A+ A A-

Oei Tjoe Tat [1922-1996] - Dialog Dengan Saksi Dan Pelaku Sejarah - "Tinggalkan Warisan Pengalaman Bagi Generasi Muda

  • Written by  Arsip BT
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Oei Tjoe Tat [1922-1996] dilahirkan pada tahun 1922 di kota Solo – Jawa Tengah. Semasa hidupnya dia adalah seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus dari Universiteit van Indonesië (sekarang Universitas Indonesia) di Batavia pada tahun 1948. Ia terpilih wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) serta menjadi salah satu pengurus pusatnya.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora yang dijuluki sebagai Kabinet 100 menteri. Setelah peristiwa G30S tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah Orde Baru dan dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sampai tahun 1976.  Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai tuduhan terlibat dalam G30S, namun tuduhan itu tidak pernah terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun 1977.

Memoirnya yang berjudul Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno diterbitkannya pada usianya yang ke-73 untuk memperingati pesta emas hari pernikahannya. Namun pada September 1995, atas anjuran Fosko '66 (Forum Studi dan Komunikasi '66), buku ini dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto. Jaksa Agung setuju dan mengatakan bahwa buku ini akan "meracuni pikiran generasi muda".

"Tinggalkan Warisan Pengalaman Bagi Generasi Muda"


Ia seorang Menteri Negara di jaman Demokrasi Terpimpin. Sebuah jabatan
strategis dalam pemerintahan Soekarno. Dalam kariernya sebagai menteri sering diserahkan tugas-tugas yang teramat penting. Seperti dalam Konfrontasi dengan Malaysia, ia memegang posisi kunci yang menjalankan silent mission untuk menghubungi orang-orang di Negeri Jiran itu yang bisa bersekutu dengan Indonesia.

Sebagai seorang intelektual keturunan Tionghoa yang berpikir lurus, Soekarno tak khawatir akan dikhianati. Sebab tak mungkin orang ini memiliki potensi massa untuk melakukan kudeta. Kata Soekarno suatu kali, "...kamulah yang saya pilih, terutama karena kamu keturunan Tionghoa. Tidak ada satu jenderalpun akan menuduh kamu ngimpi jadi presiden menggantikan saya. AD juga tidak akan mencurigai kamu..."

Wajar pula, jika Soekarno menampilkan sisi politis paling banyak di mata dia, ketimbang di hadapan pembantu-pembantu yang lain. Ia memahami betul tindakan-tindakan politik Soekarno. Soekarno memang dekat dengannya. Mungkin karena itulah, ia harus mendekam selama sebelas tahun dalam penjara Orde Baru. Ia, tahu cukup banyak.

Beruntung sekali, orang ini amat mudah dihubungi. Di rumahnya yang sederhana di kawasan Menteng, kami mewawancarainya selama lebih dari jam - sampai ludes semua suguhan cemilan dan sirup yang disediakan buat kami. Hanya dengan modal membaca otobiografinya - "Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden Soekarno" yang baru-baru ini digugat oleh Fosko '66 - kami melakukan dialog yang cukup seru.

Kami seolah-olah masuk kembali dalam situasi 'ramainya' Orde Lama melalui tuturannya. Ia jelaskan betapa sulitnya pemerintah Soekarno harus mengambil keputusan dari berbagai situasi 'luar' dan dalam' negeri' yang selalu mendesak.

Ia cerita tentang apa yang didengar dan dilihatnya. Tentang G30S, tentang CIA, juga tentang memoarnya itu. Sebagai orang yang hidup dalam dua periode besar pemerintahan - Orla dan Orba - ia memang seorang saksi sekaligus bagian dari sejarah.

Mengikuti ceritanya, tidak membuat kita merasa harus mengutuk sejarah. Tapi mendorong kami untuk mencari lebih banyak lagi potret-potret sejarah yang hilang, mendorong kami untuk belajar arif setelah melihat situasi-situasi khas, sejenak ke belakang dan, mendorong kami untuk juga menjadi pelaku sejarah. Demi melengkapi proses panjang sejarah pembentukan bangsa ini yang belum selesai. Yang takkan pernah selesai. Namun, yang justru memberi kesempatan yang sama bagi semua generasi untuk terlibat dalam proses panjang ini. Hal yang berat memang, terlebih bila melihat potret diri bangsa kita saat ini. Prihatin.

Tapi, kita harus segera mulai. Baiklah, sebelum melangkah kita berdialog dulu dengan Oei Tjoe Tat. Berdialog dengan sejarah.


Tanya : Belakangan ini gejala de-Soekarnoisasi tampaknya mulai mencuat lagi. Bagaimana Pak Oei melihat ini ?

Oei Tjoe Tat (OTT):
Yah, saya kira kalo itu sengaja dilakukan, itu kan politis. Wajar dalam sejarah orang/kelompok yang duduk dalam kekuasaan itu tidak rela melepaskan kekuasaan. Kalo bisa terus menerus kuasa. Saya sendiri juga, saya kira bila punya kelompok lalu (ingin) berkuasa selama mungkin. Tentunya segala yang katakanlah tidak sesuai diantara kita, kita cegah. De-sukarnoisasi juga begitu dong.


Tanya : Tapi kenapa harus dengan mendiskreditkan Sukarno 'kan bisa saja Orba menunjuk kan bukti kelebihannya dalam pengadaan beras, dsb...

OTT: Ini yang saya tidak setuju. Cara-caranya yang saya ndak mengerti.


Tanya : Ada pendapat yang bilang, usaha-usaha untuk mengangkat kembali nama Soekarno hanyalah upaya politicking dari kelompok tertentu. Seperti bertemunya Gus Dur-Mega dalam haul ke makam Bung Karno misalnya.

OTT: (Katanya pengerahan massa, ya?) Ya itu, masing-masing punya pendapat. Sayapun punya pendapat lain sama sekali. Saya pikir kalau seorang punya keluarga, harus dihormati. Tapi kalau seorang pemimpin bangsa lebih harus dihormati. Dan orang-orang tak pantas mencari hal-hal di luar itu. Itu memang betul seperti yang diucapkan Gubernur Jatim (Basofi Sudirman-red.), "Sukarno untuk bangsa." Tapi kita jangan pake kata-kata itu untuk mengecilkan Sukarno, untuk de-Sukarnoisasi, untuk menghilangkan Sukarno. Kok, takut sama orang sudah mati. Pake poster segala ndak boleh. Saya ndak ngerti itu. Cara-cara itu saya ndak ngerti.



Tanya : Ada yang bilang karena kepemimpinan Orba sekarang orientasinya sangat elitis, sehingga masyarakat yang tidak lagi dijadikan 'subyek' dalam pembangunan, kemudian mencari figur yang lain. Ternyata figur yang terdekat adalah Sukarno, karena dia cukup populis.


OTT: Bahwa orang membandingkan Orba-Orla saya kira wajar. Apakah perbandingannya itu tepat atau tidak penilaiannya, itu soal lain. Orang yang duduk dalam kursi yang enak tentunya akan bilang ini lebih bagus dari dulu. Sangat subyektif. Tentunya saya sendiri akan bilang saya juga sangat subyektif. Makanya, saya bilang buku ini sangat subyektif (sambil mengacungkan buku otobiografinya).



Tanya : Tapi begini Pak Oei, sampai sekarang orang melihat Orla itu dengan berbagai pendapat, versi dan interpretasi. Ada yang bilang pada saat Orla, realitas sosial-ekonomi katanya kacau. Sementara ada yang bilang ini adalah konsekuensi logis dari program-program politik ekonomi yang dipilih oleh Sukarno ketika kita sedang menghadapi Nekolim dsb. Nah, Pak Oei sebagai seorang yang pada saat itu menjabat sebagai menteri tentunya tahu bagaimana sebenarnya saat itu.


OTT: Begini ya. Saya ini pernah menjadi pelaku politik. Di luar kemampuan saya. Tapi ditakdirkan pernah menjadi pelaku politik. Disamping pelaku politik kita mengenal pengamat politik. Pengamat politik melihat segala sesuatu itu dari... Mungkin lebih obyektif, dari agak jauhan... Jarak jauh dalam arti fisik atau dalam arti waktu.

Sehingga pengamat politik itu secara emosial tidak terikat. Maka waktu orang-orang ini, antara lain, membuat buku "Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai" dan macam - macam lagi, saya pernah menulis surat pembaca ke Tempo. Tapi karena saya menulis itu, Tempo segera mendapat teguran keras. Saya menulis begini: sebaiknya semua orang Indonesia, kalau menulis tentang Soekarno itu, harus menahan diri, tidak boleh memaki-maki, tidak terlalu memuji. Kalau mau menulis Soekarno, lebih baik kita membaca karya pakar-pakar luar negeri, dari pada orang-orang kita. Seperti saya sendiri, emosional. Karena saya terlibat langsung dan saya merasakan langsung segalanya. Mungkin saya memuja-muja Bung Karno atau apa. Tapi, kalau seorang Prof. Daniel S. Lev, atau Ben Anderson, Wertheim atau siapa saja di luar negeri, Indonesia 'kan sebagai negara asing bagi mereka. Mereka tidak involve, mereka lebih baik. Saya bilang begitu... Lha, kalau orang Indonesia mau menulis tentang Sukarno secara 50 tahun lagi. Karena surat itu, segera Tempo ditegur keras. Padahal saya pernah empat kali mengirim surat pembaca pada Tempo, tapi tidak ditegur. Saya memuji Hatta tidak ditegor. Saya cerita tentang Marshall Green tidak ditegor. Ketika saya tidak membela BK, tapi cuma membela obyektifitas, itu ditegor..

Jadi beda antara pengamat politik dan pelaku politik. Contoh, Arief Budiman yang sekarang sangat dekat dengan saya (Prof. Lev pernah meminta Arief untuk menyunting buku Pak Oei. Hal yang mengejutkan bagi Pak Oei. Setahunya, Arief adalah orang yang membantu 'terdongkelnya' Soekarno. Sedangkan ia sendiri adalah pendukung Soekarno. "Jadi memang ndak bisa ketemu." ). Ternyata, Arief sebelum berangkat ke Amerika dan setelah datang dari Amerika, itu berubah. Setelah dia membuat desertasi tentang Allende, berubah (Desertasi ini yang memaparkan keterlibatan CIA dalam penggulingan Presiden Chilli Salvador Allende, kini sudah diterbitkan dalam bentuk buku-red.). Saya mau katakan, orang bisa berubah.


Pak Oei pun menceritakan bagaimana ia kemudian bertemu dengan Arief Budiman. Sekembalinya dari AS, Arief menelpon Pak Oei dan memperkenalkan dirinya. Menurut Arief ia disuruh oleh Prof. Lev untuk menghubungi Oei Tjoe Tat. Tapi, ketika baru bertemu dengan Pak Oei, Arief langsung 'menyerang', "Pak Oei ini sebagai seorang intelektual, kok mem-bebek pada Soekarno yang otoriter?"

"Dikasih salvo begitu, saya malah senang," ujar Pak Oei. Baginya memang lebih baik orang jangan terlalu memuji-muji, tapi berdialog. Dan, belum lama ini, kebetulan Pak Oei diundang dalam kegiatan diskusi di Jawa Tengah yang juga dihadiri oleh Arief Budiman. Pada waktu itu, Arief kembali menanyakan mengapa sewaktu di Yogya dulu, Bung Karno lebih memilih ditawan oleh Belanda ketimbang ikut ke hutan seperti yang dilakukan oleh Sudirman. Juga ketika istana dikepung suatu ketika, menurut sumber yang dipercaya Arief, Soekarno ketika itu malah melarikan diri. Untuk peristiwa di istana, hal ini dijawab oleh Pak Oei, yang melihat sendiri peristiwa di istana itu, "saya tidak mendapat kesan - mataku lho - Soekarno sama sekali ndak gugup."

Pak Oei lalu menanyakan pada Arief, kalau ia mengenal Zulkifli Lubis. Orang ini - Zulkfili - adalah soerang tentara yang dikenal sebagai salah satu 'bapak' intel di Indonesia, pernah ditahan Soekarno dan yang dikatakan menjadi otak pelemparan granat terhadap Soekarno di Cikini dulu. Beberapa bulan sebelum dia meninggal, sempat bercerita tentang Soerkarno. Dia berkata pada Pak Oei, "kalau orang berkata bahwa Soekarno dan Hatta sebenarnya takut ikut gerilya, tapi lebih senang ditahan Belanda, itu tidak fair." Karena dalam cerita Zulkifli, ketika itu Soekarno dan Hatta bertanya pada pimpinan gerilya, "ini keadaan darurat, jadi keselamatan RI ini dalam tangan anda semua. Kalian memutuskan saya dan Hatta ikut kalian ke hutan, apa kita harus tetap di istana?"

Hal yang dijawab oleh TB Simatupang (alm.), "Bapak Presiden dan Wakil Presiden harus tinggal di istana." Namun, oleh Zulkifli Lubis, pendapat Simatupang ini ditentang. Karena Lubis telah menyiapkan pasukan untuk mengamankan Presiden dan Wakil Presiden. Akhirnya, karena Simatupang berpangkat lebih tinggi, pendapatnyalah yang dijalankan.

Dengan cerita ini, Pak Oei menyatakan kepada Arief Budiman, "bila tidak mengenal data ini, jangan mengatakan Soekarno dan Hatta itu pengecut."

Ada hal menarik yang juga diceritakan tentang Arief oleh Pak Oei. Dalam diskusi di atas, Pak Oei menyatakan salutnya kepada orang-orang semacam Arief yang penuh idealisme dalam demonstrasi di awal tahun naiknya Orde Baru. Mereka yang berpikir bahwa Orla adalah jelek dan harus diganti dengan pemerintahan baru. Mereka ini, berani berkorban. Karena itu Pak Oei berkata pada Arief, "kamu semua pahlawan, berani bergerak sendiri."

"Ndak. Kami ini dihasut tentara," jawab Arief.

Ada lagi. "Ini mungkin takdir Allah," katanya. Sebab semua orang tahu, Soe Hok Gie, adiknya Arief Budiman yang memimpin demonstrasi dan pembakaran di rumah Oei.Hal yang juga dikomentari oleh Arief, "Iya,itu adik saya belum berpengalaman, belum tahu siapa Pak Oei."

"Arief Budiman itu memang orangnya fair, jujur," tambah Oei menetralisir.



KEADAAN EKONOMI SEPUTAR ORLA

 

Tanya : Mengenai keadaan ekonomi seputar Orla...

OTT: Jelas, saya bukan ekonom. Saya menulis buku ini (memoarnya-red.), sebetulnya tidak dengan rela. Tapi karena Romo Mangunwijaya dan Kyai Abdurrahman Wahid. Dua orang ini bilang pada saya: Karena Pak Oei sudah tua jadi jelas sudah tidak bisa mengabdi lagi kepada negara. Satu-satunya yang harus diperbuat adalah menulis tentang pengalaman. Pengalaman tak boleh dibawa ke liang kubur, biar tinggalkan sebagai warisan bagi generasi  muda. Bagaimana generasi muda menilainya, itu bukan urusan Pak Oei.

Itu kata Romo Mangun. Gus Dur, lain kata. Dia bilang pada saya: Takdir itu menempatkan Pak Oei sebagai bagian (?) dari sejarah bangsa ini. Jadi, semua pengalaman itu tidak milik pribadi. Tapi, milik seluruh bangsa. Akhirnya segala sesuatu itu saya tulis. Artinya yang saya tulis itu betul. Apa itu enak atau tidak enak, kalau saya pandang itu betul, saya tulis. Dengan catatan, tidak semua pengalaman saya, saya tulis...

Kembali pada pertanyaan tadi. Keadaan ekonomi dulu sama sekarang itu bagaimana? Saya anggap pertanyaan itu  tidak bisa dijawab. Karena situasi dan kondisinya lain. Bahwa, hari-hari  terakhir Orla, inflasi gila-gilaan. Dan kita selalu defisit. Semua betul. Dan, Soekarno pribadi sangat kurang pengertiannya dan pekanya akan soal-soal ekonomi keuangan, itu betul. Secara pribadi. Bukan berarti Soekarno pribadi tidak mau memperhatikan soal-soal itu. Memang. Dia tidak punya satu 'PT' pun. Lain dari pada presiden kita sekarang...

Kembali ke soal tadi. Ini, Chaerul Saleh. Dia menteri koordinator bidang
keuangan ekonomi dsb. Ia mengatakan berkali-kali, 80% dari budget negara itu diperuntukkan untuk ABRI. Untuk perjuangan politik. Perebutan Irian Barat. Memadamkan pemberontakan-pemberontakan. Bagaimana kalau hanya 20% dari budget kita digunakan untuk pembangunan dan lain-lain. Tidak bisa disamakan dengan keadaan sekarang. Dan, dulu karena Soekarno dalam perang dingin antara Sovyet dan Amerika, dianggap sebagai anak yang bengal, - beda dengan sekarang yang dianggap good boy -, kalau bisa kedua negara itu mau 'menyentik' Soekarno. Soekarno ini paling menjengkelkan, bandel. Dia tidak mau ke sana, tidak mau ke sini.

Padahal, Amerika minta kalau bisa Indonesia ini memihak. Kaya raya alamnya. Lokasinya luar biasa strategis. Siapa yang menguasai Indonesia menguasai Asia. Siapa yang menguasai Asia, menguasai dunia. Mereka cari akal bagaimana caranya bisa 'menyentik' Soekarno. Jadi, soal ekonomi, betul apa yang dikatakan... (Pak Oei, ingin menjelaskan situasi dimana dua raksasa dunia, yang karena posisi Indonesia benar-benar "non blok", tidak mau memberikan bantuan ekonomi bagi Indonesia.)

Bedanya dengan sekarang. Kita lihat lapangan-lapangan golf. Tapi saya tanya, apakah lapangan golf itu berarti pembangunan? Padahal petani-petani diusir dari lahan-lahannya. Lalu pembangunan itu artinya apa? Kalau kita membangun jalan tol, membangun apa, tidak? Ya, membangun dong. Tapi bagi saya yang punya mobil. Buat pedagang asongan, apa itu membangun? Bagi mereka pakai tol atau tidak, sama saja toh? Jadi tergantung 'pembangunan' itu bagi siapa. ...Kalau kita berbicara dengan bahasa Indonesia ini, hati-hati.

Seperti 'pengamanan'. Saya 'diamankan'. Tapi, kok telpon saya diputusin.
Revolver saya kok dicabut. Sehingga saya tepaksa 'nulis pada 'Harto. Ada loh itu. Jadi, bahasa Indonesia ini saya ndak 'ngerti. 'Pengamanan' itu apa. 'Pembangunan' itu apa. 'Pancasila' itu apa, saya juga nggak 'ngerti.



Tanya : Mengenai anggapan bahwa Soekarno itu totaliter, bagaimana? Bukankah ia pernah membubarkan konstituante, yang menimbulkan kesan seolah-olah kekuasaan ini tersentralisir di tangannya?


OTT: Kita sementara, kembali kepada pembubaran konstituante. Saya sementara ini sependapat, kurang lebih, dengan Adnan Buyung Nasution bahwa pembubaran konstituante itu merupakan set back bagi perkembangan sejarah demokrasi di Indonesia. Saya setuju dengan pendapat itu. Tapi, saya tidak setuju bila dikatakan bahwa pembubaran konstituante itu dilakukan Soekarno karena kehendaknya untuk berkuasa. Seperti dikemukakan antara lain oleh Arief Budiman pada waktu itu. Arief Budiman mengatakan Soekarno itu juga sama otoriter, sebab dia membubarkan konstituante hasil pemilihan rakyat. Dan menurut keterangan yang dia  dapat, "Soekarno dan Nasution 'AD'lah yang mendesak supaya konstituante dibubarkan." Dia tanya pada saya, "Pak Oei, betul apa ndak itu?" Saya bilang saya ndak tahu. Tapi, bahwa konstituante dibubarkan, ini sampai menimbulkan clash di kalangan BAPERKI - suatu ormas yang saya sendiri mempunyai kedudukan penting.

Tapi, karena itulah Yap Thiam Hien berang (?). Dia mengundurkan diri dari pengurus pusat karena tidak bisa menyetujui pembubaran konstituante. Yap Thiam Hien ini advocaat dalam kantor saya. Satu dompet dengan saya. Dia juga kawan seperjuangan di Sin Ming Hui dan di BAPERKI. Tapi waktu di BAPERKI, kita 'pecah' dalam soal konstituante. Saya berpendapat seorang demokrat, seorang juriist, sehingga dia cenderung pada formalisme. Saya juga seorang juriist, seorang demokrat. Tapi, kalau kita duduk dalam konstituante, kita juga orang politik. Nah, kenyataannya pada saat sampai kepada penentuan negara ini dasarnya apa, Islam atau Pancasila, tidak ada satu pihakpun yang bisa meraih 2/3 suara yang dibutuhkan menurut UU supaya bisa 'gol'. Jadi, mau negara Islam tidak bisa, mau negara Pancasila tidak bisa.

Meskipun, lebih dari separuhnya mendukung Pancasila. Yang mendukung Pancasila adalah partai-partai besar. PNI paling gede, PKI, kemudian IPKI, Partai Katholik, Partai Kristen Indonesia, MURBA, BAPERKI sendiri dan banyak lagi. Yang Islam, didukung yaitu NU, MASYUMI, PSII, dsb. Kemudian, Perdana Menteri Juanda (alm.) mengusulkan kembali ke UUD '45. Juanda dan tentara lho. Dan, Bung Karno setuju. Itu kemudian ditolak juga oleh seluruh konstituante. Jadi, bagaimana ini. Padahal, di sekitar kita, pemberontakan-pemberontakan, PRRI-PERMESTA di mana-mana. Dan, kita ketahui armada Inggris dan Amerika itu berkeliaran. Jadi ini keadaan darurat.

Kemudian, partai-partai yang pro Pancasila itu mengata kan, "karena ini macet dan kita tidak mau terima uang buta, pendeknya mulai besok kita tidak datang lagi ke sidang kita, tidak mau terima gaji.  (Seandainya DPR kita juga begitu, ck, ck, ck... Tentu nggak banyak pemborosan)" Artinya, karena lebih dari separuh tidak ada di konstituante, tidak bisa sidang. Jadi, pemerintah dipojokkan dalam situasi itu. Kalau Soekarno ndak bubarkan itu bagaimana? Wong itu, orang-orang nggak mau datang. Seperti BAPERKI, semua tidak datang. Saya juga nggak mau. Hanya Yap Thiam Hien mau datang. Nah, keadaan ini kan harus ada suatu akhir toh. Kemudian Soekarno membubarkan. Ini 'pelakunya' Soekarno. Kita yang hidup sekarang, bisa bilang, wah ini keliru. Tapi, kalau ndak dibubarkan bagaimana? Apa uang negara itu mesti dihabiskan? Sampai kapan itu saya tidak tahu.



Tanya : Pemberontakan bisa menggunakan situasi itu. Dan yang penting itu (ancaman) Amerika. Di jaman itu we have to fight, kita mesti berjuang untuk to be or not to be. Bukan soal kemakmuran saja. Tapi, untuk 'ada republik' atau 'tidak'. Ada Indonesia atau tidak. Jadi persoalan di jaman itu jelas, ya?


OTT: Ya. Akhirnya golongan Islam juga setuju untuk kembali ke UUD '45. Bagi saya, Oei Tjoe Tat dan orang-orang BAPERKI, mengakui UUD '45 lebih primitif
dari UUDS tahun '50. Jadi kalau kita kembali ke UUD '45, kita mundur. Tapi dalam hati kecil, biarlah kita muncur yang penting (Indonesia) eksis. Soal hak asasi dan sebagainya, lain kali deh. Kalau Pancasila sudah dikukuhkan, (yang lainnya) gampang. Pilihan yang memang sulit. ... Pecah BAPERKI karena itu. Yap Thiam Hien memang jujur. Tapi, saya bilang, "you duduk di kursi sini (konstituante-red.) tidak sebagai juriist, sebagai orang politik." Itu bedanya dengan saya. Makanya saya setuju dengan Adnan Buyung Nasution. Ia memahami bahwa keadaan itu memaksa Soekarno dan teman-teman lain membubarkan konstituante. Tapi menurut dia, tetap hal itu disesalkan, karena ini set back bagi demokrasi.



Tanya : Mengenai MANIPOL-USDEK, bukankah ini merupakan doktrin yang sepertinya terlalu dipaksakan ke benak rakyat. Mengapa hal ini mesti dilakukan Soekarno?


OTT: Saya tidak akan langsung menjawabnya. Kalau sekarang diadakan penataran Pancasila berkali-kali dan orang komentarnya akan muncul, itu pasti. Jaman dulu, Roeslan Abdulgani itu juru bicara MANIPOL-USDEK. Dulu, ada sementara orang yang mengejek itu, "ketimbang indoktrinasi, mbok disediakan saja ndok sama terasi." Soekarno ndak marah, dia ketawa. Roeslan juga ketawa. Mereka semua masih 'ngerti humor. Nah, di mana ada humor di situ ada soal kemanusiaannya. Ada setitik demokrasi.
Sekarang kamu coba bilang, "wah penataran itu hanya buang-buang uang saja." Bisa dibilang mau jadi komunis nanti. Dulu, suasananya agak rileks. Kalau kita menteri-menteri tiap Kamis datang di gedung BI Pancuran, apa ada orang pake dasi? Tidak. Pake sandal jepit malah. (Beda dengan sekarang yang menurut Pak Oei "serba serem, serba angkuh." Dulu kalau Soekarno datang sebelum sidang dimulai, menteri-menteri ditaboki, "hey ke mana saja kowe?" Suasananya lain. Dalam konstituante pun, bila sedang memasuki sidang, maka akan muncul perdebatan yang hebat. "Sampai melotot-melotot matanya." Tapi, pada saat sidang bubar, masing-masing "orang PKI rangkul-rangkulan dengan orang MASYUMI. Orang NU dengan PNI, orang PARTINDO dengan orang NU". "Jadi di luar sidang, semua saudara," Pak Oei menyimpulkan.)




Tanya : Mengenai konfrontasi dengan Malaysia. Dalam memoar Pak Oei, peran Bapak cukup besar dalam menjalankan silent mission ke kelompok-kelompok di Malaysia yang menentang Tengku Abdul Rahman. Bisa diceritakan lebih banyak lagi seputar konfrontasi ini?


OTT: Kalau obyektif, kita diganggu oleh Inggris lebih dahulu dari pada kita konfrontasi dengan Malaysia. Itu betul. Bahwa Inggris sebagai pion Amerika menggunakan taktik untuk mengganggu Indonesia. Ada seorang Jenderal yang - entah masih hidup atau sudah nggak bisa bicara -, Jenderal Darto (?) dan Pak Hario. Di jaman militer mereka tahu, bahwa penduduk di Kalimantan Utara tidak mengenal Merah Putih. Mereka mengenal lagunya God Save The King. Tapi kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk sampai ke sana. Bagian-bagian itu secara de facto dikuasai oleh Inggris. Jadi, tanpa konfrontasi kita ini sudah diganggu oleh Inggris. Tentang pembentukan Malaysia dan diberikannya tempat pada Malaysia dalam Dewan Keamanan PBB, bagi Soekarno ini tidak bisa. Tengku Abdul Rahman itu juga memang suka menyinggung martabat Soekarno. Sedangkan Soekarno orangnya tidak bisa diremehkan. (Di bukunya menurut Pak Oei hal ini belum dia tuliskan, "memang ada hal yang tidak bisa dikemukakan dulu, ada banyak pertimbangan.") ...(Kembali ke soal kebijakan konfrontasi) waktu saya mau diangkat jadi menteri, saya mendekati beberapa menteri. Leimena yang paling banyak. Beliau dikenal sebagai seorang Kristen yang jujur dan setia. Saya anggap beliau sebagai kakak yang lebih tua.

Sebagai manusia yang baik dalam hal moral - bukan politis. Saya tanya sama
dia, "Om Yo, kalau saya jadi menteri itu, tugasnya apa dan bagaimana saya mesti berlaku?" Saya ini kan menteri negara tidak punya departemen. Bos saya langsung Soekarno. Om Yo bilang, "Rasio saya sangsi apakah rasional kita konfrontasi dengan Malaysia. Sebab Malaysia itu berarti England. Dan england, always rules the better, always rules the world.

Padahal RI ini keadaannya kacau balau. Karena saya mempercayakan diri pada political sense Soekarno yang sangat tajam, insting saya mengatakan, tapi otak saya tidak bisa menerima. Tapi kalau kamu ada sesuatu yang secara prinsip tidak setuju, lebih baik tidak ikut dan mengundurkan diri. Dari pada seperti banyak menteri yang diam-diam tapi 'nyabot dari dalam." Om Yo sendiri sangsi. Saya sendiri tadinya kurang jelas. Tapi, I did my best. Saya lihat bila kita melakukan sesuatu di atas Malaysia, mereka telah mengetahui lebih dahulu. Sehingga penerjun-penerjun yang kita drop, itu ditangkapi. Jadi, jelas di dalam kompi ada pengkhianatan.


(Mengenai konfrontasi ini, Pak Oei mengakui bahwa, terlepas dari berbagai argumen yang dikemukakan Soekarno tentang pentingnya konfrontasi dengan Malaysia, "kita memang tidak cukup siap.")

Waktu saya sering ke luar negeri dalam rangka konfrontasi, saya persiapkan itu. Dan, saya punya bukti-bukti yang saya laporkan kepada ketika bahwa intel-intel yang ada sekarang (di jaman Orba-red.) sebetulnya harus menghormatinya. "Anggaplah sebagai saudara tua." Ia tahu tugas intelejen itu apa, termasuk untuk mencari-cari kesalahan orang. Dalam pengalamannya, peran pemuda Indonesia yang belajar di luar negeri, seringkali lebih efektif sebagai 'intelejen' baginya, ketika ia berkunjung ke luar negeri. Ia rasakan itu, terutama ketika era konfrontasi sedang berlangsung.)

Tanya : Silent Mission selain itu, apa?

OTT: Saya ditugasi untuk, antara lain, mencegah buruh-buruh Jepang mengangkut senjata-senjata ke Malaysia. Saya harus meyakinkan mereka. Akhirnya, mereka menolak mengangkut senjata dari Jepang ke Malaysia. Tapi, saya diam-diam waktu itu. Supaya pemerintah Jepang tidak mengetahui. Makanya sewaktu terjadi G30S dan nama saya dicoret-coret di tembok, "Oei Tjoe Tat menjual Indonesia kepada Malaysia." Marah saya. Kemudian saya telpon Jenderal Soegiharto, intel dari Jaksa Agung dan AD. Saya bilang padanya, "bagaimana nih, menjelaskannya?" Dia Jawab, "ndak bisa dong. Pak Oei tidak boleh menjelaskan karena itu resiko dari tugas dan jabatan." Saya bilang, "clear-kan dong. Supaya rakyat tahu. Kasih keterangan pada pers." Tetapi tetap ndak bisa.


[Meskipun bakal menghadapi resiko seperti di atas, Pak Oei tetap  tidak 'buka mulut' terhadap tugas yang dibebankan oleh Soekarno padanya.  Soekarno memang tidak salah memilih Pak Oei dalam menjalankan silent  diplomatic mission ini, sebab seperti dikemukakan oleh Ong Hok Ham,  Soekarno tahu bahwa loyalitas Oei Tjoe Tat pada partai akan berakhir bila  negara telah memintanya. "Soekarno memang pandai," ungkap Pak Oei. Di  jaman itu, memang sulit mencari orang partai yang loyal kepada negara.  Biasanya orang lebih ingin memajukan kepentingan partainya masing-masing.  Jadi, tindakan Pak Oei yang juga tidak memberitahu PARTINDO dan BAPERKI  akan tugas rahasianya, memang sesuatu yang langka. Pak Oei sendiri menyebut dirinya 'apolitis' karena sikapnya itu."Tapi bukan berarti lugu  politik 'kan?" begitu pancing kami.

Ada sebuah pengalaman lagi yang menunjukkan betapa Pak Oei amat  memahami tindakan serta situasi yang menyertai setiap keputusan politik  Soekarno. Dalam resepsi di kedutaan besar Mesir, Aidit pernah mendekati  Pak Oei. Ia bertanya, "Nasakom (kabinetnya) itu kapan? 'Kan presidennya  Pak Oei itu sudah berkali-kali berkaok-kaok. Tapi kok cuma  bernyanyi-nyanyi meninabobokan rakyat Indonesia."

Ini membuat marah Pak  Oei. "Apa itu bukan juga presidennya Aidit?" Ia katakan, Aidit cuma bisa  mengkritik dari luar, meminta PKI duduk dalam kabinet. "Tapi Soekarno yang  duduk dikursi adalah pelaku. Dia harus memperhitungkan betul-betul. Kalau  PKI dimasukkan, tentara berontak. Kalau tentara berontak, menang mana?  'Kan lain..". Pelaku itu memang lain posisinya. Karena situasinya beda  dengan pengamat yang mengambil jarak dari situasi. Seorang pelaku, "harus  memperhitungkan betul-betul segala sesuatunya secara teliti. Lebih  kompleks." Baginya Aidit sebagai seorang anggota parlemen, saat itu adalah  semata-mata pengamat. Ditambahkannya, "Pengamat mungkin obyektif, tapi  kami yang menghayati situasi, mohon diberi pengertian..."]


RRC DAN G30S-PKI

 

Tanya : Sekarang soal G30S/PKI. Adakah RRC mempunyai hubungan dengan peristiwa  ini?

OTT: Banyak orang selalu menyatakan bahwa G30S didalangi atau direstui oleh  RRC. Konfrontasi pun dikatakan demikian. Saya tidak mengerti seluk beluk  yang persis. Tapi dalam konfrontasi, pernah. Pak Karno bilang pada saya  (agar RRC diminta bantuannya dalam konfrontasi). Pada suatu resepsi di  kedutaan besar RRC, saya mendekati salah satu menteri yang pada waktu itu  datang. Saya bilang, "RRC sama kita seperti kawan seperjuangan. Tapi dalam  konfrontasi ini, nampaknya RRC kok seperti hanya melihat saja. Apakah tidak  bisa memberi tanda simpati. Paling tidak memberi senjata." Dia jawab begini  - yang menurut saya merupakan petunjuk RRC tidak mendukung kebijakan  konfrontasi -, "jelas kita tetap kawan seperjuangan. Kalau Indonesia perlu senjata, kita kasih. Tapi Indonesia harus mengambil sendiri senjata itu.  Dan kita cuma bisa memberi senjata ringan. Kenapa? Kita tidak setuju cara  konfrontasi Indonesia yang dititikberatkan di Malaya, di mana  infrastrukturnya sudah sempurna. Dan tidak mungkin Indonesia bisa  menguasainya. Kalau Indonesia sungguh-sungguh mau konfrontasi, harus  gerilya di hutan-hutan Kalimantan. Dan untuk perang di hutan ini, kami  bersedia memberikan senjata ringan dan silakan ambil sendiri." Jadi  nadanya, nada sinis. Bagi saya ini bukti bahwa RRC tidak setuju.

...Sekarang mengenai G30S. Logikanya, RRC melihat Soekarno sebagai kawan  seperjuangan. Meskipun RRC kuat dan sebagainya, tapi adanya Soekarno itu  melindungi sebelah Selatan RRC. Kalau tidak ada Soekarno, itu Amerika yang  menguasai. Jadi melihat Indonesia sebagai partner, paling sedikit. Buat apa  RRC ikut mendongkel Soekarno. Dia butuh Soekarno. Ini kita hitung dengan  logika saja. Motifnya bukan karena dia cinta sama Soekarno atau Indonesia.  Tapi untuk kepentingan negaranya sendiri, mereka tidak mau menghilangkan  kekuasaan Soekarno. Kedua. Saya dengar dari Ali Ihram (?), intel. Dia  diberitahu waktu Chen Yi - Menteri Luar Negeri RRC - datang di sini, dia  menegur Aidit, "kalian mesti sadar, PKI ada karena toleransi Soekarno.  Karena Soekarno membutuhkan kalian untuk mengimbangi golongan-golongan  kanan. Maka saya minta, PKI tidak boleh berbuat sesuatu tanpa memberitahu  Soekarno. Kamu sendiri saja, tidak bisa menyelesaikan." Jadi, garis  besarnya, ia tidak setuju kalau PKI mengganjal Soekarno. Ada beberapa  petunjuk bahwa RRC tidak terlibat dalam G30S. Bahwa mereka seolah-olah  sudah tahu lebih dahulu beberapa jam sebelum aksi meletus, itu saya bisa  mengerti. Sebab mereka juga punya intel.

[Bahwa Soekarno merasa dibutuhkan oleh RRC, disadari betul  olehnya. Jika seorang menteri koordinator seperti Pak Marno harus dengan  ulet dan ngotot mencari pinjaman pada menteri keuangan RRC, maka Soekarno  hanya dengan menepuk bahu Chou En Lai, dan berkata, "hey, masa' ndak  'ngerti kesulitan Indonesia. Kami ndak usah meminjam lah, tapi tolong  hutang kita dihapus semua." Dan, Chou En lai memang tidak bisa berkutik  lagi. Sampai-sampai Pak Marno, merasa bahwa mestinya Soekarno tidak perlu  lagi menteri keuangan.]

Tanya : Apa yang anda ketahui mengenai skenario G30S ini? Siapa sebetulnya yang  harus bertanggung jawab?

OTT: Perlu kalian mengetahui lebih dahulu, bahwa saya mengetahui sedikit  tentang banyak sekali masalah. Tapi, saya tidak mengetahui cukup tentang  satu masalah pun. Karena tugas saya itu begitu. Saya tidak ada waktu cukup,  tidak ada staf cukup untuk mengetahui satu masalah dengan cukup. Tugas saya  hanya membantu empat orang (Soekarno, Soebandrio, Leimena dan Chaerul Saleh  sebagai Perdana Menteri dan wakil-wakil Perdana Menteri-red.). Saya ini  diharuskan mengikuti segala sidang. 'Kan nggak mungkin. Bahkan kalau  Chaerul Saleh harus meninjau daerah, saya harus ikut. Nah, kalau  pertanyaannya bagaimana mengenai G30S, ...istri saya yang (mungkin) lebih  tahu. Tanggal 27 sampai 28 September, saya tugas di Hongkong.

Duapuluhdelapan September malam saya baru tiba. Dan menurut aturan, kalau  saya dari luar negeri, esok harinya harus lapor pada presiden. Jam tujuh  malam itu saya menelpon istana dan minta audiensi pada tanggal 29. Dijawab  bahwa tanggal 29 itu sudah full, Pak Oei supaya datang pada tanggal 30  saja. Istri saya pada 28 September, rapat di gedung Sin Ming Hui - Sin Ming  Hui anggotanya pribumi juga ada. Nah, di situ, ada seorang Gerwani, seorang  dokter. Dia tanya pada istri saya, "malam ini Pak Oei 'nginap di mana?"  Istri saya 'kan ndak 'ngerti. "Ya, 'nginap di jalan Blitar." Pertanyaan itu  terus diulang-ulang. Baru setelah berbulan-bulan setelah peristiwa (G30S)  itu istri saya berpikir, kalau begitu mungkin Gerwani sudah mengetahui  sebelumnya.

...Saya pernah ditanyai oleh Pak Harto tentang kapan Bung Karno mengomandokan rakyat - oleh karena Pak Karno selalu bilang supaya rakyat  tetap tenang sambil dia nanti akan memberi keputusan. Saya bilang pada Pak  Harto, tanpa Pak Harto tanyai, saya sudah berkali-kali tanya sama Bung  Karno. Kapan itu diberikan kepada rakyat. Sebab rakyat itu gelisah. Mereka  tidak tahu apa dan siapa yang salah, apa yang mereka harus perbuat dan  sebagainya. Pak Harto mengatakan, "selama belum ada komando dari presiden, anak buah saya masih terus dibantai oleh PKI."

Kemudian Pak Harto bertanya  lagi, "kenapa Pak Karno tidak membubarkan PKI ini? PKI ini sudah menusuk  kita dua kali. Satu kali ketika kita melawan Belanda, peristiwa Madiun.  Yang kedua kalinya ini. Apa belum cukup korban?" Saya katakan begini, "saya  tidak tahu kenapa kok Pak Karno masih menunda-nunda." Lalu dia bilang,  "kalau pak Oei sendiri setuju nggak, PKI dibubarkan?" Saya bilang, "karena  saya ini pembantu presiden tidak bisa menyuarakan sendiri. Pak Karno dan  Jenderal Soeharto masing-masing punya staf. Juga intel. Staf saya hanya 8,  bagaimana saya mau mengetahui PKI salah atau tidak. Kalau Pak Harto dan Pak  Karno bilang PKI salah, saya bilang salah. Kalau Pak Harto dan Pak Karno  bilang tidak salah, saya bilang tidak salah." ...Kembali ke pertanyaan  tadi. Sementara, sampai detik ini, kalau tidak ada lain bukti lagi, saya  masih berpegang pada pendirian Soekarno. Soekarno yang saya kenal sebagai  orang yang emosional, itu dalam sidang-sidang kabinet setelah G30S, selalu  marah dan mengatakan "gara-gara semua ini. kita mundur." Tapi, selalu dia  menyalahkan tiga unsur. Unsur-unsur luar negeri, terutama CIA Amerika,  kemudian unsur-unsur dalam negeri terutama oknum-oknum angkatan darat yang  tidak betul, kemudian - dia bilang - ada orang-orang PKI yang keblinger.  Sampai detik ini pun saya masih berpegang pada itu kecuali ada bukti-bukti  baru. Dan Soekarno tidak hanya begitu saja, dia bisa menunjukkan dalam  sidang kabinet, kuitansi dari beberapa ratus ribu... yang diberi oleh  Amerika kepada 'seseorang' dari kita. Dan dia menggunakan kata-kata latin  yang artinya. "uang itu tidak berbau busuk." Artinya, uang itu enak. Orang  Indonesia yang dikasih sekian untuk menjual negaranya, mau saja. (Lagi)  ...dan ada seorang yang bilang sama Ny. Soebandrio, "jangan mengira  Soekarno itu akan selalu menguasai Indonesia. Mungkin dalam beberapa minggu  akan..." Nah, Soekarno dalam kabinet bilang, "ini orang kok bisa predict,  bisa meramalkan begitu kenapa?" ...Sudah baca The Troyan Horse? ...Bahwa  Amerika ini, bukan hanya satu dua tahun, sudah belasan tahun menyiapkan  segala sesuatunya. Di bidang budaya, perguruan tinggi, segala-galanya.

Tanya : Tadi dikatakan Soekarno memberi peluang kepada PKI untuk tetap eksis.  Apakah ini karena PKI dan Soekarno mempunyai paham yang sama?

OTT: Dalam hal anti kapitalis, ya sama. Tapi tidak semua sama. Bung Karno orang yang religius, PKI tidak. Bung Karno anti kekerasan. PKI jelas tidak.  Saya bukan memusuhi PKI, Marxisme atau Leninisme. Saya kagum. Tapi PKI  dalam beberapa praktek, saya ndak bisa setuju. Di mana dia kuasa sedikit,  dia akan memaksa. Contoh... Saya dekat lho dengan Nyoto - dengan Aidit  kurang. Waktu di Bali diadakan Pemilihan Umum DPRD - pada waktu itu yang berkuasa di Bali: PKI, PNI, NU -, mereka mengatakan NASAKOM haruslah  Nas-nya PNI, A-nya hanya NU, kemudian Kom-nya harus PKI. Kemudian ada  PARTINDO partai saya. Tapi, tidak boleh masuk. Wah ini bertentangan dengan  penafsiran Bung Karno. Waktu itu saya kasih tahu Nyoto. "Sekarang saya
minta kepada Pak Nyoto untuk kasih pengertian pada PKI di sana." Dia tanya  apa betul terjadi begitu. Saya bilang betul. Saya kasih tempo. Bila tidak  ada juga jawaban memuaskan, saya akan kasih tahu Pak Karno. Karena ia yang paling pandai menafsirkan apa yang dimaksud NASAKOM. Setelah satu minggu,  saya ke Bung Karno. Saya ceritakan pada Bung Karno. Ia bilang, "Nyoto itu  orang intelektuil, apa dia ndak pura-pura?" Saya bilang belum tentu.

Dua  hari kemudian Nyoto menelpon, "Pak Oei, ndak usah dong ngomong-ngomong sama  Pak Karno. Saya sudah tegor temen-temen di Bali." Ini contoh bahwa PKI  kadang-kadang... wajar. Tapi, jangan begitu. Juga di Bali, PNI paling berkuasa. Pamong praja yang dikuasai oleh mereka. Dan seperti saya katakan,  kalau saya apolitis, PNI itu sangat politis. Semua kebutuhan pokok pamong  praja dikuasai, juga fasilitasnya. Kalau perlu pedagangnya. Tidak beda  dengan Golkar sekarang. PNI juga seperti itu. Nah, PKI yang nomor dua di  sana. Dia (PKI) mengejek, meremehkan, menyinggung perasaan orang-orang Bali  yang bukan Islam. Seperti mengejek sesajennya orang Bali. Apakah mereka mau  menyembah patung, (seharusnya) itu bukan urusan kita dong. Itu pengalaman  saya dengan PKI. Dengan (tidak mengurangi) catatan bahwa PKI sangat berjasa  bagai kemerdekaan Indonesia. Dan orang-orangnya brilyan. Serius. Dalam  keseriusan pada urusan partai, kita kalah. Cuma saya nggak senangnya,  mereka suka memaksa. Bagi mereka hanya ada 'lawan' atau 'kawan'.

Tanya : Ada yang menarik disini (memoar-red.), yaitu adanya peran seorang CIA  bernama Pater Beek di sekitar peristiwa G30S. Sebetulnya apa peran dia saat  itu?


OTT : Pater Beek itu , saya lihat pertama kali setelah saya dibebaskan.  Saya di dalam tahanan mendengar dari orang-orang PNI, BAPERKI, PKI, dan  sebagainya bahwa Pater Beek ini adalah seorang agen CIA. Dia membina  pemuda-pemuda Katolik, terutama pemuda-pemuda keturunan Tionghoa-Katolik,  untuk antara lain membakar gedung Kedubesan RRT, membakar gedung Universitas Res Publika dan menghancurkan semua gedung-gedung PKI atau  rumah-rumah orang PKI. Ini dianggap ultra-kanan. Selama saya mendengarkan  itu, saya di RTM. Bagaimanapun saya Katolik. Jadi, ada seorang pastor  Katolik begitu, saya diam. Tapi pada waktu saya diperkenalkan dengan Pater  Beek dan dia datang kesini (RTM-Red) kemudian, dia mengaku. Dia bilang  begini pada saya, "kalau pak Oei perlu sesuatu dari (...?), saya bisa." Ali  Moertopo, semua jenderal."...Saya dengar dia ini membantu Liem Bian Koen  dan Liem Bian Khie. Sumarlin. Semua ini dibawah dia. Dia juga kuat di  PMKRI. Tapi anehnya, waktu saya minta seorang pastur Belanda lain untuk  mengumpulkan ikatan pastur 'bule', untuk makan malam, dia (pastur Belanda  itu-red.) bilang, "wah nggak bisa Pak Oei. Bisa terjadi perang saudara  nanti."

Jadi di dalam dunia Katolik, dia (Pater Beek-red.) merupakan satu  tokoh kontroversial. Waktu saya pertama kali ketemu dia, saya menyindir  dia. "Saya ini Oei Tjoe Tat yang paling jahat (selama Orde Lama-red.)."  Rumahnya, gede dari kayu. Yang melayani semua laki-laki, yang ternyata  student. ...(Singkat cerita, dalam sebuah acara di Solo, Pak Oei bertemu  dengan seorang mahasiswa Katolik yang mengaku pernah dibina oleh Pater  Beek. "Semua dengan maksud untuk membina kader-kader yang dijadikan  kelompok pelopor untuk barisannya Beek," kata Pak Oei. Orang-orang yang  bersedia dibina itu, "karena mereka masih muda-muda, mereka idealis dan  ingin menjadi hero." Dalam pembinaan itu, konon, para pemuda didoktrin  untuk mempersiapkan dirinya bak seorang martir, masuk ke dunia politik dan  'berjuang' untuk kepentingan Katolik - terutama terhadap kalangan komunis.  Mereka ini, "disiapkan secara mental dan fisik untuk menderita paling  hebat."). Dia kemudian,mati di Singapore. Orang bilang, dia gila. Saya bisa  mengerti kalau dia gila. Pasti dari dulu dia memang agak tidak normal.  Mungkin karena dia punya rasa bersalah (karena ikut membantu dalam  kejatuhan pemerintah Soekarno-red.). (Sampai sebelum bertemu dengan seorang  mahasiswa di Solo tadi, "saya itu masih membela lho. Tapi setelah saya  dengar di Solo, kalau saya bikin kedua, saya akan rubah sedikit.")

Tanya : Kembali ke soal Soekarno. Masih ada suara-suara yang kami dengar dari  beberapa orang, tokoh yang merasa, pada jaman Orde Lama, mereka itu  ditindas. Tapi, sebaliknya dari cerita orang-orang yang dekat dengan  Soekarno - seperti Pak Oei sendiri - Soekarno bukan tipe yang demikian.  Nah, sebetulnya, penindasan yang disebut-sebut pada jaman Orla itu produk  dari mana?


OTT: Saya tidak akan jawab langsung. Begini. Saya selalu mengatakan,  menulis buku ini, bukan uraian politik. Bukan buku sejarah. Tapi hanya  rekaman belaka dari apa yang saya lihat dan saya dengar, dengan telinga  saya dan mata saya. Dus, sangat subyektif. Apalagi dengan memori saya.  Kalau saya menulis tentang Soekarno, saya menulis seperti dia  'memperlihatkan' kepada saya. Apa yang saya dengar dari dia, apa yang saya  lihat. Saya tidak bisa menulis tentang Soekarno, apa yang tidak saya lihat.  Seandainya dia jual negara ini, mungkin saja. Di luar pengetahuan saya.
Kalau dia misalnya mencuri, mungkin. Ini aku nggak tahu. Juga kalau saya  menulis tentang Beek. Seperti saya juga menulis tentang Harto, saya juga  melihat Harto dari (cara) ini. Saya menulis apa adanya menurut penglihatan  dan pendengaran saya. Tapi kalau menurut orang-orang dan kejadian-kejadian  itu ternyata lain, mungkin benar. ...Tentang Soekarno. Saya melihat  Soekarno dalam berbagai dimensi. Sebagai pemimpin, sebagai manusia.  Totaliter? Apa dia totaliter? Waktu dia mendesak saya sebagai menteri, the  first moment saya berbicara empat mata dengan dia, saat itu mungkin dia  bisa otoriter. Tapi, selama saya dekat dengan beliau, mungkin saya  satu-satunya orang Indonesia yang bisa omong tentang segala hal, yang enak,  yang tidak enak, yang mungkin menyinggung. Dia tak pernah marah.

Satu hal.  Dengan Soekarno, kita bisa berdebat tentang segala hal, asal tidak mau  diketahui bahwa dia kalah dari kita. Kalau empat mata dia mau. Tapi, kalau  ada lain orang, dia mintanya mau menang. Dia ndak mau dipermalukan di depan  orang lain. Kalau sendiri dia sangat demokratis. Kalau kita berani, dia  akan menghormat kita. Dia seperti psikolog. Maunya menguji jiwa orang. Dan  ternyata, sewaktu dia keras, otoriter terhadap saya, saya pikir, oh dia ini  mau menguji. Supaya dari sejak semula, sudah ditanamkan dalam benak saya,  "I'm your boss." Tapi, kalau dia totaliter dalam soal lain, saya tidak  tahu. Nyamuk, dia ndak mau dimatikan. Dia tidak mau melihat life itu  dimatikan. Seperti orang Budha. Dia ndak rela darah Indonesia mengalir.  Lebih baik turun sebagai presiden. Kalau kita untuk mendesak dia, dia hanya  menggigiti kukunya. Dan saya tidak tega mendesak dia lebih jauh. Totaliter?

...Prof. Lev menulis pada saya, "Pak Oei selalu berbicara tapol/napol,  seolah-olah di jamannya Soekarno tidak ada tapol." Saya jawab, "ada." Tapol  Soekarno dengan tapol Orde Baru, lain. Saya belum pernah ditahan Orla.  Tapi, Almarhum Mayor Soemardjo, komandan Kam di Nirbaya, komandan Kam  Sarangan, dia cerita pada saya, "tapol Soekarno itu - seperti Mohtar Lubis  - boleh keluar dasn dipilah-pilah, lux. Hawanya enak, lalu makanannya semua  dari restoran. Rokoknya Dunhill, Lucky Strike." Soemardjo, setiap sepuluh  hari harus lapor ke Jakarta. Tiap kali dia ke istana, dia digertak oleh  Soekarno, "kamu apakan orang-orang itu? Makanannya bagaimana? Awas, ini  orang-orang bukan penjahat. Orang-orang ini, kalau terjadi  perubahan-perubahan politik, ini pemimpin-pemimpinmu. Yang kuasa itu  mereka. Mereka kami tahan karena menyabot politik kita. Mereka cuma berbeda  paham politik. Jadi kamu mesti hormat pada mereka." Kalau kita di Nirbaya,  radio, koran semua nggak boleh masuk. Bahkan, permulaannya hanya Al'quran  dan Injil yang boleh masuk. Buku-buku teologi muslim tidak. Teologi Kristen  tidak. Di Sarangan, Anak Agung Gede Agung jadi sarjana, karena buku-buku  pengetahuan dimasukkan berpeti-peti. Mereka boleh naik kuda dengan radius  10 km, asal tidak mempengaruhi penduduk di sana. Saya tulis pada Lev,  "lain, dong."

[Cukup. Cukup sampai di sini. Masih banyak sebetulnya yang perlu  kami gali dari orang ini. Memang seperti yang dikatakannya sendiri,  pengalamannya adalah sangat subyektif untuk kami jadikan bahan  rekonstruksi sejarah. T api, kami memang tidak berpretensi untuk  merekonstruksi sejarah. Sejarah punya ceritanya sendiri, punya jalannya  sendiri yang jauh lebih kompleks dari sekedar data-data statistik dan  momen-momen tertentu yang setiap saat diperingati. Tak peduli ada  pihak-pihak yang ingin merekayasa dan menafsirkannya secara sepihak. Kami  justru ingin melihat, semangat jaman dari masing-masing subyek yang  'hadir' dan ikut andil dalam pembentukan sejarah itu. Kami butuh 'rasa' -  tak ada sejarah yang bergerak tanpa rasa - untuk mewarnai kusamnya sejarah  kita kini yang serba materialistis, instant dan teknokratis. Yang tidak  mungkin kami peroleh dari 'obyektifitas' tapi justru dari dialog tanpa  henti dengan berbagai macam 'subyektifitas'. Mungkin saja, dari berbagai  dialog ini akan muncul tersamar wajah obyektifitas. Mungkin.]***

Tulisan ini merupakan bagian dari arsip Mailing-List Budaya Tionghua No 19990

Budaya-Tionghoa.Net |Mailing List Budaya Tionghua |  Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(3 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1807-oei-tjoe-tat-1922-1996-dialog-dengan-saksi-dan-pelaku-sejarah-tinggalkan-warisan-pengalaman-bagi-generasi-muda

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto