A+ A A-

Nian Gao Atau Kue Keranjang

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Kue ini merupakan sajian wajib di hari Imlek. Dia mendapat nama dari cetakannya yang  terbuat dari keranjang bambu . Bungkusan kue ini terbuat dari daun pisang agar lebih nikmat . Daun pisang di taruh didekat bara api atau diasapi supaya lentur , mudah dilipat dan tidak mudah sobek. Dengan daun pisang ini aroma kue keranjang bisa lebih harum.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Kue Keranjang di Tiongkok lebih dikenal sebagai Niangao yang terbuat dari nasi lengket. Niangao ini bisa dimakan sepanjang tahun , tetapi perannya menjadi sangat penting di hari Imlek. Kata "nian" berarti lengket yang bunyinya mirip dengan "nian" 年 yang artinya tahun. Kata "gao" 糕 berarti kue berbunyi mirip dengan "gao" 高 yang artinya tinggi. Oleh sebab itu kue keranjang sering  disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna  peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya  atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.  Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di  bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak  dan mekar seperti kue mangkok.

[Foto Ilustrasi : Warung Ophoeng Ajah Jeh , http://www.facebook.com/groups/budaya.tionghoa/10150540154407436/, 18 Januari 2011]

 

Kue-kue yang dihidangkan lebih manis daripada biasanya dipercaya dimaksudkan agar tahun mendatang menjadi lebih manis , LA DOLCE VITA. Sebagai tambahan bisa disajikan juga kue lapis sebagai perlambang keberuntungan yang berlapis-lapis. Kue Keranjang dipercaya untuk "menyogok" Dewa Dapur dengan tujuan agar mulut beliau "terperangkap" pada kue dan tidak bisa melaporkan keburukan-keburukan manusia kepada Yuhuang Dadi.

Kue Keranjang sering disebut dengan Dodol Keranjang. Padahal ada perbedaan diantara keduanya. Dodol menggunakan bahan gula merah atau gula aren dalam pembuatannya , dibentuk panjang-panjang dan dibungkus plastik , seperti yang juga dikenal dikalangan orang Betawi. Sementara Kue Keranjang tidak memakai gula merah , gula kawung ataupun gula aren , melainkan gula pasir. Proses ini bisa dilihat di spesialis pembuat Kue Keranjang seperti misalkan Kue Keranjang Nyonya Lauw di Pintu Air , Benteng , Tangerang.

Dibandingkan dodol , kue keranjang lebih tahan lama dan bisa bertahan lama. Dalam kasus tertentu , kue keranjang bisa bertahan lebih dari setahun dengan kondisi agak keras daripada sebelumnya dengan rasa yang tidak berubah.

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1669-nian-gao-atau-kue-keranjang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto