A+ A A-

Dunia Tang yang Dingin dan Pahit di dalam Puisi Mbeling Meng Jiao ( 751 - 814 )

  • Written by  John Kuan - via Liu WL
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |   Pemberontakan An Lushan yang bertahan delapan tahun ( 755 - 763 ) telah menyapu habis seluruh kebesaran dan kemegahan Dinasti Tang. Sejak itu Dinasti Tang di mata penyairnya telah berubah menjadi selingkar matahari musim dingin di ufuk barat. Sekalipun kadang-kadang masih kelihatan berpijar kemerah-merahan, tetapi bagaimana pun sedang perlahan-lahan terbenam. Dan kelapangan dada, semangat bergelora, dan keyakinan mencengangkan yang diwakili oleh Li Bai dan Du Fu, telah layu dan gugur di dada penyair. Mungkin kadang-kadang masih berkedip sekejap di dalam satu dua puisi penyair masa itu, tetapi sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Ini mungkin dapat disebut suatu penyakit zaman: Realita yang merosot telah meracuni jiwa penyair ——— realita yang terpampang jelas di depan mata, siapa pun tidak mampu berlagak tidak kelihatan.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

 

Pemberontakan memang berhasil dipadamkan, tetapi kedaulatan dan kekuasaan Dinasti Tang telah jauh berbeda. Untuk memadamkan pemberontakan ini Klan Li sebagai penguasa Dinasti Tang telah melakukan berbagai kompromi politik dan meminta bantuan militer dari jenderal-jenderal asing yang berkuasa di perbatasan. Tentu bantuan militer begini bukan tanpa imbalan; ada yang dijanjikan untuk menjarah kota yang berhasil direbut, ada yang dijanjikan jabatan Gubernur Jenderal setelah berhasil menguasai daerah itu. Keputusan-keputusan begini yang kemudian membentuk provinsi-provinsi yang memiliki otonomi penuh yang biasa disebut Provinsi Militer atau dalam catatan sejarah Cina disebut 藩 镇 ( baca: fanzhen ). Provinsi-provinsi ini sesungguhnya memiliki kedaulatan penuh atas teritorinya, mereka juga tidak menyerahkan pajak ke pemerintah pusat, yang mereka lakukan terhadap pemerintah pusat di Chang'an tidak lebih daripada lip service. Permbangkangan provinsi militer serta pertikaian politik istana antara gerombolan kasim yang mengitari Kaisar dengan pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang masih setia kepada kerajaan menjadi pemicu utama runtuhnya Dinasti Tang.

Menyusul krisis politik tentu adalah krisis sosial. Setelah provinsi-provinsi militer menolak menyetor pajak ke kas negara, dan biaya besar yang mesti dikeluarkan untuk memerangi pemberontakan yang meletup di sana-sini, keuangan kerajaan pada dasarnya sudah bangkrut, dan keadaan ini telah menggoyahkan sendi-sendii perekonomian, ditambah lagi kota-kota besar seperti Chang'an dan Louyang sudah tinggal puing setelah berulang kali dijarah, baik oleh tentara pemberontak, tentara asing maupun tentara kerajaan, maka pengungsian terjadi di mana-mana, kehidupan rakyat merosot dratis.

Gelombang pengungsian terus mengalir ke daerah selatan Cina, terutama ke Zhexi ( Provinsi Zhejiang ), Suzhou ( Provinsi Jiangsu ), Guangdong, dan Fujian. Daerah-daerah ini cukup aman dan belum begitu tersentuh api perang, perekonomian dan kebudayaan juga cukup berkembang.

Pengungsian sejumlah besar intelektual dari Cina bagian utara telah mengairahkan kehidupan budaya di daerah selatan ini, terutama sastra. Pada masa inilah komunitas-komunitas sastra berkembang pesat di daerah ini. Sebagian besar komunitas begini dibentuk atau didirikan oleh biksu penyair ( biksu yang suka menulis puisi ) yang cukup terpandang ataupun pejabat penting setempat, dan mereka biasanya melakukan pertemuan, diskusi, pembahasan puisi di kuil ataupun tempat yang disediakan pejabat. Antologi puisi mereka juga berhasil melewati kekacauan jaman dan masih bisa kita nikmati hari ini. Salah satu bentuk puisi yang agak menonjol dari komunitas sastra masa ini adalah Puisi Berantai atau Puisi Kolaborasi yang dalam Sastra Cina Klasik disebut 联句 ( baca: lianju ). Sekalipun bentuk puisi ini tidak pernah mendapat tempat dalam Sastra Cina Klasik ——— bentuk ini sudah mulai digunakan sejak Dinasti Han ( 202 SM - 220 ), tetapi mungkin adalah bentuk awal yang dibawa ke Jepang dan kemudian berkembang menjadi Renga yang merupakan cikal bakal Haiku. Dalam catatan pendek ini saya tidak bermaksud dan juga tidak memiliki kapasitas untuk membahasnya, mengenai hubungan Lianju dan Renga yang ditulis di sini hanyalah sebuah bersitan pikiran, untuk membahas hubungan mereka saya rasa masih perlu pendalaman.

Sekarang seperti sudah saatnya menampilkan tokoh utama dalam catatan ini: Meng Jiao. Dia hidup di dalam waktu dan ruang seperti yang digambarkan dalam paragraf di atas, lahir pada tahun 751 di Huzhou ( sekarang Wukang, Provinsi Zhejiang ). Seluruh masa mudanya dihabiskan di daerah ini, dia mungkin pernah bergabung dengan salah satu komunitas sastra yang dibentuk oleh biksu di sana, tidak jelas, namun ada satu hal yang bisa dipastikan adalah dia pernah hidup sebagai pertapa sebelum meninggalkan kampung halamannya pada usia 30 tahun. Hanya itulah yang kita ketahui tentang masa mudanya, dan beberapa paragraf di atas memang khusus ditugaskan membawa dia ke hadapan pembaca yang terhormat.

Suatu malam di awal musim semi 792, Meng Jiao duduk sendiri di mulut jendela sebuah kamar penginapan di Chang'an. Dia sedang bersedih, pengembaraan selama sepuluh tahun untuk mengumpulkan keberanian dan biaya mengikuti Ujian Negara telah sia-sia, tadi pagi namanya tidak muncul di papan pengumuman lulus. Tanpa terasa malam telah berangsur-angsur mundur dan pagi musim semi yang menyongsong terasa luar biasa dingin dan kecut. Bulan yang tergantung di satu sudut langit seperti sekeping cermin bulat, pucat dan redup. Tunas-tunas daun di ranting pohon seluruhnya tertutup embun beku, tidak ada kepakan burung yang memberitakan pagi musim semi. Dia tahu dunia pagi ini masih bulat, hanya saja terlalu hening dan sunyi. Dan sunyi ini telah masuk dan mengiris-iris tulang sepinya.

Dia tentu tidak tahu ini bukan terakhir kali dia mencicipi kekalahan, tahun berikutnya 793, dia kembali gagal dalam Ujian Negara. Dunianya mungkin sudah lama tidak utuh, tetapi kali ini dentingan serpihannya terasa jauh lebih menyayat.

Meng Jiao mungkin termasuk salah satu penyair Tang yang paling menderita hidupnya, dia tidak pernah benar-benar berhasil melepaskan diri dari kemiskinan yang mengerogotinya sejak kecil, dan kemalangan-kemalangan yang menimpanya sepanjang hidupnya telah membuat puisi-puisinya memiliki ciri khas yang tidak dapat ditiru penyair lain: dingin, pahit dan eksentrik.

Tetapi kekalahan demi kekalahan dan kemalangan yang datang beruntun dalam hidupnya tidak membuatnya roboh, kekuatan penopang ini terutama datang dari orang-orang yang tidak kenal lelah mendukungnya; ibunya, isterinya, dan seorang teman karibnya: Han Yu. Dia dan Han Yu membentuk satu kelompok penyair yang kemudian menjadi salah satu kelompok yang paling menonjol dalam puisi Tang Tengah, biasanya disebut Perkumpulan Mbeling atau Eksentrik. Sekalipun Han Yu adalah tokoh sentral dalam kelompok ini, tetapi Meng Jiao merupakan penyair terpenting dalam kelompok ini, dan namanya juga disejajarkan dengan Han Yu, sehingga dalam Sastra Cina Klasik juga disebut Perkumpulan Han Meng.

Dia mengenal Han Yu mungkin sewaktu menempuh Ujian Negara di Chang'an, antara 791 sampai 792, persahabatan ini bertahan sepanjang hidupnya. Walaupun umur mereka terpaut jauh, Han Yu lebih muda 17 tahun dari Meng Jiao, tetapi mereka memiliki pandangan yang sangat dekat tentang puisi, mungkin ini yang menyebabkan mereka selalu dianggap mewakili suatu kelompok penyair eksentrik yang suka menggunakan kata-kata kuno dan menciptakan suasana surealis dalam puisi-puisi mereka. Namun sesungguhnya puisi penyair-penyair ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan Meng Jiao maupun Han Yu.

Atas dorongan dan dukungan Han Yu, Meng Jiao kembali mencoba Ujian Negara dan berhasil lulus pada tahun 796, waktu itu usianya sudah 45 tahun. Upaya selama bertahun-tahun akhirnya membawa hasil. Kegembiraan dan hati yang meluap-luap ini dia tuangkan dalam sebuah puisi; walaupun puisi itu kedengaran sedikit lupa diri, tetapi kegalauan yang terpendam selama bertahun-tahun ketika dilepaskan pasti agak sedikit bau, saya rasa masih wajar, lagipula puisinya jarang ada yang bersuasana riang

Gelisah tempo hari gemeretak di sela gigi
tidak usah diungkit,
pagi ini lepas kendali pikiran mengapung tak bertepi

Angin musim semi meniup hati angkuh
tapak kuda melesat pergi.
Satu hari mata menyapu seluruh bunga
Chang'an habis

登科后
昔日龌龊不足夸,今朝放荡思无涯。
春风得意马蹄疾,一日看尽长安花。


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

Keriangan yang meluap ini sebentar saja sudah berubah menjadi sebuah penantian pahit. Setelah menunggu empat tahun yang melelahkan, Meng Jiao yang sudah berumur setengah abad ini akhirnya diberi sebuah jabatan kecil di kota Liyang ( Provinsi Jiangsu ). Hanya beberapa bulan berkantor di sana dia sudah dilaporkan melalaikan tugas. Dilaporkan bahwa dia sering seorang diri naik keledai ke pinggiran kota, memandang gunung menatap sungai, saya rasa pasti juga menulis sajak.

Dulu saya tidak bisa mengerti mengapa sebuah kesempatan yang ditunggu dengan susah payah selama puluhan tahun bisa dibuang begitu saja. Untung akhirnya saya paham. Paham akan frustasi seorang lelaki berumur 50 tahun yang mungkin seumur hidupnya belum pernah menyentuh birokrasi pemerintah, tiba-tiba sudah berada di dalam sebuah sistem yang kusut masai. Apakah ini bukan suatu hal yang membosankan dan melelahkan? Dia mungkin gagap atau enggan belajar, tetapi jabatan yang diberikan kepadanya memang terlalu kecil, semacam pegawai rendah di kantor kecamatan. Jabatan Meng Jiao ini akhirnya tetap dipertahankan atas bantuan teman-temannya di pemerintah pusat, namun gajinya dipotong separuh untuk mengangkat seorang wakil yang akan membantu dia menyelesaikan tugas-tugasnya. Keuangannya yang baru sedikit membaik kembali terpuruk.

Keadaan ini tidak bertahan lama, dia akhirnya mengundurkan diri dan membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya: Huzhou pada tahun 804. Kemudian pindah menetap di Changzhou ( Provinsi Jiangsu ), di sini dia membeli rumah dan sawah. Pada tahun 806 pindah lagi ke Chang'an dan setahun kemudian pindah ke Louyang. Walaupun berpindah-pindah, tetapi kehidupannya pada tahun-tahun ini termasuk tenang dan berkecukupan.

Tetapi kemalangan kembali menghampirinya. Dia kehilangan anak bungsunya pada tahun 808, waktu itu usianya sudah 58 tahun. Dari puisi-puisinya kita tahu dia kehilangan tiga anak lelaki, dua meninggal ketika masih bayi, dan satu lagi meninggal pada usia sepuluh tahun. Di ujung senja usia dia tiba-tiba mendapati dirinya sudah tidak memiliki keturunan, hal ini adalah pukulan terberat bagi Meng Jiao. Dia adalah seorang pengikut Kongfuzi, dan tidak memiliki keturunan adalah durhaka terbesar dalam Konghucuisme. Penderitaan batinnya tidak usah ditulis lagi.

Ibunya meninggal dunia di tahun berikutnya. Pukulan demi pukulan telah menghancurkan sedikit ketenangan yang tidak mudah dia peroleh di usia senja. Pada masa-masa inilah Meng Jiao menulis cukup banyak puisi-puisi sekuens yang panjang, dingin, dan pahit. Ini adalah cara dia mengobati dirinya. Penderitaan tahun-tahun terakhirnya di Louyang sangat sulit dibayangkan; tua, miskin, dan sunyi. Walaupun demikian, keinginan untuk berbuat sesuatu untuk negara ( dunia? ) masih belum padam.

Pada awal musim semi 814 dia menerima tawaran seorang kenalannya, Zheng Yuqing - 郑余庆 ( waktu itu memegang jabatan sekretaris jenderal biro eksekutif ) sebagai penasehat. Dia berangkat bersama isterinya, tetapi jatuh sakit di tengah perjalanan, dan meninggal beberapa waktu kemudian. Dia meninggal dalam keadaan miskin, tanpa anak, jauh dari rumah. Bab penutupnya ini terlalu menyedihkan. Pemakamannya diurus oleh Han Yu dan beberapa temannya yang merupakan penyair Tang Tengah terkenal, seperti Zhang Jie, Wang Jian, dan Jia Dao. Dia dikubur di sebelah timur luar kota Louyang.

Puisi-puisi Meng Jiao baru mulai dikumpulkan dan dibukunya pada awal Dinasti Song ( 960 -1279 ), sehingga jumlah puisi yang hilang mungkin tidak kalah dengan yang berhasil dikumpulkan. Kumpulan puisinya yang beredar hingga hari ini adalah sebuah buku berisi 511 puisi yang disusun oleh sejarawan Dinasti Song: Song Minqiu - 宋敏求 ( 1019 - 1079 ). Dari 511 puisi saya memilih 13 puisi untuk diterjemahkan.

Di catatan ini saya rasa tidak usah lagi membahas puisi-puisinya, terlalu pahit dan dingin, mungkin dilompati dengan satu dua kalimat saja, dan tulisan ini memang sudah terlalu panjang. Hidupnya yang malang tertuang seluruhnya di dalam puisi-puisinya, ini sangat mudah kita rasakan. Dia hampir tidak menggunakan alusi dalam puisi-puisinya, cara ini dianggap aneh bagi pembaca puisi Cina Klasik. Dia suka menggunakan kata-kata kuno, atau yang mati suri, atau yang jarang digunakan. Dia sengaja menciptakan irama janggal yang terasa menusuk bagi telinga-telinga tradisional. Dia suka menciptakan pemandangan artifisial atau fantasi dan menghadirkan indah dan buruk secara beriringan.


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

 

NYANYIAN PERPISAHAN

Awan putih mengayut di gunung pinus,
kiambang sungai terpencar dibawa arus.

Awan pergi ada kalanya terbang kembali,
air berpisah tiada muara bertemu lagi.

Hamparan rumput musim semi letihkan mata,
pemandangan ini membuat badan lunglai

Dedalu sedang mengayam pilu perpisahan
ah, bahkan lebih seribu sulur ikut berjuntai


古离别

松山云缭绕,萍路水分离。
云去有归日,水分无合时。
春芳役双眼,春色柔四支。
杨柳织别愁,千条万条丝。

NYANYIAN SI ANAK HILANG


Benang di tangan lembut ibunda,
adalah baju di badan si anak hilang.

Sebelum berangkat dijahit rapat-rapat,
risau si anak terlambat ingat pulang.

Siapa bilang tunas rumput seinci
mampu membalas cahaya satu musim semi?

游子吟

慈母手中线,游子身上衣。
临行密密缝,意恐迟迟归。
谁言寸草心,报得三春晖。

KELUHAN


Coba adu airmataku dan airmatamu,
di dua tempat menetes ke air kolam.

kita akan lihat bunga lotus tahun ini,
demi siapa mati direndam asin


古怨

试妾与君泪,两处滴池水。
看取芙蓉花,今年为谁死。

NYANYIAN DI TEPI KOLAM


Di tengah kolam daun ekor kucing bagai selendang, chesnut air matang
ungu bertanduk, bongkol lotus penuh dan montok. Gadis bergaun sutera

selendang setipis sayap tonggeret bersandar, angin disambut sampan
dikayuh, sepasang-sepasang burung cendet kaget terbang ke timur

临池曲

池中春蒲叶如带,紫菱成角莲子大。
罗裙蝉鬓倚迎风,双双伯劳飞向东。

 

SUATU HARI DI MUSIM SEMI


Tetes hujan jatuh, rumput berhambur
keluar sambut, sehari makin panjang sehari

Angin meniup sulur-sulur dedalu gemulai
bergoyang, satu ranting bersambung satu ranting

Hanya dia berwajah galau, sebelah mata
memandang musim semi. Mari tuangkan

arak hingga cawan meluap, nyanyikan
nada setengah tawa, setengah gila.


春日有感

雨滴草芽出,一日长一日。
风吹柳线垂,一枝连一枝。
独有愁人颜,经春如等闲。
且持酒满杯,狂歌狂笑来。

 


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

RENUNGAN MUSIM GUGUR

( 15 nomor pilih 6 nomor )

1.

Tulang sepi ini sulit lelap di malam.
Nyanyian serangga saling menyayat

Tangisan renta sudah lama kerontang,
tinggal embun musim gugur menetes untuknya

Masa muda sekejap tercecer, bagai di mata
gunting, dan tua datang seperti menenun

tak bertepi, aku menyentuh ujung benang.
Hati tanpa riak baru, kenangan merayap pilu

Bagaimana tega naikkan layar ke selatan lagi,
mengembara gunung dan sungai masa lalu

2.

Wajah bulan musim gugur berwarna dingin,
semangat seorang pengembara tua disapu tipis.

Embun gigil jatuh menetes koyak mimpi, angin
bergerigi menyisir ke dalam tulang, dingin

tikar penuh cap stempel sakit, segulung-gulung
risau berputar di dalam dada terpilin. Takut ini

tiada ruang bersandar lagi, seperti hampa
aku mendengar suara dari antah berantah

Pohon wutong meranggas, ranting bergesek
suara menggema bagai ratapan kecapi

4.

Musim gugur tiba, aku makin tua dan miskin
gubuk bocor bahkan hilang daun pintunya

Sekeping bulan jatuh di tepi di ranjang, dinding
membiarkan angin menyusup ke dalam baju

Mimpi renggang tidak lagi bergerak jauh,
hati rapuh ini mudah menemui jalan pulang

Bunga di ujung musim siap berpisah daun
hijau, gemulai memamerkan bias warna terakhir

Kian jarang bawa hati menginjak setapak dusun,
derita badan ingin mengelabui segala benda

Serangga bersembunyi di antara batang dan akar
rumput, gairah hidupmu lemah seperti aku

6.

Tulang tua takut bulan musim gugur, bulan
musim gugur tajam dingin seperti mata pisau

Seutas tipis cahayanya tidak juga menolong,
dan roh dingin duduk membeku, Chang'er sepi

bersarang di atas sekeping cermin gantung
di langit, angin dewata menggoncang es

terapung, takut langkahku goyah tergelincir
derita ini terlalu luas, tidak tabah lewat melangkah

Terbangun dalam cahaya pucat, sendiri
di atas ranjang, rebah di dalam teror hati:

bagai dibasuh dalam sungai, walau tiada air
tetap menembus keruh tubuh jadi bersih dan bening

Tentang puisi bertenaga, itu percakapan kosong
masa lalu, kini ikut rapuh, di mana bersandar aku?

8.

Tahun berakhir di dalam satu dunia kerontang,
angin musim gugur memulai suara gesek pedang

dan perisai, suara jengkerik merajut risau
tiada baju dingin, percuma menjerit dan menjerit

sendiri, di tengah malam angin musim gugur diasah
kian tajam, langkah goyah melumpuhkan jalan depan

Begitu dipangkas, rambut hitamku seperti taman
musim gugur: tidak pernah tumbuh kembali

Masa kecil adalah kunang-kunang mampir di mata
lapar, berpijar sekejap dan tidak pernah berkedip lagi

Sekokoh puncak gunung, orang mulia bertahan
manusia picik bercakar demi seutas benang dan bulu

Makin berebut makin terkuras hidup mereka.
Sebab Tao Langit melarang kepenuhan

9.

Embun dingin penuh pilu menetes kecewa,
angin di dahan kering berbisik dan merintih,

musim gugur telah dalam: bulan pahit kian jernih
serangga tua sedang memperagakan nyanyian kalem

Mutiara merah tergantung dari dahan ke dahan,
bunga krisan agak malas emaskan setiap tempat.

Pohon dan bunga siap menjawab isyarat musim,
bunga-bunga mekar dalam dingin, bagai sisa musim

semi, aku meratap hidup jatuh berserpih,
dan adakah sesuatu seperti hatiku di sini?

秋怀

孤骨夜难卧,吟虫相唧唧。

老泣无涕洟,秋露为滴沥。

去壮暂如翦,来衰纷似织。

触绪无新心,丛悲有馀忆。

讵忍逐南帆,江山践往昔。

秋月颜色冰,老客志气单。

冷露滴梦破,峭风梳骨寒。

席上印病文,肠中转愁盘。

疑怀无所凭,虚听多无端。

梧桐枯峥嵘,声响如哀弹。

秋至老更贫,破屋无门扉。

一片月落床,四壁风入衣。

疏梦不复远,弱心良易归。

商葩将去绿,缭绕争馀辉。

野步踏事少,病谋向物违。

幽幽草根虫,生意与我微。

老骨惧秋月,秋月刀剑棱。

纤辉不可干,冷魂坐自凝。

羁雌巢空镜,仙飙荡浮冰。

惊步恐自翻,病大不敢凌。

单床寤皎皎,瘦卧心兢兢。

洗河不见水,透浊为清澄。

诗壮昔空说,诗衰今何凭。

岁暮景气干,秋风兵甲声。

织织劳无衣,喓喓徒自鸣。

商声耸中夜,蹇支废前行。

青发如秋园,一剪不复生。

少年如饿花,瞥见不复明。

君子山岳定,小人丝毫争。

多争多无寿,天道戒其盈。

冷露多瘁索,枯风晓吹嘘。

秋深月清苦,虫老声粗疏。

赪珠枝累累,芳金蔓舒舒。

草木亦趣时,寒荣似春馀。

悲彼零落生,与我心何如。

 


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

SUNGAI DINGIN

( delapan nomor pilih empat )

1.
Embun beku membasuh warna air
bening, tampak Sungai Dingin berkedip sisik.

Berdiri di tepi cekung cermin hampa,
memantul tubuhku goyang berserpih.

Ini terlalu jernih buat menyembunyikan
diri, terlihat di dasar cahaya berpijar kembali,

bening terbuka seperti sebuah hati bersih,
pernah juga menenggelamkan nurani

Terang dimulai, hati sederhana dan dangkal
malam membeku dan pagi telah cair meluap

Segenggam penuh, hijau terang bersihkan
seribu debu gelisah di tempat jauh. Sekali

langkah berlumpur masuk ke sungai, sulit
seperti mata air di gunung, mengalir murni

3.
Pagi mencicip secawan arak, injak salju
lewati Sungai Dingin kristal. Ombak beku

seperti mata pisau, menyayat itik liar
membelah angsa. Burung-burung menginap

semalam, menyisakan bulu-bulu berceceran,
gelegak darah telah terkubur di lumpur

dan pasir. Aku berdiri sendiri, hilang kata,
diam-diam baca ngilu mengiris hati.

Darah beku jangan menjelma tanah musim semi,
sebab tunas-tunas akan tumbuh terluka.

Darah beku jangan merekah jadi bunga, kau
mekar dan airmata janda akan menetes.

Begini hening, dusun penuh tanaman berduri,
ladang beku dan mati, sulit membajak di sini.

4.
Pengayuh perahu membuka sungai beku, dayung
menerbangkan serpihan giok, berkedip sepanjang jalur

bagai kunang-kunang. Dan retak es menjerit dingin
hingga ke dasar, sudut bibir pemburu lapar memohon

amis ikan tersembunyi. Gigi gemeretak menggosok
serpihan es, lonceng bergetar pilu di dalam angin.

Seluruh kesedihan begitu jernih —— tak terhindarkan,
mendadak telinga bagai bisa menangkap suara terkecil

dibasuh air dingin. Perahu bergerak, riak hijau hilang
membeku, jas warna pengayuh perahu mengibas

di dalam angin. Sebentar turun tergelincir di atas es,
sebentar naik ke perahu kandas, begini tiada

henti, terluka, menyerit dan merintih,
meratap langit: bila semua akan berakhir?

8.
Angin meniup, meleraikan sisa-sisa beku, sungai
mengantar cerah musim semi kembali ke bumi.

Bunga menetes, menetes bagai giok mencair,
naga menggeliat lepas, sisik-sisiknya berkilau.

Aku melangkah turun di sisi teluk, awal musim
salju cair dan air wangi, di ujung dermaga aku

membasuh diri. Jauh, seribu li lapisan es retak
terbuka, mencicipi sesendok penuh kehangatan

hati. Intisari beku sudah mencair, saling membasuh
saling berebut membentuk selingkar-selingkar hidup baru

Tiba-tiba, bagai seluruh luka pedang telah sembuh,
dan tubuh seratus medan perang tegak kembali

寒溪

霜洗水色尽,寒溪见纤鳞。

幸临虚空镜,照此残悴身。

潜滑不自隐,露底莹更新。

豁如君子怀,曾是危陷人。

始明浅俗心,夜结朝已津。

净漱一掬碧,远消千虑尘。

始知泥步泉,莫与山源邻。

晓饮一杯酒,踏雪过清溪。

波澜冻为刀,剸割凫与鹥.

宿羽皆翦弃,血声沉沙泥。

独立欲何语,默念心酸嘶。

冻血莫作春,作春生不齐。

冻血莫作花,作花发孀啼。

幽幽棘针村,冻死难耕犁。

篙工磓玉星,一路随迸萤。

朔冻哀彻底,獠馋咏潜鯹.

冰齿相磨啮,风音酸铎铃。

清悲不可逃,洗出纤悉听。

碧潋卷已尽,彩缕飞飘零。

下蹑滑不定,上栖折难停。

哮嘐呷喢冤,仰诉何时宁。

溪风摆馀冻,溪景衔明春。

玉消花滴滴,虬解光鳞鳞。

悬步下清曲,消期濯芳津。

千里冰裂处,一勺暖亦仁。

凝精互相洗,漪涟竞将新。

忽如剑疮尽,初起百战身


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

SEKEDAR BUAT JIA DAO

( Dua nomor, pilih satu )

1.
Musim gugur di Chang'an bunyinya garing,
daun-daun pohon saling menjerit pedih.

Ada satu biksu kurus seperti tidur di balok es
menggigil, baca puisi menahan sobek bibir.

Luka sobek ini bukan disayat pedang perang
hanya dia suka menguyah kata-kata tajam.

Tulang puisinya lebih kurus dari Meng Jiao,
dan ombak sajaknya segemuruh Han Yu

Langkahnya kadang miring kanan kadang miring
kiri, orang sering terkejut oleh biksu bangau ini

Sayang sekali Li Bai dan Du Fu telah mati,
belum pernah melihat ada biksu sesinting ini


戏赠无本

长安秋声干,木叶相号悲。

瘦僧卧冰凌,嘲咏含金痍。

金痍非战痕,峭病方在兹。

诗骨耸东野,诗涛涌退之。

有时踉跄行,人惊鹤阿师。

可惜李杜死,不见此狂痴。

 

BANGAU SUBUH


Lidah bangau subuh memetik irama
kuno, bunyi doa-doa kitab Brahmana

Kau seharusnya melantun nada Langit,
tidak usah mencari di dalam debu dunia.

Segala mimpi di kehampaan akan putus,
ah, dambaan ini bagaimana dikekang.

Laksana membuka mulut bulan yang sepi,
seperti berbisik hati bintang gemintang.

Jika bukan nada alam manusia, sungguh
sia-sia kau menjelma jadi burung duniawi

Atau lebih baik terbang beriring pergi
hinggap di kedalaman sarang biru langit

晓鹤

晓鹤弹古舌,婆罗门叫音。
应吹天上律,不使尘中寻。
虚空梦皆断,歆唏安能禁。
如开孤月口,似说明星心。
既非人间韵,枉作人间禽。
不如相将去,碧落窠巢深。

NYAMUK

Malam Juni tengah berehat,
nyamuk lapar masih sibuk berputar.

Hanya ingat mencari darah kental,
tidak tahu hidupnya rapuh dan ringan!

Sungguh demi diri ini siap menyesal?
Curi setetes kehidupan mengisap manusia.

Aku sudi menjadi kelambu dunia,
buat pemandangan damai di satu malam.



五月中夜息,饥蚊尚营营。
但将膏血求,岂觉性命轻。
顾己宁自愧,饮人以偷生。
愿为天下幮,一使夜景清。

 


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

RATAPAN NGARAI

( sepuluh nomor pilih empat )

2.

Di atas langit air di bawah langit air,
satu perahu keluar masuk bumi

Pedang batu saling tebas menusuk,
ombak pecah batu, naga garang amuk

Bunga musim lalu masih tersisa, angin
beku menggigilkan musim gugur purba

Suara misterius berbisik di dalam gua
lalu terbang mengerebuti laju arus

Matahari terbenam dan ratapan ikut
tenggelam, adakah ingin aku tuturkan?

4.

Ngarai kocar-kacir meraung, suara jernih
dan tajam, lahir mengelepar di batu

jadi sisik sisik segar, menyembul air liur
hujan amis, berembus jadi selobang

perigi hitam. Cahaya aneh menjilat segala rupa,
pedang-pedang lapar sudah lama siaga.

Usus purba ini masih belum kenyang, gerigi
abadi gemeretak di tebing-tebing amarah

Air terjun dikunyah keluar dari Tiga Ngarai
suara Tiga Ngarai saling menyikut, mengeram

7.
Tanduk-tanduk ngarai menggores matahari
dan bulan, matahari dan bulan disayat putus

cahayanya. Segala benda tumbuh miring
di sini, burung-burung juga terbang miring.

Bebatuan di bawah air saling menggigit,
roh-roh tenggelam tidak bisa dipanggil.

Ikan-ikan timbul hilang bagai baju zirah sungai
jernih,  berkilau jubah lumut batu hijau giok.

Air terjun dengan lahap menelan, membahana
seperti air liur dikunyah berputar menjadi buih

Jangan mengembara ngarai di musim semi:
hanya mencuat sedikit rumput lemah dan amis.

10.

Burung hantu memanggil suara manusia,
naga mengisap gelombang hempas gunung.

Bisa juga di tengah terang hari, memikat
keheningan langit cerah angin bersahabat

pikiran terkejut, risau segala kehidupan
mengumpul amis di dasar kedalaman

tertutup tanaman merambat. Taring-taring
air terjun tanpa dasar menyobek, ludah

muncrat ke segala arah. Burung tidak bersarang
di pohon miring, siamang melompat

berpapasan di dahan. Ratapan ngarai jangan
didengar, ngarai berkata: buat apa mengeluh

峡哀

上天下天水,出地入地舟。

石剑相劈斫,石波怒蛟虬。

花木叠宿春,风飙凝古秋。

幽怪窟穴语,飞闻肸蚃流。

沉哀日已深,衔诉将何求。

峡乱鸣清磬,产石为鲜鳞。

喷为腥雨涎,吹作黑井身。

怪光闪众异,饿剑唯待人。

老肠未曾饱,古齿崭岩嗔。

嚼齿三峡泉,三峡声龂龂。

峡棱剸日月,日月多摧辉。

物皆斜仄生,鸟亦斜仄飞。

潜石齿相锁,沉魂招莫归。

恍惚清泉甲,斑斓碧石衣。

饿咽潺湲号,涎似泓浤肥。

峡青不可游,腥草生微微。

枭鸱作人语,蛟虬吸水波。

能于白日间,谄欲晴风和。

骇智蹶众命,蕴腥布深萝。

齿泉无底贫,锯涎在处多。

仄树鸟不巢,踔ez猿相过。

峡哀不可听,峡怨其奈何。


Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

APRIKOT MATI MUDA

( sembilan nomor pilih enam )

Aprikot mati muda, masih kuncup
Embun beku mengguting mereka luruh,
serpihannya membuat aku meratap anakku
telah lama pergi, demikianlah aku menulis puisi ini

1.
Jangan membelai mutiara, O tangan dingin
beku, mutiara dibelai mudah terbang luruh

Embun beku jangan mendadak sayat musim
semi, musim terluka ini segera hilang pijar

Kuncup-kuncup bunga kecil gugur berserak
dalam warna-warni terkenang baju bayiku

Sudah kukutip namun tidak penuh segenggam
dan senja tiba, sedih hampa, kubawa pulang

2.
Memungut bintang di tanah kehampaan,
tidak tampak bunga tersisa di ujung ranting

adalah sedih dan duka: seorang lelaki tua
sendiri, sebuah rumah tiada anak merintih pedih

Bagaimana bisa serupa itik terjun ke dalam air?
tidak juga seperti gagak kumpul ranting buat sarang:

ombak menghempas, anak itik mudah kepak sayap
dan terbang, gagak kecil angkuh memanggil

di dalam angin. Bunga dan bayi tidak akan kembali
dalam sebuah dunia dikosongkan sedih, aku meratap

3.
Ini mesti seuntai airmata yang sama,
menusuk ke jantung pohon musim semi;

ranting demi ranting tidak ada mengikat jadi
bunga, sekeping-sekeping jatuh di mata gunting

Umur musim semi tidak pernah panjang, memang,
namun ratapanku pada embun beku sudah terlalu

dalam. Seharusnya di sungai mandi bunga harum
hari ini airmata membasuh ujung lengan baju

5.
Takut langkahku bisa menyakiti bumi,
melukai akar di bawah pohon berbunga ini.

tapi Langit tidak bisa mengerti, memotong
dan menghempas anak cucuku. Dahan berat

melengkung ada seribu kuntum bunga gugur
tidak satu pun kehidupan wangi itu tumbuh

Siapa sebut ini sebuah rumah buat kehidupan?
Warna musim semi tidak pernah masuk pintu

6.
Sesayat-sesayat embun beku membunuh
musim semi, bagai pisau kecil satu ranting

ke satu ranting. Akhirnya jatuh berkeping,
percuma setiap hati pohon di bawah lembah

menjerit lirih. Serpihan-serpihan warna gugur
ke bumi, setitik-setitik bagai minyak berpijar.

Dan segalanya jelas dan terang: di antara Langit
dan bumi, sepuluh ribu benda merenggang

9.

Embun beku tampak telah selesai membinasa
bunga merah, menyobek kunyah beberapa

puluh pasang, bebas terbang dalam keluhan
angin ringan: mulut ikan keluar merebut udara

di sungai dangkal. Tangisan beku tidak mudah mencair,
dan bersedih sendiri sulit menahan getir ini

Di sini hampa, hanya tersisa hari yang hilang,
sebuah jendela kecil buat kata-kata juga terlalu besar

杏殇(杏殇,花乳也,霜翦而落,因悲昔婴,故作是诗 )

冻手莫弄珠,弄珠珠易飞。

惊霜莫翦春,翦春无光辉。

零落小花乳,斓斑昔婴衣。

拾之不盈把,日暮空悲归。

地上空拾星,枝上不见花。

哀哀孤老人,戚戚无子家。

岂若没水凫,不如拾巢鸦。

浪鷇破便飞,风雏袅相夸。

芳婴不复生,向物空悲嗟。

应是一线泪,入此春木心。

枝枝不成花,片片落翦金。

春寿何可长,霜哀亦已深。

常时洗芳泉,此日洗泪襟。

踏地恐土痛,损彼芳树根。

此诚天不知,翦弃我子孙。

垂枝有千落,芳命无一存。

谁谓生人家,春色不入门。

冽冽霜杀春,枝枝疑纤刀。

木心既零落,山窍空呼号。

班班落地英,点点如明膏。

始知天地间,万物皆不牢。

霜似败红芳,剪啄十数双。

参差呻细风,噞喁沸浅江。

泣凝不可消,恨壮难自降。

空遗旧日影,怨彼小书窗。



Daftar Puisi

Bagian II
Nyanyian Perpisahan
Nyanyian Si Anak Hilang
Keluhan
Nyanyian Di Tepi Kolam
Suatu Hari Di Musim Semi
Renungan Musim Gugur ( 6 of 15  )
Sungai Dingin ( 4 of 8)
Sekedar Buat Jia Dao (2 of 4 )
Bangau Subuh
Nyamuk
Ratapan Ngarai ( 6 of 10 )
Aprikot Mati Muda ( 6 of 9 )
Meratap Liu Yin

MERATAP LU YIN

( sepuluh nomor pilih dua )

4.
Di rumahmu, rumput tinggi dan pohon
rimbun menyempit jalan, di sini matahari

dan bulan tidak lagi melepas cahaya.
Lumut entah kenapa telah menyelimuti

kau. Terlalu sedih, lelaki tua tiada anak,
semut-semut berkitar di atas daging sakit,

kau rebah melengkung tahun berputar
tahun, ratapan gelap mengalir dan mengalir

ratapan gelap mungkin didengar macan tutul
selain itu tiada orang datang menjegukmu

Kerabat terdekat hanya tinggal puisi
hati merangkulnya hingga maut membawa

kau kesini. Han Yu masih tergantung dirimu,
menulis untukmu sebuah elegi: dari ngarai

dan tebing, dia menggosok keluar tinta
melepaskan kata-kata berpijar seribu abadi

7.
Saat kita bertemu, rambut masih dilumur cat
hitam, dan berjuang agar bahasa bisa bertunas

Malam menginjak jembatan cahaya bulan,
atau bersandar di kursi kedai arak langganan

Setelah mencicip dua cawan, kita sudah
melayang, nama dan harum arak tercium

di empat penjuru kota, kita pergi memetik bunga
plum di kuil Buddha, menggunting bunga berayun

di taman, hati tinggi mencecap kuah hijau
sayur, hilang nafsu menatap lemak daging empuk

Kita membaca puisi, setiap irama bening kristal,
kata-kata penuh berisi nyanyian hati purba

Tiba-tiba kepala kita sudah menjadi putih,
dan tahun-tahun penuh berisi itu telah habis dicuri

Tidak perlu lagi mengejar jernih atau keruh,
kenapa mesti menuduh Sungai Nasib ini


吊卢殷

登封草木深,登封道路微。

日月不与光,莓苔空生衣。

可怜无子翁,蚍蜉缘病肌。

挛卧岁时长,涟涟但幽噫。

幽噫虎豹闻,此外相访稀。

至亲唯有诗,抱心死有归。

河南韩先生,后君作因依。

磨一片嵌岩,书千古光辉。

初识漆鬓发,争为新文章。

夜踏明月桥,店饮吾曹床。

醉啜二杯酿,名郁一县香。

寺中摘梅花,园里翦浮芳。

高嗜绿蔬羹,意轻肥腻羊。

吟哦无滓韵,言语多古肠。

白首忽然至,盛年如偷将。

清浊俱莫追,何须骂沧浪。

Ditulis oleh John KUAN -
Ditampilkan dengan seijin penulisnya

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya TionghuaFacebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1881-dunia-tang-yang-dingin-dan-pahit-di-dalam-puisi-mbeling-meng-jiao--751-814

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto