A+ A A-

Zhou Enlai Di Bandung : Dokudrama Kebijaksanaan PM China Di Konferensi Asia Afrika 1955

  • Written by  Yan Widjaja
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | MINGGU lalu, beruntung sekali rasanya aku mendapat kesempatan menonton preview  film Zhou Enlai in Bandung. Acaranya digelar di PPHUI (Pusat Perfilman H Usmar Ismail), Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta. Penyelenggaranya Kedutaan Besar China di Indonesia. Para undangan antara lain adalah Ibu Megawati Soekarnoputri, perwakilan Deperdag, Kebudayaan, dan para Duta Besar sejumlah Negara sahabat.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Film Zhou Enlai in Bandung termasuk genre dokudrama berlatar belakang fakta sejarah yang benar-benar terjadi. Menuturkan satu babak dari kehidupan Perdana Menteri RRC, selama tujuh hari misinya di Indonesia (dari 18 sampai dengan 24 April 1955), khususnya memimpin delegasi RRC dalam Konferensi Asia-Afrika 1955.

Diproduksi oleh Beijing Film Studio dan China Film Group Corp.  (Perusahaan Film Negaranya China), dengan tiga produser; Yang Buting, Yan Xiaoming, dan Li Bolin. Disutradarai oleh Wei Lian berdasarkan skenario karya Chen Dunde.

Pemain utamanya, Wang Tie Cheng (sebagai Zhou Enlai) berakting simpatik, kalem, sederhana bersahaja, dan meyakinkan, didukung aktor kawakan Indonesia, Soultan Saladin (sebagai Presiden Soekarno yang berwibawa), Ali Abdullah (Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo), aktor India Pratap Sharma (PM Jawaharlal Nehru), dan puluhan lainnya lagi yang memainkan karakter tokoh-tokoh kepala pemerintahan negara-negara Asia-Afrika dengan kemiripan sangat meyakinkan (bayangkan penyeleksiannya).

Syuting berlangsung dalam tahun 2004 lalu. Berlokasi selain di Jakarta dan Bandung, juga di Hainan. Sejatinya memang film ini dimaksudkan untuk menyambut ultah ke-50 Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bandung tahun 2005 kemarin.

Yang sangat mengagumkan dari film berdurasi sekitar 90 menit ini adalah keakuratan dan ketelitiannya. Bagaimana tim artistik dipimpin Lin Chaoxiang berhasil menghadirkan mobil-mobil tempo doeloe, termasuk pesawat terbang produksi India pada masa itu, di samping detil busana, bahkan jalan-jalan dan suasana di Jakarta serta Bandung pada tahun 1955!

Cerita diawali dengan meledaknya pesawat terbang India, Princess Kashmir, yang membawa delegasi pertama China ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika. Tercatat tanggal 11 April 1955, selepas Hong Kong, di atas Laut China Selatan, pesawat itu meledak dan menewaskan semua rombongan delegasi. Esoknya, 12 April, Pemerintah China mengumumkan pesawat terbang itu disabotase oleh agen rahasia Kuomintang, Taiwan.

Di Kunming, Provinsi Yunnan, Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Zhou Enlai, tak gentar oleh sabotase delegasi pertama, tetap memutuskan untuk menghadiri Konferensi Asia-Afrika. PM Zhou yang tersohor jauh lebih bijaksana ketimbang Mao Zedong selaku Ketua Partai Komunis sekaligus Presiden RRC, segera berunding dengan staffnya. Menepis semua cegahan staffnya, PM Zhou memutuskan untuk mengemban misi diplomatik, terbang ke Jakarta, dengan menggunakan pesawat terbang Hegemon King in the Air, milik India Airlines.

Perbuatannya ini sangat mengangkat harkat India, hingga mencerahkan wajah Nehru, PM India, yang selalu didampingi putrinya, Indira Gandhi. PM Zhou sempat singgah lebih dahulu ke Rangoon, ibukota Burma, untuk bertemu PM U Nu. Kedatangan Zhou di bandara Kemayoran disambut luar biasa oleh warga keturunan China di Jakarta. Empat mobil penjemput dikirimkan oleh Presiden Soekarno termasuk limusin pribadinya. PM Ali Sastroamidjojo melakukan penyambutan resmi.

Di Kedutaan Besar RRC, Zhou berdialog langsung dengan warga Tionghoa. Pada masa itu, warga Tionghoa seolah terpecah menjadi tiga golongan. Golongan pertama, hoakiauw, yakni mereka yang mempertahankan kewarganegaraan China. Golongan kedua, mereka yang ingin menjadi warga negara Indonesia, karena lahir, berkarya, dan kelak juga ingin mati di sini. Golongan ketiga adalah Koumintang yang berkiblat ke Chiang Kaishek, Presiden Taiwan.

Presiden Soekarno sempat bertukar pendapat dengan PM Zhou mengenai politik dwi kewarganegaraan bagi kalangan Tionghoa. Justru PM Zhou lebih menganjurkan agar warga Tionghoa menjadi WNI. Ucapnya pada ratusan orang Tionghoa yang dengan penuh antusias merubungnya dalam hujan rintik-rintik malam hari di halaman Kedubes, Anggaplah kalian sebagai anak perempuan yang telah menikah, walaupun telah dianggap sebagai orang luar, namun apakah akan ditolak jika mengunjungi rumah orangtuanya sendiri?

Tidak, percayalah, kalian pasti diterima jika sekali waktu ingin berkunjung ke tanah leluhur, itu sikap resmi pemerintah China. Prinsip utama Zhou, Janganlah kau berbuat yang kau tak mau orang lain berbuat seperti itu kepadamu,selain memperkenalkan Lima Prinsip Dasar dari China.

Tercatat 29 negara Asia-Afrika yang menjadi peserta resmi konferensi. Terjadi gontok-gontokan di antara peserta sendiri. Misalnya India dengan Pakistan. Bahkan Thailand blak-blakan mengencam sikap Pemerintah China. Sedangkan Gamal Abdl Nasser dari Mesir memperingatkan bahayanya komunis. Namun dengan kebijaksanaan luar biasa, dengan lembut, Zhou berpidato selama dua puluh menit, menegaskan kedatangan delegasinya bukanlah untuk bertikai, bukan untuk mempromosikan komunis, melainkan mencari persatuan dan kesatuan antar bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Berkat pidatonya yang menyejukkan itulah, akhirnya tercapai kesepakatan antar bangsa-bangsa yang melahirkan Dasa Sila Bandung. Di sela-sela kesibukannya, Zhou yang hanya tidur dua jam per harmal, itu pun menjelang subuh, sempat juga ia bertemu dengan puteri sulung Presiden Soekarno, Megawati Soekarnoputri, yang baru berusia sekitar lima tahun namun sudah mampu berbahasa Inggris.

Sementara keselamatan pribadinya terancam oleh 23 pembunuh bayaran yang disusupkan Kuomintang. Intrik-intrik dari pihak Barat seperti Dulles dari Amerika Serikat. Wartawan-wartawan dunia internasional yang tak mau melewatkan kesempatan bersejarah, konferensi terbesar di dunia yang pertama tak melibatkan Amerika dan Eropa.

Terus-terang aku pribadi sangat terkesan pada film yang digarap dengan kualitas dan tujuan baik ini. Film ini membuat aku bangga, terharu, sekaligus malu. Perasaan terakhir ini karena kita sendiri sebagai bangsa Indonesia belum mampu membuat film yang mencanangkan kebesaran Bung Karno sebagai pemersatu Asia-Afrika yang diakui dunia pada masa kejayaannya. Kalau saja filmnya tentang misalnya Zhou Enlai in Beijing, rasanya aku tak perlu merasa bangga apalagi terharu.


Yan W , 20498

Budaya-Tionghoa.Net |Mailing List Budaya Tionghua Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1819-zhou-enlai-di-bandung--dokudrama-kebijaksanaan-pm-china-di-konferensi-asia-afrika-1955

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto