A+ A A-

Kwee Pang [1] - Sebab Tradisi Mengangkat Anak Featured

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Kwee pang 過房 寄房 merupakan salah satu tradisi yang ada dikalangan Tionghoa dan dikenal oleh banyak, tapi tentunya tidak hanya dikalangan Tionghoa saja yang mengenal kwee pang ini. Tradisi kweepang banyak dikenal oleh budaya lain, karena prinsipnya kwee pang adalah merawat anak orang lain dan diperlakukan bagaikan anak kandung.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Mengangkat anak atau meminta anak kita untuk diangkat anak oleh orang lain, dalam khasanah bahasa Tionghoa amat banyak penyebutannya, beberapa diantaranya adalah guofang 過房, jibai 寄拜,guoji 過繼,baiqie 拜契, shouyang 收養, qiyang 乞養, jifang 寄房, baoyang 抱養, jisi 繼嗣. Tradisi inijuga mengandung system control sosial dan juga termasuk jaminan sosial masyarakat yang dilindungi oleh undang-undang kerajaan yang dari dinasti ke dinasti semakin memperkuat posisi anak angkat setara dengan anak kandung.

Tradisi mengangkat anak atau menyerahkan anak untuk dipelihara orang lain memiliki beberapa sebab :

1.  Mengharapkan agar anak yang dipelihara oleh orang lain, terutama oleh mereka yang mampu, berkharisma atau terpelajar. Berharap agar anak tersebut bisa mewarisi kemampuan orangtua angkatnya

2.  Meneruskan marga atau melanjutkan abu leluhur

3.  Membantu mereka yang kesulitan terutama secara ekonomi

4.  Menuntut ilmu

5.  Terlalu banyak anak

6.  Anak sakit-sakitan, susah diajar

7.  Tidak harmonisnya anak sebagai microcosmos dengan keluarga sebagai macrocosmos

Dengan adanya empat point diatas, maka makna dari penyebutan di atas bisa tidak sama satu sama lainnya. Pada umumnya anak yang diangkat itu, jika diangkat oleh marga yang berbeda ada yang berganti marga dan tidak berganti marga.

Guofang, guoji tidak berganti marga, tapi jibai,baiqie, shouyang, qiyang bisa berganti marga atau tetap tidak berganti marga.

Guofang 過房 sebenarnya memiliki arti : meninggalkan orangtua kandung dan tinggal dikeluarga lain sebagai anak. Tapi keluarga yang ditinggali ini masih memiliki kekerabatan dari leluhur garis ayah. Biasanya mereka yang menikah tapi tidak memiliki anak, atau juga sudah berusia dewasa tapi belum menikah. Karena itu anak yang dipelihara oleh keluarga baru itu memanggil ayah ibu kandungnya menjadi sebutan kekerabatan keluarga, bisa memanggil paman atau bibi 伯伯叔叔 舅舅,伯母叔母舅母阿姨 kepada orangtua kandungnya.Anak yang diangkat ini memiliki hak yang sama seperti anak kandung lainnya ( jika ada ) dan juga dikukuhkan melalui surat pernyataan yang disaksikan oleh keluarga besar atau pemuka desa. Di jaman lampau, di kota yang memiliki administrasi kenegaraan yang penuh, biasanya dicatatkan di kantor pejabat setingkat bupati atau walikota. Tindakan ini untuk menjamin hak anak tersebut. Dan saat orangtua angkatnya meninggal, anak tersebut juga memakai baju berkabung sebagai anak dan melakukan upacara perkabungan selayaknya seperti anak kandung. Umur anak yang diangkat ini tidak ada batasan umur, tapi pada umumnya diangkat pada usia dibawah 10 tahun. Anak ini disebut guofangzi 過房子 atau juga sizi 嗣子.Pengertian yang sama juga berlaku untuk guoji 過繼, menurut Zang Jian 藏健, sebutan guofang ini baru muncul pada masa Song Selatan dan dinasti Yuan, sedangkan istilah guoji baru muncul di masa Song Utara.Tujuannya adalah melanjutkan keturunan dari pihak keluarga yang tidak memiliki anak.

Shouyang 收養 (arti harafiah menerima dan merawat ), istilah ini sudah timbul pada catatan Shiji 史記, karangan Sima Qian, yang memiliki arti dibuang dan dirawat kembali. Biasanya anak yang dianggap membawa bencana,lahir tidak sesuai dengan waktunya, kemudian dibuang kemudian untuk dirawat kembali oleh ibunya.Pada catatan sejarah dinasti Han sudah menyebutkan kasus-kasus di atas, kemudian makna shouyang menjadi luas, menjadi mengangkat para yatim piatu terutama yang masih satu marga, memiliki kekerabatan atau juga satu wilayah.Anak-anak itu disebut yangzi 養子.Pada masa Jin, terjadi permasalahan, apakah anak angkat memiliki hak yang sama dengan anak kandung, permasalahan ini tercatat dalam Tongdian 通典 yang menceritakan istri He Qiao 賀喬 yang bermarga Yu 于, karena tidak memiliki keturunan, mertuanya dan  iparnya yang bernama HeQun 賀群 kasihan pada kondisinya, kemudian memberikan anak He Qun untuk dirawat sebagai anaknya sendiri. Kemudian ternyata selir dari suaminya memberikan keturunan. Karena ituanak angkatnya diminta untuk dikembalikan kepada ibu kandungnya, Yu kemudian mengadukan masalah ini dan menjadi polemic hukum. Salah satu alasan Yu adalah, memberikan anak kepada suami istri itu adalah sebagai penerus keturunan dan merawat 20 tahun adalah memiliki ikatan batin yang kuat dan perasaannya sebagai ibu yang merawat anak itu bagaikan anak kandungnya.Pada masa dinasti Tang, posisi anak angkat ( pungut ) yang berbeda marga diperbolehkan sebagai penerus marga dengan syarat dibawah umur tiga tahun dan dibuang oleh orangtuanya,yang mana pada masa itu hanya para bangsawan dan pejabat saja yang sanggup dan boleh melakukan hal itu. Tapi perlahan-lahan, jaman Song, rakyat jelata boleh shouyang untuk meneruskan marga dan disebut jisi 繼嗣, anaknya disebut sizi嗣子. Inilah yang menjadi cikal bakal apa yang kita kenal sekarang dengan sebutan guoji 過繼atau guofang 過房.Kebiasaan membuat anak angkat menjadi budak lebih dipengaruhi oleh tradisi orang Mongol dan Nvzhen 女貞 pada masa itu yang menganggap anak angkat ( pungut ) setara budak.

Bersambung ke bagian dua

Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(3 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1925-kwee-pang-1-sebab-tradisi-mengangkat-anak

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto