A+ A A-

Mengapa Ceng Beng Jatuh Pada Tanggal 5 April ?

  • Written by  Rinto Jiang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Ada pertanyaan dari satu member mengenai  satu kebetulan bahwa dalam buku karangan Colin Candy disebutkan bahwa tanggal 5 April di tahun 33 Masehi merupakan hari Paskah dan hal ini sudah diperingati oleh gereja-gereja Kristen/Katholik sejak jaman Romawi dulu. Pertanyaannya berlanjut tentang kenapa Cheng Beng atau Qing Ming diperingati tanggal 5 April juga , menurut persepsinya jika berdasarkan penanggalan Tiongkok tentu tanggal dan harinya akan selalu berubah sesuai penanggalan Imlek ?

Artikel Terkait :

{module [201]}

Karena itu saya jawab dalam bentuk rubrik ASM (Apa Siapa Mengapa) saja, supaya dapat diarsipkan dengan rapi dan dapat menjadi referensi di masa depan. Masih banyak yang belum jelas mengapa Ceng Beng itu selalu jatuh pada 5 April setiap tahunnya. Sebenarnya ini sudah sering dibahas dan saya sendiri sudah menjawab berkali-kali sejak milis ini didirikan, namun jangan kuatir, selama ada yang bertanya, maka akan saya jawab. Untuk anggota lainnya yang sudah tahu, mohon maaf karena selalu diulang2 terus.

Festival dalam Tionghoa yang besar yang selalu diperingati kira-kira ada 5:


  1. Festival musim semi: tahun baru Imlek (tanggal 1 bulan 1 penanggalan Tionghoa)
  2. Ceng Beng: ziarah makam (tanggal 5 April penanggalan Masehi)
  3. Festival musim panas: Duanwu (Toan-ngo, Pehcun di Indonesia, tanggal 5 bulan 5 penanggalan Tionghoa)
  4. Festival musim gugur: Zhongqiu (Tiongchiu, tanggal 15 bulan 8 penanggalan Tionghoa)
  5. Festival musim dingin: Dongzi (Tangche, tanggal 22 Desember penanggalan Masehi)


Dari sini, dapat kita lihat, ada dua perayaan yang didasarkan pada penanggalan Masehi, namun jangan kira ini berasal dari penanggalan Masehi Barat sana. Penanggalan Tionghoa itu adalah penanggalan paling rumit yang pernah ada di dunia, karena didasarkan atas pergerakan bulan, matahari, planet serta bintang. Lain dengan kalender Masehi yang hanya mematok pada matahari, ataupun kalender Arab yang hanya mematok pada bulan.


Kelihatannya, kalender Tionghoa itu kalender bulan, tidak begitu halnya, karena ada faktor peredaran matahari di dalamnya, yaitu 24 posisi matahari. 1 posisi matahari adalah berjangka waktu 15 hari, ada 2 posisi matahari dalam 1 bulan. Posisi ini telah ada sejak zaman Huangdi (2697 SM, 4700 tahun lalu) didasarkan atas 12 cabang bumi yang diciptakan olehnya.


Mengapa harus ada posisi matahari dalam kalender Tionghoa?

Karena Tiongkok sejak dulu adalah negara agrikultur, mayoritas penduduk Tiongkok adalah petani dan petani harus menanam sesuai musim. Musim bergantung pada peredaran matahari, sehingga posisi matahari ditambahkan dalam kalender Tionghoa.


Apa posisi matahari penting dalam kalender Tionghoa?


- Lipchun (mulai musim semi), tanggal 5 Februari

- Chunhun (tengah musim semi), tanggal 21 Maret (matahari berada di khatulistiwa)
- Cengbeng (cerah dan terang), tanggal 5 April
- Heche (tengah musim panas), tanggal 21 Juni (saat ini matahari berada pada 23.5 LU, siang terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok)
- Chiuhun (tengah musim gugur), tanggal 23 September (matahari berada di khatulistiwa)
- Tangche (tengah musim dingin), tanggal 22 Desember (saat ini matahari berada di 23.5 LS, malam terpanjang di belahan bumi utara/Tiongkok).

Dari 24 posisi matahari ini, Ceng Beng dan Tangche dijadikan festival penting dalam kebudayaan Tionghoa.


Mengapa Ceng Beng dijadikan sebagai festival ziarah makam?


Ini berasal dari tradisi kerajaan di zaman dulu. Ceng Beng dipilih karena 15 hari setelah Chunhun, biasanya dipercayai merupakan hari yang baik, cerah, terkadang diiringi hujan gerimis dan cocok untuk melaksanakan ziarah makam. Sebelum zaman Dinasti Qin, ziarah makam hanya monopoli dan hak para bangsawan. Namun setelah Qin Shi-huang mempersatukan Tiongkok dan mengabolisi para bangsawan, rakyat kecil kemudian meniru tradisi ziarah makam ini setiap Ceng Beng.
Ceng Beng juga dipilih karena biasanya, dekat Ceng Beng, para petani telah selesai menabur benih dan mereka punya waktu senggang untuk menunggu panen tanaman mereka (musim semi menabur benih, musim gugur memanen hasil).

Rinto Jiang , 18197

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1829-mengapa-ceng-beng-jatuh-pada-tanggal-5-april-

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto