si tukang cerita tadi - guru musik - piano dan akordeon. Dan koor nyanyian Jawa - panembromo ( saya juga masuk di sini ). Yang anehnya - saya bisa mengikuti koor panembromo ini - tetapi saya tidak tahu apa artinya - karena semua dalam bahasa Jawa - dan saya tidak memahami bahasa Jawa.

Seseorang bisa masuk beberapa tim atau grup. Ini sih bebas saja - namanya
juga rekreasi. Ada grup atau tim pembuat alat-alat musik Jawa sepeti gamelan. Teman-teman ini memang luarbiasa kreatifnya. Besinya mereka ambil dari bekas rongsokan mobil tua. Lalu ditempa dalam api yang buatan sendiri - samasekali bukan dari pabrik. Lalu disesuaikan dengan nadanya - dari pelog Jawa. Lama-lama jadi juga. Dan mereka bisa main seperti gamelan Jawa yang benar-benar hasil pabrikan - hasil tempaan yang sudah berpengalaman. Akh, kampung kami di pedesaan yang tersuruk jauh di pedalam Tiongkok selatan - betapa nikmatnya pabila malam hari dari kejauhan terdengar musik Jawa - seperangkat gamelan Jawa. Dan kami rasanya bertambah rindu tanahair - sangat kangen dengan kampunghalaman yang sudah belasan tahun terpisah ( ketika itu pada tahun 1971 - 1978 ). Indah sangat bunyi tabuhan musik itu - koordinasi antara bunyi gong - tawak-tawak, tam-tam dan gamelan. Apalagi pabila terdengar di kejauhan - sayup-sayup melalui - melewati pegunungan yang melingkari pedesaan kami. Ada grup drama - grup deklamasi - namanya Dedra - deklamasi dan drama. Beberapa kali kami adakan pementasan drama dan deklamasi ini - dan cukup sukses.

Pada pokoknya, kami semua - kehidupan kami penuh dengan aktivitas. Dalam
hati kami - semua ini sangat kami perlukan - sangat kami butuhkan. Disamping memang belajar hidup di tempat yang sebenarnya abnormal begini, kami perlu menggunakan waktu sebaik-baiknya.......antaranya agar......tidak gila! Sebab kami tidak tahu akan hari depan kami - kami tidak tahu kapan kami bisa pulang ke tanahair. Dan rata-rata kami selalu ada yang kehilangan kaum keluarganya. Atau sedang dipenjara - dalam pembuangan di Pulau Buru. Dari sehari ke sehari kami mengurangi rasa yang sangat rindu dan kangen tanahair - kampunghalaman. Dan karena itulah, kami bikin kesibukan begitu rupa - agar sekedar dapatlah sedikit mengurangi rasa yang sangat rindu dan kangen
kampunghalaman dan sanak keluarga.

Karena situasi dan suasana tidak normal yang kami jalani dalam kehidupan
yang begitu lama - ada rasa terkatung-katung. Maka tidak heranlah - ada di antara kami yang sakit syaraf - kata orang kampung kami :"berubah pikiran", secara kasarnya ya gila! Bahkan ada yang mencoba bunuh diri dan bahkan ada yang sudah berhasil bunuh diri. Ini cerita jauh sebelum yang saya ceritakan ini berlangsung. Tetapi keadaan ternyata pelan-pelan mengalami perubahan - seperti yang sedang saya ceritakan ini - kami penuh kesibukan sehari-hari.
Rasanya waktu rekreasi kami terasa tidak cukup. Dan kami menjalani kehidupan ini dengan perasaan gembira dan selalu bersemangat. Tetapi apakah tidak ada lagi unsur-unsur jelek - negatif, dalam kehidupan kami - lalu semua bersih? Tentu saja ada dan di mana-manapun akan selalu ada pikiran yang agak nyeleweng dan yang lain daripada yang lain. Tetapi rasanya saya bertugas buat menceritakan yang pada umumnya - yang baik yang bisa menjadi contoh bagi kehidupan ini - agar normal - dan itu yang kami mau,-


 

04. Grup Saya

Ada beberapa grup yang saya masuki. Saya masuk di grup tusukjarum. Kebetulan
saya guru tusuk jarumnya. Pengikutnya ada 17 orang. Lalu masuk grup vokal - koor. Lalu grup taiciquan - silat taici, kebetulan saya juga gurunya, pengikutnya ada 11 orang. Saya juga ada di grup panem- bromo - koor nyanyian Jawa, yang saya tak tahu apa arti yang saya nyanyikan itu. Lalu saya ada di grup cerita lisan - buku klasik Tiongkok, dan grup potong dan masak kambing. Dan ada grup tembur - tembak burung. Dan ada lagi di beberapa grup. Satu grup biasanya sesuai dengan penggemarnya. Tapi rata-rata antara belasan orang paling banyak, dan di bawah sepuluh paling sedikit. Lalu di grup tembur ini yang mau saya ceritakan pengalaman saya.

Kami di grup tembur terbagi atas tiga bagian kelompok-kerja. Kelompok
temburnya - pemburunya, ada sekira sepuluh orang. Lalu kelompok menyiangi bulu burungnya - membenahi sampai siap-masak - siap-goreng. Lalu kelompok masaknya - digoreng atau dikukus. Semua gabungan kelompok grup tembur, ada sekira 30 orang dengan klub-makan burungnya. Tidak mudah kerja yang kami kerjakan ini. Kelompok pemburunya - sejak jam 08.00 sudah berangkat buat memburu, menembak burungnya. Masing- masing akan berpisah setelah melewati
sebatang sungai. Lalu masuk hutan. Dan merambah pegunungan - lembah dan hutan lebat. Yang kami tembak yalah burung-burung yang makan sereal - padi-padian. Lalu burung apa saja yang menurut kami enak dimakan. Semua burung yang enak dimakan adalah yang makanannya terdiri dari sereal - padi-padian - jewawut - jelai - biji jagung - kacang-kacangan dan biji-bijian yang sama dengan kita makan. Semua burung yang makan ulat-ulat - cacing - ikan- binatang air - laut - tidak enak dimakan. Kami tidak mau menembaknya. Karena dagingya amis - anyir dan dagingnya sangat bau - tidak enak. Bisa diusahakan agar jangan begitu bau. Dicuci dengan cuka dan direndam dengan air-garam. Tetapi kami tetap menolak buat menembaknya.

Burung apakah yang paling enak? Menurut pengalaman kami, yang malah sangat
enak adalah daging burung gereja! Lalu jenis burung merpati - balam - perkutut - beranjangan dan kepodang - dan burung punai. Pada umumnya semua burung ini adalah pemakan sereal - biji-bijian atau buah-buahan hutan. Dan tidak makan jenis ulat dan jenis binatang air. Kami sering tukar menukar hasil tembakan. Misalnya saya mau menukar seekor balam dengan tiga atau empat ekor burung gereja yang kecil itu. Meskipun sebenarnya, nantinya tokh sama-sama makan masakan teman-teman yang sudah lama menunggu di perumahan kompleks kami.

Menjelang senja - jam 17 atau jam 18, kami sudah siap-siap pulang dari hutan
- dari pegunungan. Daerah-tembak atau daerah perburuan kami, rata-rata 10 km dari kediaman kami. Sesampainya di daerah banyak burungnya, kami rata-rata membagi diri menjadi tiga orang - tiga orang. Rata-rata hasil tembakan kami
antara 50 sampai 70 ekor seorang. Ada teman yang sangat trampil, bisa berhasil menembak burung sampai 80 ekor. Saya berhasil menembak rata-rata 60 ekor sekali jalan dengan lama antara 8 sampai 10 jam itu. Nah bayangkan - sekiranya tidak ada grup atau tim khusus menyiangi bulunya - menyiapkan tungkunya - minyaknya - berapa lama kita akan sampai batas makan burungnyan itu! Kami satu grup biasanya menembak burung sampai 500 sampai 700 burung! Perlu kuali yang sangat besar buat menggorengnya! Dan setelah grup menyiangi burung dan membumbuinya - maka siap grup masak-masaknya. Enak tidaknya masakannya, terletak pada grup masak ini!

Biasanya pada jam 21.00 atau 22.00 barulah kami mulai makan-malam dengan
goreng burung itu. Yang ikut makan pada umumnya siapa saja yang mau. Bebas aktive-lah. Dan itupun terkadang tetap ada sisanya buat besok siangnya! Padahal yang makannya terkadang hampir 40 atau 50 orang! Kami pesta makan burung. Dan kalau sudah begini - mana kami ingat akan nasi! Digado begitu saja. Dan rasanya makan burung hasil tembakan sendiri - dan masakan teman sendiri - betapa nikmat lezatnya. Hilang rasa capeknya. Padahal siangnya tadi. betapa panasnya. Daerah kami Jiangxi, suhu udaranya pabila musimpanas sampai 42 dC! Sering sekali kami istirahat di tengah hutan yang terlindung pohon-pohon yang sangat rimbun, lalu tertidur karena lelah - capek dan ngantuk serta sangat segar di bawah pohon yang ditiup angin dekat sungai.

Pernah terjadi pada diri saya dan juga teman-teman lainnya. Seekor ular merambat di atas badan kita ketika kita sedang berbaring di bawah pohon rindang. Dan kami diajarkan, ketika waktu krisis begitu rupa, harus tenang.
Jangan mengejutkan ular yang sedang lewat di atas badan atau kaki kita. Kalau kita secara tiba-tiba mengejutkannya - dia akan memagut dan mencotok kita. Dan semua pesan itu kami praktekkan. Kami biarkan dia lewat dan berlalu di kaki atau di badan kami. Padahal kami minta ampun hampir mati ketakutan dan gerinya!

Tetapi setelah pihak tuanrumah kami berceramah tentang bisa atau racun ular,
kami malah tidak berani lagi sembarangan merebahkan diri lalu tidur seperti dulu lagi. Waktu itu pihak puskemas - klinik kecil kami yang ada di kompleks kami mengadakan ceramah tentang ular dan ular berbisa. Ada yang namanya ular welang-weling - ada yang namanya "ular lima langkah" - apa itu? Begitu dipagut dan dicotoknya - hanya lima langkah - lalu korban gigitan itu rebah - jatuh dan mati! Orangnya jadi biru seluruh badannya - dan gemetar menggigil sebelum dia mati. Betapa mengerikannya. Dan semua ini ada foto dan filemnya - dari dokomentasi pihak klinik dan puskemas kami. Sejak itulah kami tidak berani lagi sembarangan tiduran di bawah pohon ketika kelelahan dan panas - ngantuk. Betul-betul kami kena pengaruh ceramah tentang ular itu banyak mengubah kebiasaan kami. Dulu ada beberapa teman yang menangkap ular dengan memegang ekornya, lalu disentak sekeras-keranya - sehingga
tulang-tulang belakangnya pada putus - dan ular itu kontan mati! Padahal ular yang disentaknya itu adalah ular yang sangat berbisa. Tetapi teman kami si pemberani itu tadi - sejak ceramah ular berbisa, jadi berubah - tidak
seberani dulu lagi.

Saya memilih di grup tembak - sebagai pemburu. Sebab saya jauh lebih suka
memburu daripada memancing. Saya lebih suka yang sifatnya bergerak - jalan - mengejar, daripada diam. Nah, sifat dan sikap ini jadi terbawa pada saya pada bidang lainnya. Karena itu, karena sifatnya banyak diam di tempat - maka saya tidak suka memancing - tidak suka nonton bioskop - tidak suka cukur rambut, karena semua ini menghendaki diri kita diam - tak bergerak. Kalau saya lalu nonton atau cukur rambut - semua itu bukan karena saya suka - tetapi karena keterpaksaan atau ikut-ikutan dengan teman-teman beramai-ramai. Itulah maka saya jauh memilih tembak-burung di medannya - di hutannya dan di gunungnya - di alam raya yang luas,-


05. SEDANG MAU SENDIRIAN

Ada kalanya saya mau sedirian jalan merambahi hutan dan pegunungan. Dan memisahkan diri dari rombongan, dan teman-teman menyetujuinya asal selalu harus berhati-hati -, demikian katanya. Sebenarnya saya ingin sekali mempelajari gerak-gerik burung yang namanya beranjangan. Beranjangan ini seperti burung puyuh - sama bulunya - berbelang burik agak kecoklatan. Beranjangan terbang tinggi lurus ke atas, dan lalu berhenti di udara sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Dan melihat ke arah bawah - akan ke mana dia turun dan hinggap. Sama dengan burung puyuh - beranjangan tidak pernah hinggap di pohon - cabang pohon atau ranting. Beranjangan sama dengan puyuh, hanya hinggap di atas tanah lalu berjalan. Bedanya dengan puyuh - beranjangan bisa terbang begitu tinggi dan lurus ke atas, tetapi puyuh tidak pernah terbang tinggi. Hanya terbang rendah dan tidak jauh lalu hinggap lagi di tanah dan lalu jalan.

Daging puyuh dengan daging beranjangan - saya kira jauh lebih enak puyuh. Tapi dua jenis burung ini selalu makan sereal - biji-bijian makanan orang. Karena itu dua jenis burung ini termasuk yang enak di goreng agak kering,apalagi dibalado! Tetapi buat memburu puyuh di tempat kami - sangat sulit lagipula puyuhnya sangat sedikit. Sedangkan beranjangan cukup banyak. Kenapa saya malah terkadang memilih beranjangan? Mungkin karena buat memburu burung ini - ada seninya tersendiri. Sangat sedikit teman-teman kami yang suka
menembak beranjangan - kebanyakan lebih baik memilih memburu burung secara umum - tidak pilih bulu! Dan buat memburu beranjangan - ada medannya tersendiri. Medannya itu berupa tanah lapang dan bekas padi-padian - gandum - kacang-kacangan. Dan tanahnya biasanya bekas lumpur tetapi sudah kering.
Tidak ada atau tidak banyak pepohonan. Saya terkadang sangat dongkol oleh ulah burung beranjangan ini. Biasanya beranjangan sepertinya mudah buat ditembak - tetapi kenyataannya burung ini sangat pandai berkamuflase. Dia mula-mula terbang tinggi dan menetap beberapa lama di udara. Lalu tiba-tibaturun menukik dan hinggap di tanah yang warna tanahnya akan sama dengan badannya atau sayapnya. Begitu dia menukik dan hinggap di tanah - lalu kita dekati - di mana dia. Terus mata kita mencarinya di mana dan ke mana dia.
Ternyata hampir terinjak karena begitu dekatnya tetapi burung itu tidak kelihatan.

Saya mempelajari gerak-gerik beranjangan ini berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Rupanya begitu beranjangan hinggap di atas tanah lapang yang warnanya agak coklat itu - lalu dia terus lari dan lalu menggelarkan atau merentangkan sayapnya - sama datar dengan tanah kecoklatan itu. Keadaan ini bila dia curiga ada yang mau mengganggu ketentramannya - terutama kami para pemburu. Lalu beranjangan itu diam dan samasekali tak bergerak. Itulah sebabnya terkadang dia begitu dekatnya dengan kita, hampir terinjak - lalu
tiba-tiba dia terbang. Dan kita terkejut - karena melesat tingginya yang tadinya hampir terinjak kaki kita! Dan main-main kucingan begini bikinbanyak teman saya meninggalkan buat menembak beranjangan. Buang-buang waktu saja kata mereka! Tetapi saya tidak. Saya mau tahu mengapa begitu sukarnya buat menembak beranjangan. Ketika kita sudah tahu dia di mana dan diam tak bergerak-gerak dengan rentangan sayapnya datar sama dengan tanah kecoklatan itu - kita jangan sampai melihat dia dengan berhadapan. Tetapi ambil sikap dan posisi agak miring - seolah-olah tidak tahu di mana dia. Sudah sama-sama siap - lalu pelan-pelan arahkan laras senapang ke tubuhnya dengan sangat hati-hati - maksudnya jangan dengan gerak tiba-tiba! Dan lalu tarik pelatuk - dan bunyinyapun......dos....tepat di badan atau kepala atau di sayapnya. Kita tinggal ambil dan masukkan dalam ransel yang biasa kami bawa buat berburu.

Lama-lama setelah saya agak menguasai gerak-gerik beranjangan ini - banyak teman yang menggelari saya : spesialis pemburu beranjangan. Tetapi hasilnya tidak sebagaimana memburu burung secara umum. Memburu secara umum bersama teman-teman - rata-rata kami memperoleh hasil buruan antara 50 sampai 70 ekor. Tetapi saya memperoleh beranjangan tak lebih dari 35 ekor dan itupun sangat sukar mencapai hasil demikian - waktunya sama dengan teman-teman lain antara 8 sampai 10 jam setiap hari Minggu itu.

Dalam berburu kami menggunakan senapang angin dengan mimis berkaliber 4 setengah. Hanya buat burung-burung biasa dan ukuran tidak besar. Kami tidak diperbolehkan menggunakan senapang ukuran 5 setengah. Mimis ukuran 5 setengah - bisa memburu pelanduk - kancil. Dan terlalu besar mimisnya pabila buat menembak burung gereja. Kami pernah dipinjami senapang cess - yangpakai peluru tajam - dan kami diberi tugas buat memburu anjing. Karena ketika itu banyak berkeliaran anjing gila = rabbies. Jadi pihak tuanrumah kami - menugaskan beberapa orang di antara kami ( termasuk saya ) buat memburu anjing di sekitar perkampungan kami. Tetapi sangat terbatas, sebab jangan sampai tertembak pada anjing yang sehat dan normal. Rasanya saya ketika itu betapa senangnya dan gembiranya. Peluru senapang cess pabila kenakepala orang - juga bisa mematikan. Karena senapang ini cukup berbahaya - pihak Markas Barisan kami - sangat berhati-hati memilih kami buat bertugas memburu rabbies itu. Dalam hati saya, sayang sekali tidak diserahkan kepada kami - atau kepada saya, senapang yang begitu bagusnya. Lalu saya ingat akan almarhum ayah saya - abang sepupu saya - yang sangat tergila-gila nembak - berburu. Tapi ayah saya dan abang sepupu saya, berburu yang lebih besar. Mereka berburu rusa - kijang - pelanduk. Saya hanya berburu burung biasa - dari burung gereja - paling-paling balam - punai - merpati liar - beranjangan - puyuh dan burung ladang serta burung sawah - burung hutan. Saya sebenarnya inginnya seperti ayah saya - pemburu yang binatangnya sejenis rusa - kijang dan kambing liar,-


06. Nyaris

Sekeliling perkampungan kami ada beberapa gugusan perbukitan. Dan di antara perbukitan itu memang Gunung Kepala Ayam yang paling tinggi dan paling menonjol. Seperti ujung atau kepalanya itu bagaikan hidung yang panjang. Dalam tulisan yang lalu saya gambarkan seperti ayam yang berleher panjang lalu mau mengamati sesuatu yang agaknya jauh. Bukit-bukit lainnya kebanyakan padang rumput - semak-semak dan ada juga bukit yang terdiri dari banyak batu-bebatuan dan yang besar-besar. Di sekitar perbukitan batu itulah teman-teman kami menga-ngon kawanan kambing. Lalu mengitari perbukitan padang rumput, di mana banyak rerumputan yang tebal yang sangat baik buat makanan kambing. Di sela-sela dan sekitar pegunungan atau perbukitan itu, diam-diam banyak serigalanya. Pernah juga kawanan kambing kami diserangnya dan mati. Dan ini terjadi beberapa kali. Karena perkara begitu - Markas Besar barisan kami pernah mempersenjatai teman kami yang menggembalakannya dengan senapang cess, senapang api berpeluru tajam.

Anehnya sejak teman pengangon punya senjata api - malah sangat jarang kawanan serigala itu menyerang kawanan kambing kami. Rupanyan pabila kita siap-siap, musuh sangat jarang datang atau samasekali tidak datang - hal begini terjadi juga pada masyarakat manusia. Blok Barat dan Blok Timur sama-sama siap - siap Perang Dunia ke-3,- tapi karena sama-sama siap, lalu perang yang sangat ditakuti itu tidak jadi - untunglah!

Sejak kecil, kehidupan kami sekeluarga selalu dekat hutan. Ini disebabkan ayah saya menjadi mantri-kehutanan - boschwezen selama puluhan tahun. Jadi karena tugasnya memang mengamati kehutanan - para pembuat arang di kampung kami - dan orang-orang yang mau berhuma - maka hidup kami tak pernah jauh dari hutan. Dan selalu dipinggir hutan tinggalnya. Hal ini membawa kebiasaan pada saya, suka dan senang akan hutan dan pepohonan. Saya sering juga keluar masuk hutan sendirian,- ketika tidak bertugas menembak - tembur bersama-sama teman lain, Rasanya betapa senang dan aman serta damainya hati ini ketika sendirian di tengah hutan - padang rumput yang luas dan gunung batu yang bentuknya sangat bermacam-macam. Ada yang seperti orang mengisap pipa - cangklong. Ada yang seperti perahu sedang berlayar dan bahkan ada seperti sepasang muda-mudi sedang berciuman. Bermacam-macam. Dan saya menikmati ketika sedang mengamatinya. Pabila saya di atas pegunungan itu - tampak perkampungan kami kecil sekali - seperti mainan anak-anak yang sedang dipasang teratur. Memutih dan kecoklatan. Jauh di bawah sana - jaraknya barangkali ada dua sampai tiga kilometer dari di mana saya berdiri mengamatinya dari jauh. Indah sekali dan saya sangat senang duduk lama di atas batu yang tinggi, sambil sedikit ngelamun atau berkhayal. Dan selalu tentang tanahair - kampung halaman - juga tentu saja terkadang dengan wanita cantik seperti teman-teman saya ketika di SMA - Taman Madya dulu. Di manalah gerangannya si Asta Kurniani dulu,- dan Hindun - aduh mak, Hindun, betapa dia cantiknya ketika kami masih sama-sama di SD di Tanjungpandan pada tahun 1947 - lamanya mak!

Ketika saya pindah ke sebuah bukit yang agak tebal semak-semaknya, sambil sedikit berjalan cepat - karena saya melihat beberapa beranjangan terbang rendah, tahu-tahu saja sebelah kaki saya terperosok ke dalam sebuah lobang. Dan saya hampir melubcur ke bawah - ke sebuah sumur mati. Dengan secepat kilat saya menyambar dan memeluk sebatang pohon yang tidak begitu besar - pas dua tangan saya berpegangan erat. Masih sempat saya melemparkan senapang dan ransel saya agak jauh dari saya. Dengan sekuat tenaga - tenaga yang mati-matian saya kumpulkan, saya menaikkan badan ke atas dan tetap berpegangan pada pohon yang tak jauh dari bibir sumur-tua yang mati itu. Dan setelah saya agak tenang dengan debaran jantung yang barangkali 200 detakan satu menitnya - lalu lama-lama agak normal. Saya perhatikan sekitar dan saya jenguk ke dalam sumur-tua yang sudah mati itu. Minta ampun - dalamnya sekira 10 meter. Dan ada airya membayang. Lalu timbullah keheranan saya - mengapa orang dulu itu membuat sumur tetapi tidak lantas ditimbun atau diberi tanda, bahwa di situ ada sumur - hati-hati!

Ketika sudah agak tenang itulah saya sempat berpikir - seandainya saya tercebur habis ke dalam dan nyemplung - maka benar-benar habis ceritanya. Sebab sekitar situ hanyalah hutan - perbukitan - dan tak ada orang-orang lewat. Dan takkan mungkin sebuah teriakan sekeras apapun akan terdengar, sebab letak sumur-tua dan mati itu sangat terpencil dan orang-orang takkan ada yang lewat ke sana. Membayangkan semua ini, lutut saya jadi gemetar - barangkali wajah saya lalu pucat. Betapa menyedihkannya - si sobron mati dalam sumur meninggalkan dua putri dan seorang istri, karena hanya mau nembak burung. Lalu saya bertekad tidak akan menceritakan kejadian ini kepada anak-istri saya dan juga kepada teman-teman saya grup tembur. Malu rasanya dan pabila diceritakanpun, saya hanya akan mereka ejek dan olok-olokkan.

Lalu saya jalan mau menuju pulang. Minta ampun lagi. Dihadapan saya ada tiga ekor serigala. Tidak besar memang - tetapi agaknya cukup agresif, sebab bunyi mulutnya mengaum seperti sangat marah dan mau menyerang saya. Saya tembak yang satu, dan kena, tapi manapula bisa mati! Hanya dengan mimis 4 setengah! Dia mengaing kesakitan, tetapi tetap tidak mau lari. Saya tidak akan sanggup berkelahi dengan tiga ekor serigala. Bagaimana akal? Saya terdiam - tiga ekor serigala itupun juga diam bertahan menunggu saya. Barangkali mereka menunggu saya berani apa tidak lewat di dekatnya. Sialan! Apa akal? Dengan kayu panjang lalu mementung dan memukul mereka - lalu barulah lewat menembus blokade mereka? Tidak mungkin. Ya Tuhan, ternyata di dekat mereka itu ada beberapa bekas kaleng - entah bekas kaleng apa saya tidak tahu. Lalu laras senapang saya arahkan ke kaleng itu. Dan saya tembak. Bunyi gema tembakannya sangat ribut dan tiga ekor serigala itu terkejut dan lalu lari. Bunyi suara kaleng tembakan sangat ribut dan menggema, sebab kami ada di lembah - di bawah pegunungan - sehingga suara apapun sangat ribut dan ada echo-nya - ada gaung dan gemanya. Segera secepat mereka lari - sayapun lari menembus blokade tiga ekor serigala itu. Lari ketakutan dan lari dalam keadaan biasa - akan lain. Lari ketakutan - tenaga keluar secepat dan sekuat rasa takutnya. Sudah jauh dan sekira tak mungkin lagi tiga ekor serigala itu menguntit saya, menarik nafas panjanglah saya!

Lagi-lagi saya berpikir - hari itu kenapa begitu nyaris. Tetapi bahaya nyaris yang pertama itu - benar-benar akan saya simpan dalam hati. Tidak akan saya ceritakan kepada siapapun - kecuali dalam tulisan cerita ini. Saya tahu bahwa saya hanya akan jadi bahan ejekan keluarga saya dan teman-teman saya. Tetapi nyaris yang kedua ini - saya mau ceritakan kepada keluarga - anak-anak saya dan teman-teman saya. Kenapa? Barangkali karena ada sedikit unsur buat berlagak - bisa sok sedikitlah! Barangkali ada sok berani dan sok pahlawannyalah, walaupun setelah kejadian itu, saya menjadi sangat jarang bepergian secara sendirian yang risikonya bisa hilang secara konyol! Semua ini gara-gara hobby nembak - tembur - di pedesaan kami yang sangat luas dan indah alam rayanya,-



07. Seorang Teman Kami Mau Masuk Team

Suatu hari tim atau grup kami membicarakan, ada seorang teman mau masuk tim kami - tembur = tembak burung. Kenapa sampai harus kami bicarakan bersama - apakah akan kami terima atau kami tolak? Ada perkara lainnya. Dia ini kami kenal sebagai orang atau sebagai penembak yang tidak atau kurang jitu. Dulu sebelum kami membentuk tim, teman kami yang namanya Koko ini pernah juga ikut kami menembak. Tetapi hasilnya sangat minim - pabila dia membawa pulang lima ekor saja sepanjang 8 sampai 10 jam itu, sudah bukan main bagusnya.

Sedangkan kami, paling kurang membawa 40 ekor lebih burung berbagai jenis. Nah, setelah kami membentuk tim, di mana dan tentu saja Koko tidak terpilih - tetapi dia mau ikut kami menembak. Perkara ini tidak bisa begitu saja. Tim ini ada peraturannya ada disiplinnya - tidak bisa sembarangan. Yang kami tahu - Koko ini dari tim-penjahit. Tim yang mengurus semua yang bersangkutan dengan jahit-menjahit - membuat pakaian yang sederhana dan dalam urusan tambal-menambal. Sebenarnya hebat juga teman kami ini, dia tahu perkara jahit- menjahit dan tambal-menambal pakaian saja sudah baik sekali - di mana antara kami tidak ada yang bisa.

Koko badannya kecil - ramping dan cekatan. Biar dia kecil, tetapi beraninya bukan main. Berani apa saja - termasuk berkelahi. Pabila dalam diskusi yang sengit, dia selalu berbicara berapi-api dan semangatnya selalu tinggi. Pabila amper suasana diskusi itu naik dan panas - mata bulatnya itu akan
melotot dan urat lehernya hijau menonjol. Dia sangat ulet mempertahankan pendapatnya. Dan air liurnya akan agak muncart ke depan muka kita karena begitu semangatnya dia bicara. Tetapi satu hal yang kami tandai - Koko tidak punya rasa dendam dan hatinya sangat baik. Dia sangat baik dan sangat bertanggungjawab. Mengingat hali ini semua, kami rata-rata setuju dia ikut tim kami. Pasal bahwa dia samasekali bukan penembak jitu - sudahlah - ini kan bukannya pertandingan adu jitu dan adu banyak dapat burung! Maka pendek kata dia kami terima masuk tim kami. Dan pula kami sebenarnya sangat memahami, dia sangat suka dengan semua teman di tim kami - dan tidak begitu sepaham dengan beberapa teman yang tinggal di asrama perkampungan kami. Jadi ada unsur rasa tenggang-menenggang juga antara kami. Sebab rasanya tidak sampai hati meninggalkan dia di tengah teman-teman yang tidak begitu sepaham dengan dirinya. Sebenarnya ini juga tidak penting amat, hanya simpati kami kepadanya sangat tinggi - karena dia memang baik - bertanggungjawab dan giat
bekerja dan belajarnyapun baik.

Dia sangat gembira setelah tahu bahwa kami semua menerima masuk tim kami. Nah, dia rupanya tahu diri juga - bahwa kalau hanya didasarkan atau berdasarkan perolehan menembak burung, dia tentu saja takkan masuk hitungan. Karena itu rasa mindernya ini, dia alihkan dengan banyak membawa makanan dari kantin kami buat kami semua. Tokh dia tahu, nanti pulangnya mana pula dia akan membawa banyak burung! Kami semua dengan semangat berteman akrab, menerima dan bergaul dengannya.

Buat menuju ke hutan atau gunung dari perkampungan kami - ada sebatang sungai yang agak besar di mana ada perahu tambang buat menyeberang. Dan harus bayar - satu orang 25 sen yuan - murah sekali. Satu tim kami yang 12 orang itu bisa muat dalam satu perahu tambang yang cukup besar itu.
Mendekati bibir pantai seberang - ada gugusan pohon yang agak lebat. Dan kami degar ada kelepak bunyi burung. Kami amati - dan benarlah ada beberapa ekor burung balam yang besar. Barangkali mereka sedang pacaran! Lalu begitu perahu kami yang goyang itu - melenggak lenggok mendekati daratan - kami siap menembak. Dan ada teman yang sudah menembak - tetapi tentu saja takkan kena, sebab gerak perahu sangat tidak stabil. Anehnya burung balam tadi tidak terbang - tetap saja berkelapak dirimbun dedaunan dan ranting-ranting.

Rupanya teman kami Koko juga membidikkan senapangnya. Dan lalu dia lepas pelatuknya - dan bunyi dosss...kena. Balam itu kontan jatuh ke air. Dan ada seorang teman mengambil burung yang jatuh ke air itu, lalu memberikannya kepada Koko. Tetapi Koko masihterlihat kebingungan - terdiam kaku - bagaikan patung! Rupanya dia juga jadi kaget besar danheran besar - kok bisa kena - kok bisa jatuh! Tapi lama-lama dia baru sadar - bahwa semua teman bertepuk gembira menyambut hasil Koko dan juga hasil pertama dari seluruh anggota tim kami. Bahkan belum sampai ke medannya - hutan dan pegunungannya - tapi Koko sudah menjatuhkan seekor balam yang besar dan montok!

Kami penuh dengan gurauan. Kami rata-rata yang dapat dikategorikan penembak jitu - tetapi kalah mentah-mentah dengan Koko yang terkenal tidak jitu tembakannya. Ada teman sambil bergurau. Katanya " itu ada dua aspek sebab musababnya", kata teman yang akhli teori dua aspek itu.....
"Pertama memang burung itu dalam keadaan sial - memang nasibnya mau mati...dan aspek kedua...justru Koko yang menjatuhkannya karena hanya dengan perahu yang goyang, Koko barulah jitu sebagai penembak..", demikian kata teman kami yang akhli dua aspek itu. Dan kami semua tertawa termasuk Koko.

"Tetapi hal itupun, saya dengan rasa rendah hati,tetap menganggap bahwa saya sangat tidak jitu tembakannya", kata Koko berpidato. Sambil memegangi balam besar dan montok itu..... "Coba balam ini tadi - bagaimana saya dapat dikatakan penembak jitu! Padahal yang saya bidik mata kanannya - lalu kok yang kena justru mata kirinya........" Kami semua tertawa mendengarkan gurauan Koko. Ada-ada saja si Koko. Lalu dia berpesan kepada kami. "Nanti kalian sekali-sekali jangan kalian bilang bahwa saya menjatuhkan balam itu sebagai anggota tim yang pertama berhasil menjatuhkan balam ini",- demikian katanya. Pesan ini yang dia maksudkan kepada teman-teman kami di asrama, termasuk kepada tim lainnya yang siap menunggu kami.

Dan benarlah sebagaimana biasa - hari itu selama hampir 10 jam itu - Koko mendapatkan 4 burung termasuk satu balam yang pertama ditembaknya dari perahu yang main goyang sage itu! Tapi hari itu Koko telah memberikan rasa yang sangat gembira kepada kami semua - dengan perkara khususnya tadi - dibidik mata kanan - tetapi yang kena mata kirinya - bukan main teman kami Koko ini!

Dan sebagaimana biasa - ketika hari sudah agak malam - Koko teman kami itu selalu mengontrol kami seorang demi seorang - menanyakan apakah masih capek - dan apakah sehat-sehat semua. Apa semua berjalan lancar? Dia hanya satu-satunya di antara kami yang begitu peduli kepada teman senasib dan sepenanggungan- sepekerjaan. Selalu dia kerjakan buat menanyakan tentang kesehatan - keadaan pekerjaan - dan semua kepedulian kepada banyak teman. Hal dan perkara baik begini, kami harus banyakbelajar dari teman kami penembak yang tak jitu ini!



08. Hari Potong Kambing

Pabila ternak kambing kami sudah melebihi seratus ekor - biasanya Markas Barisan bersama semua teman yang menjadi pimpinan barisan dari dua pihak - pihak tuan rumah dan pihak kami - para melayu ini, ditambah teman-teman para penggembalanya - pengangon, akan memutuskan potong kambing pada hari tertentu. Dan ditetapkan jumlahnya berapa ekor. Dan pelaksanaan pemotongan kambingnya diserahkan kepada saya. Dan saya bersama beberapa teman-teman yang bertenaga masih okey - lalu mengadakan persiapan secukupnya. Saya sendiri mulai mengasah pisau buat keperluan semua itu. Ada pisau buat potong kambingnya - ada pisau buat menyayat dan memotong dagingnya serta beberapa alat lain - seperti kapak kecil yang tajam dan beberapa parang atau golok buat memotong bagian-bagian tertentunya.

Dan beberapa teman menyiapkan gantungan buat menyangkutkan kambingnya buat dikuliti. Biasanya dekat situ harus ada buat sangkutan tali - dan harus beberapa gantungan dan tali-temalinya. Sebab biasanya kami akan selalu memotong antara empat sampai enam kambing sekali potong. Di rumah, saya mengasah beberapa jenis pisau yang berlainan penggunaannya. Barisan wanita buat memasaknya sudah siap. Para wanita di tempat kami - pada umumnya pandai masak dan masakannya enak. Biasanya mereka memiliki berbagai bumbu yang mereka simpan. Dan banyak pengajuan pendapat dari teman-teman kami, agar bikin gulai kambing cara Arab - ada yang mengusulkan agar bikin gulai-kambing-cara Aceh - cara India dan ada beberapa lagi. Ada yang mengusulkan agar bikin nasi-beriani-kambing. Sudah tentu dengan persateannya. Buat semua ini belasan wanita sampai puluhan, turut bekerja menusuki sate. Bayangkan seekor kambing bisa dijadikan sate sampai ratusan tusuk. Lalu bagian-bagian lainnya banyak bisa dibikin berbagai macam masakan dan cara.

Potong kambing ini boleh dikatakan monopoli pekerjaan saya. Kenapa begitu? Pada awal mula kami memotong kambing - tidak seorangpun yang bersedia secara sukarela - karena bermacam sebab. Bisa karena ngeri - takut - bisa karena belum pernah - belum terbiasa - bisa karena pertimbangan yang sulit diraba. Ketika saya dengan sukarela mengajukan diri,- dan ternyata banyak teman lain lalu setuju dan mendukung "pengangkatan" saya sebagai kepala jagalnya.

Sebenarnya ada rahasia yang tidak mau saya buka - di kampung kami di Belitung, kambingpun tak ada! Kalau mau potong kambing dan mau makan kambing - menunggu dulu perahu yang datang dari Pulau Bawean atau Pulau Jawa, apakah ada membawa kambing buat dijual di Tanjungpandan Belitung. Jangan heran buat para pembaca cerita ini : di kampung kami tidak ada sapi - tidak ada kuda - dan tidak ada kerbau, termasuk tidak ada kambing,- ini dulu sampai tahun 1950. Semua yang saya sebutkan didatangkan dari Pulau Jawa atau Butun - Makassar dan pulau lainnya. Jadi sebenarnya saya berlagak sudah biasa! Padahal sama begoknya dengan teman lain. Saya pikir - daripada kita atau kami tidak makan daging kambing yang sangat enak itu - mendingan sayalah yang jadi pemotongnya - jagalnya. Sedikit ilustrasi - selama 7 tahun - dari 1971 sampai 1978, saya sudah memotong kambing sebanyak 126 ekor kambing.

Beberapa teman saya - termasuk teman wanita - ketika hari pemotongan kambing itu - sangat berbaik-baik kepada saya. Mendekati saya dan suka senyum-senyum yang biasanya jarang senyum begitu manis dan ramah. Tentu sayapun tahumaksudnya. Dengan kerdipan mata, di antara mereka ada yang bilang " Mas, tolong nanti ya - seperti biasa deh...kebijaksanaan..saya tunggu di dapur nanti ya...". Ada juga yang pesan torpedonya - pelurunya - kemaluan kambing itu...dan ada yang pesan buahdada kambing...dan banyak lagi. Yang wanti-wanti pesan torpedo itu justru....teman saya wanita yang satu grup belajar dengan saya....buat suaminya...... Barangkali suaminya agak malu datang kepada saya buat "hanya" keperluan gituan! Dan istrinya yang lebih dekat saya karena satu grup belajar - dengan tidak malu-malu tidak segan-segan minta agar saya asingkan sepasang torpedo kambing buat mereka masak tersendiri di rumahnya. Dan saya tentu saja secara diam-diam akan memenuhi harapan itu. Dan tidak ada peraturan bahwa daging kambing itu harus secara utuh semuanya masuk dapur. Apalagi semua ini adalah ternak hak-milik kami semua - jadi setiap orang merasakan memiliki bersama. Dan lagi samasekali tak ada hubungan relasi secara demikian adalah korupsi. Semua dilakukan secara sukarela dan senang hati.

Terkadang saya sendiri diundang ke rumah teman-teman yang minta "kebijaksanaan" tadi buat makan bersama. Di kantin beberapa teman wanita dan teman-teman Tiongkok yang memang bekerja di dapur, bersama masak-masak daging kambing dengan berbagai jenis masakan. Yang namanya persatean - kami buat pemanggangnya sendiri di luar dapur. Sebab asapnya bisa ke mana-mana masuk ruangan kantin kami. Pokoknya hari itu - Hari Pesta Perkambingan. Dari masakan persatean sampai pergulaian - dan diumasak campur nasi beriani model Arab - model India- Pakistan dan benda-benda serta barang-barang aneh lainnya - seperti torpeda - peluru dan kemaluan serta buah dada kambing. Ada juga yang dimasak secara tersendiri dan dihidangkan di meja umum. Sudah tentu agak rebutanlah. Para wanita kami, benar-benar sangat pandai membuat suasana makan yang enak - lezat serta selingan-selingan dan bervariasi. Misalnya mereka membuat acar segar - dengan rasa asam-manis dan pedas buat mengimbangi gemuk - fat - kambing itu. Dengan adanya masakan pengimbang ini - banyak teman sangat menyukai cara ini.

Kami juga memberikan makanan masakan jadi maupun daging yang masih segarnya kepada teman-teman Tiongkok - tuanrumah kami. Daging kambing segar itu kami berikan kepada mereka dengan maksud agar mereka sendirilah yang memasaknya menurut kesukaan dan cara mereka. Tetapi masakan kamipun kami berikan juga buat merasainya. Karena tuanrumah kami yang bekerja buat kami itu banyak kaum hoakiau-nya, yang memang berasal dari Indonesia - mengenal jenis masakan Indonesia, sudah tentu dengan senang hati menerima pemberian kami. Bahkan di antara teman-teman tuanrumah kami itu, kami ajak makan bersama di rumah teman-teman tertentu.

Pada Hari Pemotongan Kambing - rasanya seperti kondangan - ramai sekali dan gembira sekali - sebab semua makanan dan masakan berasal dari tangan kami sendiri. Tuanrumah kami melihat dan menyaksikan bagaimana kami masak memasak dan mengolah kambing dari sejak pemotongannya sampai jadi sate dan gulai serta nasi-berianinya di setiap meja di kantin. Kantin ketika itu ramai dan gembira. Buat kambing sebanyak itu- kami makani dua tiga hari. Dengan pikiran mungkin setelah ini empat-lima bulan lagi barulah makan kambing secara begini lagi. Kami pada hari itu bekerja buat masakan kambing - sibuk makan kambing dan ada yang hanya menggadonya saja - tanpa makan nasi. Saya tidak begitu openi dan tidak banyak cerewet terhadap teman-teman saya yang minta :"kebijaksanaan" dengan peluru - torpedo dan "dua buah gunung" yang ada di badan kambing betina itu. Karena saya samasekali tidak percaya bahwa dengan makan benda-benda aneh itu, akan mendatangkan "keperkasaan"pada abdulmalik kecil kita! Mungkin mereka hanya kena pengaruh sugestif saja. Bukan itu kalau mau "perang-tahan-lama", malah dengan semua itu mungkin
hanya bisa "perang-cepat-selesai",- itupun belum tentu. Yang pokok pabila saya turut makannya - hanya saya rasakan enak dan lezatnya saja - bukan karena ada pengaruh lainnya. Ya kisah kehidupan kami dengan Hari Potong Kambing itu - cukup menggembirakan menyenangkan hati semua kami diperkampungan Desa Gunung Kepala Ayam, jauh tersuruk di pedalaman Jiangxi,-


09 Sehari-hari di Perkampungan Kami

Tata-letak perumahan - pergedungan di perkampungan kami, ada beberapa gugusan atau bubungan perumahan. Perumahan buat teman-teman bujangan - maksudnya tidak ada keluarganya - karena keluarganya di Indonesia - jadi bukan menurut usianya. Dan gugusan perumahan buat yang berkeluarga dengan anak-istrinya. Kami namakan blok A dan blok B. Dua gugusan perumhan ini terletak di tanah ketinggian - bagaikan bukit kecil. Lalu antara dua blok perumahan ini, agak di bawahnya, ada kantin kami. Ada perumahan buat orang-orang Tiongkok yang mengurusi kami - lalu ada lapangan basket - lapangan volley - lapangan badminton dan puskemas - klinik kecil. Dan ada dapur-air-panas yang pabila tanda sudah mendidih - peluitnya lalu berbunyi
tuiiit.... Dan kami ramai-ramai antri menadahkan termos buat air-panas. Seorang terkadang bisa bawa dua atau tiga termos - terkadang cukup satu saja. Yang berkeluarga, ada yang membawa empat termos - semua tergantung pada kebutuhan masing-masing. Seseorang yang kebetulan tak mendengar tanda peluit air-panas, akan bertanya kepada seseorang yang diketemuinya........"mbak, apa tadi sudah ada bunyi tuiiit..."?

Tuiiit itu tanda air-panas kami sudah boleh diambil. Ini akan ada tanda bunyi tuiit itu tiga kali dalam sehari. Ketika pagi mulai jam 06.00 dan siang mulai jam 12.00 lalu periode malamnya mulai jam 18.00. Bunyi tuiit itu akan terdengar ke blok A dan blok B, dan lebih akan terdengar di perumahan orang Tiongkok, sebab letaknya berdekatan. Pabila sore hari - selepas kerja dari ladang dan perkebunan - dekat kantin, yang ada lapangan olahraganya - akan ramai teman-teman main volley - basket dan terkadang badminton. Lapangan sepakbolanya, terpisah agak ketinggian - beberapa puluh meter antara blok A dan blok B.

Blok A dan blok B, ada jalan tikus - kecil - terkadang ketika hujan lebat, tergenang air - tetapi hanya beberapa jam saja - sudah itu surut dan normal kembali. Seseorang yang dari blok A atau blok B mau berkunjung ke blok lainnya, selalu akan melewati dekat puskemas - klinik kecil. Dan berhadapan dengan puskemas, agak di atasnya - ada toko-koperasi. Dijual segala keperluan yang kira-kira sesuai dengan kebutuhan kami - orang-orang Indonesia dan orang-orang Tiongkok. Terkadang ada barang atau makanan atau buah-buahan yang dari luarnegeri. Misalnya ada pisang yang bagus-bagus dan besar-besar dari Afrika - Mali - Somalia dan lain-lainnya. Biasanya pabila ada barang - benda - makanan yang kami tertarik - kami akan antri membelinya. Dan terkadang toko yang tidak besar ini menjadi titik-pertemuan kami - sambil lihat-lihat barang. Rasanya toko-koperasi itu sudah menjadi sebagian hiburan kami - tempat rekreasi. Bertemu sesama teman lalu ngobrol - dan siapa tahu sedikit gosip. Ternyata gosip itu bisa menjadi tambahan kesenangan yang walaupun tidak baik.

Di dekat perumahan teman Tiongkok, ada beberapa pohon besar - tinggi - dan buahnya banyak. Pohon itu adalah pohon kesemak - buah kaki namanya. Buahnya besar dan kuning dan sangat menarik. Tetapi biasanya tidak bisa begitu jatuh lalu begitu dimakan - sebab masih keras dan bergetah banyak. Diendapkan atau diperam dulu. Akan lebih baik kalau diperam atau diendapkan dalam air dicampuri kapur. Paling cepat keesokan harinya bisa dimakan. Dan betapa enaknya - manis lezat dan renyah rasanya. Kami berdua Mawi - yang penyair yang selalu di milis ini - sangat suka akan buah itu.

Seorang Tiongkok - guru kami dalam bertani - berladang - adalah orang yang sangat sabar - baik dan menyenangkan. Namanya Lie disebut Lao Lie. Pabila dia mengawasi dan mengajar kami cara membuat jalur - galangan - bagaimana besar dan panjangnya dan tebalnya tanah - dan kegemburannya - lalu sambil menyangkul, kami tanya "tsemmeyang Lao Lie - geyi ma, ce yang de?" ( bagaimana Lao Lie - boleh nggak seperti ini...dan Lao Lie akan dan selalu menjawab....ge yi - geyi.......hen hao....( ya boleh - boleh...bagus sekali...) Mungkin Lao Lei segan kepada kami - yang "tamu-tamu asing" ini, lalu mengatakan boleh - boleh - sudah bagus kok....padahal tak lama sesudah itu, ketika kami sudah pulang,- kami lihat Lao Lie memperbaiki pekerjaan kami. Karena kurang panjang jalur dan lajur yang kami cangkul - kurang besar galangannya, dan kurang tebal tanahnya yang akan ditanami. Banyak kurangnya walaupun Lao Lie bilang hen hao - hen hao - ge yi - ge yi. Lao Lie adalah petani yang memang tani betul-betul tani asli - penduduk asli Jiangxi dan kami tahu, dia sangat menghormati dan menghargai kami. Kami sering beromong-omong dengannya dan banyak tanya ini itu dalam masalah tanah - air dan pupuk. Lama-lama antara kami menjadi tambah dekat. Dan Lao Lie sudah tidak begitu segan lagi menunjukkan sesuatu yang tidak bersesuaian dengan ajarannya. Lalu tidak lagi dia selalu mengatakan..ge yi ...ge yi...hen hao - hen hao..... Tetapi dengan cangkulnya dia lalu menunjukkan bagaimana mengatur tanah - mengatur galangan dan mengatur lajur dan jalur dan ketebalan tanah buat ditanami. Sekarang antara kami dan Lao Lie guru pertanian-perladangan kami - sudah ada ikatan persahabatan antara guru dan murid. Ternyata rupanya - pabila kita berusaha buat membukakan hati kita
kepada orang yang kita hadapi - diapun lambat-laut akan terbuka juga kepada kita. Ternyata buat membukakan hati - selalu dengan keikhlasan - kejujuran dan kesungguh-sungguhan - dalam segala bidang kerja,-



10.Sehari-hari di Perkampungan Kami.

Musim panas terasa sangat panas di perkampungan kami. Pabila pada puncaknya -antara bulan Juli dan Agustus, terutama minggu kedua bulan Juli sampai minggu pertama bulan Agustus - cuaca panasnya sampai 43 dC. Ketika itu maunya hanya minum air-sejuk saja. Dan nafsu makan sangat kurang dan juga rata-rata kami kurang tidur. Jam 21.00 masih terang dan tidak perlu menyalakan lampu, dan pada jam 05.00 sudah mulai terang dan perlu memadamkan lampu. Selepas kerja dari ladang - kami masih punya banyak waktu sampai ke waktu tidur malam. Ketika itulah banyak teman-teman dengan masing-masing kegiatannya. Ada yang berolahraga main badminton ada yang main volley dan ada yang jalan kaki - jalan jauh sampai satu dua jam.

Kami berdua mas Bad ( sudah meninggal tahun 1998 ) biasanya berenang di telaga yang agak besar, tak berapa jauh dari perkampungan kami. Banyak juga yang berenang antara teman-teman kami. Di seberang sini - kami para melayu ini dan di seberang sana - kawanan kerbau juga berenang dan main air - berendam - dan apa yang saya ceritakan ini adalah betul-betul kawanan kerbau seperti di kampung kita. Dan sebelum sampai ke telaga itu, kami melewati perladangan kami - yang kami kerjakan sendiri. Dan sambil melihat ke kiri dan ke kanan, kami petik buah timun-suri yang besar dan sudah pada matang.

Di tempat kami namanya melon. Dan enak sekali. Yang heran dan ajaibnya - kami petik buah melon itu dengan rasa mencuri - sebab secara liar - padahal sebenarnya tadi siangnya kami juga yang menyiram - menyiangi dan memperbaiki galangannya. Dan sorenya kami curi sendiri yang kepunyaan bersama kolektive kami. Tapi yang namanya mencuri adalah mencuri - nggak usah macam-macam berdalih. Rasanya lucu juga yang kami kerjakan ini. Rasanya mencuri cara begitu asyik juga - dan rasa buahnyapun enak juga.

Pada suatu kali kami dikejutkan oleh suatu kejadian. Ketika seorang teman kami - malam-malam melewati jalan tikus yang sebelah menyebelahnya masih tergenang air karena hujan lebat kemarennya - mau bertandang ke blok lain - tiba-tiba terasa di kakinya ada gigitan. Tetapi dia, teman kami itu namanya Bung Elemen, tidak membawa batere atau sentolop bahasa antara teman-teman kami. Ketika itu tidak terasa sakit yang serius. Tetapi beberapa puluh menit kemudian terasa sangat sakit dan sangat menyengat. Dan dia lalu merintih.

Teman yang menyaksikan luka di atas telapak kakinya sudah merasa curiga - ini adalah gigitan ular yang sangat berbisa. Karena kakinya itu menjadi bengkak besar sekali - dan badannya menjadi gemetar. Segera teman-teman sekeliling kamarnya membawanya ke puskemas. Oleh dokter Yang namanya - segera diobati - diinjeksi penahan sakit dan pencengkal bisa - racun. Tetapi Mas Elemen masih tetap merasa sakit dan sambil merintih. Banyak teman-teman yang mengerumuninya menyatakan rasa iba-kasihannya. Malam itu juga pihak tuanrumah dan puskemas kami mengambil keputusan, bahwa mas Elemen dibawa ke kota - ke Nanchang buat masuk rumahsakit-tentara yang biasa kami berobat. Mas Elemen disertai dua dokter dan satu jururawat.

Kabarnya setelah kami ketahui keadaannya - nyaris saja kami kehilangan mas Elemen. Gigitan ular itu adalah gigitan ular-lima-langkah. Yang terkenal di antara orang kampung penduduk Jiangxi sebagai ular yang sangat berbisa. Biasanya kebanyakan orang yang dipagut - digigitnya - hanya lima langkah bisa hidup - lalu mati tegeletak karena bisa-racunnya yang luarbiasa. Sesampainya di rumahsakit sampai keesokan harinya, mas Elemen masih sakit serius - badannya membiru dan gemetar seperti orang sakit malaria. Sesudah hari kedua dan ketiga, barulah mas Elemen terlepas dari krisis penyakitnya. Dan betapa cukup sengsaranya mas Elemen - setelah hampir tiga bulan di rumahsakit tentara itu - barulah mas Elemen dinyatakan sembuh dan boleh pulang ke perkampungan kami. Kami para tembur - tembak burung yang biasanya selalu bertemu berjenis ular - semakin sangat berhati-hati - tidak sembarangan seperti dulu lagi. Tidak berani lagi secara sembarangan tiduran di bawah pohon rindang yang kelindungan dan sepoi-sepoi angin bertiup lalu menidurkan kami. Tidak tahu dan tidak terasa seekor ular menaiki badan kami - dan begitu terasa, sangat pantang lalu mengejutkan si ular - sangat berbahaya.

Mengingat pengalaman masing-masing ini, kami lalu sangat berhati-hati. Pabila ada teman-teman yang nekat lagi tiduran di bawah pohon rindang karena kelelahan- kepanasan dan ngantuk, lalu ada teman yang meningatkan ....."emangnya ente mau jadi mas Elemen - tiga bulan dikerangkeng di rumahsakit. Mau ya?". Lalu teman itu ingat peristiwa menyedihkan di perkampungan kami. Tapi yang namanya tergila-gila pada hobby nembak - mana ada kata kapok atau jera! Termasuk saya! Tetap saja kami sebagai penembur, juga suka nangkap ular, karena daging ular sangat enak - apalagi kalau di sop oleh mbak Martini - dengan banyak mericanya - bukan main enak sop ular itu - lupa akan adanya ular lima langkah yang mengigit mas Elemen dulu itu.


 

11. Sehari-hari di Perkampungan Kami

Banyak pekerjaan di kampung kami - tidak ada waktu buat menganggur. Waktu terisi penuh. Karena itu kami sangat mengharapkan atau menunggu kapan hari Minggu datang. Hanya pada hari Minggu-lah kami bisa istirahat dan mengadakan kegiatan buat pribadi-pribadi. Teman yang bertanggungjawab atas barisannya, akan selalu mempertimbangkan di bagian mana seseorang akan ditempatkan - buat pekerjaan sehari-hari. Menurut saya - pekerjaan yang berat dan sangat berat - yalah mengangkut dan memikul tinja manusia. Dengan dua tong yang cukup besar kita mendatangi setiap wc, mengautnya dengan galah yang panjangnya dua tiga meter ke dalam lobang wc, dan memasukkannya ke dalam dua tong yang harus kita pikul itu. Dan siap pikul menuju galangan atau jalur tanaman yang harus disirm dengan tahi manusia itu. Jalannya di seluruh bagian kampung kami, tidak rata - turun-naik - ada tangga yang semi darurat - ada bagian di ketinggan - lalu menurun dan begitu terus. Bagian yang rata lebih sedikit daripada bagian yang tidak ratanya. Pada bagian tidak rata dan turun-naik inilah kami para pemikul tinja ini sering jatuh - atau terperosok. Dan kalau sudah begitu - dua tong yang berisi tinja tadi juga akan tumpah. Dan kalau tumpah - minta ampun - pekerjaan jadi dobbel - harus membersihkan - mengautnya lagi.

Pada pokoknya ketika kami baru mulai belajar bekerja dalam bidang produksi
pertanian - ada-ada saja di antara kami yang tertimpa "kecelakaan kecil" ini. Tetapi pada umumnya teman lain akan segera membantu dan menolong
seseorang. Sudah tentu karena kami ini orang baru - baru mulai merasakan pekerjaan baru yang dulunya tidak pernah - lalu tentu saja ada perasaan berbagai macam. Ada perasaan - lihat ini saya bekerja badan - sedang dalam kancah pengubahan ideologi burjuis kecil menjadi ideologi proletar. Hanya intelektuil yang benar-benar terintegrasi dengan kerja-langsung produksi barulah benar-benar seorang intelektuil sejati! Tetapi ada juga yang
sebenarnya malas-malasan - ogah-ogahan - segan dan tidak gembira melakukan kerja-badan itu. Setiap orang akan tercermin bagaimana dia menghadapi kerja-badan secara langsung begini. Semua transparan tanpa terkecuali dan dengan sendirinya tergambar secara telanjang dalam kepribadian seseorang.

Memikul tahi dan menyiramkannya ke tanaman - sayuran - menurut saya inilah
pekerjaan yang berat. Sebab agak jauh - ada sekira 100 sampai 200 meter harus jalan naik-turun tak rata sambil memikul dua tong dan bergoyang-goyang lagi - karena belum terbiasa. Seorang teman kami yang sangat mau turut memikul tahi, padahal sudah banyak dinasehatkan teman-teman agar memilih pekerjaan lain - masih tetap nekad mau turut pikul tinja. Kami rata-rata tidak tega kalau mbak itu turut mikul - dua tong tinja yang cukup berat bahkan berat sekali buat mbak itu. Dan kami tahu dan melihat sendiri, mbak itu pabila jalan biasa saja - tidak seimbang jalannya. Nah, ini sambil pilkul tahi lagi! Pemikul tahi harus jalan yang ada bagian di tepi lobang besar yang penuh kotoran - termasuk aliran tinja. Pabila dekat situ mbak kita ini jalannya - lalu oleng seperti perahu kena arus deras. Semakin oleng jalannya - dua tong itu akan semakin tidak stabil. Dengan sangat prihatin - kami melihat dengan rasa sedih - mbak itu tercebur dan masuk lobang kotoran itu. Segera kami berlari menolongnya bangkit dan naik ke atas. Tentu saja seluruh badan mbak kami ini - basah kuyup dan penuh kotoran dan tentu saja ada tahi-nya. Dan tentu saja bau ke mana-mana.

Tetapi mbak kita ini bukannya lalu menangis - malah tertawa merasa lucu.
Kami membawanya ke tempat kamar mandi agar dia mandi dan ganti pakaian. Karena mbak kami ini orangnya sabar - suka bergurau - tak pernah marah, ada beberapa teman menanyakan - dan ini benar-benar pertanyaan sangat usil.

"Bagaimana rasanya mbak ketika tadi itu?

Ada nggak terminum air kolamnya....."
"Ya tentu saja ada, wong namanya kecebur masuk langsung kok!"
"Lalu apa rasanya dong?"
"Ya ada terasa asin........dan bau........!"

Yang mendengar sulit menahan tertawa dan paling-paling merasa sangat geli. Padahal mbak kami ini, biar gitu-gitu juga banyak tahu bahasa dan sering diundang badan-badan internasional sampai tingkat PBB, orangnya hebat di gelanggang internasional - tapi baru belajar bagaimana bekerja berproduksi secara langsung.

Gara-gara saya bertahan agar tetap mencapai waktunya dalam bekerja memikul
tahi ini - saya merasa kelelahan. Dan saya sebenarnya punya penyakit kronis - darah tinggi. Keesokan malamnya saya merasa sangat sakit kepala. Dan dokter dari puskemas kami datang memeriksa. Darah saya 200/120, dan dokter Yang langsung memberikan surat-keterangan dokter, bahwa saya harus istirahat total selama lima hari. Hari itu saya diinjeksi - dan dokter sehari dua kali melihat saya dan mengukur tekanan darah saya. Seminggu sesudah itu oleh puskemas saya dianjurkan buat beristirahat ke sanatorium Lu-Shan, suatu tempat yang sangat bagus dan sejuk serta indah pemandangannya.

Saya merasa beruntung- sudah merasakan kerja berproduksi secara langsung dan
memikul tahi - yang pekerjaan itu bagi saya cukup berat. Sejak kejadian itulah - teman-teman menolak pabila saya mau turut mikul tinja buat pekerjaan menyiram tanaman dan sayuran perladangan kami. Lalu saya dipindahkan ke bagaian cabut-rumput. Tetapi bagian ini lain lagi kesukarannya. Karena perut saya ini tidak kecil dan saya punya perawakan
gendut - lalu pabila cabut rumput - akan sangat sulit bangkit - mata berkunang-kunang pabila bangkit dari duduk atau nongkrong sambil cabut-rumput. Bagi saya pekerjaan cabut-rumput jauh lebih banyak kesulitannya daripada mencangkul. Dan pada akhirnya saya memiluh pekerjaan mencangkul - mengolah tanah - membuat galangan - membuat jalur dan lajur. Jadi sebenarnya bagi saya - pekerjaan yang berat itu adalah memikul tahi
yang dua tong dan harus turun-naik tangga di perkampungan kami dan mencabut rumput. Banyak sekali jenis pekerjaan lain yang dapat kita pilih dan disesuaikan dengan kemampuan fisik kita,-


 

12. Sehari-hari di Perkampungan Kami

Dengan sepenuh pengertian dan memahami,pabila teman-teman Tiongkok agak
kewalahan juga menugurusi kami. Banyak di antara teman-teman kami yang kehendak - adat-istiadatnya - kebiasaannya tidak sama satu sama lain. Banyak suku-bangsa antara kami - ada puluhan suku-bangsa - termasuk ada yang dari Irian-Barat - Papua. Sebenarnya antara kami dengan teman-teman Tiongkok yang mengurusi kami - terdapat saling belajar - saling memahami. Bahwa antara masing-masing kita selalu ada kekurangan. Misalnya saja - Lao Chang kepala
dapur - chefkok kami - terbiasa masak kentang - masakan apa saja yang ada kentangnya selalu tak pernah kentangnya itu dikupas. Masih berkulit ketika kita makan. Dan kami tentu saja tak mau memakannya. Mereka heran - kenapa? Ada apa yang bersalahan? Setelah teman-teman kami menjelaskan, bahwa kami tidak pernah makan masakan kentang yang masih utuh berkulit. Kami makan masakan kentang apa saja selalu kulitnya dikupas dulu. Sejak itu pihak dapur selalu menghidangkan masakan kentang dikupas dulu kulitnya. Dan pihak dapur sangat gembira - sebab masakannya dimakan dan ada yang habis = piring kosong di bawa ke dapur. Mereka lalu bertambah mengenal tabiat dan kebiasaan kami.

Tetapi sebaliknya - dari pihak kami - teman-teman kami, ada juga yang cukup
sulit mengurusnya. Begitu banyak meja - harus dibagi dan dipilah-pilah, dikumpulkan. Meja mana yang teman-teman tidak makan babi - meja mana yang teman-teman tidak makan yang asin-asin - bergaram tinggi - meja mana yang teman-teman tidak makan ikan - tidak makan sea-food lainnya seperti kerang - kepiting - udang. Meja mana yang teman-teman tidak makan gula - yang manis-manis. Dan ternyata mengurus orang - mengurus pikiran orang - kebiasaan orang - jauh lebih sulit dari mengurus tanah - pupuk dan jalur serta lajur dan siram-menyiram tanaman dan sayuran! Coba, katanya tidak makan babi. Tetapi bila ada masakan kaki-babi - lalu minta kaki-babi - padahal tercatat tidak makan babi! Nah, bukankah kaki babi adalah bagian tubuh babi yang paling kotor! Paling banyak bersentuhan dengan kotoran segala tahi-menahi dan najis. Tetapi karena pihak dapur kami terkenal dengan masakan kaki babinya - dan enak - dan menggiurkan - lalu teman-teman yang tercatat tidak makan babi tadi - begitu ada masakan kaki babi - lahap dan rakusnya sama saja dengan teman-teman yang biasa makan babi!

Ada teman-teman tercatat tidak makan yang asin-asin yang bergaram tinggi -
duduk di meja yang sama-sama dietnya. Tetapi begitu ada hidangan telur-asin atau balado-ikan-asin - lalu minta masakan yang sama dengan teman-teman tidak berdiet garam. Ini bagaimana teman-teman Tiongkok tidak garuk-garuk kepala yang tak gatal! Ada yang berdiet gula - rasa manis - tetapi kalau ada kue yang tampaknya enak dan menggiurkan liur - lalu minta bagian! Ada yang lebih agak aneh juga. Ada teman-teman yang tak mau makan ayam! Ini sangat
jarang terjadi - sebab ayam adalah yang paling netral dari seluruh masakan perdagingan. Tetapi teman ini tak mau makan ayam - dan ini harus ada penggantinya - daging lain. Kami banyak juga yang heran - sebab pabila tak banyak orang tahu - dan agak tersembunyi - misalnya makan di kamarnya - ada teman yang membawakan daging ayam - tokh dilahap habisjuga! Lalu ada apa? Apa pasal tak mau makan ayam? Ternyata selidik punya selidik - teman itu pernah mengucapkan sumpah - tak mau makan ayam sebelum sampai di tanahair!
Ini sumpah banyak digelari teman-teman sebagai mulut-lancip! Ini bertentangan dengan sumpah Gajah Mada yang tak mau makan buah palapa! Dan ucapan sumpah begitu hanyalah rasa kekiri-kirian dan kekanakkanakan saja! Dan rasa kekikiri-kirian -kekanakkanakan begini - tak hanya satu dua orang saja. Oleh banyak teman yang biasa-biasa saja - ucapan begitu adalah ucapan-lancip! Tajam tak menentu yang malah sering patah brantakan!

Dalam kehidupan yang serba ramai begini - biasanya akan ada bukti
bersebalikan - akan ada ekornya yang sebenarnya - kulit dan bulu serta isi yang aslinya. Kehidupan yang begini - pada akhirnya akan transparan. Rupanya = seseorang yang terlalu "kiri" biasanya akan ke kanan - dan yang terlalu "kanan" sering-sering terjerumus ke jurang kiri - kekiri-kirian. Dan hidup yang begini - yang samasekali tidak normal seperti kami ini - akan selalu bertemu dengan ucapan yang juga tidak normal - ucapan tuduhan - tudingan dan main cap! Sudah tentu kehidupan orang yang bujangan dengan kehidupan yang punya keluarga - anak-anak - akan lain satu sama lain. Lain kebutuhannya. Banyak di antara teman-teman yang berkeluarga - punya anak-anak yang sedang
kuat-kuatnya dan banyak-banyaknya makan, akan selalu membawa makanan ke rumahnya- lalu di rumahnya nanti akan dimasak lagi dengan olahan yang sesuai selera mereka. Sedangkan yang diambil serta yang dibawa ke rumah mereka itu - adalah memang jatah mereka - dan bukan hak-milik orang lain. Di rumah nantiakan direvisi lagi agar sesuai dengan selera mereka dan anak-anak mereka. Tetapi bagi teman-teman yang "berselera kekiri-kirian ini", mereka yang mau merivisi makanan dari kantin itu, mereka namakan "kaum revisionis",- Sebab mereka berpendapat - makanlah apa yang disediakan di kantin saja, jangan banyak macam-macam - enak-enak saja, "ingat teman-teman di tanahair - di pembuangan Pulau Buru , betapa sengsaranya",- begitulah penafsiran mereka buat memberikan gelar "kaum revisionis" itu. Pada zaman itu gelaran kaum revisionis,sangat buruk dan busuk. Sebutan yang sangat menyakitkan.

Sebenarnya teman-teman yang berpendapat begitu - termasuk "kaum bermulut
lancip" juga. Rasanya tuduh menuduh dan saling tuding begini - mungkin sama saja antara kami - tidak bisa disebut mana yang "dosa dan kekeliruannya" lebih besar dan lebih menonjol. Jadi dan ternyata apa yang sedang kami pelajari dan gumuli ini - belum sepenuhnya mencapai hasil yang benar-benar diharapkan. Ada di antara kami berpendapat - bekerja yang seperti kita lakukan ini - barangkali pabila di tengah-tengah masyarakat kita sendiri di tanahair - barulah akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari sekarang yang kita lakukan ini. Tetapi entahlah - itu baru satu kemungkinan,-


 

13. Sehari-hari di Perkampungan Kami

Menurut saya - sebenarnya kehidupan kami sehari-hari di perkampungan kami
ini - cukup baik bahkan mungkin sangat baik. Kami dapat uang-saku dari tuanrumah - makanan berlimpah - disediakan obat-obatan dan dokter - dokter memetiksa setiap orang pada waktunya dan datang sendiri ke kamar-kamar. Orang tua dan yang tidak sehat, sangat diperhatikan. Semua dijamin - pakaian dapat dari pembagian. Lalu dapat rokok gratis lagi - semua kebutuhan disediakan - dan lagipula bukankah ada uang-saku setiap bulan. Secara fisik - secara kebutuhan kehidupan dari materi, semua ada dan disediakan. Menurut saya lagi, yang tidak ada itu adalah kebebasan pribadi sebagaimana manusia normal - seperti orang-orang yang normal itu. Tetapi hal inipun sangat relative - setiap orang memandangnya akan berbeda - tak sama. Apalagi seandainya kita berpikir - beginilah orang yang kalah dalam perjuangan-keras - menerima semua pengaturan. Tetapi hal beginipun tetap masih bisa diterima. Sebab
tanggungjawab kehidupan secara fisik semua kami ada pada tuanrumah. Tuanrumah menjamin semua kebutuhan dan keperluan hidup secara fisik. Mau bebas seperti orang normal itu, adalah tidak mungkin.

Tetapi apalagi sih! Kebun - perladangan disediakan - tanah buat bertanam apa
saja disediakan. Buat bertukang - pekerjaan-tangan ada bengkel dan gedungnya. Mau olahraga apa saja ada tempat dan arena-nya. Mau berbelian ke kota secara kolektive, tetap disediakan secara bergiliran dan menurut permintaan secara pengajuan permintaan - tetapi diatur satu bulan dua kali. Mau makan secara permnitaan - dapur siap menyediakannya. Sebenarnya menurut saya - kami ini berkehidupan cukup dimanjakan tuanrumah. Setiap musim-panas disediakan peninjauan ke provinsi Tiongkok lainnya. Selama satu bulan penuh diadakan dan diatur peninjauan yang selalu naik kereta-api - naik kapal bahkan naik pesawat dan ditempatkan di hotel yang terbaik di kota-kota tertenu. Makanannya menurut mekanan tamu istimewa! Tetapi maklumlah teman-teman di antara kami ini. Selalu ada-ada saja yang tidak puas. Kurang inilah kurang itulah - mau inilah mau itulah - dan dengan kata yang tidak begitu enak didengar, adalah cerewet!

Sudah tentu kami tidak bisa mau ke mana saja ke kota lain secara sendiri dan
semaunya. Misalnya besok atau lusa mau ke Shanghai atau ke Beijing. Mau jalan-jalan - mau lihat-lihat - mau pelesiran biasa. Ini tidak mungkin! Kami hidup secara kolektive - secara punya aturan dan disiplin sendiri. Dan perkampungan kami adalah salah satu proyek yang dijaga bagian keamanan TPRT = Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Sebab mereka bertugas melindungi tamu-tamu asing - tamu-tamu luarnegeri. Sedangkan komposisi perorangan kami - berasal dari banyak lapisan dan bidang pekerjaan dulunya - dan pendidikan tertetu. Di kalangan kami banyak insinyurnya - banyak dokternya - banyak profesornya - banyak tenaga akhli lainnya. Banyak mahasiswa yang hampir menamatkan pelajarannya. Tetapi karena peristiwa-gelap-bangsa tahun 65 itu, tidak bisa pulang dan menjadi orang buronan! Dan beginilah komposisi kami itu.

Banyak anak-anak yang lahirnya di luarnegeri. Tidak hanya di Tiongkok tetapi
juga ada yang lahir di Uni Sovyet - ketika zaman itu. Dan semua anak-anak ini begitu berkumpul di tengah masyarakat Tiongkok, mereka semua lancar berbahasa Tionghoa - sama dengan anak-anak orang Tiongkok para tetangga kami yang orang Tiongkok totoknya. Di perkampungan kami ada SD berbahasa Tionghoanya. Pabila sudah duduk di SMP - mereka akan melanjutkan bersekolah di ibukota kabupaten - namanya Gao An. Antara kami sudah bersepakat - terutama para orangtua dan teman-teman yang bertanggungjawab, bahwa anak-anak kami ini harus belajar bahasa Indonesia. Kebetulan buat bertugas mengajar bahasa Indonesia itu adalah saya - karena dulunya saya berasal dari bidang pekerjaan pendidikan - sebagai mahaguru di Institut Bahasa Asing - Beijing. Teman-teman memutuskan bahwa anak-anak kami yang puluhan banyaknya ini diharuskan belajar bahasa Indonesia. Mereka kebanyakan belum pernah belajar bahasa Indonesia. Antara mereka setiap hari selalu berbahasa Tionghoa.

Jadi ketika mulai pertama mereka diharuskan masuk kelas buat belajar bahasa
Indonesia - yang diatur dua kali dalam satu minggu - ketika selepas mereka bersekolah SD-nya. Mereka mulai belajar bahasa Indoensianya pada jam 15.00 dan hanya dua jam setiap kali mata-pelajarannya. Tentu saja ada yang merasa senang - tetapi tidak sedikit ada juga yang merasa malas-malasan dan tidak bersemangat. Saya yang langsung memberikan mata-pelajaran bahasa Indonesia ini - merasa sedih juga - dan merasa agak sedikit tertekan, karena mendengar anak-anak itu bertanya dan berkata tentang matapelajaran bahasa Indonesia ini.

Seseorang anak - namanya Tin yang sebaya dengan anak saya, Nita, bertanya
"Nita jin tian you mei you wei wen...? Shi ni papa ciao shima....( Nita, hari ini ada tidak palajaran bahasa asing. Kan katanya bapak kamu yang ajar ya kan?). Aduh mak! Bahasa Indonesia mereka anggap adalah bahasa asing...dan bahasa Tionghoa adalalah bahasa mereka sendiri.....Ketika dialog antara anak-anak itu, saya berpikiran - tugas yang saya hadapi ini bukan hanya mengajar bahasa saja - tetapi menyadarkan mereka bahwa yang diajarkan ini adalah bahasa mereka sendiri - dan tugas ini bukanlah tugas ringan - ini termasuk tugas kejiwaan - tugas nasionalisme. Tetapi harus dipikul,-


 

14. Kritik Dan Otokritik

Tak terhindarkan - tak dapat ditolak - bahwa antara kami-pun terkena
pengaruh RBKP = Revolusi Besar Kebudayaan Proletar di Tiongkok. RBKP ini sungguh banyak membawa kerugiannya - baik kerugian barang - benda budaya - dan bahkan jiwa manusia karena perkelahian - pertempuran antara sesaudara - sebangsa. RBKP adalah pergolakan bangsa Tiongkok yang luarbiasa besarnya. Tetapi oleh Konggres Nasional PKT, sudah dinyatakan bahwa RBKP pada pokoknya salah. Sudah banyak rehabilitasi dan segala sesuatu dikembalikan kepada proporsi yang sebenarnya. Dulu ada sebutan revisionisme Liudeng - yang dimaksud adalah Liu Shao-chi dan Deng Siao-bing. Padahal dua tokoh pimpinan Tiongkok ini adalah putra-putra bangsa termasuk terbaik. Tapi
keduanya sudah direhabilitasi. Bahkan Deng Siao-bing yang telah berhasil membawa Tiongkok ke permukaan dunia - hubungan luas antara bangsa dan dengan perekonomiannya sekarang ini - maju pesat.

Ada satu segi dalam kehidupan kami di perkampungan kami ini - ada acara
keluarga yang namanya Dou She Bisiu = Kritik Otokritik. Kritik Otokritik dilakukan pada acara KO ( Kritik Otokritik) ini. Boleh orangtua mengkritik anak dan boleh anak mengkritik orangtua mereka. Atau anak mengkritik saudaranya sendiri - antara abang dan adik atau antara kakak dan adik - bebas tak terbatas. Tetapi menurut "dasar dan peraturannya" kritik itu haruslah bersifat membangun dan menyadarkan dan bukan buat menyakitkan hati atau melukai seseorang. Tetapi tidak sedikit yang tidak menuruti "dasar dan aturan" itu! Bahkan ada yang menggunakan forum ini buat mengganyang orang yang tidak disukai dan ada nafas "balas-dendam".

Istri saya, Wati, menjadi kepala bagian pendidikan anak-anak di perkampungan
kami. Dia mengepalai bagian pendidikan anak-anak SD - baik dalam pengajaran maupin dalam kehidupan anak-anak itu sehari-harinya. Tidak ringan pekerjaannya ini. Dan besar sekali tanggungjawabnya kepada orangtua anak-anak itu sendiri maupun kepada teman-teman lainnya, kepada suatu angkatan muda. Saya sebagai guru bahasa Indonesia termasuk bawahan istri saya - saya salah seorang anak-buahnya.

Suatu kali ada laporan dari beberapa orang teman kami - bahwa ada serombongan anak-anak - ditemukan sedang dekat kandang kambing - yang jauhnya beberapa puluh meter saja dari perumuhan kami. Katanya anak-anak itu, adalah anak-anak kami dan anak-anak Tiongkok. Mereka bergerombolan sedang main-kartu dan merokok. Akhirnya semua anak-anak yang terlibat main kartu dan merokok itu dipanggil masuk kelas - buat didengar kesaksiannya - siapa saja yang main kartu dan merokok itu. Semua anak-anak ini berusia antara 6 tahun sampai 9 tahun. Guru-guru Tiongkok juga hadir bersama - sebab SD yang ada di perkampungan kami itu adalah sekolah gabungan semua anak-anak yang hidup bersama di perkampungan kami,- termasuk anak-anak Tiongkok.

Setelah semua hadir - bagian pendidikan pihak Indonesia dan pihak Tiongkok -
dan guru-guru, termasuk saya sebagai guru bahasa Indonesianya,- rapat dibuka. Dan bagian pendidikan menanyakan dan menganjurkan agar mengaku secara jujur dan terbuka - berani mengakui kesalahan. Saya lihat di antara anak-anak itu, ada anak saya yang terkecil - Nita. Nita memang terkenal bandel dan badung dan tomboynya. Tetapi kami orangutuanya tidak menyangka bahwa rombongan anak-anak nakal ini terdapat Nita dan "sebagai tokoh" lagi! Si Jendul anak laki yang sebaya dengan Nita, satu kelas dituding oleh teman-temannya sebagai kepala bagian main kartu dekat kandang-kambing itu. Dan Nita sebagai kepala yang mulai mengajak teman-teman lainnya buat merokok! Ketika itu umur Nita belum sampai 7 tahun! Mendengar kesaksian banyak teman-temannya ini dan tidak pula diingkari oleh yang tertuduh,- saya melirik kepala bagian pendidikan anak-anak itu. Bunda Wati tercenung dan saya lihat "tampak airmukanya agak suram - diam dan sedikit pucat mendengar anaknya sendiri - wanita kecilmungil pula - tetapi menjadi kepala gerombolan tukang merokoknya". Dalam batin saya, tentulah dia sebagai ibunya dan sebagai kepala bagian pendidikan anak-anak, akan sangat merasa terpukul mengetahui tentang anak bungsunya ini - jadi anak yang sangat badung - bandel - yang padahal anak perempuan lagi!

Saya lihat - sehabis rapat - semua tokoh bagian pendidikan anak-anak dari
kedua belah pihak - pada rapat dan berunding lagi. Belakangan saya dengar dan ketahui - banyak guru-guru Tiongkok yang datang kepada Bunda Wati - buat membesarkan hatinya agar jangan merasa terlalu terpukul karena anaknya sendiri sudah begitu bandel. Anak-anak Tiongkok-pun ada yang turut merokok - termasuk anak-anak gurunya sendiri. Tetapi pengurusan mereka - mereka selesaikan di bagian intern mereka.

Ketika sesampainya di rumah, saya menunggu Bunda Wati - istri saya - mau membicarakan persoalan anak kami si Nita badung yang merokok ini. Saya sangat pesankan agar sekali-kali jangan main tangan - jangan memukul - jangan memaki. Beri alasan dengan baik - beri pengertian yang masuk-akal. Tetapi malah yang saya lihat - Wati-lah yang menangis - sangat sedih mengetahui anaknya yang bungsu itu turut bahkan menjadi kepala yang bagian merokoknya. Padahal kami di rumah tidak seorangpun yang merokok. Kemudian saya lihat Nita pulang dan mencari ibunya. Diketahuinya ibunya sedang menangis. Dan Nita saya lihat mendekati ibunya. Tetapi ibunya berdiam diri sambil terisak-isak sedih. Saya lihat Nita memeluk ibunya - merangkul ibunya sambil berkata...duibuji mama...duibuji mama....sambil juga menangis ( maaf ibu...maaf ibu...). Lalu mamanya rupanya tergerak juga hatinya buat memaafkan anak bungsunya ini. Tak ada banyak dialog. tetapi dengan airmata sedih dan sama-sama menyesali diri itu - mereka sudah bersatu dalam kebersamaan. Dan saya sendiri-pun merasa cukup lega dan ber-'besar hati karena saya saksikan anak saya dan istri saya sudah saling memaafkan,-


15. Dua Anak Saya

Dua Anak Saya )

Kami punya dua anak - semua perempuan. Yang tertua bernama lengkapnya Wita
Asia Latina - dipanggil Wita saja, lahir di Jakarta di rumahsakit Tjikini. Ketika usianya baru saja satu tahun lebih sedikit - kami pindah ke Beijing - Tiongkok. Ketika itu tahun 1963. Di Beijing lahir adiknya. Nama lengkapnya Wanita Tekun Pertiwi, dipanggil Nita saja. Pabila ada orang menanyakan kepada saya, siapa nama anaknya, dan pabila saya sebutkan nama lengkapnya - Nita tidak begitu suka. Dia hanya mengenalkan dirinya sebagai Nita saja. Dua anak kami ini - sebagaimana galibnya dua saudara - akan selalu tidak sama - bahkan bertentangan sifat-sifatnya - tabiatnya - perilakunya. Saya lihat dan perhatikan akan selalu pabila dua saudara. Sama juga dengan saya dan adik saya, dan abang saya dengan abang satunya lagi. Juga istri saya dengan kakaknya yang di Medan itu - akan selalu tidak sama bahkan bertentangan. Begitulah dua anak saya ini. Wita lebih impulsif dan adiknya lebih eksplosif.

Wita selalu suka jalan - ke mana-mana - tidak begitu suka berdiam di rumah.
Nita selalu suka di rumah - dia lebih banyak ada di rumah daripada kakaknya. Wita lebih suka baca - suka ilmu pengetahuan. Nita jauh lebih suka akan kesenian dan kebudayaan. Wita lebih dekat ke ibunya - lebih bergaul mesra. Sedangkan Nita lebih dekat ke saya - ke ayahnya. Mungkin inipun ada sebabnya. Karena Wita dan Nita ini berbeda umurnya dan sekolahnyapun berbeda, sehingga ketika suatu waktu Wita harus pindah ke ibukota kabupaten - Gao An, buat meneruskan sekolahnya, sedangkan ibunya juga ketika itu meneruskan sekolah bidannya di sana. Jadi Wita dan ibunya ada pada satu ibukota kabupaten. Ketika ibunya meneruskan sekolah kedokteran bagian gynecolog-obstretikus - di ibukota provinsi - Wita lebih dekat dan lebih sering bertemu ibunya. Sedangkan Nita selalu ada di desa - perkampungan kami - karena memang tidak ada kebutuhannya buat diam dan tinggal di ibukota
kabupaten apalagi ibukota provinsi. Jadi di rumah, tinggal kami berdua. Dua minggu sekali atau tiga minggu sekali - kami kumpul. Ibunya dan kakaknya - Wita, pulang berlibur mingguan dan kami lengkap berempat.

Pabila Nita sakit - dan ada saja sakitnya - demam - pilek - influenza -
sakitgigi - panas - selalu dekat saya dan selalu dengan saya di rumah. Mungkin karena faktor semua itu - lalu Nita merasa dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Ketika beberapa kali sakit - selalu ibunya ketika itu ada di Gao An dan Nanchang - ibukota kabupaten dan ibukota provinsi - di mana dia belajar kebidanan dan lalu kedokteran - yang akhirnya lulus bagian akhli-kewanitaan - gynecolog- obstretikus - akhli-bedah kewanitaan. Ketika kami berdua dengan Nita di rumah - sebenarnya tidak begitu sulit buat mendidik Nita - tetapi memang ada satu hal - karena anak ini lincah - bandel
- sedikit badung dan lalu ada unsur tomboynya, ada saja yang menjadikan "berita kecil"di perkampungan kami. Salah satu ketika dia "mengepalai" anak-anak sebayanya merokok dekat kandang-kambing itu. Lalu ada lagi
kejadian lain. Ketika teman wanita mau masuk kamar-mandi-wanita buat mencuci pakaian dan mandi, dengan belum apa-apa lalu segera marah-marah. Karena kedengaran olehnya - ada laki-laki masuk kamar-mandi-wanita. Padahal kamar-mandi-laki-laki di sebelah kamar-mandi-wanita. Yang mendengar dan dengan kecurigaan itu kebetulan, seorang teman wanita yang satu grup dengan saya. Dia ini si Tin, orangnya besar-tinggi dan selalu agak galak. Galak kepada siapa saja, kecuali kepada suaminya - yang walaupun suaminya ini adalah laki-laki yang paling sabar di seluruh perkampungan kami. Suami si orang Jawa dan istri si orang Sulawesi.

Mendengar dalam kamar-mandi-wanita ada orang bersiul-siul dan siulnya itu
tak pelak lagi - pastilah orang laki yang seharusnya masuk kamar-mandi-laki-laki. Ini pastilah secara sengaja bikin marah kaum wanita - kira-kira begitulah pikiran si Tin. teman se-grup belajar saya ini. Dengan membawa sepotong kayu - siap-siap buat apa saja yang akan terjadi, si Tin membentak dari luar........

"Hei siapa itu...ayo keluar...lekas
keluar...dengar nggak kata saya...lekas keluar...". Tapi yang di dalam
kedengarannya tenang-tenang saja......
"Hayo siapa itu...lekas keluar......!"
"Saya tante........
"Saya siapa.....siapa kamu...?
"Saya..Nita..saya Nita, tante....

Mendengar suara yang memang suara wanita, si Tin segera masuk....

"Kamu ada-saja sih Nit....tante kira kamu anak laki - kok pakai bersiul
segala sih Nit...


Dan Nita serta tante Tin-nya sama-sama tertawa - dan merasa lucu tapi nyaris.... Dan sepotong kayu setengah meteran tadi ditinggal di tepi kamar-mandi-wanita.

Begitulah Nita - selalu membawa cerita-cerita kecil di perkampungan kami.
Pergaulannya lebih setengahnya dengan teman-teman sebaya laki-laki sama-sama murid SD di perkampungan kami. Sedangkan pergaulan kakaknya lebih banyak teman wanitanya yang sebaya. Wita pandai melukis - cat air dan cat minyak dan pernah diikutsertakan dalam pameran lukisan anak-anak SD di Gao An. Ketika Nita sakit - lalu harus tinggal di rumah - saya merawatnya sebagaimana ibunya merawatnya. Sambil di tempattidur - dia membaca dan melihat buku komik cerita tentang Maxim Gorki dalam bahasa Tionghoa. Saya merasa sangat senang melihat dan mengetahui Nita sedang membaca dan mengamati gambar-gambar tentang cerita Maxim Gorki. Agar dia tahu siapa itu Gorki......
Tetapi ada hal lain yang dia paling tertariknya....

"Papa...saya mau makan yang dimakan Maxim Gorki........". Saya lihat - apa sih yang Nita begitu tertarik - yang dimakan Gorki - lalu dia juga mau makan yang seperti Gorki makan...... Setelah saya lihat...apa sih.....

"Ya, Allah ya Tuhanku.........

NIta sangat tertarik mau makan sosis! Sosis Rusia yang besar dan sangat menarik itu...berkilat...licin - mengkal...tebal dan gemuk. Memang sangat selera melihatnya...

"Nita sayang....di perkampungan kita tidak ada sosis yang begitu, sayang. Papa kira di Gao An-pun tidak bakal ada. Kalaupun ada barangkali ada di Nanchang - di hotel-hotel besar dan internasional. Papa hanya pernah melihat sosis begitu ada di Beijing - ibukota negara..." Saya lihat wajah dan airmuka Nita - jauh memandang dan
merenung....barangkali dia membayangkan bagaimana sedap dan nikmatnya makan sosis yang seperti dimakan Maxim Gorki itu. Kami ada di perkampungan di pedesaan jauh dari kota - terpuruk di pedalaman Tiongkok Selatan. Mana pula bisa mau makan yang seperti dimakan Maxim Gorki itu, nak? Begitu pikir saya. Saya memahami kehendak yang "rada tidak biasa ini ada pada anak saya". Ketika itu dia ada dalam keadaan sakit. Sangat sulit mau makan - tak ada mafsu makan. Sekali dan begitu ada nafsu makan...alah mak susahnya buat
mendapatkannya dan katakanlah tidak mungkin dengan kehidupan kami begini. Dalam batin saya - nak, kamu lihat dan contoh-teladani apa yang diperbuat dan apa yang dihasilkan Maxim Gorki - janganlah melihat dan membayangkan apa yang dimakan Gorki. Payah kita, nak, payah.....


 

16. Kritik Dan Otokritik Dalam Keluarga


Ada saya tuliskan sebelum ini - Doushi Bishiu - mungkin tulisan pinyinnya
salah - tapi maksudnya adalah Kritik Otokritik ( KO ). Ruangan KO ini diadakan dalam lingkungan keluarga - bisa menurut keperluan, sehingga tidak
mesti wajib diadakan. Kami berempat - sekeluarga di rumah - mengadakan ruangan KO ini satubulansatu kali. Anak-anak kami rupanya diam-diam sudah saling menyimpan dan mengumpulkan semua kritikan kepada mama dan papanya. Bagi mereka forum KO itu adalah pelampiasan rasa tidak puas dan rasa dongkol - marah - kesal dan bahkan bisa saja ada rasa sakit hati dan mau "balas dendam" secara anak-anak kepada orangtuanya. Ketika itu juga orangtuanya akan menjelaskan semua alasan mengapa bisa terjadi hal-hal demikian. Dan juga menjelaskan serta melempangkanpikiran mereka dari segala yang kurang tepat - keliru. Tetapitetap ada diskusi memberi kesempatan buat mereka "membela-diri". Juga terjadi kortsluiting antara para orangtua - antara mama dan papanya sendiri - bisa saling KO. Yang sudah pasti forum ini bukanlah buat "saling bongkar", tetapi forum penjernihan - penjelasan - mengkritik yang tidak benar - dan meluruskan yang tidak lurus.

Suatu kali di forum KO - dua anak kami telah membeberkan "kesalahan dan
kekeliruan" kami masing-masing.
"Papa", kata Nita memulai pidato mengarahannya,- "telah berkomplot dengan anak-anak muda di blok A itu - bukannya mengarahkan mereka buat berbuat kebaikan dan menjadikan mereka berideologi proletariat - tapi malah membangun-bangunkan ideologi burjuis kecil. Kalian ramai-ramai menyuruh gege Maman ( gege - abang ) membeli burung merpati di Gao An. Harganya limapuluh sen yuan seekor. Lalu kalian ramai-ramai masak-masak burung merpati itu.


Ideologi apa itu? Padahal semua makanan disediakan di kantin - masih juga cari-cari makanan enak! Apa itu bukannya ideolögi burjuis kecil yang lalu lama-lama bisa jadi kaum reaksioner......... Coba jelaskan....mengapa papa ikut-ikut mereka - mengapa papa bukannya mencegah tapi malah ikut berkomplot.....?

Saya terdiam - dalam hati saya, dari mana Nita kok tahu semua itu. Lalu Nita
melanjutkan....
"Nah, mama lain lagi perkaranya......Mama ini malah terkena penyakit kekiri-kirian. Masih ingat mama, ketika saya dan Wita sakit, lalu cari mama malam-malam - dan hujan-hujan. Kami panggil mama ketika ada bunyi geledek
yang menggeletar...kami ketakutan....tapi mama tidak ada di rumah. Saya tanyakan sama papa - ke mana mama.......Memang mama punya tanggungjawab yang sangat baik, tetapi tahukah mama...menurut saya mama lebih mempedulikan babi daripada mempedulikan kami. Kami sakit - kami ganmao berat ( ganmao = pilek
- flu ) - kami membutuhkan mama. Tapi mama malah ke kandang babi buat memeriksa babi baru beranak. Maksudnya agar tidak tergencet induknya. Apakah hal itu bukan berarti mama lebih sayang babi daripada sayang anaknya sendiri! Ini karena kami sedang sakit panas - sedang kambuh - tengah malam dan hujan lebat lagi!".

Wati - mamanya anak-anak ketika itu sedang bertugas memelihara - beternak
babi. Ada babi yang mau beranak. Dan ini harus ditunggui agar anak-anak yang bahkan sampai belasan itu tidak tergencet induknya. Kandang babi itu jauh dari rumah - di belakang kantin kami - menuju telaga di mana kami sering berenang. Mamanya anak-anak juga terkena kritikan malam itu, sebagai terkena penyakit "ke-kiri-kirian - suatu penyakit kanak-kanak" dan saya papanya terkena ideologiburjuis kecil yang bisa mengarah menjadi kaum reaksioner....mak beratnya Jang!

Wita lebih banyak diamnya - tetapi menyetujui semua kritikan Nita buat mama dan papanya. Sudah itu kami menyaring semua kririkan dan saling kritik antara kami. Mamanya menjelaskan bahwa ketika dia ke kandang babi itu, bukankah ada papanya di rumah, dan papanya juga selalu peduli kepada mereka? Namum demikian - yang dikatakan terkena penyakit "ke-kiri-kirian" itu bagaimanapun akan direnungkannya - paling tidak buat mencegahnya sebelum terjadi.

Saya menyetujui kritikan Nita - bahwa yang dikatakannya saya berkomplot itu
- mungkin tidak setajam apa yang dikatakannya, tetapi bagaimanapun harus menjadi canang agar tidak lagi berbuat begitu. Dan kami selalu mengingatkan agar mereka benar-benar rajin belajar. Dalam hal ini Wita jauh lebih baik daripada Nita dalam soal belajar. Wita rajin membaca - suka ilmu pengetahuan - banyak bergaul dan berteman dengan anak-anak sebayanya dalam grup belajarnya. Tetapi Nita jauh lebih banyak mainnya daripada bikin tzuo-ye-nya = PR-nya. Bagi Nita - main dan main - terlalu suka main. Tetapi tetap Nita ada kelebihannya terutama dalam pekara rumahtangga - selalu mau pabila disuruh tetapi tidak akan berinisiative sendiri. Wita ketika mau disuruh
tahu-tahu sudah pergi dengan teman-teman sekelasnya. Biasanya forum KO ini selalu hangat - terkadang ramai - karena saling membantah. Tetapi mamanya selalu kami tunjuk mejadi Ketua Forum KO - dan biarpun begtu - tetap mamanya akan selalu terkena kritikan anak-anaknya sendiri. Pernah - forum KO ini sampai jauh malam - karena persoalannya hangat. Tetapi kami adakanketika Sabtu Malam - malam Minggu - sehingga tidak akan mengganggu keesokan paginya buat bangun pagi. Perkara forum inipun - tetap karena terkena pengaruh ide
RBKP itu - walaupun sebenarnya kegunaannya cukup diperlukan ketika zaman itu,-


 

17. Kesepian dan Kangen?

Sesuai dengan kemajuan zaman dan Tiongkok sudah sedikit terbuka - di mana
Menlu AS bahkan mantan presiden Nixon pernah datang dan mengunjungi Tiongkok yang disebut ketika itu "politik dan diplomatik - bola-pingpong",- maka ada perubahan pada kehidupan kami. Banyak teman-teman kami yang sudah keluar dan
bepergian yang kami tidak tahu ke mana dan buat berapa lama. Semua pengaturan memang dibuat demikian - pabila tidak ada kepentingannya buat kita ketahui - tidak perlu terbuka semaunya. Segala sesuatu ada aturannya - ada cara mainnya. Maka teman-teman yang tadinya begitu banyak di perkampungan kami - lama-lama menyusut - lama-lama terasa ada yang kurang - rasanya agak sepi di perkampungan kami.

Sudah itu, karena anak-anak dan ibunya juga tidak ada di perkampungan kami,
maka saya benar-benar sendirian di rumah. Ibunya - istri saya - melanjutkan sekolahnya di ibukota kabupaten - kota kecil Gao An - dan juga Wita bersekolah SMP-nya di kota itu. Lalu karena Nita sudah tamat SD, dan harus pula pindah melanjutkan sekolahnya di Gao An - maka tiga beranak itu ada di satu kota. Tetapi tak lama kemudian - ibunya lalu pindah lagi ke ibukota provinsi buat meneruskan sekolahnya - mengambil keakhlian tentang penyakit dan kesehatan tentang kewanitaan. Jadi kini - ketika itu - dua anak saya di Gao An dan istri saya di Nanchang,- dan saya di pedesaan - perkampungan gunung Desa Kepala Ayam. Kami berkumpul secara lengkap dalam satu bulan hanya dua kali - terkadang hanya satu kali. Mereka pulang pada Sabtu pagi dan kembalinya pada Senen pagi.

Ketika bersama pulang - dan kami secara lengkap di rumah - ada-ada saja
cerita mereka ketika di ibukota kabupaten dan ibukota provinsi. Ibunya bercerita bagaimana mula-mula dia bertugas-jaga di pintu depan - penerimaan tamu - para pasien yang datang berobat. Dia ditegur oleh profesornya - karena salah dalam mengajukan pertanyaan.

Dia tanya "anaknya berapa?",- dan ibu orang pedesaan itu menjawab hanya satu. Lalu gurunya memperbaiki pertanyaan itu "anak kamu yang laki-laki ada berapa dan yang perempuan ada berapa?". Setelah dalam kelas dijelaskan oleh gurunya, barulah dia tahu. Orang pedesaan hanya menghitung jumlah anak laki-laki, sedangkan jumlah anak perempuan tidak masuk hitungan! Mengetahui perkara ini, Wati merasa sangat sedih - lalu marah - tapi lalu mau apa? Orang-orang pedesaan - apalagi tak pernah mengenyam pendidikan - akan sangat berat sebelah dalam menghargai anak dan manusia. Yang ditanyakan Wati ketika mendapat teguran gurunya -
ternyata ibu itu punya satu anak laki dan dua anak perempuan - tetapi dua anak perempuan itu tidak masuk hitungan! Sungguh keterlaluan - telalu menyedihkan buat menjadi anak perempuan. Perkara ini sebenarnya perkara lama yang sesungguhnya ada pada masarakat lama - tetapi sisa-sisanya masih ada - terutama di pedesaan.

Banyak hal-hal yang baru didapatkan dari berbagai pengalaman mereka. Begitu
juga pengalaman anak-anaknya yang di Gao An. Di mana masih ada anak-anak yang pergi ke sekolahnya tidak bersepatu - karena memang anak-anak tani-miskin.

Sebelum mereka bertiga datang di perkampungan kami - pada Sabtu siang itu - saya sudah sejak kemarennya siap-siap masak beberapa macam masakan. Terutama buat kami bersama - lalu buat dibawanya ke kota ketika mereka kembali ke kota. Buat Wati - tentu saja balado-daging yang pedas. Dan buat dua anak-anak itu makanan setengah kering, buat disimpan agak lama. Saya sudah sibuk sejak hari Jumatnya. Saya pergi ke pedesaan yang jauh - ketika hari pasaran, saya membeli daging dan ayam hidup. Di pedesaan sekitar perkampungan kami - selalu ada hari pasaran. Biasanya satu kali satu pekan - ada yang dua kali satu pekan. Jauh pedesaan itu ada yang 5 sampai 10 km dari pedesaan kami. Dan saya tidak merasa terlalu jauh buat mendatanginya. Kalau
kita mau dan ada pula semangat - sedangkan semua ini adalah buat sekeluarga yang sangat kita sayangi - manapula ada ukuran jauh dan lelah - tak ada! Semua dilakoni.

Di hari pasaran itu, biasanya sejak pagi-pagi sudah mulai orang-orang
berdatangan. Terutama orang-orang berjualan, lalu yang bermaksud berbelian. Di hari pasaran ini, banyak sekali jualan yang kita tidak sangka tetapi
ternyata ada. Hanya sesuai dengan keadaan pedesaan, maka yang orang perjualbelikan juga sesuai dengan kebutuhan orang-orang di pedesaan. Misalnya ada jualan alat-alat dapur - kuali - panci - piringmangkuk - lalu
ada jualan selimut - makanan banyak sekali. Dan ada orang menjual ayam - kambing - kerbau sampai kuda. Saya pernah menanyakan berapa harga seekor kuda. Katanya antara 1500 sampai 2000 yuan. Harga seekor kambing antra 50 sampai 100 yuan. Harga ayam antara 7 sampai belasan yuan. Ada juga yang praktek pasang-gigi-palsu. Ada obat-obatan kuat - obat perkasa laki-laki. Dalam hati saya, ternyata para petani inipun tidak asing dalam perkara ranjang demi ranjang ini - bukan monopoli orang kota saja rupanya.

Pasaran ini juga sebenarnya tempat rekreasi. Orang datang ke sana tidak
mutlak karena ada yang harus dibeli. Tetapi bagaikan pasarmalam - orang-orang hanya datang dan melihat-lihat keramaian hari pasaran. Ada juga
jenis permainan - sejenis judi ringan - sebagaimana di kota-kota. Orang-orang pedesaan ini biasanya tidak bisa bahasa Tionghoa - mandarin-nya. Mereka hanya bisa bahasa setempat - bahasa lokal - bahasa pedesaan Jiangxi.
Kami hanya tahu sedikit-sedikit. Karena saya sering bergaul dengan orang-orang pedesaan itu, ketika tembur = tembak burung maupun ketika kami bertandang - dan bertamu di rumah orang-orang tani pedesaan atau ketika hari pasaran itu. Kami jadi tahu juga sedikit-sedikit bahasa Jiangxi mereka.

Ketika ke hari pasaran - terkadang saya berdua atau bertiga dengan teman-teman grup tembur. Terkadang saya sendirian - merasa akan lebih bebas sendirian. Dan terkadang ada kalanya saya memang membutuhkan buat bepergian sendirian saja.

Buat keperluan masak-masak "menyambut anak-anak saya dan ibunya" dan buat
kami makan-malam bersama serta buat dibawa mereka ke ibukota kabupaten dan ibukota provinsi - saya bertitik berat beli ayam dan daging segar - buat dimasak. Agak berat juga dibawa pulang sampai belasan km pergi pulangnya. Tapi mana ada kerjaan berat pabila hati memang senang. Ini pengalaman. Pekerjaan seringan apapun pabila hati tidak suka - tidak rela mengerjakannya - selalu lekas capek lekas lelah,-


 

18. Kesepian Dan Kangen

Sangat terasa di perkampungan kami - kompleks perumahan kami - sudah sepi.
Banyak teman-teman sudah berangkat berdinas ke luar. Karena tugas-tugas tuanrumah kami dengan sendirinya juga berkurang, karena yang diurusi menyusut banyak - maka mereka-pun ada yang sudah pergi dari perkampungan kami. Maka bertambah sepilah. Di rumah, saya selalu sendrian - dua anak saya bersekolah di kota Gao An - ibukota kabupaten. Ibunya bersekolah kedokteran di kota Nanchang - ibukota provinsi. Hanya satu kali dan paling banyak dua kali dalam satu bulan kami bisa kumpul bersama.

Dengan berkurangnya orang-orang dan teman-teman kami, maka kegiatan seperti
biasanya juga menjadi berkurang. Maka tambah bertambah sepilah kampung kami. Rasanya sedih dan pilu. Ketika itu saya sering bepergian sendiri. Ke mana? Ke mana saja. Terkadang saya ke hutan - ke gunung dan ke lembah - padang
rumput yang luas di bawah kelilingan pegunungan. Lalu menanjak lagi - naik ke atas. Dan terlihatlah perkampungan kami dari jauh - mengelompok - seperti beberapa bungkus korek-api yang diatur sedemikian rupa. Atau seperti tergeletaknya macis yang berdekatan. Terlihat indah juga pabila diamati dari jauh.

Terkadang saya mendaki beberapa bukit yang berbatu. Dan terkadang saya masih
sempat melihat beberapa ekor serigala yang baru ke luar lobang dan mencari makanan ke bawah - lembah yang agak luas. Rasanya pabila saya menjalani - menjelajahi perbukitan dan padang-rumput ini - terasa luas - pandangan jernih - dan udara bersih. Saya ada di pedalaman Tiongkok Selatan. Tak terkirakan jauh sebelumnya. Gara-gara ada peristiwa-gelap-bangsa tahun 1965 itu - maka beginilah jadinya kami. Teman-teman lain yang di tanahair - banyak di penjara-penjara Tanggerang - Salemba - Cipinang -Bukit Duri - Plantungan - Nirbaya dan banyak lagi di bagian Sumatra - Sulawesi dan Pulau Buru. Dan banyak yang mati kena siksa dan aniaya - dan juga mati kelaparan karena kurang makan di penjara-penjara. Mati sakit karena tidak diobati dan kurang obat.

Sambil jalan - jalan dan jalan membunuh waktu - saya sendirian di tengah
hutan - di tengah padang-rumput yang luas - dan mendaki perbukitan berbatu - bertemu serigala dan bertemu berjenis ular - saya "menikmati alam sekitar",- Saya suka pohon - saya suka hutan - suka pegunungan yang bersemak - dan yang berbatu. Kehidupan saya ketika masa kecilnya yang selalu berumah di tepi hutan karena pekerjaan ayah saya sebagai mantri kehutanan - sungguh banyak menjadikan saya terkenang ketika masa kecil kami bersaudara dulu itu.

Secara jujur - kepada apakah yang saya sering terkenang? Sekiranya saya bisa
pulang ke kampunghalaman, apakah yang paling saya rindukan? Sudah pasti saya sangat mau bertemu dengan orangtua yang sekiranya masih hidup - mau bertemu dengan sanak keluarga - dengan para sahabat dan teman-teman saya. Saya mau
ngobrol - mau mendengarkan ceritanya masing-masing selama ini. Saya mau menikmati kampunghalaman dan tanahair saya. Rasanya sudah sangat lama terpisah dengan tanahair - sejak tahun 1963 sampai sekarang ini - tahun 1976 ( ketika itu ). Saya mau ke banyak toko-buku - mau beli majalah dan buku-buku. Saya sangat haus mau membaca majalah - buku-buku dalam bahasa saya - bahasa Indonesia. Saya mau menikmati pemandangan indah dari kampunghalaman dan tanahair saya. Saya mau makan penganan - kue-kue - jaja dan makanan besar - seperti gulai kambing - sate-persatean - lontong - serabi - ketan pakai parutan kelapa dan empal dan
nyami'an rempeyek - segala jenis kerupuk - kacang-goreng-bawang - kacang-tojin - jambu-monyet. Ada sejenis rempeyek udang halus semacam rebon - emak saya sangat pandai membuatnya. Emak saya sangat pandai membuat makanan yang tradisional kampungan. Sedangkan kakak saya selalu mendapat pesanan segala kue - penganan yang lebih Eropis - seperti spekuk - panekuk dan makanan yang banyak menteganya.

Apakah masih ada serati - bebek dan sepasang angsa yang dulu saya beli di
desa Mempiu yang jauhnya 17 km dari kampung kami Pangkallalang? Sekiranya saya berumah di Belitung - saya mau membuat rumah yang ada kolam renangnya - lalu ada taman-bacaan kecil buat anak-anak - agar membiasakan mereka suka-baca - termasuk karena dulu ketika kecil saya suka baca. Ayah berlangganan Panji Pustaka sejak tahun 1934. Lalu ada sepetak kebun kecil - saya tanami dengan tomat - kacang ercis - kacangpanjang. Kami di Tiongkok ini sangat suka makan kacang-panjang yang masih mentahnya - baui dipetik - lalu dilalap buat makan nasi-goreng. Apalagi dengan nasgordas = nasi goreng pedas. Bukan main enaknya - nggak keliatan mertua lewat! Abis anaknya udah
dikelonin duluan. Saya sangat suka berenang - karena itu di rumah saya nanti harus ada kolam-renang kecil - hanya buat saya sajalah! Sambil melewatkan hari tua - saya sambil mengarang - menulis - dan menulis. Suatu pekerjaan yang sangat saya sukai sejak umur 10 tahun. Dan banyak lagi yang saya mau yang saya cita-citakan - sehingga saya sendiri tidak tahu ada berapa banyak yang saya mau!

Lalu pabila teringat dan saya lalu sadar, bahwa saya ketika itu ada di
pedalaman Tiongkok yang sangat jauh - sangat terpuruk di pedalaman - maka sedih lagilah saya. Kapan saya bisa pulang ke tanahair dan kampung halaman? Kapan saya bisa ke luar Tiongkok yang sudah belasan tahun kami diami ini? Kapan ada hari depan kami? Semua kami tidak tahu! Tidak tahu akan kepastian hidup kami! Dalam terang-benderang di tengah alam begini - perbukitan - pegunungan - padangrumput yang luas - dan lembah yang indah yang setiap hari
saya jalani, ada kegelapan yang menyelimuti - membungkus rapat diri saya - diri kami. Kami selalu berjuang melawan pikiran yang kalau-kalau akan menjatuhkan dan merebahkan diri kami - sangat pantang menyerah kepada keadaan yang sedang gelap menyelimuti dan membungkus rapat diri kami! Hari depan haruslah direbut dengan perkasa - dengan perjuangan,-


 

19. Peninjauan ke Timur Laut

Tuanrumah kami mengatur kami buat mengadakan peninjauan selama liburan
musimpanas. Biasanya antara tanggal 20-an Juli sampai dengan tanggal 20-an Agustus,- selama satu bulan. Semua kami terima secara gratis - tak satu senpun kami membayar - dibayar penuh oleh tuanrumah. Perjalanan kereta-api - kapal-laut - hotel dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap tahun diadakan peninjauan - maka lebih setengah dari wilayah Tiongkok ini sudah kami jalani. Dengan sendirinya kami "terpaksa" tahu juga berbagai wilayah Tiongkok - dari Selatan sampai Utara - Barat sampai Timur. Sudah tentu apa yang kami ketahui belum dapat dikatakan sempurna. Baru pengetahuan dasar dan sekilas saja. Dan lagi semua orang juga tahu, bahwa Tiongkok itu sangat tertutup. Sangat sulit buat mengetahui apa saja yang kita mau tahu. Harus ada kerja-kerasnya - harus ada usaha yang ekstra - tidak begitu saja bisa mengetahui sebagaimana negara lain - misalnya negara-negara Eropa apalagi Amerika.

Suatu kali - suatu tahun liburan musimpanas - kami diajak megadakan
peninjauan ke Timur Laut. Daerah ini jauh melesat di utara = lebih utara dari Korea Utara. Nama provinsi-nya yalah Liaoning. Dan ibukoanya yalah
Shenyang. Dulu ketika zaman penjajahan Jepang - provinsi Liaoning dan ibukotanya Shenyang disebut juga sebagai Manchuria. Pabila musimdingin provinsi yang bersebelahan dengan provinsi Heilungchiang ini - daerah yang sangat dingin. Rata-rata dibawah nol 25 derajat C. Ada daerah yang 30 dC di bawah nol. Karena daerah ini jauh di utara - dan rata-rata orang utara ini adalah sangat tahan dingin dan makanannyapun serba disesuaikan dengan cuaca dan kebiasaan orang-orang di daearah dingin. Maka kami yang sering dan selalu mengedari wilayah Tiongkok ini berpendapat yang mungkin orang lain tidak setuju dan tidak suka akan pendapat kami ini. Apa pendapat yang begitu itu? Kami berpendapat orang-orang utara tidak pandai masak-masak - tidak pandai merasai makanan yang enak-enak - tidak pandai makan! Mungkin pendapat ini bisa diubah menjadi - kita saja yang tidak sesuai dengan cara makan dan masakannya - selera kita lain dengan mereka.

Baru kali ini saya menemui, ketika makan pagi, kami disuguhi telor-mata-sapi
yang di atasnya diberi madu - sehingga telor-mata-sapi yang sebetulnya akan sangat enak itu - malah kami merasa "nek" dan tak bersemangat makannya. Dalam hati kami - sayang sekali telor-mata-sapi yang begitu memancing selera, tahu-tahu lha kok pakai madu segala sih! Lalu ketika masih di sana - kami juga baru tahu dan baru merasakan bahwa daging kambing tetapi masakannya digoreng seperti goreng-ayam. Rasanya agak aneh. Sebab di kampung kita - pabila kambing selalu digulai atau disate - persatean - atau dipanggang - panggang kambing guling. Tetapi kali ini kami makan kambing-goreng. Ya, enak juga - tetapi karena belum biasa barangkali. Bagi orang-orang utara sepert di wilayah Timur Laut ini - dua provinsi yang saya sebutkan di atas - makanan utama adalah tepung-terigu - mandou - roti kukus - bakpau berjenis bakpao. Ada juga nasi - tetapi bukan yang utama. Termasuk berjenis mi adalah makanan utama mereka.

Daerah dingin di provinsii Timur Laut ini. Ketika huru-hara di daerah
perbatasan dengan Uni Sovyet ini, tercetus pertempuran hebat antara dua pasukan Sovyet Uni dengan TPRT = Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, mereka bertempur di tengah sungai Usuri. Banyak tank melintas di atas sungai Usuri itu - sebab sungai itu masih beku tebal - padahal sudah bulan April! Ketika daerah lain yang agak selatan sudah pada bermekaran berbagai bunga-bunga dan dedaunan tumbuh-tumbuhan. Di pihak lain - perindustrian sedang dan berat - sangat maju di daerah ini. Pabrik baja yang terbesar ada di daearah ini. Studio film termasuk terbesar ada di daerah ini : kota Changchun, dan kota Chilin ( Kirin ). Banyak juga kota pelabuhannya yang menghadap ke Jepang dan Korea. Pengaruh bahasa Jepang - sampai kini masih ada sisa-siasanya - dan banyak orang-orang tua yang masih bisa berbahasa Jepang.

Ada kejadian lucu antara kami - para tamu dan tuanrumah kami. Ketika kami
makan-siang di hotel, kami melihat ada beberapa kepala ikan! Kepala ikan-tenggiri - besar dan menggiurkan. Kami para lelaki - laki-laki yang jago makan - yang rakus - segera saja mengambil kepala-ikan-tenggiri itu. Dalam sekejap tumpukan kepala-ikan-tenggiri itu habis kikis - cintaku terbang ( kata syair Amir Hamzah )....Dan bagi kaum wanita kami, tidak
apa-apa sebab mereka tidak ada yang suka akan kepala-ikan-tenggiri - mana sih ada dagingnya! Rupanya diam-diam petugas dapur yang bertugas meladeni dan mengawasi kami, memperhatikan tingkah-polah para melayu ini. Ada yang disimpan di hatinya.

Keesokan harinya - ketika makan-siang lagi - nah baru nyaho'.....Piring
besar di tiga meja besar itu - semua yang sajian ikan - adalah semua kepala-ikan-tenggiri. Tak ada badan lainnya - semua kepala ikan goreng tenggiri. Melihat semua ini, kaum wanita kami protes kepada kami - barangkali juga turut terkena sentil petugas dapur tuanrumah. Kok sekali ini hanya semat-mata kepala ikan-tenggiri doang - nggak ada badan lainnya. Emangnya semia kami ini hanya pemakan kepala-ikan-tenggri itu saja. Kami sepenuhnya mengerti kekesalan kaum wanita kami - dan pada biasanya sesudah terjadi sesuatu barulah datang penyesalan dan datang kesadaran.

Selama di Timur Laut, kami mengadakan peninjauan ke beberapa pabrik -
industri sedang dan berat dan studio perfileman Tiogkok yang besar. Juga peninjayan ke tanah pertanian khas wilayah utara. Sejak dulu sampai kini -
saya ini adalah seorang yang sangat ortodox - terbelakang dan kuno! Saya tidak suka mengadakan perjalanan yang wilayahnya di utara. Kenapa? Mereka itu tidak bisa makan dan tidak bisa masak. Karena itu saya jauh lebih suka ke daerah dan wilayah orang-orang pemakan nasi! Saya pilih ke Thailand atau Tiongkok daripada mengadakan peinjauana ke Norwegia - Tanah Siberia - ataupun Skandinavia. Sorry - semoga nggak banyak yang marah.

Peninjaun bagian wilayah Tiongkok Selatan - pada pokoknya sudah kami jalani.
Kecuali ke daerah Pulau Hainan - direncanakan pada tahun-tahun berikutnya.Sayangnya ketika diadakan peninjauan ke sana, kami sudah pindah
ke Paris. Daerah Tiongkok bagian manapun, saya merasakan ada kebebasan saya buat merasa aman-damai dan tak pernah takut diikuti dan dikuntit oleh intel yang bertahun-tahun saya alami justru di tanahair dan kampunghalaman saya sendiri. Semoga dan memang sejak tahun lengsernya "beliau" itu, saya merasa ada kebebasan dan tidak di-seperti-dulu-kan,-


20. Sekitar Perkampungan Kami

Ketika sudah banyak teman-teman kami meninggalkan perkampungan - kompleks perumahan kami, termasuk dua anak saya dan ibunya - dua di kota kabupaten Gao An dan ibunya di ibukota provinsi Nanchang - maka bertambah sepilah kami. Bertambah sepilah saya. Rasanya perkampungan kami bagaikan baru saja ditinggalkan begitu banyak orang. Di rumah tidak enak - mau ke luar ya mau ke mana? Sekitar rumah - banyak tanaman - bunga-bunga dan tanaman buat makanan - seperti tanaman cabe - cabe rawit - cabe Vietnam - yang bukan main pedasnya. Ini sekitar depan dan pinggiran rumah. Di belakang - dekat saluran air dari dapur - saya tanami serai - yang kini sudah menjadi begitu subur dan tinggi batangnya.

Pembagian kerjanya gampang diuraikan. Istri saya bagian bunga-bungaan - bagian makanan mata. Sedangkan saya bagian tanaman makanan - yang buat dimakan - bagian perut. Semua tanaman yang boleh dimakan dan buat dimakan - sayalah yang bertanggungjawab. Baik menanamnya maupun memeliharanya - seperti menyiram dan memupukinya. Sudah menjadi adat kebiasaan - sudah umum - pabila tanaman pribadi - perseorangan - akan jauh lebih baik dan lebih subur daripada tanaman kolektive. Kebiasaan ini terjadi pada siapa saja - pada semua kami yang ada di perkampungan kami. Sebab banyak di antara kami yang punya tanaman pribadi - sepetak kecil di sekitar rumahnya. Dan tanaman itu bermacam-macam. Tanaman dan tetumbuhan buat makanan mata - penglihatan - maupun buat makanan perut - kenikmatan dan kelezatan buat selera. Ada tanaman daun sup - sledri ada tanaman cekur - kucai dan jeruknipis yang banyak digunakan dalam masakan dan ada tanaman kacang-kacangan - kacang panjang - kacang ercis dan lainnya.

Ketika saya diminta bertugas menyirami semua tanaman yang ada - tugas dari istri saya yang tak sempat merawat bunga-bungaannya - rasanya ada sedikit berat-sebelahnya. Tanaman bunga-bungaannya kurang begitu sepenuh hati saya menyiraminya - tetapi pabila tanaman saya sendiri - yang boleh dimakan itu - rasanya sepenuh hati saya menyiraminya. Tanaman cabe rawit dan cabe Vietnam saya bukan main subur dan lebatnya. Berbuah lebat dan subur batangnya. Dan pabila digunakan buat menyambal, bukan main pedasnya - jauh lebih pedas dari cabe yang biasa kita kenal.

Barangkali ada rahasianya yang saya sendiri terheran-heran. Pokok cabe itu saya pupuki dengan tahi ayam - kotoran ayam, Kata teman-teman yang lebih tahu tentang pertanian daripada saya - pupuk tahi ayam - memang sangat bagus buat tetumbuhan cabe - tetapi belum tentu bagus buat tanaman lain - misalnya bunga-bungaan. Karena pupuk tahi ayam - sangat panas, begitu katanya.

Jadi saya mencari pupuk tahi ayam - disekitar perumahan teman-teman Tiongkok. Karena mereka banyak beternak ayam sekitar rumahnya - kami tidak diperkenankan beternak ayam - dan lagi kata pengaturan tuanrumah kami - demi kebersihan. Namun demikian ada juga satu dua orang teman yang pelihara ayam satu dua ekor - yang tidak mengganggu tetangga lainnya. Tetangga kami ada yang pelihara ayam - itupun hanya seekor saja - yang saya sering tirukan bunyi suara kokoknya.

Pernah juga saya berkata dengan nada bangga - bahwa tanaman saya sudah diekspor ke luarnegeri. Ada teman yang memang dari Vietnam datang meninjau ke Tiongkok. Ketika pulangnya saya bawakan seikat serai yang sudah saya bersihkan - dan cabe rawit serta cabe Vietnam "hasil tanaman dan perkebunan kami" dari pedesaan Gunung Kepala Ayam. Alasan itulah yang saya sebutkan bahwa saya sudah meng-ekspor hasil tanaman saya........

Ketika dua anak dan ibunya bertugas di kota lain, saya agak rajin menyiram dan merawat tanaman sekitar rumah kami. Kalau diusut-usut ternyata bukan karena rajin dan kerelaan dari hati - tetapi daripada sepi - tidak ada yang mendesak buat dikerjakan - maka menyiram dan mencari pupuklah saya. Dan kalau semua itu sudah saya kerjakan - saya lalu menuju ke pegunungan - jalan dan jalan. Naik bukit dan mendaki gunung yang ada di sekitar perkampungan kami. Dari puncak gunung itu akan tampak kompleks perkampungan kami. Bagus dan indah letaknya - di dataran lembah. Saya menikmati pemandangan semua ini. Tetapi siapakah akan menyangka - bahwa saya ketika itu sangat merindukan kampunghalaman. Kapan kami bisa pulang? Tidak ada surat-surat yang datang. Tidak ada berita yang bisa kami terima dari keluarga dan sanak-saudara. Begitu jauh dan begitu terpuruk di pedalaman - pedesaan Tiongkok. Selalu saya teringat akan emak dan ayah saya - teringat
akan abang-abang saya - abang tertua sudah mati diteror - disiksa dan tak seorang yang tahu di mana kuburannya. Saya selalu teringat akan semua itu.

Semakin sunyi-sepi di rumah dan di perkampngan kami - semakin sering saya teringat akan semua itu. Terkadang di luar kesadaran saya bahwa sudah ada air-putih-bersih yang menitik menggenangi keduabelah pipi saya - yang datangnya dari kelopak mata saya. Airmata tua saya - melepaskan kerinduan dan kekangenan saya akan keluarga - sanak-saudara dan kampunghalaman selama belasan tahun ini. Selalu saja ada pertanyaan pada diri saya... Kapankah kami bisa pulang....kapan dan kapan...?


21. Pindah Ke Pinggiran Kota

Setelah tujuh-delapan tahun kami berdiam di pedesaan Gunung Kepala Ayam, kami mendapat kabar bahwa kami akan pindah ke pinggiran kota di sekitar ibukota provinsi Nanchang. Perkampungan kami di Gunung Kepala Ayam bertambah sepi. Dan lagi kini - situasi ketika itu, Tiongkok sudah mulai berubah ke arah keterbukaan. Dan kami sendiri rupanya memang lebih praktis kalau bertempattinggal mendekati kota. Dan lebih banyak keperluan - kebutuhan yang adanya - tersedianya di kota. Misalnya saja tidak sedikit di antara kami yang bertugas di kota - sebagai mahasiswa - mahasiswa kedokteran - mahasiswa tehnik dan bagi para pelajar anak-anak kami yang sudah duduk di SMP maupun SMA. Dan juga yang bekerja sebagai dokter - dan juga yang diopname di rumahsakit - semuanya ada di kota. Rupanya tuanrumah kami sudah waktunya buat memindahkan kami mendekati arah kota. Dan ketika itu hubungan secara nasional dan internasional sudah banyak memainkan peranan harus mendekati kota - agar lebih praktis dan efisien.

Tetapi pada pihak lain,- pindah dan memindahkan kami ini bukan urusan gampang. Ini urusan bedol-desa - pindah satu kampung walaupun tidak banyak orangnya - tetapi sangat banyak barangnya. Dan apa saja barang-barang itu? Segala keperluan tetek-bengek yang selalu saya tuliskan susu-asma sebab sama dengan tetek-bengek. Terkadang sangat sepele - sangat tidak begitu penting. Tuanrumah kami sudah menjelaskan agar dalam kepindahan nanti - bawalah barang-barang yang sangat perlu saja atau yang perlu - yang selalu kita butuhkan sehari-hari - yang tidak boleh tidak, harus dibawa. Tetapi yang namanya melayu kami ini - segala macam cengkune - barang nyusuh kata orang Jawa - semua dibawa. Pot-bunga yang bunganya hampir layu-pun tetap disertakan. Bangku panjang yang sudah reotpun juga dibawa. Panci yang sudah peot - agak karatan, juga dibawa. Bekas botol-botol lecil yang tampaknya lucu - pada kecilmungil, juga tak dilupakan. Pisau dapur yang sudah pantas dibuang-pun juga dibawa. Sebab pemiliknya merasa sayang kalau dibuang - bukankah pisau-pisau itu telah berdiam di rumah kita selama ini dengan kita? Lalu harus kita buang mentang-mentang mereka tak begitu berguna lagi? Begitu alasan mereka - terutama kaum ibu di perkampungan kami.


Maka dapatlah dibayangkan. Begitu banyak barang-barang yang mesti dibawa. Akhirnya puluhan truk tentara memboyong kepindahan kami - bedol-desa berjalan sibuk dalam beberap hari. Termasuk tuanrumah yang mengurusi kami - sama-sama pindah. Dan tentu tidak lupa - bagaimana ternak kami - yang kami rawat dan pelihara selama ini? Juga pindah! Tetapi ada seleksi sedikit. Peternakan babi diserahkan kepada tuanrumah - teman-teman Tiongkok. Sedangkan peternakan kambing yang kian menyusut itu harus kami bawa ke perkampungan baru. Peternakan kambing yang kini tinggal puluhan yang tadinya ratusan - perspektifnya akan dihabiskan - akan ditiadakan. Termasuk dimakan sendiri - dan ada yang dijual. Biasanya pabila urusan luar - luar perkampungan kami - itu urusan tuanrumah,

Dari puluhan truk yang mondar-mandir antara pedesaan Gunung Kepala Ayam dan kota - hampir setiap hari bolak-balik. Dan pada minggu-minggu itu kami sibuk mengatur semua barang pindahan. Bayangkan bukan hanya rumah biasa - tetapi perpustakaan kami yang tidak sederhana itu-pun juga kami harus susun kembali. Gudang perpustakaan dan bengkel-pertukangan - dan kantin dan semua perlengkapan - pertokoan - klinik - puskemas - tempatcukur-rambut - dan alat-alat olahraga. Saya kira dalam satu bulan itu barulah rapi semua urusan kepindahan kami. Masing-masing sibuk mendapatkan rumah baru. Dan benar-benar perumahan baru yang sebenarnya tadinya buat sebuah guest-house. Jadi cukup bagus - indah dan lengkap. Di dalam kompleks kami ada Gedung Teater - juga buat pemutaran filem - buat pementasan drama - tari dan sebagainya. Toko dan coifure - toko cukur-rambutnya jauh lebih besar dari dulu. Dan klinik - pusklemasnya juga jauh lebih besar. Dan nah ini yang baru! Ada kolam-renang-nya dan terusterang - mewah! Kami nganyari - seperti dulu di perkampungan kami semula Desa Guung Kepala Ayam - kami nganyari - karena yang mula-mula tinggal di sana - ya kami ini. Juga perumahan baru ini - benar-benar baru dan bagus dan lengkap.

Ini pertanda ruanrumah kami sangat menghargai dan menghormati kami. Tetapi sebaliknya dari semua itu - kami semua tahu - dan tuanrumahpun sudah juga mencanangkan - bahwa semua ini bukanlah buat selamanya! Semua ini hanya buat sementara! Sementara kami belum bisa pulang. Pembuatan guest-house yang besar dan luas ini kebetulan saja kami yang menjadi orang pertamanya berdiam di sini. Tetapi jauh sesudah itu - ketika saya sudah jadi orang yang agak normal - bekerja normal di ibukota-negara : Beijing,- saya kembali ke perumahan guest-house ini buat sebagai turis. Dan sudah ada tamu-tamu tentara yang saling belajar - antaranya dari Pakistan. Dan maksud semula sebagai guest-house sudah mulai dilaksanakan.

Kami disamping kesibukan atur-mengatur segala yang bersangkutan dengan kepindahan - juga sambil menikmati perumahan baru ini. Perpustakaannya bagus sekali. Dan karena kami di kota - jadi gampang berhbungan antara kota, misalnya dengan Beijing dan dengan luarnegeri. Perpustakaan kami misalnya berlangganan 9 koran yang di Jakarta. Saya ditugaskan membacai 9 koran itu setiap harinya - dan menyeleksi berita - mengkliping - mem-foto-kopinya - menyusun indeks baru. Saya merasa sangat gembira - rasanya hidup lagi - seperti dulu - seperti di Jakarta tahun 1960. Pagi-pagi saya sudah di kantor - sejak pukul 08.00. Antara rumah dan kantor hanya sepelemparan batu - kelihatan jendela dan rumah kami. Pulang kantor jam 18.00. Biarpun malam sekira jam 20.00 kalau memang masih ada yang harus dikerjakan hari itu - saya ngantor malam. Terkadang anak saya Nita mengantarkan makanan ke kantor saya. Saya makan di kantor - rasanya sangat enak ada kantor baru - dengan bacaan yang tak terkira banyaknya. Sangat terasa - kehidupan ketika itu - 1978 - penuh dengan semangat-kerja dan sudah sedikit agak kurang rasa begitu rindu dan kangennya akan kampunghalaman - sebab rasanya sudah semakin dekat - paling tidak, bisa mengikuti semua kejadian dan peristiwa tanahair melalui begitu banyak koran - majalah dan buku-buku. Yang tetap terus mengganjel - yalah : kapan kami bisa pulang? Itu saja dan itu saja! Yang kami tetap merasa gelap,-




22. Tanda Awan Gelap Akan Tiba

Setelah perkampungan kami pindah ke arah kota ini - maka kami sekeluarga dapat bersatu lagi di satu rumah. Sebab anak-anak kembali ke rumahnya - karena sekolahnya dekat. Dan ibunya yang sudah praktek di sebuah rumahsakit, juga setiap sore kembali ke rumah. Tidak seperti dulu - yang satu bulannya kami hanya bertemu satu kali. Tetapi belakangan ini, ibunya anak-anak sering dalam keadaan tidak sehat - sakitan.

Sampai ketika itu, belum diketahui penyakit apa. Tetapi gejalanya - badan lemas - tidak ada nafsu makan - dan jari-jari kukunya agak membiru - terkadang muntah-muntah dan merasa sakit pinggang. Mula-mula diobati dengan ramuan jamu akar-akaran dan tetumbuhan Zhong-yao = obat-obatan taradisional Tiongkok. Tetapi ternyata tidak menyelesaikan soal. Beberapa dokter berpendapat bahwa penyakit ini bersumber pada sakit ginjal. Ada juga yang mengatakan dan berpendapat, bahwa penyakit ini bersumber pada peredaran-darah - metabolisme tubuh yang kacau. Pendapat yang belakangan ini mengatakan mungkin penyakit El-E = Lupus Erytomatosus = penyakit bintik-bintik merah serigala. Penyakit ini sebenarnya sangat mengerikan dan sampai ketika itu belum ada obatnya yang mujarab. Tetapi pendapat dokter belum satu - mereka masih mau menyelidikinya lebih lanjut. Penyakit El-E, ini hanya terdapat pada wanita yang berumur sekitar 40 tahun - dan katanya menurun ke anaknya yang wanita ketika umur sekian. Tetapi katanya pula, menurunnya selang satu generasi. Jadi kalau menurut pendapat ini - dua anak saya tidak akan terkena - tetapi ada kemungkinan - anak mereka nanti yang wanita akan atau mungkin terkena,-

Dari sehari ke sehari - Wati, selalu dalam keadaan tidak sehat. Ada dokter yang berpendapat agar setiap dia mau ke luar harus menggunakan payung. Karena katanya penyakit ini pantang berada di bawah matahari yang bersinar terik. Rupanya para dokernya masih belum ada kesatuan pendapat yang bulat. Dalam pada itu dia selalu mendapatkan surat keterangan dokter di mana dia berpraktek, agar dia istirahat di rumah saja. Dia yang biasa bekerja - dan rajin bekerja, surat keterangan istirahat sakit itu dianggapnya suatu hukuman pada dirinya.

Dan ketika itulah kami berempat selalu ada di rumah - terutama ketika makan-malam bersama. Saya larang dia banyak bekerja - dan saya gantikan semua pekerjaan yang biasa dia kerjakan sehari-hari. Misalnya mencuci pakaian - seterika pakaian - masak-memasak di dapur sebagai tambahan. Dan mengerjakan semua pekerjaan rumahtangga. Dua anak saya terkadang membantu - seperti menyapu rumah dan cuci piring-mangkuk-gelas dan semua alat-alat dapur.

Pada suatu ketika - saya lupa siapa yang memulainya antara kami. Tetapi sampailah kepada suatu diskusi, seandainya salah satu dari kami mati - dia atau saya - siapakah sebaiknya yang duluan mati? Siapa yang sebaiknya menurut kewajaran dan kebutuhan serta pikiran yang masuk-akal, duluan mati. Semua kami mengemukakan pendapatnya. Kalau kini saya ingat-ingat, alangkah anehnya diskusi kami berempat dulu itu! Mendiskusikan siapa sebaiknya yang mati duluan! Apakah ibu - mama atau ayah - papa. Yang paling aktive bicara
justru dua anak saya itu. Kakaknya mengatakan - kalau mama mati - itu artinya kita akan banyak kehilangan. Sebab seorang mama berperanan sangat pokok dalam sebuah rumahtangga. Tetapi kalau ayah - papa mati - jauh lebih terasa tidak seberat mama pabila mama mati. Pendapat ini tetap ada yang merasa tidak puas walaupun sangat tersamar. Saya angkat bicara - saya menyetujui pendapat anak-pertama saya. Apa yang dikatakannya memang benar. Dan saya katakan - saya sangat rela mati duluan daripada mama yang mati.
Rupanya anak saya yang kedua, Nita, tahu-tahu saja terisak menangis. Kalau mama mati duluan, betapa menyedihkannya kehidupan kita bertiga - tetapi kalau ayah mati - masih ada mama yang sangat berperanan dalam urusan rumahtangga.

Rupanya pendapat saya ini tidak bulat. Yang bulat adalah - kami berdoa agar mama sehat kembali dan Tuhan mengizinkan agar mama hidup lama dengan kami. Tetapi tampaknya diskusi tanpa sengaja dan tidak tahu siapa yang memulainya itu, sangat lama berkesan dalam dan sebenarnya tetap ada ke- cemasan antara kami. Yang mengherankan - Wati, ibunya anak-anak ketika itu yang paling tidak banyak bicara - tetapi saya meliriknya - dia mencucurkan airmata. Bukankah mengapa lalu tiba-tiba ada pendiskusian mati antara mama
dan papa - kalau bukan karena dia sedang sakit berat ini? Jadi dia merasa dirinya adalah pusat maksud pendiskusian. Saya masih ingat - pada hari itu - malam itu dan beberapa hari kemudian - kami berempat serasa kehilangan kegairahan dan semangat yang seperti biasanya.

Saya selalu berusaha mengalihkan ingatan yang seperti malam pendiskusian itu. Dan secara kebetulan - ada berita baru yang kira-kira akan dapat menghilangkan kesan yang sangat tak enak ketika pendiskusian dulu itu. Ada berita dari tuanrumah bahwa saya diminta kembali ke Beijing - ibukota negara - buat bekerja di Radio Beijing. Dan kami harus pindah ke ibukota negara. Anak-anak terlihat sangat gembira. Dalam batin saya, semoga ada suasana baru lagi buat menggantikan semua perasaan dan ingatan yag tidak enak dulu itu.
Ada juga terbetik dalam hati saya - semoga Wati akan dapat dan bertemu dengan pengobatan baru buat penyakitnya ini. Dan semoga di ibukota negara nanti dia akan sembuh dan kami dengan anak-anak berdoa agar ibunya sembuh.

Kepindahan ke Beijing yang kami tinggalkan sejak tahun 1966 - kini kami kembali pada tahun 1979. Jadi artinya selama 13 tahun kami berpisah dengan Beijing,- ketika mula pertama menuju Selatan. Dan selama itu pula betapa keadaan sudah sangat berubah jauh. Kami yang belasan tahun hidup di pedesaan - jauh terpuruk di pedalaman Tiongkok - sangat merasakan - bahwa selama ini begitu banyak hal-hal - perkara - yang kami sangat ketinggalan. Terasa pada kami - orang desa masuk kota - orang yang terbelakang memasuki sedikit tambahan kemajuan,-


23. Ke Ibukota

Kami sekeluarga pindah ke Ibukota pada musimpanas 1979. Setelah 13 tahun hidup di Tiongkok Selatan - dan pernah tujuh tahun hidup jauh di pedesaan - bertani - berladang dan beternak. Beternak kambing dan beternak babi. Bertani sebagaimana layaknya petani pedesaan - tetapi tetap saja menyandang pengertian sebagai orang-asing yang dihormati. Oleh pemerintah Tiongkok saya diminta bekerja di Radio Beijing - sebagai salah seorang redaktur dan penyiar. Wati, terkadang diminta buat rekaman suaranya - membacakan cerita pendek atau langen-suara yang pernah juga dia kerjakan ketika masih hidup di Medan.

Setelah berpisah selama 13 tahun dengan kehidupan ibukota negara - memang terasa bahwa selama ini kami terlalu banyak ketinggalan. Begitu jauh bedanya antara desa dan kota - dan ini menandakan taraf penghidupan belum baik. Dalam pengertian pelajaran ekonomi bertaraf tinggi - pabila sebuah negara yang sudah maju apalagi sudah industrialis - perbedaan antara desa dan kota - tidak lagi sangat menyolok - bedanya tidak banyak - semua keperluan hidup manusia - akan menjadi tidak sangat berbeda. Nah, kami ini akan bekerja di Radio - milik negara. Dan biasanya sebuah badan instansi Radio yang begitu vital - maka tentu saja penjagaannya sangat ketat - atau katakanlah cukup ketat. Bidang ini termasuk instansi militer dalam sekuritenya. Dan pengawasan keamanannya sudah tentu di bawah TPRT = Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok,- yang bersenjata lengkap. Semula pada kami ada perasaan tidak enak - rikuh - karena dalam lingkungan militer semua. Tetapi lama ke lamaan - lalu menjadi biasa saja - dan dapat menyesuaikan diri.

Dalam lingkungan asrama kami - Asrama Radio Beijing, sebagaimana saya ceritakan ketika kami hidup di Hotel Persahabatan - Friendship Hotel - banyak orang asingnya. Pada pokoknya semua orang asing yang bekerja di Radio Beijing bertempat-tinggal di kompleks Radio ini. Kompleksnya luas sekali - dulunya proyek bangunan ini adalah kerjasama dengan Uni Sovyet - ketika itu antara dua negara sedang manis-manisnya dan berbaik-baiknya dalam persahabatan. Tetapi begitu timbulnya perbedaan pendapat secara prinsipil - dan lalu berpolemik-besar lalu berselisih bahkan lalu bermusuhan - maka semua para expert Sovyet segera ditarik dan kembali ke negerinya. Dan banyak orang-orang asing lainnya yang menggantikan sesuai dengan perkembangan kemajuan Tiongkok dalam meluaskan persahabatannya dengan dunia luar.

Di Radio kami - banyak expert asing yang bekerja buat pembangunan sosialis Tiongkok. Ketika saya berdiam di kompleks Radio itu - siaran bahasa-asing yang ada saja sudah 30 bahasa asing di dunia. Termasuk bahasa yang samasekali tidak saya kenal sebelumnya - seperti bahasa Kechia - Swahili - dan bahasa Indian suku Maya. Ada juga siaran bahasa asing yang tidak ada orang asingnya - sebab belum mengadakan kontrak-kerja dengan orang asing dari beberapa negara tertentu. Jadi dikelola oleh orang Tiongkoknya sendiri.
Radio yang berbahasa Indonesia di Radio Beijing didirikan sejak tahun 1951.

Dan beberapa teman dari foundateur ini, ketika itu masih bekerja di sana. Kebanyakan mereka dari Indonesia - teman-teman Hoakiau dulunya. Dan beberapa orang dari Solo - Surakarta. Yang ketika itu mendekati masa pensiunnya. Saya masih sempat bekerja-sama dengan mereka. Sudah tentu usia mereka jauh lebih tua dari saya - termasuk kaya dengan pengalamannya. Kompleks Radio ini tentu saja lingkungan kehidupannya tidak seperti Hotel Persahabatan - yang dari segi kenyamanan kehidupan sangat lengkap dan diperhatikan. Di kompleks kediaman kami - sebagaimana sebuah instansi - proyek militer - tentu saja bukan buat semua yang nyaman dan enak itu.

Tetapi pabila bicara soal keamanan - sekurite - nah, di sinilah tempatnya. Sebab semuanya rapi - teratur - terkendali. Pasal rekreasi - hak libur dan hak menikmati alam Tiongkok - sama saja antara expert yang berdiam di Hotel Persahabatan dan kami yang tinggal di proyek Radio ini. Misalnya ada pertunjukan sepakbola - pertandingan internasional antara tamu asing dan tuanrumah - atau pabila ada konsert musik - musik luarnegeri yang sedang tour di Tiongkok - kami selalu diikut-sertakan menonton pertunjukan.

Kompleks Radio Beijing ( ini yang dulu - masa kami dulu itu - kini sudah lain ) terletak di Jalan Raya yang terpanjang si seluruh Beijing. Dan jalan ini sangat luas dan panjang serta lurus. Pengangkutan dengan bis umum sangat baik jalannya. Kami selalu naik bis line satu dan line empat. Kendaraan selalu tersedia bagi kami di kompleks Radio - tetapi kami sering sekali naik bis umum - sebab lebih sederhana - dan lebih bebas. Karcis bis umum sangat murah. Frekuensinya ketika jam-kerja malah lebih sering daripada jam biasa. Ketika jam-kerja, biasanya bis akan lewat dua menit sekali. Pabila sudah lewat jam-kerja, frekuensinya agak renggang - lima menit atau paling lama sepuluh menit satu kali. Terasa pada saya - hidup ini mendekati normal - tapi belum sepenuhnya normal seperti tahun-tahun awal 60-an. Rasanya hidup ini sudah indah - sudah ceria - padahal baru saja mendekati normal.

Karena kami baru mulai hidup di kota - lagi pula di ibukota negara - maka kami benar-benar mulai lagi dari nol. Mulai beli ini itu. Beli panci - beli piring-mangkuk - beli alat-alat dapur, beli minyak buat masak - beli bahan-bahan makanan. Pasaran tidak jauh. Karena kami berada di pusat kota - Kota Beijing yang besar dan luas itu - jadinya sangat gempang mencari sesuatu. Sebagai pegawai negeri yang bergaji sebagai orang asing dan expert pula - sudah tentu uangnya agak banyaklah. Dalam cerita yang lalu sudah saya ceritakan bagaimana abang saya Bang Amat "menugaskan" saya buat beli kain drill - Cp sebanyak 200 meter! Tapi dia tahu, bahwa saya ini bergaji besar dan lapang dalam soal keuangan.

Ada sedikit gangguan - istri saya, Wati dalam keadaan tidak sehat. Begitu dia datang dan berdiam di Beijing - dia sudah harus mondar-mandir ke rumahsakit. Berobat jalan. Jadi yang ke luar rumah buat belanja dan mencari barang keperluan rumahtangga dan keperluan hidup lainnya - saya kerjakan sendiri. Pekerjaan apa saja saya kerjakan yang dulu ketika dia sehat dialah yang mengerjakannya. Pekerjaan saya tentu saja kembali seperti di Jakarta dulu - pada tahun 1960-an. Beli beras - beli sayuran - beli minyak - beli cabe - beli bawang - terasi - ikan asin - asamjawa - garam - susu buat anak dan apa saja saya kerjakan. Nah, sekarang ini - juga begitu - termasuk cuci-piring-mangkuk dan susuasma = tetek bengek lainnya. Anak-anak saya sudah tentu ada pekerjaan buat mereka - tetapi saya khususkan agar lebih banyak buat pekerjaan dan pelajaran sekolahnya - PR-nya dan berkenaan dengan tugas dari sekolahnya. Hidup sebagai redaktur dan penyiar - terutama sebagai penyiar Radio Beijing - ini adalah kehidupan yang samasekali baru bagi saya.




24. Kehidupan Beijing Bagian Dua

Pekerjaan saya di Radio Bejing adalah sebagai pe-molish - polish = menghaluskan bahasa, sebagaimana pekerjaan saya ketika mula pertama bekerja di Tiongkok di majalah TIONGKOK RAKYAT yang diterbitkan oleh PBA = Pustaka Bahasa Asing - Beijing. Lalu sebagai redaktur dengan teman-teman Tiongkok lainnya. Dan sebagai penyiar langsung. Saya mendapatkan bagian Ruangan TAMAN-SASTRA dan WISATA di TIONGKOK serta menyiarkan pengetahuan populer dari berbagai sumber lain yang terbit di Bejing dan Shanghai serta wilayah lainnya.

Pekerjaannya tidak berat. Tetapi menghendaki ke-hatihatian - kesungguhan - dengan tanggungjawab penuh dan dengan semangat kecintaan-kerja,- dan pengabdian. Ini bukan suatu pekerjaan biasa seperti yang saya kerjakan di tanahair di Indonesia. Ada nilai lebihnya secara tuntutan. Ini bekerja dengan atau antara dua negara. Kepada pembangunan sosialis Tiongkok. Harus ada rasa tanggungjawab bahwa saya ini bekerja kepada pemerintah Tiongkok, sumbangan-kerja bagi pembangunan sosialis Tiongkok dari negeri dan negara saya RI,- Tanpa ini semua, rasanya kurang sreg dan adalah pekerjaan biasa - makan-gaji dan cari-makan biasa saja! Padahal bekerja yang saya lakukan ini, menurut saya lebih tinggi tingkatnya. Bukan cari-makan dan makan-gaji biasa! Tetapi harus dengan penuh kesadaraan - bekerja mewakili RI buat kerjasama dengan RRT! Ini selalu saya rasakan dan saya lakukan.

Dan sukurlah - saya mengerjakan pekerjaan saya dengan penuh semangat - senanghati - gembira dan berkobar-kobar. Kami di Radio Beijing sering mendapat surat dari tanahair. Terutama dari daerah-daerah agak terpencil - seperti dari Kalimantan - kota Sintang - Singkawang - Pontianak dan dari Sumatra. Dari Plaju - Palembang - Pekan Baru dan dari daerah lainnya seperti dari Jawa Timur dan Jawa Tengah dan banyak lagi. Isi suratnya biasanya menyatakan rasa puas dengan acara Radio Beijing. Ada juga yang menyarankan
ini itu - kekurangan ruangan ini dan ruangan itu. Semua kami terima dengan baik. Ada bagian yang secara khusus menangani semua surat dan pendapat yang ditujukan kepada kami. Dan kami menyadari sepenuhnya - bahwa seseorang telah dengan rela dan berani mendengarkan siaran Radio Beijing, itupun suatu perkara yang tidak gampang. Sebab ketika itu hubungan RI dan RRT sedang
memburuk. Bahkan ada anjuran secara halus dan tersembunyi agar jangan mendengarkan siaran Radio Beijing.

Tetapi sesuai dan seiring dengan begitu banyaknya perubahan - maka larangan atau himbauan agar jangan mendengarkan siaran Radio Bejing-pun lama-lama agak terlupakan. Dan orang-orang kembali mencari siaran Radio Beijing. Ada surat pembaca menanyakan ke mana dan mengapa penyiar yang biasanya membawakan TAMAN SASTRA, sudah agak lama tak terdengar suaranya. Tentu saja tidak bisa segera kami jawab, karena komunikasinya waktu itu tidak bisa segera begitu saja. Memang pada waktu itu, saya sakit batuk - dan sakit tenggorokan. Bagi teman-teman yang memang ada di wilayah Tiongkok - Tiongkok Selatan, akan tahu pabila saya dalam keadaan kondisi tidak sehat. Misalnya sakit pilek - influenza - batuk atau sakit yang mengganggu suara siaran. Dan banyak teman juga mengetahui - pabila terdengar suara saya dalam siaran apa saja - itu tandanya saya dalam keadaan baik mengenai kesehatannya. Dapat diibaratkan - bila terdengar suara siarannya - itu tandanya kesehatannya dalam kondisi prima. Sedikit saja ada gangguan akan suara siarannya - pihak Radio tidak akan mengizinkan dan tidak akan meloloskan suara sumbang atau suara yang tak normal. Tuntutan Radio Beijing cukup kuat dan ketat. Karena itu, saya selalu menjaga kondisi suara - terutama bagian tenggorokan dan mulut.

Seorang penyiar yang bekerja betulbetul buat demi siaran Radio-nya harus baik-baik menjaga kesehatannya. Tidak boleh sembarangan makan cabe - sambal - dan yang pedas-pedas. Juga mengurangi makan kacang-kacangan yang serba gorengan - juga harus berdiet akan bawang-putih - terutama yang digoreng. Sebaliknya yang dianjurkan agar minum susu segar - air putih dan terkadang bisa campur jeruk-peras. Ketika menghadapi Hari Raya Imlek - di mana banyak teman-teman kami yang berlibur - dan pulang ke kampunghalamannya di Tiongkok Selatan dan juga Utara, saya dengan sangat meminta dan mengajukan diri agar diberi jam siaran lebih banyak dari biasa. Sebab saya ingin menggantikan teman-teman penyiar lain agar mereka bisa berlibur dengan tenang. Permintaan dan harapan saya ini mendapat jawaban yang sangat baik - saya dipercayakan buat siaran warta-berita biasa - dan komentar. Yang biasanya siaran ini bukan bagian saya,- ada penyiar khusunya buat siaran itu. Dan saya merasa sangat gembira bisa dipercayakan agar teman=-teman lain punya kesempatan buat liburan Hari Raya Imlek - yang sangat dimuliakan di Tiongkok. Berkumpul dengan keluarga seutuhnya - sanak saudara - di kampunghalaman dan tempat kelahiran adalah tradisi yang sangat ditunggu-tunggu. Biasanya teman-teman yang kembali dari liburan Hari Imlek itu terlihat sangat sehat - sangat gembira. Membawa suasana baru dalam pekerjaan. Melihat semua teman-teman itu pada berwajah berseri - muda dan segar - saya sangat turut bergembira dan bersenang-hati,- Kerjasama kami dapat saya katakan sangat baik - sangat serasi,-




25. Sama Sama Kerja dan Kerja Sama

Ada yang saya rasakan ketika saya berkiprah kerja di Radio ini. Kami sangat merasakan tidak hanya sama-sama kerja - kerja biasa - tetapi lebih terasa adanya kerja-sama - bagaikan satu tim yang kompak - bagaikan rantai yang saling-hubungan - kait-mengait yang erat - dan serasi. Semangat kerja saya baru kali inilah saya rasakan adanya suasana yang akrab antara dua bangsa - dua negeri. Pagi-pagi sekali saya sudah masuk kerja. Antara asrama kami dengan kantor Radio hanyalah beberapa langkah - dekat sekali. Saya membersihkan ruangan - menyapu dan mengelap meja dan bersih-bersih. Memang ada teman yang bertugas buat semua itu, tetapi saya tahu bahwa Lao Tien cukup banyak pekerjaan di rumahnya - menyiapkan buat dua anaknya berangkat sekolah. Istrinya belum pulang, sebab giliran kerja-malam, baru sesudah jam 08.00 tiba di rumah. Tadinya Lao Tien sangat segan dan merasa tidak enak kepada saya. Tetapi saya meyakinkan dia, bahwa kerja begini ini sudah sangat biasa bagi saya. Bukan hanya kepada dia saja. Pada akhirnya dia mengerti. Apalagi saya pernah dengan Wati datang ke rumahnya yang tak begitu jauh dari asrama kami.

Ada yang saya rencanakan buat saya kerjakan dalam waktu yang dekat ini. Saya dengan Wati merencanakan buat datang ke rumah setiap orang teman-teman sekantor kami. Beranjangsono - mengenal dari dekat kehidupan mereka. Sebagian besar teman-teman kami sekantor ini adalah tadinya orang Tiongkok perantauan - Hoakiaw. Beberapa orang dari mereka adalah orang-orang Tiongkok asli - totok yang berasal dari berbagai daerah. Dari Guangdong - dari Xian - dari utara - Heilungciang ( Manchuria dulu ). Mereka pada umumnya sudah menamatkan sekolahnya di universitas atau akademi bahasa asing setempat. Ada yang dari universitas di Beijing sendiri dan ada yang dari Akademi Bahasa Asing di Kanton ( Guangdong ). Jadi mereka sudah tingkatan sarjana. Tentu saja ucapan bahasanya - irama ucapan bahasanya tidak sebagus teman-teman Hoakiaw yang dari Indonesia. Tetapi mereka sangat berusaha keras buat belajar dan benar-benar menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Buat itu semua - saya diminta memberikan penataran - ada latihan dan kursus bulanan tentang bahasa Indonesia. Dan mereka sangat antusias mengikutinya dan sangat aktive.

Saya membicarakan satu perkara pendekatan yang lebih baik lagi antara teman-teman kami ini. Saya ajukan usul kepada Wati. Disamping kami sudah "menunaikan" buat mendatangi - anjangsono - ke setiap rumah mereka, - bagaimana kalau kita juga mengundang mereka buat makan di rumah kita. Dan Wati menyambut usul itu - dan dengan gembira akan mengundang mereka
makan-siang atau makan-malam di rumah kami. Saya menyadari benar - kalau semua ini mau dilaksanakan - artinya Wati akan cukup banyak kerja-rumah - kerja-dapur. Karena itu saya benar-benar harus banyak membantunya buat kerja-dapur - dan buat keperluan pertemuan dan perjamuan itu. Bukan main kami senang dan menyambut hangat, ada beberapa orang ibu-ibu teman sekantor
kami mau membantu dan datang ke rumah kami buat persiapan perjamuan itu. Semua ibu-ibu ini adalah penyiar dengan masing-masing ruangannya. Dan ada juga dari bagian tehnik - operatornya. Mereka semua tenaga berpengalaman.

Setelah kami hitung-hitung, yang harus kami undang semua teman sekantor kami - ada sejumlah 29 orang. Tetapi yang pasti bisa datang tidak akan sebanyak itu - sebab sebagian ada yang bertugas dan kantor kami - kantor Radio - tidak boleh kosong tak seorangpun di sana. Kantor Radio yang langsung siaran - harus selalu ada teman-teman bertugas di sana. Kami selalu berkonsultasi
dengan beberapa teman - termasuk atasan kami - bos kami sekantor - senior kami. Pada hari perjamuan itu - kami bersama ada 25 orang - termasuk keluarga yang tidak sekantor dengan kami - tetapi kami merasakan bahwa mereka juga adalah bagian dari kami. Hari itu kami sangat bergembira. Banyak hal-hal dan cerita serta kisah lama - sejak dari Indonesia - sejak dari Solo - Sragen - Palembang dan Medan. Teman-teman orang Tiongkok totoknya dengan aktive turut bercerita dan banyak bertanya ini itu. Jauih sebelum ini saya sudah menganjurkan agar mereka jangan malu-malu dan jangan segan-segan buat bertanya banyak hal. Dan juga turut aktive dalam pembicaraan. Bagi semua teman yang bekerja di siaran Radio - percakapan lisan sangatlah diuntut keras agar selalu meningkatkan mutu bicara - mutu bahasa.

Hari itu semua teman - semua kami merasa puas dan bersenang-hati. Lebih mendekatkan rasa sama-sama kerja dan kerja-sama yang sebaik-baiknya. Tetapi sebaliknya dari itu, saya ada kekuatiran dalam hati. Betapa lelah-letihnya Wati dengan kesehatannya yang begitu tidak baik, tetapi sudah bekerja berat buat semua itu. Tetapi semangat menyambut tamu dan teman-teman sekantor kami sangat tinggi. Kegembiraannya karena banyak tamu - teman-teman sekerja, dia dapat melupakan keletihan dan kelelahannya. Hari itu banyak juga teman-teman sekantor yang pulang terlambat karena membantu pekerjaan rumah dan pekerjaan dapur kami. Mereka kami rasakan bagaikan keluarga sendiri. Dan dari pihak mereka-pun saling terasa berdekatan hati - berdekatan kehidupan. Apalagi mereka sangat memahami tentang keluarga kami yang menjadi sasaran - tudingan - tangkapan - dan siksaan dari pemerintah RI sekarang itu. Mereka tahu bahwa kami adalah keluarga yang cukup banyak kehilangan - antaranya dibunuh dan diteror - dan di penjara - menjadi orang buangan di Pulau Buru,-



26. Suka Dukanya

Terkadang Wati diminta membacakan cerita pendek atau sastra sejenis langen-suara - yang dulunya pernah dikerjakannya di RRI di Medan. Tetapi pekerjaan ini hanyalah sebagai honorer - bukan khusus pekerjaannya. Dan itupun pabila dia dalam kedaan sedikit sehat. Pihak Radio hanya akan memberikan tugas kepadanya pabila dia dalam keadaan layak-baca. Dia sangat antusias mengerjakan pekerjaan begini. Biasanya semua tulisan saya buat disiarkan - dia orang pertama yang lebih dulu membacanya - dan memberikan pendapat kepada saya. Dan kebanyakan saran dan pendapatnya selalu saya terima dengan baik, karena menurut saya - pendapat dan sarannya itu baik dan sangat pantas diterima.

Dalam pada itu Wati tetap berobat jalan. Di rumahsakit Persahabatan Beijing, dia mendapat pengobatan yang sangat intensif. Berbagai jenis dan cara penyelidikan penyakit dan serta pengobatannya dicobakan kepadanya. Dan pendapat dokter agaknya semakin bulat - ada titik kesamaan dengan dokter di Nancang - Tiongkok Selatan. Kebanyakan dokter berpendapat memang Wati mengidap penyakit L-E ( Lupus Erytomatusus ) - sejenis penyakit bintik-bintik merah darah serigala. Penyakit ini sebenarnya berjenis kanker darah - sangat merusak metabolisme tubuh. Merusak ginjal - merusak lever ( hati ) dan peredaran darah secara keseluruhan. Hasil dari semua pemeriksaan - para dokter dan pihak rumahsakit Persahabatan - mengharapkan agar Wati bersedia buat di-opname. Wati dan saya dan anak-anak kami menyetujui saran dan usul dokter dan pihak rumahsakit.

Akhirnya pihak Radio-pun juga menyetujui buat Wati masuk rs Persahabatan. Dan ketika saya mengantarkannya ke rs Persahabatan dengan menuntun dan menggandengnya - kami berjalan tertatih-tatih - karena dia tidak bisa jalan cepat dan normal. Sambil jalan pelan-pelan dia mengamati keseluruhan kompleks rs Persahabatan yang luas itu. Menjelang musimpanas pada bulan ujung bulan Mei - sekeliling rs banyak pepohonan - dan batang yang tinggi-tinggi rindang dengan dedaunan. Rasa teduh dan bunyi-bunyian binatang sejenis tonggeret, sangat menarik perhatiannya. Dan dia tetap melihat dan memandangi dengan pandangan mata yang menyapu kesekeliling kompleks rs. Tiba-tiba dengan perasaannya yang dalam dia berkata kepada saya dan juga kepada dirinya sendiri.

"Di sana - di gedung itu - saya melahirkan. Melahirkan anak kita yang kedua - Nita..........tetapi di gedung sana itu, rasanya saya akan mati...Jadi di rs ini berimbang - ada anak saya yang lahir di sini....tetapi juga saya akan mengakhiri hidup saya juga di sini.....semua itu adalah kehendak Tuhan...dan saya sangat rela buat semua itu......."

Saya agak ternganga mendengar ucapan dan kata-kata yang sangat tegas diucapkannya. Ada rasa yang sangat sedih yang saya pendam-dalam. Tetapi juga ada rasa sedikit ngeri.....akan mengalami semua apa yang diucapkannya itu. Sejak dia mngucapkan semua kata-kata itu, saya sedikit terpengaruh.....rasanya ada perlawanan dan harapan dalam hati,- agar janganlah sampai terjadi apa yang diucapkannya itu....tetapi bagaimana pengaturan Tuhan-lah....begitu selalu yang ada dalam hati saya. Seandainya ya pun - harus saya terima - dan harus kami terima.

Hari itu - sore - senja dan malamnya, di rumah tinggal kami bertiga - dengan dua anak kami. Ada dan terasa sangat kesepian. Setiap senja biasanya dia akan menyiram bunga-bunga kesayangannya yang di dalam pot - beraturan letaknya di pinggir jendela. Lalu ada yang sepanjang trotoire dan koridor apartemen kami di asrama Radio. Dia sangat suka akan berjenis bunga-bungaan. Juga ada tanaman yang berdaun yang sangat aneh - ada yang runcing berduri agak tajam - ada yang berwarna beludru - ada jenis anggrek Thailand yang sangat disayanginya. Kini tugas sayalah yang menyiram dan mengawasinya - menggunting daun-daun yang agak layu. Menyiangi tanaman - tanah - dan sela-sela rumput yang akan mengganggu pertumbuhannya. Dalam pada itu ucapan yang tadi siangnya - ketika saya mengantarkan Wati buat opname, selalu mengiang di telinga saya. Akankah pada akhirnya yang entah kapan - kami akan bertiga? Tanpa ibunya - tanpa mamanya anak-anak? Lekas-lekas saya hapus pikiran saya yang demikian. Tapi muncul lagi ketika waktu yang lain. Ucapan Wati mengenai dirinya sangat mempengaruhi saya. Dan sudah tentu saya tidak menceritakanya kepada anak-anak saya.

Dalam pada itu saya berusaha keras buat melupakan ucapan itu - dengan kesibukan kerja di Radio. Berusaha melupakan semua perasaan dan pikiran yang ada dalam kepala saya mengenai ucapan Wati ketika hari pertama dia masuk rs itu. Dan kami ejak itu selalu setiap hari menengoknya ke rs. Terkadanf bertiga - terkadang hanya saya sendiri, sebab anak-anak selalu ada kesibukan dengan pekerjaan sekolahnya - selalu ada acara sore harinya. Saya lebih banyak sendirian menengok - bezoek Wati. Penyakitnya terlihat bertambah parah. Setiap hari - sesudah pulang dari rs sampai di rumah - terasa sangat sepi. Saya merangkap jadi ibu rumahtangga sekaligus - masak-memasak buat kami bertiga. Ada kantin di kompleks kami - dan makanannya cukup enak dan cocok dengan selera kami. Tetapi bagaimanapun - karena sudah terbiasa - selalu saja ada yang kami harus masak sendiri, Dalam pada itu pekerjaan rumahtangga bukan hanya masak-memasak, tetapi juga mencuci pakaian dan seterika pakaian - melipatnya dan menyusun - menatanya. Ternyata jadi ibu rumahtangga itu tidaklah semudah mengucapkannya. Saya lalu teringat ibu saya dulu di kampung. Pekerjaan seorang ibu - sejak matahari mulai mau terbit sampai matahari tenggelam-malam ketika jauh malam - selalu terus bekerja sampai kita anak-anaknya pada mau tidur - barulah ibu saya menyertai kami anak-anaknya. Tetapi saya lihat ayah saya tidak seperti ibu saya - yang jam-kerjanya jauh lebih panjang dan lama.

Sekarang, apa yang dulu pernah dikerjakan ibu saya, kini saya merasakannya. Dulu buat kami - anak-anaknya. Kini buat dua cucunya - anak-anak saya - turun dan menurun. Tetapi tetap harus kita kerjakan, karena menantunya dalam keadaan sakit dan sedang di-opname di rs Persahabatan,-


 

27. Awan Semakin Gelap

Setiap hari kami menjenguk Wati ke rs. Sakitnya bertambah parah. Dia selalu berbaring di tempat tidurnya. Nafsu makannya sangat menyusut. Dan air-kencingnya sangat sedikit. Penyakit L-E ini sangat mempengaruhi kerja buah-pinggang. Beberapa hari yang lalu ketika saya datang sore-sore, dia tak ada di kamarnya. Ternyata di ada di kamar-umum - tempat duduk-duduk para pasien. Di kamar ini banyak buku-buku - majalah dan suratkabar. Lalu ada televisi buat para pasien yang ingin menonton tivi. Di sanalah Wati dengan beberapa orang pasien lainnya. Melihat semua ini saya sangat gembira - sebab dia sudah mau dan bisa berjalan-jalan sekitar kamarnya dan ruangan-umum. Pertanda kesehatannya ketika itu agak membaik.

Saya masih ingat - kejadiannya pada hari Sabtu awal bulan Agustus. Awan
sangat gelap. Lalu turun hujan yang sangat lebat. Pohon-pohon pada miring mau rebah. Banyak barang-barang yang diterbangkan angin. Dan halilintar - petir bagaikan perang guruh-gemuruh. Kota Beijing kena dilanda hujan badai. Bagaimanapun sore itu saya harus melihat Wati seperti biasanya. Walaupun antara tangga asrama kami buat mencapai mobil yang saya pesan itu tidak jauh hanya beberapa langkah - tetapi saya basah kuyup karena hujan lebat disertai angin-badai itu. Ketika saya sampai di kamar Wati - ternyata dia sudah dipindahkan ke kamar lain - yang lebih dekat ke kamar dokter-jaga di bagian sal itu. Begitu saya sampai - saya lihat dia menutupi wajahnya. Dan kedengaran bunyi isak-tangisnya. Sesenggukan dan terdengar tangisan yang sangat perih dan sedih. Saya bangunkan dia. Tetapi dia berkeras menutupi wajahnya dengan bantal. Saya panggil pelan-pelan dekat telinganya. Tetapi isakan tangisnya malah lebih terdengar sedih. Saya sedikit agak bingung. Ada apa gerangan. Saya samasekali tidak tahu, mengapa terjadi hal demikian. Lalu saya cari perawat dan dokter-jaga, mengapa Wati dalam keadaan demikian. Terus menangis dan tidak mau ngomong apapun. Tak sepatah kata dia ngomong - sampai waktu saya habis - buat segera pulang lagi ke rumah. Hari itu saya tidak berhasil buat mengetahui mengapa Wati demikian sedih dan menangis terus - tanpa mau ngomong seucapanpun.

Dari rumah saya menilpun rs yang bagian Wati dirawat - menanyakan kepada
dokter - ada apa halnya. Rupanya hari itu - paginya - datang beberapa dokter dari berbagai bagian. Dari cardiologi - dari bagian syaraf ( neurologi ) - dari bagian penyakit dalam dan beberapa bagian lagi seperti urologi dan lainnya. Para dokter itu berdiskusi di kamar Wati. Rupanya kebanyakan dokter itu tidak tahu dan tidak menyedarinya bahwa Wati-pun sepenuhnya mengerti bahasa Tionghoa dialek Beijing. Para dokter itu tentu saja tidak semua tahu bawa Wati-pun adalah dokter yang prakteknya di kota Nanchang - di bagian Tiongkok Selatan. Mereka hanya tahu bahwa Wati adalah orang asing yang bekerja di Tiongkok. Jadi semua apa yang dibicarakan dokter - semua dipahaminya - dan dia mengerti secara keseluruhan termasuk dengan istilah kedokterannya dalam bahasa Tionghoa. Sudah tentu yang dia dengar adalah tentang dirinya - tentang penyakitnya - yang sebenarnya belum ada obat yang mujarabnya. Jadi kira-kira........memang tak ada harapan sembuh yang begitu besar......dan kira-kira hal penyakit begini, tinggal......apalah dan apalah.....Tentu semua pembicaraan dokter dipahami dengan sangat oleh Wati. Dan dia sangat terpukul - sangat sedih. Barangkali juga ada pikirannya - betapa akan sedihnya berpisah dengan kami. Dua anaknya sedang benar-benar membutuhkan kasih orangtua - kasih ibunya terutama. Tetapi dia menyedarinya benar bahwa dia bagaimanapun......siapa tahu akan segera meinggalkan kami. Mengingat semua ini - maka sayalah yang mengalirkan airmata. Yang sangat jadi pikiran saya yalah bagaimana mengasuh dua anak kami ini yang baru mau menanjak dewasa - dan hidup tanpa ibu - yang padahal sangat membutuhkan
seorang ibu.

Mau tak mau saya teringat akan pendiskusian kami ketika masih di Jiangxi -
Nanchang dulu itu. Siapa sebaiknya mati duluan? Ibu atau ayah. Sejak dulu saya sudah merasa rela - jauh lebih baik seorang ayah yang mati duluan
daripada seorang ibu. Tetapi saya-pun sangat menyedarinya - semua itu atas keputusan Tuhan - ketentuan apa yang Tuhan sudah gariskan. Bukan maunya kita - manusia yang selalu menanggung dosa ini. Saya tidak tahu - apa yang ada pada pikiran saya sekarang ketika itu. Tetapi ada terasa dan sangat keras rasanya - bahwa kami harus siap-siap menerima keadaan yang paling buruk - paling menyedihkan. Walaupun doa saya siang-malam mengharapkan agar Tuhan berkenan mengembalikan keadaan kesehatan Wati yang seperti dulu itu. Puncak
sehatnya Wati ketika masih jauh di pedesaan Gunung Kepala Ayam. Dia dapat dikatakan wanita yang terkuat dan tersehat ketika hampir setiap sore bekerja di kandang-babi dan memikul tahi-tinja manusia buat menyirami perkebunan kolektive kami. Lalu siapa akan menyangka, wanita yang dulu terkuat dan tersehat - kini terbaring dalam keadaan sakit berat. Mengingat ini semua, saya tidak berani membayangkan lebih buruk dari semua itu. Tetapi saya harus berani menghadapi kenyataan yang betapapun jelek dan buruknya - dan kami bertiga harus terus jalan - terus maju,-


 

28. Pada Puncaknya

Hampir tiga bulan Wati diopname di rs Persahabatan. Setiap hari kami menjenguknya. Yang lebih sering dan yang setiap hari adalah saya sendiri. Anak-anak terkadang berdua - bertiga dengan saya. Terkadang dan lebih sering
mereka bergiliran - kalau tidak kakaknya - maka adiknya. Sebab mereka banyak PR-nya dari sekolahannya. Penyakitnya semakin sulit dapat dikatakan berkurang. Badannya sudah semakin lemas. Terkadang makanpun saya suapi - dan sangat sulit menghabiskan makanan yang sebenarnya sudah begitu sedikit.

Terkadang dia batuk yang tak berkeputusan. Sekali waktu batuknya ini agak
keras. Dan saya lihat terloncat dahak mengental dari mulutnya. Dan sudah itu....apakah yang saya lihat ini.....segumpal darah segar muncrat dari mulutnya. Muncratan ini terkena sepereinya dan meninggalkan bekas darah yang memerah. Saya laporkan kepada perawat. Segera mereka mengganti sepereinya. Dan masih ada lagi bekas-bekas darah merah segar yang keluar dari batuknya. Saya segera memijiti kepalanya - dan membaringkannya bertukar badan - agar agak membalik. Ketika itu saya dituntut kepada saya sendiri - agar tenang - agar menguasai diri. Dan saya berkomat-kamit berdoa kepada Tuhan agar Wati janganlah sampai......apa namanya sayapun tak tahu bagaimana cara menuliskannya. Sore dan menjelang senja itu sengaja saya lambatkan kepulangan saya - buat agak berlama menemaninya sampai dia agak tenang dalam tidurnya.

Sebenarnya dalam pada itu saya berjuang keras pada diri saya sendiri. Bahkan
setelah melihat betapa Wati menahankan penderitaannya dalam keadaan begitu sakit - batuknya yang terus menerus dan darah segar yang muncrat dari mulutnya itu - saya periksa diri saya. Bagaimanakah pikiran saya ketika itu? Saya sudah menyerahkan Wati - istri saya - ibu dari anak-anak saya kepada Tuhan. Dalam batin saya, berkata kepada Tuhan, saya dan kami tiga beranak sudah rela melepaskan Wati - sepenuhnya kepadaMU Tuhan. Saya tak sanggup lagi bertahan melihat dia begitu menderita - begitu tersiksa dan dalam keadaan sakit begitu rupa. Saya berusaha keras buat mengatasi semua ini - hari-hari kesedihan kami bertiga takkan lama lagi. Dan kepada anak-anakpun sudah saya persiapkan pikiran kalau-kalau kami bertiga ditinggalkannya dalam waktu yang singkat ini. Dan mereka berdua walaupun dengan isak-tangisan dan sesenggukan, merasa juga adalah baik pabila Wati dipanggil Tuhan pulang ke rumahNYA.

Dalam pada itu pihak Radio rupanya sudah diingatkan juga agar bersiap-siap
menghadapi semua peristiwa yang sangat buruk sekalipun. Semua kehidupan kami - sepenuhnya di bawah tanggungjawab Radio. Dan pihak Radio sangat memperhatikan semua keperluan dan kebutuhan kami. Dan ketika pihak Radio mengatakan kepada saya, agar sering-sering dan siap-siap mendengarkan deringan tilpun di asrama kami - di bagian apartemen kami. Tilpun ada dan diletakkan di bagian antara kamar-kamar kami dan berada di luar kamar perorangan. Masih
menggunakan tilpun secara kolektive buat beberapa kamar. Sehingga pabila ada tilpun buat kita, teman lain yang kebetulan menyambut bunyi deringan itu - akan segera melaporkannya kepada kita. Sejak pemberitahuan pihak Radio itulah - saya semakin tidak ada ketenangan. Sebab begitu tilpun berdering, saya sudah berlari ke arahnya. Dan rupanya bukan buat saya. Malam-malam-pun saya tidak bisa tenang - mendengarkan deringan tilpun siapa tahu dari pihak rumahsakit atau dari Radio.

Saya selama hampir tiga bulan ini - tidak pernah merasa tenang. Dan tidur
saya selalu bermimpi buruk dan sudah tentu tidak pernah tidur lelap. Apalagi setelah dengan resmi diberitahukan oleh pihak Radio agar sering-sering dan selalulah dengarkan dan sambut pabila ada deringan tilpun. Pada har-hari itu, saya tak pernah jauh dari letak tilpun kami di asrama, terutama di bagian apartemen kami. Ketika kami kebetulan bertiga menjenguk Wati, terlihat wajah Wati agak segar. Dan sedikit gembira setelah dia tahu kami menjenguknya lengkap bertiga - yang tidak selalu terjadi begitu. Pada hari itu kami beriga berjanji bahwa pada keesokan harinya - hari Minggu kami akan menjenguknya lagi dan akan makan-bersama berempat. Kami akan bawa makanan dari rumah. Dan saya sore itu berbelanja buat makan-bersama - sudah tentu agak banyak dan memilih makanan yang Wati bisa makannya bersama. Saya dengan wajah riang dan bersuka-cita bekerja di dapur. Rebus ini - tumis itu - goreng yang ini dan banyak lagi. Tetapi ketika sedang saya asik bekerja di dapur - anak pertama saya, Wita datang dengan wajah yang sedih dan terlihat menangis sesenggukan.
"Papa". katanya tiba-tiba.
"Tidak usahlah papa terlalu repot masak-memasak buat kita makan-bersama mama besok......Karena saya merasa mama besok sudah akan pergi........buat selama-lamanya....", lalu dia menangis mengucapkan kata-kata ini.
"Besok mama akan dipanggil Tuhan Yesus...dan pergi meninggalkan kita semua.....",- Ucapan Wita ini sangat mempengaruhi saya. Darimana pula dia tahu dan merasa bahwa Yesus akan menjemput mamanya pergi buat tidak kembal? Wita samasekali tidak pernah mendapatkan pendidikan agama - agama apa saja. Saya belum
sempat buat mengantarkan pendidikannya ke arah agama. Tetapi dia sudah dengan sangat tegas mengatakan bahwa saya tak perlu repot-repot masak-memasak karena rencana kami Hari Minggu keesokan harinya itu tidak
akan berkesampaian menurut Wita. Meskpun begitu - saya tetap masak-memasak buat rencana kami besok. Ada memang rasa kebimbangan - keraguraguan saya - mengapa sampai Wita mengucapkan kata-kata itu. Antara Wita dan mamanya memang sangat erat perasaannya. Wita sangat dekat mamanya dan sangat terikat pada mamanya - lain dengan anak kami yang kedua Nita - yang secara kedekatannya - dekat pada saya.

Seharian - senja sampai malam itu - saya semakin tidak tenang. Dalam batin
saya - semoga ucapan Wita tadi sore itu janganlah sampai terjadi. Tuhan, izinkanlah kami makan-bersama lengkap berempat,- Namun demikian semua perihalnya kami serahkan kepadaMU Tuhan, berjalanlah menurut kehandakMU dan bukan kehendak kami,- Kami serahkan kepadaMU,-

29. Pada Puncaknya

Berjaga-jaga - bersiap-siap buat menerima kabar buruk melalui deringan tilpun dari rumahsakit atau dari pihak kantor kami - Radio Beijing. Setiap hari pabila sudah sampai di rumah. Sudah tentu situasi tegang sangat
menyelimuti saya. Kurang tidur - syaraf terganggu - tidak ada rasa ketenangan - dan selalu dalam kehidupan cemas - penuh kekuatiran yang entah kapan datangnya. Yang saya tunggu berita deringan tilpun itu - ternyata tidak datang melalui penantian. Tetapi datang justru melalui ketokan pintu di rumah kami.

Pagi-pagi belum jam 05.00 seorang teman yang sedang bertugas malam itu di
Radio - mengetok rumah kami. Dia Siao Lie tamatan Universitas Guangdong - Kanton - seorang teman muda - seorang penyiar warta-berita,
memberitahukan.... "Pihak rumahsakit memberitahukan kepada kami - agar bapak ke rumahsakit sekarang ini - karena keadaan ibu sedang dalam krisis. Mobil sudah kami siapkan di bawah. Saya memberitahukan kepada beberapa teman.......",- lalu Siao Lie berpamitan. Saya segera membangunkan anak-anak. Saya beritahukan
dengan agak pelan dan tenang. Mereka bersiap berangkat. Kami bertiga yang menurut rencanya hari ini - Minggu, akan makan-siang bersama dan saya sudah masak-memasak. Padahal kemaren Sabtunya - Wati masih sempat tersenyum dan tertawa. Kini dilaporkan dalam keadaan krisis.

Semua yang saya persiapkan kemaren sorenya - tidak kami bawa serta. Dan
apakah ucapan Wita sambil dia sesenggukan itu - sudah dalam pelaksanaan keputusan Tuhan? Kami sudah merelakannya. Sesampainya kami kira-kira jam 06.00, kami segera menuju kamar Wati. Badan - dadanya sudah penuh dengan sambungan snoer ( kawat ) halus yang disambungkan dengan mesin cardiogram - lalu ada lagi alat lainnya. Dari layar-kaca - ecran - dapat dilihat jalannya jantung yang sudah melemah. Dan dia sudah dalam keadaan koma. Sudah tak bisa
bicara dan hanya matanya yang mengecil melihat dan meperhatikan kami. Dua anak saya mendekati ibunya - memegangi tangannya dan memeluk badan ibunya. Saya biarkan mereka - siap berpisah dengan mamanya. Lalu saya katakan kepada dua anak saya, agar mereka pulang dulu ke rumah - menyiapkan pakain mamanya secara lengkap. Kebaya dan kain dan selendangnya. Saya pesankan agar mereka memilih pakaian mamanya sebagaimana mamanya pergi ke pesta di Gedung Rakyat dan KBRI. Dan pilihkan yang terbaik menurut kalian berdua. Tanpa dikatakan apapun - kedua anak saya sudah tahu dan penuh pengertian - bahwa hari itu kami akan berpisah buat selama-lamanya dengan mamanya. Mereka segera akan kehilangan mamanya dan saya sebentar lagi akan segera kehilangan istri dan lalu menduda.

Sambil menunggu di pinggiran ranjang Wati - saya memegangi tangannya yang
sudah lama kurus - mengecil dan wajahnya memperhatikan saya dengan tenang. Saya berusaha sekuatnya untuk tenang dan menguasai diri. Dalam batin saya - agar lekaslah dua anak-anak saya itu kembali ke rs, - karena saya lihat mamanya seakan-akan menunggu kedatangan mereka berdua. Sudah itu lalu dia bisa pamitan dengan tenang kepada kami bertiga. Saya sangat bersukur - karena mejelang jam 07.00 mereka berdua kembali ke kamar mamanya. Dan mamanya sedikit menggerakkan tangannya memegangi tangan kedua anaknya itu. Saya lihat gambaran grafik di layar-kaca cardiogram sudah terputus-putus - melemah. Dan pada akhirnya dia memejamkan mata buat selama-lamanya.
Anak-anak sudah tahu - pertanda apa semua itu. Dan dua anak saya menjerit kesedihan karena ditinggalkan mamanya. Wita terjatuh di lantai - pingsan - dan Nita hanmpir tak sadarkan dirinya. Kini sayalah yang mengambil-alih tongkat komando sebagai orangtua - merangkap dua-duanya - sebagai ayah dan sebagai mama. Tak sebutirpun airmata saya jatuh berlinang! Saya masih bisa tahan - dan orang-orang - teman kami dari Radio semakin banyak berdatangan. Rupanya mereka sudah dipesankan oleh pihak rumahsakit - bahwa Wati memang
sudah waktunya buat pergi selama-lamanya. Sudah pada batas maksimum kekuatan pihak rumahsakit buat menyelamatkannya - tetapi rupanya kepandaian dam kesanggupan manusia sangat terbatas.

Dokter berdatangan - tidak lagi hanya mengurus jenazah mamanya anak-anak,
tetapi juga mengawasi dan melindungi kami bertiga. Pihak rumahsakit langsung "menyelamatkan kami". Pihak rs tahu akan semua kehidupan dan kesehatan kami. Seorang dokter yang saya memang sudah kenal baik - segera mengukur tekanan
darah saya - dan pols tangan saya. Masih dalam batas bisa dan masih ada kesanggupan seperti biasa. Walaupun agak naik = 180/110 dan pols 84. Wita yang tadi pingsan tak perlu pengobatan apapun. Dan adiknya masih lebih tahan dari kakaknya. Dan saya tetap dapat menahan agar tak mengalirkan air-mata. Orang-orang sudah banyak berdatangan buat mengucapkan rasa belasungkawa. Saya masih sempat melihat - para pimpinan Radio sampai ke tingkjat pusat - penuh kesibukan mengatur semua persiapan pemakaman istri saya dan mama dari dua anak saya.

Oh, dulu ketika berangkat pada tahun 1963 meninggalkan Jakarta - Indonesia - Wati sesenggukan menagis. Yang ketika itu banyak teman-teman mengantarkan kami di Kemayoran - termasuk Bung Nyoto dan banyak teman. Kini dua-dua mereka ini sudah meninggalkan kami - baik Wati yang diantarkan dulu itu - maupun pihak Bung Nyoto yang mengantarkan. Dua-duanya meninggal dengan cara berlainan, tetapi pengabdiannya masih dalam satu orbit,-


 

30. Kesibukan Sekitar Kami

Banyak teman-teman Radio berdatangan. Mereka menyalami kami buat menyatakan
ucapan belasungkawa. Lalu juga berdatangan teman-teman yang mengetahui keluarga kami yang di luar Radio - dari jawatan lain. Kami banyak menerima pengaturan dari tuanrumah kami - setelah lebih dulu berunding minta persetujuan kepada kami. Kami dianjurkan sudah boleh berbenah buat pulang ke rumah. Dan jenazah akan segera dibawa oleh pihak rumahsakit ke kamar penyimpanan jenazah.

Begitu kami sampai di apartemen kami - sudah banyak teman-teman lainnya
berdatangan buat mengucapkan belasungkawa. Dari teman-teman Tiongkok yang bekerja di tempat-tempat lainnya - seperti di PBA = Pustaka Bahasa Asing. Dari IBA = Institut Bahasa Asing Beijing - dari Universitas Beijing. Bahkan banyak karangan bunga pernyataan belasungkawa. Di antaranya juga berdatangan dari pihak KBRI Beijing. Ada karangan bunga dari Pak Djawoto - dubes RI di Beijing dan juga bunda dubes datang ke kami. Beberapa teman-teman asing yang satu apartemen dengan kami berdatangan menyalami kami mengucapkan rasa belasungkawa. Hampir semua penghuni aparteman kami berdatangan ke kamar kami. Teman-teman dari Jepang - Srilangka - Pakistan - Venezuela - Colombia - Argentina - Italia - Portugal dan banyak lagi.

Pagi itu rumah kami penuh sesak orang-orang dan teman-teman yang menyatakan
uacapan belasungkawa. Ketika itu secara kebetulan ada kenalan kami yang sudah kami anggap keluarga sendiri yang menginap di rumah kami. Mereka ini tadinya berkedudukan di Moskow. Tetapi karena garis politiknya berlainan dengan tuanrumah - maka mereka seakan-akan di - personna-non-grata secara terselubung - maka pindah ke Albania. Dari Albania juga karena politik partai dari tanahair berbeda dengan tuanrumah barunya ini - lalu kembali lagi di personna-non-grata dan pindah ke RRT ini. Dia adalah Anwar Dharma - seorang jurnalis dan seorang sastrawan - penyair dari Medan. Mereka berdua - suami istri tak punya anak. Mereka inilah yang kami anggap keluarga - abang sendiri. Mereka secara aktive sangat membantu kami - terutama sekitar peristiwa yang menimpa kami ini. Mereka menasehatkan banyak persoalan dan turut mengatiur segala sesuatu dalam persiapan pemakaman jenazah istri saya.

Teman-teman Radio menyatakan secara resmi dan tertulis setelah berkonsultasi
dengan pihak rumahsakit dan dengan kami pihak keluarga. Bahwa Wati meninggal pada jam 07.15 Hari Minggu tanggal 31 Agustus 1980, dalam usia 39 tahun. Dan akan dikebumikan pada tanggal 5 September 1980. Perkara dikebumikan ini pihak Radio dengan sangat berhati-hati minta persetujuan kami pihak keluarga. Saya lalu berkonsultasi kepada bang Anwar yang sedang ada di rumah kami itu. Dan kami setuju sepenuhnya akan tanggal yang ditetapkan itu. Semua urusan sekitar pemakaman diurus oleh pihak tuanrumah kami - Radio Beijing. Ada hubungannya Wati sebagai tenaga honorer di Radio dan saya sebagai pegawai Radio.

Ketika zaman itu tentu saja ada kesulitan buat mengabarkan kepada pihak
keluarga yang di Indonesia. Kami hanya bisa berhubungan surat-meyurat dengan pihak keluarga maupun teman-teman lainnya di Indonesia melalu negeri ketiga. Dan negeri ketiga itu adalah Belanda! Dapat dibayangkan - semua surat menyurat selalu harus melalui Negeri Belanda. Akan sangat makan-waktu - lama dan berliku-liku. Surat-menyurat yang datang dalam rentang satu bulan - dianggap cukup baik! Ada surat yang sampai dua bulan dan tiga bulan - dan itupun sudah melalui...sensor! Sudah tentu karena hidup kami ini ketika itu benar-benar tidak normal - kami tidak tahu melalui siapa - siapa nama orang yang mau membantu menyampaikan surat-surat itu - semua serba gelap dan
memang sengaja digelapkan - semua serba konspirasi. Hidup kami penuh dengan alam-suasana konspirasi. Mungkin pada waktu itu benar-benar diperlukan. Walaupun kebanyakan dari kami tidak suka cara begitu!

Pada hari pemakaman - banyak sekali orang-orang dan teman-teman berdatangan.
Ada beberapa bis dan mobil menuju pemakaman. Pemakaman itu jauh sekali di pinggiran kota Beijing. Hampir puluhan km jauhnya. Pada upacara pelepasan jenazah - banyak sekali orang-orang berdatangan. Baik dari golongan pejabat resmi maupun secara pertemanan dan kenalan serta sahabat biasa. Kami melihat dubes kami Pak Djawoto juga memerlukan datang. Pejabat resmi Radio dari tingkat pusat dan Radio Beijing juga memerlukan datang. Menurut perkiraan
bang Anwar yang secara mata-jurnalis itu - ada ratusan orang. Saya ada rasa gembiranya - karena ternyata Wati atau kami sekeluarga - cukup baik dihormati dan dihargai orang. Sepanjang upacara itu, kami berbaris di
samping peti jenazah. Dua anak saya dalam keadaan mengalirkan air-mata - terkadang terdengar sesenggukannya. Saya pada pokoknya belum pernah mengalirkan airmata di depan umum. Tetapi pabila malam - ketika sedang sendirian - mau tidur tetapi tidak bisa tidur - ketika itulah saya puaskan menangis dan mengalirkan airmata. Sesudah itu ada beberapa teman saya yang "memuji" saya, katanya begitu tahan saya menguasai diri dengan tak setitikpun mengalirkan airmata! Dia dan mereka tentu saja tak ada keperluannya buat tahu semua apa yang saya rasakan. Dan saya lebih banyak bersikap - sudahlah - semua kesedihan kesusahan jangan mengajak orang lain! Orang lain dan masing-masing diri kita ini sudah begitu banyak problim - jangan menambahi yang sudah ada - jangan memberatkan orang lain hanya dengan aliran airmatamu - kesediahan dan kesusahanmu.

Sejak hari pemakaman itu - artinya kami betul-betul berpisah dengan Wati -
istri saya almarhum dan ibu - mamanya anak-anak saya. Sebab sesudah itu dia akan dikebumikan dan tak dapat lagi dilihat bentuk wajah-tubuhnya. Ketika kami diberi kesempatan buat melihat dan memandangi wajah dan sekujur tubuhnya - betapa dia tenang dan cantiknya. Sesudah dipakaikan baju-kebaya - dengan kain sarung kesayangannya. Yang saya ingat - betapa baiknya para kaum ibu teman-sekerja kami di Radio yang telah begitu baik - dan cermat memakaikan semua perlengkapan Wati buat pulang ke rumah Tuhan. Dan saya terus-menerus memimpin dan menuntun dua anak saya - inilah jiwa-jiwa yang harus saya rawat dan pimpin agar semua mereka menjadi orang,-


 

31.Sudah Kehilangan

Bang Anwar dan istrinya yang kami panggil Mak Tuo dan Pak Tuo - beberapa hari di rumah kami. Sudah itu mereka segera kembali ke sealatan - ke tempat di mana kami dulu hidup. Di Nanchang - Desa Kepala Ayam - yang jauhnya ribuan km dari ibukota. Kepergian Pak dan Mak Tuo sangat menyedihkan kami - karena barulah kami terasa begitu sepi - kosong. Mereka sangat berbaik-hati kepada keluarga kami. Ketika masa-masa jayanya kehidupan di Indonesia - keluarga Anwar Dharma yang berkedudukan di Medan ini - pada akhirnya pindah
ke Jakarta karena kebutuhan pekerjaan - dan bekerja di Harain Rakyat - harian organ Partai. Dia adalah salah seorang yang dianggap Bang Amat sebagai pekerja-keras - teladan dan baik. Akhirnya dia ditugaskan di Moskow.

Kini terasa pada kami - begitu banyak yang meninggalkan kami. Dan kini
tinggal kami bertiga. Saya harus lebih banyak mencurahkan perhatian kepada kehidupan anak-anak kami ini. Mereka sedang menghadapi ujian penghabisan SMA-nya. Wita di SMA yang berbasiskan bagian A - sastra modern dan sastra klasik Tiongkok. Bahasa Tionghoanya dituntut harus lebih baik daripada di SMA biasa. Adiknya Nita di SMA yang basisnya berbahasa Inggris - bahasa Inggrisnya dituntut harus lebih baik daripada SMA biasa. Dia bersekolah di mana tempat kami mengajar di IBA = Institut Bahasa Asing - Beijing ketika masa pertama kami tiba di Tiongkok.

Teman-teman Radio sangat baik perhatiannya kepada saya - kepada kami.
Beberapa teman sering mengajak bertamu ke rumahnya. Maksudnya agar saya dapat melupakan rasa kesedihan akibat kehilangan ini. Secara bergantian mereka datang buat mengajak saya ngobrol - main - dan bepergian atau datang ke rumah teman-teman lainnya. Saya melihat usaha mereka agar saya terlupakan akan peristiwa baru-baru ini. Karena mereka datang dan mengajak - maka sayapun ikut dengan rasa rela memenuhi ajakan mereka. Tetapi dari pihak saya sendiri tidak ada timbul niat buat mencari teman-teman itu. Karena saya sedang asik "menikmati" kesendirian saya. Dalam hati saya - biarlah saya sementara ini bersunyi diri - masih sangat melekat bahwa saya baru saja kehilangan istri dan anak-anak saya kehilangan mamanya. Kepada anak-anak, saya sering datang ke kamarnya - mengajak ngobrol. Tampaknya malah mereka lebih kuat dari saya sendiri - dan sukurlah. Saya ingin sekali agar mereka hanya berkonsentrasi kepada pelajaran mereka. Apalagi beberapa bulan lagi mereka akan menghadapi ujian penghabisan SMA-nya masing-masing.

Saya banyak membaca buku. Banyak membaca puisi asing - baik dari penyair
Eropa - AS maupun yang dari Tiongkoknya. Dalam keadaan begini sepi - sendiri pabila datang ke rumah - berbagai rasa sunyi melanda diri. Dan saya mencoba membuat puisi tentang kehidupan dan sekitar saya. Saya ingin agar para pembaca juga turut melihat wajah saya ketika itu.


M A M A


Mama

ketika kau pergi, kutundukkan kepala
lalu ratusan orang mengucapkan belasungkawa
kepala kuangkat kembali
dengan wajah bersih jernih
tanda terimakasih.

Sudah itu tibalah seribu sepi

gelombang menggulung dengan seribu duka
banjir melanda keluarga nestapa
dalam isi surat
dalam isi kawat
mama,
ketika di pusara
yang masih merah basah
yang bertaburkan seribu bunga
aku berjanji di hati
tidak, aku tidak akan menyerah.

Berbilang bulan jalan kutempuh

masih juga bagaikan ayam jantan memikat betinanya
mendekat-dekat lagi ingin menyiksa
maka datanglah lagi
seribu sepi
seribu duka - seribu hina
seribu apa saja
yang akan menimpa diriku
datang - datanglah - datang
jemu mengeluh lalu menantang
datanglah - datang - datang
siapa berani antara kita berdua
berebut bertanding menang
maka benarlah sudah
tidak - aku tidak akan menyerah
kutegakkan kepala
tanda aku siap berlaga lagi!

Beijing - November 1980,-


"Zaman"- kesedihan ini saya menulis puisi yang seiring dengan kehidupan
saya. Penuh dengan kesedihan - tetapi juga ada rasa perlawanan - ada perjuangan. Karena pabila diperturutkan rasa-duka begini - hanyalah semata-mata membikin diri kita tenggelam dalam kesedihan dan duka nestapa. Apalagi tugas saya kini menjadi rangkap - bukan hanya jadi ayah tetapi juga jadi mama dan teman - sahabat dari anak-anak saya. Kehidupan mereka seharusnya saya pikirkan - saya dahulukan.


32. Puisi Sunyi

Masyarakat Indonesia di Beijing - ketika itu sangat sedikit. Boleh dihitung dengan sebelah tangan. Yang agak banyak ada di Selatan - tetapi sangat jauh letaknya. Dan lagi saya ketika itu tak ada kemauan buat bertemu dan ngobrol dengan mereka. Padahal dari pihak mereka cukup baik memperhatikan kehidupan kami. Juga banyak teman-teman Tiongkok yang sekerja maupun yang pertemanan biasa yang cukup hangat terhadap pergaulan. Pabila dalam keadaan normal - tak ada beban apa-apa, sebenarnya sangat enak ngobrol - jagongan kata orang Jawa, dengan mereka. Dan ketika dulu, kami masih lengkap, kami sering datang dan bertamu ke rumah teman-teman itu. Rasanya sangat leluasa - ngobrol sepuasnya dan bernostalgi - lalu makan-bersama. Dengan teman-teman sekerja maupun dengan pertemanan biasa - di mana selalu ada saling hubungan, akan sangat enak berlama-lama saling berkisah - bergurau - dan ngobrol sepuasnya. Biasanya teman-teman ini adalah perantau yang dulunya lahir dan dibesarkan di Indonesia. Kebanyakan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka masih tetap Indonesia yang saya lihat dan rasakan. Dan bahasa Indonesianya sangat baik, malah bahasa Tionghoanya yang agak repot!

Setelah saya kehilangan istri ini - rasanya banyak yang berubah pada diri saya dan pada diri kami bertiga. Sangat berat dan sangat bersusah-hati. Biasanya kami lengkap berempat. Kini kurang satu - dan yang kurang itu justru yang paling pokok buat rumahtangga dan lebih-lebih buat anak-anak saya yang sedang sangat membutuhkan kasih sayang mamanya. Akan sangat terasa sunyi-sepi pabila saya pulang ke rumah dan ketika sore menjelang senja. Biasanya Wati akan selalu di ruangan-tengah dan dapur. Dan dia menyirami bunga-bunganya yang dalam pot yang dipajangnya di sepanjang bibir-jendela dan koridor aparteman kami. Semua bunga-bunga kesayangannya. Mawar yang berwarna-merah-merona - mewangi semerbak - gladiol - magnolia - sedapmalam - anggrek Thailand dan beberapa lagi. Belum tumbuh-tumbuhan dan dedaunan yang saya tak tahu apa namanya - dan bukan bunganya yang jadi perhatian - tetapi dedauan yang aneh dan bagus bentuknya. Ada yang bundar seperti daun semangkok - ada yang bersirip seperti sirip ikan dan ada yang bagaikan beledru. Bermacam-macam. Wati sangat asik dan bersemangat buat menyiraminya. Dan kalau dia sedang asik - maka bisa berjam-jam di depan bunga-bunga kesayangannya. Kini bunga-bunga itu kehilangan dewi baik-hatinya. Sudah tidak begitu terawat dengan kasih-sayang seorang ibu. Dan saya tercenung tak menentu rasa ketika melihat semua ini. Ada rasa yang terpendam. Ada rasa yang mau saya lahirkan.

Dan malam itu saya lahirkan apa perasaan saya ketika melihat dan memandangi semua ini.


BUNGA dan AKU


Dulu selalu aku membeli bunga
dipajang di jambangan
di bibir samping jendela
sang pengagum - istriku membelainya dengan kasih
disiram - ditisik - ditilik
begitu dielus tangannya
begitu menjadi berseri
memarak warna - merona puspita
sungguh mengerti dirinya dicintai
tanpa diharap, dewi datang membelai.

Kini bunga-bunga itu kehilangan senyum
kering tak pernah menguntum
setelah ditinggal pergi dewiku
terpacak diam terpaku.

Bila kami berpandangan
di bawah bayangan caya rembulan
di jendela kaca yang sepi itu
kami saling mengangguk
dan lalu menunduk
karena kami sama kehilangan,-

Beijing,- November 1980.-


Pada masa itu saya sangat senang bersendiri - tidak ingin menjumpai siapapun. Dan rasanya ketika itu ada terasa tidak ingin dijumpai siapapun. Saya asik dengan merasakan sepi - sunyi dan sendiri. Banyak temam-teman mencari saya buat mengajak ke rumahnya atau main-main ke mana saja. Tetapi
rasa hati ini - selalu tawar saja. Saya lebih suka membaca buku - lebih suka merenung dan berpikir tentang bagaimana pada akhirnya hidup kami ini. Ketika Wati masih hidup - ada pikiran kami agar kami segera meninggalkan Tiongkok ini. Sudah terlalu lama buat tinggal di Tiongkok lagi. Agar meluaskan bentangan sayap - berkelepaklah mencari kehidupan di negeri lain - mencari pengalaman kehidupan di negeri asing lainnya - ini seandainya belum bisa pulang ke tanahair. Dan ketika itu Wati sudah dalam keadaan tidak sehat. Tetapi
pesannya ketika itu - seadainya aku mati di tanah ini - kalian bertiga haruslah meneruskan "mencari kehidupan di negeri asing lainnya" sementara belum bisa pulang ke kampunghalaman - begitu pesannya,-


33. Puisi Duka

Wati masuk rumahsakit Persahabatan pada tanggal 23 Mei 1980. Dan meninggal pada tanggal 31 Agustus 1980. Selama tiga bulan lebih itu tak pernah satu haripun saya absen buat menyeguknya. Dapatlah saya rasakan - selama itu saya sangat kurang tidur - gelisah dan merasa sendirian. Sangat merasa berat - dan lelah - capek sekali. Tetapi yang terasa capek-lelah itu bukannya badan - bukannya fisik - tetapi kejiwaan. Capek psychis. Mungkin karena merasa terlalu berat beban perasaan - kurang tidur dan sebagainya,- saya merasa sangat heran dan agak kaget juga - pada hari meinggalnya Wati - hari Minggu itu - sesudah kami menerima tamu-tamu dan sahabat - teman dan kenalan, bersalaman menerima ucapan dukacita kepada kami - malam itu saya tidur
sangat nyenyak. Luarbiasa nyenyaknya - lelap sampai pagi - sampai mentari sudah mengintip di sela-sela jendela - tidur tanpa mimpi dan tanpa terbangun di tengah malam seperti biasanya. Ketika itu saya ada perasaan malu pada diri sendiri! Kenapa tidur saya ketika hari pertama Wati meninggal begitu lelap - nyenyak? Saya kira karena saya sudah melepaskan beban berat selama lebih tiga bulan ini. Saya merasa lega karena saya tidak lagi melihat Wati begitu tersiksa dengan penyakitnya - memuncratkan darah segar dari mulutnya dan batuk-baru keras tak berkeputusan. Saya sangat bersukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan sudah memanggilnya pulang ke rumahNYA. Dan Wati terbebas dari semua siksaan yang selama ini dirasakannya.

Setiap musimpanas kami para akhli yang bekerja di Tiongkok mendapatkan hak libur selama satu bulan. Pihak kantor Radio sudah menawari kami mau ke mana - ke daerah mana. Kami bertiga menyatakan kami mau ke Selatan - ke Guangdong - Kanton. Biasanya kebanyakan orang Indonesia yang berkunjung ke Tiongkok, selalu melalui Kanton. Dan katanya daerah Kanton banyak persamaannya dengan Glodok - Kota. Sedangkan daerah Glodok - Kota, adalah tempat saya bekerja sebagai guru SMA di THHK - Tjung Hua Hui Koan - atau disebut juga Pa-Hwa. Bertahun-tahun saya setiap pagi mesti melalui daerah Glodok - Kota. Dan sangat menarik- pagi-pagi sudah penuh kesibukan orang-orang pergi kerja - pergi belanja. Jadi saya membayangkan kira-kira begitulah Kanton atau Guangdong itu. Orang-orang - teman kami selalu bercerita tentang Kanton. Tetapi saya tidak bisa masuk - karena memang tidak tahu - tidak pernah ke Kanton. Sayangnya - dalam batin saya - sekali kepergian ini rasanya samasekali bukannya dengan rasa penuh kegembiraan - tetapi masih dalam keadaan berduka. Ada terasa seakan-akan melarikan diri dari duka nestapa.

Kami datang ke Tiongkok lewat Kunming provinsi Yunnan. Sangat jarang orang-orang Indonesia datang ke Tiongkok lewat daerah ini. Kami memasuki Birma dengan kota Ranggoon-nya, lalu masuk Tiongkok lewat Sechuan dengan ibukotanya Chengdu. Baiasanya line yang normalnya lewat Kamboja - Pnom Penh lalu ke Kanton - Guangdong. Kami langsung dari Kamboja lalu masuk Birma lalu Yunnan - provinsi Tiongkok Selatan dan ke Beijing.

Kami merencanakan ke Kanton pada tanggal 11 September - sedangkan pemakaman Wati berlangsung pada tanggal 5 September. Jadi tanah pekuburannya katakanlah masih merah dan masih basah. Lalu apakah kepergian kami ini dapat dikatakan lepas-bebas dari rasa yang sedang kami kandung? Maka lahirlah puisi saya seperti terbaca

PERJALANAN DUKA

Kereta melancar senja
ke Selatan, ke Selatan
membawa duka nestapa.

Kelap-kelip lampu berlarian
duka tiba pada puncaknya
duka tiba pada puncaknya
seminggu kini tambah terasa.

Matamu yang sayu
lama tak beranjak menatapku
tak sepatah kata terucap
aku tahu, mama
dengan matamu kau pamitan
lalu jantung itu berhenti
dua putri kami kehilangan ibunya
aku ayahnya kehilangan istri.

Sudah itu kami melarikan diri
ke Selatan , ke Selastan
membawa duka nestapa.

Aku tahu, mama
kaupun takkan rela
seandainya aku masih juga
mendekat-dekat ke lautan itu
berenang-renang dalam lautan duka.

Aku sungguh hapal dirimu
berunrunglah anakku mempunyai kau sebagai ibunya
yang berlapang dada - luhur - jernih selembut sutra
tapi malanglah kami bertiga
hanya kenang membenam duka.

Kereta melancar senja
ke Selatan - ke Selatan
melarikan diri
membawa duka nestapa,-

Beijing,- September 1980.-


Betapapun saya merasa kepergian kami buat menggunakan hak liburan setiap musim panas ini, akan sangat berguna. Karena perlu bagi anak-anak kami buat melepaskan kelelahannya dari segala keteriktan. Juga agar mereka meluaskan pandangan - tidak hanya di rumah - di sekolah dan dalam perjalanan pergi-pulang antara rumah dan sekolahnya saja. Dan lagi tampak mereka gembira dengan liburan musimpanasnya ini - walaupun sebenarnya agak terlambat. Saya merasa mereka-pun perlu ada kesantaian sesudah tegang dengan urusan penyakit mamanya dan urusan sekolah - pelajarannya,-


34. Puisi Sepi

Saya biarkan diri saya dirundung sepi dan kesendirian. Saya merasa yakin - hal begini tidak akan lama. Dia akan berubah - menjadi lebih baik - lebih menyadari bahwa hal ini bukanlah buat diperturutkan. Saya masih punya
tanggungan dua anak. Mereka harus mendapat perhatian sebaik-baiknya. Kini lebih-lebih harus mendapatkan porsi lebih dalam nengasuh mereka. Mereka tidak hanya kehilangan mamanya - tetapi masa dekat ini mereka akan menghadapi ujian penghabisan SMA-nya. Saya seharusnya berusaha agar mereka bisa mengebawahkan perasaan kehilangannya. Buat semua itu benar-benar tidak gampang. Sebab saya sendiri terlebih dulu harus menahan diri - menguasai diri.

Rasa kesepian dan bersendiri - hanya saya rasakan dan ungkapkan ke dalam puisi. Biarlah pelarian saya sementara belum sepenuhnya bisa saya semen - saya beri tanggul pembatas. Beberapa puisi yang masih penuh rasa sepi - sementara ini biarlah saya rajut-renda di kehidupan saya. Bulan November hawa udara di Beijing sangat berpancaroba. Sering berubah secara tiba-tiba. Angin sangat kuat dan hujan tahu-tahu saja menderu. Awan gelap dan cuaca dingin sudah mulai merasuki badan.

Saya pendam perasaan saya dalam puisi November.


NOVEMBER

Senja memeluk erat bulan November
mendesing angin utara berputar-putar
dedaunan melayang terbang jatuh gugur
musimdingin segera datang
yang menyiksa setiap tahun.

Tersirap ingatan ke kampunghalaman
hati yang rindu selalu saja terdengar
hempasan ombak berdebur
dasar anak khatulistiwa
yang selalu bermandikan caya mentari
di atapi awan putih langit biru
di alasi laut menghampar mendekap rindu
O. kampunghalaman
tahun depan genap duapuluh tahun
terdampar-dalam dendam lirih
tertindih pegunungan
gelisah
orangtua dua-dua sudah lama tiada
kakak, abang, ipar sudah pada bernisan
istri lah tiga bulan ditangisi
satu-satu berguguran
bagaikan melayangnya dedaunan
di senja November ini.

Beijing,- November
1980,


Di rumah, saya membiasakan agar kami bertiga selalu bisa berkumpul ketika makan-malam. Dan setiap pagi - kami atur bergilir piket dapur. Memiketi dapur kami sendiri. Setiap orang bergilir menyiapkan makan-pagi. Saya
bertugas selalu menyiapkan makan-malam. Tetapi saya juga terkena piket makan-pagi. Ada kebiasaan Wita yang takut - tidak tenang - pabila menyalakan kompor gaz - karena ada letikan apinya. Tetapi semua itu karena dia dihantui ketakutan saja. Nah, jadi kami berdua Nita pabila giliran Wita piket makan-pagi - alamat pagi itu kami bertiga hanya makan roti - atau roti kering. Tetapi pabila kami berdua Nita yang piket makan-pagi, akan selalu
mendapatkan makanan hangat. Misalnya hidangan nasi-goreng - apel goreng - roti-goreng. Sama sebagaimana ketika mamanya masih hidup dan kami ketika masih lengkap berempat.

Urusan seterika - menjemur pakaian - bagian saya. Membersihkan rumah dan membenahi alat-alat dapur - cuci mencuci juga bagian saya. Anak-anak bertugas kebersihan rumah - menyapu - mengepel dan terkadang menyiram bunga-bunga yang dalam pot yang banyaknya belasan sampai puluhan. Pekerjaan rumah yang kecil-kecil begini ada terasakan - bisa juga melupakan kesedihan dan kekangenan akan kampunghalaman,-


35. Awan Gelap

Beberapa hari itu saya sangat merasakan bahwa pandangan banyak mata teman-teman saya di kantor - teman-teman sekerja saya - agak lain dari biasanya. Saya rasakan ada hal-hal yang ganjil - tidak seperti biasa.
Tampaknya ada beban - dan beban itu saya tidak tahu apa dan bagaimana. Tetapi yang saya rasakan semua teman tidak lagi ramah seperti biasanya kepada saya. Lama juga saya pikirkan masalah ini - ada apa gerangan? Apa salah saya? Apa dosa saya? Tidak bisa lalu saya biarkan begitu saja - akh masa'bodo-lah - misalnya begitu. Tetap saja menjadi pertanyaan yang tak bisa dijawab - apa sebabnya. Perkara ini makan-syaraf juga - sebab ada yang dipikirkan tetapi tidak tahu apa masalahnya.

Dan sukurlah - pada akhirnya ada yang membuka sedikit - kira-kira apa yang akan datang - dan apa yang akan menimpa diri saya ini. Kecelakaan apa lagi yang harus saya jalani dan tempuh? Kepala bagian saya mengabarkan kepada saya, bahwa pada tanggal 3 Agustus nanti Kepala Bagian Tertinggi Radio akan mengundang Kawan buat rapat tentang pekerjaan Kawan di Radio selama ini. Mendengarkan berita kecil ini - kontan dada saya agak menyesak. Dan ada rasa kecurigaan - bahwa akan ada apa-apa lagi yang akan menimpa saya - menimpa
kami sekeluarga. Apalagi setelah saya tanyakan kepasa Lao Huang - ada soal apa - dan rapat apa yang akan dibicarakan nanti itu. Lao Huang mengatakan bahwa Lao Yang - Kepala Bagian Tertingi Radio - yang dulu mengundang saya buat bekerja di Radio - dua tahun yang lalu - kini kembali mau bertemu dan mau menyampaikan segala sesuatu tentang pekerjaan saya.

Lao Yang ini adalah seorang wanita kader tinggi Radio - yang mengepalai - yang menjadi penguasa Radio - dan khusus bagian mengundang dan memberhentikan orang asing. Maksudnya memutuskan bahwa kontark-kerja akan dilanjutkan atau diputuskan - tidak akan memperpanjang kontrak lagi. Dialah yang paling berkuasa menentukan - sudah tentu ada lagi atasannya - misalnya Menteri Penerangannya yang langsung jadi atasannya. Tetapi memutuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan pekerjaan Radio - dialah - Lao Yang-lah yang
memutuskan terus atau stop sampai sini saja. Dan sebagai catatan saya pribadi : dia ini sangat tidak simpatik. Sejak mula pertama saya melihat wajahnya - melihat rupa tampangnya - kenapa terbayang pada saya - dia ini
bagaikan seorang nenek tukangsihir - tampak jahat dan mengerikan. Ada firasat saya - dia ini adalah sumber kecelakaan - sumber kabar-buruk dan musibah. Ini kesan saya yang pertama - pada hari pertama melihat wajah orang ini!

Dan kini dia mengundang saya buat membicarakan perkara pekerjaan saya selama ini - selama dua tahun ini di Radio. Dalam batin saya, sebelum rapat yang akan diadakan tanggal 3 Agustus 1981 nanti itu sudah ada terasa pada pikiran saya. Habislah riwayat saya di Radio ini.....habis...kikis...cintaku terbang - seperti kata penyair Amir Hamzah. Tak secuilpun saya merasa bahwa dugaan saya akan salah! Kepada diri saya - antara saya bagian luar dan saya bagain dalam ada dialog - ada soal-tanya-jawab. Apa yang akan saya ajukan - apa yang akan saya bicarakan pada "penentuan hidup-mati" saya dan kami sekeluarga bertiga nanti itu.

Sudah menjadi kebiasaan di Tiongkok ketika itu - pabila mau tahu tentang sesuatu yang agak mendetail tentang apa saja - seseorang harus berani kasak-kusuk mencari berita - kira-kira apa yang akan saya hadapi nanti. Dan
saya sudah mendapatkannya walaupun tidak bisa ada kepastiannya. Tetapi apa yang saya rasakan - sangat mendekati kebenaran perencanaan isi rapat yang akan datang itu. Apa kira-kira yang saya rasakan? Tak secuilpun keraguan - bahwa saya sangat besar kemungkinan akan...didepak....akan diperhentikan dengan kata halusnya akan dihabiskan - dihentikan masa kerja-kontraknya. Dan kontrak-kerja selama dua tahun itu, sudah pasti tidak akan diperpanjang. Apa artinya ini? Artinya saya akan kehilangan pekerjaan - akan kehilangan sumber
kehidupan. Dan lebih lanjut, akan apa saja yang saya harus hadapi? Bagi saya hanya satu jalan - saya harus ke luar Tiongkok! Ke mana? Mana saya tahu! Sebab semua jalan tampaknya gelap - tetapi buat menerobosnya betapa akan banyak mengalami kesulitan - kerumitan dan dengan segala macam perjuangan. Ya, Awan Gelap Lagi betapapun cepat atau lambat datangnya - saya harus siap menghadapinya. Tak bisa lain - tak ada jalan lain.....saya harus menempuh jalan yang sangat sulit dan mungkin sengsara itu......


36. Putusan

Hari yang ditungg-tunggu itu akhirnya sampai juga. Seksi kami mengadakan rapat di suatu ruangan rapat yang agak luas. Karena mungkin yang akan datang hadir ini adalah petinggi pihak Radio - penguasa Radio - seorang wanita yang menurut saya sejak pertama melihat wajahnya - sudah terasa pada saya bahwa wanita satu ini sangat serem - angker. Eh - eh pada penghabisan riwayat saya di Radio - dia lagi yang akan mengakhiri putusan palu toktoknya - tanda pukulan terakhir rapat.

" So-fei-yan dong - dze...hari ini kita mengadakan rapat buat mengadakan semacam evaluasi rapat - selama dua tahun kawan Sofyan bekerja di Radio kami. Kami mendapatkan banyak bantuan dari kawan Sofyan. Banyak kawan-kawan sudah belajar kepada tuntunan dan pendidikan bahasa Indonesia yang kawan ajarkan. Dan kini kami merasa sudah bisa berdiri sendiri. Sehingga kami merasa kontrak-kerja dengan kawan Sofyan tidak perlu kami perpanjang lagi. Dan kami ingin mengetahui bagaimana pikiran pendapat kawan Sofyan -
sekiranya ada usul-usul baru......."

Dan suasana hening - terasa sepi mendekam dan suasana kaku. Tak ada bunyi omongan dan suara mau bicara atau celetukan. Semua diam. Dan saya berpikir yang pikiran itu sudah lama ada dan terpendam dalam hati. Jadi tinggal sepatah dua patah kata lagi - tak banyak yang harus diungkapkan. Dan lagi kalau sudah putusan,- apalagi tokh soalnya......

"Saya tidak punya pendapat apa-apa lagi. Dulu sekali - ketika mula pertama saya datang ke Tiongkok adalah atas undangan kawan-kawan buat bekerja di Tiongkok - membantu pembangunan sosialis Tiongkok. Dan kini saya tidak diperlukan lagi - karena sudah dianggap selesailah pekerjaan saya. Lalu bagaimana? Ya, saya harus pergi - harus mencari jalan pulang...." Kawan pimpinan tertinggi pihak Radio tahu sekali keadaan kami - tahu tentang negeri kami - tahu tentang keluarga saya. Dengan jawaban saya ini, mereka pada mengerenyitkan kening dan bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan saya lakukan.

"Lalu kawan Sofyan akan ke mana? Apakah akan bergabung dengan kawan-kawan lainnya di selatan - kembali ke penempatan kawan-kawan lainnya....?" Kawan Lao Yang petinggi Radio itu agaknya mau tahu juga dia - apa sikap saya dan mau ke mana saya. "Karena pihak Kawan Radio baru saja beberap detik ini memutuskan tidak akan diteruskannya kontrak-kerja, maka tentu saja saya tidak mungkin bisa tahu akan ke mana saya selanjutnya. Tetapi sudah pasti saya tidak mau lagi bergabung dengan kawan-kawan saya yang ada di selatan. Saya mau pulang ke tanahair saya. Bagaimana caranya - dengan apa - ke mana dulu - semuanya masih serba gelap bagi saya. Karena keputusan ini belum lagi beberapa menit dijatuhkan. Jadi berilah saya waktu buat mencari jalan.........."

"Bagaimana kalau kami usulkan - kita beri waktu buat kawan Sofyan selama tiga bulan ini. Buat mencari hubungan seperti apa yang dikatakannya tadi. Dalam pada itu kawan Sofyan tetap bekerja setengah-hari dengan mendapatkan gaji juga setengah dari setiap bulannya..." Masih saya dengar suara seakan serentak..."setuju..." Rupanya suara seakan-akan koor itu adalah suara teman-teman saya - teman-teman sekantor - teman-teman sekerja saya. Wajah-wajah yang dulu agak kaku - seram dan suram - kini sudah agak berubah. Dan jawaban saya yang seperti itu tadi, mungkin tidak mereka sangkakan. tersingkat.

Hari itu - tanggal 3 Agustus 1981, mungkin adalah rapat yang paling singkat di Tiongkok! Karena tidak sampai makan waktu limabelas menit! Kemukakan perkaranya - lalu minta pendapat - lalu setuju - lalu mulus tanpa halangan apapun - tak ada diskusi - tak ada perdebatan - lancar - mulus. Tetapi itulah garis penentuan nasib saya - nasib sekeluarga kami bertiga,- Sudah itu betapa awan gelap dan badai hujan akan menimpa saya - menimpa kami. Kami belum lagi tahu - mau ke mana - lalu mau apa di sana. Dan di sana itu di mana - juga serba gelap. Tetapi satu hal yang sudah ada kepastian pada kami. Kami harus ke luar Tiongkok. Ke mana dan kapan? Juga tak seorangpun yang tahu - sudah tentu sayalah yang paling tidak tahu. Segala tindakan - sikap dan perilaku harus segera dikerjakan - cepat. Kalau bisa jangan sampai pada batas tiga bulan yang diberikan tuanrumah. Kalau bisa bulan depan inipun - berangkatlah yang entah ke mana,-


37.Mencari Jalan

Sebenarnya bagaimanapun - tuanrumah cukup baik. Masih memberi kesempatan kepada saya buat mencari jalan akan ke mana saya. Jalan mundur memang selalu ada. Di selatan masih ada beberapa teman kami - dan semua saya kenal baik. Tetapikebanyakan mereka adalah teman-teman tua usia - dan sakitan serta memang sudah tak punya kemauan buat ke luar Tiongkok. Mereka memang bertekad dan bermaksud tinggal di Tiongkok - mungkin buat sementara sebelum ada jalan atau juga memang bermaksud hidup-matinya di Tiongkok. Nah, yang seperti ini kebetulan tidak ada pada kami.

Oleh pengaturan tuanrumah - saya bekerja setengah hari, dari jam 08.00 sampai dengan jam 12.00. Dengan menerima gaji juga setengah dari sebelumnya. Soal gaji - soal uang - benar-benar tak ada soal buat kami. Saya kira buat seluruh orang asing yang bekerja di Tiongkok - terutama buat para expert - para akhli-asing. Bergaji cukup banyak. Uang banyak tetapi barangnya tak ada! Sangat sulit mendapatkan barang yang kita sedang cari. Tidak jarang kami harus pesan kepada teman-teman yang kebetulan mau ke Hongkong. Beli raket dunlop saja harus pesan di Hongkong.

Ada hal-hal yang menjadi pikiran saya. Kenapa kontrak-kerja saya itu harus berhenti dan tidak diperpanjang - hanya selama dua tahun. Ini terpikir pada saya - biasanya buat mengakhiri kontrak-kerja akan selalu dua belah pihak berkonsultasi dulu - bagaimana baiknya - apa usul-usulnya - apakah mau diperpanjang atau hanya sekian saja - dan lain-lainnya. Tetapi perkara pemutusan kontrak-kerja yang ada pada saya ini - hanya dari satu pihak -
yaitu putuskan buat tidak diperpanjang lagi - tanpa saya tahu sebelumnya. Jadi saya anggap mendadak - dan tiba-tiba. Karena itu pendapat saya - mereka yang dulu minta kepada saya - dan kini mereka yang memutuskan saya harus bagaimana dan harus apa. Jadi sayapun merasa ya sudahlah kalau orang sudah tak mau lagi - kenapa mesti minta-minta dan merengek-rengek agar bisa terus bekerja. Saya mengambil contoh para akhli-asing - expert lainya. Rata-rata mereka sampai dua - tiga serta lima tahap diperpanjang. Seorang akhli dari Malaysia - yang juga teman serta tetangga kami - sudah lebih tigapuluh tahun bekerja di Radio Beijing. selalu kontrak kerjanya diperpanjang. Beberapa akhli lainnya - selalu sangat jarang hanya satu kali kontrak-kerja yang lamanya dua tahun itu, dan selalu diperpanjang. Lalu kenapa saya hanya satu kali - dan hanya dua tahun saja - sudah itu diputus secara sepihak? Lama saya berpikir - kenapa - dan apa sebabnya.

Juga saya bandingkan diri saya dengan para akhli lainya. Mereka memang lain dengan saya. Seperti akhli dari Malaysia itu - orangnya alim - orangnya tidak banyak kehendak yang kira-kira bertentangan dengan tuanrumah. Selalu mengikuiti jadwal yang diatur oleh tuanrumah. Pergi kerja - lalu pulang kerja - lalu ya di rumah saja. Terkadang ikut pengaturan tuanrumah buat dengan bis Radio atau kendaraan Radio, ke Toko-Persahabatan atau ke Hotel Persahabatan atau ke mana saja yang memang sudah dijadwalkan tuanrumah. MIsalnya buat nonton pertandingan sepakbola - nonton konsert - meninjau ke obyek tertentu. Saya juga terkadang mengikuti sama dengan mereka. Tetapi ada lainnya. Saya suka membuat acara sendiri - bersepeda ke mana-mana - mendatangi rumah teman-teman sekerja maupun yang tidak satu kantor. Mencari teman. Beranjangsono ke rumah orang-orang Tiongkok yang tidak satu kantor - bergaul dengan bebas dengan banyak orang Tiongkok - orang totoknya bukan Hoakiau-nya. Saya punya banyak teman di luar hubungan kerja - di luar hubungan yang ada sangkut pautnya dengan jawatan. Dan hal ini sebenarnya sangat tidak disukai oleh tuanrumah. Sedapat mungkin selalu membatasi diri hanya dengan lingkungan sepekerjaan saja - hanya dalam hubungan kerja saja. Jangan sampai merambah ke luar jauh ke pergaulan umum. Tuanrumah tidak suka akan cara dan perilaku kehidupan saya.

Saya di mana-mana selalu diterima orang-orang Tiongkokyang saya datangi - yang saya beranjangsono kepada mereka. Bahkan tidak jarang saya makan-minum di rumah mereka. Dan cara begini sangat tidak disukai tuanrumah! Tuanrumah akan suka pabila dengan cara akhli yang saya sebutkan tadi - pergi kerja - lalu pulang kerja - lalu di rumah saja - bisa ke luar berolahraga misalnya - tetapi bukan lalu mencari pergaulan - mencari teman - beranjangsono - bergurau - berkelakar sebagaimana mazsarakat normal. Dan saya, besar dugaan saya memang terlalu bebas - terlalu banyak tahu tentang kehidupan orang-orang biasa orang Tiongkok. Dan hal ini sangat tidak disukai oleh tuanrumah. Tetapi hal inipun tidak lalu menjadi garis umum kebijaksanaan tuanrumah secara keseluruhan. Hanya ada sebagian kecil orang yang masih menggunakan ukuran sempit begini - dan kebetulan orang - wanita penguasa para akhli - expert itu, tampaknya sangat berat penyakit sempit pergaulan yang saya sebutkan ini, dan saya terkena imbasnya - harus distop kontrak-kerjanya! Dan saya harus segera cari
jalan - akan ke mana dan mau ke mana!,-


38. Gila Bersepeda

Jam-kerja saya sementara saya mencari jalan buat ke luar Tiongkok, hanya setengah-hari,dari jam 08.00 sampai dengan jam 12.00. Sudah itu saya gunakan buat tulis-menulis surat ke beberapa negara. Menghubungi teman-teman yang ada di negara itu - menghubungi badan-badan organisasi dan NGO yang kira-kitra dapat membantu saya buat berangkat dan minta perlindungan di negara tertentu itu. Termasuk saya menghubungi badan gereja. Ada patokan pada tahap pertama ini - negara yang kami hubungi adalah negara yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. Karena itu kami menghubungi Kanada - Australia - Amerika Serikat - Inggris - Hongkong dan Singapura. Tetapi Hongkong dan Singapura tidak menjadi perhatian besar - sebab ada kekuatiran kami. Karena dua negara ini bukan hanya terlalu dekat Indonesia - tetapi lebih-lebih ada kecemasan kami kalau-kalau dua negara ini ada perjanjian extradisi antara RI dan mereka,- dan lalu kami bisa dikirimkan ke Indonesia dan tinggal ciduk lalu binnen....masuk...dan habis perkara!

Semua ini saya kerjakan sesudah kantoran - biasanya sampai jam 15.00 dan setiap hari. Mula-mula ada belasan surat saya kirimkan - lalu membesar menjadi puluhan surat - yang mungkin pada akhirnya mencapai angka ratusan. Kerja setiap hari sampai berbulan - menulis surat - melamar - mengajukan permintaan dan permohonan. Setiap hari dua tiga jam kerja - mengetik - lalu koreksi - lalu periksa lagi dengan baik-baik dan teliti. Dan lalu ke kantor-pos. Lalu apa sekarang? Pergi menenangkan pikiran. Ke mana? Bersepeda. Dan ke mana tujuannya? Ke mana saja. Jalanan di seluruh kota Beijing ini sangat enak buat mengendarai sepeda. Jalannya mulus dan besar-besar lapang-lapang. Dan lagi datar - tidak ada tanjakan - rata. Jadi sangat enak mengayunkan sepeda. Ringan dan tidak berat karena rata dan datar itu. Ada bahaya yang tak terasa. Lalu lupa danlalu nyasar, tersesat mau ke mana - mana arah yang mau dituju.

Suatu waktu saya bersepeda yang entah ke mana. Hari sudah agak sore dan menjelang senja. Saya tidak tahu sudah sampai di mana saya. Yang paling saya takut dan ngeri - kalau tiba-tiba ban sepeda pecah atau kempes. Karena tidak ada bengkel sepeda. Saya merasa harus bertanya kepada penduduk sekitar di situ. Saya menanyakan di mana Youyi bing-guan - Hotel Persahabatan - karena kalau sudah tahu gedung itu - ada patokan buat pulang ke rumah ke kompleks Radio. Penduduk - petani itu menunjukkan - masih sangat jauh - sekira 20 li lagi. Li adalah ukuran setengah km atau 500 meter. Jadi dari tempat saya bertanya itu masih 10 km lagi ke arah Hotel Persahabatan. Padahal dari Hotel Persahabatan masih ada belasankm lagi ke kompleks Radio kami. Sedangkan jalan yang harus saya tempuh masih ada tiga universitas lagi. Saya harus melalui Chinghua - fakultas Tehnik - kalau di kita adalah ITB Bandung - lalu Beida ( Beijing Dahsue ) Universitas Beiijing - kalau di kita adalah UI atau Gama-nya dan lalu Renda ( Renmin Dahsue ) Universitas Rakyat - tiga uni ini adalah yang paling popupler di Tiongkok dan selalu ada di pinggiran kota. Betapa jauhnya perjalanan yang akan saya tempuh sore dan senja itu.

Karena sudah ada titikterang - dan sudah tahu arah yang akan dituju - saya menjadi agak tenang. Biar sangat jauh - tetapi sudah tahu jalannya mau ke mana. Karena sering bersepeda jauh begini - semula saya sering nyasar dan tersesat. Tetapi karena berkali-kali - lalu tahu keadaan pinggiran kota Beijing, dan mengenal arah dan tempat. Rupanya senja sampai malam itu - sekira jam 24.oo saya baru tiba di kompleks kami. Hari itu karena saya nyasar dan tersesat, saya sudah bersepeda sejauh 90 km. Terasa juga capeknya. Tetapi karena jalannya rata dan datar - tidak begitu banyak makan-tenaga. Bersepeda begini setiap hari saya jalani. Terkadang hanya dalam kota Beijing saja. Sebenarnya saya hanya membuang waktu saja - daripada kesepian sendirian di rumah - saya berusaha melupakan kesedihan dan kesepian. Maunya begitu sampai di rumah - tak banyak lagi waktu buat lalu tidur. Karena keasyikan begini - terkadang saya lupa mengawasi pekerjaan anak-anak. Begitu teringat - segera saya kerjakan dan anak-anak menjadi gembira - bersemangat melihat papanya "masih peduli kepada mereka",-


39. Masa Penantian

Kapan sebenarnya saya mulai selalu mau bersendiri - dan mulai gila bersepeda itu?Yang saya ingat setelah istri meninggal. Karena kesepian dan karena kesedihan - beban perasaan sangat berat. Dan bertambah lagi setelah
diputuskan kontrak-kerja secara sepihak itu. Rasa terpukulnya bertambah-tambah. Sebenarnya tidak sedikit teman-teman yang baik mendatangi saya - mengajak saya agar datang ke rumahnya buat berkelakar - ngobrol dan main-main - dolanan kata orang Jawa. Bahkan ada diantara teman-teman itu dengan sangat berhati-hati mengatakan kepada saya - bagaimana kalau saya perkenalkan dengan si itu atau yang itu, atau yang menurut sampeyan yang mana. Maksudnya mau memperkenalkan saya dengan beberapa teman wanita yang
mungkin bisa cocok dan sesuai. Tentu saja saya menyatakan rasa terimakasih saya atas perhatian dan kebaikannya mau mengenalkan beberapa teman itu. Tetapi ketika itu perasaan saya masih belum terpikir ke arah itu. Saya merasakan kehilangan - dan kehilangan itu tentu saja tidak mudah dan tidak segampang itu buat melupakannya - apalagi menggantikannya dengan yang lain. Namun demikian saya sangat berterimakasih atas perhatian yang begitu baik dari teman-teman itu.

Saya masih lebih suka bersendiri - ke mana-mana sendiri - dan bersepeda - bersepeda ke mana-mana - terkadang tanpa tujuan. Mengikuti jalan yang luas - lebar dan mulus. Terkadang saya bersepeda dalam kota serta berkeliling Beijing saja. Ketika itulah saya banyak juga mengenal pelosok dan pojok-pojok Kota Beijing. Termasukke berbagai obyek temple - kuil - dan sampai Istana Musim Panas Ie He-Yuan - Summer Palace. Dan juga Tien-Tan - Kuil Sorga dan Taman Pei Hai - taman dan danau buatan dari kerajaan yang lalu. Danau Pei Hai termasuk masih dalam Kota Beijing. Sebuah Danau yang besar dan luas - buat rekreasi yang menjadi salah satu obyek di Kota Beijing. Di Taman Peihai ada sebuah resto yang khusus membuat kue-kue kecil-mungil yang hanya sekali masukkan ke mulut - sekali santap - demikian kecilnya. Dan kue itu sangat manis. Ada riwayatnya dulu. Ibu Suri Ratu Tiongkok yang sangat berkuasa ketika itu - sangat menyukai kue kecil-kecil - karena mulutnya juga kecil. Jadi para pekerja dapur Istana, sengaja membuat kue kecil-mungil buat Ibunda Sri Ratu - Raja Tiongkok ketika itu. Dan dari riwayat tentang kue kecil-mungil serta hubungannya dengan Ibunda Sri Ratu itulah sampai kini masih dibuat kue kecil-mungil itu. Hanya bedanya kalau dulu buat Sang Raja - kini siapa saja boleh menikmatinya sebagai kue biasa di pasaran. Hanya yang membuatnya tetap masih ada hubungan dengan riwayat
Kerajaan - tidak lalu banyak di pasaran.

Terkadang saya menyimpan dan menitipkan sepeda dekat Taman Sun Yat Sen - dekat Tien An Men dan tak jauh dari Forbidden City - Kota Terlarang atau Gogong bahasa sananya. Istana Kerajaan dekat Tien An Men itu tentu saja kini sudah jadi semacam musium. Sebuah peninggalan sejarah yang kini terbuka buat umum - bisa dikunjungi oleh para turis. Tentu saja ada bagian-bgaian yang sangat tertutp dan tak dapat dimasuki begitu saja. Pabila kita mau masuk buat melihat-lihat kita harus menunjukkan identitas diri kita - semacam KTP atau paspor atau lainnya. Saya sering masuk ke Istana Gogong ini - bahkan terkadang menggunakan tanda jurnalis Radio. Dan karena semua ini, saya dapat minta izin masuk ke bagian yang buat penyelidikan sejarah - bukan sebagai turis biasa. Dan saya menggunakan kesempatan ketika itu buat berkeliling di Istana Kerajaan dulu itu. Besar - lapang dan sangat antik. Lalu saya ingat "seorang teman saya" yang adalah raja terakhir dinasti kerajaan Tiongkok. Dia adalah "teman" sama-sama tusuk-jarum ketika tahun 1964 - Baginda Aisingoro Puyi. Saya sangat beruntung masih dapat omong-omong - bertanya ini itu dan berkelajkar dengan Baginda Puyi. Setelah saya menyaksikan filemnya "The Last Emperor" - sangat terbayanglah semua bagian Istana yang dulu di mana Baginda Puyi bermain-main semasa kecilnya. Tetapi begitu dia dinobatkan jadi Raja - lalu tak ada lagi kebebasan masa kanak-kanaknya - walaupun ketika dia dinobatkan jadi Raja - ketika itupun dia masih kanak-kanak! Masa
kanak-kanaknya jadi lenyap begitu dia sudah berkedudukan jadi raja. Semua ini saya dapatkan ketika kami berdua di satu kamar sedang tusukjarum pada tahun 1964 dulu itu.

Ketika tahun 1980 - ketika saya mengelilingi Istana Kerajaan dulu itu - saya lupa apakah Baginda Puyi sudah merninggal dan lupa tahun berapa beliau meninggalnya. Tetapi yang jelas ketika filemya pada masa-putar, baginda sudah meninggal. Bagian mengelilingi karena gila bersepada itu - termasuk ketika menjelajahi daerah "kediaman - Istana Raja Tiongkok terakhir - Baginda Puyi Aisingoro yang 'teman' saya sama-sama tusukjarum pada tahun 1964",-


40. Kabar Baik

Surat-surat pengajuan minta perlindungan-politik sudah ratusan dilayangkan. Dan ada juga yang sudah berbalas. Isi balasannya agar saya melengkapi dengan alasan-alasan kuat mengapa sampai minta perlindungan suaka-politik. Isian daftar yang harus dilengkapi banyak menyangkut pertanyaan politik. Dan juga ada dari badan-badan LSM dari negara yang memanng punya minat buat membantu kesulitan orang-orang yang tidak bisa hidup di negerinya sendiri. Dan juga ada balasan surat dari badan-badan yang sifatnya keagamaan - kegerejaaan.

Tetapi sampai ketika itu belum ada titik-terang yang dapat dijadikan andalan. Semuanya masih bersifat pengajuan - pertanyaan dan permintaan buat melengkapi syarat-syarat yang diminta. Sedangkan ketika itu waktu yang diberikan tuanrumah sudah memasuki bulan ketiga. Menurut perjanjian yang diberikan tuanrumah, saya diberi kesempatan tiga bulan buat persiapan mencari jalan-keluar - keluar Tiongkok. Yang saya pikirkan - bagaimana caranya selekas mungkin meninggalkan Tiongkok. Adalah benar bahwa tuanrumah tidak ada desakan agar segeralah meninggalkan Tiongkok.

Politik yang dihadapi antara RI dalam rangka hubungannya dengan RRT,- yalah RI boleh dikatakan menuntut agar pihak RRT tidak melindungi bekas anggota PKI atau orang-orang kiri yang mendukung Presiden Sukarno. Sudah tentu tuntutan itu tidak begitu saja dipenuhi oleh pihak RRT. Kepada kami tidak ada desakan agar kami meninggalkan Tiongkok. Tetapi seharusnya kami punya perasaan bahwa kami ini merupakan batu-sandungan - penghalang buat lancarnya hubungan RI - RRT. Karenanya menurut saya, akan lebih baik kalau kita atau kami ini seharusnya tahu dirilah - berbuatlah agar tidak menjadikan batu-sandungan - penghalang bagi hubungan dua negara - antara RI dan RRT. Tetapi pendapat begini - tentu saja sangat sulit buat diusut dan memang tak begitu baik. Serahkan saja kepada setiap orang - setiap pribadi buat menanggapinya sendiri - karena soal begini sangat sensitif - hanya bisa menjadi bahan perselisihan dan pertengkaran saja.

Karena saya merasa sudah terlalu lama menungu - menanti jawaban surat-surat yang saya ajukan ke berbagai negara - berbagai badan-badan LSM - NGO dan gereja, saya semakin terdesak akan waktu. Sehingga ada pikiran saya begini. Kalau terlampau sulit buat mendapatkan keberangkatan ke luar Tiongkok menuju negara dan negeri yang saya tulisi surat itu - pada akhirnya ke manapun boleh saja, tidak peduli ke negara yang bahasa pokoknya bukan bahasa Inggris. MIsalnya saja kalau benar-benar tak ada jalan lain - ya ke Belanda-pun bolehlah - pokoknya asal ke luar Tiongkok. Maka saya hubungilah seorang teman yang pernah menulis surat kepada saya lalu menawari kalau saya mau ke Belanda - silahkan, dia akan membantu dengan sekuat tenaga dan pikiran. Ketika itu saya anggap perhatiannya kepada saya - kepada kami, begitu bersemangat dan sangat antusias buat membantu. Tetapi setelah saya hubungi dan jelaskan maksud kami buat minta bantuan kepadanya dengan apa yang pernah dikatakannya dulu itu - kini sudah jauh berubah. Surat saya itu samasekali tidak dijawabnya. Padahal yang saya tahu dari teman-teman lainnya - si teman saya yang dulu begitu antusias buat membantu kami,- kini samasekali berubah. Ada kami dengar - bahwa dia tidak lagi mau membantu kami - tidak mau cari-cari urusan yang tak banyak gunanya. Sikapnya ini sebenarnya samasekali tidak menjadikan saya sakit-hati atau sangat kecewa. Semua ini pelajaran bagi banyak aspek kehidupan. Seseorang bisa berubah dan mengubah pendapatnya atas orang lain - atas teman yang tadi diberinya simpati lalu kini berbalik! Dalam kehidupan berpolitik - berideologi tertentu, hal demikian bukannya hal aneh - bukannya langka. Bahkan akan selalu ada dan terdapat di mana-mana.

Kalau kembali ke zaman sekarang ini - orang yang ramah dan baik hati bisa saja hanya dalam surat - hanya dalam tilpun - hanya dalam internet dan chatting. Tetapi begitu berhadapan muka - begitu bertemu buat saling bersaksi - lalu lari - lalu ngacir - kuatir akan menyusahkan diri sendiri. Mendingan berbalik-belakang atau pura-pura lupa atau pura-pura tidak tahu. Perkara begini, selalu kita temui - selalu ada dan terdapat di mana-mana. Bukan hal aneh dan langka. Dan juga tidak seharusnya kita sesali. Dan itulah kehidupan! Terkadang pahit - terkadang menyedihkan.

Dari anak saya Wita, dikatakannya ada tilpun dari seorang Oom yang mencari saya. Saya tahu teman itu adalah salah seorang atasan saya dulunya. Tetapi karena jalannya politik ketika itu sudah tidak menuruti rel yang seharusnya - tidak lagi bersesuaian - maka jalannya sudah sendiri-sendiri. Kini dia datang mencari saya, demikian kata anak saya. Saya balik menilpun dia. Dan kebetulan ketemu dalam tilpun. Salahkah pendengaran saya? Ada dikatakannya - ada ditawarkannya, bagaimana seandainya antara pihak dia atau mereka bekerja sama dengan pihak saya. Setelah saya tanyakan lebih jauh, ternyata dia dengan teman-temannya menawarkan kepada saya - kepada kami sekeluarga bertiga - sekiranya berangkat ke Perancis. Mendengar nama negara Perancis - agak terkejut juga saya. Karena nama negara Perancis tak secuilpun masuk dalam daftar negara yang akan kami tuju. Tak ada sedikitpun maksud kami mau menuju Perancis - tak masuk golongan - tak masuk hitungan saya!

Tetapi karena pembicaraan begini bukanlah hal sederhana - bahkan soal hidup-matinya kami, maka baik pihak dia maupun pihak saya berpendapat sebaiknnya kami dua belah pihak mengadakan pembicaraan tidak hanya dalam tilpun saja. Tetapi menentukan kapan kami dua pihak akan bertemu buat saling mengetahui sikap masing-masing. Dan juga karena keberangkatan ke luar Tiongkok ini sudah tentu akan menyangkut urusan tuanrumah juga - maka sebaiknya antara kami dua belah pihak seharusnya menetapkan dan memantapkan pendirian masing-masing buat dijadikan satu arahan. Begitulah - pada waktunya - si Oom yang panggilan anak-anak saya - akan datang ke rumah kami buat membicarakan kelanjutan maksud keberangkatan ke luar Tiongkok,-


41. Menunggu Keberangkatan

Dari perundingan dua belah pihak, pihak teman-teman Delegasi dan pihak kami sekeluarga, sudah dapat ketentuan bahwa kami akan menuju Perancis. Negara Perancis tak pernah seujung rambutpun menjadi tujuan saya, tak termasuk hitungan saya. Kini kami sekeluarga bertiga ditentukan menuju negara itu. Padahal artinya saya harus mulai benar-benar dari nol - dari mulai belajar bahasa Perancis. Dulu ketika di SMA, kami pernah mendapat pelajaran bahasa Perancis. Tetapi kini tak sepatahkatapun yang teringat - semua lupa karena tak pernah digunakan. Belajar bahasa Perancis ketika itu semata-mata buat mencari angka yang baik - agar lulus ujian penghabisan SMA. Ini tahun 50-an.

Ketika saya tanyakan mengapa harus menuju Perancis - apa dasar pikirannya - apa landasan berpikirnya. Teman-teman Delegasi mengatakan bahwa teman-teman kita yang sudah ke luar Tiongkok dan yang tadinya menyebar di tanah Eropa lainnya - sudah banyak di negara-negara tertentu. Sudah banyak yang di Holland - sudah banyak yang di Jerman dan juga sudah ada yang di Swedia dan lainnya. Tetapi boleh dikatakan masih kosong tempat di Perancis. Sedangkan kita masih perlu mencarikan banyak jalan - banyak kemudahan buat teman-teman kita lainnya. Di belakang kita masih banyak teman-teman yang harus menjadi pikiran kita - harus berusaha membantu mereka. Lagipula apa yang dikatakan pos di Perancis masih sangat perlu orang - perlu teman kita. Yang dimaksudkan pos itu adalah tempat biasa - tempat pelarian politik seperti halnya juga di Belanda - Jerman dan lain-lain itu. Dan atas dasar itu semua - pada akhirnya saya menyetujui semua pikiran itu. Dan dengan anak-anak saya, sudah saya diskusikan bahwa kita akan menuju Perancis.

Bagaimana perasaan saya ketika itu? Tidak merasa sangat gembira - tetapi juga ada rasa kegembiran karena kami tahu bahwa kami akan segera meninggalkan Tiongkok. Kami sudah sangat lama tinggal di Tiongkok. Tinggal terlalu lama di suatu tempat - apalagi sebagai tanggungan tuanrumah - tetap tidak baik - bukan hanya di Tiongkok - tetapi walaupun di tempat manapun samasaja! Dan saya merasa bahwa sudah waktunya meninggalkan Tiongkok dan melihat dan mencari pengalamana di negara lain.

Dengan tahun itu kami sudah tinggal di Tiongkok selama 18 tahun - betapa lamanya! Lalu bagaimanakah perasaan saya terhadap Tiongkok? Saya tetap mencintai Tiongkok - terutama rakyat - penduduknya - adat-kebiasaannya -
apalagi peradabannya dan kebudayannya. Saya punya perbedaan pendapat dengan kebijaksanaan pemerintah Tiongkok serta garis politiknya. Tetapi perkara cinta kepada Tiongkok, terutama pada negerinya yang peradabannya serta kebudayaannya sudah berlangsung ribuan tahun - sangat saya kagumi - sangat saya cintai. Saya sangat cinta dan suka musik Tiongkok - lukisan Tiongkok - apalagi masakan Tiongkoknya. Alam Tiongkok sangat bagus dan sangat indah. Saya pernah melayari Sungai Yangtse dari Shanghai sampai Chungking dan sudah beberapa kali. Tetapi tak pernah merasa bosan dan sampai kinipun masih tetap mau.

Rupanya setelah tuanrumah kami mengetahui bahwa kami sudah menemukan jalan buat ke luar Tiongkok, barulah mereka mengumumkan secara resmi kepada semua para akhli - expert di Radio Beijing bahwa Kawan Sofyan akan berangkat - pindah ke Paris sekeluarga - bertiga. Sejak itulah kami punya kesibukan lain. Hampir setiap hari teman-teman dan tetangga kami mengundang makan-siang ataupun makan-malam di rumahnya. Di gedung apartemen kami berdiam sejumlah 33 bangsa yang bekerja di Radio. Umumnya yang berumahtangga selalu mengundang makan bersama - hampir setiap hari. Kecuali para expert bujangannya yang hidup sendirian. Lagipula para expert yang berkeluarga ini adalah teman-teman istri saya ketika dia masih hidupnya. Jadi antara mereka antara kami sudah saling mengenal. Apalagi Wati - mamanya anak-anak ini sangat ramah - sangat hangat dalam pergaulan - dan sangat menyenangkan berkomunikasi dengannya. Yang kami ingat ketika itu pada umumnya expert dari Asia yang selalu mengundang makan itu. Dari Malaysia - Bangladesh - dari Pakistan - dari Srilangka - Jepang - Korea - dan juga ada yang dari Venezuela - Perancis dan beberapa lagi. Teman anak-anak saya banyak yang dari Amerika Latin - seperti dari Peru - Argentina - Chlili, yang umurnya sebaya - mereka punya acara sendiri dengan teman-teman sebayanya.

Kami belajar bahasa Perancis secara kilat - dua kali seminggu kepada seorang teman Indonesia yang pernah tinggal di Bamako - Afrika. Mereka tinggal di Hotel Persahabatan - jauh dari tempat kami. Kami bertiga bersepeda kira-kira 8 km dua kali dalam seminggu. Juga belajar kepada seorang expert yang dari Swiss di gedung apartemen kami sendiri. Dia ini Barbara - sangat fasih berbahasa Tioghoanya. Kepada dialah kami belajar bahasa Perancisnya sementara menunggu keberangkatan kami ke Perancisnya. Kesibukan ke arah persiapan keberangkatan ini agaknya makan-waktu - makan-pikiran dan tenaga juga rasanya. Teman-teman sekerja di Radio selalu datang dan menanyakan apa yang kira-kira bisa mereka bantu. Mereka sangat baik dan sangat peduli kepada kami. Kami tidak tahu akan berapa lama kami di Perancisnya - kami masih merasa gelap dan belum ada kepastian bagaimana dan apa rencana selama belum bisa pulang ke tanahair dan sementara di Perancis itu nanti. Semua masih meraba-raba. Tapi satu hal - kami sudah ada jalan ke luarnya - berpindah tempat dan berpindah cara hidup dan kebiasaan - dan ini tidak gampang - perlu banyak penyesuaian diri dengan keadaan setempat,-


42. Mulai Pamitan

Beberapa minggu lagi kami akan berangkat - kami mulai pamitan kepada banyak teman dan kenalan. Termasuk pamitan - minta diri kepada mamanya anak-anak - istri saya almarhum. Di sini - di Tiongkok, tidak bisa pabila kita mau ziarah - nyekar, lalu pergi sendiri menuju pemakaman. Sebab pemakaman di
sini sifatnya tertutup. Jadi kami harus mengajukan kepada instansi yang berkaitan - dalam hal ini Radio Beijing. Dan Radio Beijing yang menguruskan izinnya - buat masuk ke dalam kompleks pemakaman. Seandainya boleh nyelonong sendirian, sudah lama saya ingin ke sana sendirian - mau menumpahkan perasaan kesedihan dan kepiluan saya kepada istri almarhum. Sangat banyak yang ingin saya ungkapkan kepada Wati - dengan harapan agar dia tahu semua apa yang saya rasakan dan tanggung.

Pernah saya coba ketika senja - bersepeda ke sana. Begitu jauh dari rumah - belasan km - sampai di pintu pemakaman dan ketika saya mengetok dan menggedor pintu depan kompleks pemakaman - petugas pemakaman menanyakan banyak perkara - siapa saya - siapa yang mau ditilik dan dari instansi mana saya. Pada akhirnya gagal buat ziarah sendirian dan mau banyak ngomong dengan Wati yang dalam tanah. Ketika itu pearasaan saya sangat sedih. Dan kini saya mengajukan permintaan kepada jawatan Radio agar kami bertiga bisa ke pemakaman buat sekedar pamitan kepada mamanya anak-anak dan istri saya almarhum. Sudah tentu pihak Radio dengan senanghati memperhatikan kemauan dan niat kami.

Kami membawa berbagai bunga - airputih - dan anak-anak berbekal mainan dan benda-benda kecil yang dulu selalu sangat disayangi mamanya. Saya katakan kepada anak-anak, sesudah ini entah kapan lagi kita akan berkesempatan
mengunjungi pekuburan mamanya dan bisa berkunjung ke Beijing. Sesampainya di pekuburan - anak-anak saya membersihkan rerumputan di atas pekuburan mamanya, dan menyebarkan bunga-bunga serta airputih. Sudah setahun lebih baru lagi kami mengunjungi pekuburan Wati. Saya lihat anak-anak mengalirkan airmata dan ada saya dengar suara mereka yang berkata..."mama, kami akan berangkat ke Paris..kami juga berharap dan mendoakan agar mama selalu dalam perhatian Tuhan...dan kami juga mengharapkan agar mama juga mendoakan kami agar kami semua selamat dan bisa hidup di Paris...". Sambil mengucapkan kata-kata yang sangat pelan ini - anak-anak saya sambil meremas tanah pekuburan itu. Saya sendiri juga berdoa dan berkata-kata sebagaimana tak banyak berbeda dengan anak-anak kami. " Ma, kami akan ke Perancis - yang kami tadinya tak pernah menduga seperti kau juga tahu rencana kita keseluruhannya tak sedikitpun ada termasuk negara Perancis dalam perencanaan kita. Tetapi kami sangat memanjatkan doa kami kepada Tuhan, agar Tuhan melindungi kami sekeluarga. Dan sesudah hari ini, kami tidak tahu kapan lagi kami bisa ziarah dan nyekar kepadamu. Semoga pada suatu waktu masih ada kesempatan buat mengunjungi mama....". Dan banyak lagi saya berharap dan mengungkapkan apa-apa yang ingin saya katakan.

Bagi kami - sudah tentu bagi saya - Wati seakan masih hidup dan bisa mendengarkan kami bercakap-cakap kepadanya. Saya sangat ingat dulu tahun 1963 ketika kami diantarkan banyak teman-teman di Kemayoran - termasuk Bung Nyoto - Wati menangis dengan rasa yang sangat sedih - tampaknya bukan tangisan biasa seperti orang-orang yang mau berpisah sementara. Tetapi ada saya rasakan - bahwa tangisan Wati - sepertinya tangisan yang terakhir - yang takkan berjumpa lagi dengan tanahair. Dia saya rasakan ketika itu menangis buat berpisah selamanya - takkan bisa pulang dan berkubur di tanahair. Rasanya perasaan saya itu saya ingat benar dan sungguh percaya apa yang saya rasakan. Dan ternyata benarlah apa yang dulu saya rasakan - ada rasa keanehan pada tangisnya - bukan tangisan biasa.

Ketika ziarah - nyekar dan pamitan ini - kami sungguh membiarkan diri kami agak lama berdiaman di sekitar tanah pekuburan Wati. Sangat singkat usianya - belum lagi berusia 40 tahun - sudah meninggalkan kami - dua anaknya dan suaminya. Kini tinggal kami bertiga. Dan beberapa hari lagi - kami akan menuju Paris - tanah dan negara yang kami samasekali tidak tahu - tidak mengenalnya. Tetapi kami merasa Tuhan akan selalu melindungi kami - dan karenanya kami berserah kepadaNYA dan karenanya pula - tak ada rasa ketakutan dan kecemasan. Yang ada yalah betapa akan berapa lama lagi sebelum kami dapat pulang ke kampunghalaman. Tetapi itupun - kepulangan kami itupun seandainya terkabul - sudah tentu sudah berkurang satu orang - Wati - mamanya anak-anak,-


43. Evaluasi Kehidupan Selama Di Tiongkok

Kalau saya renungkan dalam-dalam dan tuntas-tuntas, bagaimana sebenarnya kehidupan kami selama di Tiongkok dalam rentang 18 tahun itu. Sebagian besar dan kebanyakannya adalah hal-hal yang positive - hal-hal baik. Dari segi kehidupan fisik, semuanya terjamin - semuanya aman damai dan sangat terpelihara. Bahkan ada saya rasakan - bahwa kami ini seakan dimanjakan. Semua kebutuhan hidup secara fisik - secara kebutuhan primaire - semuanya serba-baik - serba lengkap. Makanan - pakaian - perumahan dan kesehatan semuanya tersedia lengkap - bahkan kami mendapat uang-saku - uang-belanja kebutuhan sehari-hari seperti buat beli odol- sikatgigi - dan lain-lainya. Bahkan kalau diri kita dengan hemat menggunakannya - masih bisa nabung.

Dalam pada itu setiap musimpanas - kami diajak meninjau - bepergian jauh ke pedalaman - provinsi Tiongkok. Perjalanan biasanya selama satu bulan - antara Juli - Agustus. Dan menggunakan kereta-api - terkadang pesawatterbang - mobil dan hotel yang cukup baik. Selama rentang waktu kami hidup di Tiongkok itu, saya kira kami sudah menjalani lebih dari setengah wilayah Tiongkok. Yang saya ingat jelas- karena sangat terkenang indahnya - saya sudah melayari Sungai Yangtse lebih dari tujuh kali - dengan kapal-layar sepanjang Sungai Yangtse itu - dan sampai kini kalau ada kesempatan saya masih mau! Alam Tiongkok sangat indah - para petaninya sangat rajin - pekerja-keras.

Kami pernah iseng-iseng mengerjakan pekerjaan sebagai "orang yang kurang kerjaan". Ketika di rumahsakit - diopname dengan beberapa teman - kami menghitung ini. Seandainya penduduk Tiongkok menyumbangkan uangnya setiap orang satu sen buat kami - dan digunakan buat kehidupan kami yang ratusan orang ini - termasuk meninjau setiap musimpanas itu - ongkos kehidupan biasa sehari-hari - termasuk bayar rumahsakit yang sedang kami diopname ini - dan uang saku segala - pokoknya semua pengeluaran ongkos - kami harus hidup di Tiongkok selama 40 tahun! Buat menghabiskan uang "sumbangan satu sen satu orang pendudukTiongkok yang lebih satu milyard ketika itu"! Semua ini kamu hitung dengan kalkulator dan beramai-ramai dan berulang-ulang! Dan bersoraklah kami - mendingan kami pilih pulang ke tanahair daripada
menghabiskan uang sebanyak itu dengan selama 40 tahun harus hidup di Tiongkok! Kami tahu - ini pekerjaan kami sebagai pengangguran menunggu keluar dari rumahsakit. Sudah saya tuliskan - apa bedanya pasien Tiongkok dan pasien seperti kami ini - orang-asing dan tamu-asing. Orang Tiongkok sulit masuk buat opname - tapi gampang buat keluarnya. Kami orang-asing - gampang masuk buat opname, tapi sangat sulit buat keluarnya - karena para dokter benar-benar harus bertanggungjawabagar pasien tamu-asingnya benar-benar sudah dapat dikatakan sembuh!


Kapankah kami merasa kehidupan selama di Tiongkok ini sangat menderita dari segi psikis - kejiwaaan?
Sekitar menghadapi RBKP - Revolusi Besar Kebudayaan Proletar - antara tahun 1966 sampai 1976. Ketika itu kami merasa sangat terkekang. Tidak bisa keluar semaunya - harus selalu dalam pengawalan - dan pengawalan militer lagi! Tidak bebas - merasa terkungkung - harus selalu diikuti dan hidup dalam disiplin militer - walaupun kami tak ada hubungan dengan hidup dalam ketentaraan. Tapi kami hidup dalam lingkungan kompleks tentara. Ketika banyak teman-teman kami yang merasa sangat frustrasi. Ada yang stress - bahkan ada yang sakitsyaraf dan lebih dari itu ada yang gila. Ada yang berusaha bunuh-diri - terjun dari jendela - tetapi gagal - "hanya patah
kaki". Tetapi belakangan "berhasil" sebab jendelanya lebih tinggi - dan menjatuhkan diri dan mati. Ada yang bunuh diri dengan mensilet uratnadinya dan memotong lehernya, ini akibat hidup tidak normal. Keluarga terpisah. Suami terpisah dengan istri - suami di penjara di Nusantara - juga istri terpenjara di tanahair - keluarga banyak yang menjadi korban kekejaman Orba-Suharto. Jadi sebenarnya bukan karena kesalahan pengaturan tuanrumah semata-mata - tetapi ada latarbelakang sejarah pokoknya.

Ketika kami hidup dalam alam yang begitu sesak-sempit-terkungkung - tidak bisa keluar ke mana-mana itu - banyak sekali hal-hal yang menjadikan kami juga tidak normal. Karena tidak bisa keluar - dan hanya berkutat dalam kompleks asrama saja - maka apapun yang bisadianggap sebagai satu hiburan - kami akan menikmatinya! Lalu apa itu? Kami - teman-teman kami melihat jemuran pakaian - apalagi celana dalam saja - sudah merasa ada hiburan. Orang yang jatuh dari sepeda - lalu terguling-guling - kami merasa sangat lucu dan kami "terhibur"! Melihat burung berkejaran di pepohonan, lalu kawin - bersenggama - rasanya itupun hiburan yang "menyenangkan hati",- Apalagi kalau ada anjing bertarik-tarikan karena mau melepaskan dari kawin-lengketnya. Bukan main merasa ada hiburannya.

Lalu apa semua ini? Karena hidup kami tidak normal. Apa sumbernya? Banyak! Terutama kedaan dan situasi kehidupan kami secara keseluruhannya - di mana tanahair kami - keluarga kami dan teman-teman kami sangat menderita perasaan. Banyak keluarganya - teman-temannya yang menjadi korban kejahatan dan kekejaman ketika masa-masa itu. Namun demikian peranan tuanrumah yang barangkali kurang secara baik mengatur kami secara kejiwaan yang sedang menimpa kami - turut memicu beberapa teman kami yang menjadi setengah-gila
dan gila dan bunuh diri! Ketika itu adalah masa-masa sulit kehidupan kami.

Karenanya ada teman-teman kami merasa hidup dalam penjara - dan merasa dipenjarakan. Sukurlah saya sendiri dan kebanyakan teman-teman tidak sama pendapatnya. Dan penilaiannyaberbeda-beda dan mungkin akan bersesuaian dengan latarbelakang kehidupan secara obyektive-nya. Karena itu saya berpendapat - kehidupana kami di Tiongkok - terutama selama kami rasakan - kami alami secara keseluruhan - tetap dapat kami katakan cukup baik. Tuanrumah kami sangat bertanggungjawab - sangat memperhatikan kepentingan dan kebutuhan kehidupan kami - terutama secara fisik. Tetapi seperti saya tuliskan barusan tadi itu - sudah tentu ada ekses-ekses tertentu - tetapi samasekali tidak menegasi hal-hal positive-nya - hal-hal positive-nya dan hal-hal baiknya yang sangat kentara,-


44. Menginjak Dunia Baru

Beberapa minggu dan beberapa hari sebelum kami berangkat, banyak sekali hal-hal yang harus kami selesaikan. Barang-barang yang begitu banyak - mau diapakan dan mau dikemanakan. Buku-buku - perpustakaan, kami tinggal dan serahkan kepada pihak Radio dan juga ke beberapa teman. Ada juga barang-barang yang kami serahkan dan berikan kepada beberapa teman. Yang kami jual hanya dua barang - yang siapa tahu akan dapat menjadikan uang buat menambah persiapan belanja nantinya. Dua barang itu yalah sebuah piano dan sebuah televisi - dengan harapan akan menambah persiapan uang dalam perjalanan atau kehidupan di Paris nantinya.

Belum lagi kami harus memenuhi undangan makan-siang dan makan-malam begitu banyak dari para tetangga kami dan yang segedung dengan kami. Tampaknya hanya menghadiri makan - tetapi waktu yang disediakan buat itu - cukup makan-waktu dan cukup melelahkan. Dan kami harus selalu "pasang senyum - ramah-tamah" kepada semua tetangga yang baik itu. Semua ini menandakan bahwa mereka semua menunjukkan keakraban persahabatan dengan kami. Karena begitu banyak persoalan - perkara yang harus kami selesaikan - maka rasanya tak sempat buat banyak berpikir yang sifatnya bersedih - berkangenan dan bahkan rasa takut dan kecemasan-pun tak nyangkut kepada kami. Yang ada yalah - jalani sajalah apa yang akan terjadi. Tentu saja semua itu atas dasar penyerahan - pasrah diri kepada Tuhan - dan semoga Tuhan melindungi kami. Ini adalah menuju negara dan negeri yang kami samasekali tidak tahu. Samasekali gelap - samasekali tak tahu bahasa sana - kecuali satu dua kata saja.

Demikianlah - kami berangkat malam dari gedung apartemen kami. Dengan bis besar - sebab banyak yang megantarkan kami. Adakah tangisan sedih? Sepertinya suasana ketika itu semua menunjukkan kegembiran - sudah tentu termasuk kami dalam menghadapi begitu banyak teman-teman yang mengantarkan kami. Kami berangkat pada jam 21.00 buat take-off pada jam tengah malam di Beijing.

Kami tak sempat lagi berpikir bagaimana nanti pabila sudah sampai di Paris. Pokoknya jalani sajalah. Ada soal besar - kami tidak punya visa! Kami tanpa visa. Bukankah kami dalam rangka melarikan diri dan masuk negeri orang secara tidak resmi? Nah - inilah yang saya harus hadapi - tetapi dalam batin saya - sudah jalani saja apa yang akan terjadi. Tuhan beserta kami - Tuhan akan melindungi kami - dan kami serahkan semua perkara tentang kami kepada Tuhan.

Rupanya pagi hari kami tiba di lapangan-udara - bandara Roissy Charles de Gaulle. Banyak orang - penuh sesak - sebuah bandara internasional. Mata saya dan pikiran saya hanya berjaga dan berkonsentrasi kepada persoalan bagaimana kami menghadapi masuk-negeri orang secara tidak sah begini. Karena sudah tahu bahwa kedatangan kami ini tidak sah - maka saya berpendapat lebih baik kami masuk terakhir saja dari antrinya. Kami menunggu semua penumpang lain sudah pada keluar dulu. Sudah sepi barulah saya melalui pintu penjagaan imigrasi. Dan tentu saja semua surat-surat diperiksa. Dan sudah tentulah pihak doane dan imigrasi menahan kami. Celaka ini! Mereka tidak ada yang bisa bahasa Inggris dan saya tidak dapat menjelaskannya dalam bahasa Perancis. Dari beberapa pertanyaan, saya dapat mengerti tetapi tidak dapat menjawabnya dalam bahasa Perancis. Dan begitu saya jawab dalam bahasa Inggris - mereka yang tidak mengerti.

Lalu saya dan dengan dua anak saya diajak masuk ruangan kantor imigrasi dan doane. Rupanya mereka mencari penterjemah bahasa Inggris. Dan saya menunggu. Cukup lama juga - kira-kira satu jam barulah penterjemah datang. Sulit sekali orang Perancis ini buat berbahasa Inggris - masaksih petugas yang bekerja di bandara internasional tidak ngerti bahasa Inggris?! Dan barulah semua komunikasi berjalan lancar. Sudah tentu yang mula-mula ditanyakan mana visa buat masuk Perancis? Saya jawab kami dalam rangka melarikan diri dan minta perlindungan politik. Tahukah monsieur bahwa monsieur melanggar peraturan pemerintah Perancis - masuk Perancis tanpa visa? Tahukah Anda bahwa itu melanggar hukum - melanggar peraturan? Saya jawab - tidak mungkin kami akan minta visa karena kami dalam rangka melarikan diri dan mau menyerahkan diri kepada pemerintah Perancis buat minta perlindungan politik. Semua pertanyaan saya jawab apa adanya dan kepada kami sudah dipesan bahwa sekali-kali jangan berbohong - jawablah apa adanya - dengan jujur.

Saya katakan juga bahwa kami sudah menulis surat kepada Presiden Anda - Yang Mulia Presiden Miterrand buat minta perlindungan politik. Mendengar jawaban saya - mereka terheran-heran. Apa betul begitu? Tanya seorang pejabat imigrasi. Kemana surat itu sudah dikirimkan? Saya jawab lagi - sudah kami kirimkan ke kabinet Presidan satu dua minggu yang lalu. Okey - kami periksa sekarang - demikian katanya. Dan kami menunggu jawaban di mesin fax dan juga tilpun. Dalam batin saya - semoga surat itu sudah sampai. Dan tak berapa lama - pejabat imigrasi itu membenarkan memang ada surat kami yang kami kirimkan dari Beijing beberapa hari yang lalu.

Siasat begini memang sengaja - jangan sampai dapat balasan - tetapi di - faitacompli dengan datang sendiri - begitu datang baru persoalannya dibuka lagi. Lalu ditanyakan mengapa kami melarikan diri dan minta perlindungan politik datang ke dan di Perancis? Semua tanya-jawab direkam dan direkam-ulang agar semua bersih suaranya,-



45. Penutup - Tamat

Banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya dan tampaknya sangat teliti pihak Imigrasi dan Doane mau tahu dan mencatat lalu memeriksa - mengecek apa yang saya uraikan. Tentang paspor ada mereka tanyakan bahwa apakah ini stempel yang ada di paspor ini betul-betul asli dari negara yang tertera di paspor? Saya katakan semua ini saya bikin sendiri - palsu. Tetapi paspornya adalah asli. Dan saya katakan semua ini sengaja saya buat demikian agar dapat bepergian yang pada akhirnya sampai ke Perancis - Paris. Mengapa Tuan memalsukan semua ini? Ya, tanpa saya palsukan saya tidak akan dapat bepergian ke manapun! Apakah pihak Tiongkok juga mengusir dan menolak Tuan tinggal di sana? Saya jawab tidak - Tiongkok tidak pernah mengusir dan menolak keberadaan saya. Tetapi ketika saya datang pertama di Tiongkok adalah atas undangan kerjasama di bidang pendidikan dan kebudayaan - dalam rangka tukar-menukar atas perjanjian. Tetapi akhir-akhir ini pihak RI mengajukan saran dan pendapat - pabila RRT mau berhubungan dengan RI - agar semua orang komunis dan orang-orang kiri yang tinggal di Tiongkok agar jangan dilindungi - kalau dapat mereka jangan ada di Tiongkok - kasarnya ya usirlah. Dengan demikian hubungan RI - RRT akan berjalan mulus.

Tentu saja apa yang diajukan pihak RI kepada RRT tidak akan dipenuhi pihak RRT. Dan kami tidak pernah dapat tekanan apalagi ancaman agar kami meninggalkan Tiongkok. Tetapi tentang saya, karena keberadaan saya di Tiongkok buat bekerja membantu pembangunan sosialis Tiongkok secara keseluruhan - dan kini saya tidak dibutuhkan lagi - dengan memutuskan kontrak-kerja secara sepihak - maka saya labih baik pergi dari Tiongkok. Bukankah tenaga saya tidak dibutuhkan lagi? Dan saya tidak m ungkin pulang ke tanahair, lalu saya berpendapat akan jauh lebih baik minta perlindungan - minta hak-suaka politik di negara yang terkenal banyak melidungi para pelarian politik sehingga negara itu dinamakan FTDA = France Terre d' Asille - Perancis Tanah Perlindungan para Asil Politik.

Ketika ditanyakan apakah saya terancam dan tidak bisa hidup di Indonesia? Lalu saya ceritakan bahwa keluarga saya lebih 60% dibunuh - dipenjara - disiksa dan mengalami ancaman dan tekanan. Tentang apa yang saya ceritakan ini sangat menarik perhatian mereka dan berkali-kali menanyakan kepada saya - apakah yang saya katakan ini benar? Rupanya mereka akan segera mengecek dan memeriksanya di bagian Interpol bagian politik yang berpusat di Madrid ( Spanyol ) dan di Berlin ( Jerman ). Tidak lama -tak sampai setengah jam - sudah ada jawaban. Bahwa apa yang saya ceritakan sudah masuk jadi catatan mereka ( Interpol ) bahwa memang benar nama-nama yang disebutkan dalam keadaan dicari-cari pemerintah yang berkuasa saat itu. Tampak mereka sangat memperhatikan apa yang saya ceritakan dan tampak puas setelah dapat jawaban yang menyetujui apa yang saya ceritakan.

Dalam pada itu saya masih sempat-sempatnya memperhatikan dua anak saya. Mereka tampak agak pucat. saya katakan agar jangan takut - jangan kuatir - tidak akan terjadi apa-apa. Satu hal yang saya perhatikan tentang kedatangan kami ini. Saya melihat tak ada rasa ancaman dan ketegangan. Semua berjalan aman-aman saja - agak tenang - tetapi serius - tegas tetapi bukannya kasar apalagi angker. Pihak Imigrasi - Doane dan kepolisian bandara bersikap tegas tetapi jauh dari sifat kasar dan brutal. Masih ada sedikit keramahan - dan ini yang penting : mereka selalu bersikap sopan - tidak menjengkelkan.

Setelah semua rampung dalam proses verbal - di-verhoor dan di-interogasi ini - pihak Imigrasi dan Doane lalu menyalami kami - Tuan sekeluarga kami terima masuk Tanah Perancis. Dan kami bertiga menyalami para petugas yang banyaknya ada enam orang itu. Mereka menawarkan buat mengantarkan kami ke asrama penampungan para asile politik. Saya katakan sangat terimakasih, sebab sudah ada teman kami yang menunggu di luar pintu bandara buat menjemput kami. Kepada kami diberikan surat-surat keterangan Tanda Diizinkan Masuk Tanah Perancis. Surat Keterangan ini berlaku dua minggu - harus segera ke Prefectue Police buat mengajukan surat izin tinggal sementara selama tiga bulan. Sudah itu diperbaharui lagi tiga bulan dan seterusnya berkali-kali.

Lalu nantinya diganti dengan yang satu tahun - juga berkali-kali. Lalu pada akhirnya mengajukan kepada pihak OFPRA - Kantor Perlindungan Buat Orang-Orang yang minta Asile Politik. Lalu dapat kartu buat lima tahun. Dan pada akhirnya diperkenankan menjadi warganegara - naturalisasi Perancis setelah berdiam di Perancis selama 10 tahun tanpa pernah pindah ke negara lain. Rentang waktu tanya-jawab dan cek serta recek ini makan-waktu dua setengah jam. Ini termasuk cepat. Ada yang sampai enam tujuh jam. Bahkan ada yang dari pagi sampai sore. Dan ada kami dengar yang harus dikembalikan ke negara yang mula-mula berangkat - sebab tidak cocok antara yang diceritakan dengan kenyataan setelah di cek di beberapa Kantor Interpol. Mungkin banyak bohongnya, lalu dikembalikan ke negara asal keberangkatan semula,-

Ketika kami mau berpisah dan diantar menuju ke luar pintu bandara - pihak Imigrasi - Doane - Kepolisian Bandara - sempat membuka botol champagne. Mereka menawarkan minum bersama - sebagai pembuka Hari Natal dua hari lagi. Kami tiba di Paris menjelang Hari Natal. Kami minum bersama di Kantor Bandara Imigrasi Roissy itu. Dalam batin saya - ini gayanya lain lagi. Semoga saja ini adalah tanda pertanda baik - alamat baik dan menyenangkan. Semua kejadian ini samasekali tak pernah saya sangkakan akan terjadi begitu. Rupanya kami sudah mulai merasakan hidup di dunia baru yang dulunya samasekali tak masuk perhitungan kami,-


TAMAT

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1473-memoar-sobron-aidit--kehidupan-selama-di-tiongkok--45-halaman

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto