A+ A A-

Dari Mana Datangnya Dinasti Tang?

  • Written by  John Kuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Sebelum melanjutkan terjemahan puisi-puisi Dinasti Tang, saya ingin menulis satu dua hal yang berhubungan dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan masa itu, catatan-catatan ini dapat dibaca sebagai lampiran untuk puisi-puisi Dinasti Tang yang pernah saya terjemahkan ataupun yang akan diterjemahkan. Catatan pertama ini akan menelusuri sepotong jalan yang cukup panjang menuju satu masa keemasan dalam sejarah Cina, yaitu Dinasti Tang

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Dari arah dan jalan mana Cina menuju Dinasti Tang? Sebagian besar cendekiawan berpendapat, hanya perlu mengikuti jalan budaya Cina yang sudah tersedia, cepat atau lambat pasti akan sampai di masa keemasan itu. Namun, kenyataannya mungkin tidak demikian. Jalan menuju jaman keemasan yang seperti Dinasti Tang memerlukan suatu kekuatan yang dashyat dan terbuka. Kekuatan ini juga pernah dimiliki Dinasti Qin dan Han, namun Dinasti Qin terlalu banyak menghabiskannya dalam intrik-intrik politik istana dan proyek-proyek raksasa, sedangkan Dinasti Han menghabiskannya dalam enam puluh tahun peperangan melawan suku Xiongnu di perbatasan, akhirnya dengan kesombongan dan kemewahan yang berlebihan telah menyebabkannya terpecah belah dan megap-megap. Walaupun Dinasti Wei ( 220 - 265 ) dan Dinasti Jin ( 265 - 420 ) terus berusaha menyusun kembali kekuatan melangkah ke arah terang, tetapi itu adalah sebuah jaman kegelapan, dengan setitik cahaya lemah dari para cendekiawan yang cenderung misterius seperti Tao Yuanming atau Wang Xizhi, bagaimana dapat menembus setapak yang gelap dan berkabut itu?

Jadi bagaimana dalam keadaan begini dapat menciptakan sebuah jaman yang megah seperti Dinasti Tang?

Kekuatan yang diperlukan untuk membuka sebuah jaman keemasan sudah tidak mungkin lagi dihasilkan istana ataupun dunia cendekiawan, kekuatan itu hanya mungkin berasal dari alam terbuka. Kekuatan alam terbuka, juga dapat disebut kekuatan liar, sesuatu yang belum menyentuh peradaban. Apakah mungkin suatu kekuatan liar dapat ikut membangun sebuah puncak kebudayaan besar? Ini sangat tergantung apakah dia dapat dengan cepat memasuki peradaban. Seandainya demikian, maka kekuatan liar itu akan dapat menopang seluruh peradaban yang dimasukinya.

Tepat pada waktu itu Cina mendapat satu kekuatan liar begini, kekuatan ini berasal dari Donglu, bagian paling utara Pergunungan Khingan Agung di daerah Mongolia. Di sana hidup orang-orang nomaden yang disebut suku Xianbei, di antaranya ada satu klan yang agak menonjol, yaitu klan Tuoba. Setelah suku Xiongnu terpencar ke arah barat dan selatan dalam penaklukan Kaisar Han Wudi ( 156 SM - 87 SM ), klan Tuoba datang ke tanah suku Xiongnu yang semula, dengan kekuatannya memaksa orang-orang Xiongnu yang tersisa beraliansi, mengalahkan suku-suku lain, menjadi yang terkuat di daerah utara, kemudian di ujung abad ke-4 mendirikan sebuah kerajaan di Pingcheng ( kini terletak di Datong, Provinsi Shanxi ). Atas saran seorang suku Han, nama kerajaannya diubah menjadi ' Wei ", ini untuk menunjukkan bahwa dia telah menerima kekuasaan dari klan Wei jaman Sanguo ( Samkok ) dan resmi memasuki sejarah Cina, catatan sejarah menyebutnya Dinasti Wei Utara. Dan setelah melalui peperangan dan penaklukan selama setengah abad, Dinasti Wei Utara telah selesai menyatukan seluruh daerah perairan Sungai Kuning.

Kemenangan, serta meluasnya teritori kekuasaan yang dibawa oleh kemenangan telah membuat pemimpin suku Xianbei yang mendirikan Dinasti Wei Utara terpaksa harus terlibat dalam pemikiran-pemikiran tentang kebudayaan. Persoalan yang paling jelas adalah: Suku Han telah dikalahkan, dapat diberdayakan, namun, yang diwakili suku Han adalah peradaban agraris, dan ini tidak dapat begitu saja diberdayakan oleh aturan-aturan peradaban nomaden. Ingin efektif memerintah sebuah peradaban agraris, tentu harus menekan kekuasaan absolut, melaksanakan sistem persamaan tanah ( 均田制 ), sistem pencatatan kartu keluarga ( 户籍制 ), sistem pembayaran pajak ( 纳税制 ), sistem pembagian wilayah, dan sistem-sistem ini masih menyeret serangkaian perubahan besar dalam cara hidup dan bentuk kebudayaan. Mereka dapat memilih tidak melakukan perubahan, menelantarkan tanah subur delta Sungai Kuning menjadi tanah berburu, bersama-sama mundur ke jaman primitif; atau memilih melakukan perubahan, membiarkan kebudayaan suku yang telah dikalahkan mengalahkan mereka, bersama-sama maju menuju peradaban baru.

Orang-orang bijak suku Xianbei dengan tekad dan keberanian memilih dikalahkan. Ini tentu harus menghadapi berbagai rintangan dari lingkup dalam mereka. Jiwa kesukuan yang tertutup dan angkuh serta rapuh, berkali-kali berubah jadi pembunuhan brutal. Banyak juga suku Han yang menjadi pejabat di sana mati dengan mengenaskan. Namun, sejarah memihaknya, Langit memberkati, sepotong jalan revolusi penuh bercak darah itu akhirnya dapat menembus satu kesimpulan: Hanisasi ( Saya lebih suka menggunakan kata yang saya buat sendiri ini daripada Sinifikasi - kurang lebih artinya mengadopsi kebudayaan suku Han ) Sekitar ujung abad ke-5 Masehi, dimulai oleh Ratu Feng ( 442 - 490 ) dan dilanjutkan Kaisar Xiaowen ( 467 - 499 ), serangkaian penerapan hanisasi dilaksanakan dengan keras dan efektif. Terlebih dahulu diterapkan pada sistem pemerintahan dan sistem pertanian, kemudian perubahan-perubahan ini dengan cepat didorong ke arah kebudayaan.

Pertama, memindahkan ibukota ke arah selatan dari Pingcheng ( Datong, Provinsi Shanxi ) ke Luoyang di Henan. Alasannya adalah kampung halaman di utara lebih cocok ' pemerintah militer ( 武功 ) ' ala nomaden, dan daerah selatan akan lebih cocok menerapkan ' pemerintah sipil ( 文治 ) '. Dan yang dimaksud ' pemerintah sipil ' di sini adalah sepenuhnya menerapkan sistem pemberdayaan masyarakat orang Han.

Kedua, dilarang menggunakan bahasa suku Xianbei, seluruhnya menggunakan bahasa Han. Pejabat-pejabat yang telah berumur diijinkan satu masa adaptasi, dan bagi pejabat muda dibawah tiga puluh tahun jika masih menggunakan bahasa suku Xianbei, segera diturunkan pangkat dan dihukum.

Ketiga, meninggalkan pakaian adat dan pernak-pernik suku Xianbei, menerapkan tatacara dan aturan berpakaian suku Han.

Keempat, orang-orang suku Xianbei yang telah pindah ke Luoyang, seluruhnya mengubah tempat asal menjadi ' Luoyang, Henan ', setelah mati dikuburkan di Bukit Mang ( 邙山 ) di sisi utara Luoyang.

Kelima, nama klan suku Xianbei diubah menjadi marga suku Han yang satu kata

Keenam, menerapkan tatacara li ( 礼 - di sini mungkin bisa diartikan sebagai ritual ) suku Han untuk menggantikan cara-cara lama penyembahan suku Xianbei

Ketujuh, menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, ditentukan harus dimulai oleh bangsawan suku Xianbei, kawin campur dengan golongan terpelajar suku Han

......

Begini banyak perintah, dikeluarkan oleh seorang penguasa minoritas yang kuat menggenggam tampuk kekuasaan, dan di sekelilingnya tidak ada yang mendesaknya melakukan semua ini, memang dapat membuat orang terhenyak. Saya rasa, ini bukan hanya di Cina, bahkan di dunia juga sangat jarang terjadi.

Perlawanan yang keras dan penuh amarah terhadap hal ini dapat dengan mudah kita bayangkan, semua perlawanan itu berentetan, penuh semangat, berhubungan dengan harga diri suku. Bahkan melibatkan anggota keluarga Kaisar Xiowen dan putra mahkota. Hukuman dari Kaisar Xiowen terhadap perlawanan ini juga sangat kejam, samasekali tidak memberi kesempatan

Ini sudah sedikit menyerupai tokoh dalam drama Shakespeare. Sebagai penerus penguasa minoritas, dia pasti merasa bangga dengan leluhurnya, tetapi dia juga yang harus mengeluarkan perintah-perintah melepaskan tradisi leluhurnya. Terhadap hal ini, dia berusaha keras menahan penderitaan batin. Namun karena sangat menderita dan pahit, maka dia memilih perubahan yang tuntas, tidak membiarkan dirinya dan bawahannya ragu dan goyang. Dia menghukum setiap perlawanan persis seperti dia menghukum dirinya yang satu lagi.

Raja sebelumnya, Touba Gui ( 拓拔珪, yang bergelar Kaisar Daowu - 道武帝, 386 - 409 ) yang pertama kali menggagas hanisasi, dan karena pergolakan batin yang sama menyebabkan dia mengalami kekacauan pikiran, berbicara sendiri, berubah jadi beringas, sesuka hati membunuh bawahannya. Ini mungkin merupakan akibat yang pasti akan terjadi dari proses penggabungan dua budaya atau cara hidup yang sangat berbeda. Proses begini biasanya berlangsung ratusan tahun atau kadang-kadang bahkan sampai ribuan tahun baru selesai. Namun mereka memaksa menekan menjadi puluhan tahun, oleh sebab itu, sejarah sendiri saja dibuatnya limbung dan hampir pingsan.

Kaisar Xiowen meninggal di tahun penutup abad ke- 5, namun, usianya hanya tiga puluh dua tahun. Kaisar Xiowen yang bernama Tuoba Hong ( 拓拔弘 ) ini hanya tiga puluh dua tahun di dunia dan ternyata telah melakukan begitu banyak perubahan-perubahan besar, benar-benar sulit dipercaya. Dalam catatan resmi dia naik tahta pada usia empat tahun, di atas tahta selama dua puluh delapan tahun, namun kenyataan adalah neneknya, Ratu Feng yang mengendalikan seluruh urusan negara. Setelah Ratu Feng meninggal dunia, dia sudah berumur dua puluh tiga tahun, jadi, dia secara mandiri memerintah hanya sekitar sembilan tahun.

Ini adalah sembilan tahun yang luar biasa. Walaupun ketegasan dan keberaniannya telah membawa akibat kekacauan politik yang rumit setelah dia meninggal. Tetapi, serangkaian perubahan-perubahan yang sangat mendalam terhadap kehidupan dan kebudayaan sudah sangat sulit berbalik arah lagi, dan inilah hal yang paling penting. Dia menggunakan sembilan tahun mendorong Cina bagian utara memasuki satu titik kebudayaan yang sangat menentukan arah perkembangan kebudayaan Cina. Oleh sebab itu dia adalah seorang Kaisar yang sangat berhasil dalam sejarah suku Xianbei, atau sejarah Dinasti Wei Utara maupun sejarah Cina secara keseluruhan. Saya kira dialah orang yang melakukan reformasi kebudayaan dalam arti yang sebenarnya.

(klik halaman berikutnya untuk melihat bagian terakhir tulisan )


 

BAGIAN II

Membahas reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen sering membuat saya ragu, takut hal ini dapat membawa kesalah-pahaman kepada orang-orang yang terlalu berlebihan mengunggulkan budaya Han. Reformasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen seakan-akan sekali lagi memberi mereka bukti bahwa budaya Han memang memiliki kedudukan tertinggi. Tentu, dibandingkan dengan suku Xianbei yang baru melangkah keluar dari masyarakat primitif, kebudayaan Han jauh lebih matang. Suku Han yang telah melewati Dinasti Xia, Shang, dan Zhou ini pernah menghasilkan cukup banyak pemimpin-pemimpin yang membawa kemajuan dalam masyarakatnya, kemudian diperkaya oleh filsuf-filsuf pada akhir Dinasti Zhou, dan juga hasil nyata yang gemilang dari Dinasti Qin dan Han, semua ini bukan saja cukup layak menuntun satu suku nomaden yang ingin secara cepat memajukan kebudayaannya, bahkan materinya sudah terlalu berat. Dalam lembaran-lembaran sejarah sangat mudah menemukan suku Han yang setelah ditaklukkan oleh suku lain justru dapat menaklukkan suku tersebut dari sisi budaya.

Sesungguhnya hanisasi yang dilakukan oleh Kaisar Xiowen bukan hanya sekedar mengakui keunggulan budaya Han, tetapi masih ada sebab lain yang lebih realistis. Ketika dia membuka mata melihat dirinya telah diwariskan sebuah kerajaan yang begitu luas, dia merenung sejenak, lalu cepat-cepat mencari alasan lain di luar keunggulan militer sebagai penguasa. Mungkin seperti Iskandar Agung, penakluk Macedonia Kuno yang juga meninggal pada usia tiga puluh dua tahun itu, selalu bersujud di depan altar wilayah-wilayah yang telah ditakluknya. Tujuannya juga untuk mencari alasan penaklukan di luar kekuatan militer

Ada satu kenyataan yang mesti diperhatikan: Kaisar Xiowen memaksa bawahannya mengadopsi budaya suku Han, tetapi tidak pernah melarang mereka membawa masuk unsur-unsur budaya nomaden yang bersifat terbuka ke dalam budaya Han, atau dengan kata lain, hanya ketika mereka sudah sepenuhnya terhanisasi, unsur-unsur budaya nomaden baru mungkin benar-benar meresap ke dalam budaya Han.

Dia melarang suku Xianbei tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han, tetapi dia tidak melarang orang Han tidak memakai pakaian Han, tidak menggunakan bahasa Han. Sesungguhnya, saat ' suku asing ' dihanisasi, sebenarnya juga merupakan ' proses pengasingan ' suku Han. Mungkin ini merupakan suatu bentuk peleburan dua arah dalam satu tubuh.

Sejak Dinasti Wei Utara, banyak sekali budaya suku-suku minoritas di perbatasan utara dan barat diserap suku Han, contoh-contoh nyata begini sangat mudah ditemukan, misalnya alat musik, mulai dari mandolin, seruling, rebana, hingga pipa... seandainya tanpa suara-suara merdu ini, orkestra yang dimainkan Dinasti Tang pasti kehilangan sebagian besar kemegahannya. Hal ini sangat mudah dimengerti jika melihat lukisan-lukisan dinding gua di Dunhuang, atau membaca puisi-puisi Tang. Satu kenyataan adalah budaya Han sejak jaman dulu bukan saja sebagai penyumbang untuk budaya suku lain tetapi juga sebagai penerima atau penyerap budaya suku lain. Dan bukan hanya di bidang musik saja, hampir pada segala bidang mempunyai proses yang hampir sama. Dari ini dapat ditarik kesimpulan, Dinasti Tang, bukan suku Han sendiri yang dapat ciptakan.

Lebih penting lagi adalah adanya suatu daya yang bersifat terbuka dalam budaya nomaden yang dimasukkan ke dalam budaya Han. Daya itu sedikit liar, sedikit dingin, sedikit kasar, sedikit kacau, namun begitu luas, begitu bebas, begitu santai. " Langit begitu biru, padang begitu luas " yang belum pernah dirasakan oleh filsuf-filsuf Cina Kuno di atas pedati di sisi sungai, sudah berubah menjadi latar budaya baru. Kebudayaan Cina seperti menunggang kuda lincah di padang rumput, suara cambuk berbunyi, kaki kuda melesat ke depan, menyongsong sebuah masa depan yang penuh daya hidup.

Reformasi ini bukan hanya demikian saja. Sejak Kaisar Xiowen menganjurkan kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han, suatu proses pembauran darah begitu lebar terbuka. Dan ini tidak lagi bersifat politis, tetapi lebih merupakan suatu pembauran alamiah. Dari ini kita dapat menguak sebuah rahasia yang terpedam di lapisan yang cukup dalam tentang terbentuknya Dinasti Tang: Klan Li ( 李氏 ), penguasa Dinasti Tang, merupakan kristalisasi dari kawin campur antara suku Xianbei dan suku Han.

[Foto ilustrasi ditambahkan oleh admin]

http://www.chinapage.com/emperor/tang0801.html

Lukisan Tang Gaozu , Public Domain

[Foto ilustrasi ditambahkan oleh admin]

Hardouin , Lukisan gantung Tang Taizong ber bahan sutera , National Palace Museum , Taipei , Public Domain

 

Ibu Kaisar Tang Gaozu ( Li Yuan, 566 - 635 ) maupun Kaisar Tang Taizong ( Li Shimin, 599 - 649 ) adalah orang Xianbei. Isteri Li Shimin juga orang Xianbei. Maka, di dalam tubuh Kaisar Tang Gaocong ( Li Zhi, 628 - 683 ) mengalir tiga per empat darah Xianbei dan seperempat darah Han. Sesungguhnya ibu Kaisar Yang dari Dinasti Sui ( 569 - 618 ) juga orang Xianbei, bahkan adalah saudara kandung ibu Li Yuan. Dalam kartu keluarga mereka semuanya tercantum berasal dari ' Luoyang, Henan '. Kita tahu, nama tempat asal ini merupakan rancangan Kaisar Xiowen. Sampai di sini kita harus sekali lagi mengakui visi Kaisar Xiowen. Dia menggunakan cara yang paling lembut, paling realistis, mengajak sukunya ikut mengambil bagian dalam proses terciptanya sebuah era yang terang dan gemilang.

Sepotong jalan menuju Dinasti Tang yang megah sudah terbuka lebar. Jalan ini awalnya sedikit sempit, sedikit menyimpang, sedikit berbahaya, namun akhirnya menjadi sepotong jalan besar yang memiliki arti yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Cina. Ada dua tempat yang paling dapat mewakili telah terbukanya jalan besar menuju Dinasti Tang, yaitu Gua Yungang ( 云冈石窟 ) dan Gua Longmen ( 龙门石窟 ). Gua Yungang berada di Datong, Provinsi Shanxi dan Gua Longmen berada di Luoyang, Provinsi Henan, dua tempat ini sama-sama merupakan ibukota Dinasti Wei Utara. Dua tempat ini dapat dilihat sebagai tanda perpindahan Dinasti Wei Utara.

Sebenarnya saya sangat ingin mendeskripsikan ke dua gua yang pasti akan membuat setiap orang yang memandangnya terpana, namun saya kemudian sadar, di depan ke dua gua ini, kata-kata tidak akan berdaya. Di sini, kita bukan hanya dapat merasakan suatu keindahan yang agung, bertenaga, dan terbuka dari penguasa suku Xianbei, tetapi juga perpaduan yang serasi dari lebih banyak kebudayaan-kebudayaan yang berasal dari tempat yang lebih jauh.

Karena mereka dapat dengan sikap terbuka menerima keunggulan budaya Han, tentu juga akan bersikap serupa terhadap budaya lain. Mereka telah berubah menjadi semacam ' busa ' yang memiliki daya isap yang tinggi, budaya apapun pasti akan mendapat satu kedudukan di dalamnya. Mereka sendiri agak kekurangan ketebalan budaya, masih belum terbentuk kebudayaan yang rumit dan dalam, kelemahan ini dengan cepat berubah menjadi keunggulan mereka, karena mereka agak jarang menolak ' yang lain ' kemudian berubah menjadi ' tuan rumah ' yang memiliki pembauran berbagai macam budaya. Jadi, sebuah perjamuan budaya meriah yang sesungguhnya sudah siap dihidangkan

Ambil satu umpama untuk hal ini. Misalkan ada sekelompok tetua yang memiliki ilmu pengetahuan yang dalam menetap secara terpencar, ada yang dekat, ada yang jauh, karena latar belakang dan kekuatan masing-masing membuat mereka bersikap saling bertahan. Tiba-tiba dari daerah luar datang seorang anak muda yang sehat dan kuat namun sejak kecil kehilangan kesempatan mencecap pendidikan, terhadap ilmu siapa pun dia menaruh hormat dan menerima, tanpa prasangka, dan memiliki tenaga untuk mengundang ke sana kemari tetua-tetua itu, akhirnya, dengan dia sebagai pusat, tetua-tetua itu pelan-pelan mulai berjalan seiring, ramai sekali.

Anak muda yang sehat dan kuat ini, dialah klan Touba dari suku Xianbei. Perjamuan budaya yang meriah, itulah Gua Yungang dan Gua Longmen.

Perancang dan pemimpin pembukaan Gua Yungang yang paling penting adalah seorang biksu bernama Tan Yao ( 昙曜 ). Dia sesungguhnya adalah biksu yang menetap di Liangzhou ( 凉州 - kini sekitar Wuwei, Provinsi Gansu ), waktu itu Liangzhou merupakan pusat kebudayaan Buddha yang sangat penting. Pada tahun 439, setelah Dinasti Wei Utara berhasil menguasi Liangzhou, sekitar tiga puluh ribu penduduk dan beberapa ribu biksu yang tertawan dibawa ke Pingcheng ( ibukota Dinasti Wei Utara ), banyak dari tawanan itu merupakan perancang dan pemahat batu gua Buddhis, Tan Yao juga termasuk salah satu di antaranya, oleh sebab itu Gua Yungang memiliki corak Liangzhou yang sangat kental. Dan gua-gua Buddhis di Liangzhou merupakan titik bertemunya berbagai kebudayaan, di sana ada kebudayaan India, Asia Selatan, dan Asia Tengah. Maka, Gua Yungang yang melalui peralihan dari gua-gua di Liangzhou, telah mengendap selapis kebudayaan luar yang sangat tua dan jauh. Seni pahat Yunani sangat menonjol di sini, tentu karena pengaruh seni Gandhara, dan itulah perpaduan antara kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.

Sebelum Gandhara, seni Buddhis kebanyakan dengan stupa atau bangunan memorial lain sebagai lambang, sejak invasi Iskandar Agung, sekelompok besar seniman yang mengikuti pasukan tentara juga sampai, seni Buddhis mengalami perubahan yang dratis, serangkaian perubahan mulai dari batang hidung, cekung mata, garis bibir hingga lengkung dagu yang khas orang Eropa terjadi, dan perubahan ini menyebar luas masuk ke daerah perbatasan barat Cina, seperti daerah Kucha dan Khotan di Xinjiang. Karena Gua Yungang telah menyerap corak Liangzhou, Kucha, dan Khotan, berarti juga telah menyerap kebudayaan India dan kebudayaan Yunani.

Setelah ibukota Dinasti Wei Utara pindah ke Luoyang, perhatian terpusat pada pembangunan Gua Longmen. Gua ini melanjutkan gaya Gua Yungang, namun merangkul lebih banyak lagi budaya luar, dan perbandingan budaya Cina juga makin meningkat.

Itulah kegagahan Dinasti Wei Utara. Menelan seribu aliran, menerima yang jauh dan dekat, hampir mengumpulkan seluruh intisari dari beberapa kebudayaan besar dan penting di dunia, dilebur dalam satu tubuh, saling berkembang, tumbuh dan bergelora. Kebesaran ini, tiada duanya, oleh sebab itu, Dinasti Tang sudah sangat dekat.

Dinasti Tang dapat menjadi sebuah jaman keemasan, tepat karena dia tidak murni. Sepanjang sejarah tidak sedikit cendekiawan yang ingin mencari kemurnian sebuah kebudayaan, di dalamnya termasuk bahasa, begitu juga para cendekiawan Cina. Sesungguhnya, terlalu murni akan berubah jadi sesuatu yang terbuat dari kaca, biarpun tiap hari digosok hingga mengkilap dan tembus pandang, tetapi tetap tidak dapat mengubah dirinya yang kecil, tipis, dan rapuh. Dan mungkin suatu hari, karena agak kuat menggenggamnya sewaktu menggosok sehingga dia hancur berkeping, dan kepingan itu juga sangat mungkin melukai tangan. Apalagi, kaca juga merupakan senyawa kimia, bagaimana dapat dikatakan benar-benar murni?

Dinasti Wei Utara menggunakan seluruh dayanya menpersiapkan Dinasti Tang yang tidak murni. Karena tidak murni maka jalan itu berubah menjadi lebar dan terbuka, dan di sisinya masih ada dua pintu gua batu yang megah, ini adalah satu jalan besar yang disusun dari potongan-potongan batu keras, membentang di antara langit dan bumi. Jika dibandingkan, maka setapak kebudayaan yang tersembunyi di dalam gulungan kertas yang tersimpan di dalam perpustakaan, tampak terlalu sepele.

Di sekitar jalan besar ini, semua kebudayaan yang memiliki daya hidup pasti akan mendekat, ini adalah gambaran kebudayaan yang penuh warna dan hidup. Kadang-kadang kita hanya dapat mengeluh saat melihat banyak kebudayaan yang sesungguhnya sudah terbentang sepotong jalan lebar menuju kejayaan, namun begitu saja dikuburkan, hanya karena tidak dapat menerima perbedaan. Manusia selalu begitu, terlalu pintar, setelah menciptakan kebudayaan sendiri, kemudian menjadi sangat peka dan menarik garis pembatas dengan kebudayaan lain. Akibatnya, karena ingin melindungi diri sendiri akhirnya terjerumus menjadi mengekang diri sendiri. Seandainya kita melepaskan kepintaran ini, seluruh pemandangan akan menjadi berbeda, dengan demikian, saya rasa sudah sampai di depan gerbang megah Dinasti Tang.

JOHN KUAN , 25-26 Januari 2012

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150522887158721

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150525474293721

Catatan Admin : Dimuat di web Budaya Tionghoa ini dengan se-ijin penulisnya.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1790-dari-mana-datangnya-dinasti-tang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto