A+ A A-

Catatan Perjalanan : Zhejiang - Jiangsu

  • Written by  AK. Bromokusumo
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Di penghujung tahun 2011, saya mendapat tugas dari kantor untuk berangkat ke China untuk melakukan beberapa hal. Terutama adalah untuk survey dan inspeksi beberapa vendors tempat di mana kantor akan memesan barang. Dari beberapa sumber, mereka semua mengatakan, jika pertama kali berurusan dengan vendor dari China, lebih baik berangkat sendiri untuk survey dan inspeksi.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Setelah menerima mandat tsb, saya memeriksa segala kemungkinan alternatif penerbangan ke airport terdekat ke kota tujuan utama, yaitu Wenzhou. Ada tiga international airport utama dengan penerbangan dari Jakarta; Shanghai, Hangzhou dan Xiamen. Dengan perincian jarak:

Shanghai – Wenzhou: 473 km
Xiamen – Wenzhou: 570 km
Hangzhou – Wenzhou: 321 km

Gotcha!! Hangzhou adalah pilihan paling logis, sementara pilihan kedua jatuh pada Shanghai. Segera saya mengubek informasi segala macam alternatif penerbangan yang ada. Karena waktunya sudah dekat, hampir tidak ada penerbangan dengan harga yang bersahabat untuk tujuan Shanghai atau Hangzhou. Penerbangan langsung dengan maskapai nasional Indonesian flag carrier ternyata luar biasa mahal.

Sekalian mengurus visa ke travel agent langganan, saya tanyakan alternatif penerbangan yang ada. Dan didapatlah maskapai Hong Kong yang cukup dikenal di kawasan Asia Pacific. Sebenarnya ada maskapai Low Cost Carrier Malaysia seperti yang kami gunakan pada waktu awal tahun ini untuk tujuan sama dengan harga yang bersahabat. Namun waktu transit di Kuala Lumpur pada waktu pergi dan pulang yang cukup panjang menjadikannya pilihan saya yang terakhir karena sangat tidak efisien waktu.

Visa diurus dan tiket dipesan, siaplah saya berangkat. Tanggal keberangkatan adalah 29 November. Penerbangan saya adalah 00:05, tiba di Hong Kong 05:45 dan dilanjut ke Hangzhou pukul 08:00. Malam tanggal 28 November, saya menuju ke bandara dengan taxi. Ternyata antrean check in untuk penerbangan yang sama sudah mengular panjang sekali.

Akhirnya sampai juga giliran saya check in setelah sekitar 30 menit menunggu. Proses berjalan lancar dan saya langsung menuju ke ruang tunggu boarding gate yang tertera di boarding pass. Penumpang yang ke Hong Kong malam itu benar-benar penuh sekali. Waktu boarding tepat waktu dan pesawat tinggal landas sesuai yang tercantum di tiket, 00:05 tanggal 29 November.

Sempat membaca China Daily Hong Kong Edition sebelum tertidur. Entah berapa lama tertidur, pramugari membangunkan saya untuk menyajikan makanan. Maskapai asal Hong Kong ini memang dari dulu terkenal sangat bagus kualitas layanannya tidak kalah dengan maskapai asal Singapore yang mungkin lebih dikenal secara luas. Menutup makan dengan secangkir kopi pahit nikmat, saya melanjutkan membaca China Daily. Waktu berlalu cepat, waktu di arloji menunjukkan 04:00 (pukul 05:00 waktu Hong Kong).

Roda pesawat menyentuh Chek Lap Kok lebih cepat kira-kira 15 menit dari waktu tiba yang tercantum di tiket. Karena hanya transit, saya tidak perlu ke mana-mana, boarding pass untuk penerbangan lanjutan ke Hangzhou sudah di tangan sejak di Jakarta. Waktu transit yang hanya sekitar 1 jam lebih sedikit saya manfaatkan benar-benar. Sedikit melemaskan kaki, berjalan mencari tempat duduk yang santai. Mc.D nampak dari kejauhan. Saya pesan kopi dan sepotong hash brown.

Segera saya buka laptop sambil menyeruput pelahan kopi pahit panas. Jelas sekali, Baltyra yang saya tuju. Untung sendirian, karena senyum-senyum, terkadang nyengir sendiri membaca komentar-komentar di sana. Tak membuang waktu, edisi hari itu segera ter’upload sempurna, dan kemudian melanjutkan membaca-baca komentar, sambil sesekali berkomentar juga. Jam sudah mendekati pukul 07:00 waktu setempat. Laptop saya kemasi dan berjalan menuju ke boarding gate yang tercantum di boarding pass saya.

Tidak menunggu lama, boarding gate dibuka dan saya memasuki pesawat untuk menuju ke Hangzhou. Semuanya ontime dan bagus service’nya. Makanan segera disajikan sesaat setelah pesawat mencapai tinggi jelajahnya. Sarapan yang nikmat, lagi-lagi diiringi kopi pahit dan sedikit cream.

Penerbangan Hong Kong – Hangzhou tidak lama, hanya sekitar 2 jam lebih sedikit, mirip dengan penerbangan Jakarta – Medan. Pesawat tiba dengan selamat di Hangzhou. Tidak ada yang berubah di sana dari terakhir kami sekeluarga ke sana di awal tahun ini. Pemeriksaan imigrasi berlangsung cepat dan efisien, saya segera menuju ke conveyor dimana bagasi saya akan keluar. Sekitar 15 menit menunggu, bagasi yang hanya 1 koper saya hela menuju pintu keluar.

Tujuan berikutnya adalah Hangzhou Train Station. Saya menanyakannya kepada petugas tiket bus di dekat pintu keluar airport. Dengan tiket di tangan, saya berjalan keluar mencari bus yang menuju ke stasiun. Surprise untuk saya, ternyata udara di luar tidak dingin sama sekali, padahal sudah penghujung November. Sekitar jam 11, bus bergerak meninggalkan airport.

Seperti yang sudah pernah saya alami, “pramugari” bus menjelaskan tempat-tempat di mana bus akan berhenti. Kemudian berjalan menawarkan apakah ada penumpang yang ingin memesan makanan. Cuaca di luar suram, gerimis dan berkabut. Semuanya serba abu-abu, sungguh tidak menarik sama sekali. Sekitar 30 menit, sampailah saya di perhentian bus yang terdekat dengan stasiun kereta api Hangzhou. [Gambar 1]


Keluar dari bus disambut gerimis halus, dan lagi-lagi surprise udara tidak dingin sama sekali. Saya berjalan sekitar 7 menit mencapai stasiun kereta api. Semakin bingung saja, karena saya mulai berkeringat kepanasan. Setelah dekat stasiun barulah mengerti kenapa saya mulai merasa kepanasan karena berjalan, ternyata temperatur hari itu 20°C!! Saya menuju ke bagian penjualan tiket.

Lagi-lagi terkejut melihat pemandangan di bagian penjualan tiket. Tempatnya berupa bangsal besar dan luas, dengan sekian puluh loket dengan display digital, plus papan pengumuman besar dengan segala penjuru jurusan. Antrean di semua loket nampak penuh. Yang lebih membuat sedikit kuatir, dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa saat itu jam makan siang, penjualan tiket akan tutup sementara selama 30 menit. [Gambar 2] [Gambar 3]


Tapi melihat tidak nampak tanda-tanda beberapa loket yang masih buka akan tutup, saya mencoba di salah satu loket sambil berharap semoga masih mendapat kesempatan membeli tiket ke Wenzhou sebelum petugasnya istirahat makan siang. Sembari mengantre, saya melihat loket kanan kiri saya ada yang mulai tutup, dan juga yang mulai buka lagi, ternyata petugasnya sudah makan lebih dulu.

Antrean makin maju, dan saya nomer 3 dari depan – si petugas bilang akan melayani penjualan 2 orang lagi setelah itu akan beristirahat. Wah, saya cukup beruntung karena dihitung yang terakhir sebelum loket itu ditutup. Nyaris sampai giliran saya (orang di depan saya sedang menerima uang kembalian), eeeehhh…entah dari mana nyelonong dari kanan saya sambil membawa dua lembar RMB100 hendak memotong antrean.

Tanpa basa-basi dan sungkan sama sekali, saya bentak dengan suara keras (dan mungkin galak juga ya): “wooooiiii…pai dui (排 队)!!!” (woooiii…antre). Wajahnya kelihatan cukup kaget, demikian juga orang di depan saya. Mungkin tidak biasa melihat ada yang membentak orang yang memotong antrean, mungkin lebih terbiasa melihat orang yang memotong antrean. Orang tsb mundur dan saya membeli tiket yang saya inginkan. Si petugas sudah kelihatan tidak sabar dan buru-buru ingin beristirahat, bahkan uang kembalian saya sedikit dilemparkan ke arah loket.

Masih saja si pria ngeyel dan berusaha mencoba ingin membeli tiket tujuan dia (entah ke mana). Namun dengan suara dan wajah tidak ramah sama sekali petugasnya bilang tidak ada dan menarik turun kerai loket. Si pria berjalan mencari loket yang lain sambil bersungut-sungut. [Gambar 4]

Ternyata keberangkatan saya jam 15:18 – masih sangat banyak waktu. Saya membuka jaket karena benar-benar sudah keringatan jalan kesana kemari. Saya menyusuri seluruh penjuru stasiun, melihat-lihat dan masuk ke satu warung mie di dekat pintu masuk. Mie dengan daging sapi plus kuah saya pesan, kali ini dengan milk-tea hangat. Mie dengan porsi raksasa tidak sanggup saya habiskan. Kira-kira masih 35% saya pinggirkan. Milk-tea hangat saya seruput pelahan sambil melihat ribuan manusia lalu-lalang di situ. [Gambar 5] [Gambar 6] [Gambar 7]


Melihat nomer “flight” saya (kalau pesawat namanya flight number, kalau kereta api apa ya?), saya harus menuju ke Ruang Tunggu 4. Di Ruang Tunggu 4 sudah berjajar banyak sekali “flights” yang menuju ke segenap penjuru kota. Cukup terkesima ketika melihat luasnya stasiun kereta api sebesar itu, sebanyak itu ruang tunggu dan lebih terkesiap ketika melihat ribuan penumpang di sana. Entah berapa juta penumpang dalam satu hari yang menggunakan moda transportasi kereta api ini. [Gambar 8] [Gambar 9] [Gambar 10]


Setelah benar-benar bosan, mengantuk dan lelah menunggu, akhirnya melihat pengumuman bahwa kereta saya segera datang dan diumumkan di pengeras suara untuk para penumpang siap-siap di jalur peron yang sudah ditentukan. Sekali lagi saya terkejut melihat panjangnya antrean mengular ke belakang untuk kereta yang sama. Di tiket saya tercantum nomer gerbong dan nomer tempat duduk. Inilah untuk pertama kalinya saya naik “shinkansen” ala Tiongkok. Bentuknya memang mirip sekali dengan saudara tuanya di Jepang sana yang lebih dulu mengembangkan kereta pelor (istilah Mbah Gandalf).[Gambar 11] [Gambar 12]


Saya mencari nomer gerbong yang tertera dengan LED di atas pintu masing-masing gerbong. Kereta yang bersih, rapi dan apik. Nomer tempat duduk juga jelas, koridor yang resik, tempat duduk yang kelihatan nyaman nampak di depan mata. Kurang lebih seperti serial Argo di Indonesia (Argo Muria, Argo Bromo, dsb). Tempat duduknya memang nyaman ternyata. Tak berapa lama, tepat 15:18, kereta mulai bergerak. Display LED di atas pintu gerbong menunjukkan berbagai informasi: temperatur di luar, temperatur di dalam, kecepatan kereta dan kota-kota tujuan serta waktu tiba.

Rekor kecepatan tertinggi yang sempat saya perhatikan mencapai 199 km/jam, sementara temperatur di luar cukup hangat, berkisar di 20°C dan di dalam kereta tidak jauh berbeda di kisaran 18°C, cukup nyaman, tidak dingin dan tidak panas. Tak lama pramugari kereta berkeliling dengan kereta jualannya. Berbagai kudapan dan minuman serta makanan hangat ditawarkan kepada penumpang. Saya tidak begitu berselera makan di jam yang tanggung, hanya memesan kopi dan mencuil sedikit-sedikit intip goreng pedas yang beberapa hari sebelumnya saya beli di Solo.[Gambar 13] [Gambar 14] [Gambar 15] [Gambar 16]


Perjalanan 3.5 jam terasa cukup panjang. Perjalanan yang dimulai malam sebelumnya cukup menguras tenaga. Sambil membaca dan sekilas-sekilas menonton film di LCD TV, yang menayangkan Mission Impossible (entah yang ke berapa, Tom Cruise dan Maggie Q), tentunya dubbing bahasa Mandarin.

Rasa ingin berkemih tiba-tiba muncul. Bayangan toilet momprot-momprot jauh dari pikiran, karena melihat kondisi kereta yang super keren, bersih, tidak bau, canggih dsb. Di antara gerbong terdapat masing-masing dua toilet yang berhadapan. Mendekati toilet, tidak tercium bau yang menyengat, lebih lega lagi perasaan. Dan saya bukalah pintu toilet tsb. Lho, kok kosong…eeehhh…tahunya bukan closet duduk, tapi closet jongkok di lantai kereta.[Gambar 17]

Tak berlama-lama, saya mengosongkan kandung kemih sambil berpikir kalau berhajat besar dalam kondisi kecepatan 200km/jam, jongkok, apa tidak susah ya? Ah, saya tidak mau lama-lama berpikir, saya keluar dan menyimpulkan sendiri, pantasan kuda-kuda mereka kelihatan kokoh, karena terbiasa dengan latihan kuda-kuda dalam keseharian mereka.

Aji Bromokusumo
http://baltyra.com/2012/01/05/catatan-perjalanan-zhejiang-jiangsu-1/

Budaya-Tionghoa.Net | Baltyra.com


BAGIAN II

Akhirnya nampak pengumuman dan terdengar pengumuman di pengeras suara kereta bahwa 2 stasiun berikutnya sampailah tujuan saya yaitu Wenzhou. Pukul 7 lebih sedikit, sampailah saya di Wenzhou. Setengah jam sebelumnya penjemput dan rekan bisnis di Wenzhou sudah beberapa kali menelepon menanyakan posisi saya. Peron yang besar dan luas menyambut saya. Udara tidak terasa dingin sama sekali malam itu. Mr. Zhu sudah siap dengan Buick van menjemput saya.

Satu hal yang saya perhatikan cukup berubah di Tiongkok adalah pengumuman di tempat-tempat umum. Salah satunya seperti di kereta api malam itu, pengumuman dalam dua bahasa, pertama Mandarin dan kedua bahasa Inggris. Bagi yang tidak berbahasa Mandarin tidak perlu terlalu kuatir. Demikian juga pengumuman di LED display, dalam aksara kanji dan juga dalam alfabet biasa.

Dari stasiun saya langsung diantar ke hotel, yang ternyata hotel tsb bukan di Wenzhou, tapi di kawasan yang bernama Yongjia, sedikit di luar Wenzhou (sekitar 50 menit dari Wenzhou). Dalam perjalanan ke hotel, kota Wenzhou nampak semarak dengan gemerlap lampu dan saya ingat melintasi jembatan yang cukup panjang dengan kilauan sungai di bawahnya yang lebar sekali. Belakangan waktu meninggalkan Wenzhou, saya baru tahu itulah Ou Jiang (Sungai Ou).

Check in tidak berlangsung lama dan akhirnya sampailah ke tempat tujuan. Dengan segera saya mandi sepuasnya berlama-lama di bawah shower hangat. Setelah mandi, sempat ber-Skype dengan keluarga di rumah. Saya kemudian keluar hotel dan mata saya tertumbuk dengan deretan becak berjajar di depan hotel.

Becak? Betul sekali, becak berjejer menunggu penumpang di depan hotel. Ternyata di Wenzhou ada becak! Saya sudah melihat keberadaan becak ketika tiba di hotel, berjajar di luar hotel menunggu penumpang. Saya tanya kepada petugas hotel yang ada di lobby kalau ke pusat keramaian, tarifnya berapa. Ternyata tidak mahal sama sekali, hanya RMB 5 sudah bisa ke arah pusat keramaian Yongjia sekitar 2km dari hotel. Saya melihat-lihat suasana Yongjia. Kawasan pusat kota kecamatan yang cukup ramai, beberapa hotel (tertulis international hotel) terlihat di sana sini, pusat keramaian dan pusat bisnis di satu jalan panjang dengan kanan kiri berderet toko.

Karena sudah cukup capek, saya berjalan kembali ke hotel dan tidak lupa sempat mampir ke KFC yang cuma sekitar 200m dari hotel, yang paling cepat, praktis dan jelas tahu rasanya. Sesampainya di hotel, segera saya terlelap sampai paginya.

Pagi bangun dengan segar dan melihat keluar jendela cuaca yang cukup cerah. Otomatis jendela saya buka, dan bbbbrrrrrrr…wuiiiihhh dinginnya, sampai terkaget-kaget karena hanya berkaos tidur biasa. Jendela segera saya tutup lagi dan menyalakan TV mencari tahu cuaca hari itu. Ah, tidak heran, karena temperatur di luar hari itu diperkirakan berkisar 5-8°C…wuuuaaahhh…hari sebelumnya 18-20°C, hari berikutnya terjun bebas dengan perbedaan yang sangat tajam.

Segera bersiap dan turun untuk sarapan. Menu sarapan yang cukup standard umum (bukan standard Cina), ada pilihan menu minimal western dan oriental. Yang saya maksud standard Cina adalah menu sarapan yang sangat khas, bubur cair, cakue, 2-3 macam tumis sayuran, telur asin dan telur rebus, kacang goreng (banyak dijumpai di hotel di kota-kota kecil).

Seruputan kopi menemani saya menunggu di lobby. Tak berapa lama nampak Mr. Zhu dan koleganya memasuki lobby. Berangkatlah kami untuk urusan pekerjaan hari itu. Saya dibawa berkeliling di beberapa tempat dan kemudian ke kantor dan pabrik mereka. Setengah harian kami berurusan dengan pekerjaan, berdiskusi, negosiasi, tanya jawab, perencanaan dsb, dsb. Tak terasa jam makan siang sudah terlewat panjang, tapi karena tanggung, semua dituntaskan saja.

Mendekati 14:00, kami meninggalkan kantor tsb dan mencari tempat very late lunch. Sempat ditanyakan ke saya ingin makan apa dan saya jawab apa saja, kalau ada yang sangat khas daerah sini. Tak berapa lama di tepi jalan nampak restoran sederhana dan dikatakan para tuan rumah bahwa makanan resto tsb sangat khas dengan pedasnya. Ayo saja buat saya untuk berpedas-pedas di tengah cuaca dingin hari itu.

Ternyata resto tsb menyajikan kuliner unik dari Suku Yao (瑶族), salah satu suku dari 56 etnis di China. [Video 1] [Video 2]

{youtube}yq2_9obx0Tk{/youtube}
{youtube}3DkxSppRwHOds{/youtube}

Melihat menunya, sungguh menggoda dan menantang untuk dicoba. Karena saya tidak paham sama sekali makanannya seperti apa dan bagaimana, saya pasrahkan ke dua tuan rumah memilih menu. Sementara mereka memilih menu, saya ke toilet sekalian cuci tangan.

Walaupun dalam pikiran sudah jelas to expect the worst you could ever imagine, tetap saja pemandangan di dalam toilet benar-benar menggetarkan jiwa. Dari jarak beberapa meter bau pesing sudah tercium kuat sekali, setelah memasukinya, haduuuuhhh…beberapa onggok kotoran manusia bertebaran di mana-mana, terutama dekat toilet jongkok di sudut. Benar-benar horor di depan mata, cepretan, klepretan di dinding sekitarnya sungguh merontokkan nyali. Momprot-momprot adalah kata yang paling tepat menggambarkan kondisi di situ…

Untung saja, saya bukan jenis yang berperut lemah yang gampang muntah, dalam waktu sekian milidetik, memalingkan muka, menahan napas, kencing dan dengan (mendekati) kecepatan cahaya, kabur dari toilet horor tsb. Sambil bergidik tak henti-henti, saya berjalan kembali ke meja. Butuh sedikit perjuangan sekian detik untuk mengenyahkan bayangan mengerikan barusan.

Paradoks yang mengherankan. Di resto-resto di Tiongkok yang saya pernah kunjungi, mereka (konon) selalu menomorsatukan higienis, pemeriksaan kesehatan dan kebersihan makanan secara rutin dari instansi terkait. Mereka biasanya bangga sertifikat-sertifikat tsb dipigura dan digantung di dinding resto. Tapi kok tidak memerhatikan kebersihan toilet. Ah, entahlah…

Sambil menunggu hidangan disajikan, buku menu yang sangat menarik, penuh dengan foto-foto artistik saya jepret. Sungguh luar biasa apik gambar-gambar di bawah ini. [Gambar 19] [Gambar 20 [Gambar 21] [Gambar 22] [Gambar 23] [Gambar 24] [Gambar 25] [Gambar 26] [Gambar 27] [Gambar 28] [Gambar 29] [Gambar 30]


Dan kemudian keluarlah hidangan Suku Yao ini. Bau yang menggoda dan penampilan yang semarak terpampang di depan mata. Taburan cabai kering yang generous di hampir semua hidangan makin menguatkan apa yang dibilang oleh dua tuan rumah bahwa menu di situ menantang indera pengecap kita. Satu per satu sajian saya coba.

Yang pertama, entah apa namanya, sejenis mantau yang digoreng, disusun melingkar, di tengahnya ada isiannya dari sejenis sayuran kering yang dimasak dengan daging cincang. Cara makannya, sejenis mantau dibalik, ternyata di baliknya ada rongga kecil untuk mengisikan isian tsb.[Gambar 31] [Gambar 32]


Ayam goreng crispy dan harum luar biasa nikmat membelai lidah. Paduan rasa pedas menyengat dan pedas menyambar menyerbu mulut. Saya coba ambil sedikit taburan cabai kering iris dan saya makan dan terkejutlah saya akan serangan pedas aneh di mulut – kemranyas. Seketika itu mulut terasa kebas dan mati rasa! Ternyata di sela-sela potongan cabai kering terselip bunga-bunga kecil kering. Bunga ini disebut dengan hua jiao (花椒), yang ternyata disebut juga dengan Sichuan pepper (http://en.wikipedia.org/wiki/Sichuan_pepper). Luar biasa serangan pedas dahsyat seperti itu, belum pernah saya rasakan sebelumnya.[Gambar 33] [Gambar  34]


Hua jiao ini dapat dijumpai juga di sekitar Danau Toba dan dikenal dengan nama andaliman, salah satu bumbu kuliner Sumatera Utara yang disebut arsik, yaitu ikan mas yang dimasak dengan gabungan bumbu-bumbu. Salah satu bumbu penting arsik adalah andaliman. Seingat saya, rasa andaliman tidak sedahsyat hua jiao kering. Arsik paling sedap dimasak dalam kuali tanah liat yang sudah semakin langka.

Kemudian ada kentang dengan daging asap yang khas. Dan menurut tuan rumah, yang paling khas dan paling sedap adalah kepala ikan yang dimasak dengan bumbu khas Suku Yao. Kepala ikan ini memang luar biasa sedap sesuai dengan rekomendasi tuan rumah. Dua hidangan lain hanya sayur pelengkap saja, biasa dapat kita jumpai di resto-resto di Indonesia. [Gambar 35] [Gambar  36][Gambar 37] [Gambar  38][Gambar 39]


(bara api yang menggunakan semacam lilin khusus)

Tak terasa sekitar 1.5 jam juga kami berbincang sambil menikmati hidangan Suku Yao yang luar biasa.

Akhirnya selesai juga acara berkuliner siang itu. Saya diantar balik ke hotel. Dalam perjalanan saya minta mampir ke salah satu toko kecil yang menjual kartu telepon prabayar. Saya beli satu dari provider China Unicom yang saya tahu kualitas jaringan dan kecepatan internetnya mumpuni. Dan ternyata benar, setelah saya pasang, berselancar internet, e-mail dan fungsi-fungsi lain berfungsi sempurna.

Sekitar pukul 16:00 saya sampai ke hotel. Akhirnya di sore hari itu saya berhasil ngobrol dengan Hennie Triana. Kami ngobrol cukup lama, bercerita sana sini. Ternyata Hennie sedang mengalami sedikit musibah karena tersundul mobil dari belakang (bagian ini mungkin lebih baik Hennie yang bercerita…haha). Sambil menunggu suaminya, kami ngobrol panjang lebar, tentang segala hal. Akhirnya telepon harus diakhiri karena Hennie masih harus mengurus kecelakaan tsb.

Sewaktu memeriksa isi lemari hotel, cukup terkejut juga menemukan satu kotak berisi masker dengan penjelasannya berbahasa Mandarin dan Inggris. Kotak masker tersegel rapi dan tertulis sudah diinspeksi instansi terkait dan lolos uji kelayakan pakai. Wah, cukup luar biasa juga kesiapan untuk menghadapi kebakaran. Pengalaman saya di Indonesia, di hotel berbintang 4 sekalipun rasanya tidak melengkapi tiap kamar dengan masker.[Gambar 40] [Gambar  41] [Gambar 42] .Sempat nyengir sendiri waktu menemukan bathrobe dengan Chinglish (Chinese English) seperti ini.[Gambar 43] [Gambar 44] [Gambar 45]

Saya lewatkan petang itu dengan menonton berbagai acara TV lokal. Rupanya saya terlelap beberapa saat. Bangun, mandi dan keluyuran lagi sambil mencari oleh-oleh. Tidak menemukan apapun yang cukup menarik.

Waktu kembali ke hotel, saya lihat ada yang jual pancake di pinggir jalan. Saya berhenti dan mengamati seorang pembeli yang sedang memesan. Saya ikut pesan dan saya bawa kembali ke hotel. Tidak terlalu lama setelah pancake ludes, saya tidur lelap. [Gambar 46]

Bangun pagi dengan kondisi di luar masih gelap gulita. Saya coba buka sedikit jendela, ternyata jauh lebih dingin dari hari sebelumnya. Dari TV, info cuaca hari itu temperatur berkisar 2-5°C. Segera saya bersiap untuk pekerjaan hari itu. Hari itu Mr. Zhao dari vendor lain lagi yang menjemput. Kami langsung menuju ke kantor dan pabrik yang letaknya lebih jauh lagi dari vendor hari sebelumnya. Setengah harian juga kami menyelesaikan pekerjaan hari itu.

Sehari sebelumnya saya sempat menanyakan informasi dari Wenzhou menuju ke satu kota kecil di dekat Wuxi, provinsi Jiangsu. Ternyata tidak ada jalur kereta api, yang ada hanya bus antar kota. Setelah urusan dengan Mr. Zhao selesai, saya diantar kembali ke hotel, segera saya urus check out dan berangkat ke stasiun bus antar kota dengan diantar Mr. Zhao.

Aji Bromokusumo
http://baltyra.com/2012/01/26/catatan-perjalanan-zhejiang-jiangsu-2/

Budaya-Tionghoa.Net | Baltyra.com


 

BAGIAN III

Di stasiun bus, saya segera membeli karcis untuk jurusan kota berikut tempat kerabat yang saya sempatkan kunjungi. Dengan karcis di tangan, saya menuju ke pintu keberangkatan. Di pintu masuk dibagikan sepotong roti dan sebotol kecil air minum. Lumayanlah, saya pikir.

Saat memasuki bus, sedikit bingung karena sopir dan kondekturnya membagikan tas plastik untuk setiap penumpang. Waktu menoleh ke dalam kabin bus, terus terang saya melongo, karena tidak melihat tempat duduk, tapi melihat tempat pembaringan berjajar di dalam bus. Ternyata tas plastik itu untuk tempat sepatu penumpang yang harus dilepas.[Gambar 47]


Di dalam bus berjajar tiga baris tempat pembaringan sempit ke arah belakang. Masing-masing seperti ranjang susun bertingkat dua. Saya hitung cepat, kapasitas penumpang dengan posisi berbaring tsb adalah 30 penumpang. Dengan koridor super sempit, saya segera merebahkan tubuh ke salah satu pembaringan, sambil berusaha menyusun bawaan saya. Ternyata karcis tadi ada nomer pembaringan untuk masing-masing penumpang. Waduh, ternyata nomer saya ada di bagian belakang.

Dengan bersempit-sempit di koridor, mencari nomer saya, ternyata di samping kanan agak belakang dan di tingkat yang bawah. Sungguh tersiksa karena dimensi yang tidak cocok dengan ukuran tubuh saya. Mau duduk, kepala kepentok pembaringan atas, mau berbaring, panjangnya tidak cukup untuk kaki saya. Sekian menit saya mencoba berkutat membuat nyaman posisi. Tiba-tiba terdengar suara sopir bus bilang, bebas saja milih, karena hari itu tidak penuh penumpangnya. Lega sekali mendengarnya.[Gambar 48]


Kontan saya pindah ke agak depan, dan mengambil posisi tengah dan bagian atas karena lega jika hendak duduk. Kalau di samping kanan kiri kepala masih kepentok rak tempat barang. Di depan saya kosong, jadi kaki sedikit terjulur keluar tidaklah menjadi masalah.

Sepanjang perjalanan sebenarnya cukup lumayan, namun sedikit menjadi masalah jika ingin berkemih, apalagi dengan temperatur yang makin rendah. Sedikit berakrobat serasa trapeze di sirkus, bergelantungan sedikit, mencari sela di koridor yang penuh barang bawaan penumpang lain. Lega sekali karena toiletnya relatif bersih dan tidak berbau menyengat. Di depan pintu toilet ada sandal yang disediakan untuk keperluan di dalam sana.[Gambar 49]

Mau tidur kurang nyaman, mau duduk kok kepala pusing terombang-ambing gerakan bus. Akhirnya dengan posisi sedikit merebah sambil membaca dan browsing serta ber’e-mail sana sini. Sesekali berhenti juga sesaat karena kepala dan mata berkunang-kunang terus menerus menatap layar dalam kondisi bus berjalan. Diperkirakan lama perjalanan tujuh jam. Entah berapa kali bolak-balik ke toilet.

Kira-kira kurang sejam perjalanan sampai ke tempat tujuan, bus menepi di rest area dan pengemudinya jelas-jelas memberitahukan hanya 10 menit untuk ke toilet atau makan atau take away makanan. Dan benar-benar 10 menit, pengemudi bus menjalankan kembali busnya. Berjalan sekitar 10 menit, hampir memasuki gerbang tol terakhir sebelum sampai kota tujuan, tiba-tiba telepon pengemudi bus berbunyi.

Tak berapa lama terdengar seruan marah si pengemudi kepada lawan bicaranya di telepon. Tak tahunya ada satu penumpang yang tertinggal di rest area sana dan meminta untuk ditunggu. Entah bagaimana pembicaraan mereka, yang jelas nadanya sudah seperti duel hidup dan mati, bus menepi di pinggir jalan, gerbang tol jelas di depan beberapa puluh meter lagi.

Tunggu punya tunggu, 35 menit berlalu, tak nampak tanda-tanda bus akan bergerak lagi. Penumpang mulai bertanya-tanya satu sama lain, beberapa mencoba bertanya ke si pengemudi. Sepuluh menit lagi kembali berlalu, masih saja belum kelihatan penumpang kurang ajar tsb. Si pengemudi terdengar menelepon lagi dan menghamburkan kalimat dengan lagi-lagi nada ajakan berduel. Beberapa penumpang mulai ikut serta menghamburkan kata-kata bernada tinggi.

Duapuluh menit kemudian, barulah nampak seorang pria memasuki bus diiringi kata-kata makian serempak sebagian penumpang lain. Itupun dia memasang muka tak merasa bersalah sudah membuat seluruh penumpang lain menunggu selama hampir satu jam di pinggir jalan. Sementara itu kerabat yang sudah menunggu di stasiun bus kota tujuan sudah entah berapa belas kali telepon menanyakan kenapa begitu lama belum sampai juga.

Masih belum selesai. Beberapa menit setelah memasuki tol, nampak di samping bus mobil polisi mengiringi dan menghentikan bus yang saya tumpangi. Dua orang polisi muda memasuki bus dan menanyakan KTP. Sewaktu memeriksa KTP, sepertinya dua polisi tsb mencocokkannya dengan catatan atau entah apa di tangannya. Kelihatannya seperti sedang mencari buronan atau bagaimana tidak tahu juga.

Sampailah giliran saya diperiksa. Tentu saja passport yang saya sodorkan. Polisi tsb nampak terperanjat melihat seorang asing di dalam bus. Keuntungan saya adalah tidak mengalami kesulitan sama sekali berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Polisi tsb nampak heran, menunjukkan sikap berbeda (lebih hormat) dan mengatakan semoga perjalanan saya di China menyenangkan. Karena penumpang tidak terlalu banyak, pemeriksaan berjalan cepat.

Akhirnya sampailah saya ke kota tujuan. Segera saya diantar ke hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Semua rencana hendak dinner bersama buyar semua, karena keterlambatan lebih dari satu jam. Baru besoknya kami sarapan bersama. Tujuan sarapan adalah kedai yang bernama Yong He Xin Yi Dai.[Gambar 50] [Gambar 51]


Menu favorit xiao long bao dan semangkok mie ayam kuah pedas saya coba. Mie kuah pedas yang benar-benar super pedas mampu menghangatkan badan di pagi yang dingin hari itu. Selesai sarapan, cepat-cepat membeli beberapa oleh-oleh kemudian menuju stasiun bus untuk melanjutkan petualangan saya di China.[Gambar 52] [Gambar 53]


Stasiun bus antar kota:

Tujuan berikutnya adalah Suzhou, kota tempat Mbah Gandalf bertapa selama ini. Perjalanan tidak begitu lama, hanya sekitar 1.5jam. Cukup lega karena bus duduk, bukan bus berbaring lagi. Perjalanan tak terasa, karena saya tidur sepanjang perjalanan. Saya terbangun begitu bus berhenti dan para penumpang turun. Sampailah saya di Suzhou. Seperti biasa, toilet lah yang pertama dituju. Di toilet tiba-tiba teringat ada barang bawaan (oleh-oleh) yang tertinggal di rak atas tempat duduk! [Gambar 54] [Gambar 55]


Bus yang saya tumpangi sudah lenyap, tidak ada di pelataran stasiun itu lagi, sepertinya semua bus yang baru tiba menuju ke bagian lain stasiun. Saya segera tanyakan ke petugas, dan dijawab untuk segera ke bagian keberangkatan mencari bus yang tadi, karena bus yang sama akan berangkat ke kota di mana saya berangkat satu jam kemudian. Satu jam berlalu dan bus tsb nampak parkir di tempat keberangkatan. Saya minta ijn petugas di situ, memasuki bus dan mengambil barang yang tertinggal.

Taxi menjadi pilihan saya, karena Mbah Gandalf berpesan akan menunggu saya di Ou Shang (hypermarket). Belakangan saya baru tahu kalau Mbah Gandalf kurang paham seluk beluk jalan Suzhou. Akhirnya bertemulah saya dengan Mbah Gandalf di Ou Shang. Barang-barang kami masukkan ke dalam mobil dan kami sempatkan berjalan-jalan di hypermarket tsb. Beberapa barang saya beli untuk keluarga di rumah.

Tak terasa sore menjelang. Kami meluncur pulang ke kediaman Mbah Gandalf. Istri dan dua anak-anak Mbah Gandalf sudah ada di rumah. Kami berbincang-bincang sejenak sambil serah terima titipan Mbah Gandalf dari Indonesia. Segera kami menuju tempat makan malam. Diusulkan oleh istri Mbah Gandalf, kami makan di satu resto Italia favorit keluarga Mbah Gandalf.[Gambar 56]

Ternyata memang benar favorit, saking seringnya, sampai-sampai para pelayan resto tsb hapal dengan nama kedua anak Mbah Gandalf. Benar-benar menarik dan menggoda selera pilihan menu di resto tsb dan yang mengejutkan adalah harga-harganya yang super friendly untuk kantong. Lebih asik lagi minuman berlaku “all you can drink” dengan satu harga RMB 7, minum sepuasnya, jenis apa saja.[Gambar 57] [Gambar 58] [Gambar 59] [Gambar 60]

Tak berapa lama, pesanan kami keluar satu per satu. Dan memang benar, rasanya luar biasa nikmat, cita rasa Italia yang kuat, dan yang penting saya belum pernah merasakannya di Indonesia. Mungkin ada jenis yang sama, bahkan dengan rasa lebih enak, tapi dengan kualitas dan rasa seperti itu di Indonesia, bisa-bisa merogoh kocek 3x lebih dalam.

Selepas makan malam, kami berjalan-jalan sejenak di mall tsb. Hiasannya sungguh unik, hanya di China ada pohon Natal berwarna merah. Dari mall, Mbah Gandalf mengajak saya berputar-putar menjelajah kota Suzhou di malam hari. Luar biasa kota Suzhou di malam hari, indah, bersih, teratur, cozy dan asik sekali. Tidak terlalu lama, kami semua pulang. Di rumah Mbah Gandalf, sempat ngobrol sejenak sambil menyusun ulang koper saya. Selesailah hari itu.[Gambar 61] [Gambar 62]


Besoknya, pagi-pagi, Mbah Gandalf mengantar saya ke Community Center untuk membeli tiket kereta ke Hangzhou. Perjalanan harus berakhir dan terbang kembali ke Indonesia. Community Center di Suzhou ini adalah satu tempat di mana seperti “one-stop service” untuk masyarakat. Di situ bisa mengirimkan surat (ada counter pos), membayar tagihan listrik, air. Membeli air minum galonan, gas, tiket bus, kereta dan beberapa service lain. Dari Community Center, kami memanggil taxi untuk menuju ke stasiun kereta di sisi lain kota. Stasiun kereta api tidaklah nampak seperti stasiun kereta, lebih mirip airport ketimbang stasiun kereta.[Gambar 63] [Gambar 64] [Gambar 65] [Gambar 66]


Tanda petunjuk nomer kereta di lantai peron

Kami sempatkan mengganjal perut dengan masing-masing sepotong roti, dan saya menuju peron kereta yang akan membawa saya ke Hangzhou. Lagi-lagi kekaguman dengan sistem transportasi massal di China. Keteraturan, kemodernan dan kesungguhan pemerintah menyediakan transportasi massal memang patut dipuji dan dicontoh.

Perjalanan berjalan lancar dan menyenangkan. Melihat-lihat kanan kiri pemandangan di musim dingin, pohon-pohon sebagian besar tanpa daun, jaket tebal berwarna-warni, pemukiman penduduk yang terlihat membosankan, jalan tol raksasa membelah daratan, tanah pertanian, dsb.

Sampailah saya di Stasiun Hangzhou, titik awal perjalanan kali ini. Dari stasiun kereta api, masih harus ke airport lagi. Sebelum menuju ke airport, saya sempatkan mengganjal perut di satu kedai di sudut jalan yang sangat padat dan sibuk. Light brunch saya nikmati menghangatkan perut.[Gambar 67] [Gambar 68] [Gambar 69] [Gambar 70] [Gambar 71] [Gambar 72]


Taxi kemudian membawa saya ke airport dan berakhirlah perjalanan saya. Sampai di Jakarta menjelang tengah malam tanggal 03 December 2011. Saya masih punya sehari untuk beristirahat sebelum kembali beraktivitas di minggu berikutnya.

Aji Bromokusumo

http://baltyra.com/2012/01/05/catatan-perjalanan-zhejiang-jiangsu-1/

Budaya-Tionghoa.Net | Baltyra.com

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1923-catatan-perjalanan--zhejiang-jiangsu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto