A+ A A-

Dr Han Hwie-Song : Perjalanan Kami Pulang Kekampung Halaman

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Pada tanggal 30 November kami berangkat dengan kapal udara Lufthansa ke Jakarta, esoknya kira kira jam 18.30 kami sampai di lapangan udara Soekarno-Hatta. Flight ini kami alami dengan nyaman. Kesatu karena tidak banyak kami di bangunkan untuk diberi santapan atau minuman, dan kedua sesudah kapal udara terbang dari airport  Frankfurt dan sesudah mendapatkan makan malam, saya makan satu kapsul obat tidur. Aku tidur kira kira selama 6 jam. Aku bangun dan penerbangan masih tinggal kira kira lima jam lagi sebelum kapal udara mendarat di Lapangan Udara Soekarno-Hatta. Segi negatifnya dengan penerbangan ini bagi penumpang dari Belanda ialah kami harus naik kapal udara dahulu dari Schiphol, Amsterdam ke Frankfurt dan disana menunggu kira kira dua setengah jam sebelum boarding ke kapal udara yang terbang ke Jakarta. Meskipun demikian kami tokh memilih Lufthansa karena selama aku terbang dengan penerbangan Jerman ini belum pernah terlambat lebih dari setengah jam. Kedua harganya lebih murah dari KLM atau Singapore Airlines.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Di lapangan Udara Jakarta koper kami dibawa oleh pembantu dari lapangan udara, semua berjalan dengan lancar. Petugas imigrasi mengerjakan dengan baik dan  koper kami diperiksa oleh pegawai duane dengan simpatik sesudah semua beres  kami keluar, di sini seperti biasanya setiap tahun aku berkunjung ke Indonesia, kami dipapak oleh adik lelaki istri saya Chen-Sin.

Hujan gerimis, maka hawa udara tidak seberapa panas. Kami menuju ke Kelapa Gading, dimana aku menginap dirumah keponakan istriku si Iwan. Tanpa membersihkan badan kami diajak oleh Chen-Sin makan malam di daerah Kelapa Gading yang malam hari terang sekali dengan lampu-lampu penerangan jalan dan dengan banyaknya toko-toko dan restoran restoran yang besar dan kecil dengan lampu neonnya. Jalanan penuh sekali dengan mobil-mobil yang bagus-bagus, taxi dan mobil tuk-tuk (bajai). Kendaraan berjalan sangat semerawut, menyalip kiri atau kanan adalah biasa-biasa angsalkan ada kemungkinan dan kesempatan. Dipinggir banyak orang yang sedang berjalan untuk belanja. Daerah ini memang daerah yang terkenal dengan kemandiriannya, yang berarti bahwa di sini semua serba ada, bahkan ada satu mall yang sangat besar dan modern, didalam mall ini ada ratusan toko dari segala barang yang dijual, dari pakean sampai sepatu, dari restoran Indonesia sampai restoran Barat. Dari toko buah sampai tea room dan kuwe basah pokonya serbah komplit. Aku masih belum berani makan Indonesian food karena pedasnya, tetapi nanti beberapa hari lagi sesudah aku membiasakan keadaan, aku baru berani makan makanan chas local berbagi makanan Jawa dan Padang.

Aku adalah anak keluarga Tionghoa yang tinggal di Pecinan, mendapatkan pemeliharaan dan kecintaan dari pembantu ibu Mbok Sining, maka aku mempunyai kesukaan membaca buku-buku kultur Tionghoa, makanan Tionghoa, dan makanan chas Surabaya, bicara bahasa local Surabaya dan kultur Jawa. Karena pernah mengalami operasi usus dan mudah mendapatkan diare, maka aku in kali memilih makanan Tionghoa, masakan kanton. Aku tidak lupa  untuk minum memesan kelapa mudah yanh masih utuh tidak dituang digelas. Kami dengan nikmatnya makan yang dipesan oleh iparku itu. Sebelum pulang istriku beli kuwe basah seperti lemper, bikang ambon tja-kwee d.l.l.-nya untuk dimakan besok pagi. Tjak-kwee dimakan dengan susu kedele adalah satu kenikmatan bagiku.

Makan sambil kongkow (bicara dan bersantai), mendengarkan musik mandarin, dengar tertawa klien-klien dan ramainya orang makan dan diluar penuh dengan manusia berjalan simpang-siur memberikan kesan padaku  suasana yang lain dari kebiasaan yang aku lihat di Belanda, suatu keadaan yang semerawut seperti yang aku lihat didaerah Pecinan-China town di selruh dunia. Situasi ini menyentuh emosiku, karena aku ingat keadaan jaman dahulu sewaktu remajaku, sewaktu aku bekerja di Jakarta tahun 1960. Dahulu Jakarta tidak seramai sekarang, dan makanan tidak begitu beraneka warna seperti sekarang ini. Penghidupan berjalan pelahan-lahan (santai). Sebelum Perang Dunia Kedua aku pernah tinggal di Betawi, aku waktu itu masih berumur 6 sampai 9 tahun dan tinggal di Pecinan, aku tinggal di Kebon Torong Park, daerah masih baru dibangun. Aku masih ingat keramaian kulihat di Glodok daerah Pecinan, disana banyak restoran dan toko toko, malam hari daerah ini terang dan ramai dengan manusia. namun sekarang daerah Kelapa Gading ini penuh dengan toko toko kebanyakan dari pengusaha Tionghoa. Aku kira pada jaman sekarang ini Jakarta mempunyai beberapa Pecinan dan salah satu dari pecinan ini adalah Kelapa Gading. Di Kelapa Gading ada sekolah kristen yang besar dan muridnya kebanyakan murid-murid Tionghoa dan juga tidak jauh dari sekolah tersebut ada sekolah untuk murid-murid dari Taiwan.

Restoran restoran penuh sesak dengan orang yang makan malam, setiap tahun aku berkunjung ke Jakarta aku senantiasa dengar ada beberapa restoran yang baru dibuka. Keluarga istriku banyak yang tinggal di Jakarta, terutama di Kelapa Gading, karenanya setiap hari ada janji dengan salah satu dari mereka untuk makan bersama.

Jam sepuluh malam kami pulang rumah dengan perasahan yang menyenangkan dan sesudah membersihkan badan kami, kami berasa segar dan pembicaraan diteruskan sampai jam satu malam. Aku berkata:” ayo kami pergi tidur, karena besok kalian  harus bekerja.

Jakarta 2 desember 2004


BAGIAN 3

Di kalangan masyarakat Tionghoa orang tua dihormati, terutama pada jaman dahulu karena ini adalah budaya Tionghoa yang diajarkan terutama oleh Kong Fu Zi (Confucius) tentang Xiao atau Hao dalam bahasa Hokkian. Karena itu pada jaman dahulu orang Tionghoa suka sekali memelihara jenggotnya panjang panjang. Lain dengan orang Eropa dan Timur Tengah yang memelihara berengos yang pendek. Fenomena hierarchi ini masih dapat dilihat di beberapa kalangan orang Tionghoa meskipun  pada generasi muda sudah sedikit jumblahnya. Dikeluarga saya juga di keluarga istri saya masih ada gejala ini, meskipun diluar kesadarannya. Ini mungkin juga karena aku mengetahui banyak tentang kultur Tionghoa dan ilmu pengetahuan umum, sehingga aku mempunyai kelebihan dari mereka. Karena itu generasi muda respek padaku dan banyak tanya tentang kultur dan memberi nama Tionghoa untuk anak mereka yang baru lahir.

Kalau kami datang ke Jakarta, Solo atau Surabaya pasti keluarga kami datang menyediakan kamar dan mangajak kami makan malam. Kedatangan kami sudah dengan cepat disebarkan diantara keluarga untuk berkongkow. Kami diminta untuk datang berkunjung kerumahnya disamping kota-kota yang kusebutkan dahulu, juga ada keluarga yang menilpon kami dari Bandung, Semarang dan Cepu bahkan mereka sudah menyediakan kesukaanku Kepiting dan buah duren. Mereka beberapa kali menilpon aku sampai-sampai kami tidak bisa menolaknya.

Aku kalau ke Jakarta dan Surabaya seringkali berbicara dengan generasi mudah dari keluarga kami. Mereka ini hampir semua lulusan universitas dan kebanyakan lulusan dari USA. Ada beberapa insinyur, namun kebanyakan dalam bidang ekonomi. Pikiran mereka semua sesuai dengan aku dan yang kami bicarakan ialah persoalan penghidupan, kultur dan kemasyarakatan. Berbedah dengan orangtua mereka yang dibicarakan hanya bagaimana bisa menjadi lebih kaya. Saya adalah seorang dokter dan tidak banyak pengertian tentang perdagangan. Aku bisa bicara dengan bebas dengan keponakan-keponakanku tentang topic yang mereka sangat interesan. Mereka sering tanya padaku tentang kultur Tionghoa, tentang kontribusi orang Tionghoa di dunia dan chususnya di Indonesia.  Pada satu hari saptu saya diundang dirumah mereka dan diminta bicara tentang itu. Saya katakan pada mereka bahwa ekonomi Indonesia tidak bisa semaju seperti sekarang ini kalau tidak ada orang Tionghoa. Juga tentang sains, dahulu sewaktu aku masih mahasiswa banyak dosen-dosen orang Tionghoa. Dan Ilmu kedokteran Indonesia pada ituwaktu  lebih baik dari pada Singapore dan Malaisia. Sayang sekarang tampak terbelakang dari kedua negara tsb. Orang Indonesia, baik orang Tionghoa maupun Pribumi kalau sakit yang komplex, mereka pergi berobat ke Singapore dan belakangan ini juga ke Malasia. Ini jelas menunjukkan keterbelakangan ilmu kedokteran Indonesia, ini harus diakui faktanya.

Di Jakarta kami dapat dikatakan setiap malam diajak makan ke restoran-restoran yang besar dan lux, terutama apabila ada restoran yang baru dibuka seperti restoran Taipan, Hongkong Village, Super kitchen, Tay Yuen, dan resto Hai-Lai, Angkeh dan resto didepan angkeh yang aku lupa namanya, dan satu lagi didaerah perumahan di villa Kelapa Gading dan lain lain sebagainya. Sayang sekali ini kali aku tidak dapat menerima dua undangan pertama dari Iwan, keponakanku yang mempunyai rumah di Puncak, tetapi aku sudah tinggal dirumah beliau. Kedua undangan  dari teman-teman baikku untuk bersama makan malam, dengan sangat maaf dan hormat kami lalukan dan aku hanya dapat menilponnya karena keberadaan aku di Jakarta hanya 10 hari saja, dan juga karena Iliongku telah meninggal dunia. Kami harus ke Solo untuk menyambang dan terutama menggunakan waktu kami bagi ibu mertuaku yang terserang stroke untuk kedua kalinya. Dan lagi aku harus menyambang keluargaku yang terutama berada di Surabaya dan kami gunakan waktu juga selama 10 hari. Teman baikku Thu Siong-Wen mengajak kami pergi ke Bali dan bermalam dirumah anaknya, yang juga mempunyai rumah kedua di Bedugul yang nyaman hawanya. Namun sampai ini kali kami tiada kesempatan lagi untuk kesana. Selalu aku liwatkan undangan ke Bali, tetapi saya berjanji pada satu hari tokh aku akan mengambil waktu untuk memenuhi undangan temanku Thu Siong-Wen yang aku kenal sudah lima puluh tahun itu. Tetapi dengan beliau aku telah bermalam dua hari di desa Trawas dibawah gunung Welirang.

Jakarta 7 januari 2005


 

BAGIAN 4

Pada hari kamis aku menyambang Iliong, suami dari adik perempuan ibu mertuaku. Iliong sebetulnya satu generasi dengan aku, beliau lebih tua beberapa tahun dari aku. Aku memanggil beliau Iliong karena istriku memamggil beliau Iliong, dan kebiasaan kebudayaan Tionghoa adalah demikian, aku dianggap segenerasi dengan istriku. Iliong sedang menderita sakit long emfisema (hilangnya elastisitet jaringan paru-paru) diakibatkan karena merokok. Aku dengan Iliong cocok baik dalam bidang kebudayaan maupun pandangan penghidupan. Kami dahulu pada tahun sebelum Orba sering berkumpul karena aku juga bekerja di Jakarta dan beliau mempunyai perusahaan di Jakarta. Perhubungan kami dengan Iliong semakin dekat setiap hari karena kecocokan dalam banyak hal.

Pada tanggal 3 desember aku menyambang beliau, dan tampak beliau sangat sesak napasnya, aku berduaan berbicara di kamar tidurnya, karena beliau tidak dapat berjalan jauh. Dalam pertemuan ini beliau berkata padaku:” Hwie-Song, bagaimana dengan keadaanku ? Apakah ada obat yang dapat menolong aku?” Pertanyaan ini berulang ulang di katakan dengan terputus-putus dan suaranya yang tidak kuat, menunjukkan kesehatannya yang terganggu sangat berat. Aku katakan pada beliau:” Iliong, obatnya sudah betul apa yang kau sekarang dapat ini, dan yang paling penting ialah gas zat asam ini, agar kau tidak sesak napasmu.”  Beliau tanya lagi:” Hwie-Song apakah di Holland tidak ada obat bagiku, aku ini bagaimana ya?. Cobahlah kau terangkan padaku obatnya apa?” katanya dengan sedih. Kelihatannya beliau takut akan datangnya kematian dan sebisanya berjoang untuk mempertahankan hidupnya. Perkataan “mati” beliau tidak berani mengeluarkan dari mulutnya.

Aku menjawab:” kau harus percaya pada dirimu sendiri, pikirlah apa saja yang menyenangkan dan cobahlah ketawa. Kau juga mengerti sebagi orang kristen, bahwa mati atau hidup itu bukan kemauan kita, ini semua tergantung dari Tuhan. Orang punya kepandaian dan kemauan, tetapi tuhanlah yang menentukan.” Beliau kelihatannya lesuh karena aku tidak dapat memberikan jawaban yang positif dan lalu berkata:”  aku capai, aku mau merebahkan badanku” . Dia lalu merebahkan dirinya, namun kesulitan karena sepatu sandal jepangnya belum lepas, aku membongkokkan badanku dan melepaskan sandalnya dari kedua kakinya dan membantunya agar beliau bisa berbaring.

Aku lalu mengambil pipa gas zat asam dan membuka agar gas dapat mengalir, lalu aku berikan pipa gas padanya. Kupanggil zusternya agar membantu beliau. Aku keluar menemui I-ie (tante) istri beliau. Dalam hatiku aku katakan bahwa Iliong sudah berat sakitnya, tenaganya kelihatannya sudah hampir habis dan sudah tidak mempunyai kepercayaan lagi akan penghidupannya. Istriku masuk ke kamar beliau dan berbicara tidak lama karena beliau sudah lemah dan setengah tidur sukar untuk bicara. Shueh-Yu, istriku juga mempunyai pandangan seperti aku tentang kesehatan Iliong. Satu jam kemudian kami pulang dan kami sedih melihat keadaan Iliong, famili dan teman yang lama dan terpecaya itu.

Dua hari kemudian, hari saptu tanggal 5 desember pagi hari I-ie menilpon padaku dan mengatakan bahwa Iliong telah meninggal dunia. Aku berbicara sebentar dengan I-ie untuk menghibur beliau agar kuat hatinya dalam menghadapi kehilangan yang besar ini. Kemudian aku menilpon keluarga kami untuk memberi tahu tentang kematian Iliong. Malam hari aku pikir, bagi Iliong pribadi, beliau telah dibebaskan dari penderitaan sesak napas yang hebat dan kelemahan badannya, namun bagai keluarganya terutama bagi I-ie yang ditinggalkan adalah satu kehilangan yang besar, kehilangan suami dan teman hidupnya yang paling dapat diandalkan. Saya harepkan agar beliau dapat ditrima disisih Tuhan Yang Maha Kuasa.

Karena meninggalnya Iliong maka keberangkatan kami ke Solo harus ditunda sampai beliau dikubur. Beberapa malam kami ikut maisong, bertamu untuk menghormat arwah Iliong. Disini aku bertemu dengan keluarga dan teman-teman yang sudah lama aku tidak ketemu seperti sudara sudara dari Iliong di Solo dan di Hongkong. Pertemuan ini juga « senang », memberi kesempatan untuk memperikat persaudaraan dan kesetiakawanan, namun sayang sekali pertemuan itu terjadi sewaktu kesedihan.

Orang yang seumurku ini banyak dengar tentang kematian dari keluarga dan teman-teman. Aku telah kehilangan beberapa keluarga dan teman-teman baikku. Memang ini adalah fakta penghidupan manusia yang merupahkan naik spoor disetiap setasiun ada yang turun dan ada yang naik, ada waktunya pergi, ada waktunya pulang. Setiap manusia yang dilahirkan pada sesuatu waktu dia akan meninggal. Ini adalah Tao dari penghidupan dan harus ditrima, tidak menerima kebenaran ini adalah tidak mengerti hukum alam. Untuk beliau aku secara alamiah tanpa dipikir berkata:” Slamat jalan Iliong kedunia disana, dan istirahatlah tenang-tenang di sisih Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Jakarta, 6 januari 2005



BAGIAN 5

 

Pada tanggal antara enam Januari sebetulnya kami akan ke Solo, namun karena kematian Iliong Ang King-Hien, kami tunda keberangkatan kami dan menunggu sampai beliau dikubur. Iliong adalah orang yang berbaik budi dan sewaktu aku bekerja sebagai secretaris Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi di Universitas Res Publica aku tinggal dirumah beliau. Aku kenal beliau sejak aku berpacaran dengan istriku, maka hubungan aku dengan beliau sudah limapuluh tahun lamanya. Kalau malam hari aku dengan beberapa keluarga kami maisong (datang menghormat) pada arwah beliau.

Hari hari selanjutna kalau siang hari berjalan-jalan ke Kelapa Gading Mall atau berkongkow dengan keluarga yang tinggal di Jakarta. Pada pagi hari sesuadah aku pulang kerumahnya Iwan dimana aku tinggal, ada tilpon untuk saya. Saya trima tilpon itu dan dengan sangat gembira aku mendengar suara dari sorang teman yang tinggal dijauh-Hongkong saudara Yang Ping yang aku sudah lama sejak di Xanyuenli, Guangzhou di tempat penampungan Hua Kiauw yang pulang ke PR-China.” Apa yang lebih mengembirakan dari pada bertemu dengan teman yang baik dari benua yang jauh?” Tanya guru besar Kong Fu-Zi.  Maka kami merencanakan makan bersama di restoran Hongkong Village kami bertemu dengan Saudara Yang Ping, istri beliau dan sdr. Lu Ik Kun secretaris umum INTI. Kami, istri saya dan adik lelaki istriku Chen-Ren ikut meramaikan pertemuan itu. Dengan gembira kami berkongkow dan berceritera pengalaman masing-masing, cerita yang sangat intersan karena kami mempunyai pikiran yang cocok tentang kehidupan masyarakat.dan dengan gembira sekali aku menerima sebuah buku peringatan 100 tahun THHK, kota Pasuruan. Sayang sekali waktu yang gembira itu lalu dengan cepat, “ Time flies” kata orang Inggris.

Aku sangat gembira bahwa masyarakat Tionghoa masih ingat dan memperingati suatu organisasi yang besar jasanya terhadap masyarakat Tionghoa dalam bidang nasionalisme dan kebudayaan di Indonesia. Kalau kita baca buku-buku sebelum Perang Dunia Kedua kita dapat simpulkan bahwa THHK adalah organisasi yang pertama di benua Indonesia yang menganjurkan “ Nation dan Character building”, namun dapat dimengerti karena situasi jaman kolonial, maka terminologi nation masih belum jelas. THHK didirikan oleh pemuka-pemuka Tionghoa pada tahun 1900,  dan ketuanya ialah Phoa Keng Hek. Phoa diangkat oleh Gubernur Jendral Belanda untuk menjadi Kapitan Tionghoa, tetapi beliau menolak fungsi yang tinggi itu, karena sebagai kapitan beliau tidak dapat dengan bebas mengabdi pada masyarakat Tionghoa. Nasionalisme Phoa yang terpengaruh oleh perkebangan nasionalisme di Tiongkok diantaranya, Kang Yu-We, Liang Ci-Chao dan Dr. Sun Yat-Sen (yang juga disebut oleh Bung Karno mempunyai pengaruh terhadap pandangan politik beliau) sedikit banyak berpengaruh perkembangan nasionalisme di Indonesia!

Dari pembicaraan Kami dengan sdr. Yang Ping kemarin, dirumah sewaktu bertemu dengan beberapa anggota keluarga aku mengatakan bahwa sebetulnya sekarang sudah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk berinteraksi dan berkomunikasi social-kulturil dengan saling percaya, keterbukaan dan respek antar berbagai etnis. Mudah-mudahan dengan permulaan tahun baru 2005, dan tahun baru imlek 2556, dua tahun baru Barat dan Asia berbagai stereotip antar berbagai ras dapat di perkecil sehinga dapat bekerja sama demi kehidupan berbangsa dan kesejahteraan Negara Indonesia dapat dipekerkuat dan membawa harapan agar kerukunan antaretnis semakin kuat merekat. Aku masih ingat waktu masa kecilku setiap Tahun Baru Imlek kami memakai baju baru, rumah dibersihkan Hakekat Imlek.atanya, adalah untuk melakukan perenungan. Tujuannya ialah dapat memperbaharui diri, maka kalau kita trapkan pada jaman sekarang kita harus berani menerima segala yang baik, membuang yang jelek dan siap sedia untuk mebuka diri dan memperbaharui, mengreformasi sesuai dengan jaman, agar tetap baru selama-lamanya.

Indonesia yang kaya dengan Kawasan Pecinan di setiap kota dapat diperkembangkan dan tidak kalah dengan Chinatowns di Amerika Utara dan Eropa Barat, karena kawasan Pecinan mempunyai sejarah berabad-abad di Indonesia dan kedua bangsa ini bekerja sama melawan penindasan kolonial. Pula Pecinan Indonesia kaya kebudayaan yang multicultural seperti Kelenteng Sam Po-Kong, Gunung Kawi, Prajekan, rumah-rumah sembahyangan di Glodok, petak sembilan dan sebagainya. Semangat multikultural baik yang diluar (architektur Tionghoa etc.) maupun yang didalam (jiwa) yang pada waktu sekarang masih dapat dinikmati orang merupahkan nilai positif yang dapat di perkembangkan dan di tumjukkan pada dunia luar untuk menarik turis dalam dan luar negeri. Perkembangan multi-budaya di kawasan Pecinan bukan merupahkan ekslusifisme, seperti pada jaman VOC, karena pada masa itu di Petjinan terutama ditinggali oleh orang-orang Tionghoa. Aku melihat di Semarang yang hidup dan bekerja di Kawasan Pecinan, terkenal dengan nama Gang Lombok, Gang Pasar etc. berasal dari pelbagai latar belakang etnis, dan mereka bekerja dengan harmonis tanpa kelihatan perbedahan. Di restoran restoran Tionghoa yang besar baik di Jakarta, Semarang dan Surabaya kok-koknya (para tukang masak) banyak terdiri dari orang pribumi, bahkan ada restoran Tionghoa di kota Solo yang boss-nya orang Pribumi. Sayang berhubung waktu aku tidak dapat ikut merasakan suasana perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia!

Pertemuan aku dengan teman-teman yang sebaya umurku dan terutama mereka yang dahulu sekolah di sekolah Tionghoa masih aku dengar sisah-sisah dari bahasa Melajoe-Tionghoa, disana sini diselipi dengan dialek-dialek Hokkian. Bahasa yang aku berkomunikasi dengan teman-temanku Tempo Doeloe. Aku tahu bahwa Bahasa Indonesia sekarang ini sudah berkembang dewasa namun aku masih nostalgi bahasa yang dipakai dulu di kawasan Pecinan, masa remajaku. Bahasa Indonesia yang dipakai oleh pemuda-pemudi Tionghoa sekarang ini “zuiver”, murni, namun kurasahkan kok kekurangan campuran “ Special Chinese dialectic flavour”

Jakarta 8 januari 2005

 


 

BAGIAN 6

Semarang kami merasa berkewajiban untuk pergi kesana, karena pernikahan keponakanku, anak perempuan dari adik perempuan istriku. Semarang terkenal dengan pecinan, dahulu banyak orang-orang Tionghoa kaya tinggal disini, ternama ialah keluarga Oei Tiong Ham dengan Oei Tiong Ham concernnya. Akar dari Chung Hua Hui adalah di Semarang karena banyak mendaptkan bantuan dari Oei Tiong Ham. Chung Hua Hui adalah perkumpulan Tionghoa peranakan yang mau bekerja sama dengan pemerintahan Hindia-Belanda, tetapi tetap mempertahankan identitas Tionghoanya. Anggota-anggotanya kebanyakan intelektual intelektual lulusan universitas. Banyak diantaranya lulusan dari universitas Belanda, karenanya di Belanda juga ada organisasi Chung Hua Hui, bahkan didirikan lebih dahulu daripada CHH di Hindia Belanda. Sekarang perkumpulan ini sudah tiada lagi. Kongres Chung Hua Hui kebanyakan di organisir di Semarang dan yang datang kira-kira seribu orang, pada waktu itu luar biasa jumblahnya, mengingat kwantitet dan kwalitet hotel dan kendaraan yang belum maju seperti sekarang ini.  Adik engkongku Tan Ping Tjiat adalah ketua umum Chung Hua Hui, Malang dan pernah berkata padaku:” bayangkan bagaimana sibuknya mengorganisir kongres yang dikunjungi begitu banyak orang.  Jelas mengatur penginapan dan kendaraan sangat sukar.

Kedatangan dan kepulangan mereka membawa banyak kerepotan bagi pimpinan protokol rapat, karena masih terbelakannya fasilitas komunikasi dan penginapan pada waktu itu. Banyak pengunjung yang tinggal dirumah teman dan menunggu beberapa hari sampai mendapatkan karcis kereta api untuk bisa pulang rumah. Tetapi bagi kita adalah suatu keharusan untuk hadir ke kongres CHH itu, sebab semua itu demi kepentingan masyarakat Tionghoa di Indonesia, agar dapat hidup tanpa diskriminasi dan sejajar dengan rakyat Belanda dalam segala bidang yang sedang di perjoangkan CHH melalui volksraad. Untung semua ini mendapatkan dukungan keuangan dari Oei Tiong Ham concern, yang sangat peduli pada perkembangan masyarakat Tionghoa.”  Engkong Ping Tjiat masih berkata padaku:” koran Matahari (semarang) yang dipimpin jurnalist Baba kawakan Kwee Hing Tjiat sangat modern pada waktu itu dan mempunyai fasilitas yang sangat maju karena dukungan dari Oei Tiong Ham concern.” Memang koran Matahari pada waktu pembukaan mengadakan pesta dikota-kota besar seperti Batavia, Surabaya dan tentunya juga di Semarang. Dalam perjamuan pembukaan di Soerabaja pada tanggal 1 juli 1934 dihadiri oleh pemimpin-pemimpin Indonesia yang ternama seperti Dr. Soetomo, Mr. Iskaq, Mr. Soebardjo, Dr. Samsi, Raden Pandji Soenarto Gondhokoesoemo (directur Bank Nasional Indonesia etc.


Perkawinan keponakanku sangat ramai sekali, undangannya kira-kira seribu orang ada dua keluarga yang datang dari luar negeri, satu keluarga datang dari USA dari fihak sana dan dari fihak keluarga kami ialah dari PR-China dan dari Nederland. Makanan yang dihidangkan pada setiap meja kurasakan ledzat dan musiknya sangat enak didengar. Disamping itu ada dagelan yang di lakukan oleh seorang banci, yang dengan bebas mengatakan bahwa beliau adalah seorang banci (homo). Sangat lucu dagelannya dan disambut dengan tepuk tangan dan ketawa yang meriah oleh para pengunjung pesta perkawinan ini.


Ada satu  act yang perlu kami tulis disini ialah atas permintaan tamu dari USA agar beliau menyanyikan lagu burung Cicak Rowo yang ternyata pornografis itu. Tamu dari USA itu diminta naik panggung dan keduanya bernyanyi dengang gerakan dan nyanyian di lagukan sangat sensual dan porno. Bisa ditanyakan apakah etis lagu demikian itu di nyanyikan dengan gerakannya di sautu perayaan umum diamana banyak anak-anak kecil yang juga ada disitu? Ternyata lagu itu sudah ternama dan digemari oleh chalayak ramai Indonesia! Tentu pertanyaan ini sebetulnya harus ditujuhkan kepada tamu dari USA itu, karena dialah yang minta lagu ini tanpa memikirkan adanya anak-anak yang masih kecil kecil. Aku bukan seorang musicus, tetapi aku mempunyai penilaian sendiri mengenai lagu. Maaf apabila salah pandanganku ini betul atau tidak, terserah bagi selerah orang tentang musik. Menurut aku sebuah lagu kupandang bagus apabila melodinya enak didengar dan isinya baik. Lagu-lagu gesang sangat aku senangi karena dua parameter ini.

Di Semarang kami ketemu dengan saudara-saudara istriku yang berdatangan dari Jakarta, Bandung dan Solo, dan Wuhan PRC-China, adik lelaki istriku. Mereka semua tinggal dirumah adik perempuan istriku, kami berkongkow sambil minum teh dan bercerita pengalaman masing masing. Kongkow ini diteruskan sampai kami pergi ke pesta perkawinan. Dirumah makan siang disediakan chusus makanan Indonesia kesukaan istriku ialah sup asaman dari igo sapi, nasi rawon dan gorengan ayam dan empal. Di supnya tampak banyak sekali cabe rawit merah dan hijau mengambang, jelas menunjukkan kepedasannya.


Pesta pernikahan ini memang adalah suatu kesempatan istimewa untuk bisa berkumpul dengan keluarga yang dahulu sewaktu kecil mereka berkumpul dalam satu rumah dan sangat close sebagai saudara-saudara. Kapan kita dapat berkumpul seperti ini? Sayang yang datang bermalam ialah generasi dari istriku saja, meskipun ada beberapa dari generasi kemudian yang datang ke pesta, tetapi mereka tidak bermalam di satu rumah. Kami tak dapat duduk bersama mereka karena kedatangan mereka tak bersamaan dengan aku, dan kami diberi tempat VIP, bersama-sama dengan besannya adik perempuan istriku. Esoknya sore, aku dan istriku kembali ke Solo, rumah ibu mertuaku.


Jakarta, 9 januari 2005


 

BAGIAN 9

Aku biasa kemana aku pergi senantiasa tidak lupa untuk melihat-lihat toko toko buku yang besar-besar , juga di Indonesia. Di Indonesia aku melihat banyak buku-buku filosof Barat, tetapi susah untuk mendapatkan buku-buku dari filosof-filosof Tiongkok dari Kong Fu Zi, Lao Zi, Meng Zi, Zhuang Zhi, Sun Zi, India atau dari Indonesia sendiri. Padahal untuk pembinaan jiwa dan karakter  lebih banyak ditulis oleh filosof filosof Asia. Tulisan aku ini jangan disalah mengertikan karena aku tidak saja penggemar filosof-filosof Tionghoa tetapi aku juga mengakui dan menghargai tinggi-tinggi nilai karya filosof-filosof Barat. Dari pemikiran merekalah kemajuan negara dan ekonomi Barat.

Kalau kita naik mobil di Jawa, kita semua mengalami disetiap parapatan lampu merah, selalu ada anak-anak muda yang membawa kroncong mendatangi untuk minta uang sambil memainkan kroncongnya, tanpa ada melodinya. Saya tanyakan pada pak sopir sebagai berikut:” anak-anak ini mengapa tidak mau bekerja menimbang berhenti setiap hari diprapatan kepanasan untuk minta-minta. Saya kira tidak seberapa pendapatannya; ataukah anak-anak ini memang tidak ada lowongan untuk mereka bekerja? Pak sopir mengatakan padaku:” anak-anak ini memangnya pemalas, tidak mau bekerja, dan kalau dapat uang, uangnya digunakan untuk minum-minuman arak dengan kawan-kawannya. Kalau memang demikan maka ini memang perlu pendidikan pembinaan nasion dan karakter.


Para pemimpin kita mengatakan tentang pembinaan nasion dan karakter, memang ini penting untuk memberi “bagasi keilmuan” pada pemuda-pemuda kita yang kelak mengambil pimpinpin negara. Untuk merealisasikan tujuan tersebut diatas harus dilaksanakan dimulai dengan pendidikan di sekolah rendah, agar mereka kelak mempunyai perasaan moril untuk berbuat sesuatu kebaikan pada manusia, negara dan bangsa. Kita semua mengetahui bahwa masyarakat jaman sekarang ini keras dan zakelijk, sifat manusia jaman sekarang lebih “mau menerima dari pada memberikan”. Kong Fu Zi mengatakan : » setiap hari orang harus menanyakan dirinya, apakah yang telah ku berbuat kebaikan untuk manusia ? Dan sitat beliau lainnya yalah:  Kalau kita mendapatkan sukses, berusahalah agar orang lain juga sukses».  Siapa yang dapat dan mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu yang baik, kerjakanlah demi kemanusiaan yang pada waktu ini sangat diperlukan untuk meringankan penderitaan rakyat kecil. Perbuatan untuk perikemanusiaan ini juga perlu didikan bahwa sesudah membantu agar dia bisa merasakan puas, gembira bahwa dia bisa berbuat sesuatu kebaikan, dengan kata lain yang baik harus dipuji dan yang salah harus dijelaskan kesalahannya.


Di Belanda atas inisiatifku, aku dengan beberapa intelektual peranakan mendirikan perkumpulan Hua Yi Xie Shang Hui dan aku memimpinnya sebagai ketua dari tahun 1984 sampai tahun 2002. Selama kira-kira delapanbelas tahun lamanya. Tujuan aku untuk mendirikan ormas ini ialah integrasi orang-orang Tionghoa di masyarakat Belanda, dengan mempertahankan kebudayaan Tionghoa yaitu pikiran Kong Fu-Zi, Lao Zi etc. creme de la creme dari budaya Tionghoa, melalui diskusi-diskusi (xie-shang berarti discusi) terbuka. Untuk meluaskan tujuan kepada masyarakat Tionghoa ini aku terbitkan majalla Hua Yi Xie Shang Hui magazine. Ini merupahkan satu periode yang baik bagiku untuk mendapatkan pengalaman  dalam penghidupan masyarakat. Hua Yi Xie Shang Hui berkembang dengan baik dan terkenal sebagai perkumpulan dengan symposia-simposia yang bernilai. Pembicara-pembicaranya aku carikan betul-betul ahli yang mengenal tema yang dibicarakan. Untuk sejarah orang Tionghoa ddonesia, Prof. Dr. Blusse, untuk kultur Tionghoa Prof. Dr. Idema, Disamping itu kami mengundang ahli-ahli dalam dan luar negeri, Prof Dr. S.B. Wu wakil gubernur dari kota Delawere,  USA,  Prof. Dr. de Moor ahli sosiolog, Prof Dr. Entsinger ahli dalam bidang integrasi, Dr. Li Ming-Huan dari universitas Xiamen, anggota-angota parlemen dari empat besar partai di Belanda, menteri etc. etc. Aku menganjurkan pemuda-pemuda Tionghoa bahwa kita ini adalah Warga Negara Belanda dan mengerti dan mempunyai tanggung jawab seperti : » mengenal hak-hak dan kewajiban sebagai WN-Belanda. Hua Yi Xie Shang Hui di kalangan masyarakat Tionghoa Belanda terkenal sebagai ormas dengan simposia-simposia yang bermutu.


Seperti aku beberapa kali pernah mengemukakan bahwa masyarakat satu negara, apalagi negara besar seperti Indonesia dan Tiongkok adalah kompleks. Demikian pula dengan kebudayaanya terdapat banyak perbedaannya dan kalau tidak diurus dengan betul merupahkan potensi bagi munculnya konflik yang besar. Pemerintah,  media massa dan ormas-ormas perlu mendorong dan mengemembangkan etika dan moral perikemanusiaan yang berkesamaan untuk mempersatukan semua etnis, membangun persaudaraan dan kebangsaan. Membentuk kesadaran bahwa mereka itu semua adalah bagian integral dari bangsa Indonesia. Etika dan moral itu patut terus diperkembangkan dan disesuaikan menurut jamannya agar bangsa Indonesia yang besar dapat menemukan mutual understanding untuk interaksi dan komunikasi sosial dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari. Sekali lagi aku tekankan perlunya diskusi terbuka  dan jujur, dipimpin oleh pemerintah dan didukung penuh oleh media massa.
Kita tahu bahwa apa yang terjadi dalam penghidupan masyarakat adalah buatan manusia, karena itu nation and character buikding sangat diperlukan meskipun setiap orang berbeda keyakinannya.

Solo, 19 Januari 2005



 

BAGIAN 10

Di Solo kami diajak oleh sdr. Chou Hong Yen, seorang sarjana hukum dan aktivis masyarakat Tionghoa, untuk mengikuti ceramah mengenai penghapusan Surat Bukti Kewarga Negaraan RI (SBKRI) di kota Solo.  Ceramah ini diadakan oleh perkumpulan Gereja Kristen Indonesia pada malam hari jam 19.00. Waktu kami sampai disana sudah ada kira-kira 30 orang diantaranya ada dua pendeta yang satu pernah mendapatkan pendidikan theologi di Belanda dan yang lainnya di Jerman. Suasana tenang dan disediakan kuwe basah dan minuman air aqua. Para pengunjung kebanyakan orang Tionghoa, tetapi terus terang saja saya tidak dapat membedahkan mana yang Tionghoa dan mana yang Pribumi, kulit mereka hampir sama.

Apalagi keturunan Priyayi kulitnya kuning langsep seperti orang Tionghoa. Dalam hatiku aku pikir bahwa orang-orang Tionghoa ini sebetulnya adalah bagian integral dari bangsa Indonesia; kena apa kok masih dibedah-bedahkan, sampai-sampai memerlukan ceramah seperti ini.
Pembicara adalah seorang sarjana hukum dari keturunan Tionghoa. Beliau berkata bahwa sudah ada kemajuan dalam persoalan untuk minta ijin sesuatu. Tetapi hanya dalam bidang imigrasi masih diperlukan surat SBKRI, terutama bagi mereka yang mau minta paspor. Dalam tanya jawab sesudah ceramah ternyata masih banyak persoalan yang ditemui oleh etnis Tionghoa meskipun katanya persoalan Surat Bukti Kewarga Negaraan RI (SBKRI) tidak diperlukan lagi di kota Solo. Contohnya, untuk pengurusan-pengurusan seperti akte-akte yang diperlakukan berbeda dengan warga lainnya, dan terutama seorang WNI keturunan Tionghoa mau minta paspor, tetap harus mempunyai SBKRI ini. Bahkan ada seorang Tionghoa yang sudah pernah mempunyai paspor kira-kira lima belas tahun yang lalu, waktu dia mau minta paspor lagi, diminta paspor yang lama. Karena paspor yang lama sudah hilang, maka tetap harus membuktikannya dengan SBKRI. Pembicara sangat terang menjelaskan apa yang dikatakan, kadang-kadang diselingi dengan humor.


Orang Tionghoa sekarang ini sudah mulai ada yang menjadi perwakilan rakyat, umpama di Yogya, aku pernah bertemu dengan beliau seorang dari keturunan Hakka, beragama islam. Beliau mewakili dari partij PAN, dan aku kira pasti ada lagi yang mempunyai kedudukan sedemikian ini. Diharepkan mereka ini mempunyai visi dan misi  mewakili etnis Tionghoa  untuk memperjuangkan hak dan kewajiban yang sama bagi semua warga masyarakat Indonesia. Sebagai wakil rakyat mereka tentu lebih bebas dan punya kesempatan untuk memperjuangkan emansipasi dari semua suku, bebas dari diskriminasi dan pula meningkatkan kesadaran dan kemauan berintegrasi masyarakat Tionghoa dalam masyarakat Indonesia. Dan diharepkan menjadi satu contoh agar warga Tionghoa turut serta dengan keaktifan  dalam segala bidang di masyarakat Indonesia  untuk pembangunan di negera dimana mereka dilahirkan.  Untuk proses integrasi diperlukan etnis Tionghoa harus lebih bermasyarakat dan mengintegrasikan diri di masyarakat di tempat-tempat dimana mereka tinggal bahkan juga di kampung-kampung dan tidak ragu dan sungkan untuk peduli dengan berbagai aktivitas di masyarakat lingkungannya.


Harus diakui bahwa penghidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia sekarang ini lebih baik dan bebas untuk mengembangkan berbagai kegiatan baik dalam persoalan politik, kebudayaan, pendidikan dan saya rasa kesempatan untuk memberikan kontribusi orang Tionghoa pada negara Indonesia pelahan-lahan tidak hanya terletak pada bidang ekonomi tetapi juga dalam segala bidang penghidupan masyarakat, seperti yang kami lihat sebelum masa Orde Baru.  Sebagai orang Tionghoa yang pernah tinggal di Indonesia dan tetap mempunyai perasaan yang tebal pada negara dimana saya dilahirkan, aku harepkan kelak akan tidak aneh lagi bila menteri, pimpinan daerah, pimpinan ketentaraan, pimpinan universitas dan seterusnya, adalah orang dari suku Tionghoa, berdasarkan keahliannya, intelektualitasnya, tidak dilihat asal etnis orangnya, seperti yang aku lihat di Thailand, Filipina dan Malysia.


Universitas universitas swasta, institusi pendidikan bahasa Tionghoa, ormas-ormas Tionghoa dari asal daerah nenek moyang mereka di Tiongkok, mulai bertumbuhan, terutama ormas-ormas alumni sekolah Tionghoa dahulu sebelum ditutup mempunyai anggota-anggota yang banyak sekali dan mempunyai finansiil yang kuat. Kehidupan multikulturil di Indodonesia berkembang dengan pesatnya. Sangat mengembirakan sekarang bahwa ada perkumpulan yang besar dari ormas Tionghoa yang tidak membedahkan lagi antara Baba dan Totok. Perkumpulan ini terdapat hampir diseluruh kota besar dan pertengahan di kepulauan Indonesia, diantaranya yang besar ialah INTI. Temanku sdr. Chou adalah sekretaris dari perkumpulan ini. Ketuanya adalah bapak Handojo, seorang dokter lulusan Airlangga, beliau sangat ternama di Solo, berhubung kepeduliannya tidak saja dalam masyarakat Tionghoa di kota Solo, juga dalam bidang pendidikan, pedesaan, kesehatan (rumah Sakit Dokter Oen) etc. etc.


Bedahnya masyarakat Tionghoa sekarang dengan yang dahulu ialah bahwa mereka sekarang peduli pada masyarakat Indonesia dan sadar bahwa negaranya adalah negara Indonesia. Tiongkok adalah negara encek atau negara enciem mereka. Maka saya dengan senang dan hormat mengatakan pada semua teman-temanku :” dirgahayulah Bangsa dan Rakyat Indonesia, dan segala aktivitas kehidupan berbangsa, pembangunan dan pendidikan berjalan lancar dan lebih maju lagi dari pada sebelumnya.

Solo, 20 Januari 2005



 

BAGIAN 16

Dari Surabaya, kami kembali ke Surakarta untuk mampir ke ibu mertuaku sebelum kami kembali ke negeri Belanda. Juga kami menyewa minibus dari Travel Rosalia, seperti aku berangkat ke Surabaya. Bapak sopirnya tinggi besar dan ramah tamah. Kami banyak mengobrol sehingga waktu berjalan agak cepat. Kami mengatakan pada bapak sopir agar mampir di sebuah warung yang ternama rawonnya di Mojokerto untuk makan Rawon.

Ternyata pak sopir ini tahu persis dimana letaknya dan kami berhenti makan bersama. Seperti biasanya arek Surabaya, aku pesan nasi rawon, istriku nasi pecel dan Bapak sopir memilih nasi lodeh. Makan masakan Jawa aku rasa lebih enak makan diwarung dari pada makan di resto-resto yang besar, entah betul tidak selera aku ini, meskipun aku tahu bahwa selera orang tidak dapat didebatkan, masing-masing orang mempunyai kesukaan sendiri. Bapak sopir tidak lupa juga untuk membeli rokok Djie Sam Soe. Tetapi dia tidak merokok. Sambil makan aku tanya padanya kok dia bisa tahu warung ini? Dia berkata: "Ini adalah warung yang paling beken, dan setiap turis yang melalui Mojokerto mampir makan disini. Agak mahal sedikit dibanding dengan warung makan yang lain tetapi ruangannya besar, bersih dan juga enak makanannya". Memang diluar terdapat berbagai macam mobil dari Kijang sampai mercedes, dan tempat duduknya penuh dengan orang yang mau makan. Di kota-kota kecil aku tidak tahu adanya restoran lain yang beken selain di kota-kota yang aku kenal seperti Jakarta, Surabaya, Semarang. Di Solo baru dibuka satu restoran yang besar dan elit yaitu restoran Hailai, ruangannya indah dan atap ruangan biru seperti langit dengan awannya. Kami tadi berangkat jam 09.00 pagi dan sampai di Solo pada jam 15.00 sore. Mobil langsung masuk di rumah ibu. Kami merasa sedikit capai karena terlalu banyak duduk.

Istriku langsung mencari ibunya yang duduk di ruangan tamu menunggu kedatangan kami, Beliau tampak gembira atas kedatangan kami dan mereka berdua berbicara sebentar, lalu istriku mengatur pakaiannya yang disimpan atau yang perlu dicucikan. Oleh bu Dharmi sudah disediakan makanan untuk makan malam yaitu brengkesan udang dan asam-asam dari kikil sapi dengan cah sayur. Setiap hari makan tidur dan tidak banyak bergerak maka berat badanku naik dengan satu setengah kilogram. Hari ini tidak banyak yang kami kerjakan selain bercakap-cakap dengan istriku dan membaca buku.

Kami mendapatkan undangan pada pembukaan ruangan VIP dari rumah sakit Dokter Oen Solo yaitu ruangan Kwee Han Tiong. Kwee Han Tiong adalah anak bungsu dari Kwee Som Tjiok, boss dari batik Keris Solo. Nama ruangan ini diberikan sebagai penghormatan atas dermaan pak Kwee, sebidang tanah untuk pembangunan rumah sakit dokter Oen yang kedua di Solo, yaitu di Solo Baru. Oleh panitia aku diberi tahu cerita bagaimana bapak Kwee membantu pembangunan rumah sakit ini. Pada satu hari ada seorang Tionghoa yang juga aktivis masyarakat (katakan pak A), menemui pak Kwee (pak K) dan minta agar diberi tanah di Solo Baru untuk membangun rumah sakit Dr. Oen kedua, di daerah dimana pak Kwee sedang mempunyai projek perumahan.

Pak A: "Bisakah anda memberikan tanah sepuluh hektar untuk membangun sebuah rumah sakit dokter Oen ?

Pak K: "Boleh, tanpa rente dapat dicicil selama sepuluh tahun".

Pak A: "Mana bisa bayar? Sebab rumah sakit ini adalah pekerjaan sosial".

Pak K: "Dua puluh tahun, ok?"

Pak A: "Jaaaa, mungkin"

Pak K: "Baiklah, saya berikan cuma-cuma sebagai sumbangan kami".

Lalu setahun kemudian rumah sakit itu belum dibangun dan kedua orang ini bertemu muka di sebuah restauran atau perjamuan, pak K bertanya pada pak A

Pak K : "Oom, kenapa masih belum juga dibangun?"

Pak A: " Yaah masih belum ada uangnya".

Pak K: "Oom beginilah, oom membantu 500 000 ribu dollar, uwee juga membantu 500 000 ribu dollar, bagaimana pikiran oom?"

Pak A: "Ok, oom juga setuju."

Dan rumah sakit itu dibangun dengan ditanami berbagai macam pohon, termasuk pohon yang sudah sangat jarang di Indonesia, aku lupa namanya, karena semua catatanku hilang. Maka rumah sakit ini dinamakan juga Garden Hospital. Sesudah itu Pak A minta lagi dua hektar untuk membangun perumahan bagi para dokter, ternyata para dokter menolak tinggal disitu karena sudah mempunyai rumah. Maka tanah ini dibangun ruangan VIP Kwee Han Tiong yang indah dan setiap kamar ada AC-nya dan TV. Harganya hanya 100 000 rupiah, kurang dari 10 euro!

Rumah sakit Dokter Oen ada tiga buah, dua di Solo, yang tertua di jalan Kandang Sapi, kedua sejak beberapa tahu sudah berdiri di Solo Baru dan satu lagi di dekat Boyolali. Rumah sakit ini adalah rumah sakit yang serba komplit setingkat dengan rumah sakit pemeritah dikota dimana mereka berada. Di kota-kota besar dan beberapa kota menengah seperti Solo, Malang dll., ada rumah-rumah sakit yang didirikan oleh masyarakat Tionghoa. Bukan rumah sakit saja tetapi juga beberapa universitas-universitas telah dibangun oleh masyarakat Tionghoa, yang terkenal ialah universitas Res Publica yang kemudian oleh pemerintahan Orba diambil alih dan sekarang menjadi universitas dengan nama Trisakti (Jakarta) dan Ubaya (Surabaya). Universitas (Tionghoa) yang sekarang beken di Surabaya ialah Universitas Kristen Petra, di universitas ini hampir semua fakultas ada terkecuali kedokteran, kedokteran gigi dan hukum.

Surabaya, 25 januari 2005

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1523-dr-han-hwie-song--perjalanan-kami-pulang-kekampung-halaman

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto