A+ A A-

Kontroversi Huruf Tradisional Dan Sederhana

  • Written by  Kanariya Chandra
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Sedikit membahas mengenai pen"simpel"an  huruf mandarin dari kalangan seni dan budaya Tionghoa, terutama dari seni kaligrafi Tiongkok. Dari pencinta budaya Tionghoa, terutama kaligrafi, pernah berdiskusi mengenai hal ini, dan saya ingat sekali ungkapan salah seorang master kaligrafi Tiongkok di Indonesia, mengapa dalam seni kaligrafi tidak pernah menggunakan huruf simpel.

Artikel Terkait :

{module [201]}


Kaligrafi Tiongkok (huruf huruf mandarin) telah ada sejak ribuan
tahun, semua huruf mengandung arti yang mendalam, dan bernilai seni tinggi , memang setiap garisnya bermakna, contohnya huruf apa digabung dengan apa membentuk suatu arti baru. Adalah Cangjie, leluhur bangsa Tiongkok yang menciptakan huruf huruf ini sejak lebih dari 4000 tahun yang lalu.

Adalah sangat disayangkan bahwa pada tahun 1949, Partai Komunis Tiongkok
yang saat itu berkuasa, menyuruh beberapa orang mengganti huruf-huruf bernilai sejarah dan kebudayaan tinggi ini, dengan huruf yang disingkat, simpel dan banyak yang kehilangan makna, artinya sudah jauh, banyak yang tidak logis, menjadi berantakan. Sungguh sudah tidak bisa dipakai dalam kaligrafi, karena banyak yang menyalahi kaidah aturan dan teori. Bila kita mau mempelajari kaligrafi, terdapat kamus kamus kuno bahasa mandarin yang sangat berharga nilainya, para master kaligrafi sangat senang apabila generasi penerus dapat melestarikannya, semua ada aturannya, tidak bisa sembarangan.

File:Treatise On Calligraphy.jpg[Foto Ilustrasi oleh Admin : Sun Guoting (648-703 M ) , "Detail Of The Treatise On Calligraphy" , 687 M , Wiki Media , Public Domain ]

Ada juga master kaligrafi yaitu Prof. Song, yang menjelaskan bahwa dalam penulisan kaligrafi Tiongkok mengandung 4 unsur penting yaitu (1) goresan , (2) konstruksi , (3) aturan main , (4) irama.

Sama seperti seni lukis dan seni musik, seni kaligrafi (huruf
mandarin) adalah memang kebudayaan yang diturunkan dari langit kepada manusia, sejak ribuan tahun lampau dilestarikan dari leluhur kepada anak cucu. Bahkan bangsa Yunani kuno mempunyai Dewa kesenian.Manusia dapat menciptakan seni lukis yang indah, baik di aliran Timur (Tiongkok) maupun Barat, semua inspirasi dan keahlian berkaitan erat dengan kepercayaan pada dewata .

Bila kita menyaksikan karya para maestro seni lukis Barat seperti Leonardo Da Vinci, Michaelangelo, mereka dapat melukis dengan indahnya, begitu nyatanya, Yesus Tuhannya, pemandangan surgawi seperti malaikat dan Dewa Dewi, seperti dalam gereja gereja di Eropa, manusia menggambar Dewa yang agung dan menyebarkan energi belas kasih, hasil karyademikian membawa manfaat bagi manusia, menimbulkan niat pikiran yang baik dan mulia. Tentu dalam menciptakan suatu karya seni lukis juga ada aturannya, bagaimana membentuk warna, proporsi melukis manusia, komposisi terang gelap, melukis cahaya, dan membuat karya secarakeseluruhan tampak seperti hidup, indah mengagumkan, keahlian semacam ini adalah hasil belajar selama puluhan tahun dari kebudayaan yang sudah tercipta sejak lampau.

Sebenarnya lukisan yang seperti aslinya (aliran realis) barulah yang dapat dikatakan indah dan bermakna. Seperti lukisan Raden Saleh dan pelukis Bali yang sering melukis alam yang indah. Namun orang sekarang ada yang melanggar aturan-aturan dalam seni lukis, membuat coretan kuas kian kemari dan cipratan cipratan tinta diatas kanvas, tidak jelas apa yang digambar, lalu dijual dengan harga tinggi, disebut karya lukisan abstrak.

Ada juga yang melukis serba kelam, melukis mahluk mahluk aneh dan kawat berduri. Dari sisi manapun tidak ada yang dapat menjelaskan darimana keindahannya, dibandingkan dengan karyalukis yang sesungguhnya, yang bisa membuat hati senang apabila melihatnya, mengaguminya.

Inspirasi dalam seni musik, seperti saat kita menikmati indahnya petikan kecapi, musik Tiongkok dan tarian tradisional Tiongkok seperti zaman dinasti Tang, seperti kita mendengar musik dari khayangan dan melihat Dewi-Dewi menari, menenangkan jiwa dan mencerahkan hati. Dalam seni musik juga ada teorinya, belajar musik juga harus mengerti tekniknya.

Bagaimana aliran metal dan dentuman instrumen yang keras , vokalisnya entah menyanyi entah teriak-teriak, darimanakah sisi keindahannya dari seni musik itu? Banyak hal yang lurus telah dibuat menyimpang, dalam kesenian dan budaya umat manusia. Merusak seni yang diturunkandari langit kepada manusia, bahkan manusia dapat memandang sesuatu yang buruk sebagai yang indah, moralitasnya telah merosot.

Begitupula pada kaligrafi, semuanya karakter Tionghoa memang mengandung makna yang dalam, ada teori baku dan teknik yang harus dipelajari dan diturunkan turun temurun, jadi memang tidak bisa disingkat, disimpelkan, atau diubah-ubah, mungkin orang sekarang sudah kurang memahaminya.


 

AIR MATA CANGJIE

Ketika langit di atas bumi menguning menjadi gelap dan alam semesta
menjadi tandus. Pangu menciptakan alam semesta, langit dan bumi lahir Nuwa menciptakan manusia, berawal dari wanita Cangjie menemukan karakter huruf Tiongkok, memberikan sinar kebijaksanaan kepada rakyat Tiongkok. Sejak itu, budaya Tiongkok tumbuh bermekaran selama puluh ribuan tahun dalam sejarah

Suatu hari, para Dewa mengadakan perjamuan besar di atas Gunung Hua
di Tiongkok. Pesta ini diadakan setiap 100 tahun sekali, para Dewa datang dari berbagai tempat untuk menikmati perjamuan tersebut. Di suatu sisi lain Gunung Hua, Cangjie dan muridnya, Wentong, sedangduduk menikmati dinginnya cuaca di bawah pohon besar. Setelah beberapa waktu.


[Foto Ilustrasi oleh Admin :"Gambar Cang Jie , figur mitologis pencipta sistem penulisan Tionghua" , Beijing , 1685 , Wikimedia , Public Domain ]

Wentong: "Guru, saya dengar andalah yang menemukan karakter huruf Tionghoa!"
Cangjie: "Saya tidak berani mengatakannya. Sebenarnya saya membawa karakter tersebut dari langit untuk Tiongkok. Karakter huruf Tionghoa sangat mendalam dan mengandung arti yang luas. Karena mereka sebagai media yang sangat cerdas untuk menyebarkan dan melindungi kebudayaan Tiongkok."


Wentong : "Karakter huruf Tiongkok benar-benar bermakna! Guru, di Gunung Hua ada perjamuan besar hari ini. Tidakkah anda pergi menghadirinya?"
Cangjie : "Saya lebih suka tinggal di sini untuk beberapa saat. Engkau pergi saja sendiri. Jika ada sesuatu yang unik terjadi, cepatlah kembali dan ceritakan padaku."

Kemudian Wentong pergi ke perjamuan itu sendirian. Di sana banyak sekali Dewa yang menikmati pesta tersebut. Mereka saling menyapa dan berdiskusi satu sama lainnya. Setelah beberapa saat, salah satu Dewa memberikan kartu namanya ke Wentong. Wentong melihatnya dan bertanya
ingin tahu.

Wentong : "Dewa, anda mempunyai nama yang sangat spesial."
Dewa: "Ha..ha... Apa maksudmu nama yang spesial?"

Wentong : "Ah tidak. Hanya sangat aneh."
Dewa : "Bagaimana bisa."

Wentong : "Lihat, di sini tertulis, "Orang Aneh dari Utara".
Dewa : "Ah, kamu salah. Itu tertulis, "Orang Bijak dari Utara" (Dalam huruf singkat Mandarin yang diciptakan oleh PKC, "bijak" ditulis sebagai () yang menyerupai huruf () yang berarti aneh."

Wentong : "Namun masih tetap saja terlihat sebagai kata "aneh" walau bagaimanapun saya melihatnya."
Dewa : "Anda mungkin tidak akrab dengan huruf singkat Mandarin yang sedang trend di dunia manusia sekarang."

Wentong menatapnya dengan bingung. Dia membawa kartu nama itu kepada gurunya. Cangjie melihat tulisan di kartu itu. Dia dapat mengenal beberapa huruf Mandarin yang telah berubah itu, namun ada beberapa huruf yang lain telah berubah sepenuhnya, dia tidak habis pikir mengapa bisa begitu. Cangjie sangat kecewa.


Wentong : "Guru, huruf dalam kartu itu terlihat aneh, namun mereka lebih sederhana bentuknya. Pasti lebih mudah untuk menulisnya. Ah, saya menyukainya"

Selagi Wentong masih tersenyum gembira, Cangjie memukul kepalanya.

Cangjie : "Lupakan tentang kemudahan ataupun lebih cepat. Ada pepatah Tiongkok bilang "terburu-buru akan percuma". Setiap goresan dalam karakter tulisan Tionghoa mempunyai arti khusus. Saat kamu merubah bentuknya, kamu telah merubah maknanya. Dampaknya akan sangat hebat. Kita sudah seharusnya tidak merubah atau merusak karakter huruf Tionghoa jika hanya untuk membuat lebih mudah dalam menulisnya."

Wentong : "Saya mengerti"
Cangjie : "Wentong, saya pikir kita harus turun ke dunia manusia dan memeriksa kerusakan huruf Tionghoa di dunia manusia."

Lalu mereka segera turun ke Bumi. Mereka sampai di Tiongkok. Mereka mengelilingi seluruh Tiongkok dan berjalan diseluruh jalan-jalan utama dan setapak. Apa yang mereka temui seluruhnya adalah huruf singkat mandarin. Cangjie tidak dapat menahan airmatanya, dia telah
bekerja keras untuk mengajarkan nenek moyang orang Tionghoa namun hari ini semuanya menjadi rusak.

Murid: "Guru, beberapa karakter mempunyai banyak sekali coretan. Akan membuang banyak waktu untuk belajar menulisnya."
Guru: "Setiap goresan dalam sebuah huruf Tionghoa mempunyai asal usulnya. Kadangkala, satu huruf bisa menjadi sebuah rintangan untuk kita waktu pertama kali menulisnya, namun begitu bila kalian mengerti makna yang terkandung di dalamnya, kalian tidak akan pernah melupakannya."


Guru: "Mari kita mengambil contoh huruf "bijak" (). Di atas huruf tersebut ada dua kata dasar: telinga () dan mulut (). Ini berarti kebijaksanaan itu harus dapat mendengar dengan bijak sehingga dapatmembedakan benar dan salah, juga harus penuh belas kasih sehingga dapat menyebarkan Tao. Hanya di saat seseorang dapat menjunjung budi pekerti yang tinggi, dia akan menjadi seorang yang bijaksana. Jika kalian merubah atau menghilangkan dua goresan ini hanya demi kemudahan, dari () menjadi (), orang ini sangat mungkin tidak dapat mendengar atau berbicara dengan bijaksana. Dan kemudian dia tidak dapat lagi dikatakan kebijaksanaan.

Sungguh sayang memang, tapi sudah terlanjur dirubah, setidaknya
masih ada orang-orang Tionghoa di berbagai negara yang melestarikan huruf tradisional yang tidak diubah-ubah, budaya Tionghoa luhur yang sungguh tak ternilai.

Di Indonesia sendiri, generasi tua masih menguasai bahasa Tiongkok asli, banyak dari mereka sudah mempelajarinya sebelum mulai dirubah pada tahun 1949. Kita dapat belajar dari mereka, anak cucu juga disarankan apabila mulai mempelajari mandarin, tetap harus belajar huruf asli, artinya semua orang dapat memahami, tidak mungkin terjadi penyimpangan makna, anda tulis semua orang dapat faham.

KANARIYA CHANDRA

Catatan Admin : Lihat juga tanggapan terhadap tulisan opini ini dari rekan-rekan member lain.

Budaya-Tionghoa.Net |Mailing List Budaya Tionghua |  Facebook Group Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1800-kontroversi-huruf-tradisional-dan-sederhana

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto