A+ A A-

Film "Tree of Life" dan Filsafat Tiongkok

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Manusia mencoba menjawab itu melalui berbagai cara, mitos, religi merupakan cara-cara yang digunakan untuk menjawab teka-teki kehidupan yang melingkupi manusia maupun yang diluar manusia. Mitos menyatukan unsur teoretis dan unsur penciptaan artistic[1] yang digambarkan dengan indah dalam film Tree of Life.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Film Tree of Life adalah film yang mencoba menggambarkan suatu pertanyaan abadi, “Darimanakah aku berasal, apakah kehidupan itu, apakah Tuhan itu?”. Hal lainnya adalah kehilangan yang dicintai seperti yang digambarkan ketika adik Jack meninggal, ibunya mempertanyakan kenapa harus kehilangan yang dicintai dan keberadaan Tuhan.

Dalam film itu ibu Jack dijawab kehilangan itu dengan sederhana, “Apa yang diberi oleh Tuhan, maka Tuhan pula yang mengambilnya, dan itulah Tuhan ”. Itu salah satu jawaban dari sekian banyak jawaban yang ada melalui religi. Mungkin terdengar absurd, seperti semboyan Tertullianus, Credo quia absurdum ( Aku percaya, karena absurd ), tapi karena absurd maka Tertullianus percaya.

Religi-religi lainnya juga memberikan jawaban yang mengambang, tidak logis, tentang kematian. Tapi apakah jawaban religi itu tidak logis ? Menurut Ernest Cassirer, religi menjanjikan pada kita hubungan yang erat dengan alam, sesama, dengan daya-daya adiduniawi dan bahkan dengan yang ilahi sendiri.[2]

Religi bisa dikatakan sudah melampaui logika, begitu pula mitos-mitos yang ada. Gambaran alam dipaparkan melalui bisa dipaparkan melalui mitos atau juga Tuhan, seperti pertanyaan umum, apakah Tuhan berada di luar alam, di dalam alam atau alam itu sendiri adalah Tuhan ? Mulai dari jaman purba, saat awal peradaban manusia mulai tumbuh hingga jaman sekarang, jawaban selalu muncul, tapi itu apakah itu jawaban yang benar ?

Film ini diawali dengan dengan ayat dari Ayub 38:4, “Dimanakah kau saat  bumi Kujadikan.” Serupa dengan koan Zen, “Bagaimanakah rupamu sebelum engkau lahir ?”. Suatu pertanyaan yang dijawab dengan berbagai cara, mitos, religi dan sekarang ini ilmu pengetahuan mencoba menjelaskan. Big bang kah seperti yang ditekankan oleh ilmu pengetahuan ? Atau mitos seperti yang sering ditertawakan oleh mereka yang merasa rasional ? Thales ?

Filsafat Tiongkok dan agama Tiongkok ? Brahmajala Sutra kaum Buddhisme ? Semua adalah rangkaian jawaban yang bisa berbeda-beda, tapi memiliki kesamaan yaitu upaya menjawab. Manusia sekarang ini menurut ilmu pengetahuan adalah berasal evolusi jutaan tahun, dari mahluk sel tunggal kemudian menjadi mahluk yang bersel jamak, seperti dalam penggambaran Yi Jing 易經tentang asal muasal segalanya. Mitos dan agama primitive tidak sepenuhnya kacau, tidak kehilangan segi penalaran.[3] Dan memiliki sikap bahwa manusia adalah bagian inheren dari alam semesta.

Mitos dan religi mengimplikasikan masyarakat kehidupan dan alam semesta bukan hanya sekedar alam semesta seperti dalam ilmu pengetahuan dan filsafat barat. Alam semesta itu melampaui apa yang terlihat atau nature yang natural, denyut kehidupan ada dalam alam semesta ini. Seperti

Mitos dan religi menggunakan symbol sebagai bahasa penyampai yang harus dilihat dari sudut pandang yang lain, tidak bisa melalui kebenaran empiris ataupun kebenaran ilmiah. Kehidupan terus berjalan terus, ibu Jack bisa saja menerima jawaban seperti di atas tapi belum tentu untuk Jack.

Begitu juga bumi yang berjalan terus, dimana bumi menjadi tua dan sesak oleh manusia-manusia rakus di dunia yang modern, dan dalam film tersebut digambarkan sebagai bentuk yang tandus, dimana kehidupan melenyap.

Jack merasa melihat adiknya yang telah meninggal dan bisikan kerinduan akan adiknya muncul dengan satu perkataan, “cari aku”, yang akan mengawali perjalanan yang harus dicari melalui dunia mitis dengan menerobos yang ada di balik kematian. Kematian merupakan suatu hal yang ada dalam kehidupan manusia, seperti Taoist yang memandang bahwa ada kelahiran dan ada kematian merupakan hal yang alami, tapi tetap membuat orang mencari terus kematian itu, seperti pangeran Sidharta yang mencari penyebab dan jawaban atas kelahiran, sakit, tua dan mati.

Jack menyaksikan sakit, tua, menderita dan bertanya-tanya mengapa adiknya pergi ? Ernest Cassirer mencoba menjawab bahwa perasaan menolak bahwa hidup adalah satu kesatuan tak terpisahkan merupakan perasaan yang kuat, tak tergoyahkan, yang bahkan sampai menolak dan mengingkari fakta kematian.[4] Dan itu melahirkan pandangan-pandanga bahwa setelah alam kematian ada juga alam kehidupan, entah dalam bentuk reinkarnasi, tumimbal lahir, surga neraka, pindah alam atau bahkan dibangkitkan kembali. Kesemuanya adalah untuk mengatakan bahwa ada kehidupan nantinya, kehidupan yang berkesinambungan.

Dalam kilas balik Jack, sifat orang tuanya yang berlawanan, seperti sifat bapak yang tegas dan teratur, terkadang menghukum dan ibunya yang lembut dan ramah. Menggambarkan perbedaan konsep kepercayaan polytheisme dan monotheisme. Alam tidak seperti pada religi politeistis, tidak lagi berupa Ibu yang agung dan ramah, pangkuan Ilahi yang memperanakkan semua mahluk hidup. Alam kini ditangkap dalam suasana hukum dan ketertiban.[5] Ayah bisa digambarkan sebagai agama statis dan ibu bisa digambarkan agama dinamis. Kilas balik itu juga menggambarkan pergumulan batin dan pertentangan yang bersifat metafisis.

Film Tree of Life menggambarkan bahasa dan mitos berkerabat dekat, jika digambarkan sebagai pohon, keduanya adalah cabang dari pohon yang sama. Bahasa, menurut sifat dan hakikatnya, adalah metaforis. Karena keterbatasan bahasa yang tidak mampu menggambarkan hal-hal secara langsung, bahasa menggunakan jalan yang tak langsung, dengan istilah-istilah yang memiliki dwi arti bahkan arti banyak. Max Muller mengatakan bahwa mitos berasal dari dwi arti dan dari situlah mitos mendapatkan daya mentalnya.

Permasalahannya adalah keterbatasan bahasa digambarkan dalam fim tersebut dengan berbagai mitos yang ada dan bahasa mitis yang bisa multi arti. Contoh adalah saat ibu Jack mengatakan,”kuserahkan anakku padaMu.” Bisa berarti luas, kepasrahan, pelepasan dari kemelekatan, menyadari ada hidup pasti ada mati. Tapi dari berbagai arti itu bisa memiliki satu makna yaitu menerima konsep pertemuan dan perpisahan sebagai hal yang alamiah, itu juga masih merupakan arti yang saya buat.

Karena itu Tree of Life mengandung multi arti, tergantung dari mana kita melihatnya dan mengartikannya. Pemberian makna seperti dalam Qingjing jing 清靜經, “Ku tak tahu namanya, kupaksakan beri nama Tao”, juga merupakan suatu upaya penjelasan dan pemberian nama. Karena itu dalam film tersebut juga dalam monolog sang ibu, lebih banyak menggunakan kata “You” sebagai penanda.

Makna pantai sebagai petanda dan penanda yang bisa diartikan pantai pembebasan, nyala lilin adalah pencerahan, api lilin yang berpindah dari satu lilin ke lilin lain adalah tumimbal lahir, yang mana kata tumimbal lahir ini digunakan oleh Buddhisme untuk membedakan dengan pengertian reinkarnasi Hindu dan menggunakan symbol api yang berpindah.

Gambar gerak ( film ) dan music yang dipadukan bisa menjadi rangkaian bahasa yang berupaya menjelaskan proses pergerakan kehidupan, misalnya ada dua mayat terbungkus ( pocong ) yang tergeletak, ibu yang mengulurkan tangan ke dalam lubang, pintu yang terbuka, pantai, orang yang berkerumunun, dan sekali lagi adalah pohon.

Pohon kehidupan, buah pengetahuan baik dan jahat seperti yang dituliskan dalam Alkitab bisa menjadi rangkaian bahwa adanya sudut negative dan positif yang terkait dan keduanya itu mengakibatkan proses rangkaian lahir dan mati. Jack merefleksikan proses lahir dan mati, melalui banyak gambar dan suara, berujung pada satu pemahaman bahwa segala sesuatu itu berjalan apa adanya, langit berjalan selalu berjalan terus, manusia hidup jalanilah kehidupan ini seperti alam yang berjalan terus tiada henti. Jika alam berbahasa kepada manusia, bahasa itu adalah bahasa bisu, manusialah yang menciptakan bahasa yang membelah, memilah dari bahasa menjadi kata-kata. Bahasa tidak dapat dibelah-belah, sama seperti alam ini. Karena itu semua bersifat holistic, memiliki koneksi-koneksi tersembunyi dalam Dao 道yang disebut De . Tree of Life menggambarkan evolusi, sebagai jejaring bahasa gambar gerak yang indah.

Jika bahasa dalam mitos menara Babel itu bahasa dipecahkan dan juga dalam sejarah manusia ada kerinduan akan kesamaan bahasa, mitos Tiongkok dengan Cang Jie 倉頡 membuat bahasa agar bisa dipahami oleh banyak orang dan dalam sejarah Tiongkok, dinasti Qin mempersatukan lagi bahasa yang terpecah-pecah. Film Tree of Life banyak dialog bapak dan anak, sedangkan ibu jarang berdialog. Menjelang akhir film, dialog menghilang, digantikan dengan “bahasa” cinta yang diekspresikan dengan bahasa tubuh yang merupakan pengungkapan perasaan. Bahasa tidak dapat disempitkan menjadi hanya suatu bunyi, atau kalimat yang tertata di atas kertas. Seperti film Tree of Life, ia merupakan suatu bahasa yang mengajak para pemirsa mencari kedalaman hidup dan apa yang digunakan adalah sederhana, tanpa banyak dialog-dialog, gambaran-gambaran alam yang diiringi oleh music yang juga merupakan bahasa, bahkan bahasa yang awal adalah bahasa bunyi bukan bahasa tulisan. Sehingga gambaran alam dan music itu bisa menjadi suatu ungkapan arti bahwa inilah “INI” , mau diberi nama apapun silahkan saja, karena penamaan itu hanya merupakan kata yang akan memilah dan membuat pemisahan lagi.

Bahan pustaka :

Ernest Cassirer, Manusia dan Kebudayaan, sebuah essei tentang manusia, 1987, Jakarta : PT Gramedia

[1] Ernest Cassirer, Manusia dan Kebudayaan, sebuah essei tentang manusia, hal.113, 1987, Jakarta : PT Gramedia

[2] Ibid hal.110\

[3] Ibid hal.122

[4] Ibid hal.126

[5] Ibid hal.152

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 14 November 2012 19:13
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2008-film-tree-of-life-dan-filsafat-tiongkok

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto