A+ A A-

Nongseng Iga Goreng Kardjan - mBakar Sate Sejak 1925(!)

  • Written by  Ophoeng Loupez
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

"KARDJAN SATE"
Cabang Pasir Kaliki - Bandung
Ruko Tol Boulevard, Blok F-11, BSD City
Tel. 021 9794 3591

Budaya-Tionghoa.Net | Kayaknya ada yang terlewatkan oleh pendoyan sakam - sate kambing di mari nih, sudah cukup lama ada Bang Kardjan, eh, Mas Kardjan, atau Kang Kardjan buka kedai sate kambing di samping agen travel BSD-BDG X-Trans di Ruko Tol Boulevard, BSD City, Tangerang Selatan.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Walau asalnya dari Klaten, tapi kayaknya mereka mula pertama bukanya di mBandung tuh, euy!

Persisnya sih di kawasan Pasir Kaliki, dekat di kawasan Stasiun KA (Kebon Kawung?), my first encounter ama Kardjan Sate ini sekitaran 1978, waktu saya diajak training untuk jadi anggota IdI (d-nya kecil) di satu perusahaan farmasi di Bandung.

Sekitar 3 minggu lalu, pas jalan bareng sohib lewat situ, pas sohib mau buka puasa, jadi kami coba makan di Kardjan Sate ini. Kami pesan sate dan tongseng iga goreng, mau pesen sate buntelnya gak kebagian. Menempati satu ruko, suasananya mayan enak, bersih, rapi, dengan pembakaran sate di bagian depan ruko. Ada ruang khusus buat rame-rame segerombolan carter di lantai atas.

Saya pesan tongseng iga goreng, kerana terasa mayan CJDW - seje dhewe, beda sendiri, dibanding kedai sate ala Solo-nan yang cuma ada menu gule or tongseng.

Datang duluan Tongseng Iga Gorengnya (22.5), enak, dagingnya empuk, dimasak nyemek agak banyak minyaknya, kol aka kubisnya mayan sekedar layu gak sampe lodoh - konon ini standar pemasakan tongseng ala NgaYogyakartahadiningrat, jeh!

Sate Daging (26.)-nya tanpa lemak, keratan dagingnya mayan gede, disajikan di atas hotplate. Dagingnya bener-bener empuk-mempuk tiada bandingannya. Disediakan kondimen berupa kecap + bumbu racikan mereka sendiri, saus kacang dan acar timun dan rajangan tomat + kubis. Kelihatan ada fusion antara gaya Jatengan (kubis + tomat mentah dirajang, minus brambang) dengan gaya Jabaran (acar timun). Waktu ditanya, mereka jawab memang aslinya mereka dari Klaten sih. Tapi lama berniaga di kawasan Paskal, Bandung itu.

Pilihan teman makan sate bisa atau nasi atau lontong. Ada juga sedia gule dan tongseng biasa, juga sop. Eh, koq ada ayam-nya juga tuh, sate ayam, tongseng ayam, sop ayam dan gule ayam - eh, gak ada gule ayam ding!

Kemarennya pas laper, sendirian, saya mampir ajah lagi di situ, nyobain Nasi Goreng Iga (20.)-nya, plus Sate Buntel (8,5)nya.

Daging iganya empuk, sama empuknya dengan tongseng iga gorengnya, mayan banyak ditarok ngejogrog di sisi piring nasi gorengnya. Nasi gorengnya sih cenderung yang standar, pake telor doang. Sate buntel-nya, tentu saja empuk, lha wong isinya daging + lemak dicincang halus dan dibungkus jaringan lemaknya.

Apa resep daging empuk pada sate mereka? Sederhana saja jawabnya: mereka mempersiapkan daging dengan benar-benar bersih - semua otot (urat?) alot-malot yang menempel di daging dibuang dulu semuanya sih, jeh!

Kali lain anda lewat Ruko Tol Boulevard, BSD City, bisa-lah sesekali anda mampir dan coba tuh, jeh!

Ophoeng , 30 Agustus 2010

http://ophoeng.multiply.com/

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1475-nongseng-iga-goreng-kardjan-mbakar-sate-sejak-1925

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto