A+ A A-

Chan atau Zen Buddhisme

  • Written by  Dr. Han Hwie Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Zhuang Zi mengatakan waktu beliau berdiskusi dengann temannya Hui Shi:”ikan hidup di laut, sungai dan danau, tetapi mereka tidak sadar tentang ini. Manusia hidup dalam lingkungan dan hukuk-hukum Tao, juga mereka tidak sadar tentang ini. Dapat dikatakan bahwa ikan, hewan dan manusia hidup dalam lingkungan Tao (Chan atau Zen), tetapi tidak sadar apa artinya Tao/Zen.

Zen sukar di terjemahkan ada yang mengatakan Zen itu adalah kehidupan, ada pula yang mengatakan bahwa Zen adalah Pembebasan dan yang terachir ini hanya bisa didapat kalau manusia membebaskan kepentingan sendiri. Waktu Buddhisme masuk ke Tiongkok, agama ini tidak ditrima oleh rakyat Tiongkok, karena dianggap asing. Sesudah teori, kultur Buddhisme dimasuki oleh kultur taoisme dan konfucianisme baru ditrima oleh rakyat Tiongkok sebagi agama.Buddhisme ini dinamakan Chan Buddhisme di Tiongkok dan di Jepang dinamakan Zen Buddhisme, tulisan Tionghoanya sama namun suaranya lain. Kalau confucianisme mengatakan seorang yang komplit adalah Qunzi, dalam Chan Buddhisme dikatakan tentang Buddha. Seorang Buddha ada seorang manusia yang komplit atau seorang manusia yang komplit adalah Buddha. Untuk mencapai Buddha orang dapat mencapainya dalam satu penghidupan saja, kalau dia betul betul berdedikasi dan melakukannya dengan baik menuju kesana.Teori-teori Chan Buddhisme kadang
kadang komplex dan susah dimengert, ini mencerminkan kompleksnya kehidupan dan proses penghidupan manusia. Baik Lao Zi maupun Zhuang Zi mengatakan bahwa untuk mengerti tao, kita harus mengosongkan dahulu pikiran-pikiran ilmu pengetahuan kita dan lalu mengisinya tao dengan hati yang jujur.Juga ide ini dapat kita baca dalam Zen Buddhisme.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Dengan artikel ini aku ingin disini menerangkan tentang hidup dan mati, karena persoalan Buddhisme ini kadang-kadang sukar untuk dimengerti, tentunya dalam tulisan aku ini ada banyak kekurangan, maka apabila ada seorang kolega netters yang pengertiannya banyak tentang Zen Budhisme sudilah kiranya dimaafkan dan saya akan bertrima kasih kalau tulisan saya ini dimana tidak cocok dikoreksi.Dimasa kecilku, aku setiap hari sembahyang pada Dji lai Hoed ( Shakyamuni Buddha) dan Dewi Guan-Yin, tetapi aku harus minta maaf bahwa akupun kurang pengertian tentang Chan Budhisme yang aku setiap hari menghormat.


Marilah kita bersama mencoba menganalisa tentang ada tidaknya paradise (sorga) dan hell (neraka).

Pada satu hari Shakyamuni Buddha duduk dipinggir sumur di sebuah taman, beliau melihat kebawa, beliau melihat seorang menjerit minta tolong karena tidak tahan hidup di neraka. Shakyamuni Buddha mengatakan pada dirinya:”orang ini semasa hidupnya membuat banyak kejahatan, membunuh dan apa yang dibuatnya dahulu selalu kejahatan. Karenanya dia dimasukkan di neraka sesudah meninggal dunia. Tetapi pada suatu hari dia kebetulan berbaik hati dan menhindari menginjak seekor laba-laba (kolomonggo).” Buddha lalu berkata:” baiklah aku menggunakan kekuatan dari laba-laba yang kecil ini untuk menolongnya dari penderitaannya.” Shakyamuni Buddha lalu menurunkan tali kehidupan laba-laba dari sorga turun kebawa. Orang yang jahat itu lalu naik diikuti serta oleh orang banyak yang lain. Orang yang jahat ini berkata:” tali penghidupan laba-laba ini adalah kepunyaanku, kalian jangan ikut serta. Jika kalian semua ikut tali penghidupan ini akan putus.” lalu dia mengambil pisau dan memotong tali penghidupan yang berada dibawa dia . Semua orang berjatuhan dan dia achirnya juga jatoh. Karena dilepas oleh Shakyamuni Buddha dan beliau berlalu dari sumur. Shakyamuni Buddha berkata: ” Sifat yang jahat dari orang itu tetap masih tidak berobah, maka kebaikan yang kecil yang dia pernah kerjakanpun tidak menolongnya.”

Waktu seorang Chan master GudoToshoku ditanya oleh raja Jepang Goyozei:” apakah seorang yang sudah mendapatkan enlightenment, kalau meninggal akan ke sorga?” Zen master menjawab:” saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak tahu.”. Lalu raja bertanya pula:” anda seorang guru Zen mengapa anda tidak tahu?” dijawab oleh Gudo Toshoku:”saya belum meninggal dunia, bagaimana saya dapat memberi jawaban.”

Suhu (orang Tionghoa menyebut Chan/Zen master) Zhaozhou dari kelenteng Guanyin disebuah desa, dekat Beijing pernah mengatakan bahwa:”untuk dapat mengerti tentang hidup dan mati, orang harus mencari dari pandangan diri sendiri, orang lain tidak dapat memberi menjelaskan padamu.”

Seorang intelektual Zhangzhou bertanya pada suhu Chan, Xitang Chizang dari Tang dinasti: “dapatkah anda memberi keterangan apakah didunia lain ada sorga dan neraka?” Xitang Chizang menjawab:”menurut saya ada.” Lalu dijawab oleh Zhangzhou:”Ku rasa jawaban anda tidak benar, sebab menurut suhu Qinshan Wensui, semua itu tidak ada.” Suhu Chan lalu bertanya:”tuan Zhangzhou, berapakah keluarga anda?”
Dijawabnya: “saya mempunyai seorang istri dan dua anak.” Suhu Xitang lalu berkata:”Qinshan adalah seorang suhu Chan, beliau tidak mempunyai keluarga. Anda berkata pada saya dari sudut pikiran seorang yang berkeluarga, anda seharusnya berstatus seperti suhu Qinshan untuk dapat mengatakan bahwa tidak ada paradise dan hell.” Ini berarti bahwa jawaban mengenai ada tidaknya kedua tempat itu tergantung dari keadaan seorang, apakah dia berkeluarga atau tidak.

Seorang opsir tentara Jepang bertanya pada suhu Zen Hakuin Ekaku:”dapatkah anda memberi keterangan apakah benar ada sorga dan neraka didunia lain?”
Suhu Zen lalu bertanya:”apakah pekerjaan anda?” Opsir itu menjawab aku ini adalah seorang jendral tentara.” Suhu Zen lalu ketawa dan berkata:”haha, siapakah orang yang begitu tolol mau mengankat seorang jagal babi sebagai jendral?” Jendral itu marah sekali dan berkata:”kau kepala gundul berani mengatakan demikian, menghina aku. Aku gebuk kepalamu sampai mampus” dan mengangkat tangannya akan memukul suhu Zen. Si suhu langsung berkata dengan tenang dan bersenyum:”nah, sekarang ini pintu neraka terbuka bagi anda.” Jendral itu menjadi tenang dan berkata:” maafkanlah aku atas tingkah laku aku yang kasar ini.” Lalu sisuhu bersenyum dan berkata:”nah, sekarang pintu sorga terbuka bagi anda.”

Cerita dan tanya jawab ini semua tidak memberi kepastian adanya kedua tempat, maka menurut saya ini mencerminkan adanya dualisme dalam penghidupan manusia, yin dan yang, adanya untung dan rugi, baik dan jahat, paradise dan hell etc. dari tanya dan jawab itu dapat saya simpulkan sebagai berikut:

  1. Menurut Buddhisme dari India, paradise dan neraka itu ada di dunia yang lain, orang yang jahat akan dikirim ke neraka dan orang yang baik dikirim ke sorga.
  2. Menurut Zen/Chan Buddhisme bahwa sorga dan neraka bukanlah tempat tempat dimana seorang harus kesana sesudah mati, tetapi tempat-tempat itu adalah disini dan sekarang (here and now)! Baik dan jahat adalah semua di pikiran seseorang, dan pintu sorga atau neraka akan terbuka bagi anda pada setiap waktu tergantung dari apa yang anda kerjakan.
  3. Untuk dapat mengerti tentang hidup dan mati, tergantung dari perseorangan masing masing. Orang lain tidak dapat menjawab pertanyaan tentang ada atau tidaknya kedua tempat itu, karena orang yang ditanya tidak mengetahui dengan jelas keadaan orang yang tanya. Setiap orang tidak luput dari kesulitan dan kesenangan yang satu lebih hebat dari yang lain. Dan problema ini tidak jelas bagi orang lain. Seorang suhu Chan mempunyai keluarga, mereka tidak boleh menika; karenanya tidak mempunyai kesulitan hidup, bagi beliau tidak ada paradise dan neraka. Orang yang berkeluarga bisa mendapatkan kesusahan akibat problema problema dari keluarganya, karenanya dia hidup dalam neraka pada waktu itu (the here and now, not after death) dan dalam sorga kalau sedang hidup dalam harmoni dengan keluarganya.
  4. Kalau hidup, hidup itu adalah segala-galanya bagi seseorang, maka nikmati sebisanya penghidupan itu. Kalau meninggal, orang tidak dapat bicara dan menjawab, dan keadaan kematian itu adalah tetap segala-galanya.
  5. Kalau kita percaya adanya reinkarnasi, maka manusia yang meninggal dunia akan dihidupkan lagi dalam keadaan dan situasi yang lain tergantung dari cara kehidupannya sebelum mati. “Percobaan” atau kita katakan “pendidikan” ini dapat dilakukan berkali kali sampai orang menjadi manusia yang komplit atau qunzi atau orang yang telah mendapatkan enlightenment baru dia tetap tinggal di sorga dan tidak diturunkan lagi.Hidup didunia ini adalah masa percobahan bagi seseorang. Dengan demikian dalam hal ini apakah neraka itu berada di dunia?
  6. Kami mengetahui bahwa banyak kejadian kejahatan, pencurian, perampokan adalah disebabkan karena kelaparan dan kebanyakan dari mereka juga tergolong orang yang kurang mendapatkan pendidikan. Orang yang kelaparan ini kebanyakan menjadi panik dan untuk mempertahankan penghidupannya dan keluarga mereka “terpaksa”harus mencuri dan achirnya merampok. Bagaimana peneyelesaianya bagi orang orang ini? Aku ingat, aku pernah membaca bahwa ada seorang yang berbudi bernama A, pada satu hari dia jatoh pingsan, karena tuan A sudah beberapa hari tidak makan apa apa. Kebetulan ada seorang, B namanya, karena kasihan pada A dia diberi makanan oleh seorang yang A tidak kenal. Untuk bertrima kasih A tanya pada B siapa penolongnya ini. B mengenalkan dirinya dan A berkata: “apakah anda seorang perampok?” B menjawab: “saya seorang yang karena miskin menjadi perampok, pekerjaan ini aku lakukan karena terpaksa.” A lalu merasa kegetunan menerima makanan yang B berikan dan mengeluh mengapa dia tidak bertanya dahulu siapa penolongnya itu. Dia berusaha sekeras kerasnya memuntahkan semua, sambil merebahkan ditanah karena lemah dan melogok logok mulutnya dengan derijinya. Achirnya semua makanan yang tadi keluar juga dan karena tidak makan A meninggal dunia. Memang kriminil adalah tetap kriminil meskipun dilakukan karena kemiskinan, namun apakah makanan yang diberikan dengan baik budi oleh seorang kriminal juga kriminal?
  7. Dualisme ini timbul apabila kita membandingkan benda benda atau manusia yang satu dengan manusia yang lain yaitu: barang antik dan modern, berlian dan batu buatan, baik dan jahat, cantik dan jelek, kapitalis dan buruh, kepandaian dan ketolollan, kaya dan miskin, pribumi dan non pribumi, saya dan anda etc.. Karena membandingkan antar benda dan antar manusia maka timbullah perbedahan dan diskriminasi. Karenanya didalam penghidupan masyarakat tidak dapat damai, tidak ada saling respek dan toleransi, golongan yang satu menekan yang lain bahkan dengan kekerasan. Kemajuan negara dalam ekonomi dan penghidupan sosial-kulturil dan politik terganggu. Maka baik dalam Taoisme maupun dalam Chan Buddhisme dianjurkan untuk jangan membandingkan antar saya dan anda, dalam Chan Buddhisme disebut juga antara tuan rumah (Suhu Chan, kepala dari sebuah kelenteng) dan tamu, biasanya untuk membedahkan antar anda dan saya.


***
Dr. Han Hwie-Song

Moliet-Sur-Plage, Perancis 8-8-2004


Budaya-Tionghoa.Net |

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/174-chan-atau-zen-buddhisme

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto