A+ A A-

Makna Simbolik Makanan Imlek

  • Written by  Mang Ucup
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Hari Raya Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar ritual tahunan biasa dan
budaya saja, tetapi juga merupakan budaya yang sekaligus menyatu dengan  kepercayaan, walaupun demikian bagi mereka yang berbeda agama, maka mereka  bisa turut merayakan hanya dari sudut budayanya saja. Disamping itu tidak  ada salahnya untuk menambah wawasan pengetahuan kita mengetahui makna  simbolik dari hidangan makanan yang disajikan pada hari raya tersebut. Sama
seperti makanan untuk upacara adat atau keagamaan lainnya, makanan khas  Tahun Baru Imlek juga sarat dengan berbagai macam makna simbolik.

Artikel Terkait :

{module [201]}


Berdasarkan kepercayaan orang-orang Tionghoa yang kaya pada umumnya selalu  menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue yang mewakili  lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Hidangan yang dipilih biasanya  hidangan yang mempunyai arti yang berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur,  kebahagiaan maupun keselamatan. Walaupun demikian bagi mereka yang tidak  mampu maka cukup dengan makan mie panjang umur (siu mie) dan minum arak,  tetapi ini hanya berlaku untuk mang Ucup saja, maklum arak itu adalah minum  wajibnya Mang Ucup setiap hari.

Saat merayakan tahun baru Imlek kebanyakan orang Tionghoa membuat Samseng  yang terdiri dari tiga jenis macam  binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi.

Tujuan dibuatnya Samseng tersebut adalah sebagai perlambang sifat dari  hewan; agar kita sebagai manusia tidak meniru sifat yang dilakukan oleh  ketiga jenis binatang tersebut. Babi pemalas, karena kerjanya hanya makan  dan tidur. Ayam yang suka pindah-pindah pada saat makan, sehinggga ketika  makanan yang ada didepan matanya belum habis pun  sudah mau pindah lagi ke
tempat lain atau melambangkan sifat yang serakah. Lain halnya dengan ikan  bandeng, karena kulit ikan itu bersisik maka ini bisa diumpamakan seperti  seekor ular, dengan pengertian agar kita jangan berlaku jahat pada orang  lain seperti ular.

CATATAN MODERATOR : Samseng lebih berkaitan dengan tiga alam yaitu Langit, Bumi dan Air.  Dimana karena 3 alam inilah kita bisa hidup. Dalam Buddhism yang berkembang sekarang ini, ada beberapa orang yang  mengkaitkan dengan lobha, dosa dan moha seperti yang hendak sdr.Ucup sampaikan secara tersirat. Tapi pada awalnya adalah berkaitan dengan 3 alam. Binatang yang  merepresentasikan 3 alam itu dipersembahkan kepada Yang Tertinggi  yaitu dalam konteks pandangan orang Tionghoa adalah 3 unsur alam.  Tianguan Diguan Shuiguan atau yang sering kita kenal Samkoan  Siangtee atau Sanguan Shangdi.Saya menggunakan istilah ShangDi memang disengaja agar orang tidak selalu beranggapan Shangdi adalah  Tuhan. Kesalahan pengertian kata Shangdi ini memang sudah teramat parah,  bahkan dalam kamus zhongwen modern yang saya miliki juga diartikan  Tuhan.  Memang secara umum istilah Dadi ini lebih dikenal luas.  Misalnya Zhenwu Dadi atau Xiantian Shangdi. Mayoritas kelenteng selalu ada altar 3 raja penguasa alam itu dan  saya pernah menuliskan mengenai Sanguan Dadi

Namun ada juga yang menghubungkan ikan sebagai perlambang rezeki, karena  dalam logat Mandarin kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti  rezeki oleh sebab itulah dibanyak restoran Tionghoa terutama di Holland  selalu ada aquarium ikan ikan mas yang melambangkan rejeki yang dilumuri  dengan emas yang berjibun.

Disamping itu seperti juga pada saat merayakan pesta HUT; mie juga merupakan  satu makanan wajib, sebab mie itu melambangkan panjang umur terutama Siu Mie  / Shou Mian = "Mie pajang umur". Mie ini harus disajikan tanpa putus dari  ujung awal ke ujung akhir jadi benar-benar merupakan satu utaian mie, sebab  dengan demikian diharapkan umur kita pun tidak akan putus2nya alias manjang  terus. Walaupun demikian pada saat mau disantap mie tersebut boleh dipotong,  maklum apabila saatnya tiba toh akhirnya usia manusia tersebut akan putus  juga.

Kueh Keranjang atau Nian Gao atau lebih sering disebut kue kranjang (tii  kwee) adalah kue wajib imlek. Kue ini mendapat nama dari cetakannya yang  terbuat dari keranjang. Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan  juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering  disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna  peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya  atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.  Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di  bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak
dan mekar seperti kue mangkok.

Kue-kue yang disajikan pada hari raya tahun baru Imlek pada umumnya ada jauh  lebih manis daripada biasanya, sebab dengan demikian diharapkan di tahun  mendatang jalan hidup kita bisa menjadi lebih manis lagi daripada di  tahun-tahun sebelumnya.

Kue wajib lainnya adalah kue lapis legit (spekkoek) sebagai pelambang  datangnya rezeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang  akan datang, sehingga dengan demikian bisa dapat merasakan kehidupan yang  lebih lebih manis dan lebih legit lagi. Kue lapis legit yang sering juga  disebut sebagai "Thousand Layer Cake", walaupun memang benar menggunakan  mentega dari Belanda (roomboter), tetapi orang-orang di Belanda nya sendiri,  mereka tidak mengenal kue itu. Mungkin perkataan "spek" ini diambil dari  bahasa Belanda yang berarti lapisan lemak babi (bacon = bhs Inggris), karena  bentuknya mirip spek.

Buah-buahan wajib yang sudah pasti adalah pisang raja atau pisang mas yang  melambangkan mas atau kemakmuran. Begitu juga dengan jeruk kuning dan  diusahakan yang ada daunnya sebab ini melambangkan kemakmuran yang akan  selalu tumbuh terus. Sedangkan tebu melambangkan kehidupan manis yang  panjang. Walaupun demikian harus dihindari buah2an yang berduri seperti
salak atau durian, terkecuali nanas karena namanya Wang Li yang ucapannya  mirip dengan kata Wang (berjaya) disamping itu nanas juga bisa dilambangkan  sebagai mahkota raja.

Selain buah2an dianjurkan juga untuk makan manisan seperti kolang kaling  agar pikiran bisa menjadi jernih terus dan juga agar2 yang sebaiknya  disajikan dalam bentuk bintang agar kehidupan maupun jabatannya dimasa yang  akan datang bisa menjadi lebih terang dan bersinar.

Selain makanan yang wajib disajikan ada juga makanan yang sebaiknya  dihindari atau dipantangkan seperti bubur, sebab ini melambangkan kemiskinan  atau kesusahan. Maklum pada saat musim  kelaparan di Tiongkok mereka tidak  bisa menyajikan nasi. Disamping itu makanan-makanan yang berasa pahit  seperti pare dan fumak sebaiknya ini juga dihindari sebab makanan tersebut  melambangkan kepahitan hidup.

Apabila Anda ingin membaca lebih banyak lagi mengenai China maupun budayanya  silahkan simak di www.budaya-tionghoa.net atau bergabung menjadi member  mailist di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

Wang U Chup - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian
Email: mang.u...@gmail.com
Homepage: www.mangucup.net

 

Budaya-Tionghoa.Net| Mailing List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1665-makna-simbolik-makanan-imlek

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto