A+ A A-

CCTV Building - Rem Koolhas & Ole Scheeren

  • Written by  Greysia Susilo Yunus
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Dalam rangka menyambut  Olimpiade Beijing 2008 , perencanaan kota berfokus pada bangunan olahraga yang berkaitan dengan penyelenggaraan olimpiade seperti Water Cube – Birdnest Stadium dan Gedung CCTV . Pembenahan lalulintas mencakup pembenahan jaringan kereta api dan jalan raya . Distrik fungsional didirikan untuk melayani fungsi-fungsi tertentu seperti bisnis , olimpiade dan iptek dan wacana kontroversial  Beijing menjadi pusat financial kedua setelah Shanghai.[1]

Artikel Terkait :

{module [201]}

Lokasi : Beijing

Owner : China Central Television

Architect : OMA [Office For Metropolitan Architecture]

Structure : Ove Arup

Floor Area : 389,080 m2 [44 Floor]

Year : 2004 - 2008.

Beijing mulai lambat berbicara mengenai pelestarian sejarah. Banyak bangunan-bangunan bersejarah yang dirobohkan, dan yang tersisa sekarang mulai diremajakan kembali. Kalangan yang pro modern menganggap usaha pelestarian sejarah hanya untuk nostalgia. Koolhas –Scheeren juga menghadapi permasalahan  dan tantangan kondisi Beijing terbaru yang sangat tidak sentimental, sama seperti jaman Mao sebelumnya. Sejarah disingkirkan demi perubahan. Walaupun demikian, Beijing tidak terdefinisikan dengan baik melalui perubahan yang dilakukannya; seperti Shanghai atau lingkungan buatan manusia di Dubai.  Ole Scheeren menyatakan bahwa Beijing sangat ingin mengesampingkan sejarahnya tetapi tidak ingin mengganti identitasnya.[2]

[Foto Ilustrasi : Iamdavidtheking , "CCTV New Building , 18 Agustus 2008 , This file is licensed under the Creative Commons Attribution 3.0 Unported license.]

Insiden terrorisme 9/11 di New York memunculkan  perdebatan mengenai gedung pencakar langit.  Dalam sikon itu pula di awal tahun 2002 , kantor Rem Koolhas menerima dua undangan. Satu undangan datang dari  “Ground Zero” New York.[3] Undangan yang lain datang dari proyek CCTV Headquarters  Beijing. Di tahun 2005 , Koolhas mengungkapkan  bahwa kondisi “Ground Zero” tidak tepat untuknya. Koolhas memilih Beijing.[4][5]

CCTV Headquarters 中央电视台总部大楼 adalah sebuah megaproyek yang kontroversial . Sebagai stasiun televisi yang dimiliki pemerintah , CCTV secara tradisional dianggap sebagai corong maupun simbol Partai Komunis Tiongkok. Penyelenggaraan kompetisi design  internasional ini menunjukkan sikap keterbukaan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok  dalam upaya untuk meraih kepemimpinan budaya global.

Salah satu juri kompetisi  , Nicholas Jencks menjelaskan bahwa gedung CCTV harus menjadi sebuah landmark , paling tidak mendekati status tinggi yang dicapai arsitek  Frank Gehry melalui karyanya di Spanyol , Guggenheim Museum Bilbao yang sangat fenomenal. Koolhas dalam presentasinya yang menekankan fakta bahwa masa depan , kawasan bisnis di Beijing akan dihuni 300 bangunan pencakar langit maka bangunan 301 tentu saja merupakan satu gaung yang redup , bukan suatu landmark yang diinginkan. Jencks menyukai gagasan Koolhas karena merupakan satu bangunan  ikonik yang mempesona.[6]

Bangunan ini rencananya akan terletak di kawasan utara Beijing , dipersimpangan Chang’an Avenue dan Third Ring Road meliputi empat blok kawasan seluas 180 ribu meter persegi. Terdiri dari dua bangunan utama , CCTV dengan fasilitas produksi acara televisi dan TVCC dengan fasilitas rumah sakit dan hotel.   Pada akhir tahun 2002 , Komisi  mengumumkan Rem Koolhas sebagai pemenang kompetisi.

[Foto Ilustrasi :Dmitry Fironov , "CCTV / CCTV Headquarters" , 30 Januari 2010 , Public Domain]

Koolhas terbang ke Tiongkok dan menghadiri salah satu universitas bergengsi –Qinghua  University—dimana dia membujuk “massa” akademisi  yang penuh dengan kengintahuan bercampur kecurigaan dan semangat anti-Amerika dalam design arsitektur. Koolhas menjawab berbagai kritik dan tantangan dari sejumlah akademisi Tionghua yang berkeberatan dengan rancangan bangunan yang dinilai terlalu futuristik . Akhirnya pada tahun 2003 proyek CCTV telah di konfirmasi .

What attracts me about China is that there is still a state. There is something that can take the initiative of a scale and of a nature that almost no other body that we know of today could ever afford or even contemplate – Koolhas[7]

The Chinese love the monumental ambition. They hate the monumental price tag – and the “foreign” design. A portfolio of the grand ideas and grim realities behind the contentious new vision for CCTV –Koolhas [8]

Konstruksi CCTV Headquarters sudah lebih dahulu terkenal sebelum gedungnya terwujud. Struktur raksasanya dari baja dan kaca, memaknai kembali istilah pencakar langit; menggunakan ukuran yang tidak mendominasi tetapi merangkul pengamatnya. Gedung ini akan memuat lebih banyak ruang kantor dibanding gedung lain di seluruh Tiongkok dan hampir seluas Pentagon. Cukup pendek dalam kategori gedung pencakar langit, karena hanya memiliki 51 lantai.

Dilihat dari kejauhan gedung ini seperti gerbang raksasa, dengan wujud lengkung tak terputus layaknya donat persegi empat. Kedua sisi vertikal berisi kantor-kantor, keduanya terlihat saling mendekati dan dihubungkan dengan 2 bagian horisontal yang berisi ruang-ruang fasilitas dan produksi. Bagian horisontal ini salah satu berada di lantai dasar, dan yang lain menjadi ‘jembatan langit’nya. Ketika melihat lebih dekat, masing-masing bagian horisontal terdiri dari 2 bagian yang bertemu di satu sudut. Sisi bagian atas yang berlantai 13 tergantung di langit terbuka, 162 meter dari permukaan bumi, dan kelihatan seperti tangan robot yang meraih keluar.

[Foto Ilustrasi :Bostonalejandro , "Beijing's CBD showing both the CCTV towers and China World Tower 3 near completion" , 14 Juli 2008 , Public Domain]

Bentuk yang sama sekali baru ini dijuluki oleh penduduk Beijing sebagai ‘si gempal’. Perlu waktu memahami gedung ini karena tampilannya berubah2 selagi manusia melewatinya. Ole Scheeren menyatakan bahwa kadang gedung ini terlihat besar, kadang kecil; dari beberapa sisi terlihat kuat tetapi di sisi lain terlihat ringkih. Gambarannya selalu dinamis.[9]

Menilik karya-karya Koolhaas yang lain, dapat diperkirakan bangunan ini merupakan hasil keahlian arsitektur yang mencerminkan kemegahan monumental yang tenang. Hal ini sebagian berasal dari pemilihan warna abu-abu muda pada kaca yang memantulkan langit Beijing dengan baik. Di sekeliling kaca terlihat rangka baja diagonal, garis-garisnya semakin tebal di bagian penopangnya sehingga dapat menahan beban yang semakin meningkat. Scheeren memiliki visi suatu saat kaca bagian luar bangunan akan menyatu dengan warna abu-abu langit Beijing, dan menyisakan kerangka hitam baja.

Disisi lain , proyek vital CCTV yang selama ini dianggap sebagai symbol dan corong pemerintahan komunis –diadakan kompetisi internasional untuk itu—menandakan keterbukaan dari pemerintah Tiongkok yang selama ini dinilai kaku. Keterbukaan adalah prasyarat bagi satu negara untuk mengakumulasikan talenta dan potensi terbaik dari seluruh penjuru dunia untuk berkarya di negaranya. Dalam perspektif khusus , mengalirnya arsitek kelas dunia ke Tiongkok memberikan kesempatan bagi arsitek lokal untuk mendapatkan “kuliah” gratis di “halaman depan rumah” mereka.

CATATAN KAKI :


[1] www.cnd.org , Oktober 2003

[2] Paul Goldberger , 2008

[3] Ground Zero adalah lokasi World Trade Center yang hancur karena serangan 11 September

[4] . Koolhas , 2005 . Koolhas merasa bahwa kondisi bagi WTC tidak tepat. Sangat jelas dalam konteks orang Amerika adalah membuat satu monument yang akan didedikasikan untuk WTC. Disisi lain , Koolhas merasa bahwa tidak ada bedanya dari bisnis ala Amerika , disisi lain ada Libeskind , grup Foster dan Skidmore yang siap untuk itu

[5] Nicolai Ourousoff , 2011

[6] Donald McNeill , p140

[7] ibid

[8] Beijing Manifesto

[9] Paul Goldberger , 2008


 

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1624-cctv-building-rem-koolhas--ole-scheeren

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto