A+ A A-

Sastra di Zaman Tiongkok Dulu

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Periodesasi kejayaan sastra di Tiongkok, ditandai dengan zaman dinasti Tang ( 518 - 906 ). Zaman itu sering disebut zaman-emasnya-sastra. Menurut catatan sejarah, pada zaman itu ada sejumlah 2200 penyair dan telah menghasilkan 50.000 puisi.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Ini baru yang tercatat. Banyak yang belum tercatat ketika itu. Menurut profesor Sapardi Djoko Damono - yang juga seorang penyair terkemuka Indonesia -, katanya seluruh puisi yang dihasilkan Tiongkok jauh lebih banyak dari seluruh puisi dari seluruh bangsa di dunia ini digabung menjadi satu!

Perkiraan ini sangat masuk-akal, sebab jumlahorang Tiongkok memang banyak dari bangsa manapun di dunia ini.Lalu pada masa dulu itu, seseorang yang bercita-cita mau menjadi pegawai negeri - pejabat negara - haruslah melalui ujian negara.

Dari seluruh bagian wilayah Tiongkok yang luas itu, seseorang harus menempuh ujian dulu - dan harus lulus dulu, sebelum menjadi pegawai negeri dan abdi negara. Di antara mata-ujian itu yang paling penting yalah tentang sastra - dan sastra ini sastra klasik - dan yang terpenting adalah puisi.

Bisa menguraikan puisi, bisa memahami arti puisi dan bahkan akan lebih afdol bisa berpuisi dari pikiran dan perasaan sendiri. Ketika itu seseorang terpelajar dan kaum intelektuil, barulah dapat dikatakan demikian, pabila sudah memahami dan pandai bersastra dan juga lulus ujian negeri


Untuk lulus ujian negeri, zaman itu sangat tidak mudah. Seseorang yang tinggalnya sangat jauh dari ibukota negara, harus pergi dan berangkat ke ibukota negara hanya buat menempuh ujian negara. Beruntunglah kita zaman sekarang, yang di Aceh atau Papua atau Merauke, tidak perlu ke Jakarta kalau hanya mau ujian negeri terakhir. Banyak cerita - puisi - roman - novel yang menuliskan pengalaman selama berjuang menempuh ujian negara ini. Banyak yang sudah dijadikan drama - sandiwara - dan sangat menarik. Dan karena memang amat sulit buat mendapatkan "diploma" atau sebutan sudah sah dan sudah lulus dari ujian negeri, maka seseorang yang sudah berhasil sukses itu, merasa sangat senang berbahagia - bahkan tentu ada yang merasa sangat hebat dan punya kesombongan tertentu,- wajarlah sebagai manusia biasa -.

Ada anekdot begini. Seseorang muda baru lulus ujian negara, lalu pulang ke kampunghalamannya, buat mengabarkan dan mengadakan syukuran di tengah keluarganya dan orang-orang sekampungnya. Orangtuanya yang petani di kampungnya itu beramai-ramai saling bantu buat mengirimkan anaknya - orang muda tadi - buat berjuang menempuh ujian negara. Dan sekarang dia pulang dengan sukses. Untuk tak lama lagi dia akan diangkat menjadi pegawai negeri dan abdi negara. Ketika dia dengan kedua orangtua- nya makan bersama, di mana terhidang banyak makanan lezat, seperti ayam
panggang dan ikan-bandeng dan daging melimpah, bapaknya bertanya : "apa saja pengalamanmu selama menempuh ujian dan apa saja yang kau dapatkan dari semua pelajaran itu?"

"Wah banyak sekali, pak! Sulit buat mengatakannya di depan orang-orang sederhana dan yang tidak ada dasar kuat pendidikannya. Tetapi ada contoh yang mudah-mudahan bapak mampu memahaminya. Begini, yang ada di de- pan kita ini, menurut penglihatan orang banyak - seperti bapak dan mama,
itu adalah panggang ayam. Ini namanya ayam kongkrit. Tetapi dalam pikiran orang-orang berpendidikan tinggi, di dunia ini tidak hanya ada yang kongkrit saja. Tidak hanya ada yang dapat dilihat saja. Tetapi ada ayam abstrak. Nah, itu artinya ada ayam yang tak kelihatan - ada dalam bayangan kita - ada dalam imajinasi kita. Jadi kalau bagi bapak dan mama, hanya bisa melihat ayam yang ini yang di depan kita ini saja. Yang ayam abstrak mungkin sangat sulit bagi bapak dan mama mampu mengertikannya - tidak seperti saya ini misalnya selalu ada yang kongkrit dan juga selalu ada yang abstrak...." Dia berhenti sebentar, lalu menanyakan kepada bapak dan mamanya.

"Paham tidak apa yang saya jelas-terangkan itu....? Bapaknya agak tersendat, "Ya,ya, paham juga. Kalau begitu. begini sajalah......kami berdua mamamu makan ayam yang kongkrit saja, kamu makan yang abstraknya........", sambil bapak dan mamanya bangkit dan berlalu sambil membawa hidangan ayam yang masih berasap karena masih agak panas. Dan mereka makan ayam kongkrit itu berdua..................

Sobron Aidit , Holland,- 10 maret 04,-

Catatan Admin : [Seri Tulisan Untuk Mengenang Sobron Aidit Dapat Anda Telusuri di Section Writing dan Kategori Sobron Aidit ]


Budaya-Tionghoa.Net |

Tautan Internal :

  1. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1310
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/168-sastra-di-zaman-tiongkok-dulu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto