A+ A A-

Etnohistorikal Tiongkok : Korea

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Tiongkok adalah negara multietnik yang terdiri dari 56 grup etnis meskipun jumlah grup etnis itu bisa bertambah jika definisinya berubah. Pemerintah Tiongkok mengakui 54 [56] diantara 183 suku bangsa atau grup etnis pada sensus di tahun 1964. Karena itu grup etnis yang tidak diakui digabungkan ke grup etnis yang diakui pemerintah. Dan jumlah minoritas [non-Han] adalah 8 persen atau ekuivalen 100 juta penduduk . Diantara suku-suku bangsa yang cukup besar adalah Zhuang , Manchu , Hui , Uyghur , Mongol dan Tibetan yang relatif telah dikenal dunia internasional.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Etnis Korea di Tiongkok dikenal sebagai Chaoxianzu, 朝鲜族 atau disebut Joseonjok 조선족 [Joseon merupakan nama dinasti terakhir di Korea sebelum dikuasai Jepang]. Etnis Korea merupakan salah satu etnis minoritas di Tiongkok dengan peringkat 13 terbanyak.

Interaksi antara Tiongkok dan Korea sebagai negara tribute  sudah berlangsung lama di berbagai dinasti sejak Dinasti Qin hingga Dinasti Qing. Perpindahan populasi dari Korea ke wilayah Tiongkok juga sudah terjadi sejak masa itu dan kemudian seiring waktu , berasimilasi dengan penduduk setempat dan menjadi bagian dari masyarakat Tiongkok.

Etnis Korea sekarang ini berasal dari migrasi ke Tiongkok terutama pada periode tahun 1850-1945 di sekitar kawasan utara Tiongkok bertepatan dengan lemahnya kontrol Dinasti Qing di kawasan perbatasan. Orang Korea masuk ke wilayah Tiongkok dengan berbagai sebab seperti kelaparan di negara asalnya , menghindari persekusi atau melancarkan perjuangan kemerdekaan melawan Jepang yang mulai menduduki Korea di awal abad 20. Diaspora Korea di Tiongkok mencapai persentase tertinggi diantara diaspora Korea diseluruh dunia yang diperkirakan berjumlah 5.7 juta jiwa.

Tabel - Populasi Korea di Tiongkok [Dalam ribuan] berdasarkan daerah

Sensus
Total Populasi
Jilin
Jilin [Yanbian]
Heilongjiang
Liaoning
Inner Mongolia
Provinsi Lain
1953
1.11 756
(551)
232
116 7
1
1964
1349
867
(623)
308
147
11
16
1982
1765
1104
(755)
432
198
18
14
1990
1921
1182
(821)
452
230
23
33

Sensus ditahun 1953 menunjukkan bahwa populasi Korea di Tiongkok sebanyak 1.1 juta jiwa atau 0.19% dari total populasi Tiongkok sejumlah 578 juta jiwa pada masa itu. Jumlah ini lebih sedikit dari data tahun 1945 dimana orang Korea kembali ke negaranya pasca Perang Dunia II [Kim, 1992]. Tetapi sebagian besar Korea tetap memilih menetap di Tiongkok dan meraih kewarganegaraan pada tahun 1952. Etnis Korea diijinkan memiliki dua anak [dibandingkan Han yang dikenakan kebijakan satu anak]. Walau demikian pertambahan populasi Korea relatif lambat dibanding etnis Han maupun etnis minoritas lainnya.

Dari tabel diatas juga menunjukkan bahwa sebagian besar etnis Korea berada di Yanbian pada khususnya dan tiga provinsi di utara : Jilin [dimana Yanbian termasuk] , Heilongjiang dan Liaoning. Tiga provinsi ini menyumbang 97% dari keseluruhan etnis Korea yang ada di Tiongkok. Prefektur Yanbian terletak di perbatasan yang berdekatan dengan Korea Utara.

Jumlah kota dimana etnis Korea melampaui 10 ribu jiwa berjumlah 21 kota di provinsi Jilin , 14 di provinsi Heilongjiang dan 3 di Liaoning. Data populasi etnis korea di beberapa kota besar utama di Tiongkok bisa dilihat di tabel berikut.

Tabel - Populasi Korea di Tiongkok berdasarkan kota utama di Tiongkok

Kota
1982
1990
Persentase Perubahan
Beijing
3905
7869
96.9
Changchun
18324
27241
48.7
Dalian
2042
4816
135.8
Harbin
30514
36562
19.8
Qingdao
83
355
327.7
Qinhuangdao
108
869
704.6
Shanghai
462
734
58.9
Shenyang
69460
80539
16
Tianjin
816
1788
119.1
Yanji
100337
177547
77

Tiongkok memiliki sejarah panjang dengan keragaman etnis di kawasan sekitar Tiongkok dan karena pengaruh budaya yang kuat kemudian tersinifikasi. Bahkan rejim penguasa Qing yang merupakan etnis Manchu tersinifikasi dan kehilangan bahasa mereka sendiri padahal mereka adalah penguasa.Begitu juga saat Mongol berkuasa dan mendirikan Dinasti Yuan. Walaupun etnis Han berada distrata sosial ketiga [Han utara] dan keempat [Han Selatan] , dibawah Mongol yang berada di strata sosial pertama , Mongol sendiri praktis tersinfikasi.

Partai Komunis Tiongkok yang kemudian berkuasa sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok ditahun 1949 , sedari awal perjuangannya merangkul etnis minoritas dalam perjuangannya dengan memproklamasikan equality diantara suku bangsa dan menjanjikan otonomi daerah dalam perjuangan melawan Jepang dan kemudian melawan Nasionalis dalam perang saudara. Ini bisa terlihat dengan terlibatnya etnis Korea dalam perjuangan bersama melawan Jepang di kawasan utara Tiongkok , termasuk Kim Il Sung sendiri yang waktu itu sempat menjadi bawahan jenderal Zhou Baozhong yang berasal dari etnis Bai. RRT dikemudian hari mengimplementasikan otonomi daerah bagi berbagai grup etnis minoritas , seperti misalkan lima kawasan otonomi di tingkat provinsi , 30 kawasan otonomi ditingkat prefektur dan 120 otonomi ditingkat kabupaten.

Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu ditahun 1945 , etnis Korea dihadapkan pada dua pilihan , tetap tinggal atau kembali ke Korea. Sekitar 60% etnis Korea memilih tetap tinggal di Tiongkok. Mereka berasal dari latar belakang petani miskin yang mendukung Partai Komunis Tiongkok dan menyambut baik land reform yang ditawarkan PKT di kawasan utara Tiongkok sebelum tahun 1949. Berdirinya RRT , disusul dengan dipermudahnya status kewarganegaraan etnis Korea dan mereka menjadi bagian dari masyarakat Tiongkok walau terjadi beberapa peristiwa penting seperti krisis Korea ditahun 1950an dan Revolusi Kebudayaan. PKT menyambut baik etnis Korea karena kontribusi mereka terhadap perjuangan awal dalam melawan Jepang , Perang Saudara dan Perang Korea dan kontribusi ekonomi di kawasan utara Tiongkok. [Kim , Oh , 2001].

Pemerintah RRT membiarkan etnis Korea mempertahankan identitas mereka baik dibidang pendidikan dan bidang kultural terkecuali pada saat Revolusi Kebudayaan [Berbeda dengan etnis Korea di kawasan Soviet yang kehilangan identitas mereka karena tekanan pemerintah Soviet]. Karena iklim kondusif , tingkat buta huruf etnis Korea diatas usia 12 tahun , paling rendah di antara etnis lain , diantara 56 suku bangsa [Yun , 1993]. Tingkat lulusan perguruan tinggi etnis Korea juga paling tinggi diantara 56 suku bangsa lain dengan indeks, 19.6 dari 1000 [berbanding 6 dari 1000]. Etnis Korea juga bisa mempertahankan "high culture" mereka dibidang literatur , musik dan tarian.

Hubungan etnis Korea di Tiongkok dengan negara leluhurnya  lebih condong ke Korea Utara di masa sebelum reformasi Deng karena terisolir dari Korea Selatan karena masalah hubungan bilateral dan juga posisi geografis Korea Utara yang berbatasan langsung dengan Tiongkok.

Perubahan terjadi pada saat terbukanya kembali hubungan bilateral RRT- Korea Selatan. Didahului momentum ditahun 1988 ketika Korea Selatan menyelenggarakan Olimpiade , karenanya pintu informasi mulai terbuka lebar sejak saat itu. Etnis Korea menerima alternatif informasi mengenai Korea Selatan sebagai tuan rumah penyelenggara. Momentum kedua terjadi ditahun 1992 dengan terjalinnya hubungan diplomatik secara formal antar kedua negara. Sejak saat itu hubungan ekonomi meningkat dalam berbagai  investasi , turisme dan berbagai komoditas .

Kunjungan turis dari Korea Selatan mencapai satu juta di tahun 2000 dan 1.3 juta di tahun 2001 dan Tiongkok menjadi negara tujuan utama turis Korea Selatan dalam pertengahan awal tahun 2002.

Meningkatnya hubungan ekonomi juga berimbas pada bertambahnya populasi etnis Korea di beberapa kota besar utama di Tiongkok seperti kota Beijing yang mencapai lebih dari 60 ribu ditahun 1998 , delapan kali lipat dari tahun 1990. Demikian juga dikota besar lain seperti Shanghai , Tianjin. Diprovinsi utara , etnis Korea juga bertambah di kota-kota besarnya seperti Dalian dan Shenyang sebagaimana arus investasi dari Korea Selatan yang masuk kekawasan itu. Sebaliknya , jumlah etnis Korea dikawasan pedesaan terus berkurang.

Karena ada batasan waktu menurut hukum bagi orang asing untuk berkerja di Korea Selatan , banyak etnis Korea dari Tiongkok yang berkerja secara ilegal. Mereka masuk Korea Selatan dengan berbagai jalur seperti relasi , belajar dan turisme. Lapangan  kerja yang memungkinkan bagi pendatang ilegal di Korea Selatan adalah yang masuk dalam kategori yang dihindari oleh warga setempat Korea Selatan. Jalur lain bagi etnis Korea di Tiongkok untuk masuk Korea Selatan melalui jalur pernikahan  , baik pernikahan pura-pura atau pernikahan yang sesungguhnya. Visa yang dikeluarkan untuk isu pernikahan ini berkisar 6000-7000 sejak pertengahan tahun 1990an. Walau demikian kewarganegaraan Korea Selatan harus melalui masa dua tahun percobaan.

 

[Zhonghua Wenhua]

Sumber Utama :  Si Jong Kim , " The Economic Status and Role of Ethnic Koreans in China"

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Last modified onThursday, 16 August 2012 01:36
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1582-etnohistorikal-tiongkok--korea

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto