A+ A A-

Perceraian Dalam Budaya Tionghoa

  • Written by  Yu Yongde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Keharmonisan hubungan suami dan istri sangatlah ditekankan dalam ajaran Confucius. Kedudukan seorang perempuan kelihatannya menduduki sifat Yin yang mana lebih bersifat menuruti seorang Suami. Tentunya dalam era kehidupan saat ini, telah tercatat banyak sekali perempuan yang menunjukkan emansipasinya dalam ikut berperan serta memajukan kehidupan suatu negara. Perlu juga kita sadari, di sisi lainnya, bahwa sebagai seorang perempuan yang melahirkan anak-anaknya, kiranya peran sebagai seorang ibu rumah tangga juga tidak begitu saja dapat diabaikan. Kedekatan seorang ibu terhadap anak-anaknya sangatlah memegang peranan dalam perkembangan moralitas anaknya tersebut. [Hengki Suryadi , 699]

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Suami menghargai dan melindungi istri, istri mematuhi suami dalam segala masalah, pendapat istri harus dihargai dan dipertimbangkan, namun keputusan akhir ada di tangan suami, selama suami masih bisa berfungsi normal sebagai kepala rumah tangga, normal dalam arti sehat badan dan rohani (yang tidak masuk kategori ini misalnya: tukang mabok).

Dalam perceraian, seorang istri bisa meminta surat cerai dari suami, atau dari pengadilan setempat. Sedangkan perkawinan dalam budaya tionghua adalah hal yang sangat penting, setara dengan kelahiran dan kematian, perkawinan bagi budaya tionghua adalah sesuatu yang suci dan luhur, dilakukan di depan orang tua, leluhur, langit dan bumi.

Dalam budaya Tionghua, terjadi pembagian tugas, division of labour, seorang suami bertanggung jawab mencari nafkah, seorang istri bertanggung jawab mengurus keluarga dan mendidik anak. Tentu saja ini untuk keadaan normal, bukan misalnya untuk keadaan single parent.

Dimasa sekarang ,  orangtua berbicara hanya di mulut, tapi melupakan memberi contoh nyata kepada anak, ini yang seringkali terjadi, makanya di awal-awal saya tulis, ini bukan hanya untuk anak kecil, kesalahan pendidikan Di Zi Gui pada masa sekarang ini adalah fokus kepada anak kecil, orang tua juga harus dididik; mengenai program welfare state dan pension fund / retire plan itu tergantung kembali ke negara dan budaya masing-masing, jangan harap ada program seperti itu di sini dalam waktu dekat, di Eropa saja sekarang lagi potong anggaran ini gara-gara mereka lagi pusing masalah uang ,  kembali lagi ke pilihan masing-masing , mau budaya apa yang pilih ?

Dan yang terjadi sekarang ini adalah lingkaran setan, mayoritas orang tua sama sekali tidak mendapatkan pendidikan moral yang cukup, sehingga tidak bisa mendidik anaknya apalagi memberikan contoh, inilah apa yang terjadi sekarang, pilihannya adalah: mau ikut berlomba di dalam lingkaran setan atau memutus lingkaran setan itu ?

Itu sebabnya  dalam 5 hubungan sosial (Wu Lun) maka hubungan suami-istri yang terlebih dulu dibenahi, alias hubungan antar orang tua, kalau orang tua saja tidak harmonis, bagaimana mendidik anak dengan baik ? Harap dibedakan pendidikan agama dengan pendidikan moral / budi pekerti, pendidikan agama sama sekali tidak menjamin perilaku dan moral seseorang, contohnya nyata, lihat saja negara beragama seperti indonesia yang malah nomor satu korupsi dll

Persoalan kawin cerai ini bukan soal mitos atau agama, tapi masalah sipil, suami bisa menceraikan istri, istri bisa tuntut ke pengadilan kalau merasa diperlakukan tidak adil. Contoh kasus yang klasik itu kisah Judge Bao dan Chen Shimei yang menelantarkan istrinya, kalau kisah fiksi, kisah ini melambangkan tata susila sosial masyarakat Tiongkok.

Chen Shimei dalam kisah opera, seorang sarjana desa yang sudah berkeluarga, istrinya mencari nafkah untuk mendukung agar ia bisa ikut ujian kekaisaran.Chen Shimei kemudian lulus rangking pertama, dan oleh kaisar dinikahkan dengan putri kesayangannya, thus menjadi menantu kaisar. Ini terjadi karena Chen batinnya tertutup oleh jabatan dan harta.Istri Chen Shimei di desa kemudian datang ke ibukota dan mengadu ke pengadilan Bao Zheng, dan terjadilah kisah opera Chen Shimei di mana hakim Bao sekali lagi memancung kepala bangsawan (menantu kaisar). Chen Shimei (dalam ceritanya) telah berbohong kepada negara dan menelantarkan keluarga; kisahnya seingat saya sampe kaisar menurunkan titah pengampunan (dibawa oleh putri kaisar, istri barunya Chen Shimei), tapi udah terlambat, kepalanya udah pisah dari badan baru itu surat sampai.. salah satu versinya.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1772-perceraian-dalam-budaya-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto